Sunday, June 21, 2009

Facebook … Oh … Facebook

-Tobucil, Rabu 17 Juni 2009-

Madrasah Filsafat

mbakechie Mbak Echie menelpon Mas Ami, kuncen madrasah filsafat, “Ari juragan Ami, kumaha ditungguan, teh ? Jam setengah genep ieu (Juragan Ami gimana, sih, udah ditungguin ? Jam setengah enam, nih) …”

Pada akhirnya telpon ditutup. Mbak Echie pun mengumumkan pada segenap jemaat madrasah filsafat, “Dia lupa ini hari Rabu.” DOWEWEWENG …

Meski sempat enggan, akhirnya Mbak Echie mengambil posisi sebagai kuncen. Ia membuka diskusi dengan pertanyaan sederhana, “Siapa yang punya account facebook ?”

Ternyata, selain jemaat madrasah filsafat, seluruh hadirin hari itu adalah jemaat jaringan facebook. Mereka mengakses facebook dengan alasan masing-masing. Bagi Mas Iqbal, facebook adalah pemersatu teman-teman dari berbagai area, “Misalnya, saya bisa mempertemukan teman dari area musik dengan teater, teater dengan psikologi …” Lain lagi dengan Mbak Linda, “Selain untuk mencari teman lain, facebook bisa untuk mencari jodoh juga kan …?”

Kadang facebook pun menimbulkan masalah. Mbak Echie pernah mem-block seseorang karena berkomentar sangat tidak etis di wall-nya. “Saya sebel kalau ada comment-comment yang nggak nyambung,” kata Mas Gustar. Ada pula spam “coobface”. "koobface". “Ati-ati kalau ada message yang bahasanya sangat generik dan menawarkan link. Kalau kita klik, semua teman di friend list kita akan dapat message spam yang sama dari kita,” Mbak Echie memperingatkan. Beberapa posting panjang di notes pun kadang membuat pembaca pusing. Jadi apa yang boleh dan yang tidak dalam etika per-facebook-an ?

“Kalau kata aku justru itu yang menarik. Etikanya etika umum aja. Tiap orang harus belajar ngukur dan tanggung jawab sendiri,” ujar Tobuciler. Konseskuensi dari setiap pernyataan adalah respon. “Dalam facebook, orang mengidentifikasi. Kayak di status-status itu, orang bisa nulis apa aja. Di sana mereka mengidentifikasi diri mereka. Fungsi identifikasi itu kemudian disertai dengan fungsi persuasi, orang-orang jadi berkomentar. Lalu setiap orang jadi sibuk mengidentifikasi dirinya sendiri,” papar Mas Iqbal yang dosen di fakultas psikologi. Mas Iman Abda lalu teringat pada aplikasi kuis yang juga sangat diminati di facebook. “Di situ orang-orang juga mengidentifikasi dirinya, kan,” ungkap Mas Iman.

madfalfacebook

Setiap account facebook adalah halaman “saya” dalam jaringan “kita”. Orang-orang saling mengidentifikasi, berbagi, menunggu respon, atau mencari sarana untuk direspon. Sama seperti diskusi madrasah filsafat yang berlangsung saban Rabu sore.

Hmm … jika madrasah filsafat dan facebook punya benang merah, meski tidak hadir, mungkinkah Mas Ami kami tag dalam diskusi kali ini ?

Mari kita “poke” alias “colek” kuncen kita tersebut …

Sundea

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin