Sunday, June 21, 2009

Soal Jodoh, Pati, Rejeki

IMG_2265 asuhan Kak Syaraf Maulini




Pertanyaan dari Hamba Allah (via message FB):

Halo Kak Syaraf Maulini, mau nanya nih

  1. kenapa cowok masih gemar merayu-rayu wanita lain padahal udah punya pacar?
  2. kenapa cowok brengsek?
  3. kenapa cowok suka memberikan harapan palsu?
  4. soal karir, knapa cari kerjaan dgn gaji yg gede teh susah pisan?!!!
  5. kenapa bos mau mendepak saya padahal saya anak yang rajin???

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Hamba Allah, bolehkah dipanggil demikian? Oke, sini dibantu untuk menggalaukan perasaanmu:

  1. Yang pertama adalah, karena cowok itu tidak cadel. Kalau cadel ia melayu-layu wanita lain padahal udah punya pacal. Kedua, ini saya coba jawab yang benernya: karena bagi kebanyakan pria, merayu tidaklah berdosa. asal tidak sambil mencuri, mabuk-mabukan, dan durhaka pada kedua orangtua.
  2. Karena kalau breng brong breng brong itu namanya musik metal.
  3. Ah, semua harapan itu palsu. Kecuali kau sudah bisa menjawab besok matahari terbit atau tidak? Eh, bener, yang tadi itu jawaban serius.
  4. Gampang, coba masukkan lamaran aja ke warung sate kambing. Disana gajinya gede-gede. Apalagi kalau dalam menu sedia gulai juga. Lebih gede tuh!
  5. Itu artinya dia bosan sama kamu. Ingat kan semboyan ”rajin pangkal pandai” seperti di sampul-sampul coklat? Nah ngapain dia pekerjaan anak rajin kalau sudah dapat anak pandai. Artinya si bos sudah dapat pangkalnya kan?

Pertanyaan dari Gadis Galau (via message FB):

Alo Kak Syaraf Maulini, mau nanya dong, boleh kan?

Jadi gini, bagaimana sih pandangan kakak mengenai situasi ini :

Ada dua cewek, yang satu tuh bisa dibilang tampang biasa-biasa aja, tapi dia itu pekerja keras, akademiknya bagus, dia bisa suatu keahlian sampai keahlian itu ngebuat dia bisa cari uang sendiri, dia mandiri, gak tergantung cowok dan kalau diliat dari personality sih emang cenderung tertutup dan kurang charming. Cowok-cowok pun anggep dia tuh 'saingan', dan bukan cewe yang untuk disukai, dijaga, dan dikeceng.

Lalu ada satu cewe lagi. cewe itu isunya sih dulu pernah sakit berat. ceweknya cantik banget dan lemah lembut bercahaya. kata orang-orang dia tuh loyal, baik, pokoknya princessy deh. walopun akademiknya jelek, dia gak usah terlalu berusaha karena semua cowok selalu mau bantuin. semua cowok deketin, ngeceng, dan menjaga dia. pokoknya dia tuh disanjung-sanjung terus. walopun tanpa harus berusaha banyak.

Terus sekarang ada seorang cowok. dia pacaran (yah uh well hts-an) sama si cewek yang ga cantik. dan dulu dia ngeceng cewek cantik itu. tapi si cowok itu malah jadi sering ngebicarain si cewek cantik, mau pergi ama cewek cantik. Si cewek gak cantik pun jadi bingung, dia kurang apa gitu sama si cowok itu.

Kalo menurut kakak, keadaan ini adil gak sih?

*eh kalo bisa jangan di muat di off clinic. malu hahaha.*

Jawaban dari Kak Syaraf:

Waduh termuat nih, gimana dong? Haha maaf ya, Gadis Galau. Semoga semakin galau, karena itu menyehatkan.

Oke, begini, masalahmu pelik sekali nak. Menurut saya adil loh, tapi kalau saya jawab itu terlalu pendek dan pasti mengecewakanmu. Untuk yang sekarang, akan saya coba jawab serius ya, eh beneran. Pertama, adalah bagaimana menjawab standar cantik? Cantik itu sungguh konstruksi sosial. Coba saja tunjukkan saya gambar kucing pakai pita, saya pasti pikir itu cantik. Tapi contoh itu tak bisa dipakai, karena tadi itu binatang. Tapi setidaknya begini, menggunakan istilah ”cantik” atau ”tidak cantik” sudah merupakan pemilahan yang kurang tepat. Kalaupun demikian, mesti ada tambahan, ”cantik kata siapa?”, ”tidak cantik kata siapa?”. Barulah lumayan keren.

Kedua, adil itu juga, sebenarnya sebuah kata yang tidak jelas. Apakah definisi adil? Apakah semua orang mendapatkan hasil yang sama rata? Jika demikian maka kau komunis, bahaya laten. Ataukah adil itu, setiap orang mendapatkan sesuatu sesuai proporsinya? Jika kau ambil itu definisi kedua, maka tak perlu khawatir persoalanmu itu menjadi persoalan. Karena masing-masing orang punya proporsinya, tinggal selanjutnya, bagaimana cara mensyukurinya. Ada tiga macam cara mensyukuri. Yang pertama adalah ”syukuran”, yakni mengundang orang banyak untuk makan-makan. Yang kedua, adalah ”syukurin”, yakni mengata-ngatai orang yang terkena musibah agar kau lebih puas. Yang ketiga, adalah ”syukur-syukur menang, kalau tidak ya sudahlah,” yakni jika kau melihat Persib sedang tampil di kandang lawan.

Google Twitter FaceBook

2 comments:

vbi_djenggotten said...

hahahahaha...
edan...

keturunan higlander ini orang...

tobucil said...

Hehehe ... emang, tuh ...

Btw, mau nyoba ikut nanya ke Highlander ini ? Boleh, lho, kirim pertanyaan via tobucil@gmail.com =p

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin