Sunday, September 27, 2009

Senja

Secara teknis senja adalah sisa, tapi secara nuansa dia pesona yang ajaib. Ia menjantungi lagu-lagu dan karya sastra, menjadi obyek fotografi yang populer, serta menghadirkan rasa sentimental yang khas. Lembayungnya merangkum warna seluruh hari, membiaskan kecantikan yang diarifkan pengalaman.

Secara teknis Idul Fitri yang telah berakhir adalah sisa, tapi secara nuansa dia pesona yang ajaib. Ia menghadirkan rasa sentimental yang khas dan menjantungi kebaikan yang akan kau jalani. Ia pun merangkum ibadahmu sepanjang Ramadhan lalu membiaskan kecantikan auratif yang diarifkan kesabaran.

Minggu ini blog Tobucil membentang warna-warna senja. Ada Deni Rachman dengan Dipan Senjanya, ada Lelaki Pembawa Senja di “Rak Tobucil”, ada foto-foto buka puasa bersama, ada cita-cita Mbak Tarlen membangun “Rumah Senja”, ada “Anak-anak Senja” karya Mas Bebeng, ada foto senja di Bale Pustaka tangkapan Wikupedia, ada kisah mengenai klab-klab yang diadakan senja hari di Tobucil, ada Senja di Batas Kota dan Senjata Makan Tuan di offclinic, dan ada senja di Gramedia dalam “Salamatahari”.

Teman-teman, seperti apa senjamu ?

Semoga kamu merasa hangat dibalut warnanya …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

fotosisapizza

Google Twitter FaceBook

Membincangkan (Dipan) Senja Bersama Deni Rachman feat. Nita

denimainpic Sejak Tobucil masih bayi, Deni Rachman sudah menjalin pertemanan dengan toko buku kesayangan kita ini. Ia mendistribusi buku bersama Lawang Bukunya, aktif di Klab Baca Pramoedya Ananta Toer, bahkan mendirikan Dipan Senja, sebuah Literary Agent yang berkembang cukup progresif hingga saat ini.

Pada suatu siang, di-featuruing-i Margareth Nita (freelancer Dipan Senja), kami membincangkan (Dipan) senja …

Tobucil : Den, menurut lo senja itu apa ?

Deni : Senja itu … sesaat yang menyesatkan.

Tobucil : Ha ? Maksudnya ?

Deni : Karena dikirain mau lama, gitu, enakeun, tapi ternyata sebentar. Padahal indah. Kan menyesatkan …

Tobucil : Ini semacem curcol (curhat colongan), ya ?

Deni : Enggak ….

Tobucil : Yakiiin … ?

Deni : Enggak, kan (gua) sering motoin senja, jadi ngalamin sendiri. Gua pernah tiduran di pasir, terus ngeliatin sambil motoin senja di Pelabuhan Ratu.

Tobucil : Hmmm … kalo gitu kenapa, dong, literary agent lo namanya Dipan Senja ?

Deni : Mau jawaban yang serius apa enggak, nih ?

Tobucil : Terserah.

Deni : Awalnya main-main. Kan di Common Room dulu ada dipan. (Gua dan temen-temen) dulu suka tidur-tiduran di sana kalo sore, terus Wiku yang ngusulin nama Dipan Senja. Dulu kita nggak pake nama “literary agent” segala, tapi udah punya idealisme bantuin penulis yang baru mau bikin buku. Yang pertama dulu bukunya Sigit Suranto, judulnya Sosialisme di Kuba, Idealisme Setengah Hati. Nah, terus dulu ada temen, namanya Sadan, ngeditin. Aku yang nerbitin, Wiku yang masarin. Cuma 200 eksemplar. Modalnya patungan sama temen-temen.

Tobucil : Wuow. Militan sekali. Kalo sekarang Dipan Senjanya berkembang gimana ?

Deni : Kalo sekarang mah jadi literary agent. Bukan ngurus naskah, tapi lebih ke konsultasi, event management, riset, sama ngegarap media literer. Jadi misalnya perusahaan ato apa mau punya media, kita yang ngegarap. Bedanya dulu non-profit, sekarang profit. Dulu komunitas, sekarang masuk ke Kongsi Lawang Buku.

Tobucil : Dan Lawang Buku adalah … ?

Nita : Dulu aku kira ada hubungannya sama Taman Lawang (sambil ketawa-ketawa)

Deni: Nggak, nggak ada hubungannya sama Taman Lawang, sama Lawang Sewu …

Tobucil : Kalo sama lawang-lawang ? (mendemonstrasikan gaya bermain layang-layang)

Deni : Ada, sekarang mah lagi tarik ulur sama penerbit …

Tobucil : Hmmm … maksudnya ?

Deni : Rahasia perusahaan, deh (senyum-senyum ngeselin)

Nita : Mending nggak usah diceritain kalo gitu mah …

Deni : Biarin, kan biar penasaran …(masih senyum-senyum ngeselin).

Tobucil : Jadinya sekarang main lawang-lawang di senja hari, ya ? Gimana rasanya ?

Deni : Rasanya … hangat … tapi menyesatkan. Soalnya mainnya senja.

Tobucil : Bawa peta aja, sono, ato kompas …

Deni : Ya… nantilah, taun 2010, bikin dulu petanya. Ada peta Y, Peta N …

Tobucil : Makanan, ya ? Petay, petan item …

Deni : Hahaha … yang belum dibikin peta U dan peta I.

Nita : Peta U itu uang, ya ?

Deni : Bukan, bukan. Kalo gitu semuanya jadi peta U. Sekarang bermain lawang-lawang dulu aja … nanti abis Lebaran baru pada ngumpul terus dibikin satu peta. Awalnya bikin pengumuman dulu, siapa yang berminat menjadi “peta” …

Tobucil : Apaan, sih, ini ? Coba tolong diperjelas. Saya bingung …

Deni : Jadi gini. Dipan Senja kan suka ada acara di Bale Pustaka. Terus Dipan Senja ngerecruit orang-orangnya dari Bale, biar anggota Bale Pustaka ngerasa punya acara juga kalo acaranya diselenggarain di Bale. Terus, buat yang berminat ngurus blognya dipan senja di www.dipansenja.blogspot.com, daftar aja ke dipansenja@yahoo.com.

Tobucil : Ooo … gitu,toooh … btw, dipan sama bale-bale kan emang sodaraan …

Deni : Iya, satu rumpun.

Tobucil : Kayak Malaysia-Indonesia, dong ..

Deni : Iya, tapi nggak mau berantem. Kalo satu rumpun berantem, dimanfaatin sama orang entar.

Tobucil : Hmmm … begitu, ya ? Ada pesen dari Dipan Senja buat pembaca ?

Deni : Ya itu tadi, pesan resmi dari Dipan Senja, satu rumpun jangan berantem, nanti dimanfaatkan sama orang.

Nita : Lucu, ya, analoginya peta …

Deni : Abis kamu yang mancing (menunjuk Tobuciler)

Tobucil : Ah, gua nggak suka mancing. Apalagi kalo pas mancing yang ketangkep Deni Manusia Ikan … hehehe …

Deni Manusia Ikan mungkin masih berenang di laut biasa, tapi Deni (bukan) Manusia Ikan berenang di laut literasi.

Laut Deni Manusia Ikan berwarna biru, sementara laut Deni (bukan) Manusia Ikan warna-warni lembayung senja.

Mari bermain ke pantai laut literasi, terutama ketika pantai biasa mulai sesak dengan turis …

Sundea

denifotodua

denidanita

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Deni Rachman :

biodataedited

Google Twitter FaceBook

Lelaki Pembawa Senja

lelakipembawasenjaJudul buku : Lelaki Pembawa Senja

Pengarang : Nazla Luthfiah

Harga : Rp. 23.500,00

Tokoh-tokoh rekaan Nazla adalah figure yang mempunyai karakter kuat, cenderung introvert, tetapi mempunyai minat-minat sosiologis-humanis terhadap yang terpinggirkan, terhadap yang destruktif. Tokoh-tokoh tersebut juga mempunyai rasa keingintauhuan yang besar terhadap sesuatu yang baru, terhadap yang berbeda. Rasa ingin tahu ini membuat tokohnya berminat untuk menembus batas-batas kaku yang telah dikonstruksi oleh masyarakat maupun institusi agama.

-Harfiyah Widiawati, Dosen Sastra Inggris Universitas Padjadjaran-

Google Twitter FaceBook

Komunitas Senja di Tobucil

Suatu hari Minggu, Tobuciler datang ke Tobucil. Niatnya mau latihan Ririungan Gitar Bandung, sekalian bertemu Wiku untuk bertanya soal beberapa komunitas. Komunitas apa saja? Yakni komunitas yang berkumpul di kala senja. Kenapa? Karena itulah topik blog Tobucil minggu ini: soal senja. Dan Tobuciler inilah yang mengusulkan untuk meliput komunitas yang berkumpul di kala senja. Begitulah ceritanya.

Tobuciler sebenarnya ingat, waktu belum terganggu jadwal bulutangkis dan ngajar, ada dua komunitas yang diikuti, yakni Klab Nulis dan Madrasah Falsafah. Pentingkah bulutangkis sehingga Tobuciler mengorbankan Klab Nulis? Ya, penting bagi kesehatan tubuh, tapi tidak penting untuk kita bahas disini. Kedua komunitas itu, ditambah Klab Klassik yang memang jadi urusan Tobuciler, memang aktifnya di kala senja. Nah, ketika bertanya ini itu soal Klab Nulis dan Madrasah Falsafah, Tobuciler mendadak bertanya hal yang lebih mendasar: Wiku, senja itu apa, ya? Tobuciler mengira Wiku akan langsung menjawab sesuai definisi Tobuciler, yakni senja=sore. Tapi tidak, ia pun tak punya definisi pasti. Langsung Wiku memaparkan tiga momen senja: senja awal, tengah, dan akhir. Awal yakni insting purba yang mengatakan, ”Wah, matahari sudah mau terbenam nih,” tanpa ada ciri-ciri fisik tertentu. Tengah adalah momen dimana matahari mulai terbenam. Akhir adalah momen ketika matahari sudah tak kelihatan, langit gelap, tapi mega-mega berpendaran.

Oh, sepertinya senja artinya tidak sedemikian sederhana. ”Definisi yang mengatakan bahwa senja=sore itu, menurut saya, merujuk pada waktu saja. Senja pada dasarnya adalah semacam momentum. Waktunya singkat sekali, dan sulit sekali menemukan situasi senja yang sempurna, yang mana saya baru menemukannya sekali,” kata Wiku. Dimanakah itu, Wiku? Dan kenapa kita jadi membicarakan ini? Meski menarik, tapi Tobuciler mesti ingat judul artikel yang mau ditulis, yakni soal komunitas yang berkumpul setiap senja. Sekedar informasi, Wiku menemukan senja sempurnanya baru-baru saja, terlihat dari Lanud Husein Sastranegara. Oh, alangkah menariknya senja, Tobuciler sungguh baru tahu dari Wiku.

Jadi, bagaimana Tobuciler mau menuliskan soal ”komunitas senja”, jika definisi senja itu sendiri sungguh tak sederhana? Tapi begini saja, yang Tobuciler rasakan, ada sesuatu yang menarik di kala mengikuti para komunitas senja itu. Komunitas senja, pastilah melewati dua suasana, yakni kala langit terang dan di saat langit gelap. Ada perbedaan: Kala terang, api pengetahuan seperti dipercikan kemana-mana, seperti bara dari arang di bawah sate yang sedang dikibas. Tapi ketika gelap, adalah seperti kau mampu melihat tembus pandang ke bawah akar pohon selesai hujan turun. Ada air, ya ada air, yang meresap melalui akar, diam ia sebentar di tanah, sebelum disalurkannya ke seluruh bagian tubuh pepohonan. Nah, di antara terang-gelap itu, Tobuciler merasakan: ada momen keoranyean. Momen yang, entah kenapa, kita yang berkumpul, mau berhenti sejenak. Menikmati remangnya suasana pergantian. Menikmati pergantian tanpa menjadi api dan air, hanya menjadi senja itu sendiri.

Maka mari kita berdoa, bahwa semoga para komunitas senja itu kelak menjadi senja juga.

Informasi Komunitas Senja Tobucil:

klabnulis copy Klab Nulis: Klab Nulis Fiksi berdiri tahun 2007. Dulu sempat ada Klab Nulis ketika Tobucil masih di KGU. Tapi yang ini beda, karena sistemnya kursus. Tutornya bernama Sophan Ajie, orangnya menurut ibunya ganteng dan beragama Katolik. Sekarang Klab Nulis telah selesai meluluskan angkatan kelimanya.



madfal

Madrasah Falsafah: Dipelopori oleh Rosihan Fahmi yang semula sudah mengurus apa yang dinamakan Madrasah Falsafah Sophia. Kegiatannya berkumpul dan berbicara persoalan-persoalan keseharian secara filosofis. Motonya, ”Setiap orang adalah filsuf”. Ini beda dengan moto Tobuciler, ”Setiap orang adalah orang”. Mulai berkumpul di Tobucil tahun 2007.



klabklassik KlabKlassik: Tobuciler malu dan terkesan narsis jika mengatakan KlabKlassik dipelopori oleh Tobuciler, biarpun memang iya. Kegiatannya berkumpul membicarakan musik klasik hingga membicarakan orang lain. Didirikan tahun 2005. Motonya, ”Bach memberkati”.

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

Di Kursi Penumpang

cerita bersambung oleh : Ali Singatuhan

Bagian 1

 

ilustrasiEntah berapa lama kami diam di sana. Waktu terasa berhenti saat itu. Mesin mobil dia nyalakan. Memutar musik dari i-Pod-nya, ia berusaha mencari ketenangan dari lagu-lagu yang dia suka. Mencoba membawa pikirannya ke tempat lain; jauh dari sini.

Tapi bahkan itu tidak sepenuhnya berhasil. Tangis terlihat di ujung matanya, nyaris tumpah. Selain itu jari jemarinya tidak bisa berhenti; saling meraba dan menggaruk satu sama lain. Dia mencoba duduk dengan santai, tapi semakin dia mencoba, semakin dia terlihat seperti gadis kecil yang tidak berdaya. Kendalinya mulai lepas. Dia mematikan i-podnya dan hening melanda mobil ini lagi.

Kami bahkan tidak bisa saling menghadapkan wajah kami satu sama lain. Hanya duduk tolol di mobil miliknya itu, memandang kosong ke depan. Di lapangan parkir SMA kami dulu. Pada hari Minggu. Saya di kursi penumpang dan dia di belakang setir.

Dari sudut mata, saya melihat tubuhnya menegang, berusaha mengatakan sesuatu. Nyaris... tapi tidak jadi. Kata-kata tersebut jatuh menggelinding kembali ke tenggorokannya. Dia melakukan itu terus berulang-ulang dari tadi.

Saya tahu. Dia sedang menunggu. Menunggu sesuatu terjadi. Sudah saatnya saya memegang kendali. Saya menguatkan hati dan memulai pembicaraan.

“SMA seru abis ya,” kata saya, “kalo dibandingin ama sekarang gitu... kuliah... iya nggak sih? Iya kan?” saya menghadapkan topeng di wajah saya : senyum lebar dengan tatapan paling bersahabat yang bisa saya pancarkan. (ngomong-ngomong, apa mungkin dia bisa melihat ketakutan dan kesedihan di wajah saya waktu itu ? Kadang saya berpikir ...)

“Hm,” katanya, menganguk setuju. Dia juga mencoba memasang topeng itu. Butuh waktu yang lebih lama dari yang dia pikirkan tampaknya, tapi lambat laun dia memasang senyum kecil di bibirnya. Matanya balik menemui mata saya. Sayangnya senyum itu tidak bisa sepenuhnya muncul; yang terwujud hanya semacam sunggingan kecil. Sedikit menghina.

Dia diam agak lama sebelum bicara: “Kamu nggak tau, tapi Ica dulu pernah dideketin sama Eki lho. Senior,” dia tertawa. Matanya menghalus oleh nostalgia. “Dulu, pas Ospek. Lucu banget..”

Sesaat topeng di wajah saya jatuh. Sedetik mungkin. Atau lebih lama lagi. Saya memejamkan mata. Menahan sakit. Tapi seketika saya langsung memasangnya lagi kemudian bernafas satu dua kali lewat hidung. ”Oh, ya ? Gimana ?”

Jadi dia anak temennya mama. Dulu, pas waktu kecil katanya kita suka main bareng gitu. Nah, pas Ospek itu, dia ingat ke saya gitu. Ngobrol-ngobrol lah. Tapi Ica sih nggak inget-inget banget ama dia. Baru pas pulang ke rumah, nanya ke mamah terus diceritain gitu..,” dia melanjutkan ceritanya - akhirnya mendapatkan posisi yang nyaman di kursi dan tampak menemukan ketenangan yang dia cari dengan menceritakan masa lalu ini pada saya; masa lalu dimana saya tidak ada pada hidupnya. Jauh, jauh dari kekhawatiran masa depan dan masa sekarang, “Mamah bilang dia teman Ica waktu masih di rumah Buahbatu. Ica rada inget sih. Pas SD. Samar-samar. Ica suka main bareng ama dia di depan rumah sepulang sekolah. Naik sepeda, bareng-bareng ama anak-anak kompleks yang lain.”

Dan lalu dia menunjukkan cintanya pada masa lalu itu dengan tersenyum lebar dan manis – kecantikan bersinar dari wajahnya - mata mengawang-awang ke atas. Seakan masa-masa indah itu ada di suatu tempat di atas sana, di atap mobil.

Anjing.

Bersambung ...

----

Walapun Ali SingaTuhan dilahirkan di Jakarta, ia telah menemukan rumahnya di pelukan Kota Bandung tercinta. Disana ia telah telah tumbuh dan mengecap semua yang ditawarkan kota tersebut: dari lingkungan rumahnya di ujung Desa Ciburial, di tengah-tengah Pesantren Babusalam dengan segala kepermaian alam dan manusianya. Disana, di bawah saung yang dibuat Bapaknya dulu, ia membaca buku-buku yang nantinya akan membentuk hidupnya. Dan disana pula ia mulai menulis cerita-cerita yang alam tersebut bisikkan padanya. Dan pada akhirnya Bandung – beserta para penghuninya yang indah, halus dan bertata karma – menjadi Dunia bagi Ali, menjadi setting, tokoh dan tema dari semua yang ia tulis dan (mungkin) akan tulis di masa depan.

Google Twitter FaceBook

Bubar, Bubar …

Inilah suasana BUka puasa BAReng di Tobucil …

ultahwikupedia



ramaglek

onyetglek











moeldanwiku



makanmakanultahwiku

makanbersama








Sundea

Google Twitter FaceBook

Anak-anak Senja

anakanaksenja

Suatu Senja

Aku rindu masa kecilku,
jika melihat senja kuning telanjang sempurna.
Masih teringat dalam cermin ingatan.
Berlari sepanjang rel.
Melempar senja kuning telanjang
dengan ketapel kegelisahan.
Ada selaksa harapan tersimpan dalam bulatan
saat kerikil ketapel memecah senja,
berharap sejuta koin berjatuhan.
Bisa membeli jangkrik, layangan, gelasan,
sepatu roda, main dingdong dan membeli tiket ke kebun binatang.
Memang, tak ada yang lebih menyenangkan
selain berlarian mengejar senja,
membentang ketapel sepanjang hasta.
satu, dua kerikil terlempar menerjang senja
lalu terdengar teriak keras.
"Anjing! Bangsat kau!" seru lelaki berbaju loreng memegang kepala.
kami berbalik arah
karena senja berubah jadi Rahwana...

 

 

masbengAgus Bebeng adalah stringer foto di kantor berita Antara, penggemar es krim, pencinta binatang, dan tukang pijat yang handal.

Google Twitter FaceBook

Rumah Senja

 

Ini adalah cita-citaku di hari tua nanti (semoga umurku cukup untuk mewujudkannya). Sebuah rumah jompo, tapi aku tidak mau menyebutnya begitu, tapi aku lebih suka menyebutnya Rumah Senja (pemandangan senja selalu indah bagiku). Sebuah rumah, dimana para manula (aku dan teman-temanku kelak), bisa menghabiskan sisa hidup di rumah itu. Aku membayangkannya, rumahnya terletak di daerah pedesaan, dengan tanah yang luas. Setiap orang bisa berkebun atau sekedar memelihara bunga matahari dalam sebuah pot, paviliun cozy untuk setiap penghuninya. Ruang bersama yang bisa jadi galeri kecil, ruang pertunjukkan, ya semacam ruang aktivitas bersama. Perpustakaan kecil dengan perapian yang hangat, klinik kesehatan yang memadai, tempat berolah raga, lapangan rumput yang luas, pokoknya rumah senjaku itu, rumah dimana semua penghuninya bisa menemukan bahagia tutup usia.

Ide membangun rumah senja ini, terlontar secara spontan olehku, ketika pertemuan madrasah falsafah berbicara soal hari tua (meski temanya soal: bos, mengapa berkuasa?.. ga nyambung). Gagasan itu, tiba-tiba saja tercetus dan membuatku terhenyak sendiri, 'mmm, mengapa tidak? sebuah rumah jompo untukku sendiri kelak dan akan sangat menyenangkan jika ternyata aku bisa menghabiskan masa tuaku, bersama teman-teman juga. Saling menjaga, saling mengingatkan. Betapa indahnya, bisa menjalani sebuah perjalanan pertemanan yang panjang.' Saat gagasan itu bergulir, beberapa teman langsung bereaksi. Tiga orang pertama selain aku, malah booking tempat dari sekarang: Heru Hikayat, Desiyanti Wirabrata dan Firdaus. Setidaknya bagi kami jadi ada gambaran akan dihabiskan dimana hari tua nanti. Temanku, Yusrilla si ahli robot, malah menawarkan diri menjadi salah satu pendirinya. Desy juga sempat mengatakan itu, 'kita patungan saja, bikin bareng-bareng.'

Kami begitu bersemangat membayangkan itu. Bagiku pribadi, cita-cita ini menjadi cita-cita yang indah dan menyenangkan untuk di bayangkan. Setidaknya aku jadi punya tujuan dengan hari tuaku. Setidaknya ada alternatif pilihan yang menyenangkan untuk dilakukan. Semangat tobucil dengan segala klabnya, akan kubawa di rumah senja nanti. Tentunya malah lebih menyenangkan, karena akan ada kebun sayuran dan tanaman obat, anggrek (jika kamu berminat bergabung), dan buah-buahan juga. Malahan kalau bisa, makanan yang nanti kami makan adalah hasil dari kebun sendiri. Organik dan non pestisida. Kegiatan-kegiatan pengisi waktu yang membuat ga cepet pikun, tentunya akan menjadi program di rumah senja. Aktualisasi diri yang terus menerus, hanya bisa dihentikan ketika yang bersangkutan mati.

Aku mencita-citakan, rumah senja, benar-benar bisa menjadi rumah bagi penghuninya, untuk melepaskan hal-hal yang membelenggu selama ini dan menjalani apa yang selama ini ingin di jalani tapi tak mungkin dijalani. Pada prinsipnya, "Jangan ada penyesalan dalam hidup dan mati dalam perasaan bahagia" (hal yang sama, yang aku mohon pada ibuku bahwa aku ga ingin dia meninggal dalam perasaan tidak bahagia, atau punya banyak penyesalan dalam hidup, jadi nikmatilah sisa hari di bonus usianya sekarang ini). Aku percaya, orang yang matinya dalam kondisi perasaan yang bahagia, ia akan meninggalkan inspirasi bagi orang-orang yang ditinggalkannya dengan begitu hidupnya menjadi tidak sia-sia. Ada manfaat yang dia tinggalkan yaitu inspirasi dan semangat yang justru tak pernah mati. Gimana caranya? aku sendiri belum kebayang, tapi setidaknya tujuannya sudah terumuskan.

Teman-temanku ini, memang ada yang berkeputusan tidak menikah, ada juga yang ga tau apakah akan menikah atau tidak. Ada juga yang sudah menikah, tapi ga mau punya anak. Namun ada juga yang biarpun punya anak, dia ingin bisa memilih akan menghabiskan hari tuannya dimana; apakah bersama anak-anaknya, atau bergabung di Rumah Senja. Karena itu, kelak para anak tak perlu merasa bersalah juga membiarkan orang tua mereka tinggal di Rumah Senja. Karena Rumah Senja adalah pilihan. Tentu anak dan cucu setiap saat bisa datang dan menjenguk. Rumah Senja juga bisa menjadi rumah bagi para pasangan yang saat tua nanti, salah satu memutuskan untuk tinggal terpisah ataupun bersama-sama di Rumah Senja. Dan bagi anak-anak, sadarilah, bahwa para manula ini, berhak menentukan kebahagiaannya sendiri di hari tuanya.

Aku ya membayangkan, Rumah Senja ini, bisa jadi seperti sebuah kompleks perumahan kecil berisi paviliun-paviliun dengan fasilitas bersama, dimana para penghuninya bisa saling menjaga satu sama lain dan juga saling menemani. Pengalamanku melihat para manula yang pergi ke museum bersama, menonton pertunjukkan, atau pergi naik bis atau subway bersama-sama, ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang menjadi ruang-ruang sosial mereka. Dan yang indah adalah mereka kemudian saling menjaga satu sama lain: jalan bergandengan, semua itu memberi kesan yang mendalam bagiku. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku ingin ketika aku tua nanti, aku bahagia dan menikmati hidupku seperti itu. Aku ga tau, apakah aku akan bertakdir hidup sampai tua bersama pasangan atau tidak, namun yang jelas aku tidak ingin merasa kesepian dan sendirian. Karenannya membayangkan ruang-ruang itu ada saat tua nanti, membuatku jadi lebih bersemangat.

Aku juga jadi ingat cerita Elida, tentang sebuah desa di Perancis yang hampir mati karena para penduduknya sebagian besar pindah ke kota. Lalu sekelompok manula yang adalah mantan aktivis Paris '68, pindah ke desa itu dan menghidupkan kembali desa itu dengan kegiatan kolektif yang mereka kelola bersama. Indah sekali dan bagiku sangat inspiratif.

Mungkin tugasku di dunia ini adalah membangun ruang-ruang bermain bersama itu. Menyampaikan pilihan pada orang lain untuk menemukan kebahagiaannya. Jika sekarang aku jalani tugas itu bersama tobucil, nanti di hari tua, aku bisa menjalaninya dengan Rumah Senja.

 

***


Sekarang yang mulai kulakukan adalah menabung untuk sebidang tanah yang cukup luas itu dan tentunya berdoa pada Tuhan, semoga aku punya cukup kekuatan untuk mewujudkannya. Terlepas dari pasangan hidupku kelak mengerti atau tidak dengan cita-cita hari tuaku ini, aku akan tetap memperjuangkannya, karena aku tau cita-cita ini membuatku bahagia dan tidak akan membuatku menyesal saat hidupku berakhir nanti.

Hari ini aku menuliskannya, untuk menanamnya dalam hatiku dan meretasnya dalam langkahku. Aku berdoa semoga dua puluh tahun mendatang, aku bisa kembali membaca kembali tulisan ini di beranda Rumah Senja, sambil berkumpul bersama teman-temanku dan orang yang kucintai sambil memandang langit senja yang indah dan membahagiakan. Amin. Semoga.

 

Tulisan ini ada juga di sini

 

mbatarlen

Tarlen Handayani adalah pemilik Tobucil, peneliti, dan penulis paruh waktu. Pecinta perjalanan, land rover, seni, desain dan craft. Senang sekali menonton film dan cita-cita berikutnya adalah membangun pojok handmade di tobucil..

Google Twitter FaceBook

Private Emotion

 

balepustaka09 suatu senja di Bale Pustaka

 

"... and a silence falls between us
As the shadows steal the light
And wherever you may find it
Wherever it may lead
Let your private emotion come to me ..."

-Private Emotion, Ricky Martin and Meja -

 

wikkupedia Wikupedia adalah koordinator Klabs Tobucil yang gemar menangkap imaji. Karyanya kerap dimuat di Kompas Citizen Images.

Google Twitter FaceBook

Pergitaran, Senja di Batas Kota, dan Senjata Makan Tuan

kaksyarafdua asuhan Kak Syaraf Maulini




Pertanyaan dari Fans Ringan Off Clinic (via YM):

Kak Syaraf mau nanya dong, ada soal pergitaran dan ada soal lainnya.

  1. Kak Syaraf fingering maen gitarnya biasanya gimana aja?
  2. Kak Syaraf Maulini apa? Lini tengah, depan, atau belakang?

Terima kasih Kakak!

Jawaban dari Kak Syaraf:

  1. Fingeringnya tergantung. Tergantung apa? Tergantung pisang di warung. Ada macam-macam fingering. Kalo sedang main klasik, saya pakai keseluruhan jari kanan kecuali kelingking. Kalo sedang main metal, saya pakai plektrum atau pick. Kalo sedang sebel sama orang, saya pakai jari tengah.
  2. Apa ya, yang pasti saya tidak mau lini gempa. Rasanya menggetarkan dan menggalaukan. Waktu lini, saya lagi dipijat refleksi. Kau ada dimana? Dan orang tentunya berhamburan keluar, termasuk tukang pijit saya. Ketika lini selesai dan kami kembali ke posisi, saya bilang, ”Mas, ulang lagi ya pijitnya, kepotong sih tadi.”

Pertanyaan dari Gadis Senja (via SMS):

Kak Syaraf, pertanyaan saya singkat, padat, merayap. Apa hubungan antara Senja di Batas Kota dan Senjata Makan Tuan?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Ada banget, memang lagu Senja di Batas Kota yang dipopulerkan Ermi Kulit ini berkisah tentang weapon eat lord (senjata makan tuan-red), mari kita simak liriknya:

Senja di batas kota
Slalu teringat padamu
Saat kita kan berpisah
Entah untuk berapa lama
Walu senja tlah berganti
Wajahmu slalu terbayang
Waktu engkau kulepaskan
Berdebar hati di dada
Tiada dapat kulupakan
Peristiwa kisah ini
Engkau di seberang sana
Menunaikan tugasmu
Senja di batas kota
Terlukis di dalam kalbu
Hanya bila kau kembali
Hidupku akan bahagia

Nah jadi ceritanya, menurut penuturan Ermi Kulit pada ibunya yang mana saya tak kenal keduanya, ini lagu begini kisahnya: setelah solat Ashar, adalah solat Maghrib. Nah ia selalu telat solat Maghrib, karena tak mampu melihat senja ada dimana. Katanya adzan pun tak terdengar karena belum ada speaker. Dimanakah ia? Ia ada di desa. ”Mak, aku tak mampu pergi ke kota, apalagi untuk sekedar mencari senja,” katanya pada emaknya. ”Disana mencari uang saja digusur, apalagi mencari senja,” tambahnya. Tapi ia basa-basi saja. Ia tahu, emak yang baik pastilah akan menyuruhnya pergi merantau, carilah itu senja, demi ketepatan waktu solat Maghrib-mu. Namun kagetnya ia kala si emak menjawab berbeda dengan pengharapannya, ”Anakku yang baik, ini uang, belilah tivi. Mari saksikan adzan maghrib saja.” Dengan hati sedih sang anak beli tivi. ”Pak, beli tivi satu,” si anak berkata seolah pada tukang bubur ayam, meskipun memang iya. Jadilah si anak dikira gila, dan ditunjukkanlah tukang jual tivi yang sebenarnya.

Singkat cerita, sampailah si tivi di rumahnya. Sejak itu sang anak tak pernah telat solat maghrib lagi. Namun suatu hari, si anak bosan karena terus menerus menyetel TVRI. Akhirnya dipindahkanlah saluran ke Metro TV. Disana didapati berita soal pemboman J.W. Marriott dan Ritz Carlton. Kala dibilang bom bunuh diri, ia dan ibunya berdiskusi panjang lebar. Katanya, ”Mungkin gak, Mak? Kalau itu bukan bom bunuh diri, tapi ia bawa bom untuk diledakkan, tapi karena suatu kesalahan, eh malah meledak di genggamannya!” ”Mungkin aja nak, senjata makan tuan itu namanya,” ”Oh, gitu ya, Mak? Kalo senjata makan tuan, tuannya makan apa dong? Senjata?” ”Bukanlah nak, tuannya makan apa sesuai keinginan dia,” ”Oh, iya juga ya, hehehe.” Demikianlah hubungannya.

Google Twitter FaceBook

Cetrang !

 

Matahari mulai sayu

malaikat pun menyalakan lampu

“Cetrang !”

Lalu angkasa tak lagi terlalu sendu

                 Gramedia, Kamis 24 September 2009

Fotonya ada di sini

----

salamatahariBehind the scene :

“Pak, saya mau motret itu boleh ?” tanya Dea ke Pak Kiki Rizky, satpam Gramedia, sambil nunjuk jendela. “Motret apa, ya?” dengan gaya berwibawa Pak Kiki balik nanya. “Langit yang ada lampunya,” saut Dea. Pak Kiki nengok ke jendela terus tampak bingung. “Itu ? Oh … maaf, untuk kepentingan apa ?” dia nanya lagi. “Buat nulis. Nggak boleh, ya, Pak ? Ya udah, deh, makas …” “Oh, boleh, boleh, tapi harus izin dulu, sebentar, ya,” Abis itu Pak Kiki ngomong sama seseorang lewat walkie talkie, “ … iya … ada yang mau ambil gambar langit di jendela sebelah timur (ato utara ato selatan ato mana, gitu, ya ? Dea lupa persisnya) … untuk … eu … penelitian …” Ey ? Penelitian ?

Akhirnya Dea dibolehin motret-motret. Senang sekali =D

Acara main-main di Gramedia Dea tutup dengan ngejer-ngejer belalang yang lompat-lompat di sekitar buku bagai di kebun.

Sore itu indoor seperti outdoor dan outdoor seperti indoor.

Apa karena itu hari keseimbangan*, ya ?

special thank’s untuk Pak Kiki Rizky dan Si Belalang

* Kamis adalah hari keseimbangan karena terletak di antara Senin-Selasa-Rabu dan Jumat-Sabtu-Minggu

Sundea

 

Google Twitter FaceBook

Diary Project

Apa tema Diary Project Tobucil & Klabs 2009?

Diary Project 2009 Tobucil & Klabs menawarkan tema "Aku dan Kota Tempat Tinggalku". Melalui tema ini, kami berharap partisipan dapat menceritakan pengalaman maupun pandangan pribadinya tentang bagaimana sebuah kota meninggalkan jejak ingatan sebagai sebuah tempat tinggal. Kami yakin, setiap individu pastilah memiliki keterhubungan yang berbeda-beda dengan kota tempat tinggalnya. Ingatan-ingatan tentang kota sebagai tempat tinggal inilah yang akan menjadi kisah-kisah yang membangun kesejarahan kota dari sudut pandang warganya. Sehingga beberapa tahun kemudian, kisah-kisah ini akan menjadi catatan berharga saat generasi berikutnya, ingin mengetahui sejarah kota, tempat ia tinggal.

Caranya sangat mudah:

* Terbuka untuk umum, semua umur, semua kalangan dan gratis, selama dapat mengakses internet.
* Peserta bebas berdomisili di kota manapun, baik di dalam maupun di luar Indonesia.
* Tulis kisahmu yang sesuai dengan tema 'Aku dan Kota Tempat Tinggalku'
* Panjang tulisan bebas.
* Keterangan tempat dan waktu harap ditulis dengan sebenarnya. Nama pelaku yang terlibat dalam kisah, bisa disamarkan, namun waktu dan tempat, mohon disebutkan sesuai dengan kejadian yang dikisahkan.
* Boleh menyertakan foto maksimum 5 foto dengan ukuran masing-masing 400 pixel resolusi 72 dpi. Kirimkan melalui attachment.
* Kamu juga bisa mengirimkan tulisan yang pernah kamu muat di blog kamu dengan mengirimkan link dimana tulisan itu berada.
* Untuk tulisan yang diambil dari notes di facebook, tulisan harap di copy ke body mail, lengkap dengan link alamat profil partisipan di facebook.
* Kirimkan tulisan, foto atau link tulisan kamu yang sesuai tema ke alamat email: tobucil@gmail.com, dengan subjek: Diary Project 2009 nama partisipan. Misalnya: Diary Project 2009 Tarlen Handayani.
* Setiap partisipan dapat mengirimkan lebih dari satu tulisan.
* Program ini berlangsung mulai April sampai Desember 2009.
* Seluruh tulisan yang masuk akan di publikasikan di blog diary project 2009
http://tobucildiaryproject.blogspot.com/
* Seluruh tulisan yang dipublikasikan berada dibawah lisensi Creative Commons

Keterangan lebih lengkap dapat dilihat di sini

---

Tobucil buka kembali mulai tanggal 28 September 2009

 

Google Twitter FaceBook

Sunday, September 20, 2009

Balon Origami

Beberapa waktu yang lalu, Tobucil dikunjungi murid-murid dari SD BPK International. Di bawah bimbingan Mr. Moel, mereka membuat balon origami :

anakanakniupkertas

 ygniupnyadariluar

niupbalon 

 

 

 

 

 

 

 

 simukaserius

 

sibalonbiru

Teman-teman, mari membuat balon origami. Lipat kelelahan dan rutinitas kita sejenak, isi dengan nafas yang kita hela dalam-dalam, lalu lambungkan tinggi-tinggi. Liburan ini kita dan kepenatan bisa menjadi teman bermain.

 

danlambungkankeudara

Meski Tobucil libur satu minggu, blog Tobucil hadir seperti biasa.

Minggu ini dengan tema libur.

Semoga kami bisa menjadi balon warna-warni yang menemani liburmu,

seperti kalian yang senantiasa membuat hari kami berbalon-balon

Minal Aidin, wal faidzin. Selamat merayakan Idul Fitri 1430 H.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

foto-foto : Tensi Toga

Google Twitter FaceBook

Tri Darma Yudha Pirhot Nababan dan Not Balok Pembuat Es Teh

iyokmainpic Ketika semua orang sudah mulai kongkow-kongkow liburan, Tri Darma Yudha Pirhot Nababan alias Iyok masih sibuk dikejar-kejar pekerjaan. “Lu bisa di sini (Tobucil) sampe jam berapa ?” tanya Tobuciler. “Gua ngajar jam tiga,” sahut Iyok.

Tobuciler melirik jam tangan. Saat itu sudah jam setengah tiga. Untungnya, Iyok yang personil Klab Klassik ini masih mau menyisihkan waktu setengah jamnya untuk mengobrol dengan Tobuciler.

Tobucil : Lu gini hari masih ngajar juga, sih, Yok ? Yang lain udah pada libur …

Iyok : Karena disuruh sama Si Bos.

Tobucil : Kenapa bosnya nyuruh-nyuruh elu ?

Iyok : Tau, ga pernah ketemu gua sama Si Bos.

Tobucil : Lho ? Jangan-jangan bos lu fiktif …

Iyok : Hahaha … fiktif. Nggak. Gua ngajar siang, dia ngajar sore. Terus dia ngajar Sabtu, gua nggak pernah ngajar Sabtu. Ketemunya paling sebulan sekali pas rapat.

Tobucil : Ooo … begitu. Lu ngajar apa, sih ?

Iyok : Ngajar not balok.

Tobcuil : Jadi maksudnya murid-murid lo not balok ?

Iyok : Gua mengajar gimana not balok dimainkan di gitar. Jadi not baloknya dibaca, terus gitarnya dipetik berdasarkan not balok itu.

Tobucil : Not balok punya waktu liburan, nggak ? Kalo punya, kapan ?

Iyok : Kapan, ya … ? Pas bukunya dtutup.

Tobucil : Mereka seringan libur ato kerja ?

Iyok : Seringan kerja, dong …

Tobucil : Terus mereka nggak pernah demo, gitu, nuntut libur ?

Iyok : Hahaha … mereka nggak kerja berdasarkan UU Ketenagakerjaan, jadi mereka nggak demo. Demo masak mungkin.

Tobucil : Jadi mereka pernah demo masak, ya ?

Iyok : Pernah, pernah, pas gua mesen es teh manis di bawah (pas ngajar).

Tobucil : Oh, jadi es teh lo yang bikin not balok ? Kok bisa ?

Iyok : Karena dia … diajarin sama si kokinya.

Tobucil : Dia lebih suka bikin teh ato dimainin buat gitar ?

Iyok : Kayaknya … lebih suka bikin teh, deh. Soalnya … gua nggak bersikap tendensius kalo lagi minum es teh manis.

Tobucil : Lo takut, nggak, kalo suatu saat not balok lo milih jadi pembuat es teh daripada dimainin di gitar ?

Iyok : Enggak, karena masih banyak not balok yang lain.

Tobucil : Kalo not balok yang lain pengen jadi pembuat es teh juga ?

Iyok : Ya … cari not balok yang lainnya lagi.

Tobucil : Oh … ok. Sekarang tentang diri lo sendiri. Kalo menurut lo liburan itu apa ?

Iyok : Libur ? Libur berarti online internet sesukanya dan tidur sepuasnya.

Tobucil : Sekarang kan lo lagi online. Ngerasa lagi libur, nggak ?

Iyok : Enggak, karena nggak sepuasnya.

Tobucil : Kalo gitu lu kerja di warnet aja, gih, sono, biar bisa online sepuasnya.

Iyok : Emang ada, ya, lowongan kerja di warnet ? Kalo ada, mau, deh, gua, tapi yang UMR. Emang berapa, sih, di warnet dapetnya ?

Tobucil : Setau gua … paling 2500,00-an sampe 3500,00-an sejam.

Iyok : Buset … dikit amat, ya ? Berarti kalo gua kerja sehari 5 jam, sebulan 150 jam, kali 3000,00 … (menghitung-hitung) … 450.000,00. Gua sekarang dengan jumlah jam kerja yang sama… (nelangsa) … jauh-jauh banget, ya ?

Tobucil : Ya emang segitu. Kan lo bisa online sampe mokat. Eh, kalo ditemenin not balok lo mau, nggak ? Lo jaga warnet, not balok bikin es teh di warnetnya …

Iyok : Boleh, deh … kalo gajinya naek …

Tobucil : Yeeeh … tetep. Btw, apa, sih, yang menyenangkan dari online dan tidur ?

Iyok : Dari online, gua bisa download film gratis sehingga gua nggak perlu ke bioskop dan Kota Kembang. Kalo tidur, gua bisa memimpikan apa saja. Otak gua Omes … Obbie Mesakh.

Tobucil : Hah ? Jadi kalo tidur lo paling seneng kalo mimpi Obbie Messakh ?

Iyok : Eeea … iya, man !

Tobucil : Karena ?

Iyok : Karena kalo disingkat jadi Omes. Dan kalo udah Omes gua bisa memimpikan Maria Ozawa.

Tobucil : Jadi Obbie Mesakh dan Maria Ozawa itu parallel dalem mimpi ? Gimana rasanya mimpi mereka berdua secara parallel ?

Iyok : Rasanya … kayak minum kopi campur minyak goreng.

Tobucil : Jadi menurut lo itu liburan ? Aneh juga lo …

Iyok : Yo’i …

Tobucil : Oh, gitu. Ya udah gitu aja wawancaranya.

Iyok : Udah ? Jurig, jurig …

Sudah pukul tiga. Iyok pun bersiap-siap untuk mengajar. Belasan murid dan deretan not baloknya sudah menanti di Sekolah Musik Indra.

Hmm … jangan-jangan not balok hobi membuat es teh manis karena bersaudara dengan balok es. Keadaanlah yang membuat mereka harus berjajar di buku menjadi pemandu bagi para pemain musik, seperti Iyok yang berkewajiban memandu murid-muridnya belajar gitar.

Mungkin suatu waktu Iyok dan not balok dapat berlibur bersamok (supaya berrima). Mereka dapat berkolaborasi ; not balok membuat es kopi campur minyak tanah yang kemudian diminum Iyok dalam tidur atau sambil online.

Minal Aidin wal Faidzin, Teman-teman … selamat berhari libur …

Sundea

iyokfototiga

iyokfotodua

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Iyok :

biodataiyok

Google Twitter FaceBook

Ketika R.E Hartanto feat. Klab Hobi Libur Sejenak

 

-Tobucil, Jumat 18 September 2009-

Mas R.E Hartanto datang ke Tobucil. “Progres proyek udah sampai mana, Mas ?” tanya Tobuciler. “50 % mah udah adalah,” sahut Mas Tanto dengan mata berbinar seperti biasanya. Namun, karena armada sedang sibuk mempersiapkan hari raya, untuk sementara kerja proyek diliburkan. Rapat Tobucil yang biasanya diadakan setiap hari Jumat pun diistirahatkan dulu. Jadi, di siang hari yang sepi itu Mas Tanto, Mbak Tarlen, dan Tobuciler duduk-duduk saja sambil mengobrol santai.

Pada awalnya Mas Tanto dan Mbak Tarlen membahas media yang akan digunakan untuk karya, ukurannya, dan urusan teknis seputar pengerjaannya. Obrolan pun kemudian berkembang merambah masalah seni rupa, nilai karya seni, karya dengan media gila-gilaan dan tampilan bombastis, serta “greng” dalam karya seni. “Saya kepingin bikin karya yang bisa dilihat orang banyak, bukan hanya di komunitas seni rupa. Saya ingin membuat karya yang hauntingly beautiful,” Mas Tanto membagi harapannya dengan sungguh-sungguh. Mungkin itu sebabnya ia memilih media dan cara pengomunikasian yang dekat dengan keseharian dalam berkarya ; kerajinan tangan bersama klab hobi dan obrolan hangat membumi dengan siapapun yang bertanya tentang karyanya.

Sampai di mana proyek R.E Hartanto dan Klab Hobi telah berjalan ? Sejauh apakah 50 % perjalanan itu ? Nantikan saja kelanjutannya.

Semoga karya ini akan menjadi sesuatu yang hauntingly beautiful dan menjejak dalam benak siapapun yang bertatapan dengannya kelak.

Sundea

 

gambarmastanto Gambar yang dibuat R.E Hartanto secara “refleks”, di luar proyek

Google Twitter FaceBook

Noar Noir di Tobucil

Sore itu, ya, sore itu. Tobucil mengadakan Klab Nonton terakhirnya di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan-nya Johnny Depp, maka hari itu lagi-lagi tentang Johnny Depp. Tobuciler ingat SMS dari Sundea, kira-kira begini isinya, “Syaraf, tolong liput Klab Nonton Jumat ini ya, gua bisa dateng sih, tapi gua rada takut sama filmnya, judulnya Dead Man.” Oh, oke, balas Tobuciler, kira-kira begitu. Tobuciler tidak takut film itu, karena tahukah sebuah ayat dalam Al-Quran, yang mengatakan bahwa setan dan iblis dibelenggu kala Ramadhan? Nah, itulah dasar keberanian Tobuciler berangkat ke Klab Nonton.

Sesampainya, ada tiga orang. Sundea, Wiku, dan Iyok telah duduk di depan televisi, menyaksikan film yang dimaksud. Sudah dimulai beberapa menit rupanya. On-time sekali, Tobuciler kira mereka orang Indonesia. Filmnya, eh, kok, hitam putih. “Ini, udah dari tadi loh, dan gak ada dialognya,” kata Iyok. Tobuciler menyimak terus-terusan sambil bertanya dalam diri, hingga akhirnya Mbak Tarlen menjelaskan. ”Film kayak gini nama genrenya noir, berasal dari bahasa Prancis yang artinya hitam. Ya, begini, filmnya.” Oh, begitu, biarpun Tobuciler mengertinya baru sekarang soal apa itu genre film noir, dari www.wikipedia.org.

Entah kenapa, orang-orang pada pergi. Wiku malah masuk, Iyok malah ngajar. Padahal harusnya udah libur kan, yah, Dea? Akhirnya, Tobuciler dan Dea duduk berdua, menyaksikan itu film. Alkisah William Blake, seorang akuntan, berkelana ia mencari kerja. Oia, setingnya jaman Koboi. Maksud hati mencari kerja, ia malah terdampar pada suatu permasalahan yang membuatnya mesti bertualang. Diawali dari pertemuannya dengan mantan pelacur bernama Thel Russell. Diajaklah Blake ke kamar Thel. Karena apa? Karena Blake dianggap telah menemani Thel ketika ia dikasari oleh pemuda bar. Di dalam kamar, setelah satu kejadian yang tak perlu Tobuciler bahas, masuklah mantan kekasih Thel, namanya Charlie. Melihat Thel sudah dengan pria lain, murkalah ia, dan Dor. Bermaksud menembak Blake, tapi eh, yang kena malah Thel. Thel mati, Blake menembak balik Charlie. Dor. Charlie dan Thel mati. Blake tidak mati, tapi ia tertembus peluru juga. Akhirnya, dengan terhuyung-huyung membawa peluru di badannya, ia pingsan.

Bangun-bangun, Blake ada di hadapan seorang Indian yang mencoba mencabut peluru dari tubuhnya. Tapi sulit, katanya, karena terlalu dekat dengan jantungnya. Maka itu, si Indian, yang bernama Nobody itu, mengatakan Blake sudah tak ada bedanya dengan orang mati yang masih berjalan, alias walking dead, alias dead man itu. Nobody terkejut setelah tahu nama Blake adalah William Blake. Sama dengan nama penyair favoritnya. Nobody percaya, William Blake ini adalah yang itu juga, alias reinkarnasinya. Akhirnya, Nobody menceritakan banyak hal, soal dunia spiritual dan soal kewajibannya untuk membunuhi sebanyak mungkin orang kulit putih. Blake, yang diincar orang-orang karena telah membunuh Charlie dan Thel, merasa menemukan alasan untuk menyerang balik orang-orang yang mencarinya, akibat cerita Nobody itu. Jadilah Blake, seorang yang pada mulanya digambarkan alim seperti ulama, menjadi bengis dan mau membunuh. Film itu harusnya keren, jika saja Tobuciler dan Dea lebih perhatian. Hanya saja, akibat jarang bertemu, kami berdua jadi sering-sering ngobrol, sambil sesekali melihat ke televisi. Isi obrolannya apa? Adalah semakin rumit ketika Iyok kembali bergabung sepulang ngajar. Yang pasti, kami dapati film itu unik dan akting Johnny Depp sungguh memberi aksen. Jika kami sedang mengobrol, mendadak suasana ramai. Tapi kala melihat televisi, langsung diam tertegun.

Barangkali, oh, barangkali, yang bikin kami sering ngobrol, adalah karena suasana filmnya yang absurd, gambarnya cuma hitam putih, dan jauh dari hangar bingar. Itulah katanya noir, selain definisi lain yang mengarah pada spesifikasi film yang bertemakan Hollywood crime dramas. Tapi barangkali tak cuma itu. Kami juga ingin meramaikan suasana Tobucil, yang akibat telah mendekati lebaran, juga mendadak bersuasanakan noir. O, maafkan kami Klab Nonton. Tidakkah maksudmu juga ingin meramaikan suasana Tobucil?

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

Libur dan Waktu Senggang

 

-Tobucil, Rabu 02 September 2009-

Madrasah Filsafat

Apa, sih, yang kamu lakukan di waktu libur yang senggang ?

“Ngelamun,” kata Theo.

“Nonton dengan serius,” kata Mata.

“Istirahat yang bener-bener istiriahat,” kata Frans.

Lalu Mas R.E Hartanto mengajukan pertanyaan yang mengacaukan persepsi standar tentang libur dan waktu senggang, “Lalu bagaimana dengan filsuf-filsuf pada zaman dahulu itu ? Kalau waktu mereka sepenuhnya senggang, kapan liburannya ?” Dari sana, seluruh peserta madrasah filsafat berusaha me-redefinisi libur dan kesenggangan waktu.

Libur dan senggang memang punya batasan kabur. Mas Tanto, pelukis yang kadang jalan-jalan bagai liburan saat bekerja, mengaku bahwa pemisahan tegas antara kerja dan liburan justru membuat ia kehilangan ritme. Untuk pegawai yang bekerja nine to five pun batasan senggang dan tidak kadang tidak terlalu jelas. “Pasti ada waktu senggang di tengah-tengah waktu yang seharusnya waktu kerja,” pendapat Frans yang pernah mengalami jam kerja ketat dan padat dengan tingkat stress tinggi. Di tengah kesibukan menggila pun ada kalanya orang duduk santai, online, atau sekedar minum kopi. Tampaknya bagi Frans yang terpenting adalah kualitas kesenggangan itu, “Waktu senggang itu istirahat yang benar-benar istirahat …” Mas Iqbal, dosen psikologi Universitas Padjadjaran pun tampaknya sependapat dengan Frans, “Senggang bisa jadi waktu yang sebenarnya sempit tapi terasa sangat panjang dan luas. Jadi senggang itu tenang, lebih banyak bisa diolah.”

Pekan ini Tobucil libur seminggu. Semoga di waktu senggang ini, ada lebih banyak yang bisa kami olah dan bawa selepasnya.

Teman-teman, bagaimana dengan libur dan waktu senggang kalian ?

Sundea kaoskudanil

 

 

 

 

 

 

Talent : Heru Hikayat

Google Twitter FaceBook

Manakah Tas Imut yang Sesuai Kepribadianmu ?

Ibu-ibu dan Remaja Puteri, kira-kira tas velt mana yang sesuai dengan kepribadian Anda (dengan gaya pembawa acara TVRI)? Ikuti kuesioner ini untuk menemukan jawabannya.
1. Apa saja yang biasa ada di dalam tasmu ?
a. Paling dompet, hp, tisu
b. Nggak tentu. Kadang ada barang-barang nggak penting yang nggak jelas
c. Dompet, hp, tisu, cologne, lip gloss, bedak, sisir
d. Blackberry, dompet dengan kartu-kartu kreditnya, alat make-up lengkap

2. Tempat nongkrong favorit kamu
a. Café and lounge
b. Tukang jajanan di pinggir jalan
c. Rumah
d. Mall atau tempat makan favorit aku dan temen-temen.

3. Kamu suka cowok yang
a. Nyantai, bisa diajak gokil
b. Manner, nggak malu-maluin diajak jalan, mature
c. Family man, bertanggung jawab, setia
d. Enak diliat, nice, bisa manjain aku

4. Kamu ngerasa lebih seperti
a. Pagi, karena pagi itu hari yang masih manis dan cute
b. Siang, karena gue enerjik, suka beraktivitas, dan kayak matahari siang
c. Sore, karena tenang dan nyaman
d. Malam, karena elegan

5. Sepatu yang sering kamu pakai
a. Sepatu sandal atau flat shoes yang chic
b. Simple flat shoes
c. Keds banget atau sandal gunung
d. High heels

6. Olah raga kamu adalah,
a. Saya kadang ke gym, pilates, atau ikut yoga.
b. Gue suka olahraga apa aja, terutama naik gunung
c. Yang bisa dilakuin di rumah atau sekali-sekali lari pagi
d. Lari sambil ngeceng, kali ada yang lucu
Skor :
1. a=3 b=0 c=5 d=8
2. a=8 b=0 c=3 d=5
3. a=0 b=8 c=3 d=5
4. a=5 b=0 c=3 d=8
5. a=5 b=3 c=0 d=8
6. a=8 b=0 c=3 d=5
Hitung skormu :
IMG_1212 0-8
Kamu enerjik dan ceria seperti oranye tas mungil ini. Seperti kantung depan yang membuat tas ini lebih praktis, kamu pun cenderung tampil praktis agar lancar beraktivitas. Kadang kamu sedikit berantakan dan ceroboh.


IMG_1209 9-18
Seperti warna coklat yang natural, kamu sederhana. Kamu pun klasik seperti aplikasi bunga yang melekat pada permukaan tas ini. Kamu merasa nyaman berada di tengah keluarga dan orang-orang yang sudah kamu kenal dengan dekat.


IMG_1210 19-30
Kamu manis dan feminin seperti pink tas ini serta lembut seperti kelopak bunga dan sayap kupu-kupu. Kamu suka hal-hal yang romantis, dimanja dan disayang. Kamu pun merasa nyaman ada di antara lingkaran teman-teman perempuanmu.


IMG_1211 31-48
Kamu anggun dan elegan seperti biru tua dan permata-permata yang bertaburan di permukaan tas ini. Kamu menjaga sikap dan tata kramamu dan menyukai hal-hal yang classy.



Jadi, mana tas mungil yang mewakili kepribadianmu ? Let Tobucil knows, ya, boleh, lho, meninggalkan comment di blog Tobucil… ;)
Psst … tas mungil nan imut ini adalah handmade  Lienna dan dapat dibeli di Tobucil dengan harga Rp 15.000,00 saja.
Google Twitter FaceBook

Resep Nastar Bagi Penderita Diabetes dan Kaastengels

kaastengels

Bahan :
350 g butter
250 g margarin
750 g terigu kunci
250 g keju edam
4 butir kuning telur

Hiasan
2 kuning telur + 1 sdm susu cair, aduk rata, unutk olesan
100 g keju craft, untuk taburan di atasnya

cara membuat :
1. Kocok butter, margarine hingga tercampur homogen
2. Tambahkan kuning telur, kocok kembali hingga homogen
3. Tambahkan keju edam yang sudah diparut ke dalam adonan, aduk
homogen
4. Terakhir masukkan tepung terigu, aduk menggunakan sendok kayu.
5. Cetak panjang-panjang, olesi dengan kuniing telur, taburi di atasnya
dengan keju craft
6 Panggang, hingga kuning keemasan

Nastar

Bahan :
400 g butter
200 g margarine
150 g gula halus
8 butir kuning telur
100 g keju kraft
900 g terigu kunci

Hiasan:
2 kuning telur + 1 sdm susu cair. aduk rata untuk olesan
cengkeh, atau keju kraft parut

Selai ;
1 biji buah nenas kupas, parut
100 g gula pasir
1 butir buah lemon, peras, ambil airnya
1 jari kayu manis
5 butir cengkeh

Cara membuat :
1. Kocok butter, margarine hingga tercampur homogen
2. Tambahkan kuning telur, kocok kembali hingga homogen
3. Tambahkan keju craf, yang sudah diparut ke dalam adonan, aduk
homogen
4. Terakhir masukkan tepung terigu, aduk menggunakan sendok kayu.
5. Cetak bulat, isi dengan selai nenas, olesi dengan kuniing telur, taburi di
atasnya dengan keju craft atau dengan cengkeh
6 Panggang, hingga kuning keemasan

Cara membuat selai
1. Masukkan nenas ke dalam panci stainless (hindari menggunakan panci alumunium), tambahkan air jeruk lemon, cengkeh dan kayu manis
2. Masak hingga kental
3. TAmbahkan gula pasir, masak kembali hinga kering.

Note untuk penderita diabetes :
gula untuk selai boleh diganti dengan menggunakan pemanis berkalori tinggi seperti tropicana, dll
Gula untuk adonan boleh dikurangi hingga 50 g atau dihilangkan sama sekali

 

fotombakenti

Kenti Prahmanti adalah anak sulung dari empat bersaudara. Selain gemar membuat kue, ia juga terampil menyulam pita, merajut, dan menjahit. Ia suka sekali mengajar dan bekerja di apotik (sesuai kuliahnya di jurusan farmasi) karena di sana ia dapat melayani dan berkhidmat pada sesama.

 

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Jangan lupa sertakan foto diri dan biodata singkatmu.

Google Twitter FaceBook

Dahlia

 

Lebaran tahun kemarin, saat matahari tengah bersinar terik, dahlia mekar dengan cantiknya di halaman depan. Mahkotanya berwarna merah, benang sarinya (atau putiknya—saya tidak peduli, pokoknya yang ada di tengah bunga) berwarna kuning. Itu bunga dahlia pertama yang saya punya.

dahlia lebat

Agak mengherankan tanaman itu bisa tumbuh dan berbunga. Masalahnya, di awal pertumbuhan, ia sempat kena hama berwarna putih yang menempel di daun-daunnya. Hama itu jumlahnya banyak dan kecil-kecil seperti kutu, tapi mereka bisa terbang seperti kupu-kupu. Diduga, hama itu semacam vampir yang mengisap darah dahlia sampai pertumbuhan dahlia mandek.

Karena itu, tanaman dahlia dipindahkan ke lahan lain, masih di halaman depan. Siapa tahu hama itu muncul karena tanah tempat dahlia ditanam tidak cocok untuknya. Namun yang terjadi, tanaman dahlia tidak tinggi-tinggi. Bahkan umbi-umbinya yang lain tidak mengeluarkan tunas. Maka tanaman dahlia itu diboyong kembali ke tempat semula.

Saya kira, dahlia akan pundung dipindah-pindahkan seperti itu. Ditambah, musim kemarau keburu datang. Dahlia bisa saja mati kekeringan. Tidak tahunya, beberapa hari sebelum lebaran, muncul sebuah kuncup di pucuk tanaman dahlia. Bentuk kuncupnya itu menyerupai bawang, punya lapisan-lapisan tipis. Jumlahnya mungkin ratusan. Atau lebih.

Setiap hari, lapisan-lapisan itu mengelupas sendiri dan menunjukkan mahkotanya yang berwarna merah sedikit demi sedikit. Terus, lapisan-lapisan itu mengelupas semua dan semua mahkotanya terlihat jelas, berikut benang sarinya. Mekarlah bunga dahlia.

Malam harinya, hujan turun sangat deras. Saya khawatir bunga dahlia kenapa-kenapa. Berapa lama saya menunggunya berkembang? Kalau ia mati gara-gara hujan, saya bisa sedih. Tapi keesokan harinya ketika saya periksa, dahlia itu sehat-sehat saja. Hujan tidak membuatnya doyong, apalagi ambruk. Malah batang dahlia itu tetap berdiri tegak menopang bunga.

Selanjutnya, berbulan-bulan kemudian, dahlia tumbuh dengan sangat subur dan berbunga lebat. Barangkali karena ia disiram hujan. Paling menyenangkan melihat bunga dahlia ditiup angin. Lucu. Tangkainya kan ceking, sementara bunganya agak besar, tapi tidak sebesar bunga matahari. Jadi kalau ditiup angin, bunga itu seperti penari balet yang menari dengan satu ujung kakinya dan meliukkan badannya ke kanan dan ke kiri.

Itu hanya separuh keajaiban yang dimiliki dahlia. Pernah suatu sore, hujan turun deras disertai angin kencang dan menyebabkan salah satu dahan dahlia semplek, sehingga bunga yang sedang mekar di dahan itu layu, kemudian mati. Atau pernah juga kuntum bunga dahlia terlepas dari tangkainya dan tergeletak di atas tanah tanpa tahu kenapa. Ia seperti kepala yang dipenggal dengan guillotine*.

Kalau sudah layu dan kering, bunga dahlia tidak cantik lagi. Mahkota dan benang sarinya keriput dan berguguran. Tinggal kelopaknya saja yang monyong.

Itu semua terjadi sampai kira-kira bulan April kemarin. Belakangan, saya tidak lagi melihat dahlia mekar karena tanaman itu sekarat. Itu terjadi karena dahlia tumbuh terlalu tinggi sampai batangnya berat karena daun. Ia bahkan sampai menunduk dan menyentuh tanah. Nah, memotong batang tersebut adalah pilihan yang tepat daripada membiarkannya tersiksa. Nanti pun akan muncul tunas-tunas baru dari umbinya.

Tapi sampai sekarang, saya belum melihat dahlia berbunga lagi. Padahal tunas-tunas yang baru sudah muncul. Apa dahlia itu benar-benar pundung? Terus, kapan saya bisa melihat bunga dahlia mekar lagi?***

*guillotine: alat pemenggal kepala

 

rie yanti & dahlia

Rie-Yanti adalah lulusan Sastra Perancis yang suka menulis. Tulisan-tulisannya selalu manis dengan bahasa yang lembut mengalir. Selain menjadi kontributor blog Tobucil, ia juga aktif sebagai kontributor www.warungfiksi.net

 

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Jangan lupa sertakan foto diri dan biodata singkatmu.

Google Twitter FaceBook

Siti

 

salamatahari Menjelang Lebaran, penjahat kecil yang suka ngudal-ngadul sampah dan nggigitin tupperware ini justru keilangan ruang lebarnya. Siti alias Si Tikus masuk perangkap. Sambil njemur baju, Dea meratiin Siti yang nelangsa natap batu-batu di depannya. Tau-tau Siti ngehela nafas. Bener, lho, Temen-temen, baru sekarang Dea ngeliat tikus ngehela nafas kayak begitu.

Menjelang hari kemenangan, makhluk yang kemenangan kecilnya adalah makan pewarna cokelat itu, justru harus nerima kekalahan terbesarnya. Kerangkeng dengan tegas masang bates. Dia jadi nggak punya kesempatan ngejer kemenangan lagi, sekecil apapun.

Menjelang hari bermaaf-maafan, Siti justru nggak termaafkan. Siang itu juga Siti disiram air panas, dia nggak sempet ngerayain Idul Fitri.

Dea meratiin foto Siti yang Dea ambil pagi-pagi.

Sedeket apapun hari ini dan besok, hampir bukan sampai.

Sundea

Ditulis sehari sebelum hari raya Idul Fitri

foto Siti ada di sini

Google Twitter FaceBook

Tips-tips Libur Lebaran dari Kak Syaraf

 

Halo semua, libur Idul Fitri telah tiba. Ini berarti, liburnya lumayan panjang, lebih panjang dari hari minggu. Dan tak ada yang lebih menyenangkan, daripada libur yang juga sekaligus mengembalikanmu pada kesucian. Maka itu, penting untuk mempersiapkan dan mengingat hal-hal berikut ini:

  • Solat ied itu solat dulu, baru khotbah. Jadi bagi kalian-kalian yang biasa solat Jumat telat demi mendapatkan solatnya saja, maka telat di solat ied akan membuat kalian mendapatkan khotbahnya saja.
  • Solat ied itu rakaat pertamanya takbir tujuh kali, rakaat keduanya takbir lima kali. Takbir itu bunyinya Allahu Akbar, beda sama Empat Tak yang bunyinya lebih bising, biarpun ia cuma empat, tak sebanyak Takbir.
  • Tanggalkan hati nuranimu di kala lebaran, dan pakailah baju baru. Kenapa? Karena jika kau bawa itu hati nurani, bisa bentrok dengan hati hampela, yang mana adalah salah satu makanan khas lebaran. Iya gitu?
  • Ini penting bagi pria-wanita yang berusia diatas dua puluh tahun, sebaiknya siapkan template jawaban seperti ini (sangat penting untuk diingat):

1. ”Kalau mobil di depan lambat dan berada di kiri.”

2. “Masih balon, nunggu verifikasi KPU.”

3. ”Pekerjaan itu, dikerjai orang. Nah saya pekerja, mengerjai orang.”

4. ”Satu, ya saya ini.” (bilangan satu bisa diganti dua dan seterusnya)

5. ”Minta saja sama mamamu, beul!”

  • Nah, jawaban-jawaban di atas adalah antisipasi jika kau mendapat pertanyaan khas lebaran, yakni:

1. ”Kapan nyusul?”

2. ”Mana calonnya, kok ga dibawa?”

3. “Pekerjaannya apa sekarang?”

4. “Anaknya udah berapa sekarang?” Itu jika ibumu yang ditanya.

5. “Mana angpaonya, beul!”

· Bawa uang receh karena kau akan banyak ketemu pengemis dan calo di jalanan. Dan kau mesti memberinya, karena ini lebaran.

· Siapkan kesabaran, karena ini lebaran. Dilarang marah-marah ketika semua orang sedang ingin damai, padahal belum tentu juga.

Demikian, semoga tips-tips ini bermanfaat sebagai bekal dunia-akhirat. Minal Aidin wal Faidzin dari saya, mohon maaf lahir dan dulmatin. Matilah Dulmatin!

Syaraf  Maulini

Google Twitter FaceBook

Soe Hok Gie Gaya Baru dan Budiman (Bukan) Arif Bertanya

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Soe Hok Gie Gaya Baru (via message FB):

Saya adalah Soe Hok Gie Gaya Baru yang memilih untuk diasingkan daripada dilokalkan. Berikut adalah pertanyaan saya yang muncul selama saya membaca Catatan Seorang Demonstran :
1. Mengapa pada tahun ini anda tidak melakukan proses mudik pada musim Lebaran? apakah anda ingin menghindari label “konsumtif” yang selalu dilekatkan pada kalangan kelas menengah di Indonesia yang menjalankan proses mudik?

2. Apakah anda mengetahui sejarah etimologis munculnya frase “mudik” dalam kosakata Bahasa Indonesia? Mungkinkah frase tersebut memiliki hubungan persaudaraan dengan Sputnik?

3. Mengapa antonim dari “arus mudik” adalah “arus balik” ? bukannya “mudik” itu sendiri memiliki pemaknaan “balik” ke kampung halaman? Kalau begitu tidak ada perbedaannya donk.

4. Seminggu kedepan akan ada libur panjang bagi kita semua. Menurut anda, bisnis apakah yang akan mendatangkan banyak keuntungan jika dilakukan dalam periode libur selama seminggu ini? Jaga rumah orang? Layanan cuci mobil? Atau pijat plus-plus?

"...tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran."
(Kutipan ini memang tidak nyambung dengan pertanyaan saya, tetapi harus diakui, ucapan tersebut keren dan berpotensi membuat wanita bertekuk lutut. Maka dari itu saya mencoba peruntungan saya di off-clinic untuk mencari jodoh)

Jawaban dari Kak Syaraf:

Bagaimana kau bisa mencari jodoh, kalau kau menyamarkan namamu, Bung? Atau bagaimana kami bisa tahu, bahwa kau bukan antek-antek dari Soe Har To Orde Baru?

  1. Tidak, karena mudik itu biasanya melalui jalur yang panjang, bukan lebar. Jadi mestinya mudik itu dilakukan saat panjangan, bukan lebaran. Tentu saja saya tidak menghindari label “konsumtif”, karena apalah manusia, selain identik dengan konsumtif sebagai kata kerjanya? Kalau label saya ”konsumsi”, baru saya takut. Apalagi ”konsumsi gratis”.
  2. Mudik itu punya sejarah etimologi yang panjang. Ia berasal dari kata ”adik”. ”A” berarti tidak, ”dik” itu panggilan bagi seseorang yang biasanya lebih muda. Jadi kalau kau mudik, kau akan bertemu banyak pedagang atau orang yang menawari ini itu. Nah, kau mesti sering bilang-bilang, ”Tidak, Dik, tidak, tidak.”
  3. Tidak, tidak. “Mudik” itu identik dengan pulang ke tempat dimana kau dilahirkan, dibesarkan, dan buang air pertamamu. Kalo “balik”, identik dengan pulang ke tempat kau buang air ke entah berapa juta. Coba perhatikan.
  4. Saya mengusulkan bisnis “calo silaturahmi”. Jadi jika ada orang yang merasa capek menyambangi satu-satu saudaranya, kau bisa menawarkan diri agar dibayar untuk bersalaman, berciuman, dan bertangis-tangisan dengan sanak saudara si konsumen. Insya Allah menguntungkan.

“… tetapi apa yang lebih puitis selain puisi yang puitis.”


Pertanyaan dari Andika Budiman (via message FB):

Kak Syaraf, saya ada sedikit THR*, nih:

  1. Ketika berkunjung ke rumah keluarga besar di hari lebaran, kita bertemu dengan banyak sanak saudara yang mengenal kita, tapi tidak kita kenal, tapi berharap kita mengenali mereka. Bagaimana supaya kita tidak memupuskan harapan sanak-sanak yang jarang kita temui itu?
  2. Pertanyaan-pertanyaan keluarga besar bersifat ice-breaking tentang kuliah, kerja, perkawinan, dan anak justru seringnya malah jadi ice-making. Memang bisa ya memecahkan es dengan pertanyaan?
  3. Sebagai laki-laki, kakak lebih suka ketupat atau lontong?

*THR=Tanya-tanya tentang Hari Raya

Jawaban dari Kak Syaraf:

Oke, Andika, saya juga ada THR nih, yakni Tunjangan Hari Raya, tapi itu buat adik-adik saya. Tentu kamu tidak saya kasih, karena kamu laki-laki.

  1. Ah, ini sama saja dengan analogi begini: kau reuni dengan teman-teman TK-mu atau SD-mu. Itu betul-betul reuni yang janggal bukan? Kau bertemu dengan orang-orang yang ”pernah” dekat, tapi sudah lama sekali sehingga kedekatan itu renggang juga, dan sekarang mesti berkenalan ulang. Betul kan? Jadi yang mempersatukanmu tak lebih dari lembaga SD-mu itu, sisanya kerancuan belaka. Nah, itu sama saja dengan kau bertemu saudara-saudaramu, padahal kau tak kenal ia. Dan apalah yang mempersatukanmu, selain kalian sesama keturunan Adam? Jadi, sapaan pertama yang sopan dan baik adalah, ”Hai, saudaraku, kenapa Adam memakan buah khuldi, sehingga mempertemukan kita ini?”
  2. Bisa dong, yang begitu saja kau tak tahu. Tinggal tanya saja, ”wahai saudara-saudaraku, bolehkah kupecahkan es ini?” Betul kan? Memecahkan es dengan pertanyaan.
  3. Sebagai laki-laki yang sedang lapar, saya akan suka keduanya.

Terima kasih, semoga hari rayamu tak cuma sekedar berbagi pecahan es.


kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaaa ... saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

Selamat Hari Raya

 

Tobucil libur tanggal 20 s/d 27 September 2009

Segenap Kru Tobucil mengucapkan :

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H,

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Selamat berhari libur …

thegang

Google Twitter FaceBook

Sunday, September 13, 2009

Pagi

“Lose an hour in the morning, and you will be all day hunting for it”

-Richard Whately-

Seperti lima tahun pertama hidup manusia menurut Sigmund Freud, pagi adalah masa anak-anak yang penting. Apa yang diterima pagi akan melandasi perjalanannya melingkar utuh sepanjang hari;  berlari-lari bersama jarum jam yang tunduk pada waktu kronos.

Seperti mata anak-anak, matahari pagihari bersih dan lugu. Ia belum belajar menyerang dan memberang. Ia menakjubi dunia yang mulai bergerak serta menatap kamu dan saya dengan cinta yang masih baru; meminta kita mengisinya dengan hal baik yang akan jadi pegangannya bertumbuh dewasa.

Minggu ini blog Tobucil diupload pagi-pagi dan bercerita mengenai pagi dari segala segi. Ada obrolan dengan Citra alias Ita mengenai pagi hari, ada Dian yang menjadi “pagi” di antara teman-teman Klab Hobi, ada Tuhan yang seakan naik sepeda mengantar susu setiap pagi, ada murid-murid BPK International yang berkunjung ke Tobucil pada pagi hari, ada CD Danive yang seperti suara pagi, dan ada kisah Dea yang mengamati langit pagi dari dalam travel.

Pagi adalah waktu tenang untuk menjelang hari yang terentang.

Seberapa panjang ? Kita penentunya.

Bulan Ramadhan adalah pagi yang menjelang menang di hari Lebaran mendatang.

Seberapa lebar ? Kita penentunya.

Selamat menyambut pagi.

Semoga kita semua melandasi hari-hari dengan hal-hal terbaik … ^_^

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

penjaja sarapan bahagia menghitung  penghasilan

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin