Pertanyaan dari Fans Ringan Off Clinic (via YM):
Kak Syaraf mau nanya dong, ada soal pergitaran dan ada soal lainnya.
- Kak Syaraf fingering maen gitarnya biasanya gimana aja?
- Kak Syaraf Maulini apa? Lini tengah, depan, atau belakang?
Terima kasih Kakak!
Jawaban dari Kak Syaraf:
- Fingeringnya tergantung. Tergantung apa? Tergantung pisang di warung. Ada macam-macam fingering. Kalo sedang main klasik, saya pakai keseluruhan jari kanan kecuali kelingking. Kalo sedang main metal, saya pakai plektrum atau pick. Kalo sedang sebel sama orang, saya pakai jari tengah.
- Apa ya, yang pasti saya tidak mau lini gempa. Rasanya menggetarkan dan menggalaukan. Waktu lini, saya lagi dipijat refleksi. Kau ada dimana? Dan orang tentunya berhamburan keluar, termasuk tukang pijit saya. Ketika lini selesai dan kami kembali ke posisi, saya bilang, ”Mas, ulang lagi ya pijitnya, kepotong sih tadi.”
Pertanyaan dari Gadis Senja (via SMS):
Kak Syaraf, pertanyaan saya singkat, padat, merayap. Apa hubungan antara Senja di Batas Kota dan Senjata Makan Tuan?
Jawaban dari Kak Syaraf:
Ada banget, memang lagu Senja di Batas Kota yang dipopulerkan Ermi Kulit ini berkisah tentang weapon eat lord (senjata makan tuan-red), mari kita simak liriknya:
Senja di batas kota
Slalu teringat padamu
Saat kita kan berpisah
Entah untuk berapa lama
Walu senja tlah berganti
Wajahmu slalu terbayang
Waktu engkau kulepaskan
Berdebar hati di dada
Tiada dapat kulupakan
Peristiwa kisah ini
Engkau di seberang sana
Menunaikan tugasmu
Senja di batas kota
Terlukis di dalam kalbu
Hanya bila kau kembali
Hidupku akan bahagia
Nah jadi ceritanya, menurut penuturan Ermi Kulit pada ibunya yang mana saya tak kenal keduanya, ini lagu begini kisahnya: setelah solat Ashar, adalah solat Maghrib. Nah ia selalu telat solat Maghrib, karena tak mampu melihat senja ada dimana. Katanya adzan pun tak terdengar karena belum ada speaker. Dimanakah ia? Ia ada di desa. ”Mak, aku tak mampu pergi ke kota, apalagi untuk sekedar mencari senja,” katanya pada emaknya. ”Disana mencari uang saja digusur, apalagi mencari senja,” tambahnya. Tapi ia basa-basi saja. Ia tahu, emak yang baik pastilah akan menyuruhnya pergi merantau, carilah itu senja, demi ketepatan waktu solat Maghrib-mu. Namun kagetnya ia kala si emak menjawab berbeda dengan pengharapannya, ”Anakku yang baik, ini uang, belilah tivi. Mari saksikan adzan maghrib saja.” Dengan hati sedih sang anak beli tivi. ”Pak, beli tivi satu,” si anak berkata seolah pada tukang bubur ayam, meskipun memang iya. Jadilah si anak dikira gila, dan ditunjukkanlah tukang jual tivi yang sebenarnya.
Singkat cerita, sampailah si tivi di rumahnya. Sejak itu sang anak tak pernah telat solat maghrib lagi. Namun suatu hari, si anak bosan karena terus menerus menyetel TVRI. Akhirnya dipindahkanlah saluran ke Metro TV. Disana didapati berita soal pemboman J.W. Marriott dan Ritz Carlton. Kala dibilang bom bunuh diri, ia dan ibunya berdiskusi panjang lebar. Katanya, ”Mungkin gak, Mak? Kalau itu bukan bom bunuh diri, tapi ia bawa bom untuk diledakkan, tapi karena suatu kesalahan, eh malah meledak di genggamannya!” ”Mungkin aja nak, senjata makan tuan itu namanya,” ”Oh, gitu ya, Mak? Kalo senjata makan tuan, tuannya makan apa dong? Senjata?” ”Bukanlah nak, tuannya makan apa sesuai keinginan dia,” ”Oh, iya juga ya, hehehe.” Demikianlah hubungannya.
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment