Sunday, March 29, 2009

"Alam, Kita Musti Terima"


Sambil menggenggam sapu dan pengki, Mbah, pemilik rumah di sebelah kemungilan Tobucil, tengadah menatap daun-daun yang berguguran. “Alam, kita musti terima,” ungkapnya. Ia lalu menyapu. Menanggap alam yang menyapanya lewat ranggas yang terus dan terus …

Sore itu, Mbah dan alam seperti drama satu babak. Mereka saling merespon dengan dialog berbahasa universal. Ijuk Mbah, yang bergesekan dengan daun dan angin, terdengar liris seperti puisi. Mbah yang tunduk pada sistem alam, sesungguhnya juga menerima tunduk hormat alam lewat daun yang meranggas. Pemandangan dramatis yang tanpa dramatisir itu, tinggal berhari-hari di hati dan kepala Tobuciler. Prolog “Alam, kita musti terima”-nya juga serta. Peristiwa itu berulang seperti sistem yang menyapa Tobuciler setiap Tobuciler bersentuhan dengan semesta, terus dan terus …

Tobuciler lalu belajar memahami, bahwa seharusnya, sistem bukan pengekang. Saat ia mulai mencekik, coba telaah. Mungkin ia justru sedang melawan sistem besar yang menjadi pusat segala sistem.

Alam adalah sistem paling bijak yang mengatur sendiri kebijaksanaannya.
Secara alami.

Inilah blog Tobucil edisi “Alam, kita musti terima”.

Salamatahari,
Semogaselaluhangat dan cerah,
Tobuciler



Google Twitter FaceBook

Maria Kayla Augusta Lubis Menanti Reni yang Wira - wiri

Maria Kayla Augusta Lubis adalah satu dari dua peserta Kelas Menulis Kreatif untuk Anak-anak. Karena Reni, sang partner, sibuk wira-wiri di tengah acara lamaran kakak sepupunya Jumat (27/03) sore itu, praktis Kayla belajar tanpa teman. “Tapi entar katanya Reni mau ikutan, kok,” ujar Kayla.


“Ayo, Kay, tulis ceritanya,” kata Tobuciler yang menjadi fasilitator. “Entar, ya, Kak, nungguin Reni,” sahut Kayla. “Hmmm … sambil nunggu Reni, gimana kalo kamu aku wawancara dulu aja … ?” usul Tobuciler.


Kayla : Tentang apa, Kak ?

Tobucil : Maunya tentang alam-alam gitu, sih, Kay …

Kayla : Alam apa ? Kayak global warming gitu ?

Tobucil : Yah … alam-alam aja. Santai, kok, kamu boleh jawab apa aja …

Kayla : (mengangguk)

Tobucil : Kalo menurut Kayla, alami itu apa ?

Kayla : Berasal dari alam.

Tobucil: Hmmm … maksudnya ?

Kayla : Ya … berasal dari alam, gitu … hmmm … apa, ya ? Dari alam, bukan buatan manusia … sama aja, ya ?

Tobucil : Ya … lumayan … hehehe … nah, kalo dari alam kan namanya alami, kalo yang buatan manusia apa ?

Kayla : Apa, ya, istilahnya ?

Tobucil : Manusia-i ?

Kayla : Lupa, Kak …

Tobucil : Kayla hari ini pake baju ijo. Kenapakah ?

Kayla : Mm … apa, ya ? Mau aja …

Tobucil : Supaya matching sama Tobucil yang ijo-ijo kayak alam ini ?

Kayla : Ooo … Tobucil ini ijo, to … belum tau kalo sebetulnya Tobucil ini ijo. Baru tau saat ini, detik ini, kalo Tobucil itu ijo …

Tobucil : Waktu minggu lalu ke sini, emang nggak keliatan, Kay, ijonya ?

Kayla : Minggu lalu … keliatan, sih, tapi kirain hanya catnya …

Tobucil : Hehehe … ternyata sekitarnya juga ijo, ya, banyak taneman ….terus … Kayla kenapa suka nulis ?

Kayla : Inspirasinya dari guru kelas dua, disuruh nulis cerita pake kertas HVS, dari situ aja tertarik. Waktu itu nulis “Jin dan Lampu Ajaib” (sambil tersenyum).

Tobucil : Kalo nulis yang temanya alam-alam gitu pernah, nggak, Kay ?

Kayla : Pernah, nggak, ya … ? (sambil membuka-buka buku besar yang berisi tulisan-tulisan Kayla). Pernah nggaaak, yaaaa …? Mm … pernaaahh … nggak … enggak, Kak (sambil menutup bukunya). Eh, pernah, ding, tapi yang waktu itu ditempel di madding.

Tobucil : Waktu itu Kayla nulis apa ?

Kayla : Tentang kertas. Jadi ada empat anak, lagi main kertas, buat pesawat-pesawatan gitu. Terus ada anak, namanya … siapa, gitu. Dia terus negur, ‘untuk bikin pesawat-peswatan, pohon harus ditebang’. Abis itu jadi nggak pada main pesawat-pesawatan lagi.

Tobucil : Wah … ceritanya keren. Kalo menurut Kayla, alam bisa ngomong, nggak ?

Kayla : Bisa, tapi pake kejadian-kejadian, bencana-bencana …

Tobucil : Bencana kan omongan yang serem, tuh … kalo omongan yang baiknya apa ?

Kayla : Alam yang sejuk … gitu-gitu, deh … ceritanya tanda terima kasih …

Tobucil : Hehehe … eh, terus Kayla pengen ngomong sesuatu, nggak sama alam ?

Kayla : Mmm … enggak.

Tobucil : Lah ? Kenapa ?

Kayla : Pinginnya ngomong sama manusia, supaya ga nebang pohon, ga ngebuang sampah sembarangan…

Tobucil : Hahaha … sip ! Good point !


Reni masih terus wira-wiri ketika wawancara sudah selesai. “Reng, ayoooo …,” ajak Tobuciler. “Entar, Kak, ini lagi ngejar … (ngos-ngos-ngos),” sahut Reni yang sudah banjir keringat karena sibuk mengejar –ngejar seorang anak laki-laki.


Masih sambil menunggu Reni, Tobuciler membaca tulisan-tulisan di buku besar Kayla.Kisah yang segar dan alami khas anak-anak mengalir di sana. Tobuciler langsung jatuh cinta. “Kay, tulisan kamu aku minta, ya, buat dimasukkin di blog Tobucil,” pinang Tobuciler.


Karya murid kelas 5 SD Pandu ini, dimuat di rubrik “papantulis” edisi ini. Penasaran … ? Silakan disimak di sini… ^_^ v


Sundea


Google Twitter FaceBook

Merajut Tas dan Pekarangan

Judul buku : Tanaman Pekarangan Pilihan
Pengarang : Erman Johani
Harga buku : Rp. 25.000,00
Harga Tobucil : Rp. 22.500,00

Saat ini sudah sangat jarang rumah yang memiliki pekarangan yang luas. Namun, hal itu tidak berarti kita tidak bisa memanfaatkan pekarangan rumah kita yang sempit. Buku ini menghadirkan cara memilih tanaman yang bermanfaat untuk mengisi pekarangan kita, baik lahannya luas atau sempit. Adanya tanaman pekarangan yang kita pilih akan membuat halaman rumah kita menjadi lebih sejuk dan menyenangkan untuk dipandang mata.

---

Tas Rajutan Handmade
Harga : Rp. 200.000,00


Tas Rajutan Handmade
Harga : Rp. 200.000,00

Tas rajutan cantik ini, dibuat dengan segenap perasaan. Percayalah …
Milikilah kasih sayang yang tinggal dalam tiap jalinan benangnya.

created by Elin

Google Twitter FaceBook

Ketika Tobucil Dibanjiri Darah dan Air Mata

-Tobucil, Senin 23 Maret 2009-

Klab Nulis

Hari itu, terjadi banjir darah dan air mata di Tobucil. Evi dan Asma, kedua peserta klab nulis yang disidang hari itu, membawa kisah beraroma pembunuhan dan dendam.

Evi menulis “Simpanan”, cerpen yang mengisahkan Asih, perempuan yang memotong penis adik iparnya, karena dendam terhadap laki-laki. Sementara Asma, menulis “Dunia Aida”, kisah seorang ibu yang karena dendam, tanpa sengaja membuat anaknya sendiri dijatuhi hukuman mati.

Kedua cerpen ini terbilang matang secara penuturan. Alurnya mengalir lancar. Kata-katanya terangkai cermat. “Tapi siapa Bruno yang jadi seperti tokoh sekedar numpang lewat ini ?” tanya Mbak Tarlen ketika menemukan tokoh Bruno, peneliti dari Belgia, di akhir cerita Asma. “Iya, soalnya saya kebagian itu di game-nya,” Asma mengaku.

Untuk tugas akhir kali ini, Ophan membuat “game”. Ada tokoh-tokoh yang dipilih secara acak dan harus diselipkan ke dalam cerpen peserta. Kebetulan Asma kebagian tokoh “Bruno”. “Kalau dia dijadikan sebagai bingkai cerita saja, sepertinya lebih nyambung,” Mbak Tarlen menawarkan alternatif.

Sementara, Evi berhasil memasukkan tokoh “game”-nya dengan cukup rapi. Ia menempatkan Eeng si orang gila di akhir cerita, sedang menyetubuhi ikan duyung di pantai. “Ini menyimbolkan kejadian (luka karena pelecehan seksual, pemerkosaan, pembunuhan, dan sejenisnya-red) tidak berhenti dan akan terus berulang,” Wiku menyimpulkan.

Namun, pemahaman Evi mengenai feminisme yang dia gunakan sebagai landasan karya, mendapat banyak kritikan. “Hubungan seks dengan ‘perempuan di atas’ bukan feminisme. Kontrol tidak terletak di situ,” ungkap Mas Kalis. “Coba bedain feminis dan psikologis,” sambung Wiku. “Bertindak dengan landasan gila lebih masuk akal daripada kesadara (feminisme),” ujar Mbak Tarlen. “Kalo menurut aku, perempuan-perempuan yang feminis itu biasanya saling melindungi, lho. Kalo ini, kok, Mbak Asih-nya malah tega nyakitin perempuan lain yang adiknya sendiri ?” tanya Tobuciler.

Seusai sidang, Evi tahu-tahu berlinang air mata. Lho … ? lho … ? Kenapa ? “Berarti … cerpen aku … berat banget, ya … ? Aku kira pembahasannya teknis, taunya sampai ke dalem-dalemnya gini,” ungkapnya sedikit galau. Dan beranda Tobucil pun dibajiri air mata.

Hmm … selain darah pembunuhan dalam kisah Evi dan Asma, ada darah-darah lain yang juga membanjiri. Lho … ? lho … ? Darah apa ?

Begini. Evi dan Asma adalah dua darah. Jirana, salah seorang tokoh dalam kisah Asma, juga seorang darah. Dan feminisme, tentunya berkait erat dengan darah-darah di seluruh dunia. Jadi, mari sama-sama kita nyanyikan lagunya,

“Darah maniskuh kau selaluh di dalam impiankuh ….”

Sundea













Evi banjir air mata
Google Twitter FaceBook

Misteri KM 88



Di tengah kembali maraknya film horor di bioskop-bioskop, ternyata Tobucil menyimpan keunggulan. ”Keunggulan” ini terjadi karena horor versi Tobucil bukan rekayasa film atau akting dari para aktor, melainkan pengalaman pribadi Mbak Elin, sang manajer. Ceritanya begini, di sebuah Minggu pagi yang cerah, Mba Elin sekeluarga dan beberapa sanak saudara merencanakan berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan kerabat. Dengan mobil kijang milik kakak iparnya, seperti biasa mereka memilih jalur Cipularang. Perjalanan berlangsung lancar, penuh kehangatan dan canda tawa, salah satunya karena perilaku lucu anak Mba Elin, namanya Angga. Hingga akhirnya di kilometer 88, terjadi keanehan: Mba Elin melihat seonggok beton kotak di tengah jalan. Mobil yang melaju kencang hingga 120 kilometer per jam tak kuasa menghindar, lalu oleng kemoleng hingga nyaris terguling. Kejadian mengagetkan ini sempat membuat seisi mobil urung meneruskan perjalanan. Tak hanya akibat ”benturan” itu, tapi karena apa yang dilihat Mba Elin sebagai ”beton” itu sesungguhnya tidak ada! Si supir tak melihat apa-apa, dan merasa bahwa mentalnya mobil adalah kejadian alamiah. Pun kala Mbak Elin konfirmasi pada petugas patroli, ”Pak, bagaimana sih, kok ada beton di tengah jalan gak disingkirin?” Pak patroli menjawab enteng, ”Gak ada apa-apa kok, Bu. Saya kan patroli lima belas menit sekali.” Lewat rapat keluarga singkat, akhirnya diputuskan untuk meneruskan perjalanan secara perlahan. Ini didorong oleh perjalanan yang sudah tanggung jauh, dan yang menikah memang saudara dekat, tak enak untuk ditinggalkan. Meski sangat pelan, tapi sampailah mereka ke tujuan, dan diikuti pulanya pernikahan kerabatnya dengan lancar.

Prahara kembali datang di perjalanan pulang. Angga yang tadinya cerah ceria, mendadak menangis sejadi-jadinya. Mbak Elin jelas panik, tapi ia lebih banyak keheranan: mengapa penghuni mobil lainnya tak ada yang membantunya untuk meredakan tangis si anak? Dalam keheranan, sang Ibu tak mau ambil pusing, didekapnya Angga sangat erat, hingga tangisnya reda. Mbak Elin sejenak lega, karena sampai di Bandung dikiranya cuma rengekan Angga yang jadi bencana. Namun ia kembali terguncang ketika mendengarkan cerita awak mobil lainnya, katanya: Sebenarnya kami melihat seluruh kaca jendela menjadi gelap kala Angga menangis, tapi kami tidak mau menceritakan saat itu, takut kamu tambah panik. Ada lagi yang lebih mengerikan: Kami juga mendengarkan nyanyian seseorang juga, bunyinya ”mmm.. mmm..” (dinyanyikan seperti lagu nina bobo, dengan ketukan 4/4, nada dasar C, tempo andante [??]). Lantas tebak dimana letak kejadian itu? Ya, anda benar: kilometer 88.

Penceritaan ulang ini jelas kalah seru ketimbang jika Mbak Elin bercerita sendiri. Ekspresi ketakutan yang ditunjukannya cukup mampu membuat Tobuciler bergidik, terutama di bagian nyanyiannya. Sebagai sosok yang pernah dijuluki Elin Dolores karena kemampuannya menyanyikan lagu-lagu Cranberries, senandung gaib itu dinyanyikan kembali oleh Mbak Elin secara lebih syahdu dan merdu, cukup untuk merindingkan bulu roma. Namun yang penting adalah pemaknaan di akhir cerita. Menurut Mbak Elin, sejak kejadian itu, dirinya jadi lebih menghargai hidup. Dari tadinya cuek bebek jika berbuat dosa yang kecil-kecil, sekarang jadi sebisa mungkin dihindarinya. Pengalaman eksistensial manusia selalu khas, unik, dan hanya dialami oleh dirinya sendiri. Untungnya manusia punya kemampuan memaknai, sehingga setiap pengalaman bisa jadi sumber refleksi bagi orang lain.

Syarif Maulana











Mbak Elin yang kebingungan
Google Twitter FaceBook

Seputar Rumah Sebelah








Wikupedia adalah koordinator Klabs Tobucil, distributor buku, dan kerap menulis artikel di media. Saat ini sedang hobi memotret menggunakan Luna, kamera barunya.

Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …
Google Twitter FaceBook

Senyum

Waktu itu ada kejadian buruk yaitu adik hilang. Semenjak itu, aku tak dapat senyum dari mama.

Suatu pagi mama membuatkanku susu. Waktu membuat susu, wajah mama terlihat berseri seperti fajar yang kupanggil sejak lama. Aku mendapat ide ! Aku menyuruh mama membuat susu. 1 … 2 … 3 … 4 …5 …6 dan seterusnya aku tumpuk di meja makan dan meja bar juga kulkas. Wah !! Fajar itu ada terus, aku senang sekali.

Sekarang sudah 767 susu yang mama buat dan 767 juga fajar indah yang kudapat. Selain itu, kita juga memecah rekor : susu terbanyak. Wah senang sekali, rekor itu dimasukkan ke dalam buku rekor Dunia. Nah, sekarang tinggal satu kesenangan yang belum aku dapat yaitu temukan adik. Sekarang kita membagikan poster yang ada fotokopi foto adik. Posternya seperti ini :



Ternyata dua bulan kemudian, adikku sudah ditemukan. Keluarga tumbuh SENYUM 100 %


Kayla Lubis
adalah murid kelas 5 SD Pandu dan peserta Menulis Kreatif untuk Anak-anak. Suka menulis sejak kelas 2 SD. Harus mencari inspirasi di tempat yang ramai, tapi lebih suka bermain sendiri.



Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

Pamali # 5



Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya ...
Google Twitter FaceBook

Cerita Daun Kuning


Di halaman belakang rumah Dea ada pohon gede yang daunnya ijo berkelompok-kelompok. Pada suatu hari, di antara daun-daun ijo itu Dea ngeliat daun yang kuning dan sendirian. Dia keliatan gelisah banget. Waktu daun-daun yang lain ngegantung anteng, dia muter-muter dan berayun-ayun tanpa arah. Keilatannya dia bosen krn. nggak punya kelompok.

Nggak berapa lama kemudian angin bertiup rada kenceng dan semua daun kegoyang-goyang. Daun-daun yang berkelompok saling bergandengan, tapi daun kuning terlalu sendirian. Daun-daun yang berkelompok bisa bertahan di pohon, tapi daun kuning enggak. Dia lepas dari ranting, melayang pelan-pelan, trus mendarat dengan santun di kaki pohon.

“Hei, liat, ada daun kuning lagi,”
“Iya…iya..iya…”

Tiba-tiba sekelompok daun kuning lain terbang ngerubung daun kuning yang baru jatoh. “Selamat datang di kelompok daun gugur,” sapa salah satu daun kuning yang lain. Daun kuning yang baru jatoh kaget tapi seneng. Sekarang dia tau kalo dia punya kelompok juga. Sekarang dia nggak ngerasa sendirian lagi. “Daun kuning baru, kiita main, yuk,” ajak salah satu daun kuning yang tadi ngerubung. “Yuk,” daun kuning yang baru jatoh nyambut ajakan temennya.

Angin masih bertiup kenceng. Daun-daun ijo di pohon bergandengan makin erat, sementara daun-daun kuning mlentang-mlentung riang ke sana kemari.

Sekarang daun kuning sadar, beberapa waktu yang lalu, dia cuma salah tempat …

Sundea

Google Twitter FaceBook

Klab Nonton Bulan April : "Menemukan Keterhubungan dengan Semesta"

Dari Klabs :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkan

diskusi rutin Rabu tanggal 1 April 2009
dengan tema "Bos, Kok Berkuasa ?"
Rabu, 1 April 2009
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

tobucil
jl. aceh 56
bandung

Klab Nulis

Presentasi Karya

Klab Nulis Angkatan ke- 4
tobucil & klabs 2009

Klab Nulis angkatan 4 telah sampai pada bulan, di bulan ini waktunya para anggota klab nulis untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan 2 orang panelis serta msyarakata umum.
Pada bulan pertama anggota klab nulis mendalami seluk beluk penulisan fiksi dengan berbagai materi dan makalah serta diskusi yang di sampaikan oleh instruktur klab nulis, Sophan Ajie, sedangkan pada bulan kedua para anggota klab nulis melakukan praktek menulis dengan games. Di bulan ini para anggota klab diarahkan untuk membuat karya yang nantinya akan menjadi final projek yang akan dipresentasikan pada bulan terakhir.

Kini bulan terakhir itu telah memasuki batas akhir pengumpulan karya, setelah ini para anggota klab nulis akan mulai mempresentasikan karya mereka setiap senin mulai dari tanggal 23 februari 2009 “ 23 Maret 2009”, berikut jadwal lengkap presentasi karya:

minggu pertama 23 februari 2009:
Ibu Tati : karya tulis cerpen
untuk membaca cerpen Ibu Tatty, klik di sini
syarif : karya tulis cerpen, untuk membaca cerpen Syarif, klik di sini

minggu kedua 2 maret 2009:
nissa : karya tulis novel

minggu ke tiga 16 maret 2009:
feti : karya tulis cerpen, untuk membaca karya Feti, klik di sini
Nilam : karya tulis cerpen, untuk membaca karya Nilam, klik di sini

minggu ke empat 23 maret 2009:
Asma : karya tulis cerpen, untuk membaca karya Asma, klik di sini
Evi : karya tulis cerpen, untuk membaca karya Evi, klik di sini

Minggu ke lima 30 Maret 2009 :
Rini : karya tulis cerpen
Sinta : karya tulis cerpen

semua karya, akan dimuat di blog tobucil (tobucil.blogspot.com), jadi bagi yang hendak datang bisa membaca karya para anggota klab nulis yang akan mempresentasikan karya mereka. Acara presentasi karya ini terbuka untuk umum, baik itu untuk melihat saja, mengomentari atau ikut mengkritik.

panelis penguji:
paskalis (lulusan filsafat)
tim juri tobucil (terlen, sundea, wikupedia)
Semua diundang untuk meramaikan acara ini, sampai jumpa di acara presentasi karya klab nulis tobucil & klabs.
Salam klab

Klab Nulis buka pendaftaran baru. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini

Klab Nonton :

April ini, Klab Nonton bertema “Menemukan Keterhubungan dengan Semesta”.
Sabtu, 4 April 2009, Pk. 18.15 The Child and The Fox/ Le Renard et l'enfant (2007)
Sutradara: Luc Jaquet / 92 min

Menonton film ini, rasanya seperti sedang didongengi oleh Kate Winslet sebagai narator edisi bahasa Inggris. Berkisah tentang lika liku kehidupan seekor rubah dari pandangan seorang anak perempuan. Film yang sangat menyenangkan. Seperti menonton dokumenter National Geographic tapi terasa manis dan segar dalam pemandangan Perancis Selatan yang indah dari musim ke musim.

Kisahnya manis dan sederhana, karena si gadis kecil ini, begitu pantang menyerah untuk bisa bersahabat dengan Lily. Setelah persahabatan itu ia dapatkan, hasrat untuk menguasai muncul, ia mencoba mengurung Lily dalam kamarnya, namun yang terjadi di luar dugaan. Sampai akhirnya si gadis cilik menyadari, bahwa ketika ia begitu mencintai si rubah, ia juga harus belajar melepaskan dan bebebaskannya.

Para pemain di film ini hanya seorang gadis kecil yang tak disebutkan namanya diperankan oleh Bertille Noël-Bruneau dan seekor rubah yang diberi nama lily. Film ini seperti memanggil kembali semua gambaran kisah-kisah Enyd Blyton, petualangan Tini, Astrid Lindgren, Serial Nina, Ruby si Rubah Kecil, tapi semua dalam setting yang nyata.
Untuk melihat jadwal Klab Nonton bulan April, klik di sini

Kelas Membuat Tempat Laptop

Pengen bikin sendiri tempat laptopmu? Ayo gabung di sini. Bersama Tarlen, kamu akan belajar gimana bikin tempat laptop dari cara yang paling mudah (tidak perlu jahitan mesin) sampai yang membutuhkan keterampilanmu dalam menjahit dengan menggunakan mesin jahit.

Kelas terdiri dari 2 pilihan materi:
1. Tempat Laptop Tanpa Jahitan
Skil: pemula, yang tidak bisa menggunakan mesin jahit bisa bergabung di kelas ini.)
2. Tempat Laptop Fancy
Skil: intermediate, untuk bisa bergabung di kelas ini, peserta diharapkan dapat menggunakan mesin jahit)

Waktu:
Setiap materi disampaikan dalam satu kali pertemuan.
Pilihan waktu yang tersedia: 5, 12, 19 dan 26 April 2009, Pk. 10.00 - 12.00 Wib


untuk informasi lebih lanjut, klik di sini

Workshop Melipat Bulan April “Hope the Flowers”

Sabtu (minggu ke 1 & 2) Pk. 13.00-15.00
Biaya Rp. 50.000 untuk 2 kali pertemuan (8-10 lipatan) termasuk bahan.

Materi minggu I: preliminari rose, tulip, lily, bunga warterbomb, morning glory.

Materi minggu II: mawar 6, mawar 8, batang

Instruktur: Tania Fitriyani

Rubrik :

Papantulis
Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Fotobucil
Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Bacakotabandung
Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Visual Diary
Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya ...

Ikuti pula polling rubrik favorit di blog Tobucil ^_^

Dari luar Rumah :




Google Twitter FaceBook

Sunday, March 22, 2009

Yang Dilipat


Yang dilipat membutuhkan kelapangan dan keterbentangan. Seperti kertas. Seperti banner. Seperti tubuhmu sendiri. Seperti hatimu saat menghadapi sidang.

Yang dilipat membutuhkan fleksibilitas. Seperti kertas. Seperti banner. Seperti tubuhmu sendiri. Seperti pemikiranmu saat menyambut kritik di tengah sidang.

Yang dilipat dapat menjadi lebih efektif. Seperti kertas yang menjadi origami. Seperti banner tak terpakai yang dijadikan dompet. Seperti tubuhmu yang nyaman dalam posisi meringkuk. Seperti karyamu yang telah dikoreksi di tengah sidang.

Yang dapat dilipat adalah segala sesuatu yang punya kesediaan diberi makna baru.
Bukan hanya kertas. Bukan hanya banner. Bukan hanya tubuhmu sendiri. Bukan hanya karya tulis yang dibawa ke tengah sidang.

Teman-teman, hidup mengajak kita terus melipat dan dilipat ^_^

Selamat melipat-lipat blog edisi ini.
Semoga dapat memperkaya khazanah pemaknaan kita …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Tobuciler




Google Twitter FaceBook

Memaknai Melipat Bersama Tania Fitriyanti


Tania Fitriyani melipat kertas sendirian di beranda Tobucil. “Klab origami suka nggak ada murid, lho, nggak apa-apa ?” tanya koordinator Klab Origami itu saat Tobuciler meminang klabnya untuk diliput. “Ng … ya udah, deh, gimana kalo elu aja gue wawancara jadi ‘Teman Tobucil’ ?”



Tobucil : Ni, menurut lo melipat itu apa ?

Nia : Melipat … ? Apa, ya … ? Melipat itu … (terdiam)

Tobucil : Jadi .. ?

Nia : Aduh … apa, ya ? Maaf, ya, lagi nggak ini …

Tobucil : Ini gimana maksudnya … ? Ya udah, deh, gini, kenapa elu suka melipat kertas ?

Nia : Gua sebenernya nggak selalu suka melipat kertas.

Tobucil : Hyah … terus … kok … ?

Nia : Belakangan ini … gua justru lagi mencari makna dari semuanya. Kalo lu tanya ke gua sekitar satu taun yang lalu, mungkin gua bisa menjawab ini, ini, ini … tapi kalo sekarang … kayaknya origami itu bukan cuma sekedar membuat diagram, melipat kertas, gua lagi mencoba memaknainya lebih daripada sekedar ketrampilan. Dulu kan gua sekedar konsentrasi ke membuat sesuatu yang heboh, sesuatu yang besar, sekarang gua justru lagi mencoba memaknainya. Jadi maaf, pertanyaan yang tadi memang sulit sekali buat gua.

Tobucil : Dari pencarian makna itu, apa yang udah lo dapetin, Ni ?

Nia : Kalo sekarang … eu … gua nge-hang, nih … aduh … bentar, ya … apa, ya … ? Jujur aja, kalo sekarang, gua pengen ngajarin ke orang-orang kalo origami itu bukan sulap. Ada proses dan prosesnya itu yang berarti, ngelipetnya itu kan bikin seneng, refreshing, nggak selalu produknya yang berarti … (kalo) buat gua, ya. Gua pengennya … melipatnya itu yang jadi bagian dari diri gua dan kertas bisa jadi apa aja.

Tobucil : Lo ngarep orang juga ngertinya gitu, Ni ?

Nia : Ya … (berpikir) gua pengen, orang kalo belajar origami mau baca diagram, nggak cuma nunggu, gua mau orang-orang juga mengeksplor, nggak harus gua yang menghafal semua lipatan. Lagian mustahil juga buat gua buat ngehafal semuanya. Gua sendiri juga belum bisa semuanya, paling nggak sekarang gua mah bisa memodif sedikit. Sedikiiiit … banget. Ngelipet mah ngelipet aja, misalnya mau bikin kodok nggak kayak kodok juga nggak apa-apa, itu kan versi kita sendiri.

Tobucil : Sekarang anggota Klab Origami ada berapa orang ?

Nia : Mereka mah bukan yang selalu dateng. Jadi … kadang dua, kadang nggak ada …

Tobucil : Yah … sepi, dong. Hari ini kira-kira bakal ada yang dateng nggak ?

Nia : Enggak kayaknya …

Tobucil : Terus, klab ini kalo mo ikut bayar ?

Nia : Bayar, minimal mah untuk nggantiin kertas …

Tobucil : Sejauh ini, Klab Origami udah ngehasilin apaan aja ?

Nia : Display, taun lalu di distro-distro ada, kita juga masuk di sebuah Club di Paskal Hypersqure …

Tobucil : Hmmm … sebenernya ini klab ato kursus, Ni ?

Nia : Tadinya, sih, pengennya klab yang bisa diskusi, tapi belum ketemu aja (orang-orangnya). Gua yakin, sih, sebenernya banyak yang suka melipat kertas, tapi belum ketemu aja. Pernah ada beberapa temen, kita serius banget sampe bikin pameran. Tapi ilang lagi … nggak tau, ya …

Tobucil : Kok jadi galau gini, sih, wawancaranya ?

Nia : Iya, padahal tadinya maksudnya nggak galau. Abis pertanyaan pertamanya langsung ‘melipat itu apa’, sih. Padahal tadi guanya lagi nggak galau …

Tobucil : Lah, emang kenapa ? Pertanyaan itu kan mendasar …

Nia : Ya itu mengingatkan gua untuk berpikir lagi, padahal gua udah lama tidak memikirkannya. Gua juga nggak nyangka wawancaranya akan segalau ini … eh … ini kenapa salah ? Mau ngelipet mawar kok jadinya malah rok ?!!

Gawat, gawat. Kegalauan ini harus segera disiasati. Mungkin sudah saatnya Nia melipat kesepian, menyimpannya dalam tas, lalu menggantinya dengan kebersamaan yang direntang di meja beranda Tobucil.

Ada yang mau membantu ? Datanglah ke Tobucil, Jln. Aceh no.56, pada hari Sabtu, pukul 15.00-17.00. Temani Nia memaknai, dan jadilah bagian yang dilipat dari rentangan kebersamaan …


Sundea


Google Twitter FaceBook

Pat Pat Melipat


Judul Buku : Boneka Kertas Aneka Gaya
Pengarang : Revi Devi Paat
Harga Buku : Rp.35.000,00
Harga Tobucil : Rp. 31.500,00

Berkreasi dengan kertas-kertas memberika keasyikan dan kegembiraan tersendiri. Buku ini akan memandu Anda membuat aneka ragam boneka dari kertas. Langkah demi langkah dipaparkan secara singkat namun jelas, disertai ilustrasi dan diagram yang akan membantu Anda dalam memahaminya. Berbagai model boneka kertas lucu dapat Anda hasilkan. Boneka-boneka tersebut dapat digunakan sebagai hiasan unik pada kartu ucapan, bingkisan, dan sebagian souvenir


Domept Lipat dari Banner

Dompet lucu, unik, kreatif, dan edisi terbatas ini dapat kamu peroleh di Tobucil hanya seharga Rp. 12.500,00 saja.



Google Twitter FaceBook

B.R.E.A.K the Monolog.

-Tobucil, Senin 16 Maret 2009-

Klab Nulis

“Ini bukan maksud untuk jadi peserta terbaik, kan ?” tanya Ophan saat menerima kue yang dibawakan Mbak Feti. “Oh, jadi nggak akan jadi peserta terbaik, nih ? Ya udah, deh, nggak jadi,” sahut Mbak Feti. Wah ! Apakah praktik penyogokan mulai merasuki sidang Klab Nulis ?

Tenang, Teman-teman, Ophan dan Mbak Feti hanya bercanda. Kue itu disuguhkan secara tulus oleh Mbak Feti, sebagai ucapan syukur di hari ulangtahunnya. Bersama cerpennya yang berjudul “B.R.E.A.K”, Mbak Feti was breaking her previous age.

Cerpen Mbak Feti berkisah tentang Bebby, perempuan yang sering sekali meminta break dari kekasihnya yang (entah sengaja atau tidak) bernama Ophan. “Apa yang membedakan cerpen yang ini dengan cerpen yang sebelumnya ?” tanya Ophan (sebagai informasi, Mbak Feti pernah menjadi peserta Klab Nulis pada angkatan sebelumnya). “Penggunaan katanya beda. Kalo yang ini, aku lebih puitis, yang sebelumnya agak lebih tegas. Terus, kalo di cerpen sebelumnya, ada kegigihan penulis untuk menunjukkan apa yang benar menurut penulis, dalam cerpen ini, aku berusaha untuk tidak,” sahut Mbak Feti.

“Cerpen ini mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Umar Kayam. Kalem, tentang menanti hingga rambut memutih …,” puji Wiku. Namun, Wiku pun mengkritik logika cerita, “Kenapa Bebby suka nongkrong di pos satpam dan ngobrol sama Cecep malam-malam ?” Dalam hal ini, kemerdekaan interpretasi yang bermaksud diberikan kepada pembaca, jadi sedikit tersandung. “Tetep harus ada pengaitnya,” ujar Wiku. “Hook!” sambar Mas Bebeng asal.

Selanjutnya, Nilam yang juga pernah mengikuti Klab Nulis angkatan sebelumnya, tampil dengan cerpennya yang berjudul “Monolog.”. Berbeda dengan cerpen imut Nilam yang terdahulu, “Monolog.” berat dan serius. Penyampaiannya pun bagai puisi; dibuka dan ditutup dengan paragraf yang sama; sebuah pertentangan batin antara “aku” dan “sukma”; antara seorang aku lirik dengan suara hatinya.

Saat ditanya pesan yang ingin disampaikan dalam cerpen tersebut, Nilam menjawab bijak, “bahwa yang namanya nurani nggak pernah salah, dan solusi itu bukan datang dari luar diri kita.”

Meski begitu, cara Nilam menggambarkan karakter sukma sang suara hati, mendapat kritik dari Mas Paskalis, “Kalau melihat cerpen ini, saya jadi nggak mau percaya sama sukma (suara hati), karena sukma itu menuntut …” Menuntut seperti apa ? Bisa dibaca sendiri di sini

Kedua peserta sidang hari itu memiliki cukup banyak kesamaan. Sama-sama perempuan, sama-sama alumnus Klab Nulis angkatan ke tiga, sama-sama menulis cerpen puitis dengan alur yang mengikat pembaca, sama-sama menunjukkan kemajuan menulisnya, sama-sama mengenakan baju hitam hari itu, dan …

“Yang agak mengganggu, kenapa judulnya harus pakai titik-titik ? Kalau menurut EYD, judul harusnya nggak boleh pakai titik,” kritik Mbak Tarlen.

Tobuciler melirik dua jilid cerpen yang tergeletak di meja juri. “B.R.E.A.K” dan “Monolog.”

Jika mengabaikan titik-titiknya, kedua kata itu berhubungan erat dengan makna “berhenti” .

Dan. Berhenti. Adalah. Titik.

Sundea










Mbak Feti (kiri) dan Nilam (kanan)

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin