4.10.09

Di Kursi Penumpang (bagian 2)

Klik di sini untuk membaca bagian 1

ilustrasi Dan Risa belum mau berhenti, saya sudah tidak bisa melihat tangis di matanya lagi.

“Nah, Mamah tuh dulu sering ngobrol sama Ibunya Eki, terus Ibu Eki bilang kalo si Eki tuh suka cerita-cerita tentang Ica kalo lagi di rumah. Terus waktu Ica ulang tahun dulu, Eki pernah ngasih cincin yang main-mainan gitu ke Ica, padahal itu SD lho! Ica juga masih sekecil apa. Makanya nggak inget juga.”

Tapi tentu yang terjadi berikutnya saya sudah tahu. Risa tidak pernah bertemu lagi dengan Eki. Orang tua Risa cerai dan Risa bersama ibunya pindah dari Buahbatu ke rumah lain di pinggir kota. Rumah yang lebih sepi, dimana di kompleksnya ia tidak mengenali seorangpun anak-anak seumurnya. Dan mulai saat itu Risa menjalani hidup sebagai anak yang orang tuanya bercerai.

Mungkin itu alasannya waktu SMA dia tidak pacaran dengan Eki, tapi dengan saya. Karena orang tua saya juga cerai. Karena saya juga tahu rasanya menjalani hidup sebagai anak yang orangtuanya bercerai. Dan merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan – dan melegakan – untuk saling bertemu dulu.

Sebenarnya __ sekarang__ saya tidak bisa mengatakan kami saling mengerti satu sama lain atau semacamnya Tapi yang pasti kami lebih menolerir kekurangan masing-masing karena kami mengerti bahwa hidup kami lebih rumit daripada anak kebanyakan. Kami tidak memiliki bimbingan penuh dari orangtua kami untuk maju dan berkembang dan berprestasi seperti anak-anak kebanyakan. Jika kami melakukan kesalahan, bukankah di sana ada kesalahan orangtua kami juga ? Masyarakat ? Bukankah kami berhak mendapat simpati ? Mendapat kasih sayang lebih daripada orang lain ?

Kami sering mengobrolkan hal-hal seperti itu ; saat sedang sedih atau dalam masalah. Atau mungkin lebih tepatnya, saya yang bicara, dia mendengarkan. Dia paling hanya memberi komentar setelah saya selesai bicara panjang lebar. Kadang dia memberikan simpati, “Ica ngerti,” atau semacamnya. Tapi kadang dia mengkritik saya, mengatakan bahwa saya terlalu pendendam atau hanya melihat sesuatu dari sisi negatifnya saja.

Dia bicara seperti itu seakan dia malu pada saya. Malu .Dan kalau dia bicara seperti itu, biasanya saya akan terpancing kemarahannya, lalu kami bertengkar. Dan kadang, kadang-kadang, saya ingin membuat dia merasakan sakit, lalu menangis sesedih mungkin. Setelah menyakitinya, saya lantas akan meminta maaf, mengatakan saya menyesal, lalu kami berbaikan. Tapi dalam hati, hanya dalam hati, saya tersenyum puas.

Dan hal itu mungkin karena, walaupun saya dan Risa orang tuanya sama-sama bercerai, paling tidak ayah Risa kaya dan dia cukup peduli untuk terus menghidupi Risa dan ibunya. Risa dibelikan mobil Timor hijau tahun 98. Sedangkan saya, saya dapat apa? Bapak saya pergi meninggalkan istri dan tiga orang anaknya. Ibu saya harus mati-matian menghidupi kami. Kakak saya dulu bahkan keluar dari kuliah karena khawatir biaya kuliahnya memberatkan Ibu. Saya bisa kuliah karena kakak mendapatkan perkerjaan sebagai event organizer, cukup untuk membantu ibu membiayai kuliah saya.

Saya dan Risa melewati masa SMA kami di mobilnya itu. Saya biasa membawa mobilnya ke tempat yang sepi di daerah perumahan di daerah KPAD, lalu kami ...

Bersambung ...

Walapun Ali SingaTuhan dilahirkan di Jakarta, ia telah menemukan rumahnya di pelukan Kota Bandung tercinta. Disana ia telah telah tumbuh dan mengecap semua yang ditawarkan kota tersebut: dari lingkungan rumahnya di ujung Desa Ciburial, di tengah-tengah Pesantren Babusalam dengan segala kepermaian alam dan manusianya. Disana, di bawah saung yang dibuat Bapaknya dulu, ia membaca buku-buku yang nantinya akan membentuk hidupnya. Dan disana pula ia mulai menulis cerita-cerita yang alam tersebut bisikkan padanya. Dan pada akhirnya Bandung – beserta para penghuninya yang indah, halus dan bertata karma – menjadi Dunia bagi Ali, menjadi setting, tokoh dan tema dari semua yang ia tulis dan (mungkin) akan tulis di masa depan.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin