28.6.09

Pondok Kapau : Semangat Literasi di Rumah Makan Padang

Di Jalan Dipati Ukur no.100, Simpang Dago, berdiri rumah makan Padang yang cukup unik. Namanya Pondok Kapau. “Pondok artinya rumah,” ujar Bang Ucok, salah satu pegawai rumah makan tersebut. Sesuai namanya, tampaknya Pondok Kapau pun menjadi rumah bagi banyak orang, terutama mahasiwa.

pondokapau

“Kami buka 24 jam,” ujar Ibu Murdiana Hadi alias Zus Mon, pemilik Pondok Kapau, “Kalau malam Minggu, jam 9 malam sampai 3 pagi, kami juga ada main domino spesifikasi permainan orang Minang. Hanya ada malam minggu karena image orang tua, (takutnya) kesannya Pondok Kapau tempat yang tidak menghasilkan. Padahal di sini buku kan menghasilkan. Hotspot juga menghasilkan.”

Buku dan fasilitas hotspot. Inilah hal paling menarik dari Rumah Makan ini. “Cintailah membaca karena dengan membaca akan timbul satu wawasan dan pengetahuan. Sukses akibat lancarnya komunikasi dan informasi,” imbau Zus Mon. Siapapun yang berkunjung ke Pondok Kapau boleh duduk selama mungkin, berhotspot ria, dan membaca koleksi buku yang ada di sana. “Ada yang dari malam di sini, siang saya datang masih ada,” cerita Zus Mon. 

zusmondanbukubuku

Buku yang disediakan cukup bervariasi, mulai dari buku agama sampai politik. Mulai dari filsafat sampai ilmu pasti. Zus Mon bahkan kerap memfotokopi buku-buku konsumen yang dianggapnya menarik.

Bukan hanya itu, Zus Mon juga menggantung kata-kata bijak di seputar Pondok Kapau. Dengan begitu, sadar tidak sadar pengunjung Pondok Kapau terus membaca dan menerima hal-hal baik. “Kata-kata ini saya dapat dari La Tahzan, Khalil Gibran, atau saya punya ide sendiri. Kalau kamu punya ide, bisa juga kamu beri ke saya, nanti saya ketik dan saya bingkai,” ujar Zus Mon.

contohkatamutiara

Ketika ditanya mengenai hal baik, Zus Mon berpendapat, “Jika seseorang bertanya, kita jangan cepat menilai pertanyaan dia nggak masuk di akal. Mungkin kita yang terlampau cepat menilai. Berpikir positiflah setiap hari.”

Menu Pondok Kapau kurang lebih sama dengan Rumah Makan Padang pada umumnya. “Yang banyak dibeli di sini rendangnya,” Bang Ucok merekomendasikan.

Dengan nasi-lauk seharga sekitar sembilan ribu lima ratusan rupiah, kamu bisa makan kenyang sambil membaca dan berhotspot sepuasnya. Kata-kata bijak pun akan selalu melingkupimu, membuat hal-hal baik tak pernah terasa jauh.

Bagaimana ? Tertarik untuk berkunjung … ?

 

hubungikasir

Sundea

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

1 comment:

screencast said...

sepertinya aku pernah diajak mbak Tarlen ke sini ya.. hehe..

ojan.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin