14.12.09

Berbicara Kekerasan Dalam Keseharian





Madrasah Falsafah 

Dalam diskusi Madrasah Falsafah yang dimoderasi oleh Mas Iman Abdakarena Mas Ami telat-, sore itu membahasa soal Bullying dalam kehidupan sehari-hari. Tadinya, Tobuciler ingat, yang mau dibahas adalah kekerasan dalam sekolah, tapi akhirnya diputuskan bahwa tema meluas hingga ke keseharian. Diskusi dibuka dengan pembukaan pengakuan orang-orang yang pernah menjadi korban kekerasan, atau pelaku. Yang hadir di Madfal kala itu diantaranya ada Mas Heru, Mba Theo, Lia, Mayang, Mbak Linda, dan IBS. Pengakuan yang menarik datang dari Mbak Linda. Katanya, SMP dulu, ia pakai gigi kawat, dan sering diejek dengansi gigi besi”. Kala itu, Mbak Linda cuma bisa memendam kekesalannya sambil menangis. Sekarang ia bisa menceritakannya, dan baginya, itu semacam indikator bahwa ia telah bebas dari situasi traumatik masa lampaunya.
 
Dalam diskusi Madfal tersebut, didapati bahwa contoh kekerasan banyak terjadi justru dalam lingkungan pendidikan, Ospek misalnya. Ospek itu seolah mengajari siswanya untuk menjadi korban kekerasan sekaligus pelaku. Di tahun pertama jadi korban, dan tahun berikut-berikutnya, kemudian disahkan jadi pelaku. Akhirnya didapati kesimpulan menarik, bahwa kekerasan itu semacam given. Sesuatu yang dasariah naluriah telah berada dalam batin manusia. Contohnya? Ketika kita makan, secara mudah itu diartikan sebagai kebutuhan. Tapi kegiatan makan sendiri merupakan kekerasan. Bahwa kenyataan kita ikut serta menyakiti binatang yang dimakan seperti ikan atau ayam, dan menikmati kegiatan tersebut, adalah bentuk bahwa kekerasan adalah sangat naluriah. Tobuciler jadi ingat, bahwa dalam banyak agama sering menyuruh kurban. Kurban itu barangkali, bagian dari penyaluran naluriah manusia terhadap kekerasan. Dan, daripada, tersalurkan pada manusia, maka agama-agama menyuruhnya untuk secara rutin melampiaskannya pada binatang.

Kemudian disimpulkan, bahwa salah satu cara meredakan trauma akibat kekerasan adalah dengan menceritakannya. Mbak Linda contohnya, setelah ia menceritakan kejadiannya kala SMP lalu, ia merasa lega dan bebas, menganggap bahwa ia telah melampaui fase tersebut. Begitupun bagi para pelaku, adalah sebuah keberanian dalam mengakui dan menceritakan kekerasan yang telah ia perbuat. Karena artinya, ia telah berdamai dengan dirinya. [Syarif Maulana]

Google Twitter FaceBook

2 comments:

Platform3 said...

Peradaban dipenuhi kekerasan yg dilegitimasi. Dan kekerasan menakutkan sekaligus memikat. Hehehe...(Heru Hikayat)

sepatumerah said...

Setau saya sih, kurban itu bener kok, mematikan nafsu 'kebinatangan' di dalam manusia.Jatuh2nya jadi kekerasan soalnya Kurban ---sama seperti perintah agama lain --- karena diartikan secara harafiah.

IMHO loh ya.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin