-Tobucil, Senin 22 Juni 2009-
SRRRB … BRUKKKKK … sepaket benang terjun menimpa laptop Tobuciler. Tobuciler yang sedang menyelesaikan rangkaian publikasi blog Tobucil mendadak terkesiap. Layar laptop gelap. Engselnya pun patah. “Sorry, sorry …,” Mbak Upi yang menyusun tumpukan benang merasa sangat bersalah, “Ya udah, yuk, kita ke BEC sekarang, periksa dulu biar nggak makin parah …”
Maka berangkatlah Mbak Upi dan Tobuciler ke Bandung Electronic Center. “Sebenernya ini bisa, sih, dibetulin, tapi kita nggak ada super glue-nya,” ujar Mas Andi, teknisi setempat. “Kalo kita cariin lemnya gimana, Mas ?” tanya Tobuciler. “Boleh …,” jawab Mas Andi. Maka Tobuciler dan Mbak Upi ngacir mencari lem super.
Mas Andi berusaha keras melekatkan engsel laptop Tobuciler, namun percuma. Diiringi lagu Let It Be yang berkumandang di pertokoan, Mas Andi menyeseali, “Aduh, maaf, nggak kuat lemnya. Udah, nggak usah bayar, kan laptopnya nggak jadi bener …”
Plan B kami adalah menyambangi kediaman A Olih alias A Solihin, sahabat Mbak Upi yang agak ke MacGyver-MacGyver-an. “Ini bisa, sih, dibenerin, dilem pake lem besi. Tapi musti didiemin 12 jam. Biarin laptopnya ditinggal di sini ?” tanya A Olih setelah memeriksa laptop Tobuciler. Diiringi lagu Bimbo yang berkumandang dari radio A Olih, “Salam sayang, kasih sayang, salam sayang kau seorang …,” akhirnya Tobuciler mengangguk.
Tobuciler dan Mbak Upi pulang dengan lemas. Untuk menghibur diri sendiri, kami jalan-jalan ke M&M Dago dan makan-makan di Rumah Makan Padang.
-Tobucil, Jumat 26 Juni 2009-
Setelah rapat mingguan rampung, Mbak Upi masuk ke ruang samping Tobucil dengan wajah sumringah, “Saya baru ngambil laptop kamu.” Tobuciler menyambut dengan sumringah juga. Artinya mulai hari itu Tobuciler dapat kembali bekerja dengan laptop sendiri.
“Akhirnya engselnya gua ganti di Plaza,” cerita Mbak Upi. Agak sulit menemukan spare part untuk laptop Tobuciler karena dia adalah Compaq seri lama. “Pas gua dateng terus engselnya gua tunjukin, ‘ada ini, nggak?’ Penjualnya malah nanya balik, ‘Itu apa, ya, Neng ?’ Yah … ,” Mbak Upi melanjutkan ceritanya. Tobuciler tertawa.
“Mulai sekarang, laptop ditaro di meja, ya, kan udah ada meja. Kalo terjadi apa-apa karena nggak ditaro di meja, itu tanggung jawab sendiri-sendiri,” Mbak Tarlen memperingatkan. Pasca kepindahan AJI, ruang AJI memang menjadi ruang kreativitas bagi kerabat kerja Tobucil. Rakotakotak yang fleksibel itu pun difungsikan sebagai meja kerja, seperti terlihat pada foto berikut ini :
“Kita cari kursi , yuk, kamu nggak musti ngerjain apa-apa lagi ?” tanya Mbak Upi kepada Tobuciler. “Yuk, kalau udah ada si laptop mah santai, udah tenang hidup … hehehe …,” sahut Tobuciler.
Tobuciler dan Mbak Upi pergi dengan sehat. Untuk menyatakan syukur atas ke-happy ending-an tersebut kami bertamasya ke Balubur.
Bookmark this post: |
1 comment:
masih patah engselnya?kalo masih patah masih bisa diperbaiki lagi koq,,
Post a Comment