Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Sunday, June 28, 2009

Sebuah Rasa yang Dibungkus Kenangan (Filosofi Permen)

Semalam saya bisa tidak tidur, lebih tepatnya tidak sempat untuk tidur. Hal itu terjadi karena pada pagi ini saya harus membuat beberapa gambar yang harus di bawa saat kuliah studio. Kuliah yang harus dilewati selama 8 jam seharusnya di dukung dengan tidur yang cukup, setidaknya setengah dari waktu kuliah. Tapi kenyataannya, pagi ini membuat saya harus berjuang melawan kantuk yang bergantung di kelopak mata bagian atas.


Perjalanan ke kampus seperti sebuah pit stop yang memeberikan saya kesempatan untuk tidak memandang garis – garis yang terlentang di atas kertas. Namun Setelah sampai kampus, saya kembali harus melanjutkan perjalanan untuk membangunkan garis yang ada dalam imajinasi saya untuk segera berpindah tempat ke atas kertas.


Perasaan lelah bercampur dengan perasaan sepi yang ditawarkan oleh pagi di perjalanan . Mungkin pagi juga terkadang merasa lelah karena harus selalu bangun dan membangunkan tepat waktu setiap harinya. Tetapi saya juga melihat ada orang yang sangat gembira di pagi itu, terlihat dari senyum yang tak lepas dari wajahnya.Mungkin bagaimana kita melhat suasana alam ternyata terhubung dengan suasana alam yang ada di hati kita sendiri.


Ahkirnya setelah sampai kampus saya memutuskan untuk lebih lama lagi berada di pit stop. Saya harus mengisi bahan bakar selain sekedar mengganti apa yang saya kenakan di kosan untuk terus melanjutkan perjalanan hari ini. Namun bedanya kali ini pit stopnya bukan jalanan tapi sebuah supermarket yang menjual berbagai macam barang-barang. Tujuan awal saya adalah untuk membeli air mineral dan sebungkus roti untuk sarapan.


Setelah mengambil dua barang itu, saya kemudian menuju ke kasir untuk membayar.Sebelum menuju ke meja kasir (walaupun meja itu bukan punya sang kasir, tapi entah kenapa di namakan meja kasir) seolah olah ada yang menyapa saya dari rak – rak di dekat situ. Setelah saya lihat ternyata ada masyarakat permen dari berbagai macam suku rasa dan merk bangsa. Seolah olah mereka menawarkan penawar rasa sepi pagi ini dengan berbagai macam rasa yang mereka punya. Ahkirnya saya terbujuk dan berlutut di hadapan mereka untuk memilih merk bangsa apa yang saya ingin beli.


Sewaktu saya memilih mereka dalam bungkus besar yang memuat kira – kira 30-50 bungkus kecil. Saya merasa akrab dengan salah satu bangsa permen. Ada sebuah perasaan rindu teman lama yang tak terjelaskan. Saya menjadi bertanya – tanya tentang hubungan apa yang pernah terjadi antara saya dan bangsa permen itu. Setelah saya pegang, bangsa permen yang bernama dynamite dengan bungkus biru sebagai warna dominannya seolah melayangkan imajinasi saya ke samudra. Mencoba mengingat hubungan apa yang pernah terdampar di luasnya itu.


Sejenak terlintas sebuah gambaran akan masa lalu, akan sebuah mulut yang senang mengunyah bangsa dynamite ini. Gambaran itu lambat laun semakin jelas menampilkan sebuah sosok yang sangat akrab dengan saya. Ternyata bangsa permen ini pada masa lalu menjadi sebuah utusan perasaan saya kepada seorang mantan kekasih sewaktu SMA.

permendynamite
Saya masih berlutut di depan rak masyarakat permen itu, tapi bayangan saya sudah melayang jauh melintasi waktu ke masa – masa SMA saya.


Permen dynamite itu mengingatkan bahwa saat saya SMA, saya selalu membeli permen dynamite dalam jumlah besar. Hal itu saya lakukan karena kekasih saya suka dengan permen itu. Lalu setiap pagi saya membawa 2-3 permen ke sekolah. Setiap pagi dan istirahat, saya memberikan dia satu bungkus permen. Saya selalu memberikan itu karena saat itu saya ingin membuktikan bahwa saya bisa membuat dia senang setiap hari dengan memberikan hal kecil yang dia sukai. Mungkin hal itu terlihat aneh atau percuma, karena bila setiap hari di bawa, daya spesial permen itu akan hilang. Tapi yang saya ingin saya sampaikan adalah bahwa dia selalu ada dalam hal – hal kecil di setiap hari saya.


Kenangan – kenangan yang melintas di dalam pikiran saya itu membuat saya tersenyum sendiri di depan rak permen itu. Saya kembali teringat tentang masa – masa SMA. Di setiap paginya, di setiap waktu istirahatnya, di setiap waktu pulang sekolahnya. Saya rasa hal itu adalah bagian yang menyenangkan pada hidup saya. Terlebih saya tersadar keadaan saya yang sendiri saat ini di banding saat saya memiliki seorang kekasih untuk berbagi. Pada saat itu. Saya senang menjadi “seseorangnya seseorang”.


Kenangan – kenangan itu menjadi sebuah penghibur di pagi hari, di tengah sebuah kewajiban kuliah yang harus saya jalani. Permen – permen itu mampu membangkitkan rasa ceria akan sebuah kenangan manis yang pernah saya alami.


Dari perenungan itu, saya berpikir, ternyata sebuah rasa manis pada sebuah permen dapat dirasakan bahkan sebelum membuka bungkusnya. Yang memberikan rasa manis itu justru saat saya melihat bungkusnya , bukan saat saya mengunyah permen itu.


Hal ini sangat serupa dengan rasa manis ( sebuah perasaan bahagia, ceria, semangat, dll) yang dirasakan pada hidup kita. Perasaan - perasaan itu sebenarnya selalu hadir dalam berbagai macam peristiwa,entah itu rasa bahagia saat kita sedang berdua dengan seorang pacar, atau sedang kecewa saat dihianati orang yang paling kita percayai. Namun sebuah rasa itu pun bisa hadir tanpa kita mengalaminya langsung. Karena sebenarnya setiap peristiwa yang sudah pernah kita alami semua terbungkus rapi oleh sebuah instrument pada pikiran kita bernama kenangan.

Seperti layaknya sebuah permen yang membungkus sebuah rasa tertentu di dalamnya. Kenangan yang dimiliki oleh setiap manusiapun membungkus rasa – rasa yang pernah kita alami sebelumnya. Tinggal kenangan bermerek apa yang ingin kita ambil dari setumpuk rak sejarah yang kita miliki.Saat kita mengambil sebuah kenangan tertentu, kita dapat merasakan kembali rasa yang di timbulkan tanpa harus mengalaminya kembali.

Saat itu saya sedang mengamnbil sebuah permen dynamite yang memiliki rasa mint dan coklat di dalamnya, itu seperti saya merasakan sebuah kenangan yang pada awalnya seperti biasa saja tapi manis setelah dipikirkan kembali. Permen apa yang kalian simpan ? permen asam , pedas, atau permen karet yang selalu kalian alami tapi berubah rasanya ?


Tak sadar karena membayangkan hal – hal yang terjadi pada masa lalu, ternyata saya sebenarnya sudah lama sekali jongkok dan berada di depan rak permen itu. Dan sebuah kalimat dari seseorang menyadarkan saya dari lamunan panjang. Katanya “ mas, maaf mas, mau beli permen yang mana ? mungkin bisa lebih cepat memilihnya karena orang yang di belakang mas mau bayar”.


(satu pelajaran penting, jangan mengingat- ingat sebuah kenangan saat kamu berada di jalur sirkulasi orang jalan atau kamu akan merasakan rasa malu atau bahkan rasa kesal yang di berikan oleh orang2 di sekitar kamu.)
“eh maaf ,maaf ",ucap saya dan malah membeli permen lain.


Perenungan ini terjadi karena salah satu mantan kekasih saya di SMA bernama Angie (sekarang telah memiliki kekasih yang mudah – mudahan dapat memberikan rasa manis di hidupnya).Terima kasih kepada dia ( tanpa ada maksud ingin mengembalikan kenangan antara saya dan mantan kekasih saya) dan orang – orang yang pernah mengisi hidup saya menjadi indah.


Filosofi permen ini saya dapat bukan seperti filosofi buah yang saya tulis sebelumnya. Saya tidak pernah terpikirkan untuk memakan BUNGKUS permenya juga.waaaaaaa, saya harus kuliah….


Nantikan berbagai macam filosofi merk bangsa permen lainnya.terima kasih.

 

fotoanexnya Andreas Anex adalah mahasiswa arsitektur Universitas Parahyangan. Ia memercayai pentingnya kesadaran dalam menjalani keseharian. Itu sebabnya, Anex yang menyukai filsafat ini tak pernah jemu  mencermati dan mencatat segala hal yang terjadi dalam kesehariannya. Silakan berkunjung ke rumahnya di http://aneksophie.multiply.com

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin