Sunday, September 20, 2009

Dahlia

 

Lebaran tahun kemarin, saat matahari tengah bersinar terik, dahlia mekar dengan cantiknya di halaman depan. Mahkotanya berwarna merah, benang sarinya (atau putiknya—saya tidak peduli, pokoknya yang ada di tengah bunga) berwarna kuning. Itu bunga dahlia pertama yang saya punya.

dahlia lebat

Agak mengherankan tanaman itu bisa tumbuh dan berbunga. Masalahnya, di awal pertumbuhan, ia sempat kena hama berwarna putih yang menempel di daun-daunnya. Hama itu jumlahnya banyak dan kecil-kecil seperti kutu, tapi mereka bisa terbang seperti kupu-kupu. Diduga, hama itu semacam vampir yang mengisap darah dahlia sampai pertumbuhan dahlia mandek.

Karena itu, tanaman dahlia dipindahkan ke lahan lain, masih di halaman depan. Siapa tahu hama itu muncul karena tanah tempat dahlia ditanam tidak cocok untuknya. Namun yang terjadi, tanaman dahlia tidak tinggi-tinggi. Bahkan umbi-umbinya yang lain tidak mengeluarkan tunas. Maka tanaman dahlia itu diboyong kembali ke tempat semula.

Saya kira, dahlia akan pundung dipindah-pindahkan seperti itu. Ditambah, musim kemarau keburu datang. Dahlia bisa saja mati kekeringan. Tidak tahunya, beberapa hari sebelum lebaran, muncul sebuah kuncup di pucuk tanaman dahlia. Bentuk kuncupnya itu menyerupai bawang, punya lapisan-lapisan tipis. Jumlahnya mungkin ratusan. Atau lebih.

Setiap hari, lapisan-lapisan itu mengelupas sendiri dan menunjukkan mahkotanya yang berwarna merah sedikit demi sedikit. Terus, lapisan-lapisan itu mengelupas semua dan semua mahkotanya terlihat jelas, berikut benang sarinya. Mekarlah bunga dahlia.

Malam harinya, hujan turun sangat deras. Saya khawatir bunga dahlia kenapa-kenapa. Berapa lama saya menunggunya berkembang? Kalau ia mati gara-gara hujan, saya bisa sedih. Tapi keesokan harinya ketika saya periksa, dahlia itu sehat-sehat saja. Hujan tidak membuatnya doyong, apalagi ambruk. Malah batang dahlia itu tetap berdiri tegak menopang bunga.

Selanjutnya, berbulan-bulan kemudian, dahlia tumbuh dengan sangat subur dan berbunga lebat. Barangkali karena ia disiram hujan. Paling menyenangkan melihat bunga dahlia ditiup angin. Lucu. Tangkainya kan ceking, sementara bunganya agak besar, tapi tidak sebesar bunga matahari. Jadi kalau ditiup angin, bunga itu seperti penari balet yang menari dengan satu ujung kakinya dan meliukkan badannya ke kanan dan ke kiri.

Itu hanya separuh keajaiban yang dimiliki dahlia. Pernah suatu sore, hujan turun deras disertai angin kencang dan menyebabkan salah satu dahan dahlia semplek, sehingga bunga yang sedang mekar di dahan itu layu, kemudian mati. Atau pernah juga kuntum bunga dahlia terlepas dari tangkainya dan tergeletak di atas tanah tanpa tahu kenapa. Ia seperti kepala yang dipenggal dengan guillotine*.

Kalau sudah layu dan kering, bunga dahlia tidak cantik lagi. Mahkota dan benang sarinya keriput dan berguguran. Tinggal kelopaknya saja yang monyong.

Itu semua terjadi sampai kira-kira bulan April kemarin. Belakangan, saya tidak lagi melihat dahlia mekar karena tanaman itu sekarat. Itu terjadi karena dahlia tumbuh terlalu tinggi sampai batangnya berat karena daun. Ia bahkan sampai menunduk dan menyentuh tanah. Nah, memotong batang tersebut adalah pilihan yang tepat daripada membiarkannya tersiksa. Nanti pun akan muncul tunas-tunas baru dari umbinya.

Tapi sampai sekarang, saya belum melihat dahlia berbunga lagi. Padahal tunas-tunas yang baru sudah muncul. Apa dahlia itu benar-benar pundung? Terus, kapan saya bisa melihat bunga dahlia mekar lagi?***

*guillotine: alat pemenggal kepala

 

rie yanti & dahlia

Rie-Yanti adalah lulusan Sastra Perancis yang suka menulis. Tulisan-tulisannya selalu manis dengan bahasa yang lembut mengalir. Selain menjadi kontributor blog Tobucil, ia juga aktif sebagai kontributor www.warungfiksi.net

 

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Jangan lupa sertakan foto diri dan biodata singkatmu.

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin