4.10.09

Bermimpi tentang Boscha

 

”... Sekadar catatan, kami tidak bermaksud membuat kegiatan sendiri seperti pembagian rapor, foto sebelum-pernikahan, atau bahkan pembentukan agama baru selama kunjungan ke observatorium. Kami juga tidak berencana membawa serta hewan peliharaan masing-masing. (Dan kebetulan hewan peliharaan saya adalah ikan.) ...” – Andika Budiman (dari http://www.ngungsi.blogspot.com)

Adalah seperti mimpi, jika kau menganggap sepenggal paragraf di atas mampu meluluhkan hati petugas Observatorium Bosscha. Tapi kenyataannya iya. Iya, mereka, dengan sepucuk surat yang mana penggalannya adalah yang di atas itu, mau mengijinkan kami, untuk berkunjung melihat fasilitas peneropongan bintang di mana? Di Bosscha itu. Kami akhirnya, Andika, Nia, Sundea, dan Tobuciler, berangkat bersama, mengunjungi Bosscha di Lembang sana.

timkami sebagian dari tim kami

 

Sesampainya, kami tak sendirian. Maksudnya, kami tak hanya berempat saja. Ada yang lainnya, semisal sekumpulan anak SMA dan beberapa keluarga kecil yang entah bahagia atau tidak. Lalu berdirilah kami, mengelilingi semacam lempeng besar. Yang diatasnya berdiri seorang pria yang mengaku sebagai teknisi. Harusnya, katanya, ada penceramah utama, theteropongyang mana seorang astronom. Tapi katanya tak bisa hadir. Jadilah sang teknisi yang bercerita soal ini itu, seolah-olah didampingi oleh Teropong Zeiss Besar, yang berdiri kokoh tepat di sampingnya.

 

Sambil mendengarkan ceramah sang teknisi. Tobuciler lihat berkeliling. Ada beberapa gambar dan tulisan, yang ingin menunjukkan sejarah observatorium tersebut. Jadi, jangan kira Bosscha itu semacam jenis bintang atau makanan. Ia adalah nama orang, yakni: Karel Albert Rudolf Bosscha. Lantas kemudian, jangan dikira juga ia seorang arsitek atau astronom. K.A.R. Bosscha adalah tuan tanah di perkebunan teh Malabar. Ia penyandang dana, yang memungkinkan Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda mewujudkan cita-citanya membuat semacam peneropongan bintang. Dan, ini kata si teknisi, bahwa Observatorium Bosscha pernah jadi yang terbesar di dunia. Sekarang, ia bahkan bukan yang terbesar lagi di Asia Tenggara, karena ada Thailand. Oia, proses pembangunan Bosscha berjalan lima tahun, dari tahun 1923 hingga 1928.

Oh, ada bunyi derakan mesin. Dan itu datang dari kubah observatorium. Mengagumkan. Karena si kubah ternyata bisa bergerak, untuk memberikan celah bagi Teropong Zeiss Besar. Oh perkasanya kombinasi keduanya. Teropong dan kubah. Belum lagi, si teknisi seolah-olah bercerita betapa kurang beruntungnya ia punya tubuh pendek, sehingga membuat ia menunjukkan fasilitas lempengan yang ia injak, bahwa itu bisa naik, membantu tubuhnya, sehingga bisa meneropong. Ya, jadi kira-kira begini, sederhananya: bintang diteropong lewat Teropong Zeiss Besar, yang mana mengintipkan dirinya via celah-celah kubah. Kalau kau kurang sampai ke lensa teropong, tak perlu bingung cari kursi atau tangga untuk naik, karena si lempeng bisa mengangkatmu.

Tobuciler boleh bermimpi, bahwa kunjungan saat itu bisa menemukan beberapa bintang yang indah-indah. Kenyataannya? Oh, kami datang sore, sehingga dilarang lihat bintang kecuali matahari yang ah, silau. Tobuciler boleh bermimpi, bahwa kelak observatorium ini kembali jadi yang termegah di dunia. Biar kita punya harga diri, punya kebanggaan. Tapi, oh, kenyataannya, di gambar terakhir yang Tobuciler lihat, mereka ini punya masalah serius: yakni pemukiman penduduk yang semakin padat di kawasan Lembang. Loh, kan neropong itu lihat ke atas, ke langit-langit, sedangkan pemukiman penduduk itu di darat toh? Tidak, tidak, pantulan cahaya dari rumah-rumah itu ternyata mengganggu bagi kegiatan peneropongan. Tobuciler boleh bermimpi, untuk jadi si teknisi. Agar bisa liat bintang kapanpun ia mau. Agar bisa membelai Teropong Zeiss Besar seperti kucingnya sendiri. Agar bisa makan sate kelinci kapanpun ia lapar. Kenyataannya: boleh saja bermimpi.

Syaraf Maulinikubah

Google Twitter FaceBook

2 comments:

Nia said...

nambahin:

Dan Tobuciler boleh bermimpi, bahwa Indonesia dapat membuat observatorium sendiri.

:D

Sundea said...

Will it come true ? Mari kita lihat ... ;)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin