Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Sunday, October 4, 2009

Gustar Mono Mengikuti Arus yang Bukan Mimpi

mainpic Tidak seperti biasanya, Mas Gustar Mono singgah ke Tobucil pada hari Senin. “Tumben, Mas, biasanya datengnya Rabu, pas ada madfal,” ujar Tobuciler. Rupanya hari itu Mas Gustar memang bukan datang untuk bermadrasah, melainkan untuk membeli buku. “Buat bekal mudik besok,” sahutnya sambil membayar dua potong buku jajanannya.

Mudik ? Tanggal segini ?

Tobucil : Emang udah libur lagi, Mas ?

Mas Gustar : Enggak, ijin …

Tobucil : Kok mudiknya sekarang ?

Mas Gustar : Saya mudik bareng ibu saya, kalau jalannya terlalu padat dia capek, sudah nggak kuat.

Tobucil : Ooo … begitu. Emang mudiknya ke mana, Mas ?

Mas Gustar : Ke Jawan Tengah, Kutuarjo. Hari Kamis saya udah balik lagi, terus bertugas ke Riau.

Tobucil : Woah … padet juga, ya, jadwalnya … hehehe … emang kerja di mana, sih, Mas ?

Mas Gustar : Pusdiklat Pertambangan di Jalan Sudirman. Itu pelatihan buat PNS (Pegawai Negeri Sipil), kalau ada yang kurang ilmu pertambangannya dilatih di sana. Yang swasta ada juga, rata-rata dari perusahaan pertambangan.

Tobucil : Ini pekerjaan impiannya Mas Gustar ?

Mas Gustar : Enggak, ini mengikuti arus aja. Saya sempet punya cita-cita untuk kerja di Bali, tapi belum cukup punya kemampuan untuk kerja di sana. Sekarang, sih, udah tinggal mengikuti arus aja. Keinginan masih ada, tapi melawan arus itu lebih berat. Kalau diliat dari pinggir, kayak nggak maju-maju. Tapi kalo berhasil, banyak yang keplok.

Tobucil : Pernah nyobain ngelawan arus, nggak, Mas ?

Mas Gustar : Pernah, dulu di Pasundan Plaza kan ada kolam arus, jadinya malah mundur … hehehe …

Tobucil : Hehehe … sekarang, nih, menurut Mas Gustar mimpi dan kenyataan itu apa ?

Mas Gustar : Mimpi itu kenyataan yang ingin dikejar. Kata kuncinya, sih, ingin. Kalo masih diinginkan, berarti masih jadi mimpi. Kalo sudah terwujud, artinya sudah jadi kenyataan. Tapi … kalo mimpi buruk … gimana, ya ?

Tobucil : Nah, gimana, tuh ?

Mas Gustar : Nah, itu juga saya harus bikin re-definisi. Boleh nyusul ?

Tobucil : Enggak.

Mas Gustar : Mmm … no commentlah kalo gitu. Tapi menarik juga, sih, mimpi buruk kalo udah jadi kenyataan yang buruk, jadi parah. Cuman … ya … gimana, ya ? Berarti kata kuncinya bukan ingin, ya …

Tobucil : Hmmm … gini, deh, mungkin mbantu. Pernah ngalamin mimpi buruk yang jadi kenyataan, nggak, Mas ?

Mas Gustar : Pernah, sih, tapi karena kecil-kecil, jadi nggak terasa. Minimal saya pernah mimpi jatuh dan jadi kenyataan ; meskipun tidak berhubungan juga ; mimpinya di mana, jatuhnya di mana. Soalnya … kalau dipikir-pikir … dunia mimpi itu kan absurd … saya mimpi dikejar setan … padahal bentuk setan pun saya tidak tahu … (Mas Gustar lalu tampak pusing sendiri).

Tobucil : Mungkin nggak setan itu simbol sesuatu ?

Mas Gustar : Mustinya itu simbolisme, ya, tapi nggak tau, ya, belum ada benda serupa yang mengejar saya di kenyataan …

Tobucil : Sekarang di kenyataan Mas Gustar ngerasa dikejer-kejer sesuatu, nggak ?

Mas Gustar : Mmm … ga tau. Mengejar mungkin, ya …

Tobucil : Hyaaa … berarti Mas Gustar setannya, dong ? Mengejar apa, nih, Mas ?

Mas Gustar : Mengejar buku ini (menunjukkan buku Bicycling for Fun karya Bayu Why), soalnya di luar udah sold out semua. Sama buku ini (menunjukkan buku Bali yang baru dibelinya), ini untuk menemani perjalanan (mudik) saya, soalnya lebih tebel.

Tobucil : Mungkin, nggak, buku-buku itu mikir Mas Gustar setan buat mereka ?

Mas Gustar : Nggak tau, ya, saya nggak pernah jadi buku … hahaha …

Tobucil : Mas Gustar beli buku Bali itu karena impian ke Bali, bukan ?

Mas Gustar : Saya pengen tau aja budaya Bali. Karena pepatah umumlah, rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Saya kan orang Jawa, saya pengen tau budaya Bali.

Tobucil : Hmmm … sekarang Mas Gustar mau cari impian lain untuk dikejar ?

Mas Gustar : Mau, sih, tapi kalo di sini takutnya kebablsan, soalnya kemaren kurang tidur, kayaknya mending tidur di rumah aja entar … hehehehe …

Wawancara pun disudahi. Mas Gustar mengemas barang-barangnya untuk segera pulang, beristirahat di rumah sebelum menempuh perjalanan jauh keesokan harinya. Ia yang biasa mengikuti arus memilih melawan arus mudik.

Mas “Gustar Mono” pulang sendiri untuk melanjutkan mimpinya. Just wondering. Bagaimana hari-harinya jika ia “Gustar Stereo” ?

Sundea

fotodua

fototiga

 

 

 

 

 

 

Biodata Mas Gustar

biodata

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin