Sunday, June 21, 2009

Untittled

oleh : Ali Singatuhan

Hari ini saya terbangun dan menemukan diri saya sendiri. Bukan hanya sendiri di rumah. Tapi andaikata saya keluar dari rumah, saya akan tetap menemukan diri saya sendiri. Dan bahkan jika saya menjelajahi keempat mata angin, saya akan tetap tidak bertemu dengan siapa-siapa. Hari ini saya adalah Adam dan hanya Tuhan teman, kekasih, dan obyek saya.

Gedung-gedung masih berdiri di Jakarta. Megah, tapi tiap lantainya kosong. Jalan-jalan metropolitan lengang dan terbuka hingga berkilometer jauhnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya adalah orang nomor satu. Tapi ke mana perginya nomor dua, tiga, empat, dan yang lainnya ? Seumur hidup, saya menginginkan semua orang membebaskan saya. Untuk mengangkat kaki mereka dari kepala saya. Tapi setelah saya keluar dari belenggu, mau ke mana saya ?

Untuk pertama kali dalam hidupku saya adalah raja. Tapi saya hanya berkuasa terhadap diri saya sendiri. Saya akan memerintahkan diri saya untuk makan sepuas yang saya mau misalnya. Tapi perut saya akan memberontak. Saya berlari seorang diri di tengah jalan Sudirman. Tapi tubuh saya melamuk, melakukan kudeta terhadap akal saya.

Dengan tenaga yang tersisa aku berlari ke pantai. Di hadapan langit, laut, dan carawala yang tidak terbatas, aku berdoa. Kepada saiapa lagi selain Tuhan karena hanya Dialah yang ada sekarang. Ia bahkan tidak menyisakan berhala untuk aku berpaling dari-Nya.

Aku bertanya kenapa ? Apa yang terjadi ?

Kenapa tidak kamu turunkan kembali semua yang Kau ambil ? Manusia. Makhluk indah itu. Yang berpotensi pada segala macam keburukan, kejahatan, dan kekejain yang megah dan di sisi yang lainnya mampu membuat sebuah oase kedamaian dari semua kekacauan itu. Kejahatan dan kebaikan. Keburukan dan keindahan. Dan semua yang tidak bisa dipisahkan. Itu yang saya inginkan.

Keesokan harinya dunia kembali seperti semula. Saya membuka jendela dan melihat kekacauan itu kembali. Saudara saling menusuk dari belakang. Teman saling mengkhianati. Kesombongan merajai. Darah bercpiratan dan tangis bercipratan.

Saya menutup jendela, lalu bersyukur.

----

Walapun Ali SingaTuhan dilahirkan di Jakarta, ia telah menemukan rumahnya di pelukan Kota Bandung tercinta. Disana ia telah telah tumbuh dan mengecap semua yang ditawarkan kota tersebut: dari lingkungan rumahnya di ujung Desa Ciburial, di tengah-tengah Pesantren Babusalam dengan segala kepermaian alam dan manusianya. Disana, di bawah saung yang dibuat Bapaknya dulu, ia membaca buku-buku yang nantinya akan membentuk hidupnya. Dan disana pula ia mulai menulis cerita-cerita yang alam tersebut bisikkan padanya. Dan pada akhirnya Bandung – beserta para penghuninya yang indah, halus dan bertata karma – menjadi Dunia bagi Ali, menjadi setting, tokoh dan tema dari semua yang ia tulis dan (mungkin) akan tulis di masa depan.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin