8.11.09

Dicky Caesario Sang Penulis Terpotensial dan Dunia Fantasi

mainpic Dicky Caesario adalah peserta Klab Nulis paling potensial di Angkatan V. Predikat itu membuatnya bersemangat untuk kembali mengikuti Klab Nulis Angkatan berikutnya. “Supaya lebih terasah kemampuan menulisnya,” ujar Dicky dengan wajah berseri-seri.

Berikut adalah obrolan Tobucil dan pemuda baby face yang murah senyum ini

Tobucil : Gimana, Dick, rasanya jadi penulis yang paling potensial di angkatan kemaren ?

Dicky : Deg-degan, terkejut, surprise, sungguh tak menyangka.

Tobucil : Kemaren elu nulis tentang apa, sih ?

Dicky : Cerpen tentang arkeolog, banyak konspirasi. Kata Ophan, sih, kurang membumi, tapinya katanya saya bisa menuliskan adegan-adegan dengan jelas lewat kata-kata.

Tobucil : Setelah nulis cerpen arkeolog itu, apa karya terbaru lo ?

Dicky : Belom.

Tobucil : Dari kapan elu suka nulis ?

Dicky : Dari SMP kelas dua. Waktu itu teh saya baca cerpen temen, cerpen romance gitu, sih, tapi emang cerpennya bagus. Terus saya pikir, kalo dia bisa, saya juga bisalah … Saya pertama kali nulis itu nulis drama buat tugas Bahasa Inggris. Cerita putri-putri gitu, kan bahan yang dibahas tentang fantasi.

Tobucil : Elu emang suka nulis fantasi ?

Dicky : Iyalah, namanya juga waktu itu masih leutik (kecil), dijejelinnya Harry Potter, Narnia

Tobucil : Menurut lu, fantasi itu apa ?

Dicky : Di luar kebiasaan, jadi misalnya ada sihir, ada magic yang ngeluarin api …

Tobucil : Korek api geretan magic fantasi, dong ?

Dicky : Ya … kan bukan yang begitu. Yang misalnya “crut” ada api keluar dari tangan, gitu …

Tobucil : Hahahaha … ok, ok. Btw, apa kesan lo tentang Klab Nulis Angkatan VI ini ?

Dicky : Rame, lebih banyak kayaknya.

Tobucil : Yang ikut lagi dari angkatan sebelumnya kan elu sama Rini doang, ya, Dick ? Gimana rasanya Rini nggak dateng ?

Dicky : Gimana, ya ? Biasa aja, sih …

Tobucil : Ok. Sekarang balik lagi ke fantasi, nih. Apa pendapat lo tentang Dunia Fantasi.

Dicky : Naon (apa) ? Rame wae, meureun (ramai aja, mungkin), kalo bisa ditambah permainannya.

Tobucil : Kalo Tobucil kayak Dufan, nggak ?

Dicky : Yang angkatan kemaren (Klab Nulis angkatan V) iya, kan di Dufan banyak ketawa-ketawa. Yang kemaren itu banyak ketawa-ketawa, terutama sama Mbak Jre.

Tobucil : Kalo lu disuruh bikin Klab Nulis Angkatan VI ini jadi kayak Dufan, sama lo dibikin gimana ?

Dicky : Ya … suruh aja Ophan ngasih joke-joke garing.

Rini : (tahu-tahu muncul middle of nowhere, dari kegelapan di pekarangan Aceh 56) Eta mah lain Dufan ! (itu, sih, bukan Dufan)

Dicky : Terus ?

Tobucil : Itu, sih, Srimulat

Dicky : Ya udah, Ophan aja disuruh didandanin kayak badut Dufan.

Tobucil : Hahaha … tetep Ophan korbannya.

Ophan yang sedang menerima telpon hanya senyum-senyum saja. Sesudahnya ia duduk di sebelah Dicky, turut mengobrol dan … mulai melontarkan joke-joke garing. Tetot !

Tidak heran, ya, kalau Klab Nulis selalu ceria dan kaya inspirasi. Ketiga personilnya ini tampak mewakili …

Sundea

fotodua

fototiga

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Dicky

biodata

Google Twitter FaceBook

1 comment:

Anonymous said...

kangen tobuciiiil~ :(

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin