Sunday, June 14, 2009

Melukis di Klab Menulis

 

-Tobucil, Senin 8 Juni 2009-

Klab Nulis

Hari itu, peserta Klab Nulis diajak melukis. Lho ? Kok melukis ? “Kita belajar ‘teknik melukis perasaan’,” ujar Ophan, fasilitator Klab Nulis. Ophan memulai kelas dengan menanyakan aktivitas para peserta dalam seminggu, “apa kira-kira yang paling melelahkan dan menyenangkan ?”

Teman-teman pun mulai bercerita. Evie, misalnya, menceritakan pengalaman ia dan ayahnya yang terkena hipnotis di akhir pekan. “Ternyata ilmuku di perguruan tinggi nggak berpengaruh sama kehipnotis apa enggak,” rengut Evie manja. Secara tidak langsung, Evie sudah mempraktekkan teknik melukiskan perasaan.

melukisperasaan

Selanjutnya, Ophan meminta tiap peserta membuat bayangan perasaan dari pengalaman mereka masing-masing. Dengan bayangan itu sebagai pijakan, Ophan meminta peserta melukiskan perasaan mereka. “Bisa dengan ciri tingkah laku, pesona batin, dan melihat respon lingkungan,” Ophan mengarahkan. Evie menyebutkan “penyesalan”. Donny menyebutkan “kecewa”. Dicky menyebutkan “sebel”. Putri menyebutkan “bingung”. Rudy menyebutkan “senang”. Dan Atta menyebutkan “kenyang”.

Nah, Teman-teman, berikut adalah hasil lukisan teman kita, Atta :

Ia duduk bersandar merosot dari kursinya. Bersendawa berkali-kali. Mengusap-usap perut buncitnya sambil menatap piring-piring yang sebagian kosong dan sebagian masih berisi makanan-makanan yang sudah tak sanggup dilahapnya. Matanya sayu menahan kantuk yang datang setelah perutnya kepenuhan. Tapi ia tersenyum puas, masih merasakan setitik rasa gurih di ujung bibirnya sambil mendesah puas diselingi dengan sendawa-sendawa yang tak mampu juga berhenti.

“Excelent !” puji Ophan. “Lalu ‘bingung’. Bagaimana melukiskan orang bingung ?” lanjut Ophan. Tiba-tiba Wiku yang sekedar melintas menyeletuk, “Kayak Rudy, tah …” DHIERR !!!

Psst … Teman-teman, hari itu Rudy memang tampak sedang bingung. Serampung Klab Nulis, ia duduk-duduk di ruang belakang Tobucil sambil menunggu hujan berhenti. Ketika hujan akhirnya berhenti, ia tiba-tiba berujar ; cool tapi lantang, “Brentinya ujan !”

Segenap umat yang masih duduk-duduk di ruang belakang Tobucil tergelak-gelak. “’Ujannya brenti’, Rudy !” koreksi Tobuciler. Tapi Rudy berlalu dengan datar.

Perasaan apa yang dilukiskan Rudy saat itu ? Entah. Setelah hujan berhenti, perasan Rudy tampak seperti lukisan abstrak yang kontemporer …

Sundea

rudy

 

 

 

 

 

 

Rudy

Google Twitter FaceBook

1 comment:

Blog Xna kool said...

5 langkah menghipnotis pengunjung blog menjadi pembaca setia

http://xnakool.blogspot.com/

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin