Sunday, August 30, 2009

Hiburan

Entertainment is an activity designed to give people a diversion. It is usually conducted in one's free time. An audience may participate in the entertainment passively as in watching opera or a movie”.

(Hiburan adalah aktivitas yang dibuat untuk memberi kesenangan. Biasanya dilakukan di waktu senggang. Pemirsa dapat berpratisipasi secara pasif seperti saat menonton opera atau film).

-Wikipedia-

Tapi, jika feedback pemirsa menentukan kualitas, siapa yang pasif dan siapa yang aktif ? Jika antusiasme pemirsa memberi energi, siapa penghibur dan siapa yang dihibur ? Ketika bintang hiburan menikam-nikam dirinya sendiri untuk menghibur pemirsa, apa pemirsa sungguh-sungguh terhibur ?

Sebetulnya “hibur” itu apa ?

Editorial minggu ini tidak banyak kata-kata.

Mari menyanyi dan menari bersama saja.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

resized

Google Twitter FaceBook

Boehmeria Nivea Marino : Anak Band yang Menduduki Tampuk Kekasiran

mainpic Salah satu penguasa tampuk kekasiran di Tobucil adalah seorang musisi. Pemain bas yang cool-cool jeder ini biasa dipanggil Ipey meski nama lengkapnya adalah Boehmeria Nivea Marino. Pada hari Senin 24 Agustus lalu, Ipey merayakan ulangtahunnya yang ke-21. Di tengah keulangtahunan dan kebertugasannya, Tobuciler menanggapnya sebagai “Teman Tobucil”.

Tobucil : Selamat ulangtahun, Ipey … gimana rasanya ultah ?

Ipey : Rasanya … makin tua. Umurnya nambah.

Tobucil : Ada yang special, nggak, dengan jadi umur 21 ?

Ipey : Ng … apa, ya ? Nggak juga, sih, biasa aja.

Tobucil : Btw, ini kan pertama kali, ya, elu ulangtaunan di Tobucil. Ada bedanya nggak, sama ultah-ultah sebelumnya ?

Ipey : Ng … biasanya di rumah kan suka ada makan-makan, tapi karena temen-temen puasa, jadinya nggak ada.

Tobucil : Di Tobucil boleh, lho, tetep ada makan-makan. Kan udah buka puasa, nih … hehehe …

Ipey : Lagi bokek.

Tobucil : Hehehe … btw, gimana rasanya kerja di Tobucil ?

Ipey : Rasanya … gimana, ya ? Makin ngerasa … kreatif, gitu. Emang suasananya bikin pengen ngerjain apa, gitu.

Tobucil : Contohnya ?

Ipey : Bikin blog (klik : http://apaitu8.blogspot.com/). Tadinya pengen bikin tentang musik-musik gitu, tapi suka bingung juga. Kalo (di blog) musik biasanya ada review lagu sama event-event musik. Tapi … akhirnya invterview sama musisi aja. Banyakan, sih, (yang diinterview musisi) lokal Bandung aja. Ada, sih, yang udah nasional, tapi rata-rata band baru gitu, deh …

Tobucil : Ok. Sekarang tentang band lo. Jack and Sally itu band yang gimana, Pey ?

Ipey : Itu band yang … kalo musik, campuran, sih, beda-benda. Ada popnya, ada rock-nya, funk, ada sedikit jazz-nya, sampai dulu pernah masukin etnik Sunda-sunda gitu.

Tobucil : Kenapa namanya Jack and Sally ?

Ipey : Pertamanya gara-gara drummernya seneng sama Jack and Sally yang di Nightmare Before Christmas. Kebetulan juga di band-nya ada cowoknya ada ceweknya, jadi cocok aja.

Tobucil : Elu kan basis, ya, Pey, kenapa elu milih jadi basis ?

Ipey : Ew … sebenernya, sih, (saya) seneng main gitar juga. Dulu, sih, seneng main semua. Tapi sebelum Jack and Sally, ada temen yang ngajakin jadi basisnya, jadi sekalian aja jadi basis.

Tobucil : Apa yang asik dari ngebas ?

Ipey : Ng … apa, ya ? Jadi kalo udah dapet soulnya, apalagi kalau musiknya nge-groove … pas bareng sama kick drumnya, sih, jadi … gimana, ya ? Perasaannya … ya gitu, deh. Susah dijelasin, sih …

Tobucil : Buat lu musik itu apa, Pey ?

Ipey : Apa, ya ? Musik itu … udah jadi salah satu sahabat terbaik … geuleuh (jijay) gini …

Tobucil : Lho kenapa geuleuh ?

Ipey : (senyum tanggung) Ew … abis setiap saat … ya … hampir setiap saatlah ada hubungannya sama musik. Kalo sepi, kita denger musik ato paling nggak ngebayangin musik. Ato gini-gini (mengetuk-ngetukkan jari ke meja), itu juga udah ngebayangin musik.

Tobucil : Pey, kata lo kan musik seperti salah satu sahabat terbaik lo kan, ya? Kalo misalnya hari ini ulangtaunnya musik yang ke-21, elu mau ngucapin apa ?

Ipey : Selamat ulang tahun buat musik.

Tobucil : Udah, gitu doang ?

Ipey : Abis apa, ya ? Soalnya ga usah pake semoga-semoga aja udah semoga.

Tobucil : (bingung) Oh … gitu, ya ... terus, kira-kira elu mau ngasih musik hadiah apa ?

Ipey : Apa, ya ? Kayaknya waktu aja, deh, waktu bersama musik ditambahin dikit.

Tobucil : Lu mau minta ditraktir apa sama musik ?

Ipey : Apa, ya ? Enggak juga gpp kayaknya, gimana si musik aja.

Tidak seperti Ipey kepada musik, Mas Bebeng (yang sebenarnya berulangtahun juga pada tanggal 22 Agustus lalu), menyikut-nyikut Ipey, “Traktiran, traktiran …” “Ya udah. Teh Botol aja,” sahut Ipey akhirnya. Maka, Mas Bebeng pun berbuka puasa dengan Teh Botol sponsoran Ipey.

Selamat ulangtahun yang ke-21, ya, Ipey, semoga … hmmm… ga usah, deh. Ga usah pake semoga-semoga juga udah semoga soalnya … hehehe ..

Sundea

fotodua

fototiga

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Ipey :

biodataipey

Google Twitter FaceBook

Rosemary and Boulevard de Cichy

 

coveremy Judul Buku : Boulevard de Clichy

Pengarang : Remy Sylado

Harga buku : Rp. 85.000,00

Harga Tobucil : Rp. 76.500,00

Apa yang menarik dari Boulevard de Clichy (nama jalanan di Paris) ini ? Di situ, dalam novel ini, ada Anugrahati, panggilannya Nunuk, penyanyi dan penari yang dijuliki Meteore de Java. Dia terbuang namun tak menyerah, terlaknati namun terberkati. Cinta dan tanggung jawab pada kehidupan yang membuatnya kokoh.

Demikian teladan seorang wanita yang ibu kontemporer dalam potret manusia-manusia Indonesia setelah tumbangnya Orde Baru. Ditulis menurut realitas dengan pelbagai kemungkinan oleh pengarang mbeling Remy Sylado yang pada tahun 2005 memperoleh angerah Satya Lencana Kebudayaan negara RI atas kepeloporannya di bidang sastra.

 

rosemary Album Rosemary

Harga : Rp. 45.000,00

Musik Rosemary tidak terlepas dari riff-riff gitar yang cepat serta gebukan drum yang agresif. Unsur melodi dan harmonisasi vokal juga menjadi salah satu faktor kekuatan dari debut album ini. Layaknya musik punk yang dipengaruhi oleh kultur skateboard, lirik dan tema yang diangkat oleh Rosemary banyak mengambil pengalaman dari kehidupan sehari-hari. Beberapa terdengar lucu dan terkesan menertawakan diri sendiri.

Review diambil dari sini

Google Twitter FaceBook

Bani, Sapi yang Kadang Periang Kadang Sedih

 

-Tobucil, Selasa 25 Agustus 2009-

Klab Menulis Kreatif untuk Anak-anak

rengrengbikinaskah Sundea membawa empat boneka tangan. “Namanya terserah kamu, Reng. Sifatnya juga,” kata Sundea. Maka mulailah Reni menamai dan mendeskripsikan karakter setiap boneka sebelum kemudian membuat naskah berdasarkan keempat karakter itu.

Hari itu Kayla, partner Reni, tak bisa hadir. Itu sebabnya Reni mendalang sendirian. Dengan susah payah ia memainkan empat karakter ; Bani si sapi pink, Niba si wombat, serta Onde dan Deon, dua ekor monyet yang ceria. Karena prihatin melihat kesusahpayahan Reni, Sundea melibatkan diri dalam pementasan. Naskah yang sudah ditulis pun berkembang biak ke mana-mana. Reni dan Sundea saling merespon sambil cekakakan. Sandiwara boneka tetap berlangsung seru meski tanpa penonton.

Jadi begini ceritanya. Bani adalah sapi yang kadang periang, kadang sedih. Kenapa ? Bani kesepian, kedua orangtuanya meninggalkan dia. Ke mana mereka ? “Orangtuaku dijual sama peternakku, aku tidak dijual karena masih kecil,” kata Reni ... eh… Bani.

Ketegangan terjadi ketika Onde menyebarkan gosip, “Bani, aku tahu ke mana orangtuamu ! Mereka sudah menjadi susis !!!” Untuk memastikan, Bani dan kawan-kawan pergi ke pabrik susis. Ternyata orangtua Bani masih hidup dan utuh. “Mereka baru dateng, jadi belum dibersihin,” kata Reni. Dibantu ketiga temannya, Bani membebaskan kedua orangtuanya dari kemungkinan disusiskan. Kisah pun berakhir bahagia. Bani hidup damai bersama kedua orangtuanya di peternakan. Horeee …

“Sayang, ya, nggak ada Kayla,” sesal Reni sambil menggambar keluarga Bani. “Kak, Minggu depan kita main drama lagi sebentar, ya, kan kasian Kayla nggak ikutan,” pinta Reni. Kemudian ia menutup buku catatannya dan pulang ke rumah.

Bani adalah sapi yang kadang periang, kadang sedih. Ia kesepian.

Mungkin Reni pun adalah gadis kecil yang kadang periang, kadang sedih. Kadang ia pun kesepian.

keluargabani

Sundea

Google Twitter FaceBook

Pada Hari Jumat Kuturut Ayah ke Uber …

-Tobucil-Ujung Berung, Jumat 29 Agustus 2009-

otw

Jumat petang itu, Mas R.E Hartanto, Mbak Tarlen, dan Tobuciler menempuh perjalanan yang lumayan panjang. Ke mana kami ? Ujung Berung ! Untuk apa ? Mengantar kanvas ke rumah Mbak Dini.

“Nggak kebayang gimana Dini bisa hafal jalan ke rumahnya,” komentar Mas Tanto yang mengemudi. Dengan takjub ia memandangi persawahan yang membentang di sekitar jalan, “Untung kanvasnya kita anter. Kasian banget kalo Dini harus ngambil ke Tobucil …”

Kanvas yang kami bawakan adalah bagian dari proyek drawing daitoistik Mas Tanto yang direspon oleh Klab Hobi. Mbak Dini turut terlibat. Ia yang terampil, bertugas mengkristik gambar kerangka telapak tangan. Kristik sendiri adalah salah satu teknik menyulam dengan membuat dua garis yang menyilang secara diagonal pada pola kotak-kotak. Itu sebabnya, untuk mempermudah Mbak Dini, Mas Tanto sudah mempersiapkan pola kotak-kotak yang dibutuhkan pada gambarnya.

diskusipola

Kedatangan kami disambut oleh Mbak Dini dan Si Kecil Bebe. Sementara Mas Tanto, Mbak Tarlen, dan Mbak Dini sibuk mendiskusikan proyek, Tobuciler dan Bebe bermain ciluk baa lewat kanvas cokelat yang disandarkan di dinding. Kesinggahan kami tidak lama. “Udah sore, saya udah ditungguin Rama di Tobucil,” kata Mbak Tarlen. Kami pun pamit. Mbak Dini dan Bebe mengantar kami sampai berangkat. Bebe yang sadar rumahnya akan kembali sepi tiba-tiba menangis sediiih … sekali.

Sepanjang perjalanan, kami melihat ke kiri dan ke kanan. Sawah. Orang-orang bertani. Saung. Warung mainan semi tradisional. Alun-alun dan hiburan rakyat. Anak-anak kecil yang mengendarai motor dengan gagah berani, tanpa helm. Daerah ini seperti kota dengan kehidupan klasik yang menarik. Sama seperti kristik ; seni menyulan dengan teknik klasik.

Masih ingat sticker klasik tangan yang menangkup dan bertulis “Hidupku di Tangan Tuhan” ? Mungkin gambar kerangka telapak tangan yang dibuat Mas Tanto adalah kerangka tangan tersebut,ya … hehehe …. Ia akan direspon dengan gaya klasik dan digarap di sebuah daerah yang klasik pula.

Seperti apa kira-kira hasilnya nanti … ?

Sundea

Google Twitter FaceBook

Indra “Utopia”

 

Kali ini wawancara sama bassistnya utopia yang bernama lengkap Muhamad Indra Gunawan, alumni seni musik upi ini selain sibuk dengan utopia juga sekarang lagi produserin band-band baru. indra lahir 20 oktober 1978. dan ini nih hasil wawancara lewat ymnya hehehhee:

pilih wc jongkok atau duduk? beserta alasannya hehehe

jongkok...lebih neken

tembok kamar warna apa? hehe

krem

kalo jalan mending kaki kanan dulu atau kaki kiri? percaya ga sama mitos kaya gitu? hehe

percaya jg sih cuman klo dah praktek suka ga nyadar yg mana duluan..tp klo pk clana kanan dulu (nyambung ga sih)

kalo lagi ga ada kerjaan biasanya ngapain?

nonton ato baca ato tiduuuuurrr...

hmmm... sekarang rada serius ya hehe.. gimana caranya supaya di band bass sama drum bisa "kawin"? hehehe...

jangan ada dusta diantara mereka .....saling ngenal karakter masing2 aja sih...jd dah tau maunya kmn tuh pmaen drum ato basnya...sering curhat lebih ngbantu

indra kan pernah ngajar bass juga. hehe. saran buat yang pertama kali mo belajar bass apa?

yg mo blajar: lbh diyakinkan apa emg bass yg lo pilih...pmaen bass=susah terkenal...

klo dah yakin tinggal latiah aja mpe lecet..lebih terbuka dgn sgala masukan...fleksibel...karena itu ciri2 pmaen bass

bykin referensi

terus, saran buat yang pertama kali mo ngajar bass apa?

mo ngajar bass dalemin teori selain praktek

karena teori bisa buat cara lo ngeles klo g bisa (bcanda)

penyampaian yg penting

gmn caranya orang bs ngerti ma apa yg kta sampein itu g gampang

di upi ada mata kuliahnya tuh 2 semester

namanya psikologi pendidikan

teori-praktek-cara penyampaian.

 

group Utopia di fb, klik di sini

indra utopia di fb klik di sini

fotoipey

Ipey adalah salah satu bintang tampuk kekasiran Tobucil sekaligus bintang panggung musik. Saat ini Ipey menjadi bassist di band Jack and Sally. Kunjungi blognya di : http://apaitu8.blogspot.com/

 

 

 

BONUS

Indie Label list :

Staria Music Indonesia
Artists: Paul Gilbert, Mike Tramp, Lacuna Coil, SicMynded, Hydra
Genre: Blues, Easy Listening, Jazz, Pop, Rock, Disco
Contact:
Want to send demo? Contact here first:
A&R Staria Music Indonesia
a&r at stariamusic dot com
Distro Contact
For Distribution CASSETTE AND CD
info at stariamusic dot com
+62 21 - 7361423
+62 812 1998471

Variant Music Indonesia
Genre: Death Metal, Grindcore
Band: FLIP-Indonesia, God Forbid-USA, In Flames-Sweden, Napalm Death-UK, Shadows Fall-USA
Contact:
< www.variantmusic.com e-mail: info at variantmusic dot com>

Metal Ground Records
c/o Yessy
P.R. Sangkal Putung 15,
Klaten 57431, Indonesia
Email: bregool at yahoo dot com

Rottrevore Records
c/o Rio
Bulak Barat 2 no 43
Klender Jakarta Timur
13470 Indonesia
E-mail: rottrevorerecords at killertroops dot com
Web: < www.rottrevore.cjb.net>

THT Production
Band: Armageddon, Kekal, Bealiah, Excision,
Genre: Extreme
Contact:
THT
P.O. Box 1496
JKB 11014
Jakarta
INDONESIA
E-mail: thtudg at centrin dot net dot id
Web: http://www.thtproductions.com

Youth Frontline Records
Band:
Genre: Hardcore
Contact: info at youthfrontline.com
< http://youthfrontline.cjb.net
YFL, Jl. Sudimoro 21a, Malang 65142, Indonesia, p
hone: 62.341.498875

Blossom Records
Band: BangkuTaman, The Strawberry’s Pop
Genre: indiepop sounds and sub-genre like shoegaze, folk, bossas, dreampop, electropop, j-pop, j-rock, power pop, twee pop, 40, 50, 60, 70’s pop, new wave, post punk, indie rock, madchester sounds, brutal pop, brit pop, and many more.
Contact: blossomrecords at death-star dot com
Attn: Widi Nugroho HP 081578760652<
add friendster:blossomrecords@death-star.com
mailing list< : < blossomrecords@yahoogroups.com

Krossover Records
A split company of Rotorcorp. Affiliated with Musica for distribution. Contact: Krisna J. Sadrach
Mobile: 0818968660
Band/Genre: Trauma, Tengkorak, Sucker Head

The Eye Music
Band: Authority, Death Vertical, Corugator, Sinusitis
Genre: Extreme Music
Contact: greedkillers at yahoo.com
http://www.the-eye.cjb.net
PO BOX 69110 / JATPK / 13069 Jakarta 13710

SonnenGott Musik
Menganti Permai A2/5 Gresik 61174 East Java - INDONESIA
phone: +62-31-7911712
cellphone: +62-8123162538
http://www.sgmdf.cjb.net
Email: sonnengott@lycos.com
Band/Genre: Nicronomodez (Black), Tragyst (Black), Total Tragedy (Gothic), dan Dry (Black)

Amonra Records
Jl. Panti Asuhan No. 37, Otista III
Jakarta 13340 Indonesia
email: amonrarecords at amonra dot co dot id
website: < http://www.amonra.co.id
Phone : (+62 21) 8191745
Fax : (+62 21) 8584746
Hotline : (+62 21) 70780460
Band/Genre: Geboren (Gothic), Dictator (Thrash), Funeral Inception (Technical Death), Invictus (Prog Death)

Edelweiss Records
Address:
Jl. Kalianyar X Gg. 3 RT 10 RW 02
Jakarta Barat 11310
Phone/Fax: 021-634528
PO BOX 6006 JKBGG 11060
alamgerilya@yahoo.com
Genre: Metal-Underground
Artis: Qishash, Enpelove, He Who Corrupt, Sadis, Noise Gate, Autopsya, Prosatanica, Gethebong, Bedebah, Besessen, Imprecatory, Katarak, Past The Line, Ababil, Abhorred, Despiser, Troops Of Brutality, Kembang Kuburan, Dead Theory, Borox, Traxtor, Pernicious,Hate, Extreme Hate, Infected Tendence, Decomposed, dll.

PRS (Progressive Rock Sony) Records
Jalan Gudang Peluru Barat IV Blok 4/539, Jakarta
Adhi Nursetyo HP: 0855 100 9620, email: id_prog@yahoo.com
Bobby Priambodo HP: 0812 808 2895, email: b_priambodo@yahoo.com [aa/buget.com]

Diculik dari sini

Google Twitter FaceBook

Poros

Saya Si Putri, Si Putri Sinden panggung

Datang kemari menurut panggilan Anda …

… dan pada sebuah titik, di tengah belantara Pasar Malam Sumedang, Puteri Sinden Panggung itu adalah kuda sungguhan yang dijadikan komedi putar. Ia mengitar sebuah poros, nyaris tanpa jeda. Kostumnya meriah, penuh warna dan ornamen. Langkahnya terlihat genit, mengikuti irama “Puteri Sinden Panggung” remix yang terdengar rusuh dan pecah karena fasilitas sound system yang seadanya.

Anak-anak silih berganti naik ke atas punggungnya yang mengurva. Lampu merah, kuning, hijau, dan biru yang remang, silih berganti menerpa wajahnya saat ia berlalu. Sekilas mulutnya yang berbusa dan kepalanya yang tertunduk-tunduk tertangkap mata saya. Dia tak sepenuhnya menari; dia terhuyung-huyung hampir jatuh. Gelang neon merah yang melingkar di kakinya lebih terlihat sebagai peringatan bahaya ketimbang aksesoris, namun tak ada yang menyadari.

“Kasian, dia pasti capek dan pusing sekali. Liat, kayaknya dia udah mau muntah …,” komentar saya.

“Emang gitu, De, itu namanya kuda renggong,” sahut Ferry, teman saya.

“Emang gitu gimana ?”

“Emang gitu. Dia dididik kenal sama satu lagu, terus gerak ngikutin lagu itu selama lagunya diputer …”

Dari malam sampai pagi kulakonkan

Apalagi ada Mas Joko tersayang

Rasa cape jadi hilang …

Suara Uut Permatasari yang genit dan manja mengiris-iris udara. Lagu ini jelas bukan lagu gembira. Melodi tradisional Sunda dan chordnya yang cenderung minor punya jiwa mirip lagu blues; dekat dengan kesedihan dan ratapan. Lagu ini mencoba bersembunyi di balik beat dan aransemen remix yang dinamis, namun, kedinamisan itu tidak ekspresif. Ia adalah kegembiraan yang direkayasa; programik dan template-ik.

Lagu “Puteri Sinden Panggung” diputar berulang-ulang. Kuda pun berkeliling lagi dan lagi. Anak-anak berganti-ganti. Suara Uut Permatasari pecah di udara, menyebar dan baur dengan keriuhan Pasar Malam. Yang tinggal tetap adalah komedi hitam, menggandul pada poros komedi putar, memaksa kuda renggong terus menari-narikan keriaan yang direkayasa,

penonton, salam cinta saya.

Saya Si Putri, Si Putri Sinden Panggung.

Datang kemari menurut panggilan Anda …

kudasedih  gambar diambil dari sini

Sundea

Kirimkan tulisanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Jangan lupa sertakan foto diri dan biodata singkatmu.

Google Twitter FaceBook

Till You Have to Let Go

-Sky FM, Rabu 27 Agustus 2009-

“Where do ballons go ? It’s a mystery, I know. So just hold on tight till you have to …

… let go.”

“Where do Balloons Go”, Jamie Lee Curtis, halaman terakhir -

Sebuah buku anak yang dibahas dalam Theo’s Book Review siang itu, membuat suasana siaran menjadi sentimentil. Where do Balloons Go. Buku yang ditulis oleh Jamie Lee Curtis, pemusik dan pemain film yang pernah membintangi Freaky Friday bersama Lindsay Lohan itu, mengisahkan seorang anak yang kehilangan balonnya di taman ria. Sang anak pun berkhayal ke mana kira-kira balon itu pergi ; apakah dia menari dan berpesta, terkena flu, berlibur, meleleh terbakar matahari … hingga akhirnya duga-duga itu ditutup dengan simpulan mengenai kerelaan untuk melepaskan.

Pendengar juga diajak berbagi pengalaman, “dari semua hal yang kamu miliki saat ini, kira-kira apa yang paling sulit kamu lepaskan ?” Dan sms pun berdatangan ke studio Sky FM.

“Sangat berat utk melepaskan cintaku pada pria bermata cokelat. Pgnnya sehidup semati, ga mau ada yg duluan pergi. Karena dia nafasku,belahan jiwaku,” tulis Beta. “Dari sekian banyak barang yang aku punya, hanya ikat pinggang yang tidak bisa aku lepaskan, karena itu membuat aku selalu lucky,” tulis Hari Asri. Yang merasa merasa berat melepaskan hal-hal abstrak seperti iman, perasaan, sampai keperawanan pun ada. Ada pula Suneo, yang terinspirasi untuk belajar ikhlas karena topik hari itu.

Seperti imajinasi anak dalam Where do Balloons Go, obrolan hari itu terbang ke mana-mana. Pada kesadaran bahwa tak ada yang abadi dan sungguh-sungguh kita miliki, kepada kehidupan dan kematian, hingga kepada blog Tobucil edisi minggu lalu yang bertema “Fana”. Kami pun kemudian mendapati bahwa melepaskan justru akan membuat kehilangan menjadi lebih mudah.

Di akhir acara, Rie-Yanti mengirimkan sms, “ngomong-ngomong soal melepaskan sst, jadi inget lagu New Radicals You Get what You Give …” Lagu ini pun menjadi penutup yang manis untuk siaran yang sentimentil tersebut,

“Don't give up

You've got a reason to live

Can't forget you only get what you give …”

Karena segala yang kita lepaskan, sesungguhnya akan kembali dalam bentuk yang berbeda. Ruang kosong yang menjadi perantaranya adalah harapan, seperti tulis Reina, “ ‘HARAPAN’ yang membuat gua mau tetep jalan sampai sekarang …”

Bocah kecil dalam Where do Balloons Go akhirnya melepaskan balonnya dan tidur di pelukan ibunya. Bagaimana dengan pengalamanmu sendiri ?

Sundea

 

deatheo Simak Theo’s Book Review bersama Theoresia Rumthe dan Sundea, setiap Rabu minggu genap pukul 13.00-14.00 di Sky 90.50 FM.

Google Twitter FaceBook

G dalam RGB : Gitar atau Galau ?

 

image Hari Minggu itu, rencananya ada acara buka bersama KlabKlassik (KK) di kediaman Syarif. Meski semua orang tahu acara buka bersama itu seyogianya di kala adzan maghrib, tapi anehnya yang ini berkumpul sejak pukul empat. Tidak aneh sebenarnya, jika tahu alasannya. Ya, ada latihan RGB dulu, alias Ririungan Gitar Bandung, yang mana merupakan proyek KK sejak Desember silam. Konser yang akan dibuat untuk RGB sudah dekat, yakni 20 November. Sudah saatnya ensembel gitar ini menunjukkan kemampuan gitarnya, alih-alih giginya. Di acara buka bersama itu, memang telah direncanakan, untuk menjadi penampilan perdana RGB.

Akhirnya, setelah latihan selama dua jam. Tiba juga waktu berbuka yang dinanti seluruh umat Islam di dunia. Acara buka bersama hari itu dihadiri cukup banyak orang. Ini cukup wajar, mengingat salah satu misi KK menggelarnya, adalah untuk syukuran. Syukuran karena tahun ini, KK bisa menyelenggarakan tiga kali resital, yakni D’Java String Quartet, Resital Tiga Gitar Plus Satu, dan Flute & Piano Recital. Soal bagus tidaknya, itu di luar perkara, yang penting terselenggara. Setelah pembacaan doa dan surat Al-Fatihah yang bukan dipimpin oleh Pirhot Nababan, acara makan dimulai. Dan apa artinya itu? Artinya, RGB sebentar lagi akan tampil.

Saat semua telah selesai makan, satu per satu penampil RGB naik ke kursi. Ada Royke, Alka, Yunus, Bilawa, Calvin, Hin-hin, Pirhot dan Ina. Tampilnya RGB di depan membuat penonton kosong melompong. Ini karena buruknya RGB? Bukan, tapi karena nyaris seluruh penonton adalah pemain RGB juga. Akhirnya, dibantu Afifa pada violin dan Azisa pada cello, dimainkanlah itu dua lagu. Yang pertama, berjudul Canon karya G.P. Telemann. Yang kedua, Canon juga, tapi karya Johann Pachelbel. Keduanya singkat, padat, namun penampilan perdana selalu berharga.

Berakhirnya penampilan RGB tidak membuat acara bubar. Dalam duduk-duduk silaturahmi yang hangat, terdapat gerakan separatis bernama RGB juga, kependekan dari Ririungan Galau Bandung. Mereka menampilkan karya-karya galau seperti Cavatina dari Stanley Myers dan Alhambra dari F. Tarrega. Dan di penghujung penampilan RGB yang ini, disajikan lagu-lagu kebangsaan semisal Tanah Airku dan ”lagu mengheningkan cipta” (maaf, Tobuciler lupa namanya, karena dulu selalu telat pas upacara). Ini cocok sekali dengan isu nasionalisme kita yang tengah diuji. RGB, yang manapun, hari itu bergembira ria, menapakkan kakinya yang pertama. Mari kita doakan agar sukses di konsernya.

Syaraf Maulini

 

image RGB Galau

Google Twitter FaceBook

Gaya Berfoto

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Raden Prisya (via chat FB):

(Kak Syaraf: Di suatu malam yang galau, saya ngobrol dengan Prisya di chat FB. Lalu Prisya bertanya soal di bawah ini, tapi ia ingin dijawab secepatnya. Kenapa? Karena waktu sudah imsak)

Hai, Kak Syaraf, saya ada kegalauan tingkat tinggi yang mana dituliskan dalam pertanyaan berikut ini: Apabila tiba-tiba seorang fotografer kelas dunia yang telah berpengalaman memotret berbagai selebriti bersedia memotret anda secara gratis dan meletakkan foto tersebut di jejeran karyanya, seperti apa anda akan ingin difoto?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Prisya, betul sekali waktu sudah imsak dan tandanya anda mesti cepat-cepat. Kenapa? Karena kalau batasnya adzan maghrib, namanya bukan imsak dong. Ada lima alternatif gaya sebenarnya, yang mana untuk memilih satu diantaranya, saya sarankan untuk shalat istikharah dulu atau jangan sekalian:

  1. Gaya apapun sambil merem. Kau tahu, tak ada satupun selebriti yang melakukan itu, kecuali dia kedapatan paparazzi sedang shalat.
  2. Gaya sedang shalat. Kau tahu, tak ada satupun selebriti yang melakukan itu, karena mereka shalat memang untuk Allah, bukan fotografer.
  3. Gaya sedang puasa. Kau tahu, jika kau bukan difoto untuk model sebuah makanan atau minuman, kau bisa interpretasikan model itu sedang berpuasa.
  4. Gaya sedang dipenjara. Kau tahu, selebriti tidak akan melakukan itu, kecuali mereka benar-benar dipenjara.
  5. Gaya ala selebriti. Kau tahu, tak ada satupun selebriti yang melakukan itu, karena mereka selebriti beneran.

Pertanyaan dari Pens Beurat Off Clinic (via YM):

Halo Kak Syaraf, saya senang baca off-clinic sejak saya kelas 5 SD (sekarang saya kelas 5 SD). Mau tanya dong:

  1. Kok kakak mau sih mengasuh off clinic? Suka dukanya apa?
  2. Kok jawabannya keren-keren sih? Inspirasi dari mana tuh?
  3. Rambut kakak paling panjang segimana? Itu pas kapan? Perasaan botak terus. Heuheu.
  4. Gimana caranya supanya gua nemu inspirasi buat bikin pertanyaan off clinic?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Oke, Dik, lama juga yah anda ngepens sama rubrik ini. Baiklah saya jawab, meskipun saya kasian sebenernya, anda kok kecil-kecil sudah galau:

  1. Saya tidak mau sebenarnya, melainkan malu-malu mau. Kau tahu bedanya, Dik? Coba ngacung kalo gak ngerti. Sukanya, kalo saya menjawab off clinic sambil makan-makanan yang enak. Dukanya, kalo saya menjawab off clinic sambil saya mengetahui kalo saya lagi susah buang air. Kau tahu maksudnya, Dik?
  2. Inspirasinya dari Malaysia, Dik. Kau tahu mereka kan tidak kreatif dengan mengklaim banyak kebudayaan kita. Nah saya tidak mau seperti itu, Dik. Jadi mereka mengilhami saya, mereka baik juga kan?
  3. Paling panjang dulu, Dik, waktu SMA. Waktu itu kakak lagi seneng-senengnya sama Metallica. Kau tahu mereka, Dik? Huruf ”c” nya jangan dibaca ”c” yah. Tapi pas kakak mau niru, rambut mereka malah dipotong pendek. Lalu pas kakak ingat peraturan sekolah yang melarang rambut panjang, jadi urung, Dik. Jadi faktor lingkungan ini sebenarnya, Dik.
  4. Ah, Dik. Jangan takut bertanya selama kau masih melihat banyak jalan disana. Karena kalau jalan masih banyak, artinya kau masih mungkin tersesat, yang mana hanya bisa diselesaikan dengan bertanya. Dan jangan takut bertanya, selama kau masih galau, karena ada peribahasa: Dimana ada gula, disitu ada semut. Dimana ada kegalauan, disitu ada semut. Kau ngerti, Dik? Tak ada gading yang tak retak, tak ada tempat yang tanpa semut.

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com atau message ke fb Kak Syaraf : Syarif Maulana. Kak Syaraf akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

Tooth … Tooth …

salamatahari “Tooth … tooth …,” begitu bunyi mesin sensor harga di supermarket. Setiap dia bilang “tooth” ada sinar putih gilang yang mancar sekilas. Dalem bahasa Inggris, “tooth” artinya gigi. Jadi kayaknya, pas bunyi “tooth-tooth” begitu si mesin lagi senyum keliatan gigi. Sinar itu pasti cahaya giginya yang bersih cemerlang.

Hari itu antrian di supermarket lumayan panjang, tapi ngeliatin si mesin senyum ceria ke tiap barcode yang ditunjukkin ke dia bikin Dea ceria juga.  Semangatnya nggak keganggu sama orang-orang yang mulai kusut karena kelamaan nunggu. Meski barcode yang harus dibaca makin bertubi, senyum si mesin makin bertubi juga. Keliatannya si mesin sensor ini bener-bener cinta sama kerjaannya.

Pas si mesin ngitung harga barang belanjaan Dea, Dea ngusap-ngusap punggung dia sambil nanya ke Mbak Kasir, “Mbak, boleh, nggak saya motret dia ?” Mbak kasir ngelirik Pak Satpam, “Aduh … gimana, ya … ?”

“Buat kepentingan apa, ya, Bu ?” satpmanya nanya ke Dea.

“Saya mau bikin cerita,”

“Kayaknya boleh … tapi harus ngomong ke supervisornya dulu, kasih penjelasan …”

“Oh … gitu, ya … ?”

Karena udah hampir telat rapat Tobucil, Dea mutusin untuk nggak motret si mesin sensor. Tapi Dea sempet pamit dan pesen ke si mesin, “Tetep tooth-tooth-tooth dan bersemangat, ya …”

Dea keluar supermarket sambil loncat-loncatan. Dalem hati Dea berharep bisa jadi penulis yang cinta sama kerjaan Dea seperti si mesin sensor. Yang nggak kepengaruh sama keadaan apapun ketika yakin sama apa yang dikerjain.

Hmmm … just wondering. Kalo Dea jadi motret si mesin sensor, apa dia bakal “tooth-tooth-tring” juga ke kamera Dea, ya …?

Sundea

ada ilustrasi “Tooth-Tooth”, lho, di sini

Google Twitter FaceBook

Program-program Ngabuburit di Tobucil

REGULER KLABS

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkan diskusi rutin Rabu tanggal 02 September 2009
dengan tema:

"Libur dan Waktu Senggang”

Rabu, 02 September 2009

17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

upcoming madrasah filsafat : “Berbuka dengan Filsafat”, 09 September 2009, pukul 16.00-18.00. Berbicara mengenai “Imanensi” bersama flsuf Drijarkara.

PROGRAM NGABUBURIT di TOBUCIL

Ngabuburit Bersama Johnny :

Senin dan Jumat

Menonton film-film Johnny Depp

pukul 15.00 – 17.00

mulai tanggal 31 Agustus 2009, Klab Nonton pindah hari dalam rangka ngabuburit.

Jumat, 4 September 2009, Pk. 15.00 - 17.00
The Brave

Sutradara: Johnny Deep

Rafael Lives (Johnny Deep) bersama istrinya Rita dan dua orang anaknya, tinggal di tempat penampungan sampah. Mereka hidup dalam kemiskinan dan Rita menderita sakit sementara Rafael tidak punya uang untuk membawa Rita berobat. Tiba-tiba, Seorang pria muncul dan menawari Rafael pekerjaan yang menghasilkan banyak uang dan kehidupan yang layak bagi keluarganya. Sebuah pekerjaan yang mengharuskan Rafael menukar jiwanya dan Rafael tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Sebuah debut pertama Johnny Deep sebagai sutradara.

Membuat Wardrobe Idul Fitri Sambil Ngabuburit :

Membuat aneka macam tas dan rompi

fasilitator : Palupi (koordinator Klab Rajut).

Waktu : 01 September 2009 s/d 18 September 2009, pukul 10.30 s/d 12.30

Harga : Rp. 250.000,00/ paket

*bisa dimulai dari basic, bisa lanjutan.

Membuat Totebag

fasilitator : Tarlen Handayani (pemilik Tobucil)

Waktu : 08 September 2009 dan 15 September 2009, pukul 15.00 s/d 16.30

Harga :

dengan bahan Rp. 70.000,00. Tanpa bahan : Rp. 50.000,00

RUBRIK

Papantulis resep masakan : kirimkan resep masakan favoritmu ke tobucil@gmail.com. Jangan lupa sertakan foto diri (foto masakan juga kalau ada) dan biodata singkatmu

DARI LUAR RUMAH :

Pameran Foto Untuk BANDUNG 200th
01- 10 Sept 2009
Be Mall - Upper Ground

Ketentuan :
1 Peserta Pameran adalah anggota Komunitas tgl. 7

2 Foto peserta pameran jumlahnya tidak di batasi

3 Ukuran Foto 5R menggunakan mounting/matboard 2 cm tiap sisi dan menggunakan duplek di balik fotonya.

4 Paling Lambat pengumpulan foto tgl. 29 Agust 2009

5 Pendaftaran di Titan Foto, Seruni Foto, PAF,Myinfrared.com

6. Cantumkan nama, judul dan pada photo yang dipamerkan dan cantumkan pada kertas putih ukuran 2x5 cm dan letakan di tengah bawah foto

7. Foto yang dipamerkan wajib di cetak di Seruni Merdeka Foto

8. Foto akan dikurasi terlebih dahulu

Work shop

4 September 2009 14.00 - 17.00 :
Introduction Studio Lighting & How to pose a model
by Rifan Mulyawan & Edison Paulus

5 September 2009 14.00 – 17.00 : How to take picture an amateur Model
By Irwan Kurniawan

6 September 2009 14.00 – 17.00 : Infra Red Photography
By Dibyo Gahari

7 September 2009 12.00 – 14.00 : Correction Make Up for Photographer
By Tjun Tjun Twin

8 September 2009 14.00 – 17.00 : Glamour Photography
By Budi Ipoeng

Ketentuan :
1 Peserta Workshop terbuka untuu umum

2 Biaya Rp. 100.000,- untuk semua Workshop.
( Uang dapat diambil kembali apabila mengikuti seluruh Worshop 1 -5 )

3 Paling Lambat pendaftaran tgl. 04 September 2009

4 Pendaftaran di Titan Foto, Seruni Foto

Hunting Model " Seruni Model Of The Year 2008"

Tgl. 07 September 2009 Pkl. 09.00 -11.00 WIB

Ketentuan :
1 Peserta Hunting terbuka untuk umum
2 Sudah membayar biaya workshop senilai Rp. 100.000,-
3 Paling Lambat pendaftaran tgl. 04 September 2009
4 Pendaftaran di Titan Foto, Seruni Foto,

IMG_0989

image

Dengerin terus PARAMUDA 93,7 FM atau live streaming di www.paramudafm.com Jangan lupa dengerin juga interview bareng klabs Tobucil di Program FANSZONE Hari Selasa, jam 14.00-15.00 WIB.




image

Simak Theo's Book Review bersama Theo, Sundea, dan Tobucil&Klabs di Sky 90,50 FM setiap Rabu minggu genap, pukul 13.00-14.00

Google Twitter FaceBook

Sunday, August 23, 2009

Fana

Sepanjang minggu ini Tobucil seperti diingatkan untuk membaca kembali makna fana dari dekat. Di awal minggu ada R.E Hartanto yang berkarya di beranda Tobucil sambil membahas konsep fana. Petangnya, ada madrasah filsafat yang menyinggung kefanaan dalam konteks “belenggu”. Pada hari Kamis, Merry Scumbag, salah satu teman Tobucil, berpulang di usia muda. Dan di tengah rapat mingguan, kami teringat pada Tembok Ratapan, karya Klab Origami yang seperti sudah menyadari kefanaannya sejak dinamai.

Tak ada yang abadi. Setiap kehidupan adalah perjalanan menuju kematian dan pelajaran untuk melepaskan. Tak ada yang bisa kita genggam terlalu erat dan kita paksa menjadi kekal. Satu-satunya kemungkinan adalah berdamai dengan kefanaan, menghormati kebebasan takdir, dan percaya bahwa perjalanan hidup punya kebijaksanaannya sendiri.

Namun, Teman-teman, siapa tahu kefanaan justru merupakan harapan. Ada yang mengungkapkan fana berarti lenyapnya sifat-sifat panca indera. Sementara menurut Plato, tubuh (yang membawa panca indera) adalah belenggu jiwa. Bisa jadi kefanaan malah memungkinkan jiwa menentukan kebebasannya tanpa terkotak.

Lalu kekalkah kebebasan itu ?

…………………………………………… …………………………………… . . . . . . . . . ?

Semoga tubuh dan jiwa kita masih bisa bekerja sama selama fana.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankannya.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

IMG_2183

Google Twitter FaceBook

Mulyana dan Makan-makan yang Tidak Fana

mainpic “Mul, elu udah pernah gua wawancara untuk ‘Teman Tobucil’ belum, ya ?” tanya Tobuciler saat Mulyana tiba di Tobucil untuk munggahan bersama Kru Tobucil. “Belum,” sahut Mul. “Wah, pas banget kalo gitu. Minggu ini temanya ‘kefanaan’ dan lu lulusan Gontor. Gih makan dulu, abis itu gua wawancara, ya …”

Mul pun makan-makan. Setelah itu dia sibuk dengan hal-hal lain ; mengganti galon air mineral, mundar-mandir, pergi ke WC, tahu-tahu dia mengaku, “Teteh, abdi dari tadi mikir, fana teh artina naon-nya ?” GUBRAKKKK !!!

Tobucil : Jadi, Mul, menurut lu fana artinya apa ?

Mul : Hihihi … hehe … fana teh … he … kata yang sering didengar tapi poho deui artina naon (lupa lagi artinya apa). ‘ke heula (nanti dulu) … mikir … dunia yang fana … ya … dunia yang fana … eh … tong kitu-nya (jangan gitu, ya) ? Hehehe …

Tobucil : Tong kitu gimana ? Jadi apa ?

Mul : Ya saya setuju.

Tobucil : Hah ? Setuju sama apa ?

Mul : Setuju kalau fana tidak kekal.

Tobucil : (sambil berpikir kapan ada pernyataan “tidak kekal” yang tiba-tiba disetujui Mul) Jadi … menurut lo contoh kefanaan itu apa ?

Mul : Ya manusia.

Tobucil : Karena …?

Mul : Karena mati meureun (mungkin) … hehehe …

Mbak Tarlen : Ayam nggak mati, ya, Mul ? Gimana, sih, ini lulusan Gontor ?

Mul : Grogi abdi, baru pertama diwawancara-wawancara gini soalnya … hehehe …

Tobucil : Terus kegrogian fana, nggak, Mul ?

Mul : Nya fana atuh, maeunya (ya fana, dong, masa) grogi terus ?

Tobucil : Terus kapan kegrogian lo berakhir ?

Mul : Kapan, ya ? Tergantung situasi. Ya … kalo diwawancaranya sambil … (senyum-senyum) sambil ada yang diemil, aya pizza misalna …

Tobucil : Tuh, ngemil korek api aja sana. Merknya kan tiga durian, kali rasa durian, Mul …

Mbak Elin : Ada, ada … (masuk ke dalam, mengambil sekotak brownies, lalu meletakannya di hadapan Mul).

Mbak Upi : Kita lihat, ya, ada perubahannya apa enggak !

Mul : Ieu naha wawancarana tentang fana (Ini kenapa wawancaranya tentang fana) ?

Tobucil : Soalnya minggu depan blog Tobucil temanya ‘fana’. Gini, deh, pas di Gontor lu diajarin nggak fana artinya apa ?

Mul : Harusnya ada, beneran. Masuknya pelajaran usuudin, ilmu asal usul yang membahas tentang agama. Nya … aya, sih, tentang sifat-sifat Tuhan. Lamun (kalau) kekal kan baqa. Tak kekal teh … fana. Nya, bener-bener. Fana kebalikannya.

Tobucil : Ok. Lu sendiri pernah, nggak, ngerenungin kefanaan ?

Mul : Sering jigana mah (sepertinya, sih). Tapina teh … ya … nu ecek-ecek (dangkal) misalnya … tentang hidup …

Tobucil : Buset ! Hidup itu ecek-ecek, ya, Mul ?

Mul : (sambil senyum-senyum khas Mul) Oh henteunya (enggak, ya) ? Abis … lamun dibeurat entar lieur (pusing). Nanti sayanya tambah botak. Soalna … hidup mah kitu. Kita berusaha, berjalan, akhirnya kita menemukan arti kenfanaan, ya maot (mati) itu (kemudian Mul mulai mencomot brownies yang terhidang).

Tobucil : (memperhatikan Mul mengunyah) Nah … kalo makan-makan itu fana, nggak, Mul ?

Mul : (dengan mulut penuh kue) Teu … teu fana jigana, mah … kan akan terus dilakukan.

Tobucil : Lah … emang kalo udah mati orang masih makan-makan juga ?

Mul : Enggak (nyam-nyam), yang makan-makan bukan saya, tapi … itu kali (nyam), bakteri akan memakan tubuh saya …

Tobucil : Tapi itu artinya hidup kan terus ada juga. Misalnya elu mati, bakteri tetep hidup.

Mul : Iya juga, sih … (tampak berpikir sambil terus mengunyah) tapi kalo dilihat dari segi … naon-nya ? Dari visinya, hidup itu fana. Dunia fana. Tah, eta, filsafat nyambung. Kalau dilihat dari katanya, “makan” sama “hidup” itu tidak fana, tapi kalau dilihat dari visinya jadi fana, soalnya tidak ada yang abadi.

Tobucil : Okeh. Terus gimana lu menghadapi hal-hal yang udah lo sadarin fana, Mul ?

Mul : Pasti mah selalu optimis, ya, namanya hidup harus optimis. Lamun henteu, saya mempercepat kefanaan itu menjadi sesuatu yang tidak ada. Kan ada takdir, jadi saya berusaha menjalani takdir itu dengan sebaik-baiknya.

Tobucil : Sip ! Ok, segitu dulu. Sana makan-makan lagi, Mul. Makasih, ya …

Sementara Mul asyik mengunyah brownies yang tersedia, Tobucil berpikir sambil senyum-senyum sendiri, “Mungkin inilah cara Mul membuat fana tak segera jadi sesuatu yang tak ada. Makan yang banyak supaya sehat … hehehehe …”

Keesekon harinya, dalam ibadah puasa, Mul akan mengerem kegiatan makan-makan yang dicintainya. Bukan untuk mempercepat kefanaan menjadi yang tak ada ; justru untuk memahami yang tak ada bernama baqa.

Sundea

 

fotodua

fototiga

 

 

 

 

 

 

Biodata Mulyana

biodatamul

Google Twitter FaceBook

Kefanaan “Life is Just a Game” dan Kenanaan “Gelang Mote”

VESKY Judul Buku : Vesky, Life is just a game

Pengarang : Telly Masri S.T

Harga Buku : Rp, 28.500,00

Harga Tobucil : Rp. 25.700,00

Novel ini menceritakan tentang kehidupan cinta, persahabata, keluarga, dan teka-teki kehidupan seorang Vesky yang selama ini menjadi pertanyaan hidupnya. Vesky sangat bersyukur sekali karena memiliki sahabat seperti Sasky, namun semuanya berubah seperti apa yang bernah ia takuti selama ini.

Apa yang ditakutinya ?

----

Gelang Mote

Harga : Rp. 10.000,00

kenanaan

Created by Nana

Di tengah tema kefanaan pada blog edisi ini, kami menghadirkan kenananaan dalam bentuk gelang-gelang cantik. Masih tersedia berbagai warna-warni menarik lainnya. Ayo, jangan sampai ketinggalan, persediaan terbatas.

Google Twitter FaceBook

Amor Fati Fatum Brutum

 

-Tobucil, Rabu 19 Agustus 2009-

Rudolfo Eduardo Hartanto menyambut Ramadhan dengan men-daito (menjiplak menggunakan karbon) gambar tengkorak. “Ini kan badan manusia yang udah nggak ada jiwanya lagi. Kalau udah begini, mau apa, coba ?” Mas Tanto mengajukan pertanyaan retoris.

Sebuah proyek di Kamerun membuat Mas Tanto mulai menggarap karya-karya yang gelap. “Tadinya saya kira Indonesia negara paling ancur, ternyata Kamerun lebih ancur lagi. Saya tinggal di tengah-tengah kampung kumuh lalu saya stress karena saya pikir orang-orang di sana lebih butuh sanitasi daripada seni,” papar Mas Tanto.

Menurut Mas Tanto, tengkorak adalah ikon universal, “Ini bisa saya, bisa kamu”. Tengkorak juga menunjukkan kefanaan dan bisa menyimbolkan penderitaan asazi dalam ajaran Budhis ; sakit, tua, dan mati.

Meski penuh dengan derita, Mas Tanto melontar ungkapan Latin yang membuat hidup jadi tak tampak terlalu muram : “amor fati fatum brutum” alias “cinta pada takdir meski takdir itu brutal”.

Rencananya Mas Tanto akan membuat tujuh sampai dua belas panel gambar seni daito yang akan direspon oleh Klab Hobi. “Medianya akan fancy, makanya saya kasih gambar yang brutal supaya kelihatan ketegangannya. Saya juga penasaran hasilnya nanti gimana,” ujar Mas Tanto dengan mata berbinar.

Seperti apa kira-kira gambar-gambar brutal ini jika direspon dengan benang warna-warni, payet, crochet, dan hal-hal manis lainnya ? Kegiatan ini akan dilangsungkan sepanjang bulan Ramadhan. Nantikan kisahnya di blog kesayangan kita ini ;)

Hmmm … mungkinkah “amor fati fatum brutum” akan menjelma jadi “romantika di Amor” jika diwarna dan diwarni ?

Sundeamastantonggambar

Google Twitter FaceBook

Belenggu

-Tobucil, Rabu 19 Agustus 2009-

clip_image002

Foto dipinjam dari sini

~Setelah perjuangan beberapa kali mengelilingi taman lalu lintas dan bertanya ke beberapa orang, akhirnya orang ke 5 membantu menunjukkan tempat yang saya cari-cari. Cukup sulit menemukan tempat itu bagi orang awam seperti saya. Tapi semua usaha dan kekesalan itu terbayar tuntas dengan apa yang saya dapatkan kemarin malam, di Tobucil.~

Ini kali pertama saya mendatangi Toko Buku Kecil yang biasa disingkat dengan “Tobucil”. Saat pertama menginjakkan kaki di sana saya sedikit bingung. Tak ada papan penunjuk lain selain kata open di bagian dalam sebuah rumah. Dengan semua keberanian yang ada saya beranikan diri untuk masuk dan melewati kerumunan di kantin depan toko buku itu, semua asing. Tapi saya berkata dalam hati, “Kalau pulang sekarang, sia-sia usaha saya ngiter-ngiter setengah jam untuk mencari tempat ini! Bless me God!” .

Setelah beberapa waktu melihat-lihat toko buku tersebut, saya menemukan sebuah buku yang membuat saya tertarik dan memutuskan untuk memboyongnya. Dengan sisa keberanian yang ada saya beranikan diri untuk sedikit bertanya tentang klab yang diadakan Tobucil. Sebenarnya tentang hal itu telah saya ketahui dari blog, hanya saya tak yakin bagaimana cara ikut serta dalam klab tersebut. Sedikit bersiasat tak apa lah! Yipy.. mbak kasir menunjukkan di mana madrasah falsafah yang memang adalah tujuan saya datang ke sini, bahkan mengantarkan saya. Terima kasih mbak! Kita akan sering bertemu nantinya, saya harap.

4 orang pertama yang saya kenal di madrasah falsafah, Mas Tanto yang waktu itu sedang sibuk menyelesaikan karya tengkoraknya, Mas Ami yang sedang asyik merokok, Mbak Eci dan Mbak Winni yang sibuk bermain laptop. Semuanya sangat welcome dengan kedatangan orang baru ternyata. Hanya sesaat saya merasa canggung, lalu semua mencair bersama dengan waktu. Tak lama saya bertemu dengan Dea, seseorang yang sering saya baca tulisannya di blog tobucil. Tak lama Mas Amipun membuka madrasah filsafat hari itu yang bertema “belenggu”.

 

IMG_0826

Dimulai dengan kutipan Plato yang berkata “Tubuh kita adalah sesuatu yang membelenggu kita di dunia.” ( koreksi saya jika salah! =b ) diskusi itupun dibuka. Ini lebih seperti bincang-bincang bermakna ketimbang diskusi bagi saya. Tak ada aturan pasti dan tertulis di sini, setiap orang bebas menimpali dan mengeluarkan uneg-uneg pemikirannya, saya suka.

Selama ini manusia selalu terikat dengan belenggu. Ntah itu belenggu yang disadari ataupun yang tidak disadari. Peraturan tertulis dan tidak tertulis yang membelenggu, norma, mitos serta kepercayaan-kepercayaan yang ada di suatu daerah juga merupakan belenggu tersendiri. Status sosial, derajat, gender, orang tua, serta segala petatah dan petitih nenek moyang yang mungkin saja menjadi belenggu bagi sebagian orang.

Bagaimana hidup manusia tanpa “belenggu” ? Dea menimpali, jika manusia hidup tanpa belenggu, kebebasaan yang mutlak itupun akan menjadi “belenggu” yang lebih mengerikan bagi manusia. Jadi sebenarnya belenggu itu perlukah? Tanpa belenggu manusia terbelenggu dengan belenggu manusia merasa belegug?! Lho? Itu hanya omongan usil Mbak Eci yang coba menghubungkan belenggu dan belegug.

Saya coba merangkum ketakjelasan belenggu kata-kata di atas. Kata-kata sendiri sebenarnya belenggu bagi rasa dan pikiran yang sedang kita rasakan. Tapi tanpa kata-kata kita justru tak bisa mengungkapkan perasaan kita, yang lalu dapat dimengerti oleh semua orang. Sebenarnya mengungkapkan cukup berbeda dengan dimengerti. Itu 2 hal yang tak bisa disamakan! Untuk kasus ini, kata-kata lebih dibutuhkan untuk berhubungan dengan orang lain, dimengerti.

Saya coba merangkum semua hal yang saya dapatkan di Tobucil kemarin malam tentunya tak lepas dari keterbatasan dan belenggu-belenggu saya. Belenggu saya umpamakan sebagai bingkai! Bingkai itu sesuatu yang menghalangi sekaligus melindungi. Bingkai yang terlalu ketat akan membuat benda yang dilindunginya menjadi rusak, alias “pagar makan tanaman”. Bingkai yang terlalu longgar malah akan menghabiskan tempat secara berlebihan. Tanpa bingkai terkadang malah membuat si empunya terluka dengan segala kebejatan yang ada.

Saya secara pribadi lebih memilih untuk berkompromi dengan bingkai tersebut. Ntah karena saya telah terlalu terbiasa dengan bingkai saya, dan tak berani berpikir apa yang akan saya hadapi tanpa bingkai itu. Tapi itu pilihan saya! Kadang menggelitik tanya dari balik kalbu, apakah saya akan tetap menjadi saya tanpa bingkai saya yang ini? Bagaimana jadinya saya dalam bingkai yang lain? Pertanyaan unik yang tak berujung menurut saya, toh sekarang saya di sini dengan bingkai itu. Rasanya tak perlu lagi mempertanyakan seperti apa jadinya saya tanpa “bingkai” itu.

Pengetahuan baru yang luar biasa menarik tentang asal muasal tarian Salsa, saya dapatkan dari Mbak Eci. Tarian salsa yang mempunyai langkah kecil-kecil tersebut, berasal dari budak belian perkebunan kopi yang ada di Brazil. Budak belian yang terbelenggu secera fisik dengan rantai, masih bisa bebas berkreasi dan menciptakan sebuah tarian yang begitu indah. Cerita yang benar-benar menginspirasi!

Sedang kita yang bebas secara fisik malah sering membelenggu diri dengan pikiran-pikiran kita. Yaa..lupa saya cantumkan! Pikiran adalah belenggu terberat yang pernah ada, setidaknya begitu menurut saya. Orang yang terbelenggu secara fisik masih dapat dibantu. Sedang orang yang terbelenggu pikirannya, akan sama saja dengan orang yang menderita kanker stadium tinggi. Penyakit itu akan terus dan terus menggrogotinya hingga yang tertinggal adalah kosong.

Jadi intinya kita sedang dalam pencarian belenggu. Belenggu yang bisa diajak berkompromi menurut Mas Ami. Pendapat lucu yang saya suka keluar dari mulut mbak Eci, “ya.. belenggu yang tidak belegug!”. Jikalau saya boleh sedikit menambahkan, saya sedang dalam pencarian belenggu yang tidak membuat saya menjadi belegug!

Belenggu itu sesuatu yang mau atau tidak mau memang kita butuhkan. Menyadari kehadiran belenggu itu dan belajar untuk beradaptasi dengannya adalah 2 hal awal yang saya nilai butuh untuk kita masing-masing lakukan agar tidak menjadi belegug karena belenggu! Buatlah belenggu itu menjadi bingkai yang akan melindungi kita bukan malah menyakiti! Mari sama-sama melanjutkan perjalanan ini, hingga akhirnya kita lepas dari belenggu kita di dunia, yaitu tubuh.

Bandung,2009-08-20

Ivy

fotolia

Ivy adalah lulusan Fisika Universitas Parahyangan. Saat ini ia menjadi Public Relation Manager di Bengkel Sains. Ivy suka membuat tulisan-tulisan yang sifatnya kontemplatif.

 

 

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan  juga foto diri dan biodata singkatmu

Google Twitter FaceBook

Tembok Ratapan

-Tobucil, Jumat 21 Agustus 2009-

temratdibungkus

“Kata Nia tembok ratapan itu boleh dibuang aja,” kata Mbak Tarlen, bos Tobucil, di tengah rapat mingguan pengurus. “Saya yang bilang jangan dibuang. Sayang, masih bisa dipake. Kemaren juga dipake lagi pas Crafty Days nggak ada hiasan,” tanggap Wikupedia, koordinator Klabs Tobucil. “Jadi gimana, dong ?” tanya Mbak Tarlen.

Modular-modular Tembok Ratapan menunggu pasrah. Mereka yang meringkuk berdesakkan dalam kantung plastik besar masih bersandar di tembok muram lainnya ; tembok hijau di antara Tobucil dengan rumah nenek.

Tembok ratapan adalah karya yang dibuat Klab Origami untuk pameran di Semarang sekitar tahun 2007. Konsepnya tembok yang memenuhi ruangan. Sayangnya, karena kurangnya perhitungan dan stamina, karya itu tidak selesai dan tak jadi dipamerkan. “Yah, tidak semua karya bisa dieksekusi juga. Kegagalan adalah resiko yang perlu ditanggung,” ujar Mbak Tarlen.

Lalu mengapa karya ini dinamai tembok ratapan ? “Sebenernya iseng, sih,” sahut Mbak Tarlen sambil tersenyum. Meski begitu, diakui perjalanan karya ini penuh jerih dan ratapan. Ia pun berakhir di sebuah celah miskin cahaya. Meratap tanpa suara bersama tikus dan sarang laba-laba.

Ketika melihat-lihat foto Tembok Ratapan saat dibangun dengan penuh harapan, Tobuciler tahu-tahu merinding.

membuatembokratapan 

“Tembok Ratapan” adalah nama sekaligus nubuat. Sejak awal takdir tahu bahwa dirinya fana …

Sundea

Klik di sini untuk melihat foto karya-karya Klab Origami

Google Twitter FaceBook

Munggahan, Munggahan

 

Menjelang ibadah puasa, Kru Tobucil pun bermunggahan ria …

 

escampur

pizza

 

 

 

 

 

 

 

makanmakan

 

 

pocky

brownies

 

 

 

 

 

 

 

Sundea

Jika menemukan obyek menarik di seputar Tobucil, jangan ragu memotretnya dan kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu.

Google Twitter FaceBook

Balada Konser yang Tertunda

 

Malam itu ada konser lagi, letaknya sama, CCF namanya. Namun pengisinya beda lagi, sekarang bernama Fauzie Wiriadisastra dan Andrew Sudjana. Siapa mereka? Yang satu pemain flute, satu lagi piano, mereka main bersama, namanya duet. Lagu pertama, konsepnya cukup unik, Fauzie minta tiada lampu satupun yang dinyalakan, auditorium gelap gulita. Penonton celingak-celinguk, setelah disuguhkan MC yang tidak muncul ke panggung (invisible kalo bahasa YM), sekarang mereka dihadapkan pada kegelapan. Lalu sayup-sayup terdengar bunyi suling baja itu, mengalun lirih dan merintih. Menyanyikan karya Debussy berjudul Syrinx. Apa itu Syrinx? Itu nama alat tiup yang dipakai Pan, Dewa dalam mitologi Yunani yang mirip kambing. Saat itu Fauzie masih sendiri, Andrew gundah gulana di samping panggung. Beres lagu pertama, panitia menyalakan lampu, oh, penonton lega, melihat kerabat di kiri kanannya masih ada. Sekarang Andrew naik panggung, jadilah mereka berdua.

fauzie andrew

Andrew dan Fauzie

Lagu kedua katanya susah sekali. ”Main Bach itu, orang yang belajar sebulan dan setahun bisa sama saja hasilnya, bahkan sering lebih bagus yang sebulan,” demikian pengakuan Fauzie kepada Tobuciler. Lalu Tobuciler mengamati, ah, tidak, mereka tetap bermain apik biarpun belajar sepuluh bulan. Iya lah, Fauzie kan bilangnya sebulan atau setahun, sepuluh bulan tidak ia teliti. Sesi pertama ditutup dengan lagu karya komposer lokal berjudul Rescuing Ariadne. Komposer lokal itu yakni Ananda Sukarlan.

Masuk sesi dua, diawali piano solo dari Andrew Sudjana, judulnya Jeux d’eau karya Maurice Ravel. Kau tahu, lagu inilah yang membuat Andrew cedera sehingga konser yang seyogianya tanggal 31 Juli itu jadi kamis kemarin. Awalnya cederanya memang gara-gara jatuh menahan motor, namun saat itu tak terasa apa-apa. Puncaknya terjadi ketika ia berlatih Jeux d’eau ini. Yang membuat ia langsung menelpon Fauzie di tengah malam tanggal 29 Juli, mengabarkan hal buruk yakni pembatalan hari konser. Tapi di konser kemarin Andrew nampak prima, tak terasa itu bekas-bekas cedera. Penonton memberi aplaus panjang, yang artinya mereka senang. Sesi kedua konser ditutup oleh suita dari John Rutter dan Concertino Op. 107 dari Cecile Chaminade. Dua lagu yang menarik itu membuat penonton tepuk tangan tak berhenti, namanya encore. Encore menghasilkan kedua pemain yang mestinya pulang, jadinya naik panggung lagi, memainkan lagu bonus. Yang ini lagunya terkenal, judulnya Badinerie karya Bach, mengapa terkenal? Karena sering dijadikan ringtone HP Nokia. Konser ditutup dengan pembagian karangan bunga. Semua senang, senang semua, viva la musica.

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

I Know Her Since I was 5 : fur Merry :

merry 13 Juli 1979 – 20 Agustus 2009

satu tk. satu sd. sahabat dekat dia ketika smp adalah sahabat dekat saya ketika sma jadi pas sma, kami main bareng lagi, lalu ternyata kami dipertemukan lagi di bangku kuliah meski beda jurusan. selesai kuliah, setelah sempat jeda karena kesibukan masing-masing dan dia tampak menganggur, saya ngajak dia kerja bareng, tahun 2006 sampai tadi pagi, 20 agustus 2009 jam 3 subuh ketika sebuah dering telepon mengabarkan kalau salah satu teman terbaik saya yang baru saja saya tengok di rs hasan sadikin sekitar setengah jam sebelumnya telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

saya pikir saya akan lumayan kuat menghadapi ini. setahun ini kondisinya memang tidak fit. kalau lagi banyak pikiran, biasanya fisiknya ikut nge-drop. sudah beberapa kali sebetulnya dia masuk rumah sakit. hari terakhir dia masuk kerja adalah tanggal 13 juli 2009. hari itu di omuniuum, saya dan beberapa teman merayakan ulang tahun omu juga ulang tahun dia yang ketigapuluh. dia punya dua tanggal ulang tahun, 13 dan 16 juli. 13 itu kalau tidak salah di akte, tapi di ktp ditulisnya 16 atau sebaliknya atau dari dulu dia ngarang soal tanggal, saya lupa alasannya. intinya, meskipun saat itu kondisinya tidak sedang fit, kami berhasil memaksanya mengambil sepotong pizza sambil menyanyikan selamat ulang tahun. besoknya dia meminta izin untuk tidak masuk kerja, migrain katanya. besoknya dan besoknya juga. sampai akhirnya saya dapat kabar kalo dia masuk rumah sakit salamun, ciumbuleuit. pas ditengok, saya lapor sama banyak orang biar banyak yang nengokin ke rumah sakit. saat itu dia sudah tampak tidak seperti merry yang saya kenal. soalnya merry dari dulu ngga' pernah suka ditengokin orang kalo sakit. dia bisa bete berat ke saya kalo saya bilang-bilang sama orang lain buat nengokin dia. saat itu dia malah sempat bilang tidak perduli kalo banyak yang nengok. satu minggu lebih hampir dua minggu dia di rs salamun. sempat ngedrop, ngga' mau makan dan ngga' mau ngapa-ngapain. tes yang positif saat itu adalah TBC. hasil ct-scan-nya bersih. ada satu tes lagi, tapi keluarga menolak karena saat itu kondisinya mulai membaik. mau ngobrol, mau makan, mau makan obat. mau sembuh katanya. saya masih ketawa-ketiwi kalo nengokin dia. godain. ngeledekin. dia masih bisa nyengir. lalu keluarlah dia dari rumah sakit dan saya sesudah itu ngga' nengok dia di rumah selain karena sibuk, saya cukup dibuat kesal ketika satu saat kemarin, dia masih saja mengingat pekerjaan yang dia tinggalkan di omu, padahal saya ingin dia konsentrasi aja sama kesehatan dia. jadi saya memutuskan untuk menunggu kemunculannya di omu seperti biasa. tapi dia ngga' datang-datang.

akhirnya, saya sms ke hapenya dia nanyain kabar terakhirnya. balasan sms datang dari teman terdekatnya saat itu, isinya begini : "boit, merry ngedrop lagi udah dua hari. ini mau dimasukin rs lagi. sorry baru kabarin sekarang."
saya ngga' tau mau bereaksi apa. setelah memastikan saya akan dapat kabar lanjutan tentang rs mana dan ruangan apa, saya menjalankan sisa hari itu dengan menyelesaikan kerjaan di toko, mengajak teman menonton konser disela-selanya bikin thread untuk teman-teman terdekat tentang update kondisi merry, bersms-sms ria tentang kabar terakhir yang datang dari adiknya merry mengabarkan merry dirawat di icu rs hasan sadikin. sembari melakukan ini dan itu, berlaku seperti biasa, diam-diam saya berpikir keras tentang kemungkinan yang terburuk, bagaimana kalau kali ini merry benar-benar menyerah ?

jam 1 malam. saya sms ke teman terdekatnya, baru beres nih semua-muanya, otw kesana. sampailah saya dan mastrie ke icu. celingak-celinguk depan daftar pasien. ngga' ada nama merry.
sms lagi, dimana sih ?
"ruang saraf lt.2"
celingak-celinguk lagi. kesana kemari. ternyata beda sayap. sembari ngomel-ngomel karena legend petanya ngga' jelas, akhirnya kita menemukan merry.

tapi kali ini dia sudah tidak sadar. saya pegang tangannya. lalu melepasnya, duduk ngobrol dengan ibunya. lalu kembali memegang tangannya. ada banyak yang saya ingin sampaikan. tapi yang akhirnya sanggup saya bisikkan ke telinganya adalah dua kalimat syahadat dan sepenggal kalimat, "mer, gimana lu deh. gue mah nurut sama lu aja".

saya pegang dadanya. detak jantungnya saat itu masih sangat terasa. saya pegang lagi tangannya. dalam hati saya meminta kemudahan dan kemurahan hati-Nya apakah sembuh atau justru sebaliknya, saya meminta semuanya dimudahkan. lalu sisanya saya cuma bisa pegang tangan merry sembari mikir, begitu banyak janji kita yang belum selesai, begitu banyak hal-hal yang ingin saya ceritakan sama dia, begitu banyak rencana ini dan itu yang belum sempat terwujud. abis itu saya pamit pulang, mer, besok gue kesini lagi ya. gue balik dulu.

lalu pulang. beli popmie di circle k. nyampe rumah. ngidupin tipi. masak popmie. makan. dering telepon. dua kali. tiga kali. liat namanya, lalu saya angkat.

boit, merry udah ngga' ada.

saya merasa hati saya patah. ketika jam 3 subuh setelah menutup telepon yang mengabarkan kematiannya. menuliskan tiga rangkaian kalimat di status fb, pontang-panting kesana kemari, ganti baju, nyamber pashmina, cari tas, yasin, setengah berlari ke garasi. naik mobil. nyampe rumah merry. ngegedor pintu pagar. nyuruh ini itu. beresin ini itu. nyuruh jemput ibu dari salah satu teman baik kita berdua yang saat ini sedang berada di jerman.

sembari mengerjakan persiapan menyambut jenazah, saya menelepon teman-teman satu persatu yang kira-kira belum dikabari. saat itu airmata saya mulai runtuh. setiap kali memencet nomer di phonebook. lalu mengabarkan dan menunggu reaksinya, saya beberapa kali mengiyakan, menjawab pertanyaan, begitu terus. entah berapa orang. sms mulai masuk. telepon juga terus berbunyi. tamu terus berdatangan.

memandikan jenazah. dikafani. dishalatkan.

satu persatu teman berdatangan. hampir jam 9. saat itu airmata saya tidak ada lagi yang bisa saya tahan. dalam hati saya terus memanjatkan doa. sembari tetap menjawab semua pertanyaan yang datang bertubi, kenapa merry, kenapa merry, kenapa merry ? kenapa ga dikasi tau ? kenapa baru ngasi tau sekarang ? bohong, masak sih ? iya, dia udah ga ada. komplikasi tbc adalah diagnosis yang paling dekat dengan penyebab kematiannya. iya, jam 9 lewat tadi, dia dimakamkan di pemakaman umum jati, cisaranten, ditengah langit biru dan matahari yang silau. kami yang sempat mengantarmu, menyaksikan jasadmu ditutup tanah merah.

selamat beristirahat ya mer, titip salam buat semua yang udah duluan disana.

i know her since i was 5

terlalu banyak cerita. terlalu banyak kenangan. terimakasih untuk seluruh tahun-tahun yang kita jalani, untuk kamu, seorang yang pintar, berantakan, short memory, suka salah denger, ngga' suka cipika cipiki, hobi menyenangkan orang, tanggung jawab, suka berbagi, seseorang yang sebetulnya sangat perempuan, rapuh tapi begitu senang menanggung beban banyak orang, keras kepala, hati-hati ketika berhadapan dengan uang, kamu, yang ngajarin saya begitu banyak kenakalan sekaligus kebaikan. kamu yang cuma dengan kamu, saya bisa maki-makian dengan sangat kasar tapi sekaligus menyenangkan. kamu yang sempet saya sebelin ketika jadi junkie. kamu yang saya banggakan ketika ipk lebih dari 3. ketika semua pekerjaan administratifmu sangat bisa dipakai di banyak tempat. ketika ilmu kuliahmu masih bisa dipakai buat ngebantuin orang nerjemahin naskah jerman. kamu yang paling curiga sama mastrie waktu pacaran sama saya sekaligus selalu ikut kemanamana. kamu, wawa buat rintik, tante buat bunga, attar, nabil dan banyak anak temanmu yang lain. kamu dengan semua rencanamu yang belum terwujud. untuk semua tawa, tangis, rasa sayang kamu. semua terlalu banyak untuk diceritakan. banyak yang orang ngga' tau kalo sebetulnya kamu sangat mencintai banyak hal. banyak yang ngga' sadar kalo kamu diam-diam berubah dari satu orang yang tertutup jadi satu pribadi yang sedikit demi sedikit terbuka dan kemudian disayangi banyak orang.

sebagai salah satu teman yang dalam 4 tahun ini sangat banyak menghabiskan waktu bersama, saya akan bilang ini memang cara-Nya meyayangi merry. saya memilih untuk mengangeninya daripada melihatnya selalu meringis menahan sakit.

me heart you. we heart you.

boit. bunga. mastrie. omuniuum. semua keluarga. semua teman. semua yang ditinggalkan.

Wikupedia, koordinator Klabs juga menulis tentang Merry. Klik di sini


fotombaiitBoit adalah pemilik Omuunium (small shop for reading and listening) dan sahabat Merry.



foto: dok. Boit

Segenap Kru Tobucil mengucapkan turut berduka cita atas kepergian Merry


Kirimkan tulisanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu

Google Twitter FaceBook

Jika Serigala Berbulu Imitasi Bertanya


kaksyarafasuhan Kak Syaraf Maulini






Pertanyaan dari Serigala Berbulu Imitasi (via message FB):

Fiat Justitia

Kepada Yth :

Bung Syarap Machiavelli

Di tempat

Terima kasih atas undangannya untuk memberikan pertanyaan di forum terbuka ini. Saya sendiri memang memiliki beberapa kegundahan di hati, yang selama ini selalu ditahan seperti kentut, sehingga menimbulkan komplikasi berkepanjangan, entah itu sembelit, krisis pede, hingga flu jurig.

Beberapa pertanyaan sekaligus kegundahan itu antara lain :

  1. Apakah sosialisme a la Marx, liberalisme a la John Maynard Keynes, dan neoliberalisme a la Milton Friedman memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan musik klasik di Bandung?
  2. Mengapa proses menuju buka puasa dinamakan ngabuburit? Apakah ada kaitannya dengan palu arit?
  3. Bagaimana pendapat anda sebagai Indon mengenai konflik dengan negara tetangga?
    Demikian pertanyaan saya bung. Semoga emisi gas buang saya ini bisa berguna untuk kemaslahatan semua ummat.

Pro Deo et Justitia

Jawaban dari Kak Syaraf:

Fiat Justitia, Ruat Caelum

Baiklah, saya akan mencoba menampung kentutmu yang kekiri-kirian ini.

  1. Marxis berkata, ”Masyarakat jangan ikut campur soal ekonomi, agar negara saja yang totaliter, sehingga mudah itu tercapai kondisi sama rata sama rasa.” (sumber: Manifesto Komunis) Lalu revolusi Keynesian berkata. ”Negara sulit mencapai kondisi full-employment tanpa intervensi pemerintah. Maka jangan posisikan buruh sebagai penawaran semata, tapi juga permintaan.” (Buku Ekonomi SMA) Lalu Friedman mengatakan, ”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.” (pasal 28 UUD ’45) Baik, lalu apa pengaruhnya dengan perkembangan musik klasik di Bandung? Dari Marxis, diajarkan bahwa untuk sama rata sama rasa, aplikasinya adalah jual tiket konser bagi semua orang dua puluh ribu. Lewat Keynes, diajarkan bahwa kita mesti mencicipi SMA dulu karena soal Keynes ada di buku SMA. Apa hubungannya SMA dengan musik klasik di Bandung? Belum tentu ada, tapi tamat SMA jelas sesuatu yang baik. Terakhir, tanpa Friedman, jelaslah tak ada konser-konser yang kumpul-kumpul itu. Jadi cukup jelas bahwa ketiga orang itu adalah Bapak Musik Klasik Bandung.
  2. Baiklah, begini, ngabuburit itu asal katanya burit, sepertinya bahasa indonesianya adalah senja, atau kondisi sore menjelang malam hari. Jadi ngabuburit itu berarti ”menanti senja”. Adakah hubungannya dengan palu arit? Ada, ada, dengan atau tanpa palu arit kan, senja pasti datang.
  3. Oh, soal konflik negara tetangga, saya berpendapat begini: budaya bukan soal-soal batas negara. Karena pengaruh budaya selalu meluas melampauinya. Jadi kala negara tetangga mengklaim, terus kita kebakaran kumis, itu dua-duanya, menurut saya, sama-sama aneh. Budaya adalah identitas kultural, dan tak usah menggunakan jalur hukum untuk mengesahkannya. Semua orang tahu Tari Pendet dan Rasa Sayang-Sayange milik siapa lewat seleksi kultural yang alamiah. Malu nih, ributin budaya dicuri tetangga, padahal kerjaan kita adalah meniru-niru budaya Amerika, Eropa, dkk. Masih mending Amerika, Eropa punya nenek moyang berjauhan sama kita, Malay? Sepertinya sama-sama saja nenek moyangnya, wajar kalo tradisinya bisa sama. Edan, saya jadi serius gini.

Semoga emisi anda menjadikan puasa eksis dengan candilnya.

Pro Deo et Hotel

----

Kirim pertanyaanmu tentang apaaaaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf akan menjawabnya

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin