25.10.09

Siapa Selingan Siapa Bukan

-Tobucil, Sabtu 24 Oktober 2009-

Jika kau berada di situ hari itu, maka kau akan tahu, bahwa malam minggu di Tobucil sedang sepi-sepinya. Tobuciler datang, bukan dalam rangka hendak menunjukkan bahwa Tobucil tidak sesepi itu loh. Tapi Tobuciler sedang dalam rangka ingin latihan. Latihan bersama kedua orang yang tentunya, saya yakin, bukan bermaksud juga menunjukkan bahwa Tobucil tidak sesepi yang kalian bayangkan. Tapi kenyataannya, kami boleh sombong, bahwa kami membuat Tobucil tidak terasa sepi lagi. Bukan karena kami berteriak-teriak di beranda, berdebat soal adanya Tuhan atau tidak. Tapi, lihatlah kami ketika itu, membawa gitar, flute, dan, apalah itu, kalau vokalis nyanyi bawa apa ya?

Tobuciler, Galih, dan Puti, akan tampil pukul tujuhnya di Café Rumah 1930. Sebuah Café di Jalan Taman Cibeunying Selatan. Karena belum pernah bertemu sebelumnya, kamipun merasa perlu latihan lebih dulu. Bertemulah kami di waktu itu. Di sore yang dingin dan macet karena katanya Bandung habis pawai. Kala itu sekitar pukul lima. Dan kami bersua di Tobucil. Di beranda.

Kau tahu apa itu flute? Semacam seruling, biarpun memang iya seruling. Tapi terbuat dari semacam logam, bukan dari kayu seperti seruling Sunda. Umurnya, kau tahu, ditemukan pertama sekitar 35.000-45.000 tahun lalu. Entah nabi apa yang sedang hidup jaman itu. Dan sepertinya keren sekali, ketika kau tahu ada benda tiup yang sedemikian punya sejarahnya, ke Tobucil yang juga punya sejarahnya. Dan akhirnya, kami berkumpul di situ. Bersama gitar yang umurnya lebih muda, yakni 2500 tahun yang lalu. Serta vokal yang umurnya, alah, kapan itu Nabi Adam lahir. Kami berlatih memainkan lagu-lagu yang paling lama sih, sekitar lima puluh tahunan yang lalu.

Di tengah hingar bingar harmoni gitar, flute dan vokal yang tengah kami mainkan. Wiku datang membawa TV. Yang dimaksud membawa adalah, menggeser TV dari ruang belakang ke beranda Tobucil. Membuat kami sadar, bahwa di tengah latihan kami, akan ada sebuah selingan. Selingan yakni Klab Nonton yang seyogianya rutin setiap Sabtu jam enam. Selingan yang membuat kami sadar, bahwa kami tidak bisa selamanya berada di sana untuk latihan. Meski kami senang, dan kami bisa dicatat dalam sejarah: bahwa kami pernah membuat Tobucil hingar bingar. Tapi pun TV, ia seolah memberitahu, bahwa kemudian ialah yang mengambil alih peran kami. Seolah tidak ada satupun pihak yang membiarkan Tobucil larut dalam kesepian. Tadinya Tobuciler berpikir kami adalah selingan bagi hari Sabtu Tobucil. Tapi saat berlatih kami sadar bahwa kami menjadi selingan, karena tahu disana ada yang tetap. Tetap yakni Klab Nonton itu. Klab Nonton yang justru buat kami jadi semacam selingan. Kami yang justru menjadi selingan buat Klab Nonton. Hal yang justru membuat kalian bingung: siapa selingan siapa bukan? Pentingkah itu?

Syaraf Maulini

foto selingan-1

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin