Sunday, July 5, 2009

Klab Diam, Klab Gelap di Tobucil

-Tobucil, Kamis 02 Juli 2009-

Klab Diam

Tercium isu adanya klab gelap di Tobucil. Namanya Klab diam. “Emang kegiatannya ngapain ?” tanya Tobuciler. “Ya diem,” sahut Wiku sang koordinator klab. Disinyalir klab ini beroperasi setiap Kamis mulai pukul lima atau setengah enam sore. Maka, pada waktu yang diketahui itu, Tobuciler datang.

Tiga alumnus Klab Nulis dari angkatan yang berbeda datang. Mereka berdiam dalam kegiatannya masing-masing ; Rudy sibuk merajut, Rini duduk sambil merokok, Ivan membaca karya Anton Chekhov sambil sesekali menatap nelangsa ke jalan. “Sebenernya Klab ini kegiatannya ngapain, sih ?” tanya Tobuciler lagi. “Ya … diem,” sahut Rudy tak ubahnya Wiku. Hyaaa …

Menjelang pukul enam, Wiku datang dengan jadwal sidang Klab Nulis. Barulah ketiga pediam itu berceloteh mengomentari. Ternyata Klab Diam adalah Klab lanjutan dari Klab Nulis. “Mustinya bimbingan, tapi belum bawa karyanya,” ujar Rini. Di dalam klab ini, alumnus klab nulis berkumpul, membahas karya, bertukar informasi, sekedar temu-kangen, atau … ya itu … berdiam-diam diri saja.

Hari itu kegiatan mereka pun cukup aneh. Main gagarudaan. “Tapi harus sastra, ya, nama judul, tokoh, penerbit …” “Sekalian aja penerjemah, langsung mati saya !” Ivan memotong usulan Wiku. Pada akhirnya gagarudaan pun dilaksanakan dengan kategori tokoh, judul buku, hewan, pekerjaan, negara, dan penerbit. Huruf pertama yang keluar adalah “F”.

 

gagarudaan

 

“Ini boleh bahasa Sunda ?” tanya Rini. “Boleh, boleh, pekerjaan jadinya ‘folisi’,” sahut Ivan. Untuk kategori tokoh dan judul karya, dengan curangnya Rudy menyebut “Farashi”. Siapa Farashi ? Tokoh dalam cerpen karangan Rudy yang berjudul “Farashi” juga. Dweweweng ….

Ketika keluar huruf “H”, Ivan tahu-tahu bertanya, “Kalo hewan Hello Kitty boleh, nggak ?” Pada huruf “P”, Rudy mengajukan buku Recto Perso yang jelas-jelas mengandung dua kesalahan. “Itu, sih, awalnya ‘R’, Rudy. ‘Perso’, lagi, bukan ‘verso’,” protes Tobuciler. Mendapat huruf “A”, Mas Bebeng, stringer Antara yang sedang sibuk mengecek fotonya, menyeletuk girang, “Eta mah kerjaan urang ! (Itu mah kerjaan saya) Antarawan !”

Permainan ditutup dengan keluarnya huruf “X”. Dengan agak memaksa, Rini menyebut “X-Leg Gorilla” alis Gorilla berkaki X untuk kategori hewan. Ivan menyebut “XXX” untuk kategori pekerjaan. “Kan ceritanya disensor,” dalih Ivan.

XXX. Klab Diam pun adalah klab berkategori XXX. Bukan karena sensor, tapi karena kegiatan mereka adalah variabel bebas yang bisa diisi sesuai kondisi ...

Sundea

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin