-Tobucil, Minggu 19 Juli 2009-
Ulangtahun madrasah filsafat
“Dua kali dua sama dengan empat”
-perkalian standar-
Di hari ulangtahunnya yang ke dua, madrasah filsafat menggelar empat sesi acara ; tiga sesi diskusi dan satu sesi pemutaran film. Setiap sesi diskusi pun dihantar oleh empat personil ; tiga pembicara dan satu moderator.
Sesi pertama yang berjudul “Facebook dan Aktualisasi Diri Individu” dipembicarai oleh Mohammad Syafari Firdaus (kritikus sastra), Tarlen Handayani (community organizer), dan Damhuri Muhammad (penulis), dan dimoderatori oleh Desiyanti Wirabrata (penyiar PR FM). Ternyata, selain bermanfaat sebagai media komunikasi dan jaringan serta hiburan, diam-diam Facebook pun menyimpan resiko. “Data personal apapun di internet bisa terlacak, hati-hati,” kata Mbak Tarlen. Setiap tindakan yang dilakukan secara maya di facebook pun dikhawatirkan mengaburkan batas antara maya dan nyata bagi penggunanya. “Banyak orang join cause ini, join cause itu, tapi akankah di dunia nyata mereka melakukan tindakan yang sama ?” Mbak Tarlen mengajukan pertanyaan retoris.
Kekaburan batas antara maya dan nyata ini dialami sendiri oleh Mas Dauz. Ia sempat terbawa-bawa oleh tiga kepribadian yang diciptakannya untuk penelitian penggunaan bahasa dalam internet. Bukan hanya itu, online malah membuatnya sempat menjadi pecandu internet yang cukup serius. Wow !
Menanggapi kedua pembicara sebelumnya, Mas Damhuri berkomentar, “Persepsi mana yang paling dominan, itulah realitas.” Menurut Mas Damhuri, kejatidirian itu sangat problematik. “Jangankan wajah yang divisualisasikan (dalam facebook), wajah asli saja bisa jadi topeng,” lanjutnya.
Fenomena facebook yang dilempar ini memancing banyak tanggapan pro dan kontra. Jerry, misalnya, beranggapan facebook sangat mendukung berlangsungnya gerakan mahasiswa karena mempermudah komunikasi. “Kalau ditolak, kita justru tidak memaksimalkan (kemungkinan) aktualisasi dalam teknologi.” Berkebalikan dengan Jerry, Hendra Messa berpendapat, “Facebook itu menunjukkan orang tambah kesepian. Menurut saya itu semacam narsisme saja, katarsis dari aktualisasi diri.”
Mencoba berdiri di dua sisi, Mas Damhuri menanggapi, “Problemnya memang orang yang sudah terasing menjadi semakin terasing karena ketemunya ya di fb. Tapi yang disukai, di sana semua dituliskan, bukan diverbalkan.” Menurut Mas Damhuri, semua yang dituliskan cenderung tersimpan lebih lama. “Ya … tetap facebook-an, tapi kesadarannya musti digenggam …,” ujarnya pada akhirnya.
Setelah break makan siang sekitar satu jam, sesi dua dimulai. Sesi dengan judul “Filsafat dalam Keseharian” menghadirkan pembicara-pembicara kelas bantam ; Donny Gahral Adian (dosen filsafat Universitas Indonesia yang sudah menghasilkan sejumlah buku), Professor Bambang Sugiharto (pengajar filsafat Universitas Parahyangan yang juga sudah menghasilkan sejumlah buku), Ahmad Gibson (dosen Universitas Islam Negeri Bandung), dan Heru Hikayat (kurator seni rupa) sebagai moderator.
Secara santai, para pembicara memaparkan betapa dekatnya filsafat sesungguhnya. Donny Gahral Adian, yang mendapat kesempatan bicara pertama, menganggap filsuf kerap “mengasingkan diri di menara gading ; di kamar utama”. “Semakin lama, filsafat seperti semakin jauh dari keseharian. Filsuf malas membicarakan hal-hal yang dianggap remeh-temeh, misalnya pemilihan presiden. Mereka seperti tidak mau bergaul dengan hal-hal yang tidak ‘philosophical being’, padahal filsafat harus bisa bercakap-cakap dengan hal-hal di luar filsafat itu sendiri.” Mengakhiri pemaparannya, sebagai filsuf, Pak Donny menyatakan, “Saya tidak mau mati di kamar utama. Saya ingin bergembira di kamar tamu !”
Menyambung Pak Donny, Pak Bambang berpendapat filsafat sesungguhnya adalah “menggamit kembali pertanyaan mendasar sambil tahu betul bahwa jawabannya tak pernah satu”. “Sebetulnya filsafat itu adalah radikalisasi naluri anak-anak untuk bertanya. Misalnya, ketika mau sekolah, anak-anak
bertanya, ‘buat apa, sih, sekolah ?’, ‘kenapa orang-orang bekerja?’” (Sebagai informasi saja, selama Pak Bambang berbicara tentang naluri anak, Ilan, anak Leon, drummer Koil, dengan bebas mundar-mandir di seputar para pembicara, seperti mempresentasikan pemaparan Pak Bambang secara live … hehehe …)
Bagi Pak Ahmad Gibson, filsafat adalah sesuatu yang personal sifatnya. “Misalnya, orang lapar kebutuhannya kan beda dengan orang kenyang,” beliau mencontohkan. “Filsafat itu tidak mengenal kelas, semua orang membutuhkan,” ujar Pak Ahmad.
Sesi ini menggeletik hadirin untuk bertanya berbagai hal. Iki, misalnya mengajukan pertanyaan yang puitis, “Bagaimana cara menyingkap jiwa-jiwa yang berserakan di luar sana ? Memupuk kesadaran pada realitas di luar kita ? Memupuk yang magis dari yang menyehari ?” Pertanyaan ini dijawab oleh Pak Bambang Sugiharto dalam point-point praktis : 1. Lihat mana yang paling logis. 2. Nyambung atau tidak dengan kehidupan sehari-hari. 3.Latihan melihat mana yang penting mana yang tidak.
Mas Iman Abda, aktivis Radio Komunitas yang juga rajin datang ke pertemuan rutin madrasah filsafat, ikut bertanya, “Apa betul dalam filsafat tak pernah ada jawaban ?” Yang ini dijawab secara singkat dan sederhana namun sarat makna oleh Pak Ahmad Gibson, “Sebetulnya setiap jawaban adalah pertanyaan dari sebuah masalah baru.”
Suci menyanggah pernyataan Pak Donny mengenai terkunci di menara gading, “Bukan para filsuf yang mengunci diri di menara gading. Justru mereka yang dikunci di menara gading …”
Seperti merangkum sesi tanya-jawab itu, Mas Ami, kuncen madrasah filsafat tahu-tahu punya pemikiran, “Kenapa, ya, nggak ada orang yang konsultasi ke filsuf ? Orang lebih suka konsultasi ke psikolog, ahli gizi …” JEDERRR … Tapi … iya, ya, kenapa tidak ?
Selepas sesi dua ini, hadirin disuguhi es cendol untuk mendinginkan kepala dan tenggorokan. Sementara itu, jiwa para filsuf pun didinginkan dengan musik akustik bernuansa agak-agak pop-jazz oleh band Crescent Watermark. Vokalis band ini adalah Chris Sinatra, salah satu simpatisan madrasah filsafat yang terkenal dengan lapak liarnya. Suara Chris yang lembut seperti angin sore itu ternyata sangat jauh bertentangan dengan keliaran lapaknya … hehehe …
Crescent Watermark
“Spiritualitas Masyarakat Urban” adalah judul diskusi yang menutup rangkaian diskusi yang disajikan hari itu. Bersama T. Ismail Reza (urban designer), Bambang Q Anes alias BQ (dosen UIN dan filsuf Islam), serta Amrizal Salayan (pematung), dan dimoderatori oleh Mas Ami sendiri, pembicaraan mengenai simbol-simbol religi dan nilai-nilai yang rohaniah sifatnya mengalir.
Sebagai pembuka, Mas Reza membuat pemisahan istilah, “Religiusitas itu mengkomunikasikan simbol, sementara spiritualitas mengalami sendiri, upaya untuk memberikan makna lebih.” Mas Reza lalu menceritakan contoh spiritualitas yang pernah dialaminya. Pada suatu hari, ketika sedang shalat Jumat, ia menitipkan salam dari temannya kepada Tuhan dengan cara yang lugu, “Tuhan, si itu tadi titip salam …” dan NGUUUUNGGG … tahu-tahu Mas Reza seperti mendengar gema genta ; bukan dengan telinga, tapi dengan sesuatu yang intuitif sifatnya.
Pak Amrizal pun punya pengalaman menarik mengenai spiritual-religius ini. “Dalam soal ulangan anak saya pernah ada pertanyaan : ke mana kita menghadap kita shalat ? Anak saya menjawab ‘kepada Allah’, tapi disalahkan karena dalam text book jawabnya ‘menghadap kiblat’.” Simbol religius adalah medium menuju spiritualitas. Namun, seringkali orang berhenti pada medium.
“Jadi di mana sebetulnya kita bisa menemukan dan memelihara spritualitas ?” tanya Pak Radea. Mas Reza menjawab, “Pengalaman spiritualitas justru pada hal-hal yang remeh temeh, misalnya melihat WC bersih di mesjid. Mungkin justru ketika kita melakukan hal yang kecil-kecil, kita mendapatkan sesuatu yang sangat besar.” Seiring dengan makna spiritualitas bagi Mas Reza, Mas BQ menceritakan keterkesanannya pada pedagang keliling di daerah rumahnya, “Dia nggak pernah ngomong soal kesabaran, tapi mewujudkan kesabaran itu dengan berkeliling-keliling …”
Lalu, seperti apa kondisi spiritualitas masyarakat urban yang hidup di perkotaan ? “Menciptakan kota religius itu mudah, tapi spiritual tidak,” ujar Mas Reza. Lalu, apakah tata ruang sebuah kota diciptakan untuk kondisi tertentu ? “Misalnya, di stadion kan bobotoh pada ngelempar barang, apa itu karena kondisi ruangnya ?” tanya Mas Ami. “Menurut saya, itu lebih karena psikologi massa, karena mayoritas,” jawab Mas Reza. Tapi sebetulnya ruang, termasuk kota, memang bisa diciptakan kondisinya, “Ruang itu adalah titik orientasi. Kalau kita paham sumbernya, ruang bisa terjadi, semua hanya upaya bagaimana kita mikirnya,” jelas Mas Reza.
Senja turun. Seperti dituangi sirup anggur, warna ungu menyebar diam-diam di keluasan langit. Adzan berkumandang seperti nyanyian. Sebuah simbol religius. Namun, kesyahduannya melahirkan spiritualitas personal dalam pengalaman setiap filsuf yang hadir pada perhelatan hari itu.
Setelah shalat maghrib, pembicara diganti dengan telivisi besar. Film “Me and You and Everyone We Know” karya Miranda July diputar. Filsuf-filsuf yang masih tersisa menikmati tontonan tersebut sambil mengudap dan minum bajigur.
Dua kali dua sama dengan empat
Setiap kita saban kali berfilsafat
Bahkan Mohammad Syafari Firdaus pun Bangun Pagi
Ingat Mohammad Syafari Firdaus yang dikuatirkan akan datang terlambat ? Hnah ! Ternyata, Teman-teman, khusus di hari ulang tahun madrasah filsafat itu, beliau melakukan terobosan. Sebelum pukul sepuluh, ia sudah menginjakkan kaki di halaman Aceh no.56. Segenap umat, alam semesta, dan burung-burung pagi menyambutnya raya.
“Kok bisa bangun pagi ?” tanya Tobuciler takjub. “Aduh, apa, ya … ternyata betul juga … pertanyaan gampang aku susah ngejawabnya,” sahut Mas Dauz. Menurutnya, setelah lulus kuliah (yang sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Teman-teman), ia tidak pernah lagi punya pengalaman berdiskusi jam sepuluh pagi. “Filsafat pula,” ujarnya, tampak terheran-heran pada dirinya sendiri.
Cinta memang sulit dinalar. Bisa dipastikan kebangunpagiannya hari itu lahir dari kecintaannya terhadap berfilsafat dan madrasah filsafat. Pada keinginan untuk memberikan yang terbaik. Selamat, Mas Dauz ! Anda layak dapat bintang ! (matahari pagi juga bintang, lho, bintang yang paling dekat dengan bumi …).
Sundea
Foto-foto Pesta filsuf dapat dilihat di sini