Sunday, May 31, 2009

Konsistensi

 

“Setiap hal besar bermula dari hal kecil”

-opening presentasi Tobucil di Pecha Kucha Bandung-

 

Garis adalah rangkaian titik-titik yang konsisten. Kegiatan menitik-nitiknya sendiri merupakan perjalanan yang terbangun dari kesetiaan dan kepercayaan.

Garis adalah torehan kurus yang kuat dan terlatih. Ia merupakan kerangka sebuah bidang dan konstruksi sebuah bangun. Saat melihat gedung besar, pernahkah kita membayangkan banyaknya titik konsisten yang menjaga kekokohannya ?

Minggu ini blog Tobucil menghadirkan Evan dan Attina yang konsisten menggiat “Recycle Experience”, syal Mbak Elin yang terjalin dari benang-benang yang dirajut secara konsisten, hati pecah Ojan yang disusun secara telaten dan konsisten, Vitamin [A] yang baru menorehkan titik untuk bergerak secara konsisten, dan kalender Bandung karya Mas Didi Supardi yang menampilkan tanggal-tanggal yang berjajar secara konsisten.

Teman-teman, hari ini Senin tanggal satu. Ia adalah hari pertama dalam seminggu, tanggal pertama dalam sebulan, dan titik mula dari hari-hari yang bergerak tanpa menunggu.

Mari menitik-nitik dengan konsisten.

Percayalah. Kelak kita akan terpana melihat apa yang dihasilkan kesetiaan sahaja ini.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

benangrajut

Google Twitter FaceBook

Paket Hemat dari Recycle Experience : Evan Driyananda dan Attina Nuraini

evantinamainpic Minggu ini, Tobucil mendapat teman Tobucil yang “paket hemat”. Mereka adalah Evan Driyananda dan Attina Nuraini. Muda-mudi sejoli ini aktif menggiat Recycle Experience. Berikut adalah obrolan Tobucil dan mereka yang … hmmm …



Tobucil : Evan, Tina, “Recycle Experience” itu sebenernya apa, sih ?

Evan : (menoleh ke arah Attina) Apa, Na ?

Attina : Entar, ya, liat dulu (lalu mengorek-korek isi tasnya, dan …) Nih … (menyodorkan leaflet berwarna hijau).

Tobucil : Gue salin ? Males, ah, panjang banget …

Evan : Kan malah praktis. Tempel aja langsung kertasnya …

Tobucil : Tempel di mana ? Wawancara ini kan buat blog … (tapi akhirnya Tobuciler menyalin tulisan dari leaflet Evan) : “Recycle Experience lahir dari keinginan untuk membuat dan menata ulang bermacam serpihan-serpihan benda yang kurang diharapkan keberadaannya menjadi sebuah media ekspresi yang diharapkan dapat menyalurkan kemampuan bereksplorasi, dari berbagai macam media yang tersedia di sekitar ruang lingkup kehidupan dan diaplikasikan menjadi beraneka macam character robotic imagination”. Hmmm. Jadi menurut kalian benda-benda yang tidak diharapkan keberadaannya itu apa ?

Evan : Sampah. Orang-orang kan kayak terganggu kalo ngeliat sampah. Contoh sampahnya sampah-sampah anorganik seperti plastik, kaleng, terus … apa lagi, ya ? Metal …

Tobucil : Wah … berarti Metalica termasuk hasil olahan kalian, ya ?

Evan : Metalica mah termasuk sampah yang bermanfaat

Tobucil : Ya iya, kan setiap sampah yang kalian olah kan jadi bermanfaat …

Evan : HYAAAA … (langsung kejet-kejet)

Attina : Eu … bukan, kalo Metalica bukan hasil olahan dari Evan, tapi hasil olahan yang bermanfaat dari personilnya …

Tobucil : Berarti Metalica pendukung Recycle Experience juga, dong ?

Evan : HYAAA (kejet-kejet lagi). Ini kenapa jadi ngomongin Metalica ?

Attina : Iya, nggak suka, da, sama Metalica …

Tobucil : Kenapa, gitu, nggak sukanya ?

Attina : Karena … kenapa, ya ? Nggak tau, euy … kenapa, Van ?

Evan : Karena sukanya. Berarti itu jawabannya.

Attina : Karena sukanya yang lain. Ditanya, geura, entar, yang lainnya apa.

Tobucil : Enggak, kok. Gue mau nanya pertanyaan lain, yeee … tentang robot kalian, deh, sekarang. Coba cerita tentang salah satu robot yang pernah kalian buat …

Evan : Temi aja, deh, Temi. Tapi Temi nulisnya teh gimana, ya … ?

Attina : Ada di blog.

Tobucil : Baiklah. Kalo gitu kita link saja. (kalo mau berkenalan dengan si Ta.My, klik di sini ). Nah, sekarang kalian lagi bikin robot apa ?

Evan : Lagi mau bikin Big Robotic, robot yang sebesar manusia. Buat tugas akhir.

Attina : Sebenernya buat tugas akhir supaya sama dia dibikinnya cepet, Mbak …

Tobucil : Hahaha … gitu, ya ? Btw, konsepnya gimana ?

Evan : Masih rahasia, dong, kalo dikasih tau entar nggak surpris …

Tobucil : Oh, jadi elu mau bikin robot manusia berprofesi surpris. Surpris taksi ato surpris angkot ?

Evan : HYAAA … (kejet-kejet untuk yang ke tiga kalinya). Surpris taksi aja karena kemaren abis nabrak angkot, jadi nggak mau kalo angkot.

Tobucil : Abis ditabrak, angkotnya jadi sampah, nggak ?

Attina : Oh, udah dari dulu …

Tobucil : Bisa di-recycle, dong … ?

Attina : Pengennya mah nge-recycle para pembalap jalan raya karena naik motornya kayak dikejer-kejer tender satu M.

Evan : Iya, naik motornya kayak orang mau ee. Kayaknya makin banyak orang yang kecepirit (hampir mencret).

Tobucil : Jadi orang kecepirit juga termasuk bahan untuk di-recycle, dong ?

Evan : HYAAAA !!! (lagi-lagi Evan kejet-kejet).

Apakah kamu mendapat gambaran tentang Recycle Experience yang digiat Evan dan Attina ? Sepertinya tidak, ya ? Tapi jangan kuatir. Kamu bisa berkunjung ke sini atau ke sini untuk informasi lebih lengkap.

Baiklah, kita akhiri saja interview tidak jelas ini sebelum menjadi semakin tidak jelas lagi …

Sundea

fotodua

fototiga






Biodata Evan

Nama : Evan Driyananda

Tempat tanggal lahir : Bandung, 8 Agustus 1987

Pendidikan : Seni Rupa UPI 2004.

Hobi : mengumpulkan sampah, bernyanyi-nyanyi, ke sana ke mari, merakit-rakit, mengejar mimpi.

Kata mutiara : Jangan tertipu dengan kemasan semata … lihatlah ingredients dan tanggal kadaluarsanya.

Biodata Attina

Nama : Attina Nuraini

Tempat tanggal lahir : Bandung, 17 April 1986

Pendidikan : Seni Rupa UPI 2004

Aplication Artwork at Recycle Experience

Hobi : bermain-main, membuat-buat, berwarna-warni, melihat-lihat, bermimpi-mimpi, memaki-maki.

Google Twitter FaceBook

Mengisi Hidup dengan Merajut

 

IMG_1125 Judul Buku : Bagaimana Mengisi Hidup

Pengarang : Bagus Takwin

Harga Buku : Rp. 8000,00

Buku ini bukan buku resep. Di dalamnya tidak ada penjelasan konkret tentang langkah-langkah pasti apa yang harus kita ambil untuk mengisi hidup. Buku ini adalah buku strategi atau lebih tepatnya sebuah kerangka orientasi yang dapat dipakai untuk mendekati dan mengisi hidup.

---

syalresized Syal cantik rajutan Elin Purwanti

Harga : Rp. 150.000,00

 

 

 

 

Merah-hitam-putih-biru.

Helai-helai benang terjalin satu-satu.

Merah-putih-biru-hitam

Menjadi syal cantik ketika khatam.

Merah-biru-hitam-putih

Siap memelukmu penuh kasih …

Biru-hitam-putih-merah

Dapat dibeli dengan harga murah …

Google Twitter FaceBook

Kalender Kota Bandung

 

bacakotamasdidi

Kalender bulan lainnya dapat dilihat di sini

didisupardi

Didi Supardi, lahir di Majalengka, 22 April 1982. Selain suka menggambar, nonton film dan travelling, lulusan Desain Komunikasi Visual Unpas 2006 ini kini mulai menyukai menulis. Bekerja sebagai Graphic Designer, tidak menghalangi hobi barunya menulis di sela-sela waktu luangnya. Penikmat musik Reggae ini mempunyai cara tersendiri dalam menikmati hidup dengan cara santai namun pasti dan mengalir apa adanya sesuai dengan aliran bermusiknya. Untuk mengenal lebih jauh bisa mengunjungi rumahnya di :
http://didisupardi.blogspot.com
http://didisupardesign.multiply.com

Google Twitter FaceBook

Ada Cinta di Rantau, Ada Frame Ritz di Tobucil

 

-Tobucil, Selasa 26 Mei 2009-

“Ada yang mengkilap-mengkilap di ujung kabel-kabelnya. Kita kecos, yuk, siapa tau bisa dibikin kalung,” usul Mbak Echie Kecoswati ketika datang ke Tobucil di hari besar pengecosannya. Ia tampak cukup takjub melihat Aceh 56 yang tiba-tiba penuh sesak di hari Selasa. Kamera, kabel, lampu, artis-artis sinetron, dan mobil-mobil berdesakan mengisi pekarangan yang biasanya tampak lengang.

 

kru

 

Hari itu Rumah Produksi Frame Ritz memang meminjam rumah keluarga “rumah nenek” untuk shooting FTV bertajuk “Ada Cinta di Rantau”. Artis-artis sinetron bulak-balik berganti kostum di ruang setrika. Thomas Nawilis sang sutradara sibuk mengarahkan. Beranda Tobucil pun sempat di-set menjadi garasi-garasian. Dan manager Tobucil tampak berbahagia menyambut kru dan artis yang keluar-masuk Tobucil untuk membeli Teh Botol.

  syutingnya

“Emang sinetron ini ceritanya apa, sih, Pak ?” tanya Tobuciler pada Pak Ideng, salah satu tim artistik yang selalu ceria. “Kaya’nya tentang model yang terlibat ke dunia geng motor. Yah … dibumbuin kisah-kisah cinta jugalah. Tapi kaya’nya, nih, ya …,” sahut Pak Ideng. “Hmmm … kalo itu kaya’nya, miskinnya gimana, Pak ?” Tobuciler mengajukan pertanyaan iseng. “Kalau miskinnya, sih, kita yang merasakan …. hehehe ….,” sahut Pak Ideng sambil cengar-cengir. Tobuciler tergelak.

Setepat apakah “kaya’nya” yang disampaikan Pak Ideng ? Entah.

Silakan nantikan di SCTV. Menurut desas-desus yang beredar, FTV ini akan tayang pada malam hari di awal bulan Juni …

 

pakidengjreng

Sundea

 

 

 

 

 

Pak Ideng

Google Twitter FaceBook

Pok (R)ame-(r)ame, Belalang Kupu-kupu

 

-Tobucil, Rabu 27 Mei 2009-

Madrasah Filsafat

“… are you flying above where we live …”

Sleeps with Butterflies –Tori Amos

Kupu-kupu. Hari itu hewan sunyi tersebut membuat madrasah filsafat jadi ramai. Berangkat dari kupu-kupu sebagai simbol metamorfosa perempuan, pembicaraan berkembang ke mana-mana ; mulai dari burung Phoenix yang juga adalah lambang perubahan, kearbitreran idiom, sampai ternak ikan cupang.

Mbak Echie sang kontributor masalah bertutur tentang istilah “La Mariposa”, the butterfly woman, legenda Indian Amerika yang masih dipelihara sampai saat ini. Metamorfosa kupu-kupu melambangkan tahapan perempuan dari anak-anak, menjadi gadis, hingga akhirnya dewasa.

“Kenapa kupu-kupu, ya ? Umur kupu-kupu kan sangat singkat,” ujar Mbak Tarlen yang tahu-tahu teringat pada kupu-kupu yang mati di gudangnya. “Keindahan yang dibawa oleh kupu-kupu kadang hilang tanpa saya sadari. Saya bahkan nggak tahu kapan mereka masuk ke gudang …”

“Hal yang bagus biasanya terjadi sebentar,” ungkap Myra, seorang penulis muda yang hadir saat itu. Menurutnya, keindahan perempuan pun seperti itu. “Kalau cowok kan makin mateng dianggepnya makin ganteng …” Pendapat ini langsung dilibas oleh Mbak Echie, “Kamu mikirnya mainstream sekali, ya ? Saya melihat adanya konspirasi patriarki dalam pandangan itu. Keindahan perempuan jadi dianggap sangat berhubungan dengan kemampuan reproduksi !” Mas Heru Hikayat, kurator seni rupa yang tersohor itu, berusaha menengahi, “Yah … bukannya kebagusan itu dibuat ukurannya ?”

Setiap teman yang hadir punya simbol perubahan sendiri-sendiri. Adi Marsiella, misalnya, melihat berhenti merokok sebagai simbol perubahannya. Rudy mengaku berubah ketika merasa menemukan dirinya dalam buku Mein Kampf. Sementara Kang Iman yang bercerita tentang ikan cupangnya, tiba-tiba galau, “ … tapi saya nggak tau, ya, itu bisa dilihat sebagai simbol perubahan atau bukan …” DHIERRR !!!

Lempar-tangkap wacana senja itu melayang-layang dengan bebas dan ditutup tanpa simpulan. Kupu-kupu akhirnya menjadi simbol perubahan yang merdeka mengepakkan sayapnya.

Meski telah resmi ditutup, diskusi madrasah filsafat masih menyisakan sesuatu di udara. Mungkin sebuah titik berangkat.

Tiba-tiba Tobuciler teringat pada penutup lagu Sleeps with Butterfly-nya Tori Amos. Setengah berbisik, Tobuciler menyanyikannya pada atmosfer yang masih melingkupi kemungilan beranda Tobucil,

“ … so go on and fly, then …”

Sundea

sogonfly

Google Twitter FaceBook

Hari yang Aneh *

 

-Tobucil, Jumat 25 Mei 2009-

Saat Kru Tobucil tengah berrapat, seorang pria berkumis dan berjanggut datang, “Saya dari koran Bandung Express, mau wawancara …” “Wah, kita lagi rapat. Nanti, ya, Mas …,” sahut Mbak Elin. Pria itu mengangguk seraya menunggu di beranda Tobucil.

Tak ingin berpangku tangan, sang wartawan berinisiatif mewawancara Iman, murid les Mbak Upi yang masih duduk di kelas 3 SD. Rampung dengan Iman, ia mewawancara sekumpul siswi SLTP yang berkunjung ke Tobucil. “Aduh, Oom, kayaknya jawaban aku jelek, deh,” ujar salah seorang siswi SLTP. “Nggak apa-apa, kok, kan nggak dinilai …,” sahut Oom wartawan sambil tersenyum simpatik.

masdoniman Mas Doni dan Iman

Setelah ia selesai mewawancara ke sana ke mari, ganti Tobuciler yang mewawancara sang wartawan.

“Namanya siapa, Mas ?”

“Doni, Doni, dari koran Bandung Express…

“Bukan ‘Donia dalam Berita’ kan ?”

“…”

“Emang mau nyari berita tentang apa, sih, Mas ?”

“Nasib perpustakaan. Di sini kan perpustakaan terlalu administratif dan SKPD ; Satuan Kerja Peringkat Daerah …”

“Lah … terus kenapa milihnya Tobucil ? Ini kan toko buku, bukan perpustakaan …”

“Ya … karena yang saya inget Tobucil …”

“…”

“Oom, yang tadi mau masuk di koran besok, ya ? Besok aku beli, ya …,” kata Iman bersemangat. Mas Doni mengangguk sambil tersenyum senang. “Nanti dianter aja ke Setrasari korannya,” kata Iman lagi. “Tapi … tapi belum tentu sempet juga nganterin …,” Mas Doni tiba-tiba kebingungan. “Ya udah, besok dianter aja ke Setrasari Jln XX no. XX, ya,” Iman tak mau tahu. Setelah itu ia pergi ruang belakang Tobucil meninggalkan Mas Doni yang terbengong-bengong.

Belum sempat Mas Doni meredakan kebingungannya, Mbak Elin muncul di beranda Tobucil, “Mas wawancaranya kan tadi udah, ya, sama yang lain ? Udah aja, ya … “

Setelah menghabiskan rokok dan minuman botonya, Mas Doni pamit pulang. Lalu bagaimana “nasib perpustakaan” yang sedang dicaritahunya ? Entahlah. Mungkin setelah serangkaian kejadian absurt yang dialaminya ia malah jadi memikirkan nasibnya sendiri … hehehe …

 

Sundeamasdoni

*sebua acara televisi di ANTV

Google Twitter FaceBook

Vitamin A dan Pergeseran Makna Estetika

-Tobucil, Minggu 31 Mei 2009-

“Foto Chairil Anwar yang sedang merokok itu, sungguh punya kesan mendalam”

Demikian kata Muhammad Akbar sambil berupaya meniru gaya sang Binatang Jalang, di tengah presentasi karyanya yang berjudul The Smoking Brothers. The Smoking Brothers –karya video art-nya- menggambarkan detil secara sekuensial orang di kala merokok. Dengan menampilkan terus menerus wajah si perokok ketika melakukan ritualnya, disertai efek suara dan slow motion, Akbar ingin menangkap penghayatan dan kedalaman aktivitas merokok. Itu adalah satu saja diantara sekian banyak video yang ditampilkan oleh seniman lulusan UPI tersebut. Ada yang berjudul Noise, yang bertemakan tentang hambatan komunikasi; lalu Afternoon City Air, mengenai kesan udara pagi di Bandung; adapun Evergreen, tentang penggambaran situasi di Leuwigajah pasca longsor, dan beberapa lainnya. Video-video tersebut membawa Akbar pada berbagai eksibisi, dan kompetisi, yang mana salah satunya yang bernama ASEAN New Media Art Competition, sukses dijuarainya.

Oia, presentasi Akbar itu adalah dalam rangka acara acara berjudul Vitamin A. Acara yang terjalin berkat kerjasama antara Tobucil & Klabs dan ResArt ini, merupakan presentasi karya-karya seniman, desainer, arsitek, musisi, programer, ilustrator, handmade artist, crafter, yang memiliki karakter dan cita rasa seni, kepada khalayak umum. Presentasi tersebut dimaksudkan untuk membangun dialog dan jembatan antara kreator dan audience-nya dan membangun kemampuan saling mengapresiasi satu sama lain. Rencananya, vitamin A akan digelar sebulan sekali.

vitaminA

foto : Wikupedia

Dipandu oleh Yogi, sebelum Akbar ada Pauh. Erik Pauh Rihzi mempresentasikan karya-karyanya dalam bentuk fotografi, instalasi, video dan new media. Karya pertama yang dipresentasikannya adalah tentang situasi pasca tsunami di Aceh. Lalu dilanjutkan oleh karya instalasi tentang kesan orang-orang di ruangan baru. Pauh kemudian menutup presentasi dengan karya mengenai self erase, yakni gambar orang-orang yang terhapuskan wajahnya. Seniman yang minggu depan akan melanjutkan studi ke Jerman ini, terlihat senang dengan warna hitam putih, yang –dalam menjawab pertanyaan Tobuciler- memang sengaja ditujukan untuk mendapatkan kesan absurditas yang cukup mendalam.

Kata ”estetik”, pernah sangat lekat, atau bahkan mungkin masih lekat, dengan kata seni yang menimbulkan kesan indah, tentram, cerah, dan memberi rasa nyaman. Namun lewat presentasi Vitamin A kemarin, jangan-jangan estetika ini telah bergeser. Karena kesan yang didapat tak lagi seperti hal-hal di atas, melainkan aneh, absurd, membingungkan, menggelisahkan dan kadang menjijikkan. Tapi, apapun itu, pastilah merupakan refleksi mendalam sang seniman, akan diri dan jaman.

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

I've Made a Mistake (So I Create Apologizing Comic)

 

hai hai hai.. ^^
hohoho.. i've made a mistake to my classmates... hehehe ..
they are Defia, Ajeng, Binar, and Azizah..

by doing this, they accepting my apologizes.. hehehehehe :)

enjoy the comic.. !

see yah!!!

 

apocomic0001

 

apocomic0002

apocomic0003

 

apocomic0004

apocomic0005

 

apocomic0006

 

fotojanOjan
i'm just a little boy that love crafting.

Kunjungi Ojan di http://blogojan.blogspot.com/

Google Twitter FaceBook

Pertanyaan Menyambut Pilpres

IMG_2265

asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Hamba Allah:

Halo Kak Syaraf Maulini, mau nanya nih:

  1. Apakah keputusan SBY tepat dalam memilih cawapres Boediono?
  2. Kak, saya bingung nyari tiket pertandingan MU vs Indonesia tanggal 20 Juli nanti, dapatnya dimana ya?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Kenapa harus Hamba Allah? Tapi baguslah, kan anda memberi pertanyaan, sehingga riya’ jadinya kalo identitas anda diumbar-umbar di kala memberi:

  1. Saya pikir akan lebih tepat jika SBY bergandengan dengan Rani Juliani saja, agar slogannya jadi SBY Berani.
  2. MU-Indonesia ya? Coba tengok facebook MUI.

Pertanyaan dari Iyok Williams (i_yo_k@yahoo.com):

Kak Syaraf Maulini, saya mau nanya serius ini mah. Saya kan kalo mau main gitar suka tegang, bagaimana cara mengatasinya?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Kamu aneh sekali, mau main gitar kok suka tegang. Kalo main gitar mah suka bunyi dunk, namanya bunyi gitar! Tapi, pertanyaanmu kurang lengkap. Apakah maksudmu main gitar kala konser atau di depan umum? Karena demikianlah biasanya yang bikin tegang. Namun yang pertama kali, jika di depan umum, hindarilah bershadaqah. Kenapa? Karena slogan shadaqah yang terbeken adalah: “Berikanlah dengan tangan kananmu, namun jangan sampai tangan kirimu tahu”. Ini jelas mustahil, karena ketika kau main gitar, tangan kiri dan kanan berada sejajar. Lalu langkah berikutnya, lupakan slogan Mega-Pro yang ”Pro Rakyat”, karena ngapain kau ingat-ingat, mending mengingat not dan mengingat shalat.

Tapi, begini deh, jika menjelang konser, permasalahan orang-orang yang mengalami ketegangan, ternyata adalah kejujuran. Banyak orang yang menyangkal dirinya ”tidak tegang”, demi mendapatkan keberanian. Padahal perilaku tak jujur itulah yang membuat tegang datang di waktu yang tidak tepat, yakni ketika konser. Lebih baik kau akui saja dirimu tegang, nanti juga kau capek juga ngaku-ngaku. Sehingga pas naik panggung, rasa sudah lega. Ini jawaban serius, dan untuk melatih kejujuran, maka sering-seringlah makan di warteg, disana kau akan merasakan betapa pentingnya berbuat jujur. Setuju?

Google Twitter FaceBook

Layka dan Bulan

 

salamatahari

The moon-cradle`s rocking and rocking

Where a cloud and a cloud go by

Silently rocking and rocking

The moon-cradle out in the sky …*

 

Bulan di atas langit Dago ketutup awan. “Bulannya lagi nyari ibu !” celetuk Layka, anak perempuan Mbak Herra Pahlasari yang masih balita. Kenapa nyari ibu ? Cuma Layka yang tau persis alesannya.

Nggak lama kemudian, malah Layka sendiri yang nyari ibunya. Dia yang udah mulai ngantuk minta digendong dan didekap pake karembong. Malem itu Mbak Herra jadi seperti pohon kokoh di belakang rumah, karembong seperti hemmock, dan Layka seperti pekerja yang sedang menikmati hari liburnya.

… how a hundred rivers are flowing

between herself and her child *

Bulan di atas langit Dago nggak keliatan lagi. “Bulannya abis !” celetuk Layka. Dia sendiri mulai keabisan tenaga juga. Dengan nyaman dia nyandar di bahu Mbak Herra, nitipin sepanjang harinya di situ.

Karena Layka yang terkantuk-kantuk keliatan nggemesin banget, orang-orang gede nocturnal di sekitar dia jadi nggak tahan untuk nggak ngegangguin. Layka marah-marah, berusaha ngehalau temen-temen mamanya yang ngerubung dia seperti semut ngerubung permen.

“Eh, Layka, kalo mau ngomongin bulan, ngomongnya sama Tante Dea, deh,” kata Mbak Herra. “Iya, bulannya kan nggak keliatan karena disimpen sama Tante Dea di kantongnya,” timpal Mbak Tarlen. Layka yang tadinya nyureng tampak melunak. Dea yang ngerasa punya kesempatan untuk terlibat di permainan langsung bisik-bisik ke Layka, “Iya, Lay, bulannya aku simpen di sini biar bisa bobo. Kalo nggak dia kesilauan.” Layka ngeliatin kantong Dea dengan curious. Keliatannya dia bener-bener percaya kalo bulan ada di sana.

Dea nimang-nimang isi kantong Dea seperti Mbak Herra nimang Layka. Abis itu, sambil ngedeketin kantong jaket ke Layka, Dea bisik-bisik, “Lay, sebelum bulannya kubawa pulang, kamu mau ngucapin selamat tidur, nggak ?” Layka ngangguk. Abis itu dia ngebisikin sesuatu yang nggak tau apa ke kantong Dea.

Seharusnya permainan udahan setelah Dea pulang ninggalin Layka. Tapi enggak, Temen-temen, sepanjang malem itu Dea ngerasa kayak bener-bener ngantongin bulan. Dea ngejaga kantong Dea dengan ati-ati sambil sesekali nyanyiin lagu-lagu tidur yang menyamankan perasaan.

Mungkin bulan memang masuk ke kantong Dea waktu Dea bilang dia ada di situ. Atau mungkin Layka yang ngasih nyawa ke bulan imajiner waktu ngebisikin selamat tidur. Dea nggak tau pasti. Perasaan itu Dea nikmatin aja sepenuh-penuhnya sementara logikanya Dea biarin tetep misteri.

Let your thoughts be on Night the Herder.

And be quiet for a space.*

Temen-temen, hari itu tanggal 1 Mei.

Rasanya menyenangkan ngawalin bulan dengan bulan di dalem kantong ^_^ v

*diambil dari lirik lagu Moon Cradle – Lorena McKennitt

Buat Mbak Herra dan Layka yang seperti Bu Land dan bulan kecil.

Sundea

untuk melihat artikel dengan foto Layka, main, deh, ke sini

Google Twitter FaceBook

Masih Ditunggu Partisipasinya di Musik Sore

 

Musik Sore Tobucil

Masih ingat Musik Sore Tobucil? Jika tidak, maka kami ingatkan bahwa acara tersebut akan diadakan kembali sesuai jadwal, yakni dua bulan sekali. Setelah yang terakhir tanggal 12 April, maka sekarang 28 Juni. Siapa saja penampilnya? panitia sudah menyiapkan beberapa nama, tapi kalian pun bisa ikutan. Ini syaratnya:

Syarat penampil:
1. Format akustik
2. Boleh dicolok tapi ampli bawa sendiri (tobucil menyediakan satu ampli)
3. Tobucil menyediakan mic tapi satu saja
4. Maksimal personil delapan orang, boleh lebih, tapi bawa kursi sendiri
5. Aliran musik bebas
6. Tampil dalam durasi sekitar 15-20 menit
7. Mau diapresiasi dan mau mengapresiasi

Syarat agar tampil:
1. Mengirimkan profil kelompoknya ke klabklassik@yahoo.com
2. Mengirimkan contoh musiknya, boleh via CD, VCD, dan DVD ke Tobucil, Jl. Aceh no. 56, atau informasikan link yang bisa kami unduh, boleh via myspace, facebook, atau youtube. Pokoknya cara apapun lah yang penting kami bisa dengar sedikit musiknya, kalo pun sengaja ngamen di Tobucil pun boleh.
3. Mengirimkan visi dan misinya, “Kenapa mau tampil di Musik Sore Tobucil ?”

Reguler Klabs

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 3 Juni 2009
dengan tema:

“Kebebasan”

Soal Memilih Agama yang Berbeda dengan Keluarga

Rabu, 3 Juni 2009

17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Upcoming Madrasaf Filsafat 10 Juni 2009 : "Postkolonialisme"

Dari Luar Rumah :

Diskon di Bacabaca Bookmart

fotobacabaca

1-30 Juni 2009 di Bacabaca, jalan taman sari no 73 (sabuga)

 

bacabaca memberikan diskon spesial mulai dari 15 sampai 25 % dan buku buku obral mulai dari 5000 smpai dengan 25000 an tuk khusus buku buku terbitan KPG...dan juga ada barang lain yang dijual murah seperti aksesoris...kaos, barang2second...yang masih layak untukdi pakai dan dipergunakan ,dan produk produk hand made masih banyak lagi..jadi silahkan datang aja...

Jazz Break Revival XII

jaxxbreakrevival

KlabJazz bekerjasama dengan Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang dan Melinda Hospital kembali menyelenggarakan Jazz Break Revival. Pada sesi ke-XII, bulan Juni 2009 ini akan menampilkan:

Bayu+Tesla
Bayu Kristanto - elektrik piano
Tesla Manaf Effendi - gitar

Be Pop
Kanggep Kusuma - gitar
Teddy AB - elektrik bass
Yudiarso Wibowo - drum
Imelda Rosalin - keyboard
Myra Aya Sylvina - vokal
Erlan Effendi - vokal

Oleo
Sepza "Icha" Zulkaedah - drum
Gallang Perdhana Dalimunthe - elektrik bass
Nanet Ken Asri - piano/keyboard, vokal

Raisonner
Haryanto Alexander Martosono [Ray Martz] - piano
Sonny Susetyo Hollandia - electric bass
H. Erwin Parha – drums

&

SPECIAL GUEST

duo gitar
Donny Suhendra
&
Agam Hamzah
__________________________

Hari : Rabu
Tanggal : 3 Juni 2009
Pukul : 19.30 - 22.30
Tempat : B. P. Bumi Sangjuriang
Jalan : Kiputih no. 12 - Ciumbuleuit, Bandung.

Tidak dipungut bayaran. Gratis!!!
Mari kita ramaikan suasana jazz di Bandung dan Indonesia dengan datang dan memberi dukungan kepada para aktivis panggung musik jazz kita.
__________________________

Didukung oleh Jazzuality.Com, wartajazz.com, Radio Mara dan Radio KLCBS.

Google Twitter FaceBook

Sunday, May 24, 2009

Oplosan

 

“Pak Yono, ini teh apa, sih ? Rasanya enak banget, mirip teh bikinan almarhum oma aku,” ujar saya setelah menyesap teh yang disuguhkan keluarga “rumah nenek”. “Wah, ini oplosan macem-macem merk teh seduh. Mbah kalau bikin teh maunya gitu,” sahut Pak Yono. Tobuciler mengangguk-angguk sambil menerka-nerka di dalam hati, “Mungkin oma dulu juga begitu, ya ...”

Teh yang dioplos itu menciptakan sebuah rasa yang sentimental. Manis, harum, dan hangatnya membuat Tobuciler merasa nyaman dan terlindung seperti anak-anak yang didekap oleh rumah ketika di luar terjadi hujan badai. Tiba-tiba Tobuciler tersadar bahwa suasana rumah yang terbangun dalam kemungilan Tobucil pun merupakan hasil oplosan. Ruang-ruang Tobucil, Klab-klab, teman-teman, kegiatan, dan tetangga yang punya beragam nuansa mengoplos diri dan membangun suasana rumah yang mesra dan familiar bagi hampir siapa saja yang memasukinya.

Pada Senin terakhir di bulan Mei ini kami menghadirkan oplosan yang membangun suasana rumah di Tobucil. Ada keluarga “rumah nenek”, ada ruang-ruang di kemungilan Tobucil, ada kisah-kisah seputar Klabs, ada teman kami Leon Ray, drummer band cadas Koil dan juru masak rumah makan favorit Tobucil, poster beragam kegiatan yang pernah digelar di Tobucil …

Blog Tobucil edisi ulangtahun resmi ditutup dengan sebuah kesadaran sederhana ; keberadaan kalian membuat kami seperti minum teh oplosan yang menyamankan perasaan. Setiap hari.

Teman-teman, terima kasih karena telah menjadi bagian teh oplosan yang kami minum.

Semoga kami dapat menghidangkan kenyamanan teh ini saat kalian bertamu …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

tehresized

Google Twitter FaceBook

Leon Ray : Drummer KOIL yang KOKI

 

omleonmaindrum Leon Ray Legoh adalah pemain drum KOIL (berdiri pada tahun 1993). Selain mejadi penggebuk drum di bandnya, Leon Ray juga memiliki rumah makan LEGOH yang terkenal itu.

FYI, Legoh adalah rumah makan favorit Tobucil. Dari rumah makan inilah pertemanan antara Leon Ray dan Tobuciler semakin erat. Hampir setiap hari Tobuciler memesan makanan dari Legoh yang gosipnya dimasak oleh Leon sendiri. Sepertinya kalo tidak makan ayam rica atau cumi ricanya Legoh barang satu minggu aja, Tobuciler sudah merasa tidak tenang untuk beraktivitas hehehe..

Dan kali ini Tobuciler dapat kesempatan untuk mewanwancarai Leon Ray. Walau hanya lewat e-mail, tapi tetap menyenangkan dan mengasyikan

 

Halo om Leon...
Kita dari tobucil, dalam rangka ulang tahun Tobucil, kita mau sedikit mengganggu waktu Om Leon buat wawancara… yah … memberikan sedikit pertanyaan yang dijamin gak susah dan gak perlu nyontek hehehe...eh sebelumnya makasih ya udah mau meluangkan waktunya buat diwawancara walaupun kita gak sempat bertatap muka. Aku mulai aja ya pertanyaannya

halo....nih jawabannya.

...maap kalo ngaco yah...heheheheh

Tobucil : Sejak kapan tertarik dengan drum dan masak-memasak?

Leon Ray : Tertarik main drum sejak kapan yah .....ehm kira-kira smp lah.....kayaknya keren gitu....tapi baru serius belajar pas sma...Kalo tertarik masak memasak? wah ini lebih  ga jelas lagi....mungkin kira-kira  6 taun lalu kali yeeee.......

Tobucil : Pertanyaan sulit nih om leon, Kalo suruh milih nih, mendingan jadi penggebuk drum atau juru masak?(soalnya  dua-duanya adalah kehebatan om leon)

 

Leon Ray : hahahahaha...........bisa aja lu.... justru ini yang paling gampang dong..........kalo gua lagi main drum...gua milih masak, tapi kalo lagi masak...pengennya main drum....hehehehe.... (tampak galau gini, ya, jawabannya … hehehe –red)


Tobucil : Sejak kapan om Leon tau tentang tobucil?

Leon Ray : kapan yah?ehm gua tau tobucil itu waktu di Dago. Gua lumayan sering ke sana, beli atau liat-liat buku, soalnya suka males ke Palasari , mau ke gramedia susah parkir, jadi gua seneng ada tobucil di dago. Cuma waktu pindah ke Common Room ga pernah kesana.......nah pas pindah ke aceh ...pernah....abis penasaran udah lama ga ke tobucil.


Tobucil : Apa kesan om leon pada tobucil ?

Leon Ray : apa yah........yang pasti salut buat tobucil karena disaat toko-toko buku lain berguguran, tobucil tetep ada.....hehehehe ....tapi gimana kalo bukunya diperbanyak lagi, hehehehe......oya gua juga salut tuh ama klab-klabnya. Walau gua belum pernah berpartisipasi dateng, tapi salutlah. Mengumpulkan orang-orang berhobi sama dan terus bertahan sampe saat ini......hahaha...keren banget.....gua dari dulu pengen ikut salah satu klab-klabmu itu , mungkin kapan-kapan gua ikut dah.......tapi kayaknya bukan yang merajut kali yee..hehehehehe......


Tobucil : Pertanyaan terakhir ni, om leon mau pesan apa pada tobucil? (gantian ya... biasanya kan kita yang pesan makanan        ama om leon hehehe)

Leon Ray : Wah kebetulan nih.......gua pesen buku dong.....kalo bisa...eh harus bisa dong...hihihihih.... Gua suka bgt ama buku-buku karangan YB Mangunwijaya nah ada 2 buku dia yang gua cari tapi ga dapet-dapet...Judulnya
1. Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak 
2 Putri Duyung yang Mendamba
hehehehehe .....tolong yah....
ok udah dijawab semua yahhh.....ga nyontek koq,

Setelah menerima E-mail dari Leon Ray ternyata tobuciler lupa untuk meminta photo Leon Ray hehehe… Tapi untunglah Leon masih on line saat itu, sehingga tobuciler bisa meminta photonya dan Leon Ray membebaskan tobuciler untuk memilih photonya….wah senangnya… terimakasih banyak yaaa…ddan pesenannya nanti kita cariin ya….

Palupi

hmmmnyamnyam

omleonmasakmasak

 

 

 

 

 

 

Biodata Om Leon :

Nama lengkap : Leon Ray Legoh
Nama Panggilan : Leon
Alamat : Gerlong Lebak 10
Tempat tanggal lahir : 14 apr 74
Hobi : ga jelas...
Cita-cita waktu kecil: wah udah lupa lagi euy.....

Google Twitter FaceBook

Man from Venus vs Woman from Mars

Minggu ini, kedua Tobuciler blog Tobucil diwawancara oleh bos Tobucil. Ini dia hasilnya :

syaraf

dea



Syaraf Maulini vs Sundea





Dea dan Syarif,

aku mau nanya 8 pertanyaan aja sesuai dengan angka ulang tahun tobucil heheheh... pertanyaan untuk kalian semuanya sama, tapi jawaban masing-masing..
1. apa yang membuat kalian bergabung di tobucil?

Syaraf (S) : Aura keterbukaannya yang susah dijelaskan, trus orangnya juga banyak yang aneh, sehingga saya merasa waras.

Sundea(D) : Tadinya mau bergabung sama Goggle V, tapi udah pas lima personil. Mau bergabung sama Voltus V, udah lima juga. Mau bergabung sama Pancasila, lebih nggak mungkin lagi karena dia lebih strict lagi kelimaannya. Jadi Dea bergabung sama Tobucil aja yang anggotanya nggak musti lima.

2. setelah bergabung, apa arti tobucil buat kalian?

S : Pasti jawaban yang diharapkan rumah kedua, kan? Nah itu saya jawab.

D : Rumah

3. kalo kalian jadi aku, apa yang ingin kalian lakukan dengan tobucil?

S : Membangun lapangan golf, lalu membuka link untuk MLM. Sehingga Tobucil semakin disegani oleh berbagai sekte.

D : Mempekerjakan Mbak Tarlen sebagai editor blog Tobucil. Jadi gantian, deh, kita ... hehehe ..

4. apa hal yang paling menyenangkan dan menyebalkan yang pernah kalian alami di tobucil?

S : Paling menyenangkan: Mendengarkan nyanyian sore Chris Sinatra.

Paling menyebalkan: Merajut tapi benangnya kusut.

D : Paling menyenangkan pas lagi bermatahari, paling menyebalkan pas hujan badai.

5. hal apa dari tobucil yang menurut kalian selalu membuat kangen? jelaskan..

S : Suasananya yang kritis dan kondusif buat mengembangkan pikiran. Hampir semua orang bisa diajak diskusi, kecuali Reni.

D : Ini pertanyaannya kayak pertanyaan esei di ulangan-ulangan, yak ...
Hmmm
Kadang homesick susah dijelasin. Ya ... itu, sih. Karena Dea ngerasa Tobucil kayak rumah, waktu pergi jauh dan lagi nggak beraktivitas di Tobucil rasa kangennya semacem homesick itu.

6. apa yang paling menyebalkan dari bos kalian di tobucil? hihihih tolong dijawab ya pertanyaan dilematis ini.. dijamin tidak akan mengurangi honor kalian hehehehhe...

S : Tapi saya lagi pengen mengurangi honor, gimana dong? Hahahaha.. mungkin kalau lagi bad mood ya, jadi sedikit sensitif.

D : Kalo nyetor tulisan suka mepet-mepet deadline. Jadi pas ngaplot suka keburu-buru dan nggak rasanya jadi kurang maksimal aja ... hehehe ...

7. kalo kalian diminta menyebutkan 3 permintaan, apa yang ingin kalian minta dari tobucil?

S : Harta, Tahta, Wanita.

D : Pertama : minta tobucil selalu setia ngejaga idealismenya. Percaya, deh, itu semangat yang mahal banget harganya. Ke dua : mintana incorporesano. Ke tiga : minta maaf kalo Dea pernah bikin salah.

8. sebutkan 8 hal yang menjadi sifat tobucil menurut kalian..

S : Santai, Berat, Terbuka, Kritis, Ceria, Toleran, Hangat, Akrab.

D : Kreatif-ngocol-gossiiiippp-idealis-konsisten-childlike-hommie-angettt-

maap kalo pertanyaannya tobucil sentris... heheheheh...

thanks,
t

D : Mbak, jadi ini “t” teh “Tarlen” ato “Tobucil” ?

Tarlen

Google Twitter FaceBook

“TRING” di Klab Nonton

 

Pilih Lemmy atau Tuhan? Oh, tak perlu memilih, karena Lemmy adalah Tuhan”

Kalimat itu adalah petikan dari film dokumenter Metal: Headbangers Journey yang diputar di Klab Nonton sabtu kemarin. Siapa Lemmy? Itu vokalis Motorhead. Tapi berhentilah bertanya tentang Motorhead, silakan cari di toko-toko kaset jadul. Bercerita tentang perjalanan seorang penggemar musik metal, dibawanya kita mengenal berbagai bentuk aliran musik metal, fans, serta para pemainnya yang legendaris. Bagi Tobuciler, film ini sangat menarik. Apa ukuran menariknya? Tobuciler sampai lupa bahwa ia sedang ditugaskan untuk meliput sekelilingnya.

Tapi Tobuciler sempat ingat, bahwa di awal mula film itu diputar, yang hadir cuma lima orang. Ada Wiku, Rudi, dan dua orang lagi yang katanya meliput film itu untuk diupdate di blognya. Film ini diawali oleh penulisan silsilah sejarah musik metal, yang ternyata, tak kalah rumitnya dengan silsilah keluarga Tobuciler. Setelah itu, “Tring!”, eh kaget, itu bunyi stik rajut Rudi yang jatuh, setelah itu ya, dijelaskan mengenai pengaruh metal terhadap banyak hal, mulai dari penyensoran, kekerasan, sex, hingga bunuh diri. Ini bagian yang menurut Tobuciler seru, dan membuat Tobuciler ingin membubarkan KlabKlassik yang sudah dikelola selama tiga tahun. Kenapa? Karena metal oh ternyata amat keren.

Setelah itu Tobuciler ingat, ada empat orang datang dari fikom Unpad 2004. Mereka telat sekitar satu jam, tapi mereka tetap menikmati fimnya. Namanya Tobuciler lupa semua, kecuali seorang yang bernama Tami. Tapi nama tidak penting, yang penting idenya, betul? Lalu Tobuciler bertanya, apa motif mereka datang. Mereka jawab, ingin menumpang mandi. Tapi menyebalkan sekali jika benar-benar menjawab demikian. Sebenarnya mereka tahu dari internet, dan senang musik metal. Wah, “Tring!” itu Rudi menjatuhkan stik rajut lagi, eh Rudi, berisik tahu! Wah, senang sekali ada orang mencari edukasi ke Tobucil. Setelah ditanya-tanya, mereka janji datang minggu depannya, karena konon klab nonton ini dianggap positif. Setelah itu kami berbincang-bincang tentang Tuhan, kebenaran, dan indahnya musik metal.

fotoklabnonton

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

Kumpul-kumpul di Rabu - Sabtu

“Karena yang dicari dalam filsafat bukan kepintaran, tapi kebijaksanaan bersikap,”
-Rosihan Fahmi, kuncen madrasah filsafat-
Filsafat sering dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan, sulit, dan eksklusif. “Ami menolak itu semua !” tegas Mas Rosihan Fahmi alias Mas Ami, kuncen madrasah filsafat. Itu sebabnya madrasah filsafat mengangkat topik-topik seperti “Nama”, “Utuh”, “Pagar”, dan hal-hal lain yang dekat dengan keseharian.
Embrio madrasah filsafat adalah Komunitas Sophia yang tumbuh di kampus IAIN. Meski komunitas tersebut mati karena masalah regenarasi, kerinduan untuk berdiskusi terus berlanjut ketika mereka bertemu di ruang-ruang seperti Selasar Sunaryo dan CCF. Topik obrolan yang cukup asyik mengalir secara alami, misalnya, pernah pada suatu kali Mas Dauz melontarkan topik, “Kenapa keledai disebut binatang bodoh ?”
Dan pada suatu hari di tahun 2007, Mas Ami, Mas Bambang Q Anes, Mbak Tarlen, dan Mas Andre bertemu di Ngopi Doeloe. Mereka bersepakat mengadakan diskusi madrasah filsafat secara tetap di Tobucil. Akhirnya, pada tanggal 16 Juli 2007 madrasah filsafat resmi digelar.
Terinspirasi oleh Socrates Café karya Christoper Philips, Mas Ami hanya datang untuk memfasilitasi obrolan. “Kan Socrates juga gitu. Dia datang ke mana-mana hanya untuk memfasilitasi obrolan orang-orang. Socrates bilang dia hanya berperan sebagai bidan yang membantu melahirkan,” ungkap Mas Ami.
Ingin melahirkan pencerahan dibidani madrasah filsafat ? Datang saja ke Tobucil setiap hari Rabu pukul lima sore. Semoga bayi yang kita lahirkan di sana kelak tumbuh menjadi kebijaksanaan yang menjaga kesadaran …
IMG_6304
Klab Nonton
“Bajigur Night”. Ia bukan cikal bakal “Klab Makan”, tapi cikal bakal “Klab Nonton”. “Yang ngadain namanya Erik, anak IKJ. Dulu kita pake tv 21 Inch pinjeman dari Novi (simpatisan Tobucil ketika itu),” cerita Mbak Tarlen. Apakah “Bajigur Night” betul-betul menyediakan bajigur juga ? “Yah, kadang iya, kadang enggak,” sahut Mbak Tarlen. Lho, lalu, apa hubungannya nonton dengan pemilihan nama “bajigur” itu ? “Nggak tau, ya, biar anget aja, kali …,” sahut Mbak Tarlen lagi sambil tertawa kecil.
Sejak Sang Erik menghilang, Bajigur Night mulai tersendat. Namun, semangat menonton tetap berlanjut karena Tobucil menjadi partner Jiffest (Jakarta Internasional Film Festival) Travelling. Klab Nonton baru rutin diadakan pada tahun 2005, setiap Jumat sore, saat Tobucil sudah bertempat di Kyai Gede Utama. Sayangnya, penonton yang kadang ada dan kadang tidak membuat film pun kadang diputar dan kadang tidak. Ketika pindah ke Jalan Aceh 56, Klab Nonton sempat pula diusahakan ada menggunakan layar tembak yang dipinjam dari Mas Setiaji. Ketiadaan televisi ini pun sempat disiasati dengan Klab Nonton yang bekerja sama dengan Cinesophia Universitas Parahyangan. Namun … cara ini pun ternyata kurang efektif.
Dan akhirnya, pada akhir Februari 2009, Tobucil membeli “tipi”. Karena benang Tobucil bernama “Benang Tipi”, tipi yang dibeli ini pun dinamai “Tipi Benang”. Sejak kehadirannya, Klab Nonton rutin dilaksanakan.
“Ada dukanya. Kalo macet. Kayak waktu itu, pernah udah tiga perempat film, tau-tau macet. Jadi nanggung dan penontonnya kecewa,” cerita Mbak Tarlen. “Tapi jangan kuatir, Tobucil bertujuan terus meningkatkan pelayanan. Kami telah mengganti dvd player kami dengan yang baru, Si ‘Cores’,” lanjut Mbak Tarlen.
Kini, setiap Sabtu jam enam sore, Tipi Benang bersanding dengan dvd player Cores menyuguhkan tontonan bermutu untuk teman-teman sekalian. Ayo malam mingguan di Tobucil. Menonton bersama pacar tak selalu harus di bioskop …
Google Twitter FaceBook

Tetangga (part 2) : Keluarga Rumah Nenek

 

Keluasan pekarangan Aceh 56 dijantungi oleh “rumah nenek” bergaya Belanda klasik yang sejak empat puluh tahun lalu dihuni oleh keluarga almarhum Pak Bambang Irawan. Kini empat orang yang baik dan hangat bagai tokoh buku pelajaran Bahasa Indonesia masih tinggal di sana. Mereka adalah Mbah Sukiyah (istri almarhum), Pak Yono (putera almarhum), Pak Yos (juga putera almarhum), dan si kecil Reni (cucu almarhum, puteri Pak Yos). Kadang-kadang anggota keluarga yang lain pun singgah di sana. “Ini memang tempat ngumpul,” kata Pak Yono.

 

teras teras “rumah nenek”

 

Sejak tahun 80-an, bangunan tengah Aceh 56 mulai disewa-sewakan. Beberapa penyewanya antara lain sebuah kantor pengacara, perusahaan pembuka lawan sawah, Tempo, dan terakhir Tobucil. “Dulu sebelum disewa-sewakan di situ kamar anak laki-laki (keluarga Pak Bambang),” Pak Yono menginformasikan.

Apakah tinggal sepekarangan dengan bermacam-macam orang dan kegiatan mengganggu privasi keluarga ? “Nggak pernah ada masalah, malah deket. Setiap yang di sini hubungannya malah nambah jadi kayak saudara,” sahut Pak Yono. Ia lalu bercerita, pernah pada suatu masa ketika Mbah Sukiyah ditinggal sendiri karena anak-anaknya bekerja di luar kota, bagian dalam “rumah nenek” bahkan disewakan kepada Humpus (Hutomo Mandala Putera Suharto). “Mereka juga jadi kayak saudara, Mbah jadi ada yang ngejagain,” kata Pak Yono. Hmmm … lucu juga, ya ?

Memang seperti apa, sih ? bagian dalam “rumah nenek” ini ? Pssst … yuk kita intip sama-sama …

ruangtamuyghangat

ruang tamu yang hangat

 

ruangygduludisewahumpus

ruang yang sempat disewa oleh Humpuss

 

ruangtengahygbisadiintipdariberandatobucil 

ruang tengah

 

ruangmakan

ruang makan

 

dapur

dapur

 

“Sejak kapan, Pak, rumah ini banyak tanemannya gini ?” tanya Tobuciler pada Pak Yono. “Sekitar … taun 80-an,” sahut Pak Yono. “Taneman-taneman ini bikin kesan ‘liburan di rumah nenek’ di sini kuat, lho,” ujar Tobuciler lagi. “Memang konsepnya saya ciptakan begitu. Dan secara psikologis, ada hubungannya suasana banyak tanaman seperti ini dengan keakraban,” ungkap Pak Yono sambil tersenyum menyejukkan.

Di Aceh 56, kita seperti berlibur di rumah nenek setiap hari. Keluarga yang menjantunginyalah yang berdegup sehat dan mengedarkan semangatnya …

 

fotokeluargaresized

Sundea

Google Twitter FaceBook

Tersimpan Kehangatan pada Bibir Gelas Tehku

 

Udara malam seperti media penyalur dingin yang tak dapat kulihat dimana pangkalnya. Kurasa dingin menyebar begitu saja tanpa tau dari mana dan kemana. Tak bisa ku mematikan dingin malam ini dengan menutup sumbernya, tidak seperti menghentikan panas yang dikeluarkan oleh api yang dapat dilihat jelas asalnya,tinggal disiram lalu matilah api dan hilang panasnya. Sedangkan udara dingin malam ini ? apa yang harus kupadamkan ?

Sebuah kewajiban memaksaku untuk lebih berteman dengan apa yang terjadi pada malam ini. Udara dingin, keheningan malam dan langit hitam mengepungku dalam kesendirian. Tak banyak hal yang dapat kulakukan pada saat itu selain berjuang agar tak terkapar oleh keasingan yang terjadi karena rasa gelisah dari dalam diri sendiri.

Ahkirnya kuputuskan untuk membuat secangkir teh sebagai penghangat di tengah serbuan serdadu udara dingin yang mencoba menerobos benteng kulitku. Kombinasi air hangat, sedikit gula, dan daun teh mint adalah amunisi yang dapat kubuat saat ini.

Segelas teh mint hangat telah siap untuk ku minum. Hangat yang terkandung di dalam air teh hijau itu menerbangkan asap dan menghanyutkan aroma khas ke udara di sekitar gelasku. Perlahan dengan ritme yang sangat syahdu asap itu seolah sedang menampilkan tarian penyambutan untuk mengundangku menyesap hangatnya air teh dalam gelas itu. Aku memperhatikan sejenak apa yang ingin dikatakan oleh asap itu namun ia bisu dan tetap menari.

Sejenak kemudian kucoba untuk menyesap teh hangat itu. Perlahan kudekatkan cangkir teh ke bibirku. Kutiup perlahan lalu kutempelkan bibirku pada bibir gelas cangkir itu. Tiba2 diriku terkejut bukan main karena panas yang tersimpan di bibir gelas menempel pada bibirku.

fotogelas

Tiba – tiba persentuhan bibirku dan bibir gelas membuatku merasakan apa yang ia rasakan. Perasaanku bertransformasi menjadi gelas yang kupegang.

Aku merasakan panas cairan teh yang ada di dalamku. Aku merasakan manis dari gula yang sudah bercampur. Aku merasakan kepenuhan dalam diriku. Dinding – dinding tubuhku menahan itu semua, ia menahan panasnya yang menjadi hangat di bagian luar. Manusia yang memegangku mungkin tak merasakan panas yang coba kutahan di dalam diriku. Hingga perlahan dengan sabar kubiarkan air dalam tubuhku menjadi hangat dan nyaman.

Seketika itu juga aku teringat akan sebuah pengalaman yang biasanya dialami oleh dinding gelas di setiap malam. Dulu, ada bibir seorang wanita yang selalu menyentuh bibir gelasku di setiap malam. Wanita itu mengisi tubuhku dengan teh khusus yang berfungsi untuk obat. Tak ada satu malam terlewat tanpa tuangan air, celupan teh, dan adukan lembut dari dirinya.

Tapi semenjak ia berpisah dengan seseorang, aku tak lagi ada bersamanya di setiap malam. Aku kembali pada orang yang membeliku, pada ia yang memberikanku pada wanita itu saat hangat dalam dirinya masih ada. Sejak malam terahkir ia mengaduk air dalam diriku, aku tak pernah lagi merasakan kehangatan, tak ada air yang ku tampung, tak ada manis yang ku rasakan. Aku menjadi gelas kosong yang berada di dalam lemari, hanya udara pengap yang mengisi ruang tubuhku. Dinding gelasku hambar rasa, aku tak menjadi gelas teh lagi Karena tak ada air teh yang di dalam diriku.

Tapi malam ini aku merasakan kehangatan itu lagi, rasa manis lagi, gerakan air teh lagi, sentuhan bibir lagi. Walau pemilik baruku yang melakukannya, yang juga meminta kembali aku saat ia berpisah dari wanitanya. Tapi aku ingat, aku ingat rasa yang dulu. Aku ingat hangat itu masih sama dengan hangat yang kuarasakan sekarang.
Walau bukan teh yang biasa di buat wanita itu, tapi hangatnya sama.

Dinding gelasku merasakannya lagi, manis itu.

Semua bisa kurasakan

Walau kecepatan adukannya agak lebih cepat, gulanya sedikit lebih banyak dan tehnya memiliki rasa lain, tapi aku senang ada yang tinggal di dalam diriku, ada kehangatan lagi.

Dinding gelasku tersenyum merasakan sensasi ini. Walaupun aku pernah menjadi gelas yang kosong, justru dengan itu aku menjadi berisi. Aku tak perlu sedih lagi dengan kekosongan itu karena aku jadi dapat merasakan kehangatan lagi. Seandainya saja aku tak dibiarkan mengosongkan air yang ada di dalam tubuhku,pasti aku hanya menjadi sebuah wadah bagi air yang perlahan menjadi dingin walaupun tetap manis rasanya. Menjadi sebuah wadah bagi sebuah rasa yang tak bisa mengalir kemanapun, menjadi sebuah pesan yang tak tersampaikan.

Mungkin aku tak butuh selalu manis itu, yang hanya bisa dirasakan sejenak oleh lidah tapi hilang setelah masuk dalam tenggorokan. Aku butuh kehangatan yang memenuhi, yang mengalir menyebar keseluruh tubuhku saat masuk dalam mulut lalu tenggorokkan. Kehangatan bukan sekedar menangkal dingin, ia mengisi kedamaian yang tak terbahasakan. Kehangatan memeluk bukan memaksa, bukan memanjakan tapi memberikan apa yang tepat pada diriku.

Aku senang pernah kosong karena sekarang ku berisi,dan sebentar lagi ku akan kembali kosong karena ku mengisi kehangatan bagi yang lain. Begitulah sebaiknya perjalanan diriku yang tak pernah berhenti dituang dan menuang. Dan malam ini, aku ingin sekali membagi kehangatan dan rasa manis yang kumiliki karena ku penuh dengan semua itu. Andai saja bibir wanita itu ada di dekat bibir gelasku……….

Aku kembali tersadar dari perjalanan bayanganku. aku menjadi manusia. Gelas yang baru saja menjadi aku,kini kupegang dengan penuh rasa takjub tentang apa yang baru saja ia pikirkan dan renungkan.
Aku jadi berpikir bahwa sebenarnya dinding gelas itu memiliki hubungan dengan air dan mulut. Ia bisa merasakan yang ia tampung dan salurkan.

Bila saja manusia dapat merasakan itu juga, pastilah sebuah hubungan tidak akan terputus. Hal itu bisa terjadi bila setiap manusia yang menjalaninya selalu mengisi dirinya dengan kehangatan dan memberikannya pada pasangannya. Begitu juga sebaliknya dan berjalan tersu menerus seperti proses dituang dan menuang.

Manusia layaknya dinding gelas itu yang menyimpan rasa hangat dari kasih sayang dan menyalurkannya kepada pasangannya berupa tindakan. Dan takkan bisa seorang manusia menjalani hubungan hanya dengan sebuah kesenangan-kesenangan sementara dari rasa manis tanpa adanya sebuah kehangatan. Hubungan itu hanya akan menjadi sebuah penampung dari rasa manis yang perlahan akan menjadi hambar dan dingin karena mengendap di dasar kesadaran yang terbentuk dari kebiasaan.
Sebuah hubungan harus selalu diperbaharui dengan mengalirkan kehangatan yang tak henti. Dan malam ini aku penuh dengan kehangatan karena aku dapat mengerti makna yang terjadi di setiap aliran hidupku.

Aku tersenyum dan ingin sekali mengucapkan terima kasih pada wanita yang dulu pernah menempelkan bibirnya di dinding gelas teh ini disetiap malamnya. Dinding gelas itu menyimpan hangatnya kenangan dan kisah. Namun keadaan memaksaku hanya dapat menyampaikannya melalui udara dingin ini. Semoga pada pagi hari mengembun dan menguap menjadi awan yang suatu hari akan turun menjadi bulir hujan yang menyentuh wajahnya.

Lama sudah aku terdiam, ternyata teh dalam gelasku sudah hilang asapnya. Aku meminum dan merasakan hangatnya dalam rongga mulutku, tapi saat hangatnya teh itu mengalir ke dalam tenggorokan, ada rasa dingin yang tertinggal di rongga mulut dari rasa teh mint ku.

8 Mei 2009

(nb: biasanya angka 8 ini menjadi angka yang spesial buatku. Aku selalu mempersiapkan sesuatu untuk tibanya tanggal ini. Ku selalu ingat apa yang terjadi di angka 8 setiap bulannya.Namun kini hanya sebuah cerita yang dapat kuberikan. Ini sebuah kasih. Terima kasih untuknya)

dan gelas itu sempat membisikkan sesuatu padaku. katanya ia rindu dengan pemilik gelas yang dulu dan ingin berbicara sejenak.

 

fotoanex Andreas Anex adalah mahasiswa arsitektur Universitas Parahyangan. Ia memercayai pentingnya kesadaran dalam menjalani keseharian. Itu sebabnya, Anex yang menyukai filsafat ini tak pernah jemu  mencermati dan mencatat segala hal yang terjadi dalam kesehariannya. Silakan berkunjung ke rumahnya di http://aneksophie.multiply.com

Google Twitter FaceBook

Menelusuri Kemungilan Tobucil

 

Di minggu terakhir bulan Mei ini, mari kita telusuri kemungilan Tobucil …

 

beranda

Beranda Tobucil

 rakbuku Toko buku

 

mejakasir

Meja kasir, penjaga gawang Tobucil

 

pojokheboh  Pojok heboh bos Tobucil

 

areaperdaganganbenang

area perbenangan dan Mbak Upi sang instruktur rajut

 

perpustakaanups

  Tempat penyimpanan properti

 

dapur dapur yang imut-imut

 

dan akhirnya …

 

kopiaroma kopi aroma !

Setelah lelah menulusuri, mari kita  nikmati kompi aroma yang khas ini.

Robusta : Rp. 3000,00 saja

Arabika : Rp 4000,00 saja

Di dalam cita rasanya, teroplos suasana ruang-ruang di kemungilan Tobucil

^_^

 

Sundea

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin