Sunday, January 25, 2009

Minggu Kehilangan di Tobucil


Minggu ini adalah “minggu kehilangan” di Tobucil. CPU Tobucil jebol dan Tobucil terancam kehilangan data-data penting. Salah seorang teman yang punya masalah cinta, hampir setiap hari datang ke Tobucil untuk mencurhatkan rasa takut kehilangan. Salah seorang teman yang lain lagi, kehilangan sahabat yang meninggal tergerogot thypus. Syarif kehilangan handphone. Sundea kehilangan jaket kesayangan. Mbak Elin kehilangan suaminya yang sedang bekerja di luar kota. Workshop Graphic Diary kehilangan Wikupedia, koordinator Klabs Tobucil. Dan Tobucil kehilangan Mbak Tarlen yang sedang bertualang ke Kalimantan.


Itu sebabnya, pada edisi ini, blog Tobucil mengangkat tema “kehilangan”. Bersama Mas Anwar, Tobucil mengobrol tentang kehilangan. Papantulis berjudul “Belajar Melepaskan” pun tidak jauh-jauh dari topik kehilangan. Dalam Salamatahari, ada cerita tentang Sundea yang kehilangan jaket. Dan buku “Berkas yang Hilang” karya Saini K.M, hadir di “Rak Tobucil”.


Namun, di sela suasana kehilangan itu, ternyata ada juga yang kembali. Bersanding dengan buku “Berkas yang Hilang”, “Rak Tobucil” menghadirkan komik “Curhat Tita back in Bandung”. Mas Yunus, pengurus AJI yang sudah tiga bulan tinggal di Flores, kembali ke Bandung. Dengan sumringah ia bercerita tentang Flores yang indah, air semburan ikan paus yang dilihatnya secara live, ikan marlin yang seakan bisa terbang, gadis-gadis keturunan Portugis yang manis-manis …


Teman-teman, mungkin sesungguhnya setiap kehilangan berbanding lurus dengan kembali.

Mungkin yang hilang pergi agar kita bisa menemukan …

Saat melihat kalender, Tobuciler tersadar.

Bukankah setiap hari kita kehilangan hari ini untuk menemukan hari esok ?

Semoga kami selalu ada di hari ini dan hari esokmu.

Salamatahari, Teman-teman, semogaselaluhangat dan cerah,

Gong Xi Fa Cai bagi yang merayakan …

Tobuciler

Mas Yunus.
Klik di sini untuk kisah-kisah yang dia bawa dari Flores

Google Twitter FaceBook

Waktu yang Dicuri dari Anwar Siswadi


“Mas Anwar lagi nyantai, nggak ?” tanya Tobuciler sambil melongok

ke ruang AJI. “Enggak. Lagi mau ngetik, kenapa ?” sahut Mas Anwar Siswadi sambil mengeluarkan laptop dari ranselnya. “Ng … ini, mau diwawancara untuk ‘Teman Tobucil’,” kata Tobuciler. Tahu-tahu Mas Bebeng menyela, “Sok aja, sok aja … nggak papa … ,” sambil menoleh kepada Mas Anwar, “Kasian, War, buat blog …” (Kok “kasian”?)

Akhirnya Mas Anwar bersedia. Sambil sibuk mengetik, penjual berita “Koran Tempo” ini menjawab pertanyaan-pertanyaan Tobuciler.

Tobucil : Mas Anwar, kalau menurut Mas Anwar, kehilangan itu apa ?

Mas Anwar : Kehilangan … apa, ya … ? Tar … mikir dulu … soalnya yang hilang bisa kembali lagi kan … ?

(Krik …krik … krik …)

Tobucil : Sekarang Mas Anwar keilangan kata-kata.

Mas Anwar : Keilangan pikiran, ey … hehehe … keilangan itu … kalo lama, bakal balik lagi. Kalo selamanya … ga balik lagi.

Tobucil : Lah maksudnya ? Terus taunya bakal lama atau selamanya gimana ?

Mas Anwar : Ya entar, kalo udah balik lagi atau belum.

Tobucil : Artinya harus ditunggu, dong …

Mas Anwar : Ya enggak juga, sih, nggak harus ditunggu juga …

Tobucil : Hmmm. Gini, deh, apa peristiwa kehilangan yang paling kerasa buat Mas Anwar ?

Mas Anwar : Apa, ya? Kehilangan temen, ey, temen-temen SD.

Tobucil : Coba cari di facebook.

Mas Anwar : Nggak ada. Terus kehilangan album, dua album, jadi keilangan jati diri.

Tobucil : Lho, kok bisa jadi keilangan jati diri ?

Mas Anwar : Ya, karena keilangan album itu, kan gua jadi ga tau gua dulunya, waktu SMP sampe kuliah, gimana.

Tobucil : Emang kalo nggak ada album, Mas Anwar lupa, ya, dulunya Mas Anwar gimana ?

Mas Anwar : Inget, sih, tapi jadi nggak asik aja.

Tobucil : Oh, begitu, toh … terus keilangan apa lagi ? Yang Mas Anwar paling inget, aja, detail keilangannya …

Mas Anwar : Enggak, ga ada yang diinget-inget. Itu mah dilupain aja. Biar gampang hidup, sengaja dihilangkan.

Tobucil : Emang kenapa nginget keilangan bikin idup nggak gampang ?

Mas Anwar : Ya … karena nginget-nginget sesuatu yang buruk.

Tobucil : Berarti setiap keilangan itu buruk ?

Mas Anwar : Ya … enggak juga.

Tobucil : Terus, peristiwa keilangan yang nggak buruk yang Mas Anwar inget … ?

Mas Anwar : Ya … pengalaman buruk. Udah ilang mau apa lagi, life goes on aja …

Tobucil : ( ?!!!?!!!) Baiklah. Kalau Hilang Ramadhan menurut Mas Anwar gimana ?

Mas Anwar : Drummer.

Tobucil : Bukan, yee … yang drumeer mah Gilang Ramadhan …

Mas Anwar : Hilang Ramadhan teh apa ?

Tobucil : Hrummer.

(Krik … krik … krik …)

Tobucil : Kalau hilang minyak ?

Mas Anwar : Baru heledak kemaren di Jakarta.

Tobucil : Hahaha … tepat sekali !

Tobuciler tak berhenti mengamati Mas Anwar, namun berhenti bertanya macam-macam. Mas Anwar tampak serius menghadap laptop. Seperti penjual berita pada umumnya, jangan-jangan dia sedang dikejar deadline.

“Iya, dia pasti lagi dikejar deadline,” simpul Tobuciler. Jawaban-jawaban Mas Anwar yang singkat, padat, kurang jelas, serta mata yang terus tertuju ke layar laptop, cukup menyampaikan.

“Iya, deh, Mas, segitu dulu. Makasih, ya,” tutup Tobuciler. “Oh, iya. Ini buat Senin kan ? Nanti kan bisa tanya-tanya lagi,” sahut Mas Anwar. Tobuciler tersenyum sambil mengangguk

.

Hmmm … ngomong-nomong soal kehilangan, pertanyaan recok yang diberikan Tobuciler sejak tadi, pasti sudah membuatnya banyak kehilangan waktu … hehehe …

Sundea





Google Twitter FaceBook

Yang Hilang dan Yang Kembali


Judul buku : Berkas yang Hilang

Pengarang : Saini K.M.

Harga : Rp. 20.000,00

Harga Tobucil : Rp. 18.000,00

Cinta itu penting dalam kehidupan seorang manusia, namun perhatian manusia untuk merenungkan makna cinta itu secara sungguh-sungguh mendalam ke intinya, jarang dilakukan, baik dalam wilayah filsafat maupun psikologi.

Sebaliknya, masalah cinta ini terlalu banyak dijadikan bahan ejekan kaum pemikir serius. Cinta selalu kita ucapkan dalam nada gurauan, dalam arti yang tak jauh dari persoalan ketertarikan perkelaminan. Orang umumnya lebih sibuk mempertanyakan hakekat kebebasan, hakekat kekuasaan, hakekat keberadaan, hakekat kenegaraan, dan lain-lain. Tetapi apa artinya kekuasaan, apa artinya kekayaan, apa artinya kecendekiawanan, apa artinya kebaikan, kalau semua itu kehilangan cinta ?

Dari tahta puritanismenya yang kuat, Saini K.M. dengan novelnya ini telah mencoba untuk membahas dan menyoroti persoalan cinta secara sungguh-sungguh dengan cakupan wawasan yang lebih luas dan lebih hakiki.

--

Judul buku : Curhat Tita back in Bandung

Pengarang : Tita Larasati

Harga buku : Rp. 30.000,00

Curhat Tita adalah sebuah Graphic Diary, Diary yang dibuat dalam bentuk komik. “Semua ini merupakan pandangan saya mengenai hidup di Bandung – terkadang sebagai seorang penghuni lama, sering sebagai seorang pendatang, yapi yang jelas sebagai seorang penduduk yang senang kembali ke kota yang dicintainya. Semoga Anda dapat menikmati kisah-kisah ini,” tulis Tita dalam foreword-nya.

Kunjungi Tita di http://esduren.multiply.com/




Google Twitter FaceBook

Tisu Mengatakan ...


Madrasah Filsafat

-Tobucil, Rabu, 21 Januari 2009-

“Kalau Tarlen pulang, nanti kita bilang di sini ada Klab Baru. ‘Klab Tisu’, “ celetuk Mas Ami saat Rudy sedang meramal dengan media tisu. Hah ? Meramal dengan media tisu ? Maksudnya ?

Jadi begini, Teman-teman. Rabu itu, di tengah madrasah filsafat bertopik “Bintang dan Ramalan”, tahu-tahu Rudy mempraktekan kebolehannya. “Siapa yang mau nyoba ?” tanya Rudy. Yoga, yang duduk bersebelahan dengan Rudy, langsung menawarkan diri. Rudy lalu memberikan dua sobekan kertas dan dua lembar tisu. Dia menyuruh Yoga memikirkan sebuah pertanyaan, lalu menulis dua option jawaban yang diharapkan pada kertas yang disediakan. “Misalnya, kamu pengen tanya ‘saya lulus ujian apa enggak’, terus pengen tau jawabannya ‘ya’ atau ‘tidak’,” Rudy menjelaskan.

Selanjutnya, kertas dilinting dalam tisu dengan teknik linting yang khusus. Rudy menggenggam kedua tisu tersebut dan berkonsentrasi dengan gaya kedukun-dukunan. Beberapa saat kemudian, ia membuka lintingan tersebut. “Belum keluar,” kata Rudy. Kertas yang keluar dari jepitan linting setelah “dijampi-jampi” Rudy, dipercaya sebagai jawabannya. “Kalau kertasnya keluar, artinya saya bis nembus aura dia,” jelas Rudy.

Setelah “dijampi” tiga kali, kertas Yoga berhasil menembus tisu. Apa jawabannya ? Dengan berdebar, kami menunggu Rudy membacakan, “ ’Di mana kakek saya tinggal ?’ Ini mah pertanyaannya ! Pantes aja susah ! Pertanyaannya mah simpen aja sama kamu ! Yang kamu tulis kemungkinan jawabannya !” sembur Rudy.


Yoga dan Rudy


Masyarakat Indonesia memang praktisi sejati. Setelah berbicara sedikit tentang teori ramalan dan seberapa jauh mereka memercayai ramalan, pemirsa madrasah filsafat tergoda untuk meramal dan diramal. Mbak Echie yang mempelajari astrologi berdasarkan bintang, posisi matahari, dan posisi planet, juga mendapat banjiran pertanyaan. “Kalau Pisces gimana ?” lagi-lagi Yoga yang bertanya. “Nah, Pisces itu zodiak yang paling tidak setia, soalnya lauk (ikan), mudah hanyut. Terus ini, nih, Pisces itu yang paling tertarik sama ramalan,” sahut Mbak Echie.

Madrasah filsafat malam itu, ditutup dengan “ramalan tisu” atas Syarif. Rudy “menjampi” sampai sesak nafas dan berkeringat. Lalu … “pluk” … tisu mengatakan … “Iya”. Syarif menghela nafas.

Minggu itu, ramalan menggelinding bersama waktu, mencari jalan menuju bukti atau ketidakterbuktian

Sundea




Google Twitter FaceBook

Bersama Tita, Tanpa Wikupedia


Klab Komik Manyala

-Tobucil, Kamis, 22 Januari 2009-

Mbak Tita, penulis graphic diary “Curhat Tita”, duduk di beranda Tobucil. “Masa’ acaranya kita mulai tanpa panitia ?” tanyanya. Segelintir teman yang duduk di sekitar Mbak Tita saling pandang. Pada akhirnya, pemirsa sepakat memulai workshop graphic diary; meski tanpa Wikupedia sang koordinator klabs dan tanpa teman-teman pengurus Klab Komik Manyala.

Setelah workshop berjalan sekitar satu jam lebih, barulah masyarakat (meski masih tanpa Wikupedia) berdatangan. Mbak Tita yang sudah bercerita cukup banyak, mengulang materinya. Mulai dari contoh-contoh graphic diary seperti Flo, Maaike Hartjes, atau yang cukup populer di Indonesia, Persepolis dan Revolusi Iran karya Maarjane Saartrapi. “Tadinya saya nggak nyangka di Indonesia ada yang mau baca (graphic diary saya), soalnya di sini mah nggak biasa,” ungkap Mbak Tita.

“Mbak, kalau misalnya saya punya dorongan menggambar yang gede, tapi gambarnya masih jelek, kira-kira gimana ?” tanya Ari, mahasiswa Telkom PDCC. “Bagus-jelek kan relatif,” tanggap Mbak Tita. Dia lalu membuka “rahasia” gambar komik, “Yang penting komunikatifnya. Kalau kamu mau gambar kelinci jatoh, jangan sampai kayak anjing kelindes mobil …”

Iman dan Mbak Tita


Di antara sekian peserta, Iman adalah peserta yang memandang komik paling teoritis. Saat ini dia sedang mengambil pasca-sarjananya di ITB. Sesekali dia menimpali penjelasan Mbak Tita dengan referensi dan analisis, dan sepanjang workshop dia tampak sibuk mencatat. “Sorry, tadi sebelum sarana berekspresi, fungsi graphic diary apa lagi, ya ?” selanya serius.

Di akhir workshop, Wiku baru muncul. “Udah beres, ya ?” tanyanya. “Iyalah. Elu ke mana aja ?” tanya Tobuciler. “Keliling-keliling,” sahut Wiku rungsing.

Kejadian hari itu adalah bagian dari keseharian. Jika harus membuat graphic diary-nya, gambar seperti apa yang kira-kira akan kamu buat … ?

Sundea




Google Twitter FaceBook

Es Krim

-Tobucil, Jumat 23 Januari 2009-

“Panas, ya, kayaknya enak, deh, makan es krim,” cetus Tobuciler. Segenap umat di Tobucil sepakat. Di siang yang gerah itu, kami seru membicarakan berbagai jenis es krim. Mulai dari yang internasional seperti Haagen Daz, sampai yang lokal seperti Es Teler 77.

Supaya keinginan makan es krim itu tidak berhenti sampai angan-angan, menjelang sore Mbak Upi dan Yuchan memberangkatkan diri ke supermarket terdekat. Sekitar setengah jam kemudian, mereka kembali dengan sekotak es krim Campina dan sekotak es krim Haagen Daz. Kru Tobucil dan antek-anteknya bersorak girang, segera menyerbu es krim yang baru datang.

Meski hujan turun dan udara menjadi dingin, kenikmatan makan es krim tidak berkurang. Makanan internasional itu kami santap dengan gaya nasional kesaung-saungan dan keliwet-liwetan. “Tau, nggak, kalo Haagen Daz sebenernya bukan dari Jerman ?” tanya Mbak Echie ketika menyantap es krim Haagen Daz-nya. “Haagen Daz itu dari Amerika, dikasih nama begitu biar berkesan Eropa. Haagen Daz juga nggak ada artinya di kamus, dikarang-karang aja,” lanjutnya.

Tahu-tahu Mas Bebeng muncul, “Selamat ulang tahun, ya !” katanya sambil menyodorkan tangan kepada Yuchan. “Terima kasih …,” sahut Yuchan.

Pssst … Teman-teman, acara makan-makan es krim ini terselenggara berkat penyeponsoran Yuchan yang merayakan ulang tahunnya yang ke-21 pada tanggal 21 Januari lalu. Mari kita doakan agar dia selalu manis, creamy, dan sejuk seperti es krim …

Sundea



Google Twitter FaceBook

Perjalanan Mandi Matahari

Bagian dua

Klik di sini untuk membaca bagian satu

Mari berjalan-jalan menyusuri Kota Bandung bersama Andika Budiman

The Wind Chime, fine dining place yang bersahaja. Restoran ini pernah dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia. Pengalaman fine dining menuntut seseorang merogoh saku lebih dalam. Saya punya teman yang kalau bertemu selalu menyatakan, "Gua yang traktir." Kadang traktirannya saya terima, kadang saya tolak. Namun saya punya bayangan vulgar tentang bagaimana teman saya itu terkena serangan jantung ketika melihat tagihan harga makan malam kami di The Wind Chime.

Windchime : Tertarik mencoba ? Tidak ?

Perjalanan berlanjut ke lokasi bekas Pasar Balubur yang kini ditutupi seng bercat putih. Saya teringat mertua pakde saya, Eyang Sukelan, dokter hewan yang tinggal dan lama berpraktek di Jalan Kebon Bibit, dekat bekas Pasar Balubur. Dikarenakan usia dan kesehatan, kini beliau sudah tak berpraktek lagi. Saya teringat Eyang Sukelan yang terampil, kerap mempromosikan khasiat lidah buaya, dan berambut hitam tanpa uban meskipun sudah tua.


Seng yang warnanya senada dengan balon di belakangnya


dulu di sini ada plang yang bertuliskan : Sukarlan, Dokter Hewan

Motor saya lantas naik ke fly over Pasupati. Maksudnya mau memastikan apakah toko buku Reading Lights di Gandok buka atau tutup. Selama beberapa bulan belakangan, seminggu sekali saya datang ke toko buku itu untuk bertemu dengan teman-teman lingkaran penulis. Kami saling membacakan karya, latihan menulis di tempat, dan membacakan apa yang ditulis di tempat. Semua dilakukan atas dasar kesukaan kami pada menulis. Betapa saya sayang kepada mereka semua!



RL : out of topic, but I simply can't resist it

Cipaganti macet seperti yang sudah diduga, terutama menjelang belokan menuju Setiabudi atas. Perlahan tetapi pasti gerimis berubah menjadi hujan semi-deras. Saya berhadapan dengan dua pilihan: pakai jas hujan, tetapi tidak bisa mendengar musik; atau tidak pakai jas hujan, tetapi celana khaki andalan saya tak bisa lagi dipakai besok. Terbuai Sufjan Stevens, akhirnya opsi kedua yang dipilih. Sambil mengemudikan motor, saya berharap agar hujan tidak turun terlalu deras. Bagaimanapun kebanyakan barang elektronik, termasuk iPod saya, tidak cocok dengan air. Kecuali tentu saja barang elektronik yang fungsinya berhubungan dengan air seperti, pembangkit listrik tenaga air, pompa air, pemanas air listrik, dll. Sekalipun suatu hari nanti teman saya Dea menulis tentang persahabatan barang elektronik dengan air.

Di Setiabudi bawah, saya menemukan kejutan menyenangkan:

Bersambung …

Andika Budiman tinggal di Bandung sejak kelas 1 SD. Ia mulai menggunakan angkutan kota pada kelas 3 SD, dan mulai rutin menggunakan motor sejak menjadi mahasiswa tingkat 1. Andika senang berjalan kaki sore-sore di kawasan permukiman yang sudah agak tua. Sejauh ini jalanan favoritnya di Bandung antara lain Jalan Pagergunung, Jalan Hegarmanah, Jalan Cipunagara, Jalan Progo, dll.




Google Twitter FaceBook

Belajar Melepaskan


Berbagai kejadian beberapa hari lalu yang saya alami, ternyata memberi penjelasan yang cukup terang bagi saya tentang bagaimana seharusnya saya bersikap terhadap segala sesuatu. Kejadian-kejadian yang saya alami itu, berceria banyak melalui banyak tokoh pula, tentang sesuatu yang saya simpulkan sebagai sebuah proses “belajar untuk melepaskan”.

Ketika hubungan saya berakhir dengan seseorang yang sebelumnya menemani selama lebih dari 12 bulan, ketika banyak hal diluar kemampuan saya yang tidak bisa saya gapai, tentang hujan di sela-sela acara outdoor yang saya buat, ketika mimpi masih terus menjadi mimpi, dan ketika harapan tidak kunjung jadi nyata.

Di situlah saya menemukan sebuah pemahaman bahwa, sebenarnya untuk melalui semua kejadian dengan damai, adalah dengan belajar melepaskan. Melepaskan semua keinginan tentang sesuatu, semua hasrat memiliki sesuatu, semua keinginan untuk mimpi menjadi nyata. melepaskan semua menuju alam semesta.

Melepaskan di sini bukan berati menjadi skeptis dan tidak perduli dengan harapan atau mimpi, meskipun saya tidak menyukai novel “Laskar Pelangi” yang sangat berkutat dengan mimpi dan harapan, namun dua kata ini (harapan dan mimpi) masih sangat berarti banyak bagi kehidupan saya. Melepaskan juga bukan berarti bersikap acuh tak acuh dan menjalankan semuanya hanyut tanpa arah.

Melepaskan di sini berarti membuka peluang pada semua mimpi dan harapan saya untuk hidup bebas, lepas dari sangkar yang saya buat.

Ketika saya berharap dan bermimpi, sering kali saya menjadi sangat posesif dengan harapan atau mimpi itu. Semuanya saya fokuskan pada bagaimana caranya agar mimpi atau harapan itu bisa mewujud menjadi nyata.

Namun, di tengah usaha saya mewujudkan mimpi atau harapan, saya malah terjebak pada pola sugesti yang justru mengarahkan saya pada negativitas, membawa saya pada posisi lawan dari harapan dan mimpi yang menjadi nyata, dengan kata lain justru membuat saya malah tersugesti untuk menginginkan kebalikan dari harapan atau mimpi saya.

Suatu saat, ketika tempat dimana saya bekerja mengadakan bazzar outdoor dan turun hujan, teman saya berseloroh demikian, “kamu sih, tersugesti untuk turun hujan, coba tidak usah terlalu memikirkan hujan, tapi mempersiapkan semuanya dengan maksimal, mungkin semuanya akan lebih baik.” saya tetegun dengan seloroh ini, yang awalnya saya anggap bercanda namun ternyata bisa membuat arti yang mendalam pada diri saya.

Demikianlah, ketika saya menginginkan atau mengharapkan sesuatu, saya malah cenderung berbuat sebaliknya, membuat keinginan dan harapan saya menjauh dari diri saya.

Di sinilah seharusnya peran melepaskan itu bisa ditempatkan. Berharap dan bermimpilah lalu lepaskan harapan dan mimpi itu ke alam luas, biar mereka hidup dan berkembang dengan sendirinya, bahwa, mereka akan kembali pada saya dan menjadi nyata ternyata itu bukanlah urusan saya. Tugas saya telah selesai ketika saya bermimpi dan berharap serta berusaha, selanjutnya lepaskan saja.

Alam punya caranya sendiri, demikian juga banyak misteri yang tidak pernah bisa dipecahkan oleh manusia, karena memang kemampuan kita terbatas.

Kini, saya mulai mencoba melepaskan beberapa keinginan dan harapan saya, belum bisa seluruhnya saya lepaskan memang, tetapi bukankah sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil dan sesuatu yang rumit berawal dari sesuatu yang sederhana?

Begitulah...

Saya lepaskan tulisan ini pada alam semesta, biar mejadi mandiri dan hidup...apakah ia akan kembali menemui saya...itu menjadi misteri yang lain.


Wikupedia adalah koordinator Klabs Tobucil dan distributor Lawang Buku



Google Twitter FaceBook

Pelajaran tentang Kehilangan


“Mbak, kalo mimpi gigi copot artinya apa ?”

“Katanya, sih, bakal kehilangan. Tapi tergantung juga yang copot gigi yang mana …”

“Geraham bungsu.”

“Geraham bungsu fungsinya apa ?”

“Ngancurin makan

an.”

… dan nggak sampe satu minggu kemudian, Dea keilangan salah satu temen baik Dea. Meski nggak tau persis namanya, Dea kenal dia lebih dari sekedar nama. Dan meski tau persis nama Dea, dia juga kenal Dea lebih dari sekedar nama.

Temen Dea ini jaket paling fit yang Dea punya beberapa taun terakhir. Dia seperti dibuat untuk Dea dan Dea ada untuk dia. Secara ukuran, dia pas banget sama badan Dea. Secara ketebelan, dia cocok untuk berbagai cuaca. Secara bahan, dia nyaman seperti selimut kesayangan. Dan secara warna, cokelatnya yang netral gampang diterima di berbagai suasana. Setiap liat dia di lemari baju, setelah dia dicuci, Dea selalu nyapa dengan kangen, “Halo, jaket cokelat, ayo kita jalan-jalan lagi …”

Pada suatu siang, jaket cokelat dan Dea pergi sama-sama. Kali itu naik motor Pram. Karena agak panas, dia nggak Dea pake, Dea gantung di samping tas. Dea nggak meratiin kalo karena itu, dia jadi ngejuntai-juntai dalem posisi berbahaya dan … WURRRTZZZ … terjadilah ! Dia kegubet di ban motor terus kejepit di sana.

“Jaketnya robek, Tol,” kata Pram waktu meriksa ban motor dan Si Jaket. Dea mau nangis. Kata Mbak Tarlen, keilangan yang diisyaratin mimpi gigi copot bergantung sama fungsi giginya. Gigi geraham menghancurkan. Tapi jaket Dea dihancurkan. Sama Dea sendiri.

Ada yang bilang, “We live in the moments” dan ternyata, “things also passed away in the moments”. Cuma karena Dea tau-tau kepikir ngelepas jaket, dia ada di posisi ngejuntai yang berbahaya. Dan cuma karena kejepit beberapa detik, dia yang tadinya baik-baik aja jadi compang-camping nggak karuan. Setelah Si Jaket dilepasin dari ban, Dea harus mangku dia sampe ke rumah. Temen-temen, perjalanan itu kerasa kayak perjalanan paling panjang yang pernah Dea tempuh.

Begitu sampe di rumah, Si Jaket Dea kubur di kebun belakang. Malemnya, tanah yang nyelimutin Si Jaket diguyur ujan Lembang yang dingin. Moga-moga malem itu Si Tanah nyelimutin jaket Dea seperti Si Jaket nyelimutin Dea selama ini.

Itu bukan keilangan pertama yang Dea rasain. Tapi buat Dea, seberapa sering pun dilatih, keilangan tetep keilangan. Ruang kosong yang dia tinggal selalu rentan masuk angin …

Sundea

Kunjungi http://www.salamatahari.blogspot.com/ untuk melihat pusara jaket cokelat ...

Google Twitter FaceBook

Gaya, Euy ... Tobucil ada di Kompas Nasional ...


Tobucil di Koran Kompas

Pria-pria merajut di Tobucil ternyata bahan menarik untuk Kompas edisi 18 Januari 2009. Klik di sini untuk membaca artikelnya …

Bandung openSUSE 11.1. Release Party

Sounding The Next Version of The world's Most Usable Linux

Acara ini akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : 1 Februari 2009.
Waktu : Pukul 16.00 s.d. selesai.
Tempat : Tobucil Jl. Aceh 56,Bandung
Speakers : 1. Andi Sugandi, 2.

Terbuka untuk umum dan gratis
Acara ini kerjasama antara Klub Linux Bandung dan Tobucil & Klabs

Serempak di seluruh dunia, acara ini akan mempertunjukan fitur-fitur terbaru dari openSUSE 11.1, diantaranya penggunaan dekstop KDE yang semakin disempurnakan, sinkronisasi yang lebih baik dengan iPod dan ponsel Android G1 melalui Banshee Media Player versi terbaru, dan peningkatan kualitas dan perbaikan performansi desktop openSUSE lainnya. Selain itu penggunaan versi terbaru dari GNOME 2.24.1, KDE 4.1.3, OpenOffice.org 3.0, dan Firefox 3.0.4 dan lebih banyak lagi.(kasih link: http://en.opensuse.org/Featurelist_11.1)

-------

On January 27, a year after the release of the very first version of KDE software suite of the fourth generation, here comes KDE 4.2 "The Answer". This is a significant release since it marks the time when KDE has matured enough to be appropriate for use by normal users and in production environemnts.

To celebrate the important event in KDE's history with our fans all around the world we would like to invite you to join us at one of the parties, or throw your very own party. This is a great opportunity to meet with other users of KDE and contributors who bring you this amazing collection of free software. Let's show people how cool KDE software and community are!

If you are organizing a party it's all up to you to make it just the way you like it. There could be presentations, workshops, maybe some translation marathons, a hacking contest, just some socializing fun with a drink or two. It can be short and sweet or long. You decide. Also, don't be afraid to invite some local press to the event to get the word about KDE out there.

If you decided to throw a party, do add it to the list of party locations below. Please keep the list ordered by alphabet.

See you all on the party!

Informasi lebih lanjut mengenai acara ini:

http://en.opensuse.org/OpenSUSE_11.1_Launch_Party_Locations#Bandung

http://wiki.kde.org/tiki-index.php?page=KDE+4.2+Release+Party#_United_

Dari Klabs :

Madrasah Falsafah :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 28 Januari 2009
dengan tema "Konstruksi dalam Identitas"

Rabu, 28 Januari 2009
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Klab Komik Manyala

Pemutaran film bersama Tribe Studio

Hari : Kamis, 29 Januari 2009

Jam : 15.00

Tempat : Tobucil



Segenap Kru Tobucil dan segala ketobucilannya mengucapkan :

Gong Xi Fa Cai bagi teman-teman yang merayakan … =D

Google Twitter FaceBook

Sunday, January 18, 2009

Blog Tobucil Edisi Horror

Selamat pagi …

Selamat hari Senin lagi …

Minggu ini blog Tobucil hadir dengan nuansa-nuansa horror. Ada teman yang “dijemput ‘Jalangkung online’”, ada suara tawa yang keraksasa-raksaan, ada “penyakit sampar”, ada “bangku kosong”, ada papantulis bertema kematian, DVD berjudul “Befor the Devil Knows You’re Dead”, dan ada monster di Salamatahari.

Ada apa ini ? Apa Tobucil sedang mengikuti trend film horror di bioskop-bioskop Indonesia ? Atau Tobucil memanfaatkan setting pohon-pohon rindang di Aceh 56 yang bisa mendukung kehorroran ? Atau … Tobucil ikut dingin dan suram bersama cuaca akhir-akhir ini … ?

Tenang, Teman-teman, tenang. Tobucil masih Tobucil. Apapun yang mungkin terbayang selintas di kepala kalian, just “don’t judge an article by its title” … hehehehe …

Nikmati blog hari ini seperti menikmati secangkir teh jahe.

Salamatahari,

Semogaselaluhangat dan cerah

Tobuciler



Google Twitter FaceBook

Feti Fatimah Dijemput "Jalangkung Online" ?


Pada suatu sore, ketika masyarakat Tobucil sedang hobi bermain
Peter Answers” (semacam “Jalangkung online") , Mbak Feti Fatimah, pemenang utama cerpen favorit Klab Nulis angkatan ke tiga, datang. Syarif sang dukun langsung mengetik : “Peter, please answers: siapa yang baru datang ke Tobucil”, dan Peter pun menjawab : “Feti”

(ilustrasi musik horor dengan sound organ tua)

Tobucil : Dari mana, Mbak ?

Mbak Feti : Kantor. Ngantuk. Terus … tapi kenapa nggak jadi pulang, ya, malah ke sini ?

Tobucil : Mungkin justru karena ngantuk ke sininya, Mbak, di luar kesadaran jadinya … hehehe … eh, tapi siapa tau Mbak Feti dateng ke sini karena sesuatu yang mistis. Karena dijemput “Peter Answers”. Tadi dateng-dateng Mbak Feti langsung disambut Si Peter kan …

Mbak Feti : Itu, sih, pasti ada alesan logisnya. Aku mikirnya, aku kan sering nulis-nulis di blog dan aku ada hubungannya sama Tobucil. Pas aku “sign out”, diitung waktunya dan dilacak tempat-tempat yang sering aku kunjungin …

Tobucil : Lha … kalo kayak gitu kan random banget, Mbak …

Mbak Feti : Oh, iya, ya …

Syarif : Coba kita tanya pertanyaan yang lain …

Lalu Syarif mengetik : “Peter,please answers: Siapa yang sedang diwawancara Sundea?” dan Peter menjawab : “Feti”. Untuk lebih meyakinkan lagi, Syarif kembali mengetik : “Peter, please answers : Apa warna baju Mbak Feti ?”, Peter menjawab : “Belang-belang”.

Tobucil : Tuh, Mbak …

Mbak Feti : Iya, ya … kok bisa gitu, ya?

Tobucil : Mbak, Mbak, kalo pas Mbak Feti pulang Peter-nya ngikut gimana ?

Mbak Feti : Nggak papalah, selama masih orang bule, kalo orang Indonesia gua takut …

Tobucil : Tau dari mana dia bule ? Dia kan ngejawab pake bahasa Indonesia …

Mbak Feti : Iya, ya, karena namanya “Peter” dan petisinya “Peter, please answers:” aja …

Tobucil : Kalo dia orang Indonesia gimana ?

Mbak Feti : Ya nanyanya , “Peter, nanya dong …:”

Tobucil : Hahaha … nah, Mbak, jadi umpama Peter emang orang Indonesia terus ikut pulang sama Mbak Feti, gimana ?

Mbak Feti : Emang kalo ikut dia mau ngapain ? Mau baca pikiran aku ? Kalo iya, bisa bantu nyelesein masalahku ? Kalo gitu, nggak apa-apa, asal jangan masuk kamarku aja.

Tobucil : Kalo masuk kamar emang kenapa ?

Mbak Feti : Takut. Dulu aku punya temen yang sakti mandraguna terus satu kali dia iseng nengokin aku pake virtual gitu. Jadi pas aku tidur,dia kaya ada di tempat tidur gitu, kayak ngeliatin. Nah, aku takutnya gitu. Cuma aku heran, deh, sama orang-orang yang pengen punya ilmu-ilmu kayak gitu. Manfaatnya untuk apa, ya?

Tobucil : Lucu-lucuan aja kali, Mbak.

Mbak Feti : (ekspresi males)

Tobucil : Pengalaman ini inspiratif buat tulisan baru, nggak, Mbak ?

Mbak Feti : Apa, ya ? Yang Peter itu ? Sedikitlah …

Tobucil : Tumben, Mbak, ke sini pas bukan hari Senin. Dalam rangka apa, nih, Mbak ?

Syarif, satu dari sedikit masyarkat Tobucil yang pertanyaan bersedia dijawab oleh Peter, mengetik : “Peter, please answers : Mbak Feti dateng ke sini karena apa ?” Dan Peter menjawab : “Nggak ada kerjaan”.

(langit gelap.Terdengar gelegar petir. Ilustrasi musik horor dengan sound organ tua lagi)

Sundea





Google Twitter FaceBook

The Devil and The Prayer


Judul Film : Befor the Devil Knows You’re Dead

Harga : Rp. 59.000,00

Dua bersaudara, Andy Hanson dan Hank Hanson sedang dilanda masalah keuangan. Mereka merencanakan perampokan yang sempurna. Tidak aakan ada korban dan tidak akan ada yang dirugikan, yaitu merampok toko perhiasan orangtua mereka sendiri. Namun, dalam pelaksanaannya, keadaan menjadi sangat berbeda. Situasi bergulir dan semua pihak akhirnya harus menerima kepedihan yang tidak terhinga.



Karya Erri Nugraha

Harga : Rp. 50.000, 00

Gambar ini dibuat saat Erri sedang menduduki tampuk kekasiran Tobucil dan diwawancara untuk rubrik "Teman Tobucil". Percaya atau tidak, kesingkronan plot hasil wawancara hari itu dengan gambar ini, sama sekali tidak direkayasa ...

Milikilah gambar "mistis" ini segera ...




Google Twitter FaceBook

Perjalanan Mandi Matahari

Mari berjalan-jalan menyusuri kota Bandung bersama Andika Budiman …

Ketika berjalan kaki sepulang Sholat Jum'at, saya menyadari langit hari ini sangat cerah. Di halaman rumah, saya mendapati jemuran yang kering semua. Setelah melewati hari-hari liburan dengan banyak menonton DVD, banyak membaca buku, dan sedikit melakukan yang lainnya, saya tergoda untuk pergi dan bermandi sinar matahari. Sekalipun selanjutnya kesibukan browsing situs gosip dan mengunduh lagu memaku tubuh saya di depan komputer sampai jam empat sore, dan terik matahari telah digantikan sekumpulan awan abu-abu, saya tetap maju dengan keputusan mengeksekusi rencana mandi matahari.

Sarang laba-laba dan bulu-bulu kucing yang melekat pada motor bebek lungsuran dari kakak pun saya bersihkan. Mesin motornya, saya panaskan. Demi menambah kadar tantangan dalam jalan-jalan kali ini, saya menetapkan beberapa aturan: 1. Tidak boleh berhenti di tempat yang menyediakan banyak buku dan DVD; 2. Dilarang berhenti di manapun yang bukan tempat outdoor. Singkatnya, tujuan dari perjalanan ini adalah tidak ada tujuan. Selain aturan-aturan tersebut, saya juga meniatkan akan melintasi jalan-jalan kota yang asing bagi saya sebagaimana melakukan fact-checking atas cerpen-cerpen saya yang berlatarkan Bandung.


Perjalanan pun dimulai. Berbekal dua liter bensin, mau tak mau saya harus menyusuri Jalan A. H. Nasution. Sambil berkendara saya mendengarkan lagu-lagu yang baru saja diunduh, lagu-lagunya Vivian Girls. Kontan garage rock, raungan vokal perempuan, dan sedikit shoegaze mungkin, menginvasi kedua telinga. Setelah terbiasa dengan bunyi-bunyi itu, saya mulai memerhatikan jalan. Gerimis kecil mulai terasa ketika saya sampai di depan LP Sukamiskin. Kecuali kepadatan di pertigaan Cicaheum, di mana kadang-kadang badan bus menutupi jalan bagi kendaraan yang ingin melaju ke Jalan Hasan Mustapa, arus lalu lintas di daerah ini relatif lancar.


Berhubung gerimis, motor cenderung saya kemudikan di jalan raya yang dinaungi pepohonan rindang. Ketika sampai di ujung Jalan Surapati, saya belok kiri dua kali dan menyusuri Jalan Diponegoro dan Jalan Supratman. Bunyi-bunyi di telinga berhenti. Saya kembali mendengarkan lagu, kali ini lebih folk dan menenangkan: album Michigan-nya Sufjan Stevens. Selain pohon-pohon yang rimbun dan godaan Toko Buku Togamas, Cargo Factory Outlet menarik perhatian saya. Sore ini, untuk menghindari hasrat mampir ke sana dan ke sini, saya berpakaian sekenanya saja. Kaos FCUK cokelat palsu yang biasa dipakai tidur, jaket biru lungsuran kakak, Levi's 505 warna khaki, dan sendal jepit hitam. Levi’s-nya istimewa. Celana jeans yang dibeli di Babe itu berlingkar pinggang 30. Ia dibeli saat saya merasa celana jeans yang berlingkar pinggang 28 tak mampu lagi menerima saya apa adanya. Walaupun gejala typhus kembali membuat celana-28 muat di pinggang, celana khaki itu tetap menjadi andalan saya karena konsisten memberikan kenyamanan.


Jalan Supratman yang teduh


Intensitas gerimis meninggi ketika saya sampai menjelang perempatan Jalan Merdeka. Di sebelah restoran Popeyes saya menemukan Banner Store, entah sudah berapa lama toko itu ada di sana. Ada yang tahu bagaimana cara kerja Banner Store ini? Toko ini sangat eye-catching. Warna-warnanya hangat, tetapi modern. Saya melantur memikirkan obsesi saya: film Milk. Milk adalah biopik tentang Harvey Milk, politikus pertama di Amerika Serikat yang open homosexual. Selain tema yang menarik, akting Sean Penn yang mendapat Oscar buzz, dan Gus Van Sant sebagai sutradara; bonus dari film ini adalah aktor mana yang memerankan Scott Smith, pasangan hidup slash manajer kampanye Harvey Milk. Smith diperankan aktor super ganteng James Franco! Inilah obsesi yang sebenarnya. Kenyataan bahwa Franco memerankan manajer kampanye serta merta membuat saya tertarik pada masalah per-banner-an.


Banner Store

Saya sempat melintasi Jalan Merdeka, melirik bangunan megah Sekolah Santa Angela, dan bangunan SD Banjarsari yang kini berbeda dengan semasa saya sekolah di sana dulu. Saya berbelok ke Jalan Jawa, memandang bangunan mencolok ABN-AMRO Bank yang sekarang berubah nama jadi RBS. Melewati SMP 5, berbelok di Jalan Kalimantan, melewati SMA 3 dan 5, lalu melewati Taman Lalu Lintas.


Bangunan SD Negeri Banjarsari yang mewah untuk ukuran sekolah negeri



Memiliki orangtua bankir, saya sempat bercita-cita bekerja di ABN-AMRO Bank


Secuil Taman Lalu Lintas


Saya melamun dan baru tersadar ketika sudah di Jalan Purnawarman yang lama tidak dilewati. Ketika SD saya rutin ke sana mengikuti bimbingan belajar di Ganesha Operation. Jalan Purnawarman berakhir di dekat kampus Unisba. Saya lantas belok kiri dan menemukan

Bersambung …

Andika Budiman tinggal di Bandung sejak kelas 1 SD. Ia mulai menggunakan angkutan kota pada kelas 3 SD, dan mulai rutin menggunakan motor sejak menjadi mahasiswa tingkat 1. Andika senang berjalan kaki sore-sore di kawasan permukiman yang sudah agak tua. Sejauh ini jalanan favoritnya di Bandung antara lain Jalan Pagergunung, Jalan Hegarmanah, Jalan Cipunagara, Jalan Progo, dll.




Google Twitter FaceBook

Kematian Ialah Awal dari Kehidupan


"Hidup itu tidak mati dan hidup itu kekal, yang mana dunia itu bukan kehidupan (buktinya ada mati). Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi. Hidup abadi itu adalah kehidupan setelah kematian jasad di dunia"Syekh Siti Jenar

Kematian adalah awal dari kehidupan. Kalimat tersebut sejenak menghentikan putaran waktu yang sedang kujalani. Kuterdiam sejenak. Merenung tentang makna kematian adalah kelahiran baru. Entah senang atau bingung mengetahui bahwasannya kematian adalah kelahiran kedua. Bila seorang Socrates saja merasa bergembira dengan kematian, “…ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian…”

Teringat pelajaran Biologi sewaktu masih pakai celana monyet, dimana dalam suatu hari semua murid disuruh membawa sepotong daging, kemudian daging tersebut dimasukan kedalam sebuah gelas dan ditutup dengan rapat. Setelah seminggu kemudian bertemu lagi dengan pelajaran Biologi, kita semua meneliti apa yang terjadi dengan daging tersebut. Benar saja, lahirlah larva dari daging tersebut dan terdapatlah kehidupan baru dari seonggok daging hewan yang telah mati. Atau ketika dari pohon yang telah ditebang dan mati keluar tumbuhan perdu dari tunggul yang masih tersisa. Apakah pemikiran tentang makna kematian adalah kelahiran baru bisa disederhanakan seperti itu ?

Menelaah lebih dalam lagi sesuai dengan kepercayaan yang aku anut, kucoba mengebet Al-quran dan hadis yang menerangkan tentang konsep kehidupan setelah kematian. Dalam Al-quran disebutkan bahwa ciri dari orang yang bertaqwa salah satunya percaya akan adanya hari kebangkitan setelah mati. Allah berfirman “Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS Al-Baqarah, 2: 4). Kemudian dalam surat yang lainnya bahkan Allah SWT mengingatkan, ''Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.'' (QS: Al-A'laa [87]: 17)

"Allahu Akbar, Allahu Akbar

Asyhadu alla ilaha illallah

......."

Tiba-tiba saja terdengar suara adzan mengalun merdu di telingaku memasuki sela-sela gendang telingaku di tengah perenunganku tentang kehidupan setelah kematian bersamaan dengan alunan lagu Souljah - hanya ingin pulang yang menemani renunganku.

Tak lama berselang, juga dari balik kamarku, terdengar suara dari si mamah, "Didiiiiiii kecilin suara musiknya ada adzan dulu"

"Iyaaa..iyaaaa..." sahutku menjawab seruan si mamah. Padahal dalam hatiku apa hubungannya orang adzan sama musik yang kudengarkan, toh yang adzan jauh beberapa blok dari rumahku (heuheuheu).

Setelah melaksanakan titah dari si mamah, kulangkahkan kaki keluar dari kamar dan bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajiban-kewajiban di dunia buat bekal di kehidupan yang sempurna.

Pada akhirnya aku hanya bisa berbuat yang terbaik untuk bekal di kehidupan yang kekal dan abadi dengan harapan memperoleh pula kebaikan ketika hidup kembali setelah kematian. Kematian adalah awal dari kehidupan. Kalimat itu semakin menyadarkanku akan makna bahwa mati itu sebenarnya untuk hidup dan bahwasannya hidup kita ini untuk yang maha hidup.



Didi Supardi, lahir di Majalengka, 22 April 1982. Selain suka menggambar, nonton film dan travelling, lulusan Desain Komunikasi Visual Unpas 2006 ini kini mulai menyukai menulis. Bekerja sebagai Graphic Designer, tidak menghalangi hobi barunya menulis di sela-sela waktu luangnya. Penikmat musik Reggae ini mempunyai cara tersendiri dalam menikmati hidup dengan cara santai namun pasti dan mengalir apa adanya sesuai dengan aliran bermusiknya. Untuk mengenal lebih jauh bisa mengunjungi rumahnya di :

http://didisupardi.blogspot.com

http://didisupardesign.multiply.com



Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin