Minggu ini adalah “minggu kehilangan” di Tobucil. CPU Tobucil jebol dan Tobucil terancam kehilangan data-data penting. Salah seorang teman yang punya masalah cinta, hampir setiap hari datang ke Tobucil untuk mencurhatkan rasa takut kehilangan. Salah seorang teman yang lain lagi, kehilangan sahabat yang meninggal tergerogot thypus. Syarif kehilangan handphone. Sundea kehilangan jaket kesayangan. Mbak Elin kehilangan suaminya yang sedang bekerja di luar kota. Workshop Graphic Diary kehilangan Wikupedia, koordinator Klabs Tobucil. Dan Tobucil kehilangan Mbak Tarlen yang sedang bertualang ke Kalimantan.
Itu sebabnya, pada edisi ini, blog Tobucil mengangkat tema “kehilangan”. Bersama Mas Anwar, Tobucil mengobrol tentang kehilangan. Papantulis berjudul “Belajar Melepaskan” pun tidak jauh-jauh dari topik kehilangan. Dalam Salamatahari, ada cerita tentang Sundea yang kehilangan jaket. Dan buku “Berkas yang Hilang” karya Saini K.M, hadir di “Rak Tobucil”.
Namun, di sela suasana kehilangan itu, ternyata ada juga yang kembali. Bersanding dengan buku “Berkas yang Hilang”, “Rak Tobucil” menghadirkan komik “Curhat Tita back in Bandung”. Mas Yunus, pengurus AJI yang sudah tiga bulan tinggal di Flores, kembali ke Bandung. Dengan sumringah ia bercerita tentang Flores yang indah, air semburan ikan paus yang dilihatnya secara live, ikan marlin yang seakan bisa terbang, gadis-gadis keturunan Portugis yang manis-manis …
Teman-teman, mungkin sesungguhnya setiap kehilangan berbanding lurus dengan kembali.
Mungkin yang hilang pergi agar kita bisa menemukan …
Saat melihat kalender, Tobuciler tersadar.
Bukankah setiap hari kita kehilangan hari ini untuk menemukan hari esok ?
Semoga kami selalu ada di hari ini dan hari esokmu.
Salamatahari, Teman-teman, semogaselaluhangat dan cerah,
Gong Xi Fa Cai bagi yang merayakan …
Tobuciler
Bookmark this post: |





















