11.10.09

Di Kursi Penumpang (bagian 3)

image Bagian 3

klik untuk membaca : bagian satu, bagian dua

... akan bercakap-cakap, bertukar pikiran, bercerita apa saja. Itu merupakan saat-saat penuh kehangatan. Dunia hanya sebatas isi mobil ini, hanya ada aku dan dia. Kami biasa mengobrol berjam-jam sambil saya membelai wajah atau pipinya. Risa dalam baju SMA adalah kesempurnaan. Dia tidak pernah dan tidak akan pernah terlihat secantik itu sepanjang hidupnya. Giginya masih dikawat saat itu, tapi pipinya memiliki bindar ranum anak remaja, sedemikian rupa sehingga ketika dia tersipu, wajahnya akan mekar seperti hamparan luas taman mawar yang merona bernyanyi pada saat yang bersamaan . Dia memiliki keindahan suci seorang anak kecil dan pada saat yang sama matanya terbakar oleh pancaran gelora gairah muda. Dan siapa yang tidak akan terhempas oleh ombak aural keemasan yang terpancar dari diri seorang gadis 17 tahun seperti itu?

Bukan mengobrol saja, saya mengajari dia merokok. Dan suatu malam, pada saat kami kelas tiga, kami pernah menghabiskan dua botol Vodka bersama-sama. Bermabuk-mabukan di jok belakang; belum biasa minum terlalu banyak. Kami hanya dua anak ingusan sedih yang tertawa – mencoba meraba-raba hidup. Dan pada malam yang sama – atau mungkin pada malam yang berbeda, saya lupa – kami berciuman. Tangan saya meraba-raba perutnya. Menggunakan dua jari untuk merasakan kulit di balik kausnya. Bibir saya dingin saat bersentuhan dengan kawat giginya. Mulutnya rasa bawang. Dan tangan saya membuat putaran sepanjang sisi samping perutnya. Kadang ke bagian-bagian di bawah perutnya, dan kadang ke bagian-bagian di atas perutnya.

Setelah lulus SMA, saya dan Risa lebih jarang bertemu. Dia lolos ujian di sebuah universitas bergengsi, jurusan psikologi. Kalau dipikir-pikir, dia memang lebih pintar dari saya. Jadi ...

Di sana dia bertemu orang-orang. Mendapat teman-teman baru yang tidak saya sukai. Orang-orang yang terlalu... kaya mungkin. Yang laki-laki membawa mobil sendiri, dan yang perempuan terlihat seperti tipe-tipe perempuan yang tidak pernah naik angkot seumur hidup mereka.

Dan semuanya terasa pada hari-hari seperti ini, dimana waktu pribadi kita di mobilnya kini dipenuhi dengan kita saling tidak tahu mau membicarakan apa. Kekakuan dan keheningan yang mencekik leher, dimana yang terdengar hanya suara nafas kami yang berat dan tertahan.

“Eh, saya inget ding. Eki,” saya bilang, “setahun di atas kita kan? Orangnya rada gendut gitu? Putih?”

”Nggak gendut juga sih.,” kata Risa

“Iya tahu itu mah. Culun dia sih. Suka nongkrong bareng Hendi gitu – biar keliatan asik juga kali – tapi benernya orangnya culun kata saya sih.”

“Kenapa ngomongnya jahat gitu sih? Dia biasa aja kok.”

‘Nggak jahat juga Ca, saya Cuma bilang kalo … ‘

‘Ya udah dong. Dia kan temen Ica …” tangis mulai terlihat lagi di mata Ica.

”Okei ... okei ... sori, Ca.”

Lalu hening. Risa menegakkan badannya untuk yang terakhir kali.

“Semua orang kan ditakdirin beda-beda,” kata Risa, “jadi semua orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing lah. Tapi masa semua orang mau kita liat kekurangannya doang? Kita kan harus ambil sisi positif dari semua hal.”

Dan waktu itu saya punya perasaan bahwa kurang lebih itulah hal yang dari tadi ingin dikatakan Risa. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana tepatnya mengatakan hal tersebut. Dan entah bagaimana, saya juga tahu bahwa kalimat-kalimat itu ia dapat dari teman-teman barunya.

“Iya sih, tapi orang nggak bisa menerima gitu aja kekurangan yang dia punya. Dia harus mencoba melawan dan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang dia punya. Iya kan?”

”Ngomong apaaan sih!? Kan —,” Risa baru akan protes, tapi dia hanya membalas dengan mengibaskan tangan sambil menggeleng. Menyerah. Atau mungkin bukan menyerah, tapi tidak melihat untungnya berdebat lebih lama dengan saya.

“Oke Sa. Sori. Saya udah minta maaf kan tadi? Saya salah deh.. Kamu bener. Sori ya?”

Dia hanya diam. Lalu saya juga diam. Topeng kami sudah lepas dari tadi.

“Saya sayang kamu,” refleks mulut saya berucap. Anjing! Dari mana datangnya ?

Bersambung ...

Walapun Ali SingaTuhan dilahirkan di Jakarta, ia telah menemukan rumahnya di pelukan Kota Bandung tercinta. Disana ia telah telah tumbuh dan mengecap semua yang ditawarkan kota tersebut: dari lingkungan rumahnya di ujung Desa Ciburial, di tengah-tengah Pesantren Babusalam dengan segala kepermaian alam dan manusianya. Disana, di bawah saung yang dibuat Bapaknya dulu, ia membaca buku-buku yang nantinya akan membentuk hidupnya. Dan disana pula ia mulai menulis cerita-cerita yang alam tersebut bisikkan padanya. Dan pada akhirnya Bandung – beserta para penghuninya yang indah, halus dan bertata karma – menjadi Dunia bagi Ali, menjadi setting, tokoh dan tema dari semua yang ia tulis dan (mungkin) akan tulis di masa depan.

kirimkan tulisanmu tentang apaaaa … saja ke rubrik papantulis Tobucil di tobucil@gmail.com

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin