-Tobucil, Rabu 02 September 2009-
Apa, sih, yang kamu lakukan di waktu libur yang senggang ?
“Ngelamun,” kata Theo.
“Nonton dengan serius,” kata Mata.
“Istirahat yang bener-bener istiriahat,” kata Frans.
Lalu Mas R.E Hartanto mengajukan pertanyaan yang mengacaukan persepsi standar tentang libur dan waktu senggang, “Lalu bagaimana dengan filsuf-filsuf pada zaman dahulu itu ? Kalau waktu mereka sepenuhnya senggang, kapan liburannya ?” Dari sana, seluruh peserta madrasah filsafat berusaha me-redefinisi libur dan kesenggangan waktu.
Libur dan senggang memang punya batasan kabur. Mas Tanto, pelukis yang kadang jalan-jalan bagai liburan saat bekerja, mengaku bahwa pemisahan tegas antara kerja dan liburan justru membuat ia kehilangan ritme. Untuk pegawai yang bekerja nine to five pun batasan senggang dan tidak kadang tidak terlalu jelas. “Pasti ada waktu senggang di tengah-tengah waktu yang seharusnya waktu kerja,” pendapat Frans yang pernah mengalami jam kerja ketat dan padat dengan tingkat stress tinggi. Di tengah kesibukan menggila pun ada kalanya orang duduk santai, online, atau sekedar minum kopi. Tampaknya bagi Frans yang terpenting adalah kualitas kesenggangan itu, “Waktu senggang itu istirahat yang benar-benar istirahat …” Mas Iqbal, dosen psikologi Universitas Padjadjaran pun tampaknya sependapat dengan Frans, “Senggang bisa jadi waktu yang sebenarnya sempit tapi terasa sangat panjang dan luas. Jadi senggang itu tenang, lebih banyak bisa diolah.”
Pekan ini Tobucil libur seminggu. Semoga di waktu senggang ini, ada lebih banyak yang bisa kami olah dan bawa selepasnya.
Teman-teman, bagaimana dengan libur dan waktu senggang kalian ?
Talent : Heru Hikayat
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment