Sunday, August 23, 2009

Mulyana dan Makan-makan yang Tidak Fana

mainpic “Mul, elu udah pernah gua wawancara untuk ‘Teman Tobucil’ belum, ya ?” tanya Tobuciler saat Mulyana tiba di Tobucil untuk munggahan bersama Kru Tobucil. “Belum,” sahut Mul. “Wah, pas banget kalo gitu. Minggu ini temanya ‘kefanaan’ dan lu lulusan Gontor. Gih makan dulu, abis itu gua wawancara, ya …”

Mul pun makan-makan. Setelah itu dia sibuk dengan hal-hal lain ; mengganti galon air mineral, mundar-mandir, pergi ke WC, tahu-tahu dia mengaku, “Teteh, abdi dari tadi mikir, fana teh artina naon-nya ?” GUBRAKKKK !!!

Tobucil : Jadi, Mul, menurut lu fana artinya apa ?

Mul : Hihihi … hehe … fana teh … he … kata yang sering didengar tapi poho deui artina naon (lupa lagi artinya apa). ‘ke heula (nanti dulu) … mikir … dunia yang fana … ya … dunia yang fana … eh … tong kitu-nya (jangan gitu, ya) ? Hehehe …

Tobucil : Tong kitu gimana ? Jadi apa ?

Mul : Ya saya setuju.

Tobucil : Hah ? Setuju sama apa ?

Mul : Setuju kalau fana tidak kekal.

Tobucil : (sambil berpikir kapan ada pernyataan “tidak kekal” yang tiba-tiba disetujui Mul) Jadi … menurut lo contoh kefanaan itu apa ?

Mul : Ya manusia.

Tobucil : Karena …?

Mul : Karena mati meureun (mungkin) … hehehe …

Mbak Tarlen : Ayam nggak mati, ya, Mul ? Gimana, sih, ini lulusan Gontor ?

Mul : Grogi abdi, baru pertama diwawancara-wawancara gini soalnya … hehehe …

Tobucil : Terus kegrogian fana, nggak, Mul ?

Mul : Nya fana atuh, maeunya (ya fana, dong, masa) grogi terus ?

Tobucil : Terus kapan kegrogian lo berakhir ?

Mul : Kapan, ya ? Tergantung situasi. Ya … kalo diwawancaranya sambil … (senyum-senyum) sambil ada yang diemil, aya pizza misalna …

Tobucil : Tuh, ngemil korek api aja sana. Merknya kan tiga durian, kali rasa durian, Mul …

Mbak Elin : Ada, ada … (masuk ke dalam, mengambil sekotak brownies, lalu meletakannya di hadapan Mul).

Mbak Upi : Kita lihat, ya, ada perubahannya apa enggak !

Mul : Ieu naha wawancarana tentang fana (Ini kenapa wawancaranya tentang fana) ?

Tobucil : Soalnya minggu depan blog Tobucil temanya ‘fana’. Gini, deh, pas di Gontor lu diajarin nggak fana artinya apa ?

Mul : Harusnya ada, beneran. Masuknya pelajaran usuudin, ilmu asal usul yang membahas tentang agama. Nya … aya, sih, tentang sifat-sifat Tuhan. Lamun (kalau) kekal kan baqa. Tak kekal teh … fana. Nya, bener-bener. Fana kebalikannya.

Tobucil : Ok. Lu sendiri pernah, nggak, ngerenungin kefanaan ?

Mul : Sering jigana mah (sepertinya, sih). Tapina teh … ya … nu ecek-ecek (dangkal) misalnya … tentang hidup …

Tobucil : Buset ! Hidup itu ecek-ecek, ya, Mul ?

Mul : (sambil senyum-senyum khas Mul) Oh henteunya (enggak, ya) ? Abis … lamun dibeurat entar lieur (pusing). Nanti sayanya tambah botak. Soalna … hidup mah kitu. Kita berusaha, berjalan, akhirnya kita menemukan arti kenfanaan, ya maot (mati) itu (kemudian Mul mulai mencomot brownies yang terhidang).

Tobucil : (memperhatikan Mul mengunyah) Nah … kalo makan-makan itu fana, nggak, Mul ?

Mul : (dengan mulut penuh kue) Teu … teu fana jigana, mah … kan akan terus dilakukan.

Tobucil : Lah … emang kalo udah mati orang masih makan-makan juga ?

Mul : Enggak (nyam-nyam), yang makan-makan bukan saya, tapi … itu kali (nyam), bakteri akan memakan tubuh saya …

Tobucil : Tapi itu artinya hidup kan terus ada juga. Misalnya elu mati, bakteri tetep hidup.

Mul : Iya juga, sih … (tampak berpikir sambil terus mengunyah) tapi kalo dilihat dari segi … naon-nya ? Dari visinya, hidup itu fana. Dunia fana. Tah, eta, filsafat nyambung. Kalau dilihat dari katanya, “makan” sama “hidup” itu tidak fana, tapi kalau dilihat dari visinya jadi fana, soalnya tidak ada yang abadi.

Tobucil : Okeh. Terus gimana lu menghadapi hal-hal yang udah lo sadarin fana, Mul ?

Mul : Pasti mah selalu optimis, ya, namanya hidup harus optimis. Lamun henteu, saya mempercepat kefanaan itu menjadi sesuatu yang tidak ada. Kan ada takdir, jadi saya berusaha menjalani takdir itu dengan sebaik-baiknya.

Tobucil : Sip ! Ok, segitu dulu. Sana makan-makan lagi, Mul. Makasih, ya …

Sementara Mul asyik mengunyah brownies yang tersedia, Tobucil berpikir sambil senyum-senyum sendiri, “Mungkin inilah cara Mul membuat fana tak segera jadi sesuatu yang tak ada. Makan yang banyak supaya sehat … hehehehe …”

Keesekon harinya, dalam ibadah puasa, Mul akan mengerem kegiatan makan-makan yang dicintainya. Bukan untuk mempercepat kefanaan menjadi yang tak ada ; justru untuk memahami yang tak ada bernama baqa.

Sundea

 

fotodua

fototiga

 

 

 

 

 

 

Biodata Mulyana

biodatamul

Google Twitter FaceBook

2 comments:

ipey said...

si moel lahirnya tahun 2009. hahaha...

tobucil said...

Woah ... jadi lahir2 dia langsung segede gitu ?

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin