1.11.09

Pradipta Nugrahanto Mencari yang Susah-susah

mainpic Karena Aliansi Jurnalis Indonesia Bandung (AJIB) pernah bermarkas di Tobucil, cukup sering Tobucil disinggahi wartawan. Salah satunya Pradipta Nugrahanto. Pada suatu siang yang sepi, Dipta mampir dan membeli minuman botol. Sambil melepas dahaga, ia yang biasanya mewawancara bersedia diwawancara sebagai “Teman Tobucil”.

Simak.

Tobucil : Seneng, nggak, nyari berita ?

Dipta : Seneng, karena gua bebas nyari berita apa aja yang menurut gua menarik.

Tobucil : Terus, berita yang menurut lo menarik yang kayak gimana ?

Dipta : Yang … kata orang biasa-biasa aja, tapi kata gua menarik. Misalnya, ada acara yang musiknya, bandnya, orang-orang nggak tau. Kata gua itu lebih bagus daripada ngeliput acara-acara gede.

Tobucil : Musik kayak gimana, tuh, yang orang-orang nggak tau ?

Dipta : Harus dijelasin, nih ?

Tobucil : Ya haruslah, kan kata lo “orang-orang nggak tau”.

Dipta : Misalnya … hiphop underground. Kata orang-orang hiphop, hiphop begini nggak ada. Yang jelas ini lawannya hiphop yang blink-blink.

Tobucil : Hmmm. Lawannya hiphop yang blink-blink. Emang hiphopnya gimana, sih ?

Dipta : Ya … bikin pusing yang mendengarnya.

Tobucil : Jadi lo suka lagu yang bikin pusing ? Gimana kalo lo dengerin Kangen Band sambil muter-muter ?

Dipta : Apa itu Kangen Band ? Nggak tau.

Tobucil : Hmmm gini, deh. Kan yang lo suka musik-musik “yang bikin pusing”. Kalo yang biasanya lo nggak suka ?

Dipta : Major label.

Tobucil : Lho ? Kenapa ?

Dipta : Kenapa, ya ? Terlalu gampang nyarinya.

Tobucil : Kalo major tapi susah dicari ?

Dipta : Ya … setidaknya ada tantangannya, nggak asal comot trus dibuang lagi. Film juga gua suka yang susah dicari, yang nggak komersil.

Tobucil : Misalnya film apa ?

Dipta : Yang selalu ada di ingatan gua Bomb the System. Gua suka film ini karena nyarinya susah setengah mati. Terus ini tentang graffiti yang menunjukkan pada gua kalo hiphop nggak begitu-begitu aja. Gua respect sama orang itu.

Tobucil : Orang itu siapa ?

Dipta : Yang ngasih film ini. Adalah, anak hiphop, yang pasti penggemar film juga, tapi bukan di sini. Dia dari daerah yang tidak begitu terkenal.

Tobucil : Lu suka sama segala sesuatu yang susah dicari, ya ? Kenapa lo nggak jadi polisi aja ?

Dipta : Polisi ? Gua nggak suka sama polisi, mau bentuknya gimana juga.

Tobucil : Kan polisi kerjaannya nyari buron. Terus buron kan suka susah dicari. Nah … pas kan tuh sama interest lo.

Dipta : Apa, ya … ? Itu kan sebenernya gampang. Disusah-susahin aja supaya mempersulit diri sendiri.

Tobucil : Hehehe … baiklah. Lu seneng Yuni Shara, nggak ?

Dipta : Ha ? Kok Yuni Shara ? Apanya, nih ?

Tobucil : Lagunya, lagunya. Kan ada Hilang Permataku, tuh. Kayaknya permatanya susah dicari, lho.

Dipta : Ah, enggak, biasa-biasa aja. Gua denger di kaset nyokap dan kayaknya nyokap nggak bersusah payah mencarinya.

Tobucil : Terus hal yang menurut lo paling susah lo cari saat-saat ini ?

Dipta : Pasangan, hidup … iya pasangan hidup. Itu yang susah dicari.

Dipta lalu meminum habis minuman botolnya, bersiap mewartawan lagi. Mungkin di hari yang sepi dan tenang itu akan susah mencari berita. Namun toh Dipta suka mencari yang susah-susah.

… atau mungkin dalam perjalanan berikutnya Dipta pergi mencari pasangan hidup ? Susah ? Tapi bukankah Dipta suka mencari yang susah-susah ?

Sundea

fototiga

fotodua

 

 

 

 

 

 

Biodata Dipta

biodatadipta

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin