Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Sunday, June 14, 2009

Lingakaran Kecil, Lingkaran Kecil, Lingkaran Besar …

 

Enam, enam, tiga puluh enam …*

semuanakgc

… dan pada suatu bulan ke enam, tiga puluh enam murid SD Gagasceria berkunjung ke Tobucil. “Ini program perpustakaan,” ujar Bu Karin, salah satu guru pendamping mereka. Di Gagasceria, setiap enam bulan sekali, kelas yang paling banyak mengumpulkan point perputakaan berkesempatan berjalan-jalan ke tempat-tempat yang berhubungan dengan buku. “Point dihitung dari banyaknya peminjaman buku, ketaatan mengikuti peraturan perpustakaan, dan bikin resensi,” ujar Bu Karin lagi.

Hari itu tiga puluh enam murid kelas satu dan empat SD Gagasceria tersebut diajak membuat tempat pinsil dari botol Aqua bekas. Mereka membungkus botol tersebut dengan kertas kado, kemudian bebas berkreasi menggunakan kain velt dan kancing.

“Aku bikin burung, ini sayapnya !”

“Aku bikin anjing !”

“Aku nulis namaku sendiri. Nggak jelas, tapi lucu.”

“Aku mau pake kumis biruuuuuuuuuu …,” seru Audi. “Kenapa harus biru ?” tanya Tobuciler. “Pingin aja,” sahut gadis mungil itu tak acuh. “Aku bikin orang yang kayak gorilla,” ujar Ilham. “Kamu seneng gorilla, ya ?” tanya Tobuciler. “Enggak,” sahut Ilham. “Terus, kenapa bikin gorilla?” tanya Tobuciler lagi. “Ya … mau bikin aja,” sahut Ilham sama tak acuhnya.

Di tangan anak-anak, benda apapun dapat menjelma menjadi apa saja. Kumis bisa biru, telinga bisa kotak, wajah bisa hijau. Kreativitas mereka yang intuitif membuat konsep menjadi sesuatu yang cair dan merdeka.

Karena pada dasarnya kreativitas dekat dengan bermain, sesungguhnya setiap anak adalah seniman. “Mereka memang senang kalau disuruh berkarya,” Bu Karin mempertegas keyakinan Tobuciler.

 

farhan Di antara anak-anak yang raya, Farhan, salah seorang murid kelas empat, tampak memegangi perutnya dengan wajah pasi. “Farhan kena maag,” ujar Bu Astri yang juga guru pendamping mereka. Melihat temannya kesakitan, murid-murid Gagasceria yang lain menghampiri dengan penuh perhatian.

“Selonjorin kakinya,” kata seorang anak laki-laki sambil membantu Farhan menaikkan kakinya ke bangku panjang. “Makan obatnya setengah aja,” kata anak yang lainnya. “Minumnya jangan pake Pocari,” sambung yang lainnya lagi. Ada pula yang sekedar duduk di sebelah Farhan dan mengusap-usap punggungnya.

Seni dekat dengan sensitivitas. Tiga puluh enam seniman cilik itu secara jelas menunjukannya.

Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besar … *

Semoga lingkaran kecil kebaikan yang mereka bina, kelak berdampak.

Tumbuh.

Jadi sebuah lingkaran yang besaaaaar …. sebesar dunia.

Sundea

fotobersama

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin