22.11.09

Cintailah Ketakutanmu

Rabu itu di Madrasah Falsafah, cukup banyak orang yang datang. Rosihan Fahmi alias Kang Ami memimpin diskusi seperti biasanya. Diskusi yang topiknya tentang rasa takut. Malam itu, yang datang cukup banyak. Terlihat ada Mas Heru, Mbak Linda, Mbak Theo, Mbak Upi, IBS, dan beberapa lainnya. Tobuciler mengakui, bahwa dirinya tidak terus menerus duduk di forum tersebut. Karena sambil mengerjakan yang lain, yakni sesuatu yang berkaitan dengan acara yang digelar klabklassik di hari jumatnya. Meski demikian, Alhamdulillah, masih tertangkap intisari diskusinya.

Diskusi diawali oleh pemberian kesempatan oleh moderator bagi para peserta, untuk menceritakan pengalaman pribadinya soal rasa takut. Lalu munculah beberapa cerita soal rasa takutnya, yang ternyata beragam: ada yang takut pada orangtua, pada binatang, ataupun pada waktu. Cerita sang moderator sendiri misalnya, ia takut pada waktu, tepatnya waktu sore. Kenapa? Karena dulu, waktu ia kecil, setiap ia luput mengaji, ayahnya selalu memukulnya. Dan ngaji itu, waktunya sore.

Dari beberapa cerita tersebut, munculah kesimpulan sementara, bahwa ada dua pola ketakutan: yakni ketakutan sebagai bagian dari rasa, yang berarti bahwa ketakutan itu alamiah. Yang kedua, adalah ketakutan sebagai konstruksi dari masyarakat. Konstruksi itu misalnya, pernah ada cerita soal murid Kang Ami di SMP. Ia mengaku tidak takut oleh apapun, dan siapapun, termasuk orangtuanya sendiri. Tapi saat sang murid memasuki kelas baru, ia kaget. Karena tiba-tiba ia menemukan suasana kelas yang menegangkan, dan yang terpenting: ada konstruksi bahwa si murid mesti takut pada sang guru. Sejak itu, si murid jadi punya rasa takut, yakni takut pada guru.

Yang menjadi persoalan kemudian, adalah bagaimana memetakan takut pada kedua kategori tersebut. Mbak Upi misalnya, ia takut ketinggian, tapi ahistoris. Alias tidak ada sejarah yang mendasari kenapa ia takut ketinggian. Bukan misalnya, karena ia pernah terpeleset di bibir jurang, atau pernah ikut bungee jumping. Tapi kemudian, dalam forum disimpulkan, bahwa terlepas dari kesulitan pemetaan rasa takut, yang terpenting adalah bahwa: rasa takut bisa jadi potensi yang bagus, bisa jadi tolok ukur bahwa kita masih punya kewaspadaan, dan yang lebih penting: merupakan tolok ukur bahwa kita adalah manusia yang hidup. Maka itu, Mas Heru memberi solusi filosofis, yakni, seperti kata Nietzsche: Amor Fati, cintailah kehidupan. Buatlah ketakutan sebagai hal yang dicintai, karena ia bagian dari hidup itu sendiri. [syarif Maulana]. 



Patung Maria Karya Agus Suwage, foto oleh vitarlenology


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin