8.11.09

Tips-tips Manggung ala Klab Klassik


Kau tahu, naik panggung bukanlah hal yang sederhana, buat sebagian orang. Maksudnya begini, naik panggung saja sih sederhana, tak perlu punya keberanian lebih. Tapi bayangkan, jika panggung itu berada di tengah orang banyak. Yang mana mereka bersiap menyaksikan siapa saja yang akan kemudian naik diatasnya. Lalu mereka bersiap melakukan apa saja, demi kepuasan mereka, dalam rangka merespon apapun yang terjadi di atas sana. Mau memuji, memaki, atau menyuruh turun panggung, adalah hak prerogatif penonton. Karena, satu, mereka bayar, dua, kalaupun tidak bayar, entah kenapa, penonton sepertinya berhak melakukan itu. Maka itu, penting untuk melakukan persiapan sebelum naik panggung. Di sini KlabKlassik akan mencoba memberikan tips, meski dalam konteks manggung di konser klasik. Tapi boleh loh jadi acuan, karena setidaknya ini yang Tobuciler rasakan, bahwa kenyataan bahwa musik klasik mengedepankan kesempurnaan dan kemurnian bunyi, memberikan beban yang lebih besar kala naik panggung. Sehingga bisa lah diterapkan dalam konteks manggung-manggung yang lain. Semoga bermanfaat:
1. Kenalilah medan tempatmu tampil nanti. Apakah di acara kawinan, syukuran, sunatan, café, atau resital. Akan sangat berbeda caramu membawakan nantinya, dan itu akan berkaitan dengan batas-batas kesempurnaan. Di café misalnya, boleh saja tidak terlalu sempurna dalam urusan notasi, tapi sikap bermain yang santai dan menyenangkan harus punya porsi lebih besar. Buat apa tidak melakukan kesalahan, tapi pengunjung café melihatnya kau terlalu tegang dan konsentrasi. Nah di acara resital, gaya betul-betul bonus saja, yang terpenting pertama adalah konsentrasi sehingga tidak kehilangan banyak not.
2. Jujur pada diri sendiri. Ini penting. Jadi menjelang tampil ya, biasanya kita punya perasaan-perasaan kurang enak. Nah, jika muncul rasa-rasa itu, akui saja. “Ya, saya tegang,” “Ya, saya sakit perut,” “Ya, saya deg-degan.” Biarkan itu diafirmasi, dan sebaiknya jangan sesekali ditolak dan dianggap pura-pura tidak ada. Karena, oh, sebagaimana kau adalah presiden di negara demokratis, menganggap suara mereka tidak ada, bisa menimbulkan efek bola salju yang membesar di kesempatan nantinya. Mending kau dengarkan saja aspirasi mereka, karena, sebenarnya, mereka sudah cukup puas jika diberi kesempatan menyalurkan barang sedikit. Nanti ada kalanya perasaan-perasaan tidak enak itu berhenti berbicara.
3. Ingat bahwa sebagaimana halnya kebahagiaan, tegang juga menular loh. Jadi jangan kira, kau bisa menutupi galaumu, dengan gaya yang dibuat-buat seperti tenang. Karena, tidak cuma secara gestural kau sedang berbohong, tapi perasaan tegangmu terasa juga oleh yang lain. Dan ini, akan menimbulkan efek kurang nyaman. Solusinya, banyak-banyak ngobrol, atau melepas penat kemanalah. Tapi tetap dalam kondisi siaga. Ibarat mesin, jangan biarkan ia dingin.
4. Pasrah. Ini pernyataan fatalis kah? Tidak, tapi pada detik terakhir ketika kau akan menaiki panggung, maka tak ada jalan lain kecuali pasrah. Karena kau sudah berlatih, sudah berdoa, sudah berusaha keras, dan tak punya daya upaya lagi di atas panggung nanti, kecuali menyerahkan pada situasi dan keadaan. Pasrahlah, karena itu membebaskan.
Semoga bermanfaat. Semoga sukses, karena dunia ini, panggung sandiwara.
RTGdipake
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin