Sunday, July 26, 2009

Seperti Cinta

 

Percaya, tidak ? Filsafat itu seperti cinta. Ia sangat inspiratif. Ia bisa menjadi sesuatu yang dangkal dan klise, namun dalam dan personal di lain waktu. Ia hangat dan sederhana ketika dimaknai tanpa pretensi, namun dingin dan rumit jika dimaknai sebagai tempat sembunyi.

Filsafat dan cinta senantiasa berenang-renang di mata anak-anak. Cinta adalah insting alami mendasar dari setiap manusia, dan filsafat adalah seni mempertanyakan segala hal; termasuk yang tampaknya paling naïf dan mendasar.

Seperti cinta, filsafat memelukmu setiap hari. Ia hidup di udara pagi yang kau syukuri, pada lagu-lagu yang meriangkanmu, pada cerita-cerita yang ingin kau bagi, bahkan pada luka, kemarahan, dan kesedihan yang kau coba pahami.

Minggu ini blog Tobucil merayakan filsafat. Ada liputan lengkap ulang tahun madrasah filsafat, ada Pak Amrizal Salayan yang bertanya dengan membuat patung, ada buku Plato dan Internet, ada Syaraf Maulini yang memaknai kegilaan dan menjawab “offclinic” secara kocak sekaligus filosofis, ada tema “Jodoh : Takdir atau Dicari?” dalam madrasah filsafat, ada filosofi rasa damai dari Anex, dan ada eksistensi angin dalam “Salamatahari”.

Apa itu hidup ? Apa itu cinta ? Apa itu kebahagiaan ?

Teman-teman seperti kalianlah yang  membuat kami selalu menemukan maknanya ^_^

Semoga kita tak henti berfilsafat dalam kesetiapharian.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

filsafatseperticinta
Google Twitter FaceBook

Pak Amrizal Salayan St. Perpatih Bertanya, Pertanyaannya Menjawab

Seseorang yang juga merasa dirayakan dalam ulang tahun Madrasah Filsafat adalah Drs. Amrizal Salayan St. Perpatih M.sn. “Saya ke Tobucil dua tahun yang lalu (tepat di hari lahir madrasah filsafat) itu karena janjian sama BQ (Bambang Q Anes),” ujarnya.

Pada suatu sore, menjelang pertemuan madrasah filsafat, Tobucil mengobrol dengan pematung ini …

Tobucil : Pak Amrizal, kenapa jadi pematung ?

Pak Amrizal : Sudah terjadi saja.

Tobucil : Maksudnya ?

Pak Amrizal : Itu buka cita-cita. Dulu sebenarnya saya pingin jadi pelukis. Sampai di suatu saat saya nggak suka jadi pelukis … bukan nggak suka … melukis sudah pernah, kalau mematung belum pernah, jadi saya lakukan.

Tobucil : Terus kenapa milihnya patung, bukan yang lain ?

Pak Amrizal : Karena dekat. Mematung mulainya dari mempelajari diri sendiri, itu kan yang paling dekat. Riil.

Tobucil : Ada nilai filosofisnya, nggak ? Aku perlu nanyain ini, nih, biar sesuai tema blog minggu ini … hehehe …

Pak Amrizal : Di Seni Rupa, tentang body, ada yang kita sebut bentuk organik, plastisitas, artinya kualitas permukaan, yang terjadi dari apa yang terjadi di baliknya. Jadi, bentuk di luar itu sebenarnya mencerminkan bentuk di dalam. Nah, kalau difilosofikan bisa juga. Sebenarnya (dengan) memahami bentuk organik itu, kita melihat atau memahami yang tidak terlihat.

Tobucil : Nha … jadi selama matung, nih, daleman apa yang Pak Amrizal udah liat ?

Pak Amrizal : Hidup atau vitalitas !

Tobucil : Wueits … kayak iklan multivitamin. Jadi gimana, tuh ?

Pak Amrizal : Hidup bahasa Arabnya kan hayat. Ada juga ilmu hayat, ilmu tentang hidup (pelajaran biologi-red). Kalau kita memahami tentang hayat, tentu kita memahami kehidupan itu. Art for life. Jadi, kalau patung adalah kesenian yang memahami kehidupan, berarti samalah itu, memahami hidup dari kehidupan, atau sebaliknya memahami kehidupan dari hidup … seperti … begini … ada kertas … ?

Tobuciler lalu memasrahkan halaman terakhir buku catatan Tobuciler. Pak Amrizal pun membuat semacam skema. Tobuciler jelaskan saja, ya … jadi, menurut skema tersebut, kehidupan ada untuk memahami yang dihidupkan. Yang dihidupkan ada untuk memahami hidup. Dan hidup ada untuk memahami Yang Maha Hidup.

Tobucil : Jadi, Yang Maha Hidup itu siapa ?

Pak Amrizal : Apapun yang diyakini orang tentang sesuatu di luar dirinya, yang tidak diketahui. Itu pun masih “Yang”.

Tobucil : Wah … berarti kayak di lagu cengeng jaman dulu. Lagunya … siapa, tuh, Ratih Purwasih, Endang. S. Taurina, apa Dian Pisesha, ya ? “Yang … hujan turun lagi, di bawah payung hitam, kuberlindung …” … hehehe …

Pak Amrizal : Ya itu terserah perjalanan orang. “Yang” itu kan kata sambung. Terserah nyambungnya ke mana.

Tobucil : Kalo Pak Amrizal sendiri nyambunginnya ke mana ?

Pak Amrizal : Biar saja di situ. Ia tidak terjelaskan. Makanya ada ilmu filsafat. Ilmu filsafat kan bertanya terus (tentang) yang dipertanyakan.

Tobucil : Hmmm … berarti dengan bikin patung Pak Amrizal bertanya terus, dong ?

Pak Amrizal : Bertanya. Kan bertanya tentang “Yang” itu dan Ia jawaban sekaligus. Ya, itu jawabannya. Pertanyaan itu.

Tobucil : Paket hemat, dong … beli satu dapet dua … hehehe … eh, just wondering. Kira-kira patung bikinan Pak Amrizal pernah bertanya-tanya juga, nggak ?

Pak Amrizal : Patung kan representasi dari senimannya. Hasil pekerjaan itu kan cerminan dari siapa yang mengerjakan. Seperti alam semesta ini juga cerminan dari pembuatnya.

Tobucil : Ok. Jadinya si patung bertanya, ya. Terusterus, kita kan makhluk yang bertanya, nih. Kalau kita cerminan dari pembuat kita, artinya pembuat kita juga bertanya, dong.

Pak Amrizal : Dia membuat pertanyaan.

Tobucil : Apa ?

Pak Amrizal : Who are you ?

Who are we? Yang Maha Hidup menciptakan wujud kita, namun kita sendiri yang menentukan identitas kita. Artinya, seniman patung menciptakan patung, tapi sesungguhnya si patung sendirilah yang menentukan identitasnya.

Psst … seniman-seniman, mungkin sudah saatnya kita bersikap demokratis terhadap karya-karya kita. Apa jawaban mereka jika kita berdiri di hadapan mereka sambil bertanya : “who are you ?”

Sundea







Biodata

Nama : Drs. Amrizal Salayan St. Perpatih M.Sn.

Tempat Tanggal Lahir : Bukittinggi, 8 Oktober 1958

Profesi : Pematung, guru gambar, guru patung

Google Twitter FaceBook

Plato dan Internet, Makanan Bermagnet, Tas Imut Kain Velt

 

platernet Judul Buku : Plato dan Internet

Pengarang : Kieron O’Hara

Harga buku : Rp. 15.000,00

Harga Tobucil : Rp. 13.500,00

Apa itu pengetahuan ? Meski banyak argumen telah berubah sejak kara-karya Plato sekitar 2500 tahun yang lalu, Kieron O’Hara menegaskan bahwa perbedaan yang esensial tidak terletak antara pengetahuan dan keyakinan, tetapi antara pengetahuan dan informasi. Dalam buku Plato dan Internet, dia berpendapat bahwa apa yang penting bukanlah “fakta-fakta apa saja yang Anda ketahui”, tetapi kita seharusnya berharap untuk menemukan pengetahuan tidak hanya dalam kepala kita, tapi juga di sekitar lingkungan kita.

----

Magnet Makanan-makanan Sehat

Harga : Rp. 5000,00

Created by Liena

Meski kau simpan lama-lama, makanan-makanan ini tak akan basi.

Kok bisa ?

Karena mereka adalah magnet imut-imut dengan warna-warni ceria.

Jika makanan biasanya tersimpan di dalam kulkas, makanan-makanan ini bisa kau pasang di luar kulkas. Magnet akan melekatkan mereka di sana.

---

Tas Aplikasi Kain Velt

Harga : Rp. 20.000,00

taskecil

Created by Liena

Tas kecil ini cocok untuk menyimpan hp, kunci, dan dompetmu ketika jalan-jalan.

Imut, ceria, dan tetap gaya. Cocok pula dihadiahkan untuk keponakan tersayang.

Google Twitter FaceBook

Biru-biru Bertamu

 

-Tobucil, Selasa 21 Juli 2009-

Pagi menjelang siang hari itu, sekumpul warna biru memasuki Tobucil. Mereka adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja (STIESA), Subang. 

Kunjungan hari itu adalah kunjungan ke dua mahasiswa STIESA ke Tobucil. “Tapi ini angkatan yang lain,” ujar Pak Bismantara, dosen Bidang Akademik dan Kemahasiswaan yang mengantar sekitar lima puluh anak didiknya hari itu.

 

sesek

 

Tobucil langsung penuh sesak. Para mahasiswa duduk berdesakan di beranda untuk mendengarkan Wikupedia sang koordinator klabs menyampaikan materi seputar dunia bisnis berbumbu curhat-curhat kecil … hihihihi …

pencerahandarikakwiku seorang mahasiswa terpesona pada Wiku

 

Bukan hanya mendengar materi, para mahasiswa pun berkesempatan melihat sendiri sistem kerja di Tobucil. Seperti senior-senior yang pernah datang, mereka pun tampak cukup antusias terhadap ketobucilan Tobucil.

liatliatkedalem 

Menurut Pak Bisma, STIESA berencana secara kontinyu melakukan kunjungan ke Tobucil. “Mungkin, kalau jadi, Agustus kita ke sini lagi, tapi anak-anaknya lebih sedikit,” ujar Pak Bisma.

Sekitar pukul dua belas siang, bis besar datang. Biru-biru yang bertamu pamit dan lalu.

Sampai jumpa, Teman-teman, semoga kita nanti bertemu lagi …

 

Sundea

Foto : Elin Purwanti

Google Twitter FaceBook

Boehmeria Nivea dan “Boehmeria Nivea”

 

-Tobucil, Selasa 21 Juli 2009-

Dian, tutor kursus crochet, tampak melabeli benang-benang baru. “Ini benang dagangan lo, ya ?” tanya Tobuciler. “Iya,” sahut Dian. “Merknya ‘and’. Artinya apa ?” tanya Tobuciler lagi. “Dian dan Nana,” sahut Dian lagi. Sebagai informasi, Nana adalah personil Klab Rajut yang juga bersahabat dengan Dian. “Harganya sepuluh ribu juga ?” lagi-lagi Tobuciler bertanya. Sambil masih terus melabeli, Dian mengangguk.

Lalu apa beda benang “and” dan benang “Tipi” ? “Ini benang rami,” Dian menjelaskan. Benang ini lebih kesat, tipis, dan tidak berbulu. “Benangnya Si Ipey, tuh,” timpal Mbak Tarlen. Kenapa benang Ipey ? Karena customer service kami itu bernama asli “Boehmeria Nivea” dan Boehmeria Nivea adalah nama latin untuk benang rami. Woah … lucu juga, ya. Dilihat dari namanya, tampaknya Ipey dan Tobucil memang “meant to be together”.

Psst … ada beberapa hal mengenai benang rami yang menarik untuk kamu ketahui :

  • Bagus untuk pemula karena mudah digunakan.
  • Dalam penggunaannya, pemilihan warna sangat penting. Jika tidak dikombinasi dengan benar, warna broken white akan terlihat seperti benang kasur. Jika ingin memberi efek mengkilat, padukan dengan benang lain yang mengkilat, tapi jangan terlalu mengkilat.
  • Bagus untuk membuat boneka, baju (dan bahannya adem, lho), taplak, dan tas.
  • Boehmeria Nivea terdiri atas tiga warna : polos, mambo (gradasi), dan sembur (terdiri dari lebih dari dua warna). Tapi yang banyak ada adalah jenis polos dan mambo.
  • Setelah menjadi karya, benang rami bisa disetrika tapi harus disemprot air dulu sebelumnya agar bentuk karyanya tidak berubah.

Sambil mencatat fakta-fakta mengenai Boehmeria Nivea, Tobuciler melirik Boehmeria Nivea lain yang duduk menghadap komputer Tobucil. Hmmm … apa mereka punya persamaan ?

Berkunjunglah ke Tobucil. Kenali dua jenis Boehmeria Nivea ini dan sampaikan pada Tobuciler apa kesanmu … ; )

Sundea

 

 

foto-foto benang “and” dan cara memesan dapat dilihat di sini

Google Twitter FaceBook

Jadi, Jodoh Itu Dicari atau Ditemukan ?

 

-Tobucil, Rabu 22 Juli 2009-

Madrasah Filsafat

“… from a million heart we choose …”

-How I Remember You, Michael Franks-

“Dari semua NU Green Tea yang ada, kenapa saya ngambil yang ini ? Itu artinya saya jodoh sama NU Green Tea yang ini. Menurut saya, jodoh itu ditemukan,” ujar Noel sambil menggenggam botol NU Green Tea-nya. Masih seputar teh-tehan, Mas Oyeah berpendapat, “Jodoh itu ketika standar-standar sudah luntur. Jodoh itu mencari. Tadi saya pesen Lemon Tea, tapi karena nggak ada saya menurunkan standar saya jadi teh biasa.”

Jadi, jodoh itu ditemukan atau dicari ? Itulah yang dipertanyakan dalam madrasah filsafat edisi 22 Juli 2009.

Meski pengertian “jodoh” cenderung mengarah pada “orang yang cocok menjadi suami-istri” (setidaknya itulah pengertian utama “jodoh” dalam KBBI), dalam forum madrasah filsafat “jodoh” lebih luas pengertiannya. “Teman yang cocok itu jodoh,” pendapat Mira yang datang bersama Myra, saudara kembarnya. Theoresia, penyiar Sky FM yang lahir di Ambon, merasa berjodoh dengan kota Bandung. “Di sini banyak banget klik-nya. Sama komunitas, kerjaan, jatuh cinta  pertama kali di usia dewasa juga di sini,” papar Theo.

“Jadi, jodoh itu dicari atau ditemukan ?” tanya Mas Dauz, kembali kepada pertanyaan utama.

Mas Oyeah lalu bercerita tentang kedua orangtuanya yang baru bertemu di atas pelaminan. “Tapi mereka langgeng sekali. Saya tidak pernah melihat mereka bertengkar. Bahkan, meski dengan bahasa Sunda yang sangat kasar, Bapak saya selalu bilang kalau Ibu saya masuk surga, pasti karena melayani ayah saya,” cerita Mas Oyeah. Kisah romantis ini memancing Mas Dauz untuk kembali mencurhatkan kisah cinta platonisnya yang sudah bertahan lebih dari satu dekade; mengenai ketidakmungkinannya bersatu dengan seseorang dianggapnya sebagai cinta sejati. Lalu apakah menurut Mas Dauz ada jodoh yang tidak bersatu ? “Ada. Bahkan merpati yang katanya tak pernah ingkar janji pun …,” ujarnya nelangsa dan dramatis.

“Jadi jodoh itu ilahiah atau tidak ?” meski dengan bahasa yang berbeda, Mas Heru kembali pada pertanyaan utama.

“Jodoh itu takdir yang dicari,” ungkap Mbak Teny.

“Jodoh itu negosiasi,” ungkap beberapa teman yang hadir.

“Jodoh itu ketika standar-standar sudah luntur,” Mas Oyeah bersikukuh.

Hmmm … menurutmu sendiri, jodoh itu takdir atau dicari ?

Myra dan Mira diwawancara Bandung TV

 

Yang pasti, malam itu reporter Bandung TV datang mencari berita.

Bisa jadi ia memang ditakdirkan untuk meliput madrasah filsafat.

Menurutmu, apa itu berarti Bandung TV berjodoh dengan diskusi kami ?

Sundea

Google Twitter FaceBook

Dua Kali Dua Sama Dengan Empat

 

-Tobucil, Minggu 19 Juli 2009-

Ulangtahun madrasah filsafat

“Dua kali dua sama dengan empat”

-perkalian standar-

Di hari ulangtahunnya yang ke dua, madrasah filsafat menggelar empat sesi acara ; tiga sesi diskusi dan satu sesi pemutaran film. Setiap sesi diskusi pun dihantar oleh empat personil ; tiga pembicara dan satu moderator.

Sesi pertama yang berjudul “Facebook dan Aktualisasi Diri Individu” dipembicarai oleh Mohammad Syafari Firdaus (kritikus sastra), Tarlen Handayani (community organizer), dan Damhuri Muhammad (penulis), dan dimoderatori oleh Desiyanti Wirabrata (penyiar PR FM). Ternyata, selain bermanfaat sebagai media komunikasi dan jaringan serta hiburan, diam-diam Facebook pun menyimpan resiko. “Data personal apapun di internet bisa terlacak, hati-hati,” kata Mbak Tarlen. Setiap tindakan yang dilakukan secara maya di facebook pun dikhawatirkan mengaburkan batas antara maya dan nyata bagi penggunanya. “Banyak orang join cause ini, join cause itu, tapi akankah di dunia nyata mereka melakukan tindakan yang sama ?” Mbak Tarlen mengajukan pertanyaan retoris.

Kekaburan batas antara maya dan nyata ini dialami sendiri oleh Mas Dauz. Ia sempat terbawa-bawa oleh tiga kepribadian yang diciptakannya untuk penelitian penggunaan bahasa dalam internet. Bukan hanya itu, online malah membuatnya sempat menjadi pecandu internet yang cukup serius. Wow !

Menanggapi kedua pembicara sebelumnya, Mas Damhuri berkomentar, “Persepsi mana yang paling dominan, itulah realitas.” Menurut Mas Damhuri, kejatidirian itu sangat problematik. “Jangankan wajah yang divisualisasikan (dalam facebook), wajah asli saja bisa jadi topeng,” lanjutnya.

Fenomena facebook yang dilempar ini memancing banyak tanggapan pro dan kontra. Jerry, misalnya, beranggapan facebook sangat mendukung berlangsungnya gerakan mahasiswa karena mempermudah komunikasi. “Kalau ditolak, kita justru tidak memaksimalkan (kemungkinan) aktualisasi dalam teknologi.” Berkebalikan dengan Jerry, Hendra Messa berpendapat, “Facebook itu menunjukkan orang tambah kesepian. Menurut saya itu semacam narsisme saja, katarsis dari aktualisasi diri.”

Mencoba berdiri di dua sisi, Mas Damhuri menanggapi, “Problemnya memang orang yang sudah terasing menjadi semakin terasing karena ketemunya ya di fb. Tapi yang disukai, di sana semua dituliskan, bukan diverbalkan.” Menurut Mas Damhuri, semua yang dituliskan cenderung tersimpan lebih lama. “Ya … tetap facebook-an, tapi kesadarannya musti digenggam …,” ujarnya pada akhirnya.

Setelah break makan siang sekitar satu jam, sesi dua dimulai. Sesi dengan judul “Filsafat dalam Keseharian” menghadirkan pembicara-pembicara kelas bantam ; Donny Gahral Adian (dosen filsafat Universitas Indonesia yang sudah menghasilkan sejumlah buku), Professor Bambang Sugiharto (pengajar filsafat Universitas Parahyangan yang juga sudah menghasilkan sejumlah buku), Ahmad Gibson (dosen Universitas Islam Negeri Bandung), dan Heru Hikayat (kurator seni rupa) sebagai moderator.

Secara santai, para pembicara memaparkan betapa dekatnya filsafat sesungguhnya. Donny Gahral Adian, yang mendapat kesempatan bicara pertama, menganggap filsuf kerap “mengasingkan diri di menara gading ; di kamar utama”. “Semakin lama, filsafat seperti semakin jauh dari keseharian. Filsuf malas membicarakan hal-hal yang dianggap remeh-temeh, misalnya pemilihan presiden. Mereka seperti tidak mau bergaul dengan hal-hal yang tidak ‘philosophical being’, padahal filsafat harus bisa bercakap-cakap dengan hal-hal di luar filsafat itu sendiri.” Mengakhiri pemaparannya, sebagai filsuf, Pak Donny menyatakan, “Saya tidak mau mati di kamar utama. Saya ingin bergembira di kamar tamu !”

Menyambung Pak Donny, Pak Bambang berpendapat filsafat sesungguhnya adalah “menggamit kembali pertanyaan mendasar sambil tahu betul bahwa jawabannya tak pernah satu”. “Sebetulnya filsafat itu adalah radikalisasi naluri anak-anak untuk bertanya. Misalnya, ketika mau sekolah, anak-anak Ilandanpakbambangbertanya, ‘buat apa, sih, sekolah ?’, ‘kenapa orang-orang bekerja?’” (Sebagai informasi saja, selama Pak Bambang berbicara tentang naluri anak, Ilan, anak Leon, drummer Koil, dengan bebas mundar-mandir di seputar para pembicara, seperti mempresentasikan pemaparan Pak Bambang secara live … hehehe …)

Bagi Pak Ahmad Gibson, filsafat adalah sesuatu yang personal sifatnya. “Misalnya, orang lapar kebutuhannya kan beda dengan orang kenyang,” beliau mencontohkan. “Filsafat itu tidak mengenal kelas, semua orang membutuhkan,” ujar Pak Ahmad.

Sesi ini menggeletik hadirin untuk bertanya berbagai hal. Iki, misalnya mengajukan pertanyaan yang puitis, “Bagaimana cara menyingkap jiwa-jiwa yang berserakan di luar sana ? Memupuk kesadaran pada realitas di luar kita ? Memupuk yang magis dari yang menyehari ?” Pertanyaan ini dijawab oleh Pak Bambang Sugiharto dalam point-point praktis : 1. Lihat mana yang paling logis. 2. Nyambung atau tidak dengan kehidupan sehari-hari. 3.Latihan melihat mana yang penting mana yang tidak.

Mas Iman Abda, aktivis Radio Komunitas yang juga rajin datang ke pertemuan rutin madrasah filsafat, ikut bertanya, “Apa betul dalam filsafat tak pernah ada jawaban ?” Yang ini dijawab secara singkat dan sederhana namun sarat makna oleh Pak Ahmad Gibson, “Sebetulnya setiap jawaban adalah pertanyaan dari sebuah masalah baru.”

Suci menyanggah pernyataan Pak Donny mengenai terkunci di menara gading, “Bukan para filsuf yang mengunci diri di menara gading. Justru mereka yang dikunci di menara gading …”

Seperti merangkum sesi tanya-jawab itu, Mas Ami, kuncen madrasah filsafat tahu-tahu punya pemikiran, “Kenapa, ya, nggak ada orang yang konsultasi ke filsuf ? Orang lebih suka konsultasi ke psikolog, ahli gizi …” JEDERRR … Tapi … iya, ya, kenapa tidak ?

Selepas sesi dua ini, hadirin disuguhi es cendol untuk mendinginkan kepala dan tenggorokan. Sementara itu, jiwa para filsuf pun didinginkan dengan musik akustik bernuansa agak-agak pop-jazz oleh band Crescent Watermark. Vokalis band ini adalah Chris Sinatra, salah satu simpatisan madrasah filsafat yang terkenal dengan lapak liarnya. Suara Chris yang lembut seperti angin sore itu ternyata sangat jauh bertentangan dengan keliaran lapaknya … hehehe …

Crescent Watermark

“Spiritualitas Masyarakat Urban” adalah judul diskusi yang menutup rangkaian diskusi yang disajikan hari itu. Bersama T. Ismail Reza (urban designer), Bambang Q Anes alias BQ (dosen UIN dan filsuf Islam), serta Amrizal Salayan (pematung), dan dimoderatori oleh Mas Ami sendiri, pembicaraan mengenai simbol-simbol religi dan nilai-nilai yang rohaniah sifatnya mengalir.

Sebagai pembuka, Mas Reza membuat pemisahan istilah, “Religiusitas itu mengkomunikasikan simbol, sementara spiritualitas mengalami sendiri, upaya untuk memberikan makna lebih.” Mas Reza lalu menceritakan contoh spiritualitas yang pernah dialaminya. Pada suatu hari, ketika sedang shalat Jumat, ia menitipkan salam dari temannya kepada Tuhan dengan cara yang lugu, “Tuhan, si itu tadi titip salam …” dan NGUUUUNGGG … tahu-tahu Mas Reza seperti mendengar gema genta ; bukan dengan telinga, tapi dengan sesuatu yang intuitif sifatnya.

Pak Amrizal pun punya pengalaman menarik mengenai spiritual-religius ini. “Dalam soal ulangan anak saya pernah ada pertanyaan : ke mana kita menghadap kita shalat ? Anak saya menjawab ‘kepada Allah’, tapi disalahkan karena dalam text book jawabnya ‘menghadap kiblat’.” Simbol religius adalah medium menuju spiritualitas. Namun, seringkali orang berhenti pada medium.

“Jadi di mana sebetulnya kita bisa menemukan dan memelihara spritualitas ?” tanya Pak Radea. Mas Reza menjawab, “Pengalaman spiritualitas justru pada hal-hal yang remeh temeh, misalnya melihat WC bersih di mesjid. Mungkin justru ketika kita melakukan hal yang kecil-kecil, kita mendapatkan sesuatu yang sangat besar.” Seiring dengan makna spiritualitas bagi Mas Reza, Mas BQ menceritakan keterkesanannya pada pedagang keliling di daerah rumahnya, “Dia nggak pernah ngomong soal kesabaran, tapi mewujudkan kesabaran itu dengan berkeliling-keliling …”

Lalu, seperti apa kondisi spiritualitas masyarakat urban yang hidup di perkotaan ? “Menciptakan kota religius itu mudah, tapi spiritual tidak,” ujar Mas Reza. Lalu, apakah tata ruang sebuah kota diciptakan untuk kondisi tertentu ? “Misalnya, di stadion kan bobotoh pada ngelempar barang, apa itu karena kondisi ruangnya ?” tanya Mas Ami. “Menurut saya, itu lebih karena psikologi massa, karena mayoritas,” jawab Mas Reza. Tapi sebetulnya ruang, termasuk kota, memang bisa diciptakan kondisinya, “Ruang itu adalah titik orientasi. Kalau kita paham sumbernya, ruang bisa terjadi, semua hanya upaya bagaimana kita mikirnya,” jelas Mas Reza.

Senja turun. Seperti dituangi sirup anggur, warna ungu menyebar diam-diam di keluasan langit. Adzan berkumandang seperti nyanyian. Sebuah simbol religius. Namun, kesyahduannya melahirkan spiritualitas personal dalam pengalaman setiap filsuf yang hadir pada perhelatan hari itu.

Setelah shalat maghrib, pembicara diganti dengan telivisi besar. Film “Me and You and Everyone We Know” karya Miranda July diputar. Filsuf-filsuf yang masih tersisa menikmati tontonan tersebut sambil mengudap dan minum bajigur.

Dua kali dua sama dengan empat

Setiap kita saban kali berfilsafat

Bahkan Mohammad Syafari Firdaus pun Bangun Pagi

kang dei Ingat Mohammad Syafari Firdaus yang dikuatirkan akan datang terlambat ? Hnah ! Ternyata, Teman-teman, khusus di hari ulang tahun madrasah filsafat itu, beliau melakukan terobosan. Sebelum pukul sepuluh, ia sudah menginjakkan kaki di halaman Aceh no.56. Segenap umat, alam semesta, dan burung-burung pagi menyambutnya raya.

“Kok bisa bangun pagi ?” tanya Tobuciler takjub. “Aduh, apa, ya … ternyata betul juga … pertanyaan gampang aku susah ngejawabnya,” sahut Mas Dauz. Menurutnya, setelah lulus kuliah (yang sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Teman-teman), ia tidak pernah lagi punya pengalaman berdiskusi jam sepuluh pagi. “Filsafat pula,” ujarnya, tampak terheran-heran pada dirinya sendiri.

Cinta memang sulit dinalar. Bisa dipastikan kebangunpagiannya hari itu lahir dari kecintaannya terhadap berfilsafat dan madrasah filsafat. Pada keinginan untuk memberikan yang terbaik. Selamat, Mas Dauz ! Anda layak dapat bintang ! (matahari pagi juga bintang, lho, bintang yang paling dekat dengan bumi …).

Sundea

Foto-foto Pesta filsuf dapat dilihat di sini

Google Twitter FaceBook

Tobucil dan Kegilaan

 

Jumat (24/7) kemarin, menjelang gelap, ada orang gila datang ke halaman Tobucil. Bagaimana Tobuciler tahu dia gila? Sepertinya begitu, karena ia mau merusak tanaman dan bangku-bangku. Apakah itu berarti orang gila itu gila? Bisa jadi, karena ia tak sadar bahwa perbuatannya merugikan. Diusirlah orang itu oleh papanya Reni dan Pak Nahrowi, dengan susah payah tentunya, karena dia gila. Bajunya lusuh dan tatapan matanya kosong, semakin lengkaplah keyakinan Tobuciler bahwa ia seorang gila.

 

teras

Tempat orang gila tersebut ditemukan duduk-duduk

 

Ngomong-ngomong orang gila, adapun seseorang yang Tobuciler curigai gila. Ia sering mondar-mandir di seputaran jalan Aceh dan sesekali masuk ke halaman Tobucil. Lucunya, ia cuma cuci tangan lantas pergi. Kerjaannya ketawa keras sekali, terbahak-bahak dan menggelegak. Sesekali pula ia mandi di saluran air depan Tobucil. Telanjang sepertinya tak jadi soal mesti di pinggir jalan. Ya, itulah, karena sepertinya dia gila. Tobuciler tak tahu persisnya, apakah cuma dua orang gila itu yang rajin keluar masuk Tobucil, atau ada lagi? Tobuciler jarang mengamati, karena biasanya kedatangan orang gila memang berusaha untuk tak diamat-amati.


Namun gara-gara ada orang gila Jumat kemarin itu, berhubung kejadiannya cukup menarik perhatian, Tobuciler jadi tertarik untuk merenang renung soal kegilaan. Sebenarnya, apakah yang dinamakan gila itu? Sungguh adakah seorang yang gila? Tobuciler mencoba menghitung berapa banyak orang gila yang datang ke Tobucil, dan ternyata, banyak! Begini ceritanya, Tobuciler ingat Foucault, om-nya Tobuciler, katanya, kegilaan itu konstruksi kekuasaan saja. Lanjutnya, yang menentukan seorang gila atau tidak, bukan dari urusan mental dan kejiwaan semata, ada pengaruh kekuasaan disana, otoritas menentukan siapa gila siapa tidak. Yeh, kekuasaan-kekuasaan terus. Lantas? Sejak jaman Renaissans hingga sekarang, yang namanya ”gila” itu tak pernah sama. Ada yang gila itu artinya yang bid’ah, atau dianggap sesat oleh agama, adapun yang gila itu yang berpenyakit kusta, ada lagi yang rajin masuk penjara, hingga ada kesimpulan tentang kegilaan jaman sekarang: yakni yang tak produktif secara kapital.


Foucault ada benarnya juga, dua orang gila yang rajin datang ke Tobuciler, biasanya tak punya kerjaan, tak menghasilkan uang. Oh, lalu darimana hitungan ”banyak orang gila di Tobucil” yang dibilang Tobuciler? Apakah ini berarti isi Tobucil pengangguran semua? Bukan-bukan, ”banyak” bukan mengacu pada kata Foucault. Kutipan kata-kata Foucault tadi agar Tobuciler nampak pintar saja. Tapi Tobuciler ingat kata Nietzsche, salah satu bukan-teman-Tobucil, katanya hidup ini mesti bagai menenggak anggur, merasakan gelegak, sedikit berpikir, dan dengan demikian, apa contoh terbaiknya: orang gila.


Orang gila, kata Nietzsche, jarang sakit dan selalu bahagia. Bahagia kata siapa? Dalam terminologinya sendiri, tentunya, dan itu tak jadi soal. Mengacu pada itu, memang banyak orang gila datang ke Tobucil, karena mereka adalah orang-orang yang rindu merasai gelegak, mengurangi kegiatan berpikir, melepaskan hidup jadi apa adanya, dan menciptakan terminologi baru tentang bahagia. Nongkrong, hotspotan, minum kopi, ketawa-ketiwi, tatapan kadang kosong kadang berapi, berbicara tentang hal apa saja asal keren dan asyik, tapi sungguh, menyiratkan kebahagiaan, seperti kejadian Jumat kemarin kala Mas Agus, Mba Eci, dan Mba Theo berlatih jurnalisme, tidakkah itu kumpulan orang gila? Atau jika klab rajut berkumpul, semua asyik sendiri, tak peduli yang lain apa atau kenapa, tatapan kosong dan seolah hanya benang yang ada di semestanya, tidakkah itu orang gila? Atau jika klab klasik nongkrong, bukan ngomongin musik klasik, tapi ngomongin orang atau Tuhan, dan ada yang bertindak sebagai nabi dan ada yang berperan sebagai murid nabi, semuanya ditutup dengan ketawa, dan mesti ketawanya terbahak, tidakkah itu juga orang gila? Jika demikian, marilah main ke Tobucil, jadilah bagian dari kegilaan.

 

“Kegilaan” Theo dan Agus Rakasiwi

 

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

Seseorang yang Ingin Tahu Jawaban Kak Syaraf


kaksyarafasuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari seseorang yang ingin tahu jawaban Syaraf Maulini (via email):
Syaraf Maulini, maap saya agak aneh memanggil dengan kata Kak di depan kepada anda. Saya ada beberapa pertanyaan yg bilamana memungkinkan anda jawab dalam keadaan sadar.
1. Bagaimana menanggapi dan menghadapi wanita yg memiliki kemauan yg keras sehingga lebih terlihat seperti keras kepala?


2. Mengapa sesuatu hal yg telah direncanakan dan dijanjikan pd saat waktu nya menjadi tidak berjalan sebagai mana mesti nya dan bahkan gagal total? Apakah peran takdir ikut terlibat dalam masalah tersebut?
Terima Kasih


Jawaban dari Kak Syaraf:
Wahai, siapa namanya, oh panjang sekali, baiklah, begini ya:
1. Langkah pertama, jangan disiram dengan air keras, meskipun itu akan menggenapkan kata-kata keras. Agar lembut, tentu dengan diberi pengertian dan sesekali cobalah mengalah. Jika itu gagal, maka berilah saran. Saran agar apa? Agar tak terlalu keras kepala. Tapi jangan terjebak dengan keras kelak akan menjadi keras kepala. Karena bukan berarti jika kelak kemauannya lembut, maka kepalanya akan lembut pula.


2. Tentu saja ada. Karena takdir adalah kependekan dari tak direncanakan. Jadi dalam setiap rencana dan janji yang disusun oleh dik panjang namanya, mestilah dalam realisasinya, selalu ada unsur di luar rencana. Tapi biasanya, kita membahas takdir jika itu berkaitan dengan kemalangan. Betulkah? Ya, biasanya jika itu membahagiakan, kita sering menyebutnya keberuntungan semata. Oh, dasar manusia.


Dari Gadis Galau Jakarta (via message FB):
Hai, Kak Syaraf yang serba tahu:
1. Sebutkan lima restoran ter-romantis di jakarta dgn budget yang ga terlalu mahal!


2. Sebutkan soal-soal untk seleksi CPNS Deplu mendatang!

Jawaban dari Kak Syaraf:
Halo GGJ, kira-kira begini:
1. Ada Atmosphere di jalan lengkong, lalu 3 E’s View di Dago Pakar, kau tahu itu punya siapa? Teman kita loh, si Gondo. Ada pun Congo, Boemi Joglo, serta Batagor Kingsley. Kau tahu itu semua tempat-tempat di Bandung? Karena ngapain, orang Jakarta kalo makan pada ke Bandung, kok.


2. Siap? Catat ya:
1. Apa pendapat anda tentang pengeboman di Marriott dan Ritz Carlton kemarin?
2. Apa pendapat anda tentang pendapat SBY tentang keterkaitannya dengan pemilu?
3. Bagaimana cara menyeberangkan nenek-nenek yang baik dan benar, sesuai himbauan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila?
4. Apakah kepanjangan CPNS?
5. Apa motivasi anda ke luar negeri? Dan apa bedanya luar dan dalam negeri? Kenapa luar negeri dinamakan luar negeri dan bukan dalam negeri? Oh, itu satu atau dua pertanyaan yah?
6. Apa warna syal merah rajutan Mba Upi? Siapakah Mba Upi itu?
7. Apa hubungannya Tobucil dan CPNS Deplu? Boleh dijawab tidak ada hubungannya loh.
8. Sebutkan rukun iman yang ketujuh dan kedelapan! Kebetulan yang ini saya ada kunci jawabannya: Rukun kepada warga dan rukun kepada tetangga.
9. Jelaskan pemahaman anda tentang sila satu pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, dari sudut pandang kasus Manohara!
10. Apakah anda senang Luna Maya nyanyi lagi Hijau Daun? Jika ya, tak perlu jelaskan!
Demikian soal-soalnya nak galau, jika betul semua, niscaya anda masuk surga.

Google Twitter FaceBook

Here, There, and Everywhere

There, running my hands through her hair *

salamatahari

“Kamu ngapain, sih ?” tanya Dea ke angin.

“Rambut kamu udah mulai panjang, tuh …,” saut angin.

“Iya, belum sempet gunting. Emang kenapa, Ngin ?”

“Ya … saya cuma pengen ngeliat muka kamu lebih jelas aja …”

Hari itu, di angkot, Dea emang duduk deket pintu. Sepanjang jalan, angin niup-niup rambut Dea ke belakang. Pertamanya Dea agak sebel karena rambut Dea jadi berantakan. Tapi setelah tau alesannya, Dea nggak terlalu keberatan. Lagian ketika rambut Dea kesibak ke belakang, Dea juga bisa ngeliat dunia dengan lebih jelas.

Both of us thinking how good it can be*

Pas Dea turun dari angkot, angin brenti bertiup. Sambil ngebener-benerin rambut, Dea manggil Angin, “Angin, kamu sekarang di mana ?”

Angin nggak nyaut.

Dea diem, nyoba nangkep suara angin. Tapi sore itu suara lalu lintas ngedominasi.

“Angin … ?” panggil Dea lagi. Eh … yang nyaut malah minyak gorengan yang suaranya mirip rocker jaman Bangkit Sanjaya, “SRUEEENGGGG …”

Dengan agak sedih, Dea ngelanjutin perjalanan. Tau-tau Dea ngeliat ibu-ibu yang rambutnya terbang-terbang kayak Dea pas di angkot. Juga sampah plastik yang jungkir balik di sekitar jalan raya.

Ranting pohon di sebrang Dea juga ngayun-ngayun tanpa suara. Beberapa lembar daun yang ranggas nggak jatoh lurus. Dea senyum. Angin ternyata nggak jauh.

Someone is speaking but she doesn't know he's there *

Pas udah nyampe di depan rumah, mata Dea kelilipan debu. “Aduh, Angin, kamu iseng amat, sih?” protes Dea sambil ngucek-ngucek mata. “... watching her eyes, and hoping I’m always there …*,” nyanyi Angin sambil berlalu. Tampaknya keabstrakan bikin Angin harus minjem berbagai kekonkretan untuk eksis. Tapi justru kesadaran itu yang bikin dia selalu ngebentuk eksistensinya secara sadar.

But to love her is to need her everywhere*

Angin terbang-terbang sambil terus mencari dan menemukan. Minjem wujud yang satu dan ngembaliin lagi. Sayup Dea ngedenger dia nggak brenti nyanyi,

“To be here, there, and everywhere … here there and everywhere ….*”

Sundea

*) ”Here, There, and Everywhere”, lagu The Beatles

 

Google Twitter FaceBook

Siapa Mau Ikut Bazaar Crafty Days #3

Tobucil & Klabs, kembali menyelenggarakan acara tahunan Crafty Days untuk ketiga kalinya. Kali ini mengambil tema: "Toys 'R' Us" yang akan diselenggarakan pada tanggal 15-16 Agustus 2009, meliputi kegiatan pameran, bazaar dan workshop.
Untuk itu, kami membuka pendaftaran untuk kegiatan bazaar dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1. Barang yang dijual adalah karya kerajinan tangan buatan sendiri
2. Peserta yang mendaftar mengirimkan data dan foto contoh karya ke alamat email tobucil@yahoo.com. Untuk data silahkan
copy form berikut ini:


NAMA LENGKAP PESERTA:
NAMA LABEL/MEREK (jika ada):
ALAMAT LENGKAP:
NO TELEPON & NO. HP:
ALAMAT EMAIL:
ALAMAT BLOG (jika ada):
DESKRIPSIKAN BARANG YANG AKAN DIJUAL:


sertakan foto maksimal 5 foto


3. Pendaftaran peserta bazaar dibuka mulai: 12Juli sampai 1 Agustus 2009 (terbuka bagi peserta dari bandung maupun luar bandung).
4. Tobucil & Klabs akan menseleksi peserta yang mendaftar berdasarkan: keunikan desain dan bahan yang belum pernah ditampilkan di crafty days sebelumnya. Hanya tersedia 20 meja.
5. Peserta yang terpilih akan di hubungi selambat-lambatnya tanggal 28 Juli 2009 melalui email dan telepon.
6. Peserta yang terpilih membayar biaya sewa meja rp. 200.000 (untuk dua hari/meja)
7. TOBUCIL TIDAK MENGAMBIL PRESENTASE DARI PENJUALAN.
keterangan lebih lanjut silahkan hubungi:
tobucil 022 4261548 (senin-minggu, Pk. 9.00 - 20.00 wib)
atau
www.tobucil.blogspot.com dan
http://tobucil.multiply.com

Klab Menulis Kreatif untuk Anak-anak Diundur dan Pindah Hari

Biaya : Rp. 300.000,00/anak untuk 8 pertemuan

Fasilitas : Buku kreativitas, peralatan prakarya.

Waktu : Setiap Selasa pukul 14.00-16.00, mulai 21 Juli 2009

Pendaftaran ditutup pada tanggal 28 Juli 2009

Terbuka untuk anak berusia 8-10 tahun.

Tempat terbatas untuk lima peserta yang paling dulu mendaftar.

Materi :

Pertemuan pertama : berbagi pengalaman menulis, perkenalan.

Pertemuan ke dua : menuliskan pengelihatan dan pendengaran

Pertemuan ke tiga : menuliskan perabaan, penciuman, dan pengecap.

Pertemuan ke empat : memahami metafora (majas perumpamaan)

Pertemuan ke lima : Jalan-jalan

Pertemuan ke enam : Menuliskan pengalaman jalan-jalan di minggu sebelumnya

Pertemuan ke tujuh dan delapan : Membuat buku kumpulan tulisan sendiri secara handmade.

*meski kelas dimulai pada tanggal 21 Juli, peserta masih dapat menyusul pada tanggal 28 Juli.



REGULER KLABS

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkan diskusi rutin Rabu tanggal 29 Juli 2009
dengan tema:

"Masa Kecil”

Rabu, 29 Juli 2009

17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!


vitaminAvol2 Vitamin A [rt] Vol 2- 07.09
Vitamin Amenk + Vitamin Ucup

Vitamin A adalah program baru di tobucil & klabs bersama ResArt yang merupakan presentasi karya-karya seniman, desainer, arsitek, musisi, programer, ilustrator, handmade artist, crafter, yang memiliki karakter dan cita rasa seni, kepada khalayak
umum.

Presentasi ini dimaksudkan untuk membangun dialog dan jembatan antara kreator dan audiencenya dan membangun kemampuan saling mengapresiasi satu sama lain.

Presenter di volume 2 adalah dua orang seniman muda yang sangat berbakat: Yusuf Ismail dan Amenk Mufty Priyanka. Yusuf Ismail adalah perupa lulusan FSRD ITB yang banyak mengerjakan karya-karya video dan rajin menulis cerita pendek di blognya: http://ucxup.multiply.com/. Amenk Mufty Priyanka perupa lulusan UPI Bandung yang aktif berkarya baik visual maupun audio. Drawing-drawing Amenk mengingatkan kita pada karya Raymond Pettibon namun dalam konteks yang sangat akrab dengan keseharian kita. Untuk melihat lebih banyak karya Amenk silahkan buka http://muftypriyanka.deviantart.com/


Waktu: Kamis, 30 Juli 2009
Pk.15.00 - 17.00 WIB
tempat di Tobucil & Klabs
Jl Aceh No. 56 Bandung

Dapatkan Vitaminnya, gratis dan terbuka untuk umum.

Acara ini terselenggara berkat kerjasama yang baik antara Tobucil & klabs dan resArt.

restART adalah komunitas beranggotakan 5 perupa muda lulusan FSRD ITB, dibentuk pada tahun 2005, berdasarkan kesamaan dalam pemilihan bahasa estetik dalam karya mereka, yakni PARODI


Klab Nonton

image

Sabtu, 1 Agustus 2009, Pk. 18.15


This Film is Not Yet Rated
Sutradara: Kirby Dick/ 109 menit
Kirby Dick, sutradara dokumenter yang cukup provokatif, mencoba melakukan investigasi atas ketidak konsistenan MPAA (Motion Picture Association of America) yang selama ini berperan memberi label kategori bagi film-film Amerika yang beredar di pasaran. Lembaga seperti MPAA ini yang memberi kontrol pada tayangan-tayangan yang dianggap mengandung kekerasan dan adegan seksual yang vulgar. Dalam pemberian label ini, MPAA menurut Kirby Dick, melakukan diskriminasi. Misalnya saja, film yang mengandung adegan seksual vulgar antara homoseksual label yang lebih buruk daripada adegan seksual yang lebih vulgar lagi yang dilakukan oleh heteroseksual. John Waters, Darren Aronofsky, Mario Bello, Atom Egoyan, Kevin Smith, hadir di film ini dan memberikan pendapatnya.

Film-film di bulan Agustus : SENSOR !

Klik di sini untuk keterangan lebih lengkap



DARI LUAR RUMAH

konserfauzie


image

Simak Theo Book Review bersama Theoresia Rumthe, Sundea, dan Tobucil & Klabs

Setiap Rabu, minggu genap.

Pukul : 13.00-14.00

Di Sky 90.50 FM.

Google Twitter FaceBook

Lihat Langit (Fillosofi Rasa Damai)

 

Sovie terlihat sangat lelah pagi ini. Lengkungan senyum yang ia berikan padaku tidak bisa menutupinya. Tapi ku tau, ia tidak ingin membuatku cemas. Ya, karena hari ini ia sengaja datang ke kota Bandung untuk menemuiku dan ingin memberi rasa bahagia.


Hari minggu ini sama seperti hari minggu biasa di awal bulan, itu juga sepertinya yang menyebabkan Sovie memakan waktu yang lebih lama untuk tiba di Bandung semalam. Aku tau kota Bandung di akhir pekan memang banyak menawarkan berbagai macam hal menarik bagi para pelancong domestik; dari hiburan malam sampai pasar murah di Minggu pagi selalu ramai. Tapi bagiku yang sehari – hari hidup di kota Bandung , hal semacam itu sudah biasa dan tidak menarik lagi. Selain itu, kemacetan sebagai dampak dari datangnya orang dari luar kota jugalah yang membuatku memilih engan untuk berjalan – jalan di hari minggu. Tapi karena kedatangan Sovie di minggu ini, aku tidak mempedulikan masalah tadi.


Perjalanan dari sebuah penginapan di Dago atas sampai ke daerah Braga pasti akan melewati daerah – daerah favorit para pelancong. “Untung aku naik motor”, kataku dalam hati.

Perjalanan menuruni bukit pada awalnya terlihat lancar dan tidak bermasalah. Tapi beberapa menit kemudian tanda – tanda penumpukkan kendaraan sudah dapat terlihat. Dalam hati aku berkata, “Oh wajar, di sini macet karena ada lampu merah di depan.” Aku masih bisa menyelip di antara celah – celah mobil dan jalanan.


Sepanjang jalan Dago sampai di ujung yang ditandai megahnya Katedral Bandung, lautan kepadatan kendaraan menjadi hal yang harus diarungi. “Untung aku naik motor” kataku lagi dalam hati. Kemacetan di sepanjang jalan itu dapat sedikit menghiburku karena sinar matahari masih terhalau oleh beberpa pohon dan bangunan agak tinggi di sisi – sisinya.


Tapi di jalan menuju daerah Asia Afrika, tak ada lagi pepohonan dan bangunan – bangunan tinggi, sedangkan kendaraan lebih padat dan lebih lambat lajunya. Perasaanku sudah sangat tidak nyaman. Aku sangat kesal dan tidak sabaran. Hal itu juga yang membuatku tidak berbicara pada Sovie, takut – takut aku malah melampiaskan kekesalanku padanya. Beberapa kali aku hanya melihat matanya yang tertutupi setengah oleh sapu tangan.


Aku tak tau apa yang ia pikirkan saat itu, aku hanya bisa melihat matanya saja dari kaca spion. Sedangkan saat aku kembali melihat padatnya jalanan, kesabaranku semakin mendekati titik terjenuh. Aku mencoba tak mengumpat mobil – mobil yang memenuhi sebagian besar ruas jalan ini. Tapi aku tak bisa menahan gerakkan kakiku yang bergetar – getar karena geram. Tanganku juga beberapa kali menghentak – hentakkan jari di atas stang motor.

Sudah hampir lima menit motorku tidak dapat bergerak. Aku tak tau apa yang terjadi di depan sana, yang dapat kulihat hanyalah kilauan dari atap mobil dan bulatan helm dari banyaknya pengendara motor. Aku merasa seperti tidak berada di bumi karena tak dapat bergerak semauku di daratan ini, seperti tidak ada di bumi karena aku tak suka dengan keadanku yang sangat tidak nyaman ini.


“Ah……..!”


Akhirnya kata itu terlontar sudah dari mulutku. Sedikit beban emosi terluapkan, tapi aku jadi mengkhawatirkan perasaan Sovie. Aku tau benar ia tak suka sebuah bentakkan atau nada keras. Aku melihat kedua matanya dari kaca spion. Kuharap ia tidak ikut protes atau menasehatiku karena akan membuatku lebih meluapkan emosi dengan kata – kata.


Namun, tiba – tiba ia melingkarkan tangannya pada perutku dan meletakkan kepalanya di pundakku. Aku tidak dapat melihat kedua matanya lagi, karena ia ternyata sedang melihat ke arah langit. Perlahan ia membisikan sebuah kata sambil menatap ke langit “Sayang, coba jangan melihat ke depan terus kalau memang kita sedang tidak dapat bergerak, coba kamu lihat ke langit di atas sana, kamu akan merasakan bahwa kamu berada di bumi yang indah karena langit tak terbatas dan selalu ada keluasan itu untuk kita.”

langitanex
Aku menoleh ke belakang dan melihat senyuman tulus dari bibirnya. Aku rasa ia sudah melupakan kelelahannya dengan melihat langit dan tersenyum. Setelah itu aku pun ikut melihat ke langit lalu tersenyum pada birunya dan seketika itu juga ada rasa damai yang tak terbatas.
“Terima kasih, Sayang, kau membuatku tersadar bahwa selalu ada rasa damai yang luas dan tulus,” kataku dalam hati sambil merelakkan pundakku sebagai tempat bersandarnya.

 

terima kasih pada seseorang yang telah menyadarkanku akan sebuah cara lain merasakan kedamaian.

anexAndreas Anex adalah mahasiswa arsitektur Universitas Parahyangan yang gemar berfilsafat dalam kesehariannya. Kunjungi Anex di http://www.aneksophie.multiply.com

Google Twitter FaceBook

Sunday, July 19, 2009

What is Art, What is Not

 

Pada suatu hari, teman Tobuciler menceritakan pengalamannya mengajar seni. Di kelas, ia menunjukkan sebuah pasfoto standar sambil bertanya, “Ini art, bukan ?” Berbagai komentar berlompatan. Teman Tobuciler menampungnya sebelum kemudian menambahkan, “yang buat pasfoto ini Ansel Adams, lho.”

Pertanyaan yang sama dilontarkannya kepada Tobuciler, “Menurut lu pasfoto itu art bukan ?”

“Ng …”

“Kalau kursi plastik di kios itu art, bukan ?”

“Ng … bukan kali … ”

“Kenapa ?”

Selanjutnya, kami seperti bermain “what is art, what is not”. Dengan cara yang menyenangkan, teman Tobuciler menggiring Tobuciler pada kesadaran sederhana; setiap hal adalah seni. Kenapa ? Karena ada rasa yang khas dalam setiap perilaku. “Cara lo nyapu pasti beda sama cara gua. Cara tukang parkir yang satu markirin mobil, pasti beda sama yang lain,” ungkap teman Tobuciler sambil menunjuk tukang parkir di dekat kios. “Wah … berarti pada dasarnya setiap orang itu seniman, ya. Menyenangkan !” tanggap Tobuciler riang. “Deep inside lu udah tau itu, kok,” ujar teman Tobuciler; hangat seperti matahari jam empat sore, “Gua cuma membantu ‘mengeluarkan’ …”

Jauh di dalam hati, secara intuitif, mungkin kamupun menyadari kebersenian yang melingkupimu. Seperti teman Tobuciler, minggu ini blog Tobucil hanya membantu “mengeluarkan”. Ada obrolan Mas Heru Hikayat, kurator seni rupa yang menjadi “Teman Tobucil” edisi ini, ada si kecil Layka menampilkan karyanya dalam “Visual Diary”, ada THE MAN WHO KNIT, male knitters tim rajut berbasis entertainment, ada seni menyablon ala pemilik Tobucil, ada seni membacakan berita ala Agus Rakasiwi, dan dalam “Salamatahari”, ada seni berolahraga ala Sundea.

Semoga kebersenian ini membuat kita tak luput terus merasa.

Teman-teman, terima kasih karena telah membuat hidup kami dilingkupi seniman dan karya seni.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

menyapubintangdenganmacan

menyapu bintang dengan dua macan

 

Special thank’s to G. It was an inspirational afternoon ^_^

Google Twitter FaceBook

Hikayat Heru Hikayat di Bak Seni


mhhmainpicMas Heru Hikayat adalah kurator seni rupa yang sering bertandang ke Tobucil. Pada suatu siang yang cerah, Tobuciler mengajaknya mengobrol. Mulai dari masalah kehikayatan namanya, sampai dunia seni dan kuratorial. Seru, lho …

Tobucil : Mas Heru, katanya dari semua saudara Mas Heru, Mas Heru satu-satunya anak yang kelahirannya nggak ditungguin bapaknya, ya ?

Mas Heru : Iya, soalnya bapakku lagi tugas di luar kota katanya.

Tobucil : Terus perasaan Mas Heru gimana ?

Mas Heru : Aku ngerasa namaku jadi paling keren di keluarga. Sebenernya semua keluargaku namanya kearab-araban. Namaku juga kearab-araban, tapi lebih duniawilah, “Hikayat”. Sebagain besar keluargaku namanya mengandung “Soleh”. Nama kan doa, jadi betapa itu mengandung beban.

Tobucil : Terus nama “Hikayat” buat Mas Heru kesannya gimana ?

Mas Heru : Kesannya … selalu punya cerita. Dulu cukup banyak temen-temenku yang nyangka itu nama pena.

Tobucil : Jadi itu “namanya pena”, bukan “namanya Mas Heru” ?

Mas Heru : Ha ?

Tobucil : Ya sudz. Nggak penting, kok … hehehe … pindah ke topik lain. Menurut Mas Heru, seni itu apa ?

Mas Heru : Seni itu … apa yang diperlakukan sebagai sebagai seni. Ada medan sosial, ada tata-titi yang menyepakati …

Tobucil : Tata-titi ? Siapa, tuh ?

Mas Heru : Temen SD, nggak tau ada di mana sekarang.

Tobucil : Wah … jadi nggak bisa bikin kesepakatan, dong …

Mas Heru : Oh, iya, ya …. Kalo gitu diralat. Berarti aku tau mereka ada di mana, kalo nggak, bahaya, nanti seni hilang …

Tobucil : Mungkin nggak seni hilang ?

Mas Heru : Iya, ya … iya, ya … kok saya nggak pernah ngebayangin itu, ya … ? (tiba-tiba tampak berpikir, lalu akhirnya menjawab dengan yakin). Nggak mungkin. Soalnya sebenernya sembilan bahan pokok itu kurang, harusnya sepuluh, termasuk seni di dalamnya.

Tobucil : Sembako kan bisa abis. Jadi seni juga bisa, dong ?

Mas Heru : Kalo sembako abis banget dari muka bumi ini, kitanya juga nggak bisa idup, dong. Nah … kalo seni udah nggak ada, kitanya juga nggak ada, dong …

Tobucil : Terus kira-kira itu mungkin terjadi, nggak ?

Mas Heru : Mungkin, sih … aku sekarang jadi kepikiran yang namanya kiamat itu nggak ilahiah-ilahiah banget. Jadi, seperti halnya terwujudnya alam raya ini dapat dijelaskan secara ilmiah, kiamat juga begitu. Pendapat yang bilang “save our planet” atau “save the nature” itu salah karena alam pasti survive, kita yang musti (mencari cara untuk) survive. Sekarang keliatan, kalo alam udah nggak mungkin mencukupi kehidupan kita, itu kiamat.

Tobucil : Hmmm … jadi kalo seni nggak ada, kiamat, nggak ?

Mas Heru : Enggak, nggak begitu. Cuma selama manusia bisa menyamankan dirinya, seni tetap ada. Jadi seperti misalnya dalam keadaan yang sangat darurat pun, ketika prioritas satu-satunya dalam alam adalah bertahan hidup, selama orang-orang masih berkelompok, mereka akan saling bercerita satu sama lain. Bagaimana mereka memilih diksi, menyampaikan sesuatu, itu kan sudah pertimbangan artistik.

Tobucil : Hehehe .. iya, ya. Terusterus, masih seputar seni, tapi sekarang tentang profesi Mas Heru. Kenapa milih jadi kurator, bukan seniman ?

Mas Heru : Membuat karya menyenangkan juga, itu masalah pilihan aja. Nah, aku lebih suka memilih menemukan ruang negosiasi untuk melihat karya. Fungsi utama kurator kan menyajikan karya, penyajian itu yang menentukan bagaimana orang melihat karya ; nggak ada alasan yang lebih rasional, sih … eh, ada, sih kalo dicari-cari … kan profesi kurator masih baru, masih jarang, jadi kayak membuka jalur baru. Ada … coba-cobanya, ada ngaco, salah-salah, jadi ketika menemukan hal-hal yang bisa dijadikan pegangan, itu menyenangkan.

Tobucil : Ada hubungannya nggak kegiatan “kurasi seni rupa” sama “kurasi” dalam artian kayak nguras-nguras bak mandi gitu ?

Mas Heru : Ada, sih … mengosongkan dan membersihkan … halah ! Naon (apa) ? … kan kalo menguras bak gesturnya ke dalam. Nah, sama, mengurasi juga begitu … hehehehe …

Mengosongkan, membersihkan, selalu melakukan gestur “ke dalam”. Dengan begitu, seni rupa jadi selalu punya ruang untuk diisi dengan pemaknaan baru, untuk melanjutkan hikayatnya.

Tobuciler tahu-tahu teringat pada “Hero” salah satu lagu populer Mariah Carey. Mungkin bagian ini tepat dinyayikan oleh setiap kekosongan dan kebersihan ruang yang dikurasi Mas Heru :

And then the Heru comes along /with the strength to carry on /And you cast your fears aside / And you know you can survive …

And when you feel like hope is gone /Look inside you and be strong/And you’ll finally see the truth / That a Heru lies in you …

Sundea

mhhfotodua

mhhfototiga







Biodata

Nama : Heru Hikayat

Tanggal lahir : 27 Februari 1974

Kuliah : Seni Rupa ITB angkatan ‘92, jurusan seni lukis

Kerjaan: Kurator Seni Rupa

Kenapa Hikayat ?

Bapakku yang kasi nama Hikayat, sebab aku satu-satunya anak yang kelahirannya tidak dia tunggu, begitu katanya.

Kenapa jadi kurator ?

Karena ternyata lebih enak melihat karya seni daripada membuatnya.

Google Twitter FaceBook

Kembali Pada Hati dan Totebag Keren

kembali pada hati_resize Judul buku : Kembali pada Hati

Pengarang : Adri Basuki

Harga : Rp. 24.600,00

Harga Tobucil : Rp. 21.600,00

Bicara tentang hati dan cinta … kalau first love never die, mungkin Garis tidak harus menangis. Mungkin luka itu tidak harus mengarah pada mata dan membuatnya terluka. Mungkin Garis akan semakin seperti garis, garis lurus.

Tapi cinta ternyata punya garisnya sendiri. Sebuah garis yang menuntut Sarah untuk merana sendirian. Menuntut Sarah untuk merana sendirian. Menununtun detik jadi terasa pekat bergulir. Membuat tangis tetap saja terucap …

-----

Totebag Keren yang Istimewa

Psssst … totebag ini disablon sendiri, lho …

Tersedia dalam berbagai warna, fungsional, dan khas Tobucil

Dapat kamu miliki hanya dengan Rp. 25.00,00








Google Twitter FaceBook

Ketika Agus Rakasiwi Berlatih Membaca Teks

 

-Tobucil, Senin 13 Juli 2009-

masgusraklatian “Api yang muncul dari semburan lumpur baru yang bercampur gas di Porong diduga karena tersulut … API ! Nya he-euh, atuh ! Siapa, sih, ini yang nulis ?!” Mas Agus Rakasiwi, ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) yang sedang bertandang ke Tobucil, membacakan sebuah teks berita. Ia, yang berencana melamar menjadi penyiar berita di radio, sedang berlatih di bawah bimbingan Mbak Echie Kecoswati alias Desiyanti Wirabrata, penyiar PR FM.

“Sebelum lo bacain (dengan suara), baca dulu beritanya dalem hati. Make sure lu udah ngerti apa yang lu mau bawain,” Mbak Echie memberi masukan. Mas Agus mengangguk-angguk. Ia pun kembali membacakan berita di tangannya. Namun, sebentar-sebentar dia berkomentar, “Kuduna mah kieu ! (harusnya, sih, gini !)” atau “Naon, sih, ieu ? Teu penting ... (apa, sih, ini ? Nggak penting …)” Karena terbiasa menulis berita, Mas Agus malah senantiasa gatal mengedit teks-teks yang seharusnya ia bacakan saja.

ditongkronginmbaechie

“Para ahli memperingatkan terumbu karang …” Kontan seisi ruang kerja Tobucil tergelak mendengar Mas Agus membacakan berita. “Para ahli memperingatkan, terumbu karang … bukan terumbu karangnya, Agus, yang diperingatkan,” kembali Mbak Echie mengoreksi, “waktu siaran, orang ngebangun image, namanya ‘theatre of mind’, gambaran yang ada di bayangan pendengar, jadi elu harus melihat bagian mana yang perlu diberi penekanan dan di mana musti melakukan pemenggalan.”

Agar suasana “mendengar radio” lebih terasa nyata, Mas Agus pindah ke balik rak, di depan WC. Kami yang duduk-duduk di ruang kerja Tobucil pun mendengarkan. Kali ini Mas Agus membacakan kasus penganiayaan yang salah sasaran.

Mas Bebeng, Mbak Tarlen, Mbak Echie, dan Tobuciler, saling berkomentar,

“Ini penyiar baru, ya ?”

“Iya, kayaknya radio percobaan”

“Oh, iya, ya, pantesan begini banget …”

Tiba-tiba radio menyanggah, “Bukan begitu pemirsa …” HYAAA …

Psst … untuk kamu-kamu yang bercita-cita jadi penyiar berita juga, ada beberapa tips dari Mbak Desiyanti Wirabrata :

  • Baca dulu teks di dalam hati
  • Sebelum membaca, yakinkan kamu sudah mengerti inti beritanya.
  • Cek ulang kata-kata dalam bahasa asing, terutama yang pengucapannya sulit
  • Nggak perlu ja’im membuka mulut supaya artikulasinya bagus
  • Perhatikan tempo bicara, jangan terlalu cepat, dan jangan terlalu lambat, karena penyiar membaca untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri.
  • Jangan lupa bernafas

Bagaimana … ? Ada yang terinspirasi … ?

Sundea

Google Twitter FaceBook

Waiting For (Sort of) Godot *

 

-Tobucil, Jumat 17 Juli 2009-

Maghrib sudah lalu ketika para aktivis Pesta Filsuf, perayaan dua tahun madrasah filsafat, duduk di meja beranda Tobucil. “Udah ditelpon ?” tanya Mas Oyeah, penanggung jawab konsumsi Pesta Filsuf. “Nggak diangkat, curiga lagi di jalan,” sahut Mas Ami.

Mas Ami, Mbak Tarlen, Mas Oyeah, Mbak Echie, Mas Heru, dan Wikupedia berkumpul untuk membahas persiapan Pesta Filsuf (19/07/09). Mereka tinggal menunggu Mas Dauz, salah satu panitia sekaligus calon pembicara yang mengaku “sedang beribadah” hingga terlambat datang. “Urang mah curiga si eta ibadahna sare (saya, sih, curiga dia ibadahnya tidur),” duga Mas Ami.

Pukul tujuh sudah lalu ketika lelaki yang ditunggu tiba. “Ini, sih, kita yang ibadah karena musti sabar-sabar nungguin,” sembur Tobuciler pada Mas Dauz. “Bagus kan artinya kebaikan yang satu dapat membawa kebaikan yang lainnya,” tanggap Mas Dauz sambil senyum-senyum. “Kebaikan apaan ? Situ, sih, ‘cobaan’ namanya …,” sahut Tobuciler lagi. Mas Dauz hanya mesem-mesem.

Seiring dengan kehadiran Mas Dauz, rapat resmi dimulai. Mulai dari masalah parkir, hingga pembicara. “Parkir mobil di kantor pajak, kalo motor di sini (taman Aceh 56),” lapor Wikupedia. “Snack-nya tiga session, tiap abis sesi. Siang ada cendol, makan siangnya nasi kuning, malem ada bajigur,” lapor Mas Oyeah. “Urang besok jadi moderatornya mo sambil facebook, ah,” kata Mbak Echie, moderator materi “Facebook” yang baru membeli Motorolla Q.

Selanjutnya, para aktivis malah seru membahas bahaya laten dunia maya yang ditimbulkan oleh Facebook, split personality antara realita dan kemayaan, manfaat facebook untuk jejaring, dan lain-lain. Tampaknya malam itu mereka melakukan pemanasan untuk diskusi mendatang.

Mereka pun membahas para pembicara yang bersemangat dan militan. Pembicara-pembicara dari Jakarta seperti Donny Gahral Adian dan Damhuri Muhammad bahkan akan datang pagi-pagi ke Tobucil. Para aktivis tak mengkhawatirkan ketepatwaktuan sahabat-sahabat dari Jakarta tersebut. “Dari sekian pembicara, yang paling dikhawatirin malah Dauz, bisi teu hudang (bisa nggak bangun),” kata Mas Ami sambil melirik Mas Dauz yang masih cengar-cengir.

Seperti apa perayaan ulangtahun madrasah filsafat ini ? Simak liputan lengkapnya di blog Tobucil minggu mendatang. Ikutlah berpesta dan meraya ; )

Sundea

 

* ”Waiting for Godot”, judul buku Samuel Beckett

 

 

 

The “Godot”

Google Twitter FaceBook

Pesta Para Filsuf

-Tobucil, Minggu 19 Juli 2009-

Madrasah Filsafat

Dalam rangka ulang tahun ke-2 madrasah filsafat, Tobucil menggelar “Pesta Filsuf”. Diskusi ini dibagi menjadi empat sesi ; “Facebook dan Aktualisasi”, “Filsafat dalam Keseharian”, “Spiritualitas Masyarakat Urban”, dan ditutup dengan pemutaran film “Me and You and Everyone We Know”.

Acara ini dipembicarai oleh Donny Gahral Adian (dosen Filsafat Universitas Indonesia), Bambang Sugiharto ( Doktor Profesor Filsafat Universitas Parahyangan), Damhuri Muhammad (penulis), Amrizal Salayan (pematung), Bambang Q Aness (Dosen Filsafat Universitas Islam Negeri Bandung), Muhammad Syafari Firdaus (kritikus sastra), Tarlen Handayani (peneliti lepas dan pemilik Tobucil), Ahmad Gibson (dosen Universitas Islam Negeri Bandung), dan Reza T. Ismail Reza (urban designer). Sejak pukul sepuluh pagi hingga delapan malam, kemungilan Tobucil limpah dengan kehadiran teman-teman dan makanan-minuman yang seperti tak kunjung habis.

Seperti apa kisah lengkap acaranya ? Nantikan di blog Tobucil edisi mendatang. Hari itu semua orang merayakan seni mencari dan bertanya karena pada dasarnya, semua kita adalah filsuf …

Sundea

Lebih banyak foto ada di flickr Tobucil.

Para filsuf di pesta

Google Twitter FaceBook

The Man Who Knit

Erri kulehe Pagi itu seperti biasanya matahari memancarkan cahaya hangatnya karena kalau gak biasa, disinyalir pagi itu sedang mendung atau matahari gak mau terbit karena Sundea belum bangun.

Namun, tak biasanya, pagi itu Tobucil sudah nampak ramai (sekalipun sebenarnya belum buka). Pagi itu, sebagian teman-teman Tobuciler berkumpul dan akan berangkat ke Jakarta untuk memenuhi undangan kegiatan Festival Merajut Indonesia yang diadakan di Museum Bank Mandiri.

Teman-teman Tobuciler, khususnya personil THE MAN WHO KNIT, diundang ke sana untuk mengisi salah satu acara dan menjadi pembicara di sesi "Merajut Tidak Hanya Untuk Prempuan".

Tak ketingalan juga Mba Upi akan bejualan benang TIPI (Tarlen dan Upi-red, tapi menurut Rudy TIPI adalah singkatan dari “Titipan Upi”) di sana.

Di awal keberangkatan yang sedikit ngaret, teman-teman Tobuciler tetap menikmati perjalanan ke Jakarta. Canda-tawa mengisi keberangkatan teman-teman. Kejadian-kejadian unik-pun terjadi.

Berawal saat teman-teman memasuki kawasan Jakarta dan sedang mencari jalan menuju lokasi. Salah satu teman Tobucil, Moel, bertanya kepada Mbak Upi dengan logat sunda yang kental,

"Teteh...ieu teh Munas, sanes (Mbak, ini, tuh, Munas, bukan)?" sambil menunjuk-nunjuk ke arah Monumen Nasional (Monas).
"Naon Moel, Munas?. lain... Ieu mah Monas (Apa, Moel, Munas ? Bukan, ini, sih Monas)" jawab mba Upi.
"enya...ieu teh MUNUmen Nasional lain (Iya, ini tuh MUNUmen Nasional bukan?)"

Serempak seisi mobil tertawa trbahak-bahak mendengar perkataan Moel yang menyebutkan MONAS menjadi MUNAS.

Kejadian unik pun terulang kembali saat lokasi yang dituju tak sengaja terlewati dan membuat Tobuciler terpaksa mencari jalan berputar. Saat itu pula Mbak upi menyuruh Moel untuk bertanya kepada warga setempat untuk mencari jalan. Moel pun bertanya, "Punten,ibu. upami bade ka Museum Bank Mandiri kapalih mana(Maaf, Bu, kalau mau ke Museum Bank Mandiri ke sebelah mana) ?" Sepertinya moel lupa bahwa ia sudah ada di Jakarta. Seketika itu si ibu pun memasang wajah kebingungan ditambah senyuman yang tertahan karena tidak mengerti ucapan Moel. Hal itu kembali membuat seisi mobil tertawa terbahak-bahak.

Sesampainya di tempat tujuan, teman-teman tobucil sudah disambut oleh salah satu personil THE MAN WHO KNIT dari jakarta. yaitu Mas Sam, bukan Masam seperti buah jeruk tetapi memang benar namanya Sam dan dipangil Mas jadi Mas Sam.

Setelah penyambutan oleh Mas Sam, teman-teman Tobucil disibukkan oleh Mba Upi yang akan berjualan benang-benang TIPI dan teman-teman Tobucil serempak membantu Mbak Upi mengangkut benang-benang ke stand yang sudah disediakan oleh panitia di area festival rajut.

festival the man who knit

Setelah beberapa saat, teman-teman Tobucil mengangkut benang ke lokasi stand dan mempersiapkan jualannya. Seketika itu stand Tobucil seperti "ada gula ada semut", namun si semut tidak suka dengan gulanya karena gulanya gula merah. hal ini dikarenakan si "gula merah" terdiri dari Tante-tante, Ibu-ibu, dan tak ketingalan Neli (nenek lincah) dan jelaslah "si semut", yaitu tobuciler, khusunya personil The MAN WHO KNIT tak suka, kecuali Mas Erri dan Mas Sam masih bisa sempet suka.

Hari pertama festival merajut pun usai. Teman-teman Tobucil bersiap untuk beristirahat di kediaman Mas Sam. Sebelum menuju kediaman Mas Sam teman-teman tobucil berkujung dulu ke kediaman Mas Iwenk, salah satu teman Mba Upi.

Pada hari ke dua, Mas Sam tertarik melihat kegiatan merajut dengan tangan kosong alias Yubiyami di stand sebelah. Mas Sam mendekati pemilik stand itu untuk minta diajari. Akan tetapi pada awalnya Si Mamih (sebut saja seperti itu) pemilik stand itu tak mau mengajarkan, namun Mas Sam dengan jurus rayuan mautnya membuat Si Mamih mau mengajari tim Tobucil dengan cuma-cuma.

lagidiajaringerajut

Suasana menjadi berbeda setelah kedatangan presenter pembawa acara “Jelang siang”, Astri Tri Hartanto. Mas Eri dan Rudy kembali "jreng" setelah sekian lama hanya melihat yang keriput-keriput saja.

Di sesi pembicara Mas Sam dan Mas Wiku merasa kebosanan karena pembicaraan tersebut agak serius. Namun, suasana jadi cair setelah Mas Eri datang dan seketika itu arena panggung menjadi arena Srimulat.

“Kalo merajut..Jangan takut nyangkut!" kata Eri

"Saya merajut hanya untuk diliput media,” kata Wiku.

Dengan Eri sebagai pengisi suara, Mas Sam juga spontan turun dari panggung untuk mengajarkan tehnik yubiyami kepada peserta.


Eri juga sempat berkata, "Kalau di dunia telah terjadi bencana besar dimana kebutuhan manusia sudah sangat sulit dipenuhi dan bisa dikatakan kiamat, kami para perajut pria masih bisa bertahan hidup, karena dengan merajut kita bisa bikin baju, syal , tas, dsb untuk bisa bertahan hidup." Benar-benar ngawur plus gak nyambung, tetapi anehnya si wartawan sepertinya percaya akan jawaban itu. Aduuhhh Ojan.

Dengan selesainya wawancara itu, waktu telah menunjukan 16.44 WIB. Sudah waktunya teman-teman Tobuciler untuk bersiap pulang. Selama dua hari ini, kegembiraan telah mengisi jalannya kegiatan teman-teman Tobucil terutama Mba Upi yang telah menjual benang-benang Tipi hingga tinggal sedikit. Personil THE MAN WHO KNIT juga berhasil eksis dan kembali pulang dengan selamat.


Catatan dari Rudy : Cerita di atas merupakan fiktif belaka, jika ada kesalahan dalam penceritaan mohon dimaklumi saja karena si penulis mendadak amnesia.

Balasan dari Redaksi blog Tobucil : Fiktif gimana ?! Orang disuruh nyeritain pengalaman nyata ! Ah, elu, tuh, Rud !

THE MAN WHO KNIT emang eksis dengan kegokilannya masing-masing, dah ! Bener-bener Klab Rajut berbasis entertaimnent

rudy Rudy Rinaldi adalah ababil (abg labil) sekaligus salah satu peserta THE MAN WHO KNIT yang cukup berbakat.

Ada lebih banyak foto seru di flickr Tobucil

foto-foto : Wikupedia

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin