18.10.09

Di Kursi Penumpang (Tamat)

 

ilustrasi Bagian 4

klik di sini untuk membaca : bagian 1, bagian 2, bagian 3

Saya kira itu hanya suara di dalam kepala saya.

Mati !

Risa diam sejenak Sangat perlahan, ia mengangkat wajahnya, melihat ke mata saya.. Datar.Lalu tersenyum. Bukan senyum sayang, melainkan senyum kasihan.

Otak saya seperti mati lampu sesaat...

Langit semakin mendung ...

“Ca, ini udah sore. Kamu keliatan capek. Saya turun di sini aja, ya ...? Kamu istirahat dulu di rumah, nanti malam saya telepon. Lagian saya ada janji juga ama temen. Rumahnya di deket sini’

‘Temen siapa?”

“Ada lah, anak kampus, kamu nggak kenal.”

Risa terlihat penasaran sebentar, berpikir; tapi tidak lama dia tersenyum. Sekarang dengan tulus, “Iya deh”

Saya keluar. Hembusan angin dingin di luar terasa menyejukkan setelah kesesakan mobil barusan. Kami saling mengucapkan salam perpisahan dari jendela. Saling tersenyum beberapa saat. Saling mendoakan untuk hati-hati di jalan. Lalu saling melambai.

Lalu Risa memundurkan mobilnya dan bersiap untuk pergi. Anehnya, kami berdua tidak bisa memasang topeng kami lagi. Terlalu berat. Tangan kita saling melambai, tapi wajah kami tidak bisa kami paksakan untuk tersenyum. Maka yang terjadi adalah seperti adegan dalam film dimana kedua kekasih saling berpisah – di stasiun kereta atau bandar udara – di mana itu ternyata adalah terakhir kalinya kedua pasangan tersebut bertemu. Biasanya sang laki-laki terungkap tewas dalam perang atau ternyata kereta yang ditumpanginya mengalami kecelakaan atau semacamnya. Namun dari lagu atau suasana dari adegan perpisahan tersebut, penonton akan menyadari bahwa kedua tokoh ini tidak akan bertemu lagi untuk selama-lamanya...

Itulah yang saya rasakan ketika mobil Risa pergi menjauh. Dan sementara bemper belakang mobilnya terlihat semakin mengecil dan mengcil hingga akhirnya dia berbelok di pertigaan dan ketika hilang ditelan lalu lintas jalan raya, saya merasa lemah dan tidak berdaya, terutama karena dari belakang, saya melihat pundak Risa yang naik turun sesungukan.

Dan memang. Itu adalah saat terakhir saya melihat Risa. Ketika pulang ke rumah, saya berusaha menelponnya, tapi merasa percuma. Bahwa itu tidak ada gunanya. Bahwa lebih baik menelponnya besok pagi saja.

Keesokan harinya, perasaan itu masih juga ada, maka hari itu lagi-lagi saya tidak menghubunginya. Juga keesokan harinya. Dan esoknya lagi. Dan hari-hari setelah itu. Dia juga tidak menghubungi saya. Tidak menelpon atau semacamnya. Maka saya pikir Mungkin dia juga merasakan hal yang sama.

Setelah dipikir-pikir, mungkin ada sesuatu dalam pembicaraan kami di mobil. Di parkiran SMA. Saya di kursi penumpang. Dia di belakang setir.

Mungkin secara tidak sadar kita masing-masing telah mengeluarkan penawaran; saling menegosiasikannya; lalu mengeluarkan, saling mengirimkan pesan rahasia melalui pilihan kata dan gestur.

Mungkin gairah yang mengalir melalui gerakan dan sentuhan kami tidak lagi ada. Aus oleh jiwa kami sendiri.

Saya ingat bahwa sore itu hujan tidak lama setelah kami berpisah. Sekarang saya sering membayangkan, saat itu Risa menyetir mobilnya di tengah-tengah hujan sambil menangis. Tidak dapat melihat jalan di depan. Wiper mobilnya bolak-balik di depan wajahnya. Mengeluarkan irama yang monoton. Menganggu. Tubuhnya kedinginan karena AC.

Kasihan dia.

Tapi paling tidak, dia aman di dalam mobilnya.

Tamat

Walapun Ali SingaTuhan dilahirkan di Jakarta, ia telah menemukan rumahnya di pelukan Kota Bandung tercinta. Disana ia telah telah tumbuh dan mengecap semua yang ditawarkan kota tersebut: dari lingkungan rumahnya di ujung Desa Ciburial, di tengah-tengah Pesantren Babusalam dengan segala kepermaian alam dan manusianya. Disana, di bawah saung yang dibuat Bapaknya dulu, ia membaca buku-buku yang nantinya akan membentuk hidupnya. Dan disana pula ia mulai menulis cerita-cerita yang alam tersebut bisikkan padanya. Dan pada akhirnya Bandung – beserta para penghuninya yang indah, halus dan bertata karma – menjadi Dunia bagi Ali, menjadi setting, tokoh dan tema dari semua yang ia tulis dan (mungkin) akan tulis di masa depan.

kirimkan tulisanmu tentang apaaaa … saja ke rubrik papantulis Tobucil di tobucil@gmail.com

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin