Sunday, June 28, 2009

Mengingat Hal-hal Baik

 

“Inget Si A ?” tanya seorang teman. “Oh, inget. Yang suka ngerebut pacar orang ?” tanggap teman yang lain. “Inget acara bulan kemarin ?” tanya teman yang lain lagi. “Inget, inget. Yang dekornya jelek banget itu kan ?” tanggap teman yang lainnya lagi.

Ingatan kita kerap mengidentifikasi seseorang atau peristiwa melalui hal yang buruk. Trauma bisa menguapkan kesan-kesan yang baik, tapi kesan-kesan baik tak mudah menguapkan trauma. Mungkin secara alami, sistem itu menjaga manusia agar terus waspada dengan ingatan sebagai radarnya.

Namun ada kalanya kesadaran kita perlu membantu ingatan mengidentifikasi melalui hal-hal baik.

 

“Inget Si A ?”

“Oh, inget. Yang cantiknya unik itu kan …?”

“Inget acara bulan kemarin ?”

“Inget, inget. Yang pengisi-pengisi acaranya semangat banget dan dateng on time itu kan ?”

 

“Ingat Michael Jackson ?”

“Oh, yang bikin taman bermain buat anak-anak kan ?”

“Yang beberapa lirik lagunya menyentuh dan dalem ?”

“King of Pop yang jadi icon taun 80an … ?”

 

Mengingat hal-hal baik adalah sistem kesadaran yang mensugesti kita untuk menjadi hal-hal baik juga. Bersama blog Tobucil minggu ini, mari mengingat hal-hal baik dan menjadi hal baik yang menyebar ke segala arah seperti sinar berlian.

Teman-teman, semoga kami dapat tinggal dalam kesadaranmu sebagai hal-hal baik.

Seperti kalian yang senantiasa terjaga sebagai ha-hal baik dalam ingatan kami.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

resizedkartu pos dari Ibu Maria

Google Twitter FaceBook

Bagi Saut Situmorang, Poetry is a Joy Forever

mainpic Saut Situmorang menyambangi Tobucil bersama dua orang temannya. Sambil menyanyikan lagu Utha Likumahuwa dengan suaranya yang berat, ia duduk di beranda Tobucil. “Bang Saut bakal lama, nggak, di sini ?” tanya Tobuciler. “Sampai besok pagi. Kenapa ?” ia balik bertanya. “Mau, nggak, diwawancara buat rubrik ‘Teman Tobucil’ di blog Tobucil ?” tanya Tobuciler lagi. “Gimana kalau aku aja yang ngewawancara kau ?” eh … ia malah balik bertanya lagi.

Singkat cerita, akhirnya wawancara dengan Bang Saut Situmorang terlaksana juga.

Teman Saut : Panggilnya Mas aja, dia kan dari Yogya.

Tobucil : Nah … jadi mau dipanggil apa ini ? Bang atau Mas ?

Kangmas Saut : Kangmas.

Tobucil : Ok. Kangmas. Menurut Kangmas Saut, hal baik itu apa ?

Kangmas Saut : Saya.

Tobucil : Hmmm … alesannya ?

Kangmas Saut : Ya … karena tentang saya, kan nggak mungkin saya mengatakan hal-hal jelek tentang diri saya. Namanya juga ‘filosofi saya’. Bahasanya gaulnya megalomania narsistik …

Tobucil : Entar, entar, ini lagi dicatet …

Kangmas Saut : Kau harus belajar short hand sephamore kayak pramuka itu …

Mas Agus Rakasiwi : Semaphore.

Tobucil : (masih sambil mencatat) Hahahaha …

Kangmas Saut : Jangan kau catat itu !

Tobucil : Catet, ah, ini kan ‘filosofi saya’ hehehehe …

Kangmas Saut : Oh, ya sudah.

Tobucil : Sip. Nah. Berikutnya. Menurut Kangmas puisi itu apa ?

Kangmas Saut : “Poetry is a joy forever”, ini saya kutip dari kata-kata penyair Romantik Inggris, John Keats, “Beauty is a joy forever”. Can you handle that ?

Tobucil : Can, can. But why does it?

Kangmas Saut : Because I’m a poet. Because I write poetry.

Tobucil : Terus hal terbaik dari puisi ?

Kangmas Saut : Itulah hal terbaiknya. It gives joy. Memberikan kesenangan, bukan kebahagiaan. Kalau tidak memberikan kesenangan buat apa ?

Tobucil : Terus menurut Kangmas bedanya “kesenangan” dan “kebahagiaan” ?

Kangmas Saut : Kebahagiaan itu itu abstrak banget. Kalau kesenangan lebih down to earth, memberikan hiburan. Hiburan itu sesuatu yang tidak elitis. Kalau kebahagiaan itu lebih elitis, philosophical, … yah … begitulah.

Tobucil : Jadi menurut Kangmas senang lebih baik daripada bahagia ?

Kangmas Saut : Tidak juga. John Keats memilih istilah “joy” karena kesan kata “joy” lebih down to earth saja. Itu juga berkaitan dengan konsep kaum romantik. Diksi-diksi John Keats pun menunjukkan hal itu.

Tobucil : Selama Kangmas jadi sastrawan, apa hal yang paling inspiratif buat Kangmas ?

Kangmas Saut : Maksudnya pengaruh ? Ya … begini aja. Saya dulu di Medan kan ambil sastra Inggris. Saya dulu di sana susah sekali mendapat buku. Tapi ketika saya merantau sebelas tahun di New Zealand, saya menemukan second hand book shop. Itu merupakan sebuah penemuan yang luar biasa untuk cara pandang.

Tobucil : Terus kalau penyair yang paling inspiratif siapa ?

Kangmas Saut : A, kita ngomongin ini aja … sini kutulis … (mengambil alih bolpoin dan buku Tobuciler kemudian mulai mencatat : Baudelaire, Rimbaud, Lautreamont, dan para penyair surrealis Perancis, juga para penyair berbahasa Spanyol seperti Federico Garcia Lorca dan Pablo Neruda. Terakhir saya berkenalan dengan para penyair The Beats dari Amerika)

Tobucil : Banyak amat …

Kangmas Saut : Biar jangan kau taunya-taya aku lagi.

Tobucil : Hehehe … nah, sekarang, hal baik dari Tobucil buat Kangmas apa ?

Kangmas Saut : Karena dulu waktu saya berperang dengan Alwi dari Cirebon dan para penyair Bandung, Forum Sastra Bandung, debatnya di Tobucil. Ada almarhum Benny.R. Budiman yang paling sengit mengritik artikulasi Bahasa Perancis saya karena dia Sarjana Bahasa Perancis. Itu berkesan buat saya. A, malam itu juga untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan anak muda bernama Frino Baricianur Barus yang juga membela Cyber Sastra.

Tobucil : Wah … kapan, tuh ?

Kangmas Saut : Sudah lama. Mungkin sebelum kau lahir. Kapan kau lahir ?

Tobucil : Kemaren.

Kangmas Saut : Kau kerja di sini dari kapan ?

Tobucil : Hari ini. Kan lahir juga baru kemaren … hehehehe … Nah, terakhir. Kangmas udah nerbitin berapa buku, sih ? Mangga dicatet sendiri (menyorong bolpoin dan buku Tobuciler ke hadapan Kangmas Saut)

Kangmas Saut : [mencatat : 1. Saut Kecil Bicara dengan Tuhan (kumpulan puisi), 2. Catatan Kecil (kumpulan puisi), 3.Otobiografi (kumpulan puisi), 4.Politik Sastra (kumpulan esei)] Wah … sudah empat … hebat juga aku, ya …

Tobucil : Cieee … Ok, deh… sip. Segitu dulu. Makasih, lho …

Kangmas Saut : Sudah lebih dari tiga halaman ini, harusnya ada bir dingin.

Tobucil : Aer putih dingin aja, tuh, sehat …

Sambil merapi-rapikan catatan, Tobuciler menyanyikan lagu Easy dari Faith No More. “Are you easy ?” Kangmas bertanya. “Depends on the context,” sahut Tobuciler. Lalu sesuai namanya, Kangmas Saut menyauti nyanyian Tobuciler, “That’s why I’m easy, easy like Sunday morning …”

Sambil menutup buku catatan, Tobuciler menyadari sesuatu.

In some contexts,” life is a joy forever”.

Like every Sunday morning does.

Sundea

fotodua

fototiga






Biodata Saut Situmorang :

Pekerjaan : Penyair

Tempat tinggal : Jogja

Tempat tanggal lahir : Tebing Tinggi, 29 Juni 1966


Google Twitter FaceBook

Indahnya Hidup, Bintang di Dekat Hatimu, dan Kaos Madrasah Filsafat

 

hidupiniindah Judul Buku : Hidup Ini Indah (Kisah-kisah Penyejuk Hati)

Harga : Rp. 20.000,00

Hidup ini indah adalah serial tentang sketsa hidup yang terlalu berharga untuk kita lewatkan. Beragam kisah hidup ditata di dalamnya sedemikian rupa.

Kisah-kisah itu bisa berasal dari mana saja : para sufi, bijak bestari, penganjur cinta kasih, orang suci, guru kearifan, jauh dari bermartabat. Membacanya kita akan menemukan betapa ada sesuatu yang dicari dalam hidup ini kebahagiaan. Seperti ditunjukkan buku ini, jalan untuk menggapai itu bermacam-macam, tidak satu. Dan kita bebas mengambil inspirasi dari semuanya demi menapak jalan kita sendiri.

----

kalungbintang

Handmade by Dian Rinjani

 

Bintang rajutan warna-warni ini dapat tinggal dekat dengan hatimu. Ia seperti kebaikan yang selalu mempengaruhi nuranimu.

Hanya dengan Rp. 35.000,00 kamu dapat membawa sebuah warna bintang.

Klik di sini untuk informasi lebih lengkap

---

Kaos Ulang Tahun Madrasah Filsafat

Kaos ini di sablon dan di produksi dengan jumlah terbatas sesuai dengan permintaan. Penjualan kaos ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan ulang tahun ke 2 madrasah falsafah tobucil & klabs yang akan menggelar perhelatan 'Pesta Filsuf: Merayakan Filsafat Keseharian' pada tanggal 19 Juli 2009 mendatang (detail acara menyusul).

Gambar karya R.E. Hartanto. Dipergunakan atas seizin senimannya. Dengan membeli kaos ini, berarti anda telah mendukung kegiatan tobucil & klabs. Terima kasih.

----

Spesifikasi kaos:
Bahan Katun Kombat tanpa sambungan
Ukuran: M dan XL
Harga: Rp. 80.000 (tidak termasuk ongkos kirim)

Untuk pemesanan silahkan kirim email ke: vitarlenology@yahoo.com atau tobucil@yahoo.com
dengan mencantumkan pilihan gambar, warna dan ukuran.

Contoh model kaos :

IMG_1401

 

 

 

 

 

 

 

Klik di sini untuk melihat model kaos yang lainnya

Google Twitter FaceBook

Ketika Laptop Tobuciler Tertiban Benang

 

-Tobucil, Senin 22 Juni 2009-

SRRRB … BRUKKKKK … sepaket benang terjun menimpa laptop Tobuciler. Tobuciler yang sedang menyelesaikan rangkaian publikasi blog Tobucil mendadak terkesiap. Layar laptop gelap. Engselnya pun patah. “Sorry, sorry …,” Mbak Upi yang menyusun tumpukan benang merasa sangat bersalah, “Ya udah, yuk, kita ke BEC sekarang, periksa dulu biar nggak makin parah …”

Maka berangkatlah Mbak Upi dan Tobuciler ke Bandung Electronic Center. “Sebenernya ini bisa, sih, dibetulin, tapi kita nggak ada super glue-nya,” ujar Mas Andi, teknisi setempat. “Kalo kita cariin lemnya gimana, Mas ?” tanya Tobuciler. “Boleh …,” jawab Mas Andi. Maka Tobuciler dan Mbak Upi ngacir mencari lem super.

laptopdanmasandi laptop Tobuciler dan Mas Andi

Mas Andi berusaha keras melekatkan engsel laptop Tobuciler, namun percuma. Diiringi lagu Let It Be yang berkumandang di pertokoan, Mas Andi menyeseali, “Aduh, maaf, nggak kuat lemnya. Udah, nggak usah bayar, kan laptopnya nggak jadi bener …”

Plan B kami adalah menyambangi kediaman A Olih alias A Solihin, sahabat Mbak Upi yang agak ke MacGyver-MacGyver-an. “Ini bisa, sih, dibenerin, dilem pake lem besi. Tapi musti didiemin 12 jam. Biarin laptopnya ditinggal di sini ?” tanya A Olih setelah memeriksa laptop Tobuciler. Diiringi lagu Bimbo yang berkumandang dari radio A Olih, “Salam sayang, kasih sayang, salam sayang kau seorang …,” akhirnya Tobuciler mengangguk.

laptopdanaolih laptop Tobuciler dan A Olih

Tobuciler dan Mbak Upi pulang dengan lemas. Untuk menghibur diri sendiri, kami jalan-jalan ke M&M Dago dan makan-makan di Rumah Makan Padang.

-Tobucil, Jumat 26 Juni 2009-

Setelah rapat mingguan rampung, Mbak Upi masuk ke ruang samping Tobucil dengan wajah sumringah, “Saya baru ngambil laptop kamu.” Tobuciler menyambut dengan sumringah juga. Artinya mulai hari itu Tobuciler dapat kembali bekerja dengan laptop sendiri.

“Akhirnya engselnya gua ganti di Plaza,” cerita Mbak Upi. Agak sulit menemukan spare part untuk laptop Tobuciler karena dia adalah Compaq seri lama. “Pas gua dateng terus engselnya gua tunjukin, ‘ada ini, nggak?’ Penjualnya malah nanya balik, ‘Itu apa, ya, Neng ?’ Yah … ,” Mbak Upi melanjutkan ceritanya. Tobuciler tertawa.

“Mulai sekarang, laptop ditaro di meja, ya, kan udah ada meja. Kalo terjadi apa-apa karena nggak ditaro di meja, itu tanggung jawab sendiri-sendiri,” Mbak Tarlen memperingatkan. Pasca kepindahan AJI, ruang AJI memang menjadi ruang kreativitas bagi kerabat kerja Tobucil. Rakotakotak yang fleksibel itu pun difungsikan sebagai meja kerja, seperti terlihat pada foto berikut ini :

ruangkerja

“Kita cari kursi , yuk, kamu nggak musti ngerjain apa-apa lagi ?” tanya Mbak Upi kepada Tobuciler. “Yuk, kalau udah ada si laptop mah santai, udah tenang hidup … hehehe …,” sahut Tobuciler.

Tobuciler dan Mbak Upi pergi dengan sehat. Untuk menyatakan syukur atas ke-happy ending-an tersebut kami bertamasya ke Balubur.

Sundea

Google Twitter FaceBook

AJI Pindah

 

-Tobucil, Rabu 24 Juni 2009-

Malam Kamis itu mendadak sibuk. Ada apa gerangan? Asosiasi Jurnalistik Independen alias AJI akan pindah markas. Kemana mereka? Ke daerah Tubagus Ismail. Selain karena habis kontrak, menurut pengakuan Mas Agus, sang ketua, di Tubagus juga katanya ada yang namanya Berita Bandung, organisasi yang mereka ajak kerjasama. Mobil berbak terbuka menanti di halaman, bersiap mengangkut segala barang-barang AJI yang macam-macam. Mulai dari komputer hingga meja komputer. Namun, menurut Mas Agus, kepindahan ini barulah secara de facto, karena akan ada kepindahan secara de jure, yang diwujudkan dalam bentuk farewell party. Oh Aji, Oh Ratna, cintamu abadi.

Syaraf Maulini

fotoajipindah

 

 

 

 

 

 

 

foto-foto lainnya ada di Flickr Tobucil. Klik di sini

Google Twitter FaceBook

Naik-naik ke Puncak Gunung Bersama D’Java Strings Duet

-Jumat 26 Juni 2009-

Seperti gigi seri dan gusinya, dua personil D’Java Strings Quartet, Rama dan Ade, datang ke Tobucil bersama Syaraf Maulini, manager mereka. “Personil yang dua lagi mana ?” tanya Tobuciler. “Nyusul,” sahut sang manager. Sambil ngabuburit, Mbak Tarlen, Syaraf, Rama, Ade, dan Tobuciler bertamasya ke Selasar Sunaryo. “Siapa tau taun depan kalian bisa main di sana,” kata Mbak Tarlen pada para personil D’Java.

Perjalanan menuju Selasar Sunaryo bagai “naik-naik ke puncak gunung”. Ketika mobil Syaraf semakin menanjak, Ade sang pemain cello tampak panik, “Ini jauh banget. Apa nanti ada yang mau nonton ?” “Ada, ada, pasti ada,” Mbak Tarlen menenangkan. Setelah pada akhirnya mobil Syaraf terparkir dengan damai di Selasar Sunaryo, kedua personil D’Java menarik nafas lega.

Ketika melihat panggung terbuka Selasar, lagi-lagi Ade panik, “Tapi kalau ujan gimana ?” “Kan ada pawang,” sahut Mbak Tarlen. “Iya, ujannya dipindahin. Jadi kalo pas hari kalian main tau-tau di Tobucil ujan, orang-orang di sana pada tau, ‘Wah, artinya D’Java udah mulai main’,” Syaraf menyimpulkan.

adengintip Setelah melihat-lihat, ternyata kedua personil D’Java Strings Quartet segera jatuh cinta pada Selasar Sunaryo. Ade tampak senang melihat adanya backstage yang unik dan Rama tampak menyukai suasana Selasar. “D’Java foto di sini, yuk, biar profile picture di facebook fotonya ganti, masa’ itu-itu terus ?” usul Rama. “Adik kamu foto pre-weddingnya juga di sini, lho,” kata Mbak Diah, pemegang dokumentasi Selasar Sunaryo. “Ya, jadi kesannya sekalian kan ? Ntar di belakang fotonya sekalian ditulisin ‘D’Java Wedding. Terima …’,” usul Rama lagi. Sebagai informasi, di hari pernikahan adik Rama nanti, D’Java Strings Quartet didaulat untuk tampil.

Setelah puas berkeliling, kami pamit pulang. Di dalam mobil, kami berkhayal-khayal tentang tampilnya D’Java Strings Quartet di Selasar. “Di sana kan dingin. Berarti kita pakai jas,” kata Rama. Tahu-tahu, entah dari mana, tercetus ide mengenakan kostum baju rajutan dari Tobucil. “Oh, iya, kita endorse, tapi nanti di belakangnya ada tulisan kayak di backdrop ‘Tobucil : Sedia Aneka Benang Rajut’ hahahaha …,” kelakar Mbak Tarlen.

Seperti apa penampilan mereka di Selasar kelak ?

Tunggu, tunggu, masih ada yang lebih dekat. Minggu (28/06) D’Java Strings Quartet tampil di Musik Sore #3 Tobucil. Silakan simak liputannya ^_^ v

Sundea

berempat

Google Twitter FaceBook

Hujan, Janganlah Hujan

-Tobucil, Minggu 28 Juni 2009-

Musik Sore #3

Sore itu oh sore itu. Mendung sekali nampaknya. Tobuciler khawatir jika terjadi hujan. Mengapa khawatir? Karena sedang akan ada gelaran musik, dan acara itu sungguh tak kedap air. Musik Sore Tobucil (MST) diadakan untuk ketiga kali, dan yang sekarang persiapan terasa matang. Ada empat penampil, dua lokal, dua impor. Impor, maksudnya, dari Jakarta dan Yogya. Gayanya pun beragam. Yang pertama adalah Deu Galih, yang nampaknya menampilkan lagu-lagu yang amat terpengaruh grunge ala Nirvana dan Alice in Chains. Penampil berikutnya, masih lokal, adalah Tesla Jazz Duo,.yang tampil dengan gaya bebop khas Chick Corea dan Pat Metheny. Yang ketiga, mulai impor, adalah penyanyi bernama Yeyen dan Dian. Mereka dari Jakarta, dan sungguh suaranya, subjektif Tobuciler bilang, seperti Beyonce. Yang terakhir, adalah figur-figur yang rajin menghiasi blog Tobucil sepanjang bulan April, yakni D’Java String Quartet, kuartet gesek asal Yogya.

Tobuciler percaya jika hujan adalah rahmat. Tapi Tobuciler akan nyaris tak percaya jika hujan itu turun kala MST, yang mana secara tren, Bandung sedang tidak diguyur hujan dalam seminggu ke belakang. Dijadwalkan jam tiga, Tobuciler sengaja memolorkan hingga setengah empat, menyesuaikan dengan mental penonton yang juga rajin molor. Deu Galih tampil sebagai pembuka. Dan benar saja, teriakan-teriakan ala Kurt Cobain dan suara interval khas Layne Staley keluar sebagai representasi gaya grunge. Sungguh ekspresif. Tobuciler mendadak ingat, di headline Koran PR tahun 1994, ada tulisan, “Kurt Cobain Mati”. Lantas Tobuciler bertanya dalam diri, “Hah, jadi si Kurt ini mati ga nih?” Tapi ya sudahlah, tak perlu dibahas.

deugalihDeu Galih

Pasca Deu Galih, mestinya Tesla Jazz Duo. Tapi berhubung si penampil baru datang, kasihan kecapean, maka Chris Sinatra diminta tampil, berduet dengan Yunus, Yunus apa ya? Chris Sinatra menyanyikan lagu berjudul Perhaps, Perrhaps, Perhaps, yang dilanjutkan dengan sajian instrumental yang diambil dari karya Depape. Akhirnya Tesla Jazz Duo tampil juga. Tesla ini, Tobuciler sedikit cerita, dulunya rajin datang ke KlabKlassik. Maennya, ya main klasik. Tapi dalam setahun dua tahun kebelakang, ia meninggalkan klasik, dan total ke jazz. Dan ini untuk pertama kalinya Tobuciler menanggap dia untuk tampil sebagai jazzer, alih-alih klasik. Tobuciler kaget, Tesla sudah sedemikian kerennya. Menampilkan jazz bebop, berduet dengan basis Galang, penampilannya sungguh memukau. Menghadirkan suasana galau yang kental di garasi Tobucil. Penonton awalnya berkerat-kerut, tapi lama-lama mulai sadar bahwa itu keren. Tampil dengan lagu-lagu semacam Spain, How Insensitive, dan Theme Song Flinstone, Tesla menginterpretasi semuanya dengan gaya yang, apalah namanya, jazz banget pokoknya.

Setelah itu barulah sesi impor. Tampil dua penyanyi yang Tobuciler datang dari Jakarta, namanya Yeyen dan Dian. Dega? Itu nama manajernya. Menyanyilah mereka empat lagu, Halo yang populer oleh Beyonce, Manuk Dadali, Cinta yang populer oleh Vina Panduwinata, dan sebuah lagu berbahasa Prancis yang dipopulerkan oleh Lara Fabian. Ini sungguh sajian yang memukau, karena suara mereka diatas rata-rata. Duetnya sungguh kompak, dan mampu mencapai nada-nada yang mengejutkan. Diiringi Yunus Apa Ya dan Chris Sinatra, mereka sukses mengundang aplaus penonton meriah, terutama di lagu terakhir, yang berbahasa Prancis itu. Oh, stereotip orang Jakarta yang rajin memacetkan Bandung di akhir Minggu, mendadak hilang.

Di puncak penampilan, D’Java String Quartet yang hadir. Datang dari Yogya, mereka sungguh berbeda dari performa di MST dua bulan lalu. Wajar, kala itu mereka menjelang resital, dan hanya mempersiapkan karya-karya klasik yang khas konser. Yang sekarang, mereka nampak berniat menghibur. Ada dua karya populer, dan satu karya klasik, itupun karya klasik nan populer. Pertama dibuka oleh Allegro dari Eine Kleine Nachtmusic karya W.A. Mozart. Tet Totet Totet Totet Tot Teeeet. Begitulah pembukanya. Lagu kedua adalah variasi dari Cublak Cublak Suweng. Ini dimaksudkan, kata Rama sang punggawa, untuk mengimbangi nama D’Java, yang namanya Jawa, tapi kok maennya klasik semua. Maka dimainkanlah itu lagu Jawa. Sebagai penutup, kuartet yang terdiri dari Rama (violin), Dwi (viola), Danni (violin) dan Ade (cello) itu menampilkan karya ragtime populer dari Scott Joplin, judulnya The Entertainer.

DJava D’Java Strings Quartet

Oh sungguh sore yang menyenangkan, dan tahukah bahwa saat itu tak jadi hujan? Sungguh sebuah berkah, kala teman-teman dari sudut Bandung yang lain mengabarkan tengah terjadi hujan deras. Namun anehnya, itu tak sampai ke Tobucil. Ada teori yang bilang bahwa itu gara-gara ada kampanye JK-Wiranto di Saparua, tempat yang dekat di Tobucil. Ada juga teori yang mengatakan karena awan pun menikmati MST. Sehingga ia mau menahan diri. Apapun itu, yang pasti MST sukses berkonsistensi. Di tengah jalur indie yang semakin tidak jelas karena ternyata tak lagi berurusan dengan minoritas dan kebebasan berekspresi. MST, Alhamdulillah, masih punya semangat khas indie yang dulu sempat didengungkan.


mikrofonspeaker

Syaraf Maulini



Ada lebih banyak lagi foto Musik Sore #3 di Album Flickr Tobucil. Klik di sini

Google Twitter FaceBook

Sebuah Rasa yang Dibungkus Kenangan (Filosofi Permen)

Semalam saya bisa tidak tidur, lebih tepatnya tidak sempat untuk tidur. Hal itu terjadi karena pada pagi ini saya harus membuat beberapa gambar yang harus di bawa saat kuliah studio. Kuliah yang harus dilewati selama 8 jam seharusnya di dukung dengan tidur yang cukup, setidaknya setengah dari waktu kuliah. Tapi kenyataannya, pagi ini membuat saya harus berjuang melawan kantuk yang bergantung di kelopak mata bagian atas.


Perjalanan ke kampus seperti sebuah pit stop yang memeberikan saya kesempatan untuk tidak memandang garis – garis yang terlentang di atas kertas. Namun Setelah sampai kampus, saya kembali harus melanjutkan perjalanan untuk membangunkan garis yang ada dalam imajinasi saya untuk segera berpindah tempat ke atas kertas.


Perasaan lelah bercampur dengan perasaan sepi yang ditawarkan oleh pagi di perjalanan . Mungkin pagi juga terkadang merasa lelah karena harus selalu bangun dan membangunkan tepat waktu setiap harinya. Tetapi saya juga melihat ada orang yang sangat gembira di pagi itu, terlihat dari senyum yang tak lepas dari wajahnya.Mungkin bagaimana kita melhat suasana alam ternyata terhubung dengan suasana alam yang ada di hati kita sendiri.


Ahkirnya setelah sampai kampus saya memutuskan untuk lebih lama lagi berada di pit stop. Saya harus mengisi bahan bakar selain sekedar mengganti apa yang saya kenakan di kosan untuk terus melanjutkan perjalanan hari ini. Namun bedanya kali ini pit stopnya bukan jalanan tapi sebuah supermarket yang menjual berbagai macam barang-barang. Tujuan awal saya adalah untuk membeli air mineral dan sebungkus roti untuk sarapan.


Setelah mengambil dua barang itu, saya kemudian menuju ke kasir untuk membayar.Sebelum menuju ke meja kasir (walaupun meja itu bukan punya sang kasir, tapi entah kenapa di namakan meja kasir) seolah olah ada yang menyapa saya dari rak – rak di dekat situ. Setelah saya lihat ternyata ada masyarakat permen dari berbagai macam suku rasa dan merk bangsa. Seolah olah mereka menawarkan penawar rasa sepi pagi ini dengan berbagai macam rasa yang mereka punya. Ahkirnya saya terbujuk dan berlutut di hadapan mereka untuk memilih merk bangsa apa yang saya ingin beli.


Sewaktu saya memilih mereka dalam bungkus besar yang memuat kira – kira 30-50 bungkus kecil. Saya merasa akrab dengan salah satu bangsa permen. Ada sebuah perasaan rindu teman lama yang tak terjelaskan. Saya menjadi bertanya – tanya tentang hubungan apa yang pernah terjadi antara saya dan bangsa permen itu. Setelah saya pegang, bangsa permen yang bernama dynamite dengan bungkus biru sebagai warna dominannya seolah melayangkan imajinasi saya ke samudra. Mencoba mengingat hubungan apa yang pernah terdampar di luasnya itu.


Sejenak terlintas sebuah gambaran akan masa lalu, akan sebuah mulut yang senang mengunyah bangsa dynamite ini. Gambaran itu lambat laun semakin jelas menampilkan sebuah sosok yang sangat akrab dengan saya. Ternyata bangsa permen ini pada masa lalu menjadi sebuah utusan perasaan saya kepada seorang mantan kekasih sewaktu SMA.

permendynamite
Saya masih berlutut di depan rak masyarakat permen itu, tapi bayangan saya sudah melayang jauh melintasi waktu ke masa – masa SMA saya.


Permen dynamite itu mengingatkan bahwa saat saya SMA, saya selalu membeli permen dynamite dalam jumlah besar. Hal itu saya lakukan karena kekasih saya suka dengan permen itu. Lalu setiap pagi saya membawa 2-3 permen ke sekolah. Setiap pagi dan istirahat, saya memberikan dia satu bungkus permen. Saya selalu memberikan itu karena saat itu saya ingin membuktikan bahwa saya bisa membuat dia senang setiap hari dengan memberikan hal kecil yang dia sukai. Mungkin hal itu terlihat aneh atau percuma, karena bila setiap hari di bawa, daya spesial permen itu akan hilang. Tapi yang saya ingin saya sampaikan adalah bahwa dia selalu ada dalam hal – hal kecil di setiap hari saya.


Kenangan – kenangan yang melintas di dalam pikiran saya itu membuat saya tersenyum sendiri di depan rak permen itu. Saya kembali teringat tentang masa – masa SMA. Di setiap paginya, di setiap waktu istirahatnya, di setiap waktu pulang sekolahnya. Saya rasa hal itu adalah bagian yang menyenangkan pada hidup saya. Terlebih saya tersadar keadaan saya yang sendiri saat ini di banding saat saya memiliki seorang kekasih untuk berbagi. Pada saat itu. Saya senang menjadi “seseorangnya seseorang”.


Kenangan – kenangan itu menjadi sebuah penghibur di pagi hari, di tengah sebuah kewajiban kuliah yang harus saya jalani. Permen – permen itu mampu membangkitkan rasa ceria akan sebuah kenangan manis yang pernah saya alami.


Dari perenungan itu, saya berpikir, ternyata sebuah rasa manis pada sebuah permen dapat dirasakan bahkan sebelum membuka bungkusnya. Yang memberikan rasa manis itu justru saat saya melihat bungkusnya , bukan saat saya mengunyah permen itu.


Hal ini sangat serupa dengan rasa manis ( sebuah perasaan bahagia, ceria, semangat, dll) yang dirasakan pada hidup kita. Perasaan - perasaan itu sebenarnya selalu hadir dalam berbagai macam peristiwa,entah itu rasa bahagia saat kita sedang berdua dengan seorang pacar, atau sedang kecewa saat dihianati orang yang paling kita percayai. Namun sebuah rasa itu pun bisa hadir tanpa kita mengalaminya langsung. Karena sebenarnya setiap peristiwa yang sudah pernah kita alami semua terbungkus rapi oleh sebuah instrument pada pikiran kita bernama kenangan.

Seperti layaknya sebuah permen yang membungkus sebuah rasa tertentu di dalamnya. Kenangan yang dimiliki oleh setiap manusiapun membungkus rasa – rasa yang pernah kita alami sebelumnya. Tinggal kenangan bermerek apa yang ingin kita ambil dari setumpuk rak sejarah yang kita miliki.Saat kita mengambil sebuah kenangan tertentu, kita dapat merasakan kembali rasa yang di timbulkan tanpa harus mengalaminya kembali.

Saat itu saya sedang mengamnbil sebuah permen dynamite yang memiliki rasa mint dan coklat di dalamnya, itu seperti saya merasakan sebuah kenangan yang pada awalnya seperti biasa saja tapi manis setelah dipikirkan kembali. Permen apa yang kalian simpan ? permen asam , pedas, atau permen karet yang selalu kalian alami tapi berubah rasanya ?


Tak sadar karena membayangkan hal – hal yang terjadi pada masa lalu, ternyata saya sebenarnya sudah lama sekali jongkok dan berada di depan rak permen itu. Dan sebuah kalimat dari seseorang menyadarkan saya dari lamunan panjang. Katanya “ mas, maaf mas, mau beli permen yang mana ? mungkin bisa lebih cepat memilihnya karena orang yang di belakang mas mau bayar”.


(satu pelajaran penting, jangan mengingat- ingat sebuah kenangan saat kamu berada di jalur sirkulasi orang jalan atau kamu akan merasakan rasa malu atau bahkan rasa kesal yang di berikan oleh orang2 di sekitar kamu.)
“eh maaf ,maaf ",ucap saya dan malah membeli permen lain.


Perenungan ini terjadi karena salah satu mantan kekasih saya di SMA bernama Angie (sekarang telah memiliki kekasih yang mudah – mudahan dapat memberikan rasa manis di hidupnya).Terima kasih kepada dia ( tanpa ada maksud ingin mengembalikan kenangan antara saya dan mantan kekasih saya) dan orang – orang yang pernah mengisi hidup saya menjadi indah.


Filosofi permen ini saya dapat bukan seperti filosofi buah yang saya tulis sebelumnya. Saya tidak pernah terpikirkan untuk memakan BUNGKUS permenya juga.waaaaaaa, saya harus kuliah….


Nantikan berbagai macam filosofi merk bangsa permen lainnya.terima kasih.

 

fotoanexnya Andreas Anex adalah mahasiswa arsitektur Universitas Parahyangan. Ia memercayai pentingnya kesadaran dalam menjalani keseharian. Itu sebabnya, Anex yang menyukai filsafat ini tak pernah jemu  mencermati dan mencatat segala hal yang terjadi dalam kesehariannya. Silakan berkunjung ke rumahnya di http://aneksophie.multiply.com

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

Pondok Kapau : Semangat Literasi di Rumah Makan Padang

Di Jalan Dipati Ukur no.100, Simpang Dago, berdiri rumah makan Padang yang cukup unik. Namanya Pondok Kapau. “Pondok artinya rumah,” ujar Bang Ucok, salah satu pegawai rumah makan tersebut. Sesuai namanya, tampaknya Pondok Kapau pun menjadi rumah bagi banyak orang, terutama mahasiwa.

pondokapau

“Kami buka 24 jam,” ujar Ibu Murdiana Hadi alias Zus Mon, pemilik Pondok Kapau, “Kalau malam Minggu, jam 9 malam sampai 3 pagi, kami juga ada main domino spesifikasi permainan orang Minang. Hanya ada malam minggu karena image orang tua, (takutnya) kesannya Pondok Kapau tempat yang tidak menghasilkan. Padahal di sini buku kan menghasilkan. Hotspot juga menghasilkan.”

Buku dan fasilitas hotspot. Inilah hal paling menarik dari Rumah Makan ini. “Cintailah membaca karena dengan membaca akan timbul satu wawasan dan pengetahuan. Sukses akibat lancarnya komunikasi dan informasi,” imbau Zus Mon. Siapapun yang berkunjung ke Pondok Kapau boleh duduk selama mungkin, berhotspot ria, dan membaca koleksi buku yang ada di sana. “Ada yang dari malam di sini, siang saya datang masih ada,” cerita Zus Mon. 

zusmondanbukubuku

Buku yang disediakan cukup bervariasi, mulai dari buku agama sampai politik. Mulai dari filsafat sampai ilmu pasti. Zus Mon bahkan kerap memfotokopi buku-buku konsumen yang dianggapnya menarik.

Bukan hanya itu, Zus Mon juga menggantung kata-kata bijak di seputar Pondok Kapau. Dengan begitu, sadar tidak sadar pengunjung Pondok Kapau terus membaca dan menerima hal-hal baik. “Kata-kata ini saya dapat dari La Tahzan, Khalil Gibran, atau saya punya ide sendiri. Kalau kamu punya ide, bisa juga kamu beri ke saya, nanti saya ketik dan saya bingkai,” ujar Zus Mon.

contohkatamutiara

Ketika ditanya mengenai hal baik, Zus Mon berpendapat, “Jika seseorang bertanya, kita jangan cepat menilai pertanyaan dia nggak masuk di akal. Mungkin kita yang terlampau cepat menilai. Berpikir positiflah setiap hari.”

Menu Pondok Kapau kurang lebih sama dengan Rumah Makan Padang pada umumnya. “Yang banyak dibeli di sini rendangnya,” Bang Ucok merekomendasikan.

Dengan nasi-lauk seharga sekitar sembilan ribu lima ratusan rupiah, kamu bisa makan kenyang sambil membaca dan berhotspot sepuasnya. Kata-kata bijak pun akan selalu melingkupimu, membuat hal-hal baik tak pernah terasa jauh.

Bagaimana ? Tertarik untuk berkunjung … ?

 

hubungikasir

Sundea

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

Jingle Bang Bing Bung Yoo Kita Gabung

 syaraf

Asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Rie Yanti (via message FB):

Halo Kak Syaraf. Boleh ya nanya-nanya lagi.

  1. Kenapa Kak Syaraf bergabung dengan Tobucil?
  2. Bagaimana ceritanya sampai Kak Syaraf dipercaya mengasuh rubrik Off Clinic?
  3. Bagaimana perasaan Kak Syaraf ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan para pasien? Apakah Kak Syaraf harus bersemadi dulu untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?
  4. Apa pertanyaan favorit Kak Syaraf?
  5. Mana yang lebih menyenangkan: mengasuh gitar, mengasuh Off Clinic, atau mengasuh Mbak Tarlen?
  6. Itu di foto buat Off Clinic, Kak Syaraf lagi apa? Kok tampak sedang mengetiaki kamera?
    Makasih jawabannya (musti dijawab lho. Kan udah bilang makasih).

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Rie Yanti, pertanyaan yang menarik dan berpotensi bikin saya jadi terkenal.

  1. Saya terkesan dengan jingle ”bang bing bung yooo, kita gabung”, dan saya akhirnya kecewa ketika tahu bahwa jingle itu bukan bikinan Tobucil, apalagi setelah saya tahu jingle itu lirik persisnya bukan demikian. Tapi karena sudah kadung, ya sudah ceritanya saya membangun aja komunitas musik klasik. Saya tidak tahu bahwa itu adalah syarat pendaftaran untuk bergabung dengan Tobucil. Jadi untuk orang-orang yang mau bergabung dengan Tobucil, selain solat, dirikanlah juga komunitas musik klasik.
  2. Saya tidak ingat persisnya, tapi sudah lama memang saya rajin bantu membantu Sundea dalam urusan blog. Yang pasti saya tidak ada hubungannya dengan Ikang Fawzi. Karena kalau kau perhatikan di sisi kiri bawah layar iklannya, ada tulisan kecil: ”tidak buka cabang”. Soal kepercayaan, Kierkegaard mengatakan ”Percaya itu seperti masuk ke dalam sumur gelap, tak tahu apa yang ada disana, tapi kau memutuskan untuk jatuh ke dalamnya.” Nah, kalo soal kepercayaan terhadap saya untuk mengurus off clinic, jangan tanya Kierkegaard, karena di jamannya belum ada blog.
  3. Apakah pertanyaan ini ada hubungannya dengan kematian Jacko? Oke, perasaan saya, ah, tak penting untuk kau ketahui. Yang pasti, saya tak semedi, karena itu musyrik. Lebih baik saya solat tujuh waktu, terdengar lebih asyik. Jujur yah jujur, menjawab pertanyaan-pertanyaan off clinic sungguh tak mudah. Kadang-kadang saya mencari inspirasi jawaban berjam-jam lamanya untuk satu pertanyaan sederhana yang saya suudzon dia pun tak peduli apapun jawabannya. Tapi, semboyan off clinic kan, ini saya baru kepikiran, adalah, dan siap-siap karena kalimat ini cukup dalam, bahwa, “Apalah bahasa itu, selain sebuah permainan belaka.”
  4. Pernah ada yang bertanya ‘Apakah Tuhan itu ada?’. Itu pertanyaan favorit, karena tak mesti dijawab. Adapun saya senang pertanyaan-pertanyaan dari IBS, karena nampaknya jawaban apapun akan membuat dia terbahak-bahak dan kecanduan.
  5. Lebih baik mengasuh salah, agar salah asuhan. Saya bingung jawabnya, tapi yang pasti saya senang diasuh Mbak Tarlen.
  6. Ah, kenyataan tak pernah seperti tampaknya. Itu saya sedang latihan menulis halus.
Google Twitter FaceBook

Teteh

salamatahari Di hari pernikahan sepupu Dea, sol sepatu Dea tiba-tiba coplok. Dengan keruh, terpaksa Dea nyari tukang sol sepatu terdekat untuk ngebenerin sepatu Dea.

“Bisa ditunggu, nggak, Pak ?” Dea nanya ke tukang solnya. “Kira-kira lima belas menitan, Neng, gimana ?” tukang solnya balik nanya. Karena nggak ada pilihan lain, Dea ngangguk. Sementara Si Bapak ngejait sol sepatu Dea, Dea duduk di sebelahnya sambil bulak-balik nengok jam tangan.

Nggak berapa lama kemudian, dateng anak perempuan yang umurnya paling-paling baru lima taunan. Dia tampak keruh. Kulitnya legam kebakar. Rambutnya kering dan merah. Bajunya kebalik, lusuh, dan bernoda. Dia nadahin tangannya ke Dea, minta-minta. Dea ngegeleng, “Buat ngesol sepatu aja pas-pasan, Dik.”

Anak itu nggak mau tau. Dia malah nyandar di lutut Dea sambil ndongak, natap mata Dea. Dari situ Dea baru sadar kalo sebenernya mata dia bening banget. Saking beningnya Dea bisa ngeliat dua Dea yang jelas sekali di kedua mata dia. Hari itu kerasa nggak terlalu keruh lagi.

“Nama kamu siapa ?” Dea nanya.

“Teteh.”

“Kok pake bajunya kebalik ?”

“Mandi.”

“Oh …”

Abis itu dia cerita macem-macem dengan bahasa Sunda yang nggak jelas artikulasinya. Dia juga nyanyiin lagu dangdut sepotong-sepotong. Udah gitu, dia ngajak Dea toast-toast-an berkali-kali untuk alesan yang nggak jelas apa. Komunikasi absurt itu menyenangkan karena rasanya nyaman banget nemuin diri sendiri di mata bening dia. Meskipun nggak terrumuskan, apa yang dia lakuin termengerti aja buat Dea.

“Ini !” tau-tau Teteh nunjuk bros bunga di baju Dea. Abis itu dia nadahin tangannya lagi. “Aduh, Teh, ini tanda keluarga buat acara pernikahan sepupu aku. Cuma satu,” kata Dea. Teteh nggak mau tau. Lagi-lagi dia nunjuk bros itu dan nadahin tangan lagi. “Maaf, ya …,” sesel Dea. Akhirnya Teteh nggak minta-minta lagi. Dia malah nunjuk ke langit. Dea nggak ngerti maksudnya, tapi Dea merinding.

Dalem waktu sekitar lima belas menitan, sol sepatu Dea selesai dijait. Abis bayar, Dea pamit ke Teteh dan Pak Sol Sepatu.

Siang itu panas banget. Jalan Simpang pun keruh, bising, dan berdebu. Dea nggak bisa nemuin diri Dea sendiri di pantulan jendela mobil, juga di mata orang-orang yang lewat. Supir angkot bicara dengan bahasa yang Dea ngerti, tapi komunikasi absurt Dea sama Teteh lebih jelas buat Dea. Mata bening itu seperti danau. Dea pengen ngaca lagi.

Tau-tau Dea inget Narsisius. Bisa jadi ketenggelemannya sebenernya keputusan yang dia sadar betul.

Mungkin dia bukan jatuh cinta sama bayang dirinya.

Tapi sama kebeningan danau itu sendiri …

Sundea

Google Twitter FaceBook

Selamat Berbahagia

 

Tobucil mengucapkan selamat dan berbahagia kepada Keluarga Bambang Riyadi Irawan dan keluarga Syamsumir atas pernikahan putera-puteri mereka:

Ima dan Hendry

pada hari Minggu, 28 Juni 2009thepengantens

Semoga rumah tangga mereka selalu dilimpahi kasih sayang yang tak pernah habis

---

Dibuka Pendaftaran Klab Menulis Kreatif untuk Anak-anak

Biaya : Rp. 300.000,00/anak untuk 8 pertemuan

Fasilitas : Buku kreativitas, peralatan prakarya.

Waktu : Setiap Jumat pukul 15.00-17.00, mulai 10 Juli 2009

Pendaftaran ditutup pada tanggal 9 Juli 2009

Terbuka untuk anak berusia 8-10 tahun.

Tempat terbatas untuk lima peserta yang paling dulu mendaftar.

Materi :

Pertemuan pertama : berbagi pengalaman menulis

Pertemuan ke dua : menuliskan pengelihatan dan pendengaran

Pertemuan ke tiga : menuliskan perabaan, penciuman, dan pengecap.

Pertemuan ke empat : memahami metafora (majas perumpamaan)

Pertemuan ke lima : Jalan-jalan

Pertemuan ke enam : Menuliskan pengalaman jalan-jalan di minggu sebelumnya

Pertemuan ke tujuh dan delapan : Membuat buku kumpulan tulisan sendiri secara handmade.

Crafty Kids Club

Program Liburan Anak-anak

Peserta dibagi menjadi dua kelompok usia

I. SD Kecil Kelas 1 s/d kelas 3

II. SD besar kelas 4 s/d kelas 6

Materi :

Peserta belajar membuat aneka kerajinan tangan seperti jam, boneka, tas, asesoris, dan jurnal (tingkat kesulitan disesuaikan dengan kelompoknya masing-masing).

Peserta belajar melatih konsentrasi, ketekunan, komposisi, kerapian, dan selera seninya melalui teknik kerajinan tangan : menempel, menjahit, meronce.

Waktu kegiatan:

Senin s/d Jumat, 6 s/d 10 Juli 2009

pk. 10.00-12.00

Biaya pendaftaran : Rp. 250.000,00, sudah termasuk bahan dan alat

Tempat yang tersedia maksimum hanya untuk 15 orang

Informasi dan pendaftaran hubungi :

Tobucil & Klabs

Jln. Aceh No.56 Bandung, telp. 022 4261548

Perayaan Dua Tahun Madrasah Falsafah Tobucil & Klabs (Pesta Filsuf)

Juli mendatang, Madrasah Falsafah, genap berusia 2 tahun dan kami ingin merayakannya dengan mempertemukan para ‘filsuf’ dalam acara Pesta Filsuf “Merayakan Filsafat dalam Keseharian” untuk saling berbagi pengalaman dan pandangannya lewat sesi-sesi yang kami hadirkan.

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada :
Minggu, 19 Juli 2009
Pk. 10.00 – 21.00
Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung


untuk keterangan lebih lanjut, klik  di sini

 

Reguler Klabs :

Reguler Klabs :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 1 Juli 2009
dengan tema:

“Cantik” (apakah cantik dapat ditentukan standarisasinya ?)

Rabu, 1 Juli 2009

17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Upcoming Madrasaf Filsafat 8 Juli 2009 : "Seksualitas"

Klab Nonton

Film-film bulan Juli : “You Can’t Beat Neutral on a Moving Train”.

Lebih lengkap, klik di sini

coverderidda

Sabtu, 4 Juli 2009
Pk. 18.15 - 20.00
Derrida
Film oleh Kirby Dick & Amy Ziering Kofman/ 85 menit/ teks bahasa Inggris. Musik: Ryuichi Sakamoto/ 2002
" What if someone came along who chaged not the way you think about everything. But everything about the way you think?"
Salah satu ikon dan tokoh yang paling berpengaruh abad 20. Filsuf asal Perancis ini dikenal dengan sebuatan 'bapak dekonstruksi', karena pemikirannya, kita diajak menengok kembali sejarah, bahasa, seni dan film. Dengan semangat pemikiran Derida, pembuat filmnya, Kirby Dick dan Amy Ziering mengajak penonton melihat potret Derrida sekaligus mempertanyakan konsep dari biografi itu sendiri. Musiknya di garap oleh Ryuichi Sakamoto, musisi yang pernah mendapaktkan Oscar saat menggarap The Last Emperor.

Google Twitter FaceBook

Sunday, June 21, 2009

Saya

Minggu ini blog Tobucil merayakan kesayaan. Ada buku karya Nyi Vinon dan Pak Budi Praptono, ada madrasah filsafat yang menyinggung posisi “saya” dalam facebook, ada Kokorikoko, boneka kodok yang mencari makna “aku” dalam namanya, ada cerita mini Ali Singatuhan di papan tulis, ada Persepolis, film yang diangkat dari komik autobiografi Marjane Sartrapi, dan ada Mbak Endang yang memilih sendiri identitas kesayaannya.

Dalam konteks tertentu, tak ada salahnya menjadi subyektif. “Saya” adalah pilihan untuk berdiri nyaris tanpa jarak dengan obyek.

Menjadi “saya” adalah berani membaca sendiri sebuah peristiwa, sekaligus membiarkan diri sendiri dibaca sebagai bagian dari peristiwa. Di sana terkandung keberanian dan tanggung jawab sepenuh terhadap sebuah sikap.

Ketika mejadi satu mata yang memandang dengan mata hati, “saya” membuat sebuah catatan jadi tidak pucat dan bernyawa. Sifatnya yang komunikatif secara personal membuat “saya” justru tidak narsistik dan egois

Semoga kamu dan Tobucil dapat menjadi saya-saya yang membaca dan membacakan kembali.

Salamatahari, Teman-teman, semogaselaluhangat dan cerah …

Tobuciler

 

IMG_4666

Google Twitter FaceBook

Yuliana Devita, Si Gadis Seuri Koneng

 

nanaseurikonengYuliana Devita alias Nana adalah peserta Klab Merajut yang sering seuri (tertawa). Pada suatu siang yang hujan, ia didapati sedang seuri-seuri sambil merajut di ruang belakang Tobucil. Sementara menunggu Nana dijemput, Tobuciler menanggapnya sebagai “Teman Tobucil”. Psst … siapa sangka gadis girang senantiasa ini sering disangka jutek ?

Tobucil : Na, kalo denger kata “saya” apa yang kebayang sama lo ?

Nana : Saya orangnya … rame. Saya … nggak bisa diem. Saya … saya… kata orang, sih, jutek, tapi … harus kenal dulu. Pasti nggak jutek.

Tobucil : Hah ? Masa, sih, jutek ? Dari awal kenal elo, kayaknya elu orangnya ceria-ceria aja.

Nana : Tapi temen-temen gua pas pertama liat gua bilang, ‘kayaknya orangnya jutek’. Padahal pas udah kenal … ternyata gila juga.

Tobucil : Hmmm. Kalo menurut lo, mending gila apa jutek ?

Nana : Mending gila.

Tobucil : Kenapa ?

Nana : Soalnya kalo gila masih bisa ngajak orang lain bergila ria. Kalo jutek … entar nggak ada temennya.

Tobucil : Ah, siapa bilang ? Orang gila yang suka nongkrong di depan Tobucil selalu sendirian. Ngomong aja ngomong sendiri.

Nana : Aduh, bukan gila Riau 11, maksudnya .. mmm … maksudnya gokil.

Tobucil : Dan gokil itu adalah … ?

Nana : Apa, ya ?

Rudy (menyeletuk dengan ekspresi dinginnya yang khas ) : Pergi membunuh ! Kan go kill.

Tobucil : Hahahahaha … itu mah lebih nggak ada temennya lagi, atuh, Na …

Nana (tampak terpengaruh dan galau) : Iya, ya …

Tobucil : Contoh, deh, contoh kegokilan yang lo maksud …

Nana : Mmm … gua suka mengeluarkan kata-kata aneh. Padahal bahasa Sunda. Kayak misalnya, pas tadi gua bilang ‘seuri koneng’ (nyengir kuning), Mbak Elin bilang, ‘elu mah bahasanya aneh !’ Padahal itu kata-kata yang sering diungkapkan sama orang-orang di rumah. Artinya .. apa, ya ? ‘Hehehe’ (mencontohkan). Gitu, deh …

Tobucil : Coba, coba, lagi, gua foto, biar masyarakat tau yang lo maksud ‘seuri koneng’

Dan Nana mempraktekannya. Dan Tobuciler memotretnya. Lihat foto di awal posting ini.

Tobucil : Elu sering seuri koneng, Na ?

Nana : Misalnya ada orang yang ngomong terus gua nggak ngerti aja, jadi, ya, gua ‘seuri koneng’.

Tobucil : Kalo orang ‘seuri koneng’ gara-gara lo sering, Na ?

Nana : Enggak, mereka mah kalo nggak ngerti langsung tanya, ‘Ngomong apa, sih, Na ?’ Soalnya gua orangnya nggak mudah sakit hati, sih … hehehe …

Tobucil : Hahaha … bagus, bagus. Btw, lu tau seuri yang warna laen, nggak selaen koneng ?

Nana : Kalo minum tinta mah ada. Eh, gua pernah, ya, pas ngisi tinta printer, printer gua tiba-tiba macet. Terus sok-sok disedot gitu sama gua. Gua kira nggak akan sampe ketarik, eh … taunya masuk, Bo, pait banget …

Tobucil : Hahaha … artinya itu ‘seuri bulaoh’ (senyum biru) ato ‘seuri hideung’ (senyum hitam), sekaligus tersenyum pahit.

Nana : Hahahaha … iya.

Telpon Nana berbunyi. “Gua udah dijemput,” ujarnya. “Oh, okz. Bahannya udah cukup, kok. Thank u, ya …,” sahut Tobuciler. Nana mengangguk. Mengemasi barang-barangnya sambil seuri-seuri.

Hmmm … saat itu, kira-kira apa warna seuri-nya ?

Sundeananatiga

nanadua

 

 

Bidodata

Nama : Yuliana Devita

Hobi : Ngerajut, berenang, baca buku ringan

Makanan kesukaan : Apapun kecuali bawang putih dan tomat

Minuman Kesukaan : Teh Botol, Nu Green Tea, Fruitcy

Cita-cita : dokter ???

Kuliah : Teknik Kelautan ITB 2003

Google Twitter FaceBook

Tulis Dirimu : Buku Nyi Vinon dan Budi Praptono

 

covernyivinon Judul buku :Nyi Vinon, Sastra Pranikah
Pengarang : Nyi Vinon
Harga : Rp. 60.000,00

"trah yang lebih unggul adalah trah yang baik dalam dokumentasi; mereka memenangkan sejarah".

Berisi kisah kehidupan dan pemikiran Nyi Vinon, buku cetakan ini merupakan repacakge, kemasan ulang dari buku fotokopian yang telah beredar.

Dicetak terbatas !

---

coverbukuperadaban Judul buku : Membangung Peradaban Bangsa dari Kacamata Cucu Dalang (Revolusi Belum Selesai)
Pengarang : Budi Praptono, dkk.
Harga buku : Rp. 25.000,00
Harga Tobucil : Rp. 22.500,00

Sebuah kegelisahan yang menarik untuk dibaca. Wayang adalah kisah pergumulan peran dalang dengan zamannya. Demikian ketika membaca tulisan Budi Praptono. Sebagai cucu dalang secara genealogis dan genetis tetntu ia paham bagaimana mendorong lahirnya sebanyak mungkin wayang berwatak utama. Tidak peduli apakah ia berwujud satriya, raksasa, brahmana maupun punakawan. Itulah yang diperlukan di masa depan.

-Achmad Natsir Budiman, Aktivis Senior Salman ITB-

---

Kaos Ulang Tahun Madrasah Filsafat

Kaos ini di sablon dan di produksi dengan jumlah terbatas sesuai dengan permintaan. Penjualan kaos ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan ulang tahun ke 2 madrasah falsafah tobucil & klabs yang akan menggelar perhelatan 'Pesta Filsuf: Merayakan Filsafat Keseharian' pada tanggal 19 Juli 2009 mendatang (detail acara menyusul).

Gambar karya R.E. Hartanto. Dipergunakan atas seizin senimannya. Dengan membeli kaos ini, berarti anda telah mendukung kegiatan tobucil & klabs. Terima kasih.

----

Spesifikasi kaos:
Bahan Katun Kombat tanpa sambungan
Ukuran: M dan XL
Harga: Rp. 80.000 (tidak termasuk ongkos kirim)

Untuk pemesanan silahkan kirim email ke: vitarlenology@yahoo.com atau tobucil@yahoo.com
dengan mencantumkan pilihan gambar, warna dan ukuran.

Contoh model kaos :

krem pasir, ukuran M, XL

putihukuran M. XL

 

 

 

 

 

 

 

Pilihan Gambar:
1. Kwan Im, 2. Speechlessism, 3. Potrait as philosopher, 4. Tree in my sleep, 5. postmortem, 6. Cermin. Untuk melihat semua model kaos, klik di sini

Google Twitter FaceBook

Facebook … Oh … Facebook

-Tobucil, Rabu 17 Juni 2009-

Madrasah Filsafat

mbakechie Mbak Echie menelpon Mas Ami, kuncen madrasah filsafat, “Ari juragan Ami, kumaha ditungguan, teh ? Jam setengah genep ieu (Juragan Ami gimana, sih, udah ditungguin ? Jam setengah enam, nih) …”

Pada akhirnya telpon ditutup. Mbak Echie pun mengumumkan pada segenap jemaat madrasah filsafat, “Dia lupa ini hari Rabu.” DOWEWEWENG …

Meski sempat enggan, akhirnya Mbak Echie mengambil posisi sebagai kuncen. Ia membuka diskusi dengan pertanyaan sederhana, “Siapa yang punya account facebook ?”

Ternyata, selain jemaat madrasah filsafat, seluruh hadirin hari itu adalah jemaat jaringan facebook. Mereka mengakses facebook dengan alasan masing-masing. Bagi Mas Iqbal, facebook adalah pemersatu teman-teman dari berbagai area, “Misalnya, saya bisa mempertemukan teman dari area musik dengan teater, teater dengan psikologi …” Lain lagi dengan Mbak Linda, “Selain untuk mencari teman lain, facebook bisa untuk mencari jodoh juga kan …?”

Kadang facebook pun menimbulkan masalah. Mbak Echie pernah mem-block seseorang karena berkomentar sangat tidak etis di wall-nya. “Saya sebel kalau ada comment-comment yang nggak nyambung,” kata Mas Gustar. Ada pula spam “coobface”. "koobface". “Ati-ati kalau ada message yang bahasanya sangat generik dan menawarkan link. Kalau kita klik, semua teman di friend list kita akan dapat message spam yang sama dari kita,” Mbak Echie memperingatkan. Beberapa posting panjang di notes pun kadang membuat pembaca pusing. Jadi apa yang boleh dan yang tidak dalam etika per-facebook-an ?

“Kalau kata aku justru itu yang menarik. Etikanya etika umum aja. Tiap orang harus belajar ngukur dan tanggung jawab sendiri,” ujar Tobuciler. Konseskuensi dari setiap pernyataan adalah respon. “Dalam facebook, orang mengidentifikasi. Kayak di status-status itu, orang bisa nulis apa aja. Di sana mereka mengidentifikasi diri mereka. Fungsi identifikasi itu kemudian disertai dengan fungsi persuasi, orang-orang jadi berkomentar. Lalu setiap orang jadi sibuk mengidentifikasi dirinya sendiri,” papar Mas Iqbal yang dosen di fakultas psikologi. Mas Iman Abda lalu teringat pada aplikasi kuis yang juga sangat diminati di facebook. “Di situ orang-orang juga mengidentifikasi dirinya, kan,” ungkap Mas Iman.

madfalfacebook

Setiap account facebook adalah halaman “saya” dalam jaringan “kita”. Orang-orang saling mengidentifikasi, berbagi, menunggu respon, atau mencari sarana untuk direspon. Sama seperti diskusi madrasah filsafat yang berlangsung saban Rabu sore.

Hmm … jika madrasah filsafat dan facebook punya benang merah, meski tidak hadir, mungkinkah Mas Ami kami tag dalam diskusi kali ini ?

Mari kita “poke” alias “colek” kuncen kita tersebut …

Sundea

Google Twitter FaceBook

Namaku Kokorikoko

 

-Tobucil, Kamis 18 Juni 2009-

 

Iko : Kenapa kodok kalau ada rel kereta, relnya dilompatin ?

Mbak Upi : Ah, ini pasti pertanyaan yang jawabannya garing. Apa ?

Iko : Karena terlalu lama kalau muter … hehehehe …

Mbak Upi : Tuh, kan …

 

Lalu mereka berdua menciptakan aku. Namaku Kokorikoko, kodok pemalas yang tak mau memutari rel kereta. Aku sedikit tidak sehat. Coba lihat; mataku merah, kulitku merah dan weeee … lidahku pucat. Ketidaksehatankuini masih dilengkapi lagi dengan adanya rambut-rambut putih halus di atas kepala. Penata rambutku adalah Iko, murid SD Semi Palar itu.

akudanhairdresserku Tobuciler : Kenapa rambut dia putih, Ko …?

Iko : Kenapa, ya …?

Hah ! Iko tidak menjawab. Baiklah. Aku jawab sendiri saja alasannya. Rambutku putih karena kulitku merah. Kamu tahu, tidak, dalam tradisi Jawa, ada bubur merah-putih yang dibuat jika seseorang akan diganti namanya. Kenapa harus ganti nama ? Karena si empunya nama dianggap terlalu berat menanggung namanya hingga sering sakit-sakitan.

Aku curiga aku pun keberatan nama. Tapi karena aku kodok, buatku tak berlaku “bubur merah-putih” melainkan “tubuh merah-putih”.

Jika harus ganti nama, kira-kira namaku jadi apa, ya ? Hmmm … jumlah huruf yang dikurangi tentu akan membuat namaku lebih ringan. Bagaimana jika “Kokorikok” saja ? Kalau masih terlalu berat, kuganti lagi jadi “Kokoriko”. Kalau masih juga terlalu berat, kuganti lagi jadi “Kokorik”. Begitu seterusnya dan seterusnya.

Tapi, Teman-teman, jika sampai seluruh huruf habis aku masih tetap sakit-sakitan bagaimana, ya? Haruskah aku menjadi kodok tanpa nama ?

(Kodok merah yang berdandan meriah ala rock-star itu bersandar di kaleng polkadot. Ia menerawang mencari “aku” dalam kebernamaannya).

Sundeakokorikoko

Google Twitter FaceBook

Menyedot Teh di Dalam Botol

 

-Tobucil, Kamis 18 Juni 2009-

“Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro”

-tagline iklan Teh Botol-

Sebuah buku dengan judul yang sangat panjang : (Membangun Peradaban Bangsa dari Kacamata Cucu Dalang ‘Revolusi Belum Selesai’, Indonesia [Nusantara] Pemimpin Peradaban Baru Dunia) didiskusikan di Tobucil. “Sebetulnya judul ini ada kata-kata kuncinya,” ujar Pak Budi Praptono, sang penulis. “Kuncinya ‘Revolusi Belum Selesai’ dan ‘Indonesia Pemimpin Peradaban Dunia’.” Mengacu pada Bung Karno, Pak Budi melihat bahwa kemerdakaan yang terjadi di Indonesia baru sebatas kemerdekaan fisik. “Jiwa (bangsa Indonesia) belum merdeka, kita kan masih inferior,” ungkapnya lagi. Itu sebabnya melalui buku yang ia tulis, Pak Budi mengajak bangsa Indonesia untuk berani bermimpi menjadi pemimpin peradaban dunia. “Bangsa Amerika, misalnya, bisa besar karena berani mimpi dulu,” begitu kata Pak Budi.

diskusinya

Diskusi yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tersebut berlangsung khidmat dan nasionalistik bak rapat-rapat di masa kebangkitan nasional. Pak Budi dan Pak Natsir (aktivis senior Salman ITB) yang menjadi pembicara hari itu memotivasi peserta diskusi untuk merasa bangga pada budaya sendiri. Sebagai cucu dalang, Pak Budi juga menyinggung-nyinggung kebudayaan Jawa dan dunia perwayangan. Sebagai perwakilan dari AJI, tak ketinggalan Mas Argus Firmansah urun komentar, “Di dalam buku ini saya melihat pembahasan mengenai local wisdom. Orang-orang barat sekarang justru sedang membaca local wisdom kita.” Fenomena itulah yang membuat Mas Argus optimis bahwa Indonesia akan atau bahkan dapat dikatakan sudah memimpin peradaban dunia.

Hmmm … lalu apa hubungannya diskusi ini dengan kutipan iklan di awal artikel ?

Begini. Ketika Mas Deri, salah seorang peserta diskusi menanyakan upaya apa yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan mental mandiri bangsa, Pak Budi menjawab, “Ya … keberanian untuk keluar dari penjara inferioritas yang tidak kelihatan ini.”

Berbotol-botol Teh Botol yang dipenjara dalam bening dan sempit botol dihidangkan sebagai pelepas dahaga bagi peserta diskusi.

“Yang bikin Teh Botol Sosro ini namanya Sosro Jaya. Dalam bahasa Jawa, Sosro Jaya artinya seribu kejayaan,” ujar Pak Natsir.

Mereka yang terpenjara itu berani keluar lalu mengalir dalam diri manusia.

Menjadi seribu kejayaan.

Lebih dari sekedar teh yang menggenang diam-diam.

 tehbotol

Sundea

Google Twitter FaceBook

Hitam Putih Persepolis

 

-Tobucil, Sabtu 20 Juni 2009-

Klab Nonton

Wajah Tobucil hari itu mendadak muram. Film yang diputar di Klab Nonton malam itulah penyebabnya. Judulnya Persepolis. Film kartun, memang, tapi jangan langsung asosiasikan kartun dengan warna-warni ceria penuh gelitikan canda tawa. Kartun ini beda, bercerita tentang pengalaman eksistensial seorang Iran bernama Marjane Satrapi. Marjane ini sungguh ada orangnya dan masih hidup, maksudnya, Persepolis adalah kisah nyata.

Pada mulanya, Marjane adalah gadis cilik yang dibesarkan di tengah keluarga cukup berada. Hanya saja, keadaan politik Iran yang tengah bergolak saat itu, sungguh tidak memihak keluarganya. Jaman itu, tahun 1978, dikenal sebagai Revolusi Iran. Alkisah, pemerintahan saat itu, yang dipimpin Shah Mohammad Reza Pahlavi –dalam film hanya disebut sebagai ”Shah of Iran”-, ternyata dinilai oleh rakyatnya terlalu tunduk pada kekuasaan Barat, yang mana kulturnya sering bersinggungan dengan nilai-nilai lokal. Upaya penggulingan kekuasaan datang dari pihak fundamentalis Islam, yang menginginkan pengerasan landasan keagamaan untuk melawan budaya asing. Dalam bagian ini, digambarkan Marjane sebagai gadis dari keluarga yang dalam situasi tersebut sedang tersudutkan. Mengapa? Karena keluarga Marjane dikenal punya pengaruh Barat yang kental. Contohnya, ayah Marjane, senang pergi ke pesta-pesta dan minum alkohol, yang mana ketika fundamentalis Islam mulai berkuasa, hal tersebut dilarang keras.

Film ini memiliki alur flashback. Diawali dari Marjane dewasa dengan format gambar berwarna, cerita masa kecil tadi digambarkan hitam putih. Ini cukup memberikan efek muram bagi para penontonnya. Sepanjang film diputar, nyaris tak ada tawa yang keluar, yang ada cuma pandangan tercenung. Kembali ke film, Marjane lalu dikirim ke Vienna, Austria, untuk sekolah oleh orangtuanya. Kenapa? Karena berbahaya tinggal di Iran dalam keadaan bergolak, kata orangtuanya, apalagi Marjane dikenal vokal dan bandel, berpotensi terkena hukuman polisi susila yang bertugas menegakkan aturan agama.

Di Vienna ini, Marjane mendapat banyak pengalaman. Mulai dari menghisap ganja, bertemu filsuf yang menurutnya gila, berhubungan seks, hingga dikhianati kekasih. Pengalaman panjangnya itu sempat membuatnya melupakan kampung halaman, dan pernah mengaku sebagai orang Prancis alih-alih Iran. Namun akhirnya ia pulang jua, karena ia sendiri memintanya. Di Iran, kondisi politik tak lebih baik di bawah pemerintahan kudeta fundamentalis. Bahkan Marjane remaja semakin vokal menentang berbagai bentuk agamisasi di kampusnya.

Kisah Marjane dalam Persepolis digambarkan hitam putih. Situasi yang nyaris mirip ketika masing-masing dari kita merenungkan masa lalu. Bisa saja memang sebuah situasi silam menyenangkan dan cerah ceria. Tapi jika masuk ke lembah eksistensi yang terdalam –kala ditanyakan lebih jauh masa silam itu dari mana mau kemana-, seringkali yang muncul ya itu tadi, warna hitam putih. Walhasil, belasan orang yang hadir di Klab Nonton tetap termenung selesai menonton. Tak seperti umumnya di bioskop yang setelahnya banyak sensasi meluap-luap, yang tanpa sadar tak lama kemudian terlupakan. Namun seperti film Persepolis yang sesekali muncul gambar berwarna, Klab Nonton juga menyuguhkan warna di tengah kehitamputihannya kala itu. Dari mana datangnya? Rudi Rajut berdiri di samping televisi, lalu mengumumkan, ”Minggu depan akan diputar film karya *blablabla*.” Jujur saja, Tobuciler tak dengar, dan begitupun yang lainnya. Mereka terus bertanya, ”Film apa? Film apa?” Tapi Rudi Rajut tak kunjung menjawab karena malu-malu. Oh, tapi setidaknya, Rudi, kau menyelamatkan kami semua dari lamunan panjang.

Syaraf Maulini

 

 

 

 

 

 

Rudy

Google Twitter FaceBook

Untittled

oleh : Ali Singatuhan

Hari ini saya terbangun dan menemukan diri saya sendiri. Bukan hanya sendiri di rumah. Tapi andaikata saya keluar dari rumah, saya akan tetap menemukan diri saya sendiri. Dan bahkan jika saya menjelajahi keempat mata angin, saya akan tetap tidak bertemu dengan siapa-siapa. Hari ini saya adalah Adam dan hanya Tuhan teman, kekasih, dan obyek saya.

Gedung-gedung masih berdiri di Jakarta. Megah, tapi tiap lantainya kosong. Jalan-jalan metropolitan lengang dan terbuka hingga berkilometer jauhnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya adalah orang nomor satu. Tapi ke mana perginya nomor dua, tiga, empat, dan yang lainnya ? Seumur hidup, saya menginginkan semua orang membebaskan saya. Untuk mengangkat kaki mereka dari kepala saya. Tapi setelah saya keluar dari belenggu, mau ke mana saya ?

Untuk pertama kali dalam hidupku saya adalah raja. Tapi saya hanya berkuasa terhadap diri saya sendiri. Saya akan memerintahkan diri saya untuk makan sepuas yang saya mau misalnya. Tapi perut saya akan memberontak. Saya berlari seorang diri di tengah jalan Sudirman. Tapi tubuh saya melamuk, melakukan kudeta terhadap akal saya.

Dengan tenaga yang tersisa aku berlari ke pantai. Di hadapan langit, laut, dan carawala yang tidak terbatas, aku berdoa. Kepada saiapa lagi selain Tuhan karena hanya Dialah yang ada sekarang. Ia bahkan tidak menyisakan berhala untuk aku berpaling dari-Nya.

Aku bertanya kenapa ? Apa yang terjadi ?

Kenapa tidak kamu turunkan kembali semua yang Kau ambil ? Manusia. Makhluk indah itu. Yang berpotensi pada segala macam keburukan, kejahatan, dan kekejain yang megah dan di sisi yang lainnya mampu membuat sebuah oase kedamaian dari semua kekacauan itu. Kejahatan dan kebaikan. Keburukan dan keindahan. Dan semua yang tidak bisa dipisahkan. Itu yang saya inginkan.

Keesokan harinya dunia kembali seperti semula. Saya membuka jendela dan melihat kekacauan itu kembali. Saudara saling menusuk dari belakang. Teman saling mengkhianati. Kesombongan merajai. Darah bercpiratan dan tangis bercipratan.

Saya menutup jendela, lalu bersyukur.

----

Walapun Ali SingaTuhan dilahirkan di Jakarta, ia telah menemukan rumahnya di pelukan Kota Bandung tercinta. Disana ia telah telah tumbuh dan mengecap semua yang ditawarkan kota tersebut: dari lingkungan rumahnya di ujung Desa Ciburial, di tengah-tengah Pesantren Babusalam dengan segala kepermaian alam dan manusianya. Disana, di bawah saung yang dibuat Bapaknya dulu, ia membaca buku-buku yang nantinya akan membentuk hidupnya. Dan disana pula ia mulai menulis cerita-cerita yang alam tersebut bisikkan padanya. Dan pada akhirnya Bandung – beserta para penghuninya yang indah, halus dan bertata karma – menjadi Dunia bagi Ali, menjadi setting, tokoh dan tema dari semua yang ia tulis dan (mungkin) akan tulis di masa depan.

Google Twitter FaceBook

Mbak Endang Melenggang dan Berdendang

 

mbakendang1 Mungkin namanya Endang karena ia suka berdendang dan melenggang. “Waktu kecil saya nari di Cirebon, tapi karena bapak saya pengen punya anak yang jadi artis, saya ke sini, hihihi,” ceritanya kenes.

Hijrah ke Bandung dan mengartis di sekitar lampu merah Dago, dekat Jalan Maulana Yusuf, sejak tahun 80an. “Dari waktu ke Bandung saya udah begini,” kata Mbak Endang, “Saya pernah ditulis di koran, dibilangnya nama asli saya Udin, ke sini buat kerja bangunan. Padahal kalau mau kerja bangunan aja, ngapain ke sini segala ?” ujar Mbak Endang, setengah merengut manja.

Ia kerap menyanyikan lagu artis-artis perempuan seperti Titiek Puspa, Elvi Sukaesih, Rosa, Agnes Monica, dan Ratu. Saya membaca pilihannya itu sebagai sikap dan pernyataan keperempuanannya. “Waktu pertama-tama ke sini, saya nyanyinya lagu Titiek Puspa yang Kupu-kupu Malam. Kalau diresapi bisa sampai keluar air mata. Ibaratnya kan kita ini boneka dunia,” ungkap Mbak Endang.

Ketika lampu lalu lintas kembali merah mencrang, Mbak Endang kembali melenggang dan berdendang. Saya sendiri menyeberang. Bercerita pada teman yang saya mintai bantuan memotret Mbak Endang. “Akhirnya lo tau siapa nama asli Mbak Endang ?” tanya teman saya. “Enggak. Nggak penting. Menurut gua dia ‘Endang’ aja,” sahut saya. “Lo tau dia tinggal di mana ?” tanya teman saya lagi. “Enggak juga. Nggak penting juga,” sahut saya lagi. Bagi saya, yang penting Mbak Endang sudah memilih tinggal pada sebuah identitas yang dia nyatakan dengan yakin. Itu adalah rumah yang dibawanya ke mana saja.

Saya mengamati punggung Mbak Endang yang melenggang.

Dendangnya tertelan suara jalan raya karena mungkin jalan memang merayakannya.mbakendangdariblakang

Sundea

Foto : Gide

G, thank’s for the time to take the pictures, ya …

Google Twitter FaceBook

Soal Jodoh, Pati, Rejeki

IMG_2265 asuhan Kak Syaraf Maulini




Pertanyaan dari Hamba Allah (via message FB):

Halo Kak Syaraf Maulini, mau nanya nih

  1. kenapa cowok masih gemar merayu-rayu wanita lain padahal udah punya pacar?
  2. kenapa cowok brengsek?
  3. kenapa cowok suka memberikan harapan palsu?
  4. soal karir, knapa cari kerjaan dgn gaji yg gede teh susah pisan?!!!
  5. kenapa bos mau mendepak saya padahal saya anak yang rajin???

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Hamba Allah, bolehkah dipanggil demikian? Oke, sini dibantu untuk menggalaukan perasaanmu:

  1. Yang pertama adalah, karena cowok itu tidak cadel. Kalau cadel ia melayu-layu wanita lain padahal udah punya pacal. Kedua, ini saya coba jawab yang benernya: karena bagi kebanyakan pria, merayu tidaklah berdosa. asal tidak sambil mencuri, mabuk-mabukan, dan durhaka pada kedua orangtua.
  2. Karena kalau breng brong breng brong itu namanya musik metal.
  3. Ah, semua harapan itu palsu. Kecuali kau sudah bisa menjawab besok matahari terbit atau tidak? Eh, bener, yang tadi itu jawaban serius.
  4. Gampang, coba masukkan lamaran aja ke warung sate kambing. Disana gajinya gede-gede. Apalagi kalau dalam menu sedia gulai juga. Lebih gede tuh!
  5. Itu artinya dia bosan sama kamu. Ingat kan semboyan ”rajin pangkal pandai” seperti di sampul-sampul coklat? Nah ngapain dia pekerjaan anak rajin kalau sudah dapat anak pandai. Artinya si bos sudah dapat pangkalnya kan?

Pertanyaan dari Gadis Galau (via message FB):

Alo Kak Syaraf Maulini, mau nanya dong, boleh kan?

Jadi gini, bagaimana sih pandangan kakak mengenai situasi ini :

Ada dua cewek, yang satu tuh bisa dibilang tampang biasa-biasa aja, tapi dia itu pekerja keras, akademiknya bagus, dia bisa suatu keahlian sampai keahlian itu ngebuat dia bisa cari uang sendiri, dia mandiri, gak tergantung cowok dan kalau diliat dari personality sih emang cenderung tertutup dan kurang charming. Cowok-cowok pun anggep dia tuh 'saingan', dan bukan cewe yang untuk disukai, dijaga, dan dikeceng.

Lalu ada satu cewe lagi. cewe itu isunya sih dulu pernah sakit berat. ceweknya cantik banget dan lemah lembut bercahaya. kata orang-orang dia tuh loyal, baik, pokoknya princessy deh. walopun akademiknya jelek, dia gak usah terlalu berusaha karena semua cowok selalu mau bantuin. semua cowok deketin, ngeceng, dan menjaga dia. pokoknya dia tuh disanjung-sanjung terus. walopun tanpa harus berusaha banyak.

Terus sekarang ada seorang cowok. dia pacaran (yah uh well hts-an) sama si cewek yang ga cantik. dan dulu dia ngeceng cewek cantik itu. tapi si cowok itu malah jadi sering ngebicarain si cewek cantik, mau pergi ama cewek cantik. Si cewek gak cantik pun jadi bingung, dia kurang apa gitu sama si cowok itu.

Kalo menurut kakak, keadaan ini adil gak sih?

*eh kalo bisa jangan di muat di off clinic. malu hahaha.*

Jawaban dari Kak Syaraf:

Waduh termuat nih, gimana dong? Haha maaf ya, Gadis Galau. Semoga semakin galau, karena itu menyehatkan.

Oke, begini, masalahmu pelik sekali nak. Menurut saya adil loh, tapi kalau saya jawab itu terlalu pendek dan pasti mengecewakanmu. Untuk yang sekarang, akan saya coba jawab serius ya, eh beneran. Pertama, adalah bagaimana menjawab standar cantik? Cantik itu sungguh konstruksi sosial. Coba saja tunjukkan saya gambar kucing pakai pita, saya pasti pikir itu cantik. Tapi contoh itu tak bisa dipakai, karena tadi itu binatang. Tapi setidaknya begini, menggunakan istilah ”cantik” atau ”tidak cantik” sudah merupakan pemilahan yang kurang tepat. Kalaupun demikian, mesti ada tambahan, ”cantik kata siapa?”, ”tidak cantik kata siapa?”. Barulah lumayan keren.

Kedua, adil itu juga, sebenarnya sebuah kata yang tidak jelas. Apakah definisi adil? Apakah semua orang mendapatkan hasil yang sama rata? Jika demikian maka kau komunis, bahaya laten. Ataukah adil itu, setiap orang mendapatkan sesuatu sesuai proporsinya? Jika kau ambil itu definisi kedua, maka tak perlu khawatir persoalanmu itu menjadi persoalan. Karena masing-masing orang punya proporsinya, tinggal selanjutnya, bagaimana cara mensyukurinya. Ada tiga macam cara mensyukuri. Yang pertama adalah ”syukuran”, yakni mengundang orang banyak untuk makan-makan. Yang kedua, adalah ”syukurin”, yakni mengata-ngatai orang yang terkena musibah agar kau lebih puas. Yang ketiga, adalah ”syukur-syukur menang, kalau tidak ya sudahlah,” yakni jika kau melihat Persib sedang tampil di kandang lawan.

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin