20.12.09

Dua Tamu Istimewa Beryubiami di Tobucil

 
Kiri Dalena, Palupi dan Novi Kurnia sedang sibuk beryubiami 


Rabu, 16 Desember 2009

Hampir pk. 09.30, saat saya datang ke tobucil, dua orang tamu istimewa saya telah menunggu. Saya yang sedikit terlambat, seharusnya kami bertemu pk. 09.00. Dua tamu saya itu, nampak saling akrab satu sama lain. Ternyata masing-masing tidak menyangka akan bertemu di tobucil pada pagi itu. Yang satu bernama Kiri Dalena, seniman dan juga pembuat film dokumenter dari Filipina dan satunya Novi Kurnia yang sedang menyelesaikan studinya di Flinders University, Australia. Kiri sengaja datang, karena ia ingin sekali belajar merajut, sebelum kembali ke Filipina, sementara Novi sengaja datang dalam rangka penelitiannya tentang perempuan dan film sebagai tesisnya. Novi meminta saya sebagai salah satu narasumber yang perlu dia wawancarai.

Sepanjang siang itu, kami berbincang macam-macam, sambil tangan tak henti beryubiami (merajut dengan menggunakan jari-jari tangan). Kira-kira satu jam kemudian, Novi mulai menyerah dan memutuskan untuk menutup rajutannya. "Ini rekor loh, karena ini karya kerajinan tanganku yang pertama." Dengan bangga Novi mengikatkan hasil rajutan di rambutnya dan mengubahnya menjadi bando.

Menjelang tengah hari, Frino, teman tobucil dari AJI Bandung datang bergabung. Tak lama kamudian menyusul Adi Marsiela (Suara Pembaruan) dan Sandy (Tempo). Jadilah obrolan berubah menjadi ajang wawancara Kiri dengan teman-teman jurnalis. Teman-teman jurnalis ingin mengetahui lebih jauh tentang film dokumenter Kiri yang  bercerita tentang sebuah insiden yang terjadi pada tanggal 23 November 2009, ketika sebuah pembantaian terjadi di wilayah Maguindanao dan kemudian dikenal dengan insiden Pembantaian Maguindanao. Dalam insiden ini, sekitar 57 laki-laki dan perempuan dibunuh secara brutal.

Secara khusus, film ini berkisah mengenai orang-orang yang menjadi korban, termasuk keluarga yang ditinggalkan. Dalam insiden ini, juga tercatat kematian 31 orang wartawan yang ikut menjadi korban pembantaian yang dilakukan secara dingin. Sambil menceritakan itu, jari-jemari Kiri, sibuk merajut sementara teman-teman jurnalis sibuk mencatat apa yang Kiri ceritakan.


Pertemuan ini berakhir menjelang pk. 15.00. Kiri dan teman-teman harus pergi, menghadiri pemutaran 'Under One Sky' yang diselenggarakan di tempat lain, pada pk. 15.00. Namun pindah tempat dan pindah acara, tidak membuat Kiri berhenti beryubiami. Sambil mendiskusikan filmnya, jadi-jemarinya semakin lincah merajut benang merah putih yang semakin panjang itu.


Under One Sky bisa kamu lihat di Youtube 
http://www.youtube.com/watch?v=rN6YM2d2TgM
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin