Sunday, June 14, 2009

Mengisi Media Putih

 

-Tobucil, Kamis 11 Juni 2009-

Klab Komik Manyala

Segelintir peserta Klab Komik yang hadir lebih awal tampak asyik menggambar dalam kesunyian. Tanpa interaksi. “Udah mulai ini teh ?” tanya Tobuciler. “Belum, belum. Kan masih nunggu jam tiga. Biasalah, (komikus kan) ga bisa liat media putih … hehehe …,” sahut Harlis dari Funco, komunitas komik Unikom, fasilitator Klab Komik hari itu. “Ga bisa liat media putih ? Wah … jangan sampe kalian ke rumah sakit. Bisa-bisa nanti kalian nggambar-nggambar di suster …,” tanggap Tobuciler cemas.

Setelah peserta Klab Komik berdatangan, kegiatan Klab Komik yang sesungguhnya dimulai. Para peserta dibagi menjadi pasangan-pasangan kemudian diberi selembar kertas dengan delapan panel kosong. “Lewat komik kita bisa saling mengenal,” ujar Harlis. Ia pun menginstruksikan setiap peserta bertanya dalam bentuk gambar kepada pasangannya. Pada panel berikutnya, si pasangan menjawab pertanyaan partnernya, dan begitu seterusnya.

Kegiatan menggambar tidak lagi sunyi dan miskin interaksi. Cekakak-cekikik terdengar. Berbagai ide tumpah ruah dalam panel-panel yang tadinya kosong. Ada lelucon-lelucon slapstick seperti dalam komik Dikei dan Jokk, plesetan liar seperti dalam komik Opick dan Sundea, serta obrolan sederhana dan manis seperti dalam komik Rere dan Samuel.

dikeidanjokk

Ide cerita dan setting pun berkembang luas ke mana-mana. Mulai dari bawah laut sampai luar angkasa. Mulai dari urusan mengupil sampai urusan facebook. Delapan panel komik yang dikerjakan berpasangan ternyata cukup signifikan untuk membuat para peserta saling mengenal. Gaya bertutur dan karakter gambar cukup mampu merepresentasikan penggambarnya.

Hmmm … hari itu tampaknya para pengomik memang tak membiarkan media putih tetap putih, secara harfiah maupun metaforik.

Sebab bisa dikatakan, teman yang belum dikenal juga sebuah media putih …

Sundea

komikdijajar

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin