29.11.09

Kepositifan Masalah


 Sore di Aceh 56. Foto: vitarlenology. Polaroid effect: http://rollip.com


Madrasah Falsafah

Di hari yang kebetulan tidak hujan itu, Madrasah Falsafah kembali berkumpul dalam lindungan Rosihan Fahmi. Rabu itu, Madfal membahas soal mencipta masalah. Ada cukup banyak orang yang hadir dan mengapresiasi diskusi ini. Tobuciler juga melihat beberapa wajah baru yang tak sempat berkenalan. Tapi Tobuciler tahu, mereka yang baru itu, cukup antusias, karena datangnya dari pukul empat. Diskusi diawali dari curhat Mas Frino soal status Facebooknya. Ketika ia mengganti status Facebook, ia merasa itu bukan masalah, karena tinggal ganti saja, toh? Tapi tidak serta merta demikian, dari sudut pandang kritis Madfal. Mengganti status, adalah sama dengan melakukan perubahan. Dan perubahan selalu bermula dari masalah, dan setiap perubahan juga akan mengakibatkan masalah. Curhat Mas Frino pun mengundang diskusi yang lebih hangat kemudian.


Masalah, bagi kebanyakan orang, masih dipretensikan negatif. Yang berkaitan dengan masalah, misalnya “orang yang bermasalah”, sudah seperti hal yang mesti dihindari ataupun dilampau. Padahal, kata Ami sang moderator, Thomas Alfa Edison, misalnya, mengawali penciptaan lampu listrik dari permasalahan soal penerangan lampu gas yang mahal dan kurang praktis. Artinya, masalah, ketika direspon dengan baik, adalah awal dari kepositifan. Bahkan jangan-jangan, dunia ini bergerak atas dasar segala respon atas masalah?

Diskusi lalu mengerucut pada: mengapa orang Indonesia masih banyak yang tidak sadar bahwa masalah adalah sumber kepositifan? Madfal lalu menarik penyebabnya pada pola pendidikan. Di Indonesia, pola pendidikan, masih diterapkan bahwa guru adalah maha tahu, dan murid adalah yang maha bodoh. Sehingga, munculah apa yang dinamakan generasi celengan. Generasi yang, bak celengan, hanya berbunyi nyaring jika diisi dan diisi, itupun diisi receh. Apa korelasi semua ini? Dalam permasalahan, selalu mengundang pertanyaan. Atau bahkan, pertanyaan berarti juga mempermasalahkan. Pola pendidikan di Indonesia, seolah belum membudaya tentang bagaimana pentingnya bertanya ini. Bahkan jika murid bertanya, sering dicap sebagai bodoh. Padahal, kata Ami, ada pola pendidikan tertentu di luar sana yang justru berpendapat bahwa kualitas kepintaran bukan terletak dari jawaban, tapi dari pertanyaan.

Dalam diskusi yang hangat dan seru itu, Chris menarik lagi jauh ke belakang, penyebab segalanya: yakni, budaya berbicara dalam keluarga. Banyak budaya tertentu di Indonesia yang melarang anak berpendapat terlalu banyak, dan hal itu kurang lebih membunuh karakter serta mengerdilkan cara pandang seseorang terhadap kekritisan. Madfal lalu ditutup dengan kesimpulan sederhana, tapi tetap punya kekuatan dalam melawan kenaifan berpikir, yakni: segalanya, berawal dari masalah.


Madfal tidak berhenti pada diskusi. Setiap akhir bulan, sekarang ada tradisi mengumpulkan topic untuk sebulan ke depan, dan mempresentasikannya secara singkat. Akhirnya, didapat tema-tema berikut ini: Alienasi dalam Ruang Publik di minggu pertama, Bullying ada Dimana-mana di minggu kedua, Mal, antara Kebutuhan dan Keinginan di minggu ketiga, Hannah Arendt yang Saya Kenal di minggu keempat. Dan habiskah? Tidak, ada minggu kelima, yang diisi topik soal Telanjang. Ikuti terus Madrasah Falsafah, jadikan kehangatan di musim hujan.
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin