5.7.09

Imej Lain Derrida


Maghrib itu hujan amat deras. Awalnya sempat membuat Tobuciler bimbang untuk datang, karena sungguh, sangat deras. Padahal Tobuciler tertarik dengan film yang akan diputar di Klab Nonton. Judulnya Derrida, bercerita tentang filsuf Prancis tersohor Jacques Derrida. Film itu dikategorikan dokumenter, karena memang isinya nyaris berisikan wawancara dan keseharian Derrida semata. Untungnya, hujan deras tak mau berlama-lama. Meski sedikit telat, Tobuciler datang jua. Datang ke beranda Tobucil, Tobuciler merasakan suasana mengerikan. Dahi penonton nampak berkerut-kerut, sementara layar televisi nampak tak menarik. Isinya hanya obrolan dan obrolan, tanpa ada kegiatan audio dan visual yang menggoda.

Penonton yang jumlahnya delapan orang itu sungguh tegang. Biasanya Tobuciler segan mengajak ngobrol jika film tengah diputar. Tapi kali ini Tobuciler memberanikan diri, dan mereka nampak senang, ”Hai Mas, namanya siapa?”, ”Oh, Zamzami,” ”Gimana, Mas, film nya? Tentang apa sih?” Tobuciler lanjut bertanya bagai anak bertanya pada bapaknya. “Tentang Derrida, wawancara gitu, deh,” jawab Mas Zamzami. “Oh, ngerti gak, Mas? Tentang filmnya gitu,” “Hehe, cukup sulit dicerna, tapi saya bisa menangkap sedikit.” Lalu Tobuciler lanjut bertanya, pada Yeni yang tengah merajut. “Mbak, kok merajut sambil menonton Derrida? Keren juga tuh,” “Ah, ini kebetulan aja, tadinya emang lagi ngerajut, terus tau ada Klab Nonton, nimbrung deh.” Oh, Tobuciler pikir, Mbak ini lagi menghubungkan pemikiran dekonstruksi Derrida dengan dekonstruksi benang-benang rajutan. Lalu terakhir, Tobuciler tanya seseorang bernama Margaretha. “Hai, gimana filmnya?” “Ga ngerti sih, tapi lumayan bikin imej saya tentang Derrida berubah. Dulu saya pikir dia orangnya gelap, absurt, dan mengerikan. Tahunya cerah ceria dan senang bercanda.”

Memang, film Derrida sedikit sulit dicerna. Pertama, karena itu bukan makanan. Kedua, isinya banyak obrolan yang dibungkus oleh bahasa yang khas filsafat. Seperti apa itu? Ya, yang tidak bisa dimengerti seketika, mesti banyak baca-baca buku filsafat. Film yang disutradarai oleh Kirby King dan Amy Ziering Kofman itu bagi Tobuciler, nyaris sependapat dengan Margaretha, menimbulkan sisi lain dari seorang Derrida. Seorang, yang menurut Tobuciler, pemikirannya mampu memporakporandakan 2500 tahun usia filsafat Barat dan membuatnya menjadi kurang menarik lagi. Alih-alih berat dan absurt, Derrida justru senang bercanda juga. Hampir di setiap jawaban wawancara, ia menyelipkan guyon sehingga terasa sedikit ringan apa yang disampaikannya. Yang pasti, Tobuciler mengaku tak serta merta mengerti apa yang tengah disampaikan film tersebut secara keseluruhan. Tapi biarlah, tak semuanya mesti dimengerti saat itu juga. Bulan ini barangkali suasana Klab Nonton akan senantiasa muram temaram. Karena memang yang diputar adalah biografi para pemikir ”berat”, diantaranya, yang berikutnya, ada Andy Warhol dan Marshall McLuhan. Selamat mengerutkan dahi dan bersugesti kepalamu akan lepas, sehingga mesti ditahan oleh tanganmu (baca: gaya filsuf ketika berpikir).

Syaraf Maulini

fotorudy

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin