Sepanjang minggu ini Tobucil seperti diingatkan untuk membaca kembali makna fana dari dekat. Di awal minggu ada R.E Hartanto yang berkarya di beranda Tobucil sambil membahas konsep fana. Petangnya, ada madrasah filsafat yang menyinggung kefanaan dalam konteks “belenggu”. Pada hari Kamis, Merry Scumbag, salah satu teman Tobucil, berpulang di usia muda. Dan di tengah rapat mingguan, kami teringat pada Tembok Ratapan, karya Klab Origami yang seperti sudah menyadari kefanaannya sejak dinamai.
Tak ada yang abadi. Setiap kehidupan adalah perjalanan menuju kematian dan pelajaran untuk melepaskan. Tak ada yang bisa kita genggam terlalu erat dan kita paksa menjadi kekal. Satu-satunya kemungkinan adalah berdamai dengan kefanaan, menghormati kebebasan takdir, dan percaya bahwa perjalanan hidup punya kebijaksanaannya sendiri.
Namun, Teman-teman, siapa tahu kefanaan justru merupakan harapan. Ada yang mengungkapkan fana berarti lenyapnya sifat-sifat panca indera. Sementara menurut Plato, tubuh (yang membawa panca indera) adalah belenggu jiwa. Bisa jadi kefanaan malah memungkinkan jiwa menentukan kebebasannya tanpa terkotak.
Lalu kekalkah kebebasan itu ?
…………………………………………… …………………………………… . . . . . . . . . ?
Semoga tubuh dan jiwa kita masih bisa bekerja sama selama fana.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankannya.
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Tobuciler
Bookmark this post: |
1 comment:
fana? nyata? ah, terkadang bingung memikirkan semua itu. yang pasti, di bulan ramadhan yang penuh berkah ini saya ingin mengucap maaf bila ada salah dalam berkata atau bersikap. semoga kita semua diberi kemudahan dalam menjalankan ibadah dan dapat menjadi insan-NYA yang lebih bertakwa.
semogahariiniindah ^_^
Post a Comment