Sunday, June 21, 2009

Hitam Putih Persepolis

 

-Tobucil, Sabtu 20 Juni 2009-

Klab Nonton

Wajah Tobucil hari itu mendadak muram. Film yang diputar di Klab Nonton malam itulah penyebabnya. Judulnya Persepolis. Film kartun, memang, tapi jangan langsung asosiasikan kartun dengan warna-warni ceria penuh gelitikan canda tawa. Kartun ini beda, bercerita tentang pengalaman eksistensial seorang Iran bernama Marjane Satrapi. Marjane ini sungguh ada orangnya dan masih hidup, maksudnya, Persepolis adalah kisah nyata.

Pada mulanya, Marjane adalah gadis cilik yang dibesarkan di tengah keluarga cukup berada. Hanya saja, keadaan politik Iran yang tengah bergolak saat itu, sungguh tidak memihak keluarganya. Jaman itu, tahun 1978, dikenal sebagai Revolusi Iran. Alkisah, pemerintahan saat itu, yang dipimpin Shah Mohammad Reza Pahlavi –dalam film hanya disebut sebagai ”Shah of Iran”-, ternyata dinilai oleh rakyatnya terlalu tunduk pada kekuasaan Barat, yang mana kulturnya sering bersinggungan dengan nilai-nilai lokal. Upaya penggulingan kekuasaan datang dari pihak fundamentalis Islam, yang menginginkan pengerasan landasan keagamaan untuk melawan budaya asing. Dalam bagian ini, digambarkan Marjane sebagai gadis dari keluarga yang dalam situasi tersebut sedang tersudutkan. Mengapa? Karena keluarga Marjane dikenal punya pengaruh Barat yang kental. Contohnya, ayah Marjane, senang pergi ke pesta-pesta dan minum alkohol, yang mana ketika fundamentalis Islam mulai berkuasa, hal tersebut dilarang keras.

Film ini memiliki alur flashback. Diawali dari Marjane dewasa dengan format gambar berwarna, cerita masa kecil tadi digambarkan hitam putih. Ini cukup memberikan efek muram bagi para penontonnya. Sepanjang film diputar, nyaris tak ada tawa yang keluar, yang ada cuma pandangan tercenung. Kembali ke film, Marjane lalu dikirim ke Vienna, Austria, untuk sekolah oleh orangtuanya. Kenapa? Karena berbahaya tinggal di Iran dalam keadaan bergolak, kata orangtuanya, apalagi Marjane dikenal vokal dan bandel, berpotensi terkena hukuman polisi susila yang bertugas menegakkan aturan agama.

Di Vienna ini, Marjane mendapat banyak pengalaman. Mulai dari menghisap ganja, bertemu filsuf yang menurutnya gila, berhubungan seks, hingga dikhianati kekasih. Pengalaman panjangnya itu sempat membuatnya melupakan kampung halaman, dan pernah mengaku sebagai orang Prancis alih-alih Iran. Namun akhirnya ia pulang jua, karena ia sendiri memintanya. Di Iran, kondisi politik tak lebih baik di bawah pemerintahan kudeta fundamentalis. Bahkan Marjane remaja semakin vokal menentang berbagai bentuk agamisasi di kampusnya.

Kisah Marjane dalam Persepolis digambarkan hitam putih. Situasi yang nyaris mirip ketika masing-masing dari kita merenungkan masa lalu. Bisa saja memang sebuah situasi silam menyenangkan dan cerah ceria. Tapi jika masuk ke lembah eksistensi yang terdalam –kala ditanyakan lebih jauh masa silam itu dari mana mau kemana-, seringkali yang muncul ya itu tadi, warna hitam putih. Walhasil, belasan orang yang hadir di Klab Nonton tetap termenung selesai menonton. Tak seperti umumnya di bioskop yang setelahnya banyak sensasi meluap-luap, yang tanpa sadar tak lama kemudian terlupakan. Namun seperti film Persepolis yang sesekali muncul gambar berwarna, Klab Nonton juga menyuguhkan warna di tengah kehitamputihannya kala itu. Dari mana datangnya? Rudi Rajut berdiri di samping televisi, lalu mengumumkan, ”Minggu depan akan diputar film karya *blablabla*.” Jujur saja, Tobuciler tak dengar, dan begitupun yang lainnya. Mereka terus bertanya, ”Film apa? Film apa?” Tapi Rudi Rajut tak kunjung menjawab karena malu-malu. Oh, tapi setidaknya, Rudi, kau menyelamatkan kami semua dari lamunan panjang.

Syaraf Maulini

 

 

 

 

 

 

Rudy

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin