28.6.09

Hujan, Janganlah Hujan

-Tobucil, Minggu 28 Juni 2009-

Musik Sore #3

Sore itu oh sore itu. Mendung sekali nampaknya. Tobuciler khawatir jika terjadi hujan. Mengapa khawatir? Karena sedang akan ada gelaran musik, dan acara itu sungguh tak kedap air. Musik Sore Tobucil (MST) diadakan untuk ketiga kali, dan yang sekarang persiapan terasa matang. Ada empat penampil, dua lokal, dua impor. Impor, maksudnya, dari Jakarta dan Yogya. Gayanya pun beragam. Yang pertama adalah Deu Galih, yang nampaknya menampilkan lagu-lagu yang amat terpengaruh grunge ala Nirvana dan Alice in Chains. Penampil berikutnya, masih lokal, adalah Tesla Jazz Duo,.yang tampil dengan gaya bebop khas Chick Corea dan Pat Metheny. Yang ketiga, mulai impor, adalah penyanyi bernama Yeyen dan Dian. Mereka dari Jakarta, dan sungguh suaranya, subjektif Tobuciler bilang, seperti Beyonce. Yang terakhir, adalah figur-figur yang rajin menghiasi blog Tobucil sepanjang bulan April, yakni D’Java String Quartet, kuartet gesek asal Yogya.

Tobuciler percaya jika hujan adalah rahmat. Tapi Tobuciler akan nyaris tak percaya jika hujan itu turun kala MST, yang mana secara tren, Bandung sedang tidak diguyur hujan dalam seminggu ke belakang. Dijadwalkan jam tiga, Tobuciler sengaja memolorkan hingga setengah empat, menyesuaikan dengan mental penonton yang juga rajin molor. Deu Galih tampil sebagai pembuka. Dan benar saja, teriakan-teriakan ala Kurt Cobain dan suara interval khas Layne Staley keluar sebagai representasi gaya grunge. Sungguh ekspresif. Tobuciler mendadak ingat, di headline Koran PR tahun 1994, ada tulisan, “Kurt Cobain Mati”. Lantas Tobuciler bertanya dalam diri, “Hah, jadi si Kurt ini mati ga nih?” Tapi ya sudahlah, tak perlu dibahas.

deugalihDeu Galih

Pasca Deu Galih, mestinya Tesla Jazz Duo. Tapi berhubung si penampil baru datang, kasihan kecapean, maka Chris Sinatra diminta tampil, berduet dengan Yunus, Yunus apa ya? Chris Sinatra menyanyikan lagu berjudul Perhaps, Perrhaps, Perhaps, yang dilanjutkan dengan sajian instrumental yang diambil dari karya Depape. Akhirnya Tesla Jazz Duo tampil juga. Tesla ini, Tobuciler sedikit cerita, dulunya rajin datang ke KlabKlassik. Maennya, ya main klasik. Tapi dalam setahun dua tahun kebelakang, ia meninggalkan klasik, dan total ke jazz. Dan ini untuk pertama kalinya Tobuciler menanggap dia untuk tampil sebagai jazzer, alih-alih klasik. Tobuciler kaget, Tesla sudah sedemikian kerennya. Menampilkan jazz bebop, berduet dengan basis Galang, penampilannya sungguh memukau. Menghadirkan suasana galau yang kental di garasi Tobucil. Penonton awalnya berkerat-kerut, tapi lama-lama mulai sadar bahwa itu keren. Tampil dengan lagu-lagu semacam Spain, How Insensitive, dan Theme Song Flinstone, Tesla menginterpretasi semuanya dengan gaya yang, apalah namanya, jazz banget pokoknya.

Setelah itu barulah sesi impor. Tampil dua penyanyi yang Tobuciler datang dari Jakarta, namanya Yeyen dan Dian. Dega? Itu nama manajernya. Menyanyilah mereka empat lagu, Halo yang populer oleh Beyonce, Manuk Dadali, Cinta yang populer oleh Vina Panduwinata, dan sebuah lagu berbahasa Prancis yang dipopulerkan oleh Lara Fabian. Ini sungguh sajian yang memukau, karena suara mereka diatas rata-rata. Duetnya sungguh kompak, dan mampu mencapai nada-nada yang mengejutkan. Diiringi Yunus Apa Ya dan Chris Sinatra, mereka sukses mengundang aplaus penonton meriah, terutama di lagu terakhir, yang berbahasa Prancis itu. Oh, stereotip orang Jakarta yang rajin memacetkan Bandung di akhir Minggu, mendadak hilang.

Di puncak penampilan, D’Java String Quartet yang hadir. Datang dari Yogya, mereka sungguh berbeda dari performa di MST dua bulan lalu. Wajar, kala itu mereka menjelang resital, dan hanya mempersiapkan karya-karya klasik yang khas konser. Yang sekarang, mereka nampak berniat menghibur. Ada dua karya populer, dan satu karya klasik, itupun karya klasik nan populer. Pertama dibuka oleh Allegro dari Eine Kleine Nachtmusic karya W.A. Mozart. Tet Totet Totet Totet Tot Teeeet. Begitulah pembukanya. Lagu kedua adalah variasi dari Cublak Cublak Suweng. Ini dimaksudkan, kata Rama sang punggawa, untuk mengimbangi nama D’Java, yang namanya Jawa, tapi kok maennya klasik semua. Maka dimainkanlah itu lagu Jawa. Sebagai penutup, kuartet yang terdiri dari Rama (violin), Dwi (viola), Danni (violin) dan Ade (cello) itu menampilkan karya ragtime populer dari Scott Joplin, judulnya The Entertainer.

DJava D’Java Strings Quartet

Oh sungguh sore yang menyenangkan, dan tahukah bahwa saat itu tak jadi hujan? Sungguh sebuah berkah, kala teman-teman dari sudut Bandung yang lain mengabarkan tengah terjadi hujan deras. Namun anehnya, itu tak sampai ke Tobucil. Ada teori yang bilang bahwa itu gara-gara ada kampanye JK-Wiranto di Saparua, tempat yang dekat di Tobucil. Ada juga teori yang mengatakan karena awan pun menikmati MST. Sehingga ia mau menahan diri. Apapun itu, yang pasti MST sukses berkonsistensi. Di tengah jalur indie yang semakin tidak jelas karena ternyata tak lagi berurusan dengan minoritas dan kebebasan berekspresi. MST, Alhamdulillah, masih punya semangat khas indie yang dulu sempat didengungkan.


mikrofonspeaker

Syaraf Maulini



Ada lebih banyak lagi foto Musik Sore #3 di Album Flickr Tobucil. Klik di sini

Google Twitter FaceBook

3 comments:

Nia said...

Mungkin lain kali alangkah lebih baik jika gitarnya (seperti yang dimain Chris dan Yunus) pake ampli jadi suaranya keras dan jelas. Selain itu latihannya yang mateng dong :P

Ditunggu MST berikutnya ;)

tobucil said...

Thank you masukannya, ya, Ni ... kita inget-inget, deh ... =D

wikupedia said...

ahey..poto ku bagus juga yah...halah...bekat si 'luna'...:)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin