Sunday, April 26, 2009

Gerimis Mengundang

“Kusangkakan panas berpanjangan

Rupanya gerimis, rupanya gerimis, mengunda eua wa wa …ang

Dalam tak sedar ku kebasahan …”

Gerimis Mengundang – Slam

 

Meski tak sungguh paham makna semantik bahasa Malaysianya, penggalan lirik lagu Gerimis Mengundang tersebut membangun makna metaforik di kepala Tobuciler. Seperti gerimis di tengah kekeorontangan, hal baik yang kecil-kecil kerap mengundang dirinya sendiri ke tengah kekosongan. Pengaruhnya tak langsung terasa. Tapi tahu-tahu, kita menyadari bahwa “kebasahan” sudah menggantikan “panas yang disangkakan berpanjangan”; penuh sudah menggantikan kosong.

Tanggal 2 Mei mendatang, Tobucil memasuki usia ke delapan. Ketika kembali membaca perjalanan, tak terasa, seperti “kebasahan” akibat “gerimis mengundang”, ternyata kami terbangun dari hal baik yang kecil-kecil yang kalian berikan setiap waktu; apapun bentuknya.

Teman-teman, kali ini ganti kami yang mengundang kalian. Silakan tanyakan atau sampaikan apaaaaapun yang ingin kalian tanyakan tentang Tobucil, kepada siapaaaaaapun yang ada di Tobucil. Segera kirim ke tobucil@gmail.com. Ayo, jangan ragu, sepanjang bulan Mei ini, kami menanti dan akan menjawabnya dalam blog Tobucil.

Minggu ini pun blog Tobucil penuh dengan teman-teman yang diundang dan mengundang diri sendiri untuk memenuhi kemungilan Tobucil. Ada Gunawan Maryanto dan puisi-puisinya, Ibu Santi Indra Astuti dan Jurnalisme Radio-nya, teman-teman D’Java String Quartet (lagi), teman-teman Ririungan Gitar Bandung, dan Dian Rinjani sang gadis crochet.

Akhir kata, terima kasih karena telah menjadi hal baik kecil-kecil yang selalu menghujani  kami.

Karena kalianlah Tobucil tak pernah “panas berpanjangan”.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

resized

Google Twitter FaceBook

Cinta Pertama Angga adalah Guru Crochet Bernama Dian Rinjani

 

dianmainpic Namanya Dian Rinjani. Suaranya lembut dan manis seperti krim kue. Saat ini, mahasiswi seni rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu sedang seru-serunya belajar dan mengajar crochet di Tobucil. Di tengah kesibukannya mengajar Mbak Tarlen dan Yuchan, murid se(dua) mata wayang (golek)-nya, Tobuciler menanggapnya sebagai teman Tobucil.

Selain lembut dan manis, ternyata Dian pun pemalu seperti buah yang berlindung di bawah puding pada pie. Ketika Tobuciler memintanya tersenyum ke arah kamera, ia menolak cepat, “Nggak mau, ah, malu …”

Tobucil : Di, crochet itu apa, sih ?

Dian : Nah, itu, saya nggak tau …

Mbak Tarlen : Crochet itu salah satu bagian dari seni merajut, tapi menggunakan alat yang berbeda dengan knitting …

Tobucil : Hmmm. Bedanya ?

Dian : Alat yang digunainnya namanya hakken …

Tobucil : Bedanya crochet sama merajut yang biasa (knitting) apa ?

Dian : Crochet lebih leluasa membuat bentuk. Kalo knitting kan jarumnya dua, kalo crochet satu, jadi gerakan tangannya lebih bebas. Bisa bikin bunga, segitiga bisa …

Tobucil : Terus ini lagi bikin apa ?

Dian : Bikin kebaya.

Tobucil : HAH ?!!!

Dian : Iya, ini untuk diaplikasiin di kebaya.

Tobucil : Ooo … kirain bikin kebayanya. Selain buat bikin aplikasi kebaya, crochet bisa dipake buat bikin apa lagi ?

Dian : Biasanya ini buat … apa, ya ? Bisa bikin selimut, topi bayi, sarung tangan, boneka, terus … renda. Ini biasanya disebut juga merenda.

Tobucil : Hmmm … berarti lagunya Kahitna yang “Merenda Kasih” sinonimnya “Meng-crochet Kasih”, ya … hehehe … btw, dari kapan, sih, Di, suka crochet ?

Dian : Beberapa bulan yang lalu.

Tobucil : Baru beberapa bulan udah bisa bikin gini-ginian dan ngajar ? Wow … kamu belajarnya cepet, donggg …

Dian : Cepet, soalnya penasaran. Tadinya aku (belajar) breyen, tapi nggak bisa-bisa. Bisanya cuma dua teknik, atas-bawah. Terus inisiatif aja belajar crochet karena diajarin sama yang ngebantuin di rumah. Yang ngebantuin itu ngajarin dasar-dasarnya aja, abis itu aku ngulik apa yang dibikin nenek, soalnya nenek nggak mau ngajarin.

Tobucil : Waduh … kenapa nggak mau ?

Dian : Neneknya udah lupa, jadi dia ngasihin aja yang udah dibikin … hehehe …

Tobucil : Oh, gitu … terus, Di, kalo ada yang mau belajar crochet juga ke kamu bisa, nggak ?

Dian : Bisa. Dateng aja ke Tobucil setiap hari Sabtu dan Minggu jam tiga.

Tobucil : Biayanya berapa ?

Yuchan : Per sekali dateng Rp. 25.000,00, kalo misalnya satu bulan Rp. 150.000,00. Kalo tiga bulan 300.000,00

Tobucil : Hehehe … Customer Service mah hafal, euuuy … eh, Di, dari hobi meng-crochet ini kamu punya cita-cita apa ?

Dian : Pengen jadi seniman, tapi beda sama seniman yang lain. Kalo seniman kan pake cat sama kanvas, kalo aku dengan crochet.

Tobucil : Wow, keren, tuh. Udah kebayang, belom, pengen bikin karya yang gimana ?

Dian : Masih samar-samar. Paling mau nerusin yang bikin kebaya ini, buat aku wisuda … hehehe …

Tobucil : Udah mau wisuda dalem waktu dekat ini ?

Dian : Insya Allah …

Tobucil : Dian …

Dian : Ya ?

Tobucil : Crochet sama kroket ada hubungannya, nggak ?

Dian : Kroket … ? Makanan ? Nggak ada … eh, ada-ada. Kalo capek abis bikin crochet, makan kroket. Hehehe …

Tobucil : Oh, iya, bisa juga, ya. Terus … crochet ini ada hubungannya sama sifat kamu, nggak ?

Dian : Kalo misalnya sifat kita sabar, pasti bagus banget hasilnya. Soalnya rata-rata kalo yang ngerjain kayak gini (crochet) suka ditanya ‘kok kamu mau-maunya, sih, ngerjain kayak gini ?’

Tobucil : Terus aku nanya : ‘Kok kamu mau-maunya, sih, ngerjain kayak gini ?’

Dian : Karena daripada beli, mending bikin sendiri.

Tobucil : Biar irit, ya ?

Dian : Enggak juga kalo irit, sih, soalnya mahal juga alatnya.

Mbak Tarlen : Kecuali kalo beli di Tobucil (pesan sponsor, nih … hehehe).

Dian : Oh, iya, kalo tau tempatnya iya murah. Terus bergantung juga belajarnya dari mana. Kalo aku kan belajar dari buku, bukunya itu mahal-mahal.

Tobucil : Hmmm … begitu, ya. Berarti crochet dihubungin sama sifat kamu, bisa disimpulin kamu orangnya sabar, dong …

Dian : Insya Allah …

Siang itu, ruang belakang Tobucil hampir sepanas neraka. Karena tak tahan melawan gerah, Dian dan kedua muridnya pindah belajar di beranda Tobucil. Beberapa saat kemudian, Mbak Elin dan si mungil Angga puteranya bertandang ke Tobucil. Tiba-tiba saja Angga tampak terpesona pada Dian. Sebentar-sebentar ia mencuri pandang dan tersenyum malu-malu kepada Dian.

Dian lembut dan manis seperti krim kue serta pemalu seperti buah yang tersembunyi di balik puding pada pie. Jemarinya pun terampil meng-crochet aplikasi kebaya yang warna-warni seperti sekaleng permen aneka rasa. Kesabaran dan aura makanan manis memancar alami darinya. Tak heran jika seorang balita jadi mengalami cinta pertama …

Sundea

diantiga

diandua

Google Twitter FaceBook

Buku Puisi, Buku Teori

covergunmar Judul buku : Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya

Pengarang : Gunawan Maryanto

Harga buku : Rp. 30.000,00

Tapi benarkah segala yang terjadi itu sia-sia? Bukankah dalam semangat puitika ada juga hal-hal yang bisa dibangun oleh puisi? Seperti esensi metafisis puisi yang mengangankan dunia yang transcendental, esensi estetis puisi yang meninggikan sebuah keindahan, atau bahkan esensial jiwa dari puisi yang mementingkan kebangunan jiwa yang tertinggi sebagaimana ditulis oleh Sakutaro itu. Bisa jadi yang membuat Gunawan Maryanto menuliskan puisinya adalah hanya cara dia memandang kenyataan itu semua dengan cara dia – cara yang hanya dia yang bisa menjelaskan.

dan seperti musim-musim sebelumnya

aku melihatnya dari jendela – dengan cara yang sama

(Lelaki yang Melintas di Sela Hujan)

Dicupik dari sini

coverjurnalismeradio Judul buku : Jurnalisme Radio

Pengarang : Santi Indra Astuti

Pengarang : Santi Indra Astuti

Harga : Rp. 33.000,00

Harga Tobucil : Rp. 30.000,00

Dalam dunia jurnalistik, radio merupakan salah satu media komunikasi massa yang memegang peranan penting. Radio menyampaikan pesan dengan cepat dan akurat. Selain itu, radio bersifat personal sehingga pesan dapat dimaknai secara unik, pribadi, customized. Dunia radio sendiri begitu dinamis. Walaupun banyak pihak sempat meramalkan 'matinya radio' karena tergantikan oleh televisi, dalam perkembangannya, radio membuktikan diri telah berhasil bertahan. Radio bakan terus eksis, bertransformasi menjadi media yang semakin personal dan ini membuktikan kekuatan radio untuk mengikat khalayak dengan sentuhan emosional.

Google Twitter FaceBook

Jarak

-Tobucil, Senin 20 April 2009-

 

Seorang GM yang penulis puisi, duduk di beranda Tobucil; bukan Goenawan Mohammad, tapi Gunawan Maryanto. Sore itu, ia diundang Tobucil untuk membagi perasaan-perasaannya yang telah menyusun sendiri petualangannya; memaknai puisi melalui kumpulan puisinya yang bertajuk Perasan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya.

“Puisi itu nggak harus gelap, nggak harus bersayap-sayap, yang penting kita dapat menyampaikan sesuatu,” ungkap sutradara Teater Garasi itu. Melalui pemaparannya, puisi terdengar sebagai sesuatu yang sederhana, dekat, dan hangat. Energi menulis pun diperolehnya dari apresiasi dan kecintaan pembaca. “Saya seneng ketika saya bertemu dengan pembaca-pembaca saya,” katanya, lalu berkisah tentang salah seorang pembacanya yang meminjam nama lakon yang ditulisnya untuk nama anak.

“Jika puisi sangat jujur karena lahir dari realitas personal, apa yang membuat Mas Chindhil (nama panggilan Gunawan Maryanto) perlu mempublikasikan puisi-puisi Mas ?” tanya Ucok, salah seorang hadirin. “Yang personal itu disusun oleh sesuatu yang komunal,” jawab Mas Gunawan. Menurutnya, meski personal seperti buku harian, sejak awal puisi sudah menimbang orang lain, menimbang kaitannya dengan sesuatu yang lebih luas. “Saya percaya bahwa semua hal itu berkait. Semua itu ditumbuhkan dari satu dunia yang sama,” ujarnya.

“Kalau puisi itu dekat, menurut Mas Gunawan, puisi itu ada di luar atau di dalam ?” tanya Mas Paskalis yang lulusan Jurusan Filsafat Universitas Parahyangan. “Bisa di dalam, bisa di luar, yang penting terjangkau,” jawab Mas Gunawan.

Theo, penyiar Sky FM yang hadir juga hari itu, ikut bertanya, “Ada, tips, nggak, sih, supaya kita nggak terjebak sama penggunaan kata yang terlalu boros tapi dangkal makna ?” “Mediasi,” jawab Mas Gunawan. Menurutnya, ketika ingin disampaikan, ada baiknya perasaan dikeluarkan dulu supaya kita punya jarak dengan peristiwa itu. Dari sanalah pemangkasan atau bahkan penambahan kata dapat terjadi.

Ketika tak digenggam dengan posesif, perasaan punya ruang untuk bergerak. Namun juga, kita perlu berdiri cukup dekat untuk menyerap sari-sari yang mungkin menjelma jadi cikal bakal puisi.

Dekat juga jarak. Jarak yang cukup ideal untuk obyektif sekaligus subyektif. Jarak yang cukup ideal untuk menciptakan puisi; seperti tulis Gunawan Maryanto dalam salah satu puisinya, “Jarak bisa membuatmu melihat … ” (“Jarak”, halaman 15).

Sundea

 

gunawamaryanto

 

 

 

 

 

 

 

Gunawan Maryanto

Google Twitter FaceBook

Video Killed the Radio Star

 

-Tobucil, Rabu 22 April 2009-

“… and now we meet in an abandoned studio …”

Video Killed the Radio Star – The Buggles

“Saya menganggap buku ini sebagai oase di tengah padang pasir,” ujar Ferry Utomo, produser PR FM, menanggapi buku Jurnalisme Radio yang diluncurkan di Tobucil. Sebagai praktisi radio, Mas Ferry sadar betul sulitnya mempertahankan eksistensi radio. “Sekarang ini orang lebih suka buka facebook, misalnya, daripada denger radio,” curhatnya.

Coba bayangkan, Teman-teman, jika acara-acara lain di radio saja harus berjuang keras menjaring pemirsa, bagaimana dengan “jurnalisme radio” ? Acara tersebut tidak termasuk favorit. “Mungkin trauma RRI (Radio Republik Indonesia), karena setiap jam ada berita,” duga Nursawal alias Mas Al, reporter radio Deutsche Welle Jerman.

Di tengah semangat berradio yang mulai layu, Ibu Santi menerbitkan buku Jurnalisme Radio. Di sana ia memaparkan segala hal mengenai jurnalsime radio; mulai dari sejarah, teori, sampai tips-tips pelaksanaan. Namun, masih ada yang kurang, “akan lebih lengkap kalau di sini dilampirkan kode etiknya,” saran Mas Al.

Rata-rata peserta yang hadir pada peluncuran hari itu, adalah praktisi radio. Mulai dari anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sampai mahasiswa-mahasiswa penggiat Lab.Radio. Dengan antusias mereka mengemukakan pendapat dan pertanyaan mereka mengenai radio. Mulai dari yang serius sampai yang lucu-lucu. Mulai dari cara masalah undang-undang frekuensi, sampai praktisi radio yang secara konyol merekayasa noise. Pertemuan hari itu membuat para praktisi radio merasa tidak sendiri. Akhirnya Bu Santi menyimpulkan, “Sebetulnya jika radio bisa memelihara komunitas, ia pasti akan bisa tetap eksis …”

Melengkapi semangat yang mulai bangkit, Mas Al berharap, “Suatu saat, moga-moga teman-teman dapat mengatakan dengan bangga ‘saya wartawan dari radio mana’.” Amiiin …

And now we meet in an abandoned studio

We hear the playback and it seems long ago

And you remember the jingles used to go

Video killed the radio star, video killed the radio star

… tapi bintang yang mati hari ini, akan digantikan oleh bintang yang lahir pada hari berikutnya.

 

fotojurad

 

Sundea

Google Twitter FaceBook

Alka Si Penyelamat

 

-Tobucil, Minggu 26 April 2009-

Sore itu proyek ambisius KlabKlassik (KK) yang bernama Ririungan Gitar Bandung (RGB) terancam. Karena selain orangnya mendadak tak banyak yang datang, ternyata yang datang pun tak ada yang sudah menguasai materinya. Ada Tobuciler, Kang Trisna, Ina, dan Kang Aka yang sore itu harusnya sudah lancar memainkan Moliendo CafĂ©. Mestinya semuanya lancar. Lancar semuanya. Namun ketika Tobuciler memulai aba-aba agar semuanya main bersama-sama, yang ada hanya bengong satu sama lain, entah menunggu apa. Gitar yang harusnya terdengar bunyi-bunyi indah dan harmoni. Jadi bunyi “hah? hoh?” yang ternyata bukan keluar dari gitar. Lalu sekonyong-konyong Alka datang, umurnya baru sebelas, tapi ia rajin latihan. Datang-datang ia langsung duduk, dan tanpa ampun memainkan Moliendo CafĂ© seorang diri, membuat anggota RGB yang lain mengeluarkan bunyi yang sama, “hah? hoh?”. Tapi tenang, ternyata Alka tak pelit berbagi tips-tips memainkan lagu itu dengan baik dan benar. Mulai dari Tobuciler, Kang Trisna, dan Ina pun bergiliran Alka bimbing. ”Begini ya om, bas nya main di B, bukan E,” demikian kata Alka pada Tobuciler. Tobuciler pun patuh, bas nya di B, bukan E. Tiga puluh menit Alka melakukan masterclass, akhirnya ia pun memberi aba-aba. “1, 2, 3..” sekarang bukan hah hoh yang keluar, melainkan bunyi yang semestinya: Moliendo CafĂ©! Terima kasih Alka, umur ternyata tak jadi soal, keinginan untuk berbagi itulah, yang jadi soal. Latihan RGB berikutnya adalah 10 Mei, mari berlatih bersama, membawa semangat Alka si rajin nan bersahaja!

Syarif Maulana

fotorgb

Google Twitter FaceBook

Liputan D’Java String Quartet

 

“Dilarang memotret dengan menggunakan blitz, memotretlah dengan menggunakan kamera atau hape yang berkamera. Dilarang berbicara ketika lagu berlangsung, apalagi membicarakan kejelekan orang lain. Dilarang tepuk tangan sebelum lagu berakhir, apalagi jika cinta bertepuk sebelah tangan.”

Itu jelas bukan cuap cuap MC yang sedang membacakan protokol pertunjukkan musik klasik. Itu cuma khayalan Tobuciler yang berharap kadang-kadang boleh juga si MC berkata demikian. Biar suasana konser musik klasik lumayan cair lah, jangan terlalu tegang dan bikin gusar sana sini. Namun tanpa paragraf itu pun, resital D’Java String Quartet yang diselenggarakan 17 April kemarin ternyata tak sedemikian menegangkannya. Jika menengok blog Tobucil setidaknya dua tiga minggu ke belakang, nama grup tersebut sering disebut. Namun baru kali inilah, acara puncaknya alias pamungkas, diliput oleh Tobuciler.

Jadi begini, hari Jumat itu tanggal 17 April. Di Auditorium CCF mereka tampil. Mulai jam 19.30, penonton sudah memadati kursi sejak pukul tujuhnya. Ini luar biasa untuk sebuah pertunjukkan musik klasik, yang banyak musisinya menganut paham “setengah kapasitas pun udah syukur”. Memang, musik klasik seringkali identik dengan keseriusan dan keribetan, maka tak banyak orang mau sengaja datang, kecuali benar-benar orang yang serius dan ribet. Namun kebanyakan yang datang tahu, para penampil ini tidak murni demikian. Kuartet gesek yang diisi oleh Rama (biola), Dani (biola), Ade (cello) dan Dwi (biola alto) ini punya selera humor yang baik di atas panggung. Sebelum karya-karya mulai dimainkan, mereka seringkali memulainya dengan penjelasan. Penjelasan ini sungguh polos dan gamblang, dibawa santai dan ringan. Penonton pun senang aduhai bukan kepalang.

D’Java String Quartet membukanya dengan sebuah karya Mozart yang genit. Setiap nada seolah memanggil para penonton, “hay, godain kita dong.” Ini serius, menampilkan Mozart, seorang komposer besar era Klasik, memang mesti segenit mungkin. Setelah aplaus, keempat pemuda tak bertato itu giliran menampilkan karya seorang komposer yang suka galau, yakni Beethoven. Judulnya String Quartet no. 18, gerakan pertama. Jreeet tedodet tot tet tot tet jrooot. Tobuciler ingat betul nadanya. Memukau.

Sesi pertama ditutup dengan penampilan dua dua. Apa itu dua dua? Dari empat orang itu dibagi dua. Jadilah dua orang dua orang, alias dua dua. Yang pertama Rama dan Dwi bermain Passacaglia karya Handel, yang berikutnya Dani dan Ade memainkan lagu kontemporer karya Zoltan Kodaly, yang membuat penonton berkerut kerut penuh makna dan arti.

Selesai break, mereka tiba-tiba sumringah menghadapi sesi dua. Kenapa? Setelah ditanya, katanya mereka senang sudah melewati sesi pertama. Katanya sesi pertama lagunya berat-berat, yang sesi dua ringan-ringan. Dibukalah dengan karya Claude Debussy, seorang komposer Impresionis asal Prancis. Tet tot tot tet todedot tet tot tet. Luar biasa.

Setelah itu keempat pemuda belum menikah tapi ingin itu menampilkan lagu karya komposer asal Georgia (Tobuciler sempat mendengarnya seperti Yogya), bernama Tsintsadze. Empat bagian karya itu dibawakan D’java dengan apik, termasuk bagian akhirnya yang diceritakan Ade sebagai: lagu pengantar Hitler tidur.

Masuklah lagu terakhir, karya Antonin Dvorak (baca: Forzak). Berjudul “The American”. Panjang nian lagu itu. Mendayu-dayu. Kadang mengeras dan berteriak bagai orang teriak maling. Hingga akhirnya dengan cerdas mereka menutup lagu terakhir dengan bagian yang keras menggelora. Penonton pun bertepuk tangan panjang. Riuh. Bahkan hingga D’Java meninggalkan panggung. Eh penonton masih tepuk tangan juga. Sehingga keempatnya mesti naik lagi untuk meredakan tepuk tangan. ”Stop stop, eh udah tepuk tangannya, ga capek kalian?” itu Tobuciler berandai-andai mereka berkata demikian. Tapi tentu saja tidak. Mereka meredakannya dengan cara yang elegan, yakni: menampilkan Eine Kleine Nachtmusic-nya Mozart bagian keempat. Meski wajah lelah, tubuh lemah. Tapi Tobuciler tampaknya tahu bahwa hatinya cerah. Karena penonton terus memperhatikan dengan wajah antusias. Seolah lupa bahwa malam terus larut, besok anaknya harus sekolah, di rumah pembantu ditinggal sendirian, mobil yang parkir di BEC tutup jam sembilan, dan lain sebagainya. Lagu berakhir, acara pun berakhir, karena tepuk tangan sudah reda. Ada yang langsung pulang ada yang tidak. Yang tidak, masuk ke ruang ganti: menyalami mereka satu per satu, mengajak berfoto, dan bertanya-tanya entah apa, mungkin apakah kamu sudah punya pacar atau belum?

Demikianlah cerita dari konser D’Java String Quartet. Mari berharap kapan-kapan mereka bisa kembali lagi. Mencerah ceriakan Bandung yang sudah cerah ceria tapi belum terlalu. Keep Bandung Beautiful, euy!

Syarif Maulana

Djavadphoto

foto dok. Tarlen

Google Twitter FaceBook

Sidik Jariku, Tersayat Pisau Buah

 

Sidik jari jempolku disayat pisau buah yang menjadi manis karena terkena getah dari nangka yang baru saja dibelahnya

 

fotojaridanpisau 

Darahku mengalir agar hanya kental merahnya yang dapat mewakili aku

Bahkan sampai garis – garisnya tidak mengenal lagi milik siapa dia
aku tak bisa membubuhkan sidik jari jempolku pada kertas putih
tanda tangan menggantikan identitas yang kubuat sendiri
Hingga
perwakilan diri dipermudah dengan budaya titip absen
untuk para mahasiswa yang telat bangun atau tidak mau bangun

Ketua kelas sudah biasa mewakili mereka dalam kehadiran proses pembelajaran tanpa dosen
ketua kelas bebas memegang kapur untuk menggoreskan turus pada papan tulis
ia bebas menaruh garis berapa pun,
bahkan bebas menciptakan pola

Lama – lama , kulihat nanah keluar dari jempolku

Hey….sebentar
Aku mau lihat bagaimana bentuk tanda tanganku yang kau wakilkan…!
sementara daftar absen sudah masuk dalam lemari besi yang kombinasi angkanya sudah hilang karena terbentuk dari tanggal kenaikan kelas yang terkurung dalam sejarah

Suatu saat aku ingin mengambil nilaiku, yang kuyakini bagus tanpa kehadiranku di kelas
tapi ternyata ku tak bisa mendapatkan apa – apa
kata mereka aku tidak dapat menunjukan siapa diriku
aku individu yang kehilangan nilaiku sendiri !

Perih di jempol kananku menahan lirih kata hatiku yang di bentuk oleh kepasrahan
Kebungkaman membuatku hanya menahan perih di ujung bibir kering
tawaran satu – satunya adalah pintu keluar yang terbuka di ruang kelasku
yang terdiri dari susunan bangku – bangku yang juga diatur oleh ketua kelas
ia memegang denahnya, karena takut tak mengenal siapa teman yang duduk disampingnya

Ahkirnya satu – satunya pilihan kulalui
pintu keluar terbuka lebar tanpa ada cahaya yang masuk
namun saat ku keluar
aku lihat genangan darah
dari teman – temanku yang telah mengadahkan tangannya
untuk disayat sidik jarinya

Aku ingin marah dan meyadarkan mereka
tapi ternyata teman – temankupun senang menghisap jempol
aku rasa darah membuatnya tampak manis karena merah warnanya
Aku hanya ingin memotong jempol tanganku
agar tak satu orangpun yang pantas ku acungkan jempol
karena tak ada yang berani menjaga pola sidik jari mereka yang sudah ada sejak berani lahir ke dunia ini
dan supaya takkan pernah darah keluar dari jari jempolku lagi
yang akan disayat untuk kesekian kalinya


Apa yang sebenarnya kau rasakan teman ?

 

fotoanex

 Andreas Anex adalah mahasiswa arsitektur Universitas Parahyangan. Ia memercayai pentingnya kesadaran dalam menjalani keseharian. Itu sebabnya, Anex yang menyukai filsafat ini tak pernah jemu mencermati dan mencatat segala hal yang terjadi dalam kesehariannya. Silakan berkunjung ke rumahnya di http://aneksophie.multiply.com

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

Kursi Ramah Bertangan Satu

 

salamatahari Pada suatu hari, Dea dateng ke kantor Progres, tempat kerja waktu itu. Pas duduk di ruang tunggu, ada yang negur-negur Dea.

“Pssst…”

Dea clingak-clinguk nyari arah teguran itu.

“Pssst…Hei…”

Pas ngeliat lurus ke depan Dea, ada kursi bertangan satu yang senyum sambil ngelambai ke Dea. “Hei…,” bales Dea. Dea langsung suka sama Si Kursi, soalnya dia ramah dan anget. Dia bikin ruang tunggu Progres jadi anget kayak ada api unggunnya. “Kok kamu di sini? Bukannya kursi-kursi kayak kamu biasanya ada di ruang rapat?” Dea nanya. Si Kursi ketawa terus njawab, “Aku ‘kan nggak sempurna, tanganku cuma satu.” Di nada suaranya sama sekali nggak ada kesan minder , marah, ato satir. Tapi Dea malah jadi nggak enak, takutnya diem-diem Si Kursi sebenernya tersinggung. Masalahnya ruang rapat itu ada persis di sebelah dia. Nggak ada pintunya, lagi. Artinya, Si Kursi bertangan satu itu bisa setiap saat ngeliat temen-temennya yang masih pada ada di sekeliling meja rapat.

“Tenang aja. Aku nggak apa-apa, kok, aku seneng ada di sini,” kata Si Kursi bertangan satu. Dia keliatannya bisa ngebaca ekspresi nggak enak Dea. “Aku bersyukur masih punya satu tangan, paling nggak aku bisa dadah-dadah sama kamu. Lagian kalo nggak duduk di sini, aku nggak akan bisa nyapa kamu ‘kan? Seneng juga, lho, dapet kesempatan jadi penerima tamu,” sambung Si Kursi bertangan satu. Dea ketawa kecil ngedenger penjelasan dia. Dia positif thinking sekali ternyata.

Nggak berapa lama kemudian, Si Kursi bertangan satu itu diangkut ke ruang laen. Waktu diangkut, Si Kursi masih sempet dadah-dadah lagi ke Dea sambil senyum dengan tulus. “Daaah…,” bales Dea. Selama beberapa menit Dea ngerasa keilangan dia banget. Ruang tunggu Progres jadi dingin lagi.

Trus tau-tau Dea dipanggil ke ruang kerja . Ternyata Si Kursi ramah bertangan satu itu ada di situ. Dia langsung dadah-dadah ke Dea,” Hei…hei…kamu ke sini juga…” Dea seneng banget. Lebih serunya lagi, kursi itu emang buat tempat duduk Dea.

Ternyata dia emang nyaman banget didudukin. Pasti karena dia baik. Iya, bener, pasti karena dia baik. Siapapun yang baik ‘kan bisa bawa kenyamanan buat sekelilingnya.

Dea ngusap-ngusap tangan Si Kursi yang cuma satu itu. Tangan Dea jadi anget juga. Semoga itu artinya anget dan energi positif Si Kursi ketransfer ke Dea.

 

Sundea

Google Twitter FaceBook

Boleh Bertanya, lho …

Tanyakan Apa Saja

Cihuy ! 2 Mei mendatang, Tobucil genap berusia 8 tahun. Untuk menyambutnya, Tobucil mengundang Teman-teman untuk ikut terlibat. Silkan kirimkan kritik dan saran atau apaaaaaaaaaaaa pun yang ingin kamu tanyakan kepada Tobucil ke tobucil@gmail.com. Boleh serius, boleh juga garing. Kami akan menjawabnya di blog Tobucil sepanjang bulan Mei.

Ditunggu, ya, Teman-teman, tak ada kesan tanpa kehadiran interaksimu ^_^

Dari Klabs :

Madrasah Falsafah :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 29 April 2009
dengan tema “Logika Proyek"

Rabu, 29 April 2009
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Upcoming Madrasaf Filsafat : Pergerakan

Klab Nonton :

2 Mei 2009, Mulai Pk. 18.15
The Filth and The Furry (Sex Pistols)
Sutradara Julian Temple/ 103 menit

The Filth and The Fury, film dokumenter karya Julian Temple, menjadi potret yang penuh kejutan dan kontroversial dari superstar punk, Sex Pistols. Dokumenter ini dimulai dari masa 70'an di London sampai saat-saat penting dalam perjalanan karir Sex Pistols, dimana media memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk image Sex Pistols sebagai "The Most Notorious Punk Band in The World". Lewat film ini, kita juga dapat melihat bagaimana konteks sosial politik Inggris di tahun 70'an saling mempengaruhi perjalanan band seperti Sex Pistols.

untuk melihat informasi mengenai Klab Nonton bulan Mei, klik di sini

Dari luar rumah :

sepuluh ke sepuluh
"garage sale"

Hari/tanggal : Selasa, 28 April 2009 – Senin 04 Mei 2009

Jam : 10.00

Tempat : Lorong Baca Bookmart Sabuga, Tamansari, Bandung.

bazzar barang-barang yang dihasilkan atau di jual oleh pegiat komunitas bandung
akan ada:
bazzar buku murah (bacabaca, lawang buku)
jual barang hand made (tobucil & klabs, omuniuum)
garage sale (teralista)
majalah impor murah (omuniuum)
juga diisi oleh:
pemutaran film, konsultasi kesehatan, workshop spontan (sablon, dll), turnamen pingpong dan acara lain yang bisa tiba-tiba terjadi
sebagian keuntungan akan diberikan kepada komunitas taman kota untuk mendukung sekolah taman " ditaman"

cp: wiku 022-70990497
ajo 081322277065
nb: pendukung event masih bisa bertambah juga pengisi acara juga penjual barang...jadi panteng terus pengumumannya...

garagesale

World Book Day Bandung

Mau NoFI (nonton film) Sambil NgoFI (ngobrolin film)?
Datang aja ke acara World Book Day Bandung 2009 di Autorium Gd Pastoral tanggal 30 April s.d. 2 Mei 2009 dari jam 9 sampai jam 4 sore. Seru loooh, Kamu bisa nonton Film film bagus… GRATIZZZ... Tanggal 30 kamu bisa nonton film Crash jam 10 dan Babel jam 1 diterusin sama NGOFI (ngobrol Film) bersama Tobing Jr (My Cinema), Ka Abdul Hakim (Direktur Eksekutif PSIK Indonesia ) dan Bapak Fabianus* (Dekan Filsafat Unpar)..
Terussss… tanggal 1 Mei kamu bisa nonton Code Unknown jam 10 dan Roma jam 12.30 terakhir, yaitu tanggal 2 Mei kamu bisa nonton jam 09.30 Gandhi dan Le Grand Voyage jam 1. Pokoknya filmnya seru dan berilmu. Kamu ga hanya dapet hiburan aja, Tapi dapet juga pengetahuan dan pemahaman yang pastinya bermanfaat.. disana juga ada bazaar buku dan pameran karya penulis Bandung…


Datang yaaaa.. ajakin juga sobat-sobat kamu, kaka, Aa, Teteh, Ibu, Nenek, Kakek, Bapak, Tetangga, Sepupu, Anak Tetangga juga boleh… pokonya semua boleh ikut (untuk remaja yaa..)… tempatnya muat koq… kamu tinggal datang aja ke Auditorium Gd. Pastoral Jalan Jawa No 6 Bandung.. kamu akan disambut oleh panitia-panitia yang ramah, baik, dan lucu…..
Jangan lupa yaaa.. kami tunggu kehadiranmu…..


Acara ini diselenggarakan Balepustaka, organized by Dipan Senja. Didukung oleh Kineruku, Tobucil, MyCinema, PSIK Indonesia. Disponsori oleh Potluck coffee bar and library, Himaka Unpad, Lawang Buku. media partner Kampus Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, dan SKY FM Radio
Untuk keterangan lebih lanjut bisa menghubungi Yohannes (087 821 700 894) dan Neneng (085 222 762 462)
* dalam konfirmasi.

Kampanye Kesadaran Berpikir Kreatif

Menurut Prof Dr. Primadi (pakar pendidikan) proses belajar yang sesungguhnya adalah ketika manusia memanfaatkan “anugerah ilahi” untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut melalui Interaksi yang menarik antara keduanya.Proses belajar yang baik adalah juga proses kreasi yaitu ketika anak mampu membayangkan sebuah persoalan, memetakannya dan mencoba mencari alternatif jawaban secara spiritual dan intuitif dengan menggunakan seluruh kemampuan berpikirnya. Berpikir dengan rupa / Imajinasi inilah yang akan memungkinkan anak mencari alternatif solusi dan kemudian mampu menimbang sesuai skala prioritas untuk keputusan yang paling optimal.


Pembicara : Luna Setiati S.Sn

Hari Sabtu 2 Mei, Pk. 08.30-14.00

Tempat : Ruko Pondok Baca Arcamanik Lt. 2, Jln. Ruko Arcamanik Endah III no.5

telpon : 02276081157

email : bumilimas@cheerful.com

biaya hanya Rp. 100.000,-.

Fasilitas: makan siang, snack 1 x dan sertifikat, hand out

berpikirkreatif

Rubrik :

Papantulis :

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Fotobucil :

Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Bacakotabandung :

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Visual Diary

Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya ...

Ikuti pula polling rubrik favorit di blog Tobucil ^_^

Google Twitter FaceBook

Sunday, April 19, 2009

Kartini, Kartitu

 

Perempuan dibentuk konstruksi menjadi obyek yang diamati. Mereka diajari mempersolek diri dan menunggu untuk dipilih. Kesadaran menjadi display yang pasif, diadaptasi sebagai kehormatan. “Ini kami,” ungkap para Kart-ini, memamerkan diri sendiri.

 

Hingga pada suatu masa, dari antara para Kart-ini, lahir seorang Kart-itu. Ia punya kesadaran untuk berdiri di tempat lain. Bukan sebagai obyek yang diamati, ia memilih menjadi subyek yang mengamati. Posisinya memungkinkan ia membaca cermin-cerminnya secara kritis. Melalui para Kart-ini, Kart-itu pun membaca dirinya sendiri, “Apa itu ? Mengapa harus begitu ?”

 

Perempuan yang berani menjadi subyek adalah perempuan yang mempunyai kesadaran untuk berbalik badan dan keluar dari mainstream. Itu sebabnya, Raden Ajeng Kartini yang sesungguhnya telah menjelma jadi Raden Ajeng Kartitu layak dirayakan.

 

Selamat menyambut Hari Kartini, 21 April,

dan selamat menyambut Hari Bumi, 22 April.

Omong-omong soal perempuan, bukankah bumi pun dikenali sebagai “Mother Earth” ?

Salamatahari, semogaselalucerah dan hangat,

Tobuciler

 

tangkeciltangbesar

Google Twitter FaceBook

Warna-warni dan Puisi Theoresia Laratwaty Rumthe

 

theosatu Petang sedang cerlang ketika Theoresia Laratwaty Rumthe datang. Pemandu acara Book Club di Sky 90,50 FM ini duduk-duduk di beranda. Sambil menanti madrasah filsafat dimulai, Tobucil dan Theo mengobrol banyak ; mulai dari kesukaannya terhadap warna-warni sampai puisi.

 

Tobucil : Pertama kali ke Tobucil kapan, The ?

Theo : Umhh … sebelum Tobucil pindah, kali, sekitar dua taunan yang lalu, waktu masih di KGU (Kyai Gede Utama). Pas gua interview Mbak Tarlen, kan Mbak Tarlen ngejelasin tentang Tobucil. Gua tertarik, ‘ada tempat lucu, nih’. Ga berapa lama kemudian, gua kunjungan.

Tobucil : Terus, gimana kesan lo ?

Theo : Yang paling catchy lukisan sama warna-warna bukunya. Terus di ruang yang sempit itu ada syal warna-warni. Waktu pertama kali dateng, gua langsung nyoba-nyobain syal gitu, Bo, terus … udah. Gua emang seneng warna.

Tobucil : Kenapa seneng warna ?

Theo : Warna itu gua banget. I’m colorful. Contohnya, ketika gua lagi nggak mood dan buntu untuk ngelakuin sesuatu, warna itu akan bikin gua bergairah lagi. Jadi yang gua lakuin adalah, gua ambil majalah, cuma untuk liat warna-warna di majalah itu, terus udah.

Tobucil : Apa yang bikin warna-warni ngasih lo gairah ?

Theo : Apa, ya … ? (berpikir) Ada … semangat aja di warna. Contohnya … gimana, ya … ? Jadi kayak misalnya … waktu ngeliat si warna, mata gua berbinar-binar. Untuk keseharian gua, gua memilih untuk memakai asesoris yang berwarna. Pas bangun, kalo nggak semangat, gua akan mengambil asesoris berwarna dan itu akan membantu mood gua sepanjang hari.

Tobucil : Wah … lucu juga, ya. Terusterus, selain suka warna, kan lo juga suka puisi. Menurut lo, puisi sama warna ada hubungannya, nggak ?

Theo : Puisi itu … berwarna kalau menurut gua, soalnya puisi bisa merepresentasikan hati gua yang berwarna … cieeee …. (tertawa renyah).

Tobucil : Hehehe … tapi, ya, yang bisa berwarna kan banyak. Misalnya nggambar, berkebun, terus kenapa yang ngerepresentasiin hati lo itu puisi ? Apa yang istimewa dari si puisi itu ?

Theo : Pada dasarnya, gua seneng sesuatu yang nggak ribet, simple, tapi berbicara lebih keras dibanding apa yang gua rasa. Mungkin gua nggak suka berkebun karena ribet kali, ya …

Tobucil : Terus, katanya lo kan mau bikin acara puisi, nih … cerita dikit, dong …

Theo : Oh, iya. Acaranya di Potluck (Jl. H. Wahid No 31 Bandung), tanggal 22 April jam lima sore sampai dengan selesai. Judulnya “Puisi untuk Perempuan”. Berawal dari kita (Theo dan teman-teman di Sky FM) mikir, ‘Pokoknya Book Club harus eksis. Harus bikin sesuatu’. Kita mulai dari yang gua suka dulu. Puisilah yang gua suka, makanya tercetuslah ide ‘Puisi untuk Perempuan’, dua hal yang gua suka … hahaha … narsis …

Tobucil : Hehehe … gapapa. Untuk gini-ginian narsis masih halal, kok. Btw, kenapa ‘perempuan’ ?

Theo : Dari dulu gua emang punya hati sama perempuan. Bukan berarti gua penyukan perempuan,ya, tapi gua emang pengen menyediakan wadah dalam kehidupan gua, bagi para perempuan, supaya kita bisa belajar dari kehidupan mereka.

Tobucil : Cieee … menurut lo, apa yang spesial dari perempuan ?

Theo : Perempuan diciptakan setelah laki-laki. Biasanya, yang diciptakan setelahnya itu lebih aja …

Tobucil : Hmmm… gitu, ya. Siapa aja yang bisa dateng ke acara lo ?

Theo : Siapapun. Penikmat puisi dan penyuka perempuan pastinya. Kita nyediain 50 tiket bagi siapapun yang mendaftar ke Sky; tiket ini berharga minuman. Tapi acara ini terbuka untuk umum, kok …

Tobucil : Terus, kira-kira format acara ‘Puisi untuk Perempuan’ ini gimana ?

Theo : Simple banget. Kita mengundang tiga orang perempuan : Violetta Simatupang, dosen, penulis juga, terus Anjar, penulis, terus Desiyanti Wirabrata, penyiar PR FM dan penikmat puisi. Mereka diharapkan akan membacakan karya pribadi mereka tentang perempuan, terus … dibahas, deh … waktu mereka nulis, kira-kira ada, nggak, perasaan pribadi yang masuk, pengalaman pribadi yang masuk …

Tobucil : Pasti adalah, The … puisi kan personal dan sentimentil. Kalo orang lagi sedih ato jatuh cinta misalnya, rata-rata nulisnya kan puisi, bukan esei … hehehe … menurut gue, sih, esei biasanya tahap selanjtunya, pas orang udah agak berjarak dari perasaan sentimentil tertentu itu …

Theo : Wah … bener banget. Berarti gua sentimentil setiap saat, dong … hahaha …

Tobucil : Oh, iya, ya, secara elo kan nulis puisi mulu … jadi iya, The ?

Theo : Hahaha … enggak, enggak … mustinya pertanyaannya gini, ‘Berarti elo orangnya personal, dong, The ?’ Cieee … gua emang orang yang intim. Misalnya, gua bisa berteman lamaaaa … banget sama seseorang. Kayak gua masih deket sama temen-temen kecil gua di Ambon, gua masih sering nelfon, tanya kabar. Gua jarang deket banget sama orang, tapi kalo udah deket, pasti dalem banget. Itu juga … aduh … nggak usah aja, deh … (mendadak tersipu-sipu)

Tobucil : Eh, usah … nanggung, The … apaan ?

Theo : Ada Si Mang … (melirik Mang Cuankie yang juga duduk di kursi beranda menonton kami mengobrol).

Tobucil : Ah, nyantai aja sama dia mah, The … hehehe …

Theo : Ng … sebenernya sama kayak yang tadi itu. Gua jarang deket banget sama orang, tapi kalo udah deket intim banget. Gua juga susah jatuh cinta, tapi kalo udah jatuh cinta daleeemmm … banget.

Tobucil : Sekarang lagi jatuh cinta, nggak ?

Theo : Iiii … kok gitu, sih, pertanyaannya ? (tersipu lagi) Ya … gitu, deh … sedang. Lagi. Tiap hari.

Tobucil : Huhuy … kepada siapa, niii … ?

Theo : Seseorang berbaju putih di luar sana.

Tobucil : Nggak warna-warni, dong …

Theo : Karena gua udah warna-warni juga, kali, ya … jadi gua seneng aja liat seseorang yang beda sama gua.

Tobucil : Wah, siapa, ya, yang berbaju putih itu … ?

Theo : Pokoknya dia berbaju putih. Gua selalu nyebut dia gitu. Itu aja clue-nya.

Tobucil : Hehehe … baiklah, baiklah …

Warna-warni selalu mencari bidang kosong untuk dilimpahi kehadirannya. Tak heran jika Theo yang secara natural berwarna-warni seperti bias pelangi, tertambat pada “seseorang berbaju putih di luar sana”.

Eh … tapi, ya … hari itu Mang Dadang the Cuankie Man juga berbaju putih, lho … apakah itu berarti … (senyum kegosip-gosipan)

Sundea

fotoduafototiga

Google Twitter FaceBook

Buku Kartini, Pin Bumi

 

coverkartini Judul Buku : Kartini, Sebuah Biografi

Pengarang : Sitisoemandari Soeroto

Harga buku : Rp. 60.000,00

Harga Tobucil : Rp. 54.000,00

 

Ny. Sitisoemandari Soeroto telah mengadakan studi tentang Kartini. Beliau menamakannya "sebuag Biografi". Sungguh suatu bagian titel yang rendah hati bagi suatu pekerjaan yang monumental ini. Bagian titel ini mestinya berbunyi: "Suatu Biografi serta analisa dari zamannya".

Sebuah studi sekitar 450 halaman, disusun dan dikembangkan secara sistematis, di sertai sumber-sumber data serta kepustakaan yang luas, membuat karya ini sangat berharga bagi para ahli sejarah.

Review diambil dari sini

 

Selamat hari Kartini … (21 April)

-----

Pin Bermotif “Love the Earth”

Harga : Rp, 7000,00

Milikilah pin imut bermotif cinta bumi untuk menyambut hari bumi. Selamat Hari Bumi … (22 April)

 

IMG_0654
Google Twitter FaceBook

Legoh : Loving Endlessly, GOing with Heart

 

-Tobucil, Rabu 15 April 2009-

 

Menjelang madrasah filsafat, kurir Rumah Makan Legoh muncul di Tobucil. “Ini ada kiriman,” katanya sambil menyerahkan kresek putih berisi tiga tumpuk bingkisan makanan. Rupanya pada tanggal 14 April lalu, Leon, pemilik Legoh yang juga drummer band Koil, berulang tahun. Dengan manisnya ia tahu-tahu mengirimkan paket nasi dan dua bingkis pisang keju aroma, khusus untuk Tobucil. Masyarakat Tobucil langsung terharu. Setelah menitipkan ucapan terima kasih dan selamat ulang tahun melalui kurir Legoh, Tobucil melepas kepergian sang kurir.

 

Legoh memang menjadi Rumah Makan langganan Tobucil hampir satu tahun ini. Kelezatan makanannya senantiasa membuat kangen. Salah satu menu andalannya adalah ayam rica dengan bumbu yang gurih, pedas, dengan sedikit cita rasa manis dan harum rempah. Ada pula kwetiau asin dan manis yang selalu pulen.

 

Salah satu favorit Tobucil adalah pisang  keju aroma. Tampaknya Legohers mencermatinya. Itu sebabnya, di hari ulang tahun bos mereka, penganan itulah yang mereka kirim ke Tobucil sampai dua bingkis.

 

kejuaroma

 

Selain menawarkan kelezatan, Legoh pun menawarkan kehangatan pelayanan dan persahabatan. Jasa antarnya yang terbilang cepat sudah tentu mempermudah akses. Di tengah hujan deras pun, tim Legoh selalu siaga mengantar pesanan. Pernah pada suatu hari yang hujan dan berpetir, tim Legoh mengusahakan datang naik mobil ke Tobucil untuk mengantar pesanan. Kesungguhan-kesungguhan semacam ini terpatri di hati Tobucil dan membuat Tobucil menyayanginya lebih daripada sekedar rumah makan yang berjarak. Secara khusus Tobucil membuat akronim dari namanya : Loving Endlessly, Going with Heart.

 

Kamu pun bisa menjadi sahabat Legoh. Silakan berkunjung ke sini untuk tahu lebih banyak tentang Legoh.

 

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Leon…

Segenap kemungilan Tobucil mengirimkan doa; semoga kasih sayang yang diberikan Legoh kelak kembali kepadamu dalam bentuk yang lebih istimewa …

Sundea

Iseng-iseng tidak berhadiah : pada tanggal 13 April 2009, ada salah satu Teman Tobucil lain yang berulang tahun. Ini fotonya. Clue : beliau adalah salah satu tim juri Klab Nulis Angkatan IV.

Ayo tebak siapa ini. Jika rajin mengikuti blog Tobucil, kamu pasti tahu … ;)

 

siulangtaun
Google Twitter FaceBook

Crayon Sun (Safe at Home)

 

-Tobucil, Jumat 17 April 2009-

 

Menulis Kreatif untuk Anak-anak

“Choose new colors, turn the page …”

Crayon Sun (Safe at Home) – Michael Franks

“Inget, ya, Reni jadi Tata, personil Mahadewi umur 23 taun, dan Kayla jadi Amel, anak SMP umur 13 tahun,” kata Tobuciler sebelum membawa Kayla dan Reni, peserta “Menulis Kreatif”, berjalan-jalan ke Bandung Indah Plaza (BIP). Kenapa Tata dan Amel ? Karena kedua tokoh itulah yang ditetapkan oleh masing-masing Reni dan Kayla, untuk tulisan yang mereka buat sepanjang program menulis kreatif. Hari itu, untuk memperkuat karakter tersebut, Kayla dan Reni diajak bermain peran; berjalan-jalan ke BIP sebagai karakter ciptaan mereka.

 

“Ceritanya Amel dapet hadiah kuis, jalan-jalan sama Tata Mahadewi. Amel ngefans, nggak, sama Tata ?” tanya Tobuciler. “Enggak juga,” sahut Amel alias Kayla. “Lah … terus, kok, bisa ngikut kuis ?” tanya Tobuciler lagi. “Ceritanya kan dibilanginnya cuma dapet hadiah jalan-jalan sama artis, tapi nggak tau artisnya Tata Mahadewi … hehehe …” sahut Kayla.

 

Tapi, ya, Teman-teman, Reni dan Kayla tetaplah Reni dan Kayla. Sepanjang perjalanan, mereka mendadak lupa pada peran mereka masing-masing. Kak Upi dan Kak Ester, dua kakak yang sengaja diajak untuk berperan sebagai Kru Reality Show, akhirnya mengikuti ritme; menjadi kakak-kakak yang menemani dua adik berjalan-jalan di BIP. Kayla dan Reni yang masing-masing duduk di kelas lima dan empat SD tersebut berjalan sambil berlari-lari, menatap penuh minat pernak-pernik di gerai Strawberry, memilih-milih roti, bergandengan sambil tertawa dan berbisisik-bisik, hingga akhirnya menanti hujan reda di rumah makan cepat saji McDonald.

 

Keduanya memesan makanan, kemudian bereksperimen. Setelah mencoba kentang goreng yang dicolekkan ke es krim, Kayla mencoba es krim yang diolesi sambal. “Emang rasanya enak ?” tanya Reni. “Enggak,” sahut Kayla. Namun, ketidakenakan itu mungkin punya sensasi tersendiri yang membuat Kayla mengolesi es krimnya dengan sambal lagi dan lagi. Reni pun mengikuti keeksperimentalan Kayla. Ia mencelupkan kentangnya ke dalam McFlurry. “Rasanya asin sama seger,” ujar Reni. Pada akhirnya, eksperimen Reni atas indera pengecap semakin brutal. Tiba-tiba saja ia menggigit tutup gelas McFlurry-nya seperti ini :

 

renrengmakangelas

 

 

 

 

 

Aneh-aneh saja.

 

Hujan reda menjelang pukul enam. “Minggu depan, tulis pengalaman jalan-jalannya, ya,” pesan Tobuciler. Reni dan Kayla mengangguk.

 

Kami pulang berjalan kaki. Angin sisa hujan meniupkan perdamaian, langit abu-abu muda mengisyaratkan jam istirahat, kendaraan yang berlalu-lalang mulai mencelikkan lampunya ; mata mereka, suara adzan sayup berkumandang seperti nyanyian. Dua peserta “Menulis Kreatif untuk Anak-anak” mengindera. Entah sebagai Reni dan Kayla, atau sebagai Tata dan Amel, pada akhirnya jadi tak penting lagi.

 

Dalam hati, Tobuciler menyenandungkan lagu “Crayon Sun (Safe at Home)” – nya Michael Franks,

 

Makes no difference where you go
Every journey ends.
Each new landscape now you know.
Is a stepping-stone
’till you're safe at home.

 

…. ketika kami menginjak halaman Aceh 56, langit sudah abu-abu tua.

 

Sundea

pulang

Google Twitter FaceBook

Puisi-puisi Theoresia Rumthe

 

Layanglayang

layanglayang putus, terbang tanpa tali.
berapa kali ?

(1 April 2009, 16:25)

Sayap Satu

Terbang dengan sayap satu,
takmungkin atau ragu.
Terbang dengan sayap satu,
lewati mimpi, angan, dan laku.
Terbang dengan sayap satu,
tinggitinggi lampaui duniaku.
Terbang dengan sayap satu,
biar mereka tahu, diam, lalu malu.

(24 Maret 2009, 21:24)

 

Sayap Satu (Part two)

sayap satu merayap rapuh melepuh
melayang utuh di legam malam
belum mati masih kuat berdiri.
(25 Maret 2005, 14:33)

 

Utuh

sayap satu melayang utuh
tegap angkuh di awan jingga
ia tidak butuh, sungguh!
hari ini, esok, selamanya
ia sudah utuh.
(26 Maret 2009, 14:43)

 

Satu Senja

harusnya; cinta haram pudar
kalau wanginya saja mengakar.
(5 April 2009, 18:24.)

 

fototheo Theoresia Rumthe adalah penyiar Sky 90,50 FM yang menyukai warna-warni dan puisi. Simak acaranya, Book Club, di Sky FM, setiap hari Selasa pukul 19.00 – 21.00.

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

Membuat Hidup R.E Hartanto Berbudaya

-Dago, Sabtu 18 April 2009-

Berbondong-bondong pasukan dari Tobucil menyambangi rumah R.E Hartanto sang pelukis kondang. Di hari ulangtahun Mas Tanto itu, tim Tobucil membawa hadiah ; D’ Java String Quartet. Empat mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogya yang baru saja tampil di auditorium CCF Jumat (17/4) lalu, secara khusus ditanggap untuk Mas Tanto. “Pasti akan sangat berkesan. Saya ngerasa idup saya jadi berbudaya …,” tanggap Mas Tanto bungah.

mastanto

Setelah mengaso sejenak, AdI Ade, Dwi, Dani, dan Rama langsung mempersiapkan “perlengkapan perang” mereka. “Kita nggak bawa stand plat, nih, pake apa, ya, buat partiturnya ?” tanya Syarif, sang manager yang tampak lebih heboh daripada artis-artisnya. “Pake ini aja bisa ?” Mas Tanto mengajukan meja ruang tamu. Proposal diterima. Artis-artis kita pun menjajar partitur mereka di meja ruang tamu.

D’Java String Quartet membawakan dua nomor ceria. Yang pertama sebuah komposisi dari W.A Mozart dan yang berikutnya komposisi dari Beethoven. “Ini dibuat sebelum Beethoven tuli,” kata Adi Ade sang pemain cello. Dibanding komposisi-komposisi yang dibuatnya setelah tuli, lagu tersebut terdengar lebih positif dan ceria.

hadiahulangtaun

Meski partitur ketat mendikte nada-nada yang harus dibunyikan, keempat teman kita tidak menjadi kehilangan ekspresi. Mereka mengoptimalkan ruang improvisasi yang mungkin, sehingga musik mereka tetap dapat berkomunikasi dengan pemirsa. Suara empat alat musik string mereka yang padu terdengar seperti derap kuda sembrani yang mengajak setiap penonton naik ke atas punggungnya. Penonton diajak merasakan derap; ikut berlari; lalu terbang. “Saya jadi meletup-letup,” kata Mas Tanto dengan mata berbinar.

Setelah kedua lagu selesai, penonton bertepuk tanga dengan riuh. “Aduh, makasih, ya, saya seneng banget. Bener, lho, saya jadi merasa berbudaya,” kata Mas Tanto sambil menyalami keempat personil D’Java String Quartet lalu memeluk Mbak Tarlen, bos Tobucil.

Ketika D’Java String Quartet sedang mengemas alat musik mereka, Tobuciler menghampiri. “Sebelumnya udah pernah main untuk ulangtaunan belum ?” tanya Tobuciler. “Belum,” sahut mereka hampir bersamaan. “Gimana rasanya main buat ulangtaunan ?” tanya Tobuciler lagi. “Lebih nyantai, lebih banyak makanan dan minuman,” seloroh Dwi, pemegang viola. “Ekspresi-ekspresinya lebih insidental. Yang liatnya ada yang lagi minum, ada yang lagi ngapain, kalo di konser kan lebih tegang, kayaknya semua udah pasti begitu,” ungkap Rama, pemain biola. Hmm … mungkin secara esensial, setiap musik memang milik ruang kecil, ya. Sebab sepertinya musik adalah bahasa yang selalu mencari lawan bicara personal untuk berkomunikasi.

Di sela-sela obrolan tersebut, Mas Tanto muncul. “Ini rokok siapa, sih ? Bagi, ya …,” katanya sambil mencomot rokok yang tergeletak di hadapan keempat artis kita. Suasana berbudaya ala bangsawan pun pulang kepada realitas; pada budaya negara berkembang dunia ke tiga.

Anyway, selamat ulang tahun, ya, Mas Tanto …

Semoga ada letup-letup musik D’Java String Quartet yang tetap tinggal; membuat karya-karyamu terus meletup penuh kejutan seperti soda yang tak pernah surut …

Sundea

Google Twitter FaceBook

Seminggu Bersama D’Java String Quartet

Tanggal 17 April di Auditorium CCF kemarin, Bandung disuguhi gelaran istimewa, yaitu konser D’Java String Quartet (DSQ). Kuartet gesek asal Yogya ini tampil memukau dan membuat CCF penuh sesak bagaikan antrian sembako. DSQ, kala di panggung tampil perkasa dan nyaris tanpa cela. Penonton pun di penghujung konser melakukan tepuk tangan panjang yang artinya minta tambah lagu lagi. Lalu sesudahnya, grup yang terdiri dari Danny (biola), Rama (biola), Ade (cello), dan Dwi (biola alto) itu dikerubuti penggemar yang ingin berfoto, bersalaman, minta tanda tangan, atau mungkin juga menusuk dari belakang. Intinya, hari itu DSQ menjadi bintang dalam semalam. Tobuciler, yang membantu mempersiapkan konser mereka, senang dengan hal ini. Karena apa? Karena Tobuciler kurang lebih tahu bahwa persiapannya sungguh tak mudah. Dalam persiapan itu pula, Tobuciler menemukan bahwa musisi klasik juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati. Berikut petikan agenda yang sempat dicatat Tobuciler tentang keseharian mereka baik sebelum maupun sesudah konser:

Minggu (12/04): Menurut jadwal kereta, mereka mestinya datang pukul enam pagi. Tobuciler yang takut kebablasan kala menjemput mereka, memilih untuk begadang main kartu bersama teman-temannya. Ketika main kartu ini, Tobuciler kaget karena temannya, Karel, ternyata punya paket fullhouse. Namun tak penting untuk membahasnya karena ini sedang membicarakan DSQ. Akhirnya entah karena masinisnya kenapa atau apa, kereta baru datang pukul sembilan. Tobuciler menggerutu dalam hati, ”tau gitu gw tidur dulu, euy!” Tapi tak apa, dijemputlah mereka, bersiap-siap sejenak di kediaman orangtua Tobuciler, lalu diantarkanlah DSQ ke Tobucil untuk tampil di Musik Sore Tobucil yang terkenal itu. Selagu dua lagu, sepukau dua pukau, pulang juga mereka ke peraduan. Namun sebelumnya, DSQ diwawancara dulu di Radio Mara. Sebelumnya lagi, DSQ makan dulu. Sebelumnya pula, mereka naik mobil dan jalan-jalan barang sejenak.

syarafmaulini manager tour D’Java : Syarif Maulana

Senin (13/04): Tobuciler bangun pagi jam delapan. Lalu sarapan dan jalan pagi keliling komplek. Setelah itu kembali tidur. Tobuciler bingung karena hari itu tidak bertemu DSQ. Mereka numpang tidur, makan, dan buang air di rumah Rama. Jadi Tobuciler bercerita kegiatannya sendiri saja.

Selasa (14/04): Malam setelah Tobuciler melaksanakan kegiatan hariannya, DSQ datang jua. Ada apa kenapa? Mereka mau diwawancara oleh radio Walagri yang terletak di jalan dago seberang Borromeus. Dipandu penyiar Grace dan musikolog Pak Tono, DSQ pun membawakan selagu dua lagu. Sesudahnya Rama sakit perut.

Rabu (15/04): Kalau tidak bertemu mereka mau cerita apa?

Kamis (16/04): Tobuciler cetak buklet untuk konser mereka. Awalnya harganya dikira murah, taunya seawan (tidak sampai langit). Setelah bertukar pesan dengan Rama, akhirnya disepakati buklet di print digital saja biar bagus biarpun mahal. Setelah itu Tobuciler mengajar gitar, lalu pulang ke rumah. Cuci kaki, gosok gigi, minum susu sebelum tidur.

Jumat (17/04): Konser tiba juga. Liputannya minggu depan ya..

Sabtu (18/04): Prahara ternyata tak serta merta berakhir bagi Tobuciler. Setelah lega akibat penampilan semalam, Tobuciler berharap bisa mengerjakan UAS sekolahnya dengan tenteram loh jenawi. Tahu-tahu bos Tobucil menelepon di tengah UAS:

Mba Tarlen : ”Halo Syarif, sedang apa kamu?”

Tobuciler : ”Eh Mba, lagi UAS nih” (bisik-bisik)

Mba Tarlen : ”Oh, gitu.. ya udah atuh”

Tobuciler : ”Eh, tapi da dosennya ga ada” (bicara keras)

Mba Tarlen : ”Oh, jadi gapapa nih? Gini, kan Tanto ulang tahun, kita gak tau mau ngasih kado apa, nah gimana kalo D’Java disuruh maen?”

Tobuciler : ”Waduh? Eh? Bentar yah?” (sambil melihat deretan soal UAS yang masih menumpuk)

Tobuciler lagi : “Ntar deh dikabarin yah, Mba” (telepon ditutup sambil terdengar Mba Tarlen bilang oke di seberang sana)

fotodjavadimastanto di rumah R.E Hartanto

Untungnya UAS hari itu kurang jelas apa maksudnya. Sehingga Tobuciler tak terlalu merasa bersalah ketika meninggalkannya. Jadilah DSQ tampil juga di acara ulang tahun Tanto itu. Yang mana oleh Tanto disebut-sebut sebagai ”kado yang berbudaya”. Beres main selagu dua lagu, sepukau dua pukau, Danny kehilangan satu dari sepasang sepatunya. Entah kemana sepatu itu, mungkin diambil orang yang kesengsem dengan penampilan mereka. Yang pasti Danny nampak bingung, ngambil sepatu kok satu doang? Sepasang aja sekalian! Akhirnya DSQ pun pulang nebeng Tobuciler, yang mana di rumah Tobuciler kembali mereka dieksploitasi bagaikan bangsa Indonesia di bawah penjajahan kumpeni Belanda. Ditampilkanlah mereka lagi barang selagu dua lagu tiga lagu. Beres itu mereka ambruk total, capek dan tepar. Tapi sebelumnya mereka makan dulu.

Minggu (19/04): Bangun jam tujuh pagi karena mau naik kereta jam delapan, mereka memilih untuk tidak mandi. Tapi mereka tetap memilih makan dan naik mobil. Pamitlah Rama dan ketiga temannya pada pemilik rumah. Berpelukanlah mereka seperti lebaran telah tiba. Tobuciler memberi DSQ kenang-kenangan poster mereka sendiri. Tobuciler juga pegang, dan ingin mereka tandatangan, tapi tidak jadi karena tidak ada pulpennya. Diantarlah mereka ke stasiun Bandung, tempat kereta berseliweran dan mereka telah memilih keretanya sendiri. Waktu itu sudah jam delapan kurang lima, kereta belum datang juga. Mereka mau tanya orang-orang masinisnya sudah sampai di mana, tapi tidak ada yang jadi bertanya. Akhirnya kereta datang jua, dan kami mau berpelukan tapi tidak jadi karena tidak ada satupun yang sudah mandi. Tapi tak apa, teman, hati kita toh tetap bersalaman bagaikan Zainuddin M.Z. dan jemaatnya. Naiklah mereka ke dalam kereta, meninggalkan Bandung yang gundah gulana.

Syarif Maulana

fotodjava D’Java String Quartet

foto dok. Afifa Ayu, R.E Hartanto dan Ahmad Ramadhan

Pesan sponsor : untuk Ade the Cello Man, ada salam dari "Kakak"

Google Twitter FaceBook

Cerita Nggak Penting di Hari Minggu

 

salamatahari Secuil remah rengginang kececer di karpet ruang tamu. Tanpa banyak mikir, sama Dea dipungut; mau dibuang ke asbak di atas meja.

 

Nggak taunya, di bawah remah rengginang itu ada semut yang lagi ngebopong si remah. Pas Dea angkat, dia tampak panik kebingungan. Kakinya bergerak-gerak gamang keilangan tempat berpijak. “Eh, maaf-maaf, Dea kira rengginangnya nggak ada yang punya,” sesel Dea. Nggak tau karena denger suara Dea atau naluri nyari pijakan, si semut tiba-tiba terjun bebas ke meja.

 

“Ini rengginang kamu, silakan dibawa lagi,” kata Dea sambil ngeletakin remah rengginang itu di sebelah si semut. Ternyata, Temen-temen, bukannya ngebawa propertinya pergi, dia malah tampak semakin panik. Dia jalan cepet-cepet ngehindarin si rengginang. “Ini, lho, ini kan punya kamu, bawa pulang, gih,” kata Dea sambil ngegeser rengginang itu ke deket dia. Si semut jalan makin cepet, sembunyi di balik asbak, dan ngebiarin rengginang itu terabaikan di meja.

 

Kasian. Mungkin dia pikir rengginang itu tiba-tiba jadi rengginang gaib. Makanan yang awalnya dia bawa-bawa itu, tau-tau jadi kayak ngebawa-bawa dia. Karena terlalu kecil, semut nggak meratiin adanya Dea. Dia terlalu fokus sama rengginang yang bahkan lebih besar daripada dia sendiri.

 

Dea sempet kepikir ngembaliin semut dan rengginang ke karpet, tapi akhirnya nggak jadi. Selain takut si semut makin frustrasi, daripada karpet, meja sebenernya lokasi yang lebih aman buat kelangsungan hidup si semut.

 

Dea nulis-nulis di deket meja sambil sesekali meratiin si semut. Pas dia mulai pelan-pelan ngedeketin rengginang lagi, Dea ngambil kamera dan … *cekrek* … motret si semut. Ternyata bener, Temen-temen, semut ini keciiiiil sekali. Kalo dipotret dari jarak yang terlalu jauh, dia nggak keliatan. Kalo terlalu deket, nggak keliatan jelas juga karena beyond fokus.

 

Hari itu hari Minggu. Mungkin semut item masih terus bekerja karena ngikutin prinsip warna tanggal di kalender … hehehe …

 

Just wondering. Ada di mana semut-semut merah di tanggal merah itu, ya … ?

 

Sundea

Google Twitter FaceBook

Hadirilah, Obrolan Pagi Jurnalisme Radio

Ikutilah Diary Project !

Diary Project 2009 Tobucil & Klabs menawarkan tema "Aku dan Kota Tempat Tinggalku". Melalui tema ini, kami berharap partisipan dapat menceritakan pengalaman maupun pandangan pribadinya tentang bagaimana sebuah kota meninggalkan jejak ingatan sebagai sebuah tempat tinggal. Kami yakin, setiap individu pastilah memiliki keterhubungan yang berbeda-beda dengan kota tempat tinggalnya.

Ingatan-ingatan tentang kota sebagai tempat tinggal inilah yang akan menjadi kisah-kisah yang membangun kesejarahan kota dari sudut pandang warganya. Sehingga beberapa tahun kemudian, kisah-kisah ini akan menjadi catatan berharga saat generasi berikutnya, ingin mengetahui sejarah kota, tempat ia tinggal.

Informasi lebih lanjut dapat mengirimkan email ke: tobucil@gmail.com

Klik di sini untuk membaca diary-diary project teman-teman

Dari Klabs :

Klab Nulis :

Klab Nulis, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman semua untuk menghadiri acara Berbagi pengalaman proses kreatif dalam menulis bersama Gunawan Maryanto, penulis yang baru saja meluncurkan kumpulan puisinya "Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya".
Acara akan diselenggarakan
Senin, 20 April 2009
Pk. 16.00 - 18.00
Tempat: Tobucil & Klabs
Jalan Aceh No.56 Bandung

covergunawanmaryanto

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkan
diskusi rutin Rabu tanggal 22 April 2009
dengan tema "Logika Proyek"
Rabu, 22 April 2009
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!
tobucil
jl. aceh 56
bandung

upcoming madrasah filsafat : Teknologi

Klab Nonton :

Sabtu, 25 April 2009, Pk. 18.15
Baraka (1992)
Sutradara: Ron Fricke / 96 menit

Film ini seringkali dibandingkan dengan Koyaanisqatsi, bagian pertama dari Qatsi films yang dibuat oleh Godfrey Reggio dimana Fricke adalah sinematografernya. Baraka memiliki subjek yang mirip yang menampilkan footage dari beragam pemandangan landscpes, tempat-tempat ibadah, upacara-upacara keagamaan, keseharian dan kota, dengan gambar yang indah, namun kental dengan rasa kemanusiaan yang muncul di setiap framenya.

Film ini merangkai gambar dari 152 lokasi di 24 negara: Argentina, Australia, Brazil, Kamboja, Cina, Ekuador, Mesir, Perancis, Hong Kong, India, Indonesia, Iran, Israel, Itali, Jepang, Kenya, Kuwait, Nepal, Polandia, Saudi Arabia, Tanzania, Thailand, Turki, dan Amerika Serikat. Film ini tidak menggunakan dialog sama sekali, namun seluruh rangkaian gambar yang ditampilkannya, menjadi sebuah cerita yang begitu kuat dan menyentuh.

Dalam berbagai bahasa, Baraka berarti 'terberkati'. Sekuel dari Baraka, Samsara, direncanakan akan diluncurkan tahun 2010.

Tulisan ini diterjemahkan dari wikipedia.

Obrolan Pagi Jurnalisme Radio

Narasumber : Santi Indra Astuti (Dosen Fikom Unisba), Nursyawal (anggota KPID Jawa Barat)

Moderator : Rana Akbari Fitriawan (wartawan Tempo)

Waktu : Rabu, 22 April 2009, pk. 10.00-12.00

Tempat : Tobucil, Jln. Aceh no.56, Bandung

Dari luar Rumah :

"Wanita Di Balik Lensa"
oleh : Yuwarlina Hartini (Fotografer Wanita)
21 April 2009, 12.00 - done

"Sharing Photography"
oleh : Deni Sugandi (ceuyah photo)
22 April 2009, 12.00 - done

"Music Acoustic"
Tribute To Kartini
22 April, 16.00 - done

Hayuu dataaang . Gratisssssssssss .



"PUISI UNTUK PEREMPUAN"
Pembicara:
- Violetta Simatupang (Dosen, Penulis sastra)
- Desiyanti Wirabrata (Penyiar 107,5 PRFM Bandung, Penulis)
- Anjar Beraja (Penulis)
Special Appearance by: Pidi Baiq (Penulis buku Drunken Mama, Drunken Molen, Drunken Monster)
Live Accoustic Performance : Febry Wattimena and Friends
Untuk 20 pendaftar pertama akan mendapatkan FREE DRINK!
Jadi daftar aja langsung GRATIS! ke Sky 9050 Fm Jl. Diponegoro 21 Bandung
atau telepon ke 022-426 52 55
Dipersembahkan oleh SKY 90,50 FM dan POTLUCK Coffe Bar & Library.
Juga didukung oleh : Moody Butik, kavi Indonesia.com, Ouval Research.
Hidup perempuan!
See ya! *mwahmwah*

Wednesday, April 22, 2009

Time:

5:00pm - 9:00pm

Location:

POTLUCK Coffee Bar & Library

Street:

Jl. H. Wahid no.31

City/Town:

Bandung, Indonesia

Google Twitter FaceBook

Sunday, April 12, 2009

Memilih Suara

Di tengah kemeriahan memilih dan bersuara dalam pesta demokrasi, Tobuciler tersadar, betapa banyak suara yang kita dengar setiap hari. Seperti poster-poster caleg yang berderet sepanjang jalan, suara-suara tersebut berderet mengiringi perjalanan hari kita.

Ketika mencoba diam dan membiarkan setiap suara mengungkapkan diri, Tobuciler tersadar ; ternyata suara yang ada di sekitar kita lebih banyak daripada yang Tobuciler kira. Pada saat yang bersamaan, dapat terdengar berbagai suara yang kadang tak terperhatikan. Printer rusak yang seperti bayi menangis. Komputer yang meggeram. Senandung kecil. Bolpoin yang menggores kertas. Bahkan kesunyian pun bukannya tanpa suara.

Telinga kita mendengar apa saja, tapi mendengarkan adalah hal lain. Telinga kita menjaring apa saja, tapi memaknai perihal memilih. Setiap suara adalah instrumen. Mereka tetap sekedar instrumen sampai kesadaran kita menciptakan komposisi.

Teman-teman, terima kasih karena telah menjadi nada yang menyusun sendiri sebuah lagu indah bagi telinga kami.

Karena kalianlah setiap hari kami tak berhenti menyanyi.

Inilah blog Tobucil edisi memilih suara.

Salamatahari, semogaselalucerah dan hangat,

Tobuciler

wikudankentongan

Google Twitter FaceBook

Kak Nunu, Nugie, dan Nugraha Sugiharta

mainpic Nugraha Sugiarta adalah reporter Bandung Advertiser dan sound engineer gadungan yang belakangan sering berkunjung ke Tobucil. Pada suatu hari, ketika dia sedang tidur-tiduran bersama karibnya, Agus Bebeng, di ruang AJI, Tobuciler menanggapnya sebagai “Teman Tobucil”

Nunuw : Nama lengkap gua Nugraha Sugiarta. Di rumah sama pas SD panggilannya Nunu. Pas SMP, SMA, kuliah, panggilannya Nugie. Pas lulus jadi Nunu lagi. Jadi sekarang kembali ke panggilan masa kecil.

Tobucil : Kalo boleh milih, lo lebih seneng dipanggil apa ?

Nunuw : Sebenernya gua lebih suka dipanggil Nunu. Sampe SMP kelas satu juga masih Nunu. Tapi waktu itu kan Nugie lagi ngetop, terus gua lagi suka main lagu Nugie yang (Nunuw menyenandungkan sebuah lagu yang Tobuciler pun tak tahu judulnya). Kan baru bisa main gitar, yak, jadi gua sering banget mainin lagu itu. Terus temen-temen gua jadi manggil gua Nugie. Tadinya gua nggak suka sama panggilan itu, cuma kan waktu itu di tv lagi ada acara anak-anak yang pemain keyboardnya namanya Kak Nunu. Daripada diejekin, mending dipanggil Nugie aja.

Tobucil : Tapi sekarang elu udah mau dipanggil Nunu lagi.

Nunuw : Usaha keras, tuh … lagian … jati diri aja kali, ya …

Tobucil : Jati diri ?

Nunuw : Kan orang Sunda, suka diulang-ulang nama depannya … hehehehe …

Tobucil : Hahaha … gitu, toh. Btw, Kak Nunu dan Nugie kan sama-sama pemusik, ya. Kalo disuruh ngeliat secara obyektif saat ini, lo lebih seneng sama siapa ?

Nunuw : Gua lebih seneng Kak Nunu. Kan dia mainin lagunya by request, jadi lebih joyful aja, lebih berbagi. Kalo Nugie kan nyanyinya pasti lagu sendiri aja. Sebenernya dulu gua suka nonton juga acara Kak Nunu itu …

Tobucil : Lah … terus kenapa sempet BT dipanggil “Kak Nunu” ?

Nunuw : Nggak suka aja karena berkesan sesuatu yang buruk, berkesan sesuatu yang negatif. Gua juga brenti nonton (acara Kak Nunu) pas mulai diejekin. Padahal kalo sekarang mah gua seneng-seneng aja diejekin “Kak Nunu” … eh … nggak seneng juga, sih, tapi nggak apa-apa. Menurut gua dia keren aja, meskipun gua nggak tau sekarang dia di mana. Mungkin sekarang dia udah jadi pengamen di perempatan Jakarta (menatap nelangsa ke langit-langit ruang AJI).

Tobucil : Tapi sekarang nama yang sering lo pake “Nunuw” bukan, bukannya “Nunu” ?

Nunuw : Itu masalah brand aja. Karena kalo menjadi sesuatu, gua nggak suka kalo disamakan dengan sesuatu yang udah ada sebelumnya.

Tobucil : Terus “w” di belakang “Nunu” itu maknanya apa ?

Nunuw : “W” itu sebenernya wanna be, jadi “Nunu wanna be”.

Tobucil : Hahaha … tetep … eh, ngomong-ngomong soal “wanna be”, jadi pengen tau, nih. Selain Kak Nunu dan Nugie, pemusik yang jadi acuan lo siapa aja, sih ?

Nunuw : The Beatles dan turunan-turunannya. Pokoknya yang berbau Inggris gua suka.

Tobucil : Kenapa ?

Nunuw : Lebih ekspresif. Dan untuk era taun 90-an mereka lebih … naon (apa), ya … ? Rockstar dalam pengertian yang sebenarnya. Mereka lebih tidak fake, kali, ya. Kalo diwawancara, mereka bener-bener lempeng. Nggak peduli image mereka gimana. Ada tingkat kesombongan yang pas dan kegundahan yang enak dinikmati. Terus, gua juga suka pemusik-pemusik Islandia. Pemusik-pemusiknya pada sakit.

Tobucil : Terus lo keikut sakit sama musik mereka, nggak ?

Nunuw : Ng … nggak, sih, karena sebagian teksnya gua nggak ngerti juga … hehehe, apalagi yang bahasa Islandia. Tapi itu. Kadang suara lebih penting daripada teks, kayak musik-musik gua …

Tobucil : Hmm … gimana, tuh, musik lo ?

Nunuw : Ga tau, ya, gua bikin mah bikin aja. Kan pertamanya gua belajarnya fruity loops. Fruity loops kan jedak-jeduk-jedak-jeduk gitu. Nah, gua menerjemahkan aja supaya nggak jedak-jeduk-jedak-jeduk. Lagian karena gua bawaannya denger musik yang kayak gitu (musik-musik Inggris dan Islandia) bawaannya jadi mirip-mirip juga.

Tobucil : Musik lo udah ke mana aja ?

Nunuw : Lagu gua terserak di mana-mana karena gua suka menyebarkannya ke mana-mana. Sebenernya kan gua membuat musik hanya sekedar hobi, kadang untuk ilustrasi (Nunuw pernah membuat ilustrasi musik untuk pameran foto Mas Bebeng). Semacam hal yang pengen gua tulis, tapi gua nggak tau menuliskannya gimana, biasanya larinya ke musik. Kasian amat, yak, pelarian doang ?

Tobucil : Ya lumayanlah, lo kan jadi ada olahraganya … hehehe …

Setelah wawancara selesai, Nunuw melihat-lihat foto dirinya di kamera Tobuciler. “Kok jelek-jelek gini, sih, guanya ?” protes Nunw. “Terima aja, tampang lo emang begitu, sih,” sahut Tobuciler.

Karena tidak puas, Nunuw pun menjadi “Teman Tobucil” pertama yang memotret dirinya sendiri. Setelah itu, kamera Tobuciler yang belum seminggu diganti baterainya, tiba-tiba keok kelelahan.

Apakah hasil jeperetannya sendiri membuat Nunuw tampak lebih ganteng ? Bandingkan kedua foto di bawah ini (by Nunuw) dengan foto di awal posting ini (by Tobuciler). Silakan nilai sendiri, Pemirsa …

fotodua

fototiga






Sundea

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin