22.11.09

Bunga buat Kakek

In memoriam: Kusmadi


Anak-anak itu berlarian di kompleks pemakaman, di antara batu-batu nisan. Mereka mencari bebungaan. Mereka mencari tetumbuhan.

Anak-anak itu, keponakan-keponakanku, adalah generasi termuda keluarga kami. Kami mengajak mereka ke sana karena mereka bersemangat ingin mengunjungi pusara kakek mereka. Kenapa? Karena mereka ingin menanam tetumbuhan di pusara kakek mereka.

Aku tidak tahu dari mana persisnya mereka punya ide menanam tetumbuhan adalah cara menghormati orang yang telah mati. Di banyak kebudayaan pohon adalah lambang hidup. Setahuku masyarakat Kanekes (sering disebut Baduy) tidak menandai makam dengan nisan bahkan tidak punya kompleks pemakaman khusus. Mereka menandai pusara dengan menanam pohon jenis tertentu, lalu tanah di sekitarnya tetap bisa digarap untuk lahan pertanian seperti biasa. Kita tahu tetumbuhanlah yang memungkinkan bumi menyangga kehidupan. Sejak proses photosintesis menghasilkan oksigen, kehidupan di bumi berkembang hingga organisma rumit macam manusia ini dimungkinkan untuk ada. Dengan demikian wajar bukan kalau kita menghormati kematian dengan menanam pohon? Yang mati kemudian jadi penyangga yang hidup.

Di tahun 1997, Tanto, sahabatku, menulis sebuah cerpen. Karakter-karakter dalam cerita itu adalah teman-temannya sendiri. Saat mendeskripsikan karakterku, ia menyebutkan bahwa aku akhir-akhir ini sedang sering merenungkan tentang kematian. Walaupun semua karakter dalam cerita itu menggunakan nama samaran, aku meminta Tanto untuk menghapus uraian tersebut. Entah kenapa aku saat itu merasa “merenung” dan “kematian” adalah hal-hal yang “tinggi” hingga kalau aku diceritakan sedang merenungkan kematian aku merasa seperti sedang digambarkan melakukan hal yang luar biasa. Aku rasa aku enggan dikesankan sebagai orang luar biasa.

Watanabe, si pemuda tanggung dalam novel Norwegian Wood, merasakan kehampaan ketika ditinggal mati Kizuki, sahabatnya. Watanabe canggung dalam pergaulan, suka menyendiri dan membaca buku berulang-ulang. Ia bukanlah karakter yang ditakdirkan melakukan hal-hal besar, macam hal-hal yang akan memengaruhi sejarah dan jangankan memengaruhi hidup banyak orang, ia bahkan tak memengaruhi alur hidup segelintir orang yang kebetulan menjadi temannya. Ia tidak membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya dengan alasan tegas. Pun orang sebiasa Watanabe merenungkan kematian. Ia lalu mengambil kesimpulan kematian tidaklah terpisah dari kehidupan. Kematian merupakan bagian dari kehidupan.

Anak-anak itu, saat saling senyum dan baku canda sambil menggali tanah dan menggenggam tetumbuhan lalu menanamkannya di pusara ayahku, dengan cara sederhana telah menunjukan kematian tidaklah nun jauh meninggi di sana. Aku melihat di momen itulah yang hidup dan yang mati tetap bersentuhan.


Heru Hikayat
Kanayakan, 16 November 2009



foto oleh vitarlenology
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin