Di tengah hari yang nyaris hitam, Dien Fakhri Iqbal datang ke Tobucil dengan baju hitam, lalu memesan kopi. “Mas Iq, aku men-suggest temen aku ke facebook Mas Iqbal, soalnya katanya dia mau nulis tentang orang schizopren gitu. Udah di-approve, belum ?” tanya Tobuciler pada dosen psikologi Universitas Padjadjaran tersebut. Mas Iqbal mencoba mengingat-ingat. “…selama namanya nggak aneh-aneh seperti misalnya Kaleng Krupuk atau apa, sih, biasanya nggak aku ignore …,” begitu akhirnya ia menyimpulkan.
Berawal dari sana, sambil menikmati kopi susu, Mas Iqbal dan Touciler terlibat dalam obrolan seru… alias serusuh-rusuhnya …
Tobucil : Mas Iqbal, kenapa Mas Iq nge-ignore orang-orang yang namanya aneh-aneh ?
Mas Iqbal : Karena susah diinget. Lama kalau harus dicek itu siapa. Processor aku kecil, memori kecil, jadinya susah dan akan mengurangi fase bersenang-senang.
Tobucil : Berniat nambah memori ?
Mas Iqbal : Ah, udah dikasih segitu, segitu ajalah, ga akan ikut fast reading ato apa. Yang segini aja nggak kekerjakan, abdi mah sakieu wae (saya mah segini aja).
Tobucil : Nah, terus supaya efektif, memori yang “sakieu wae” itu sama Mas Iq dipake buat apa ?
Mas Iqbal : Buat apa, ya ? Ya buat hidup sehari-hari. Ya baca, jalan-jalan, menyapa tukang becak, melihat tukang petis, main bas kalo sedang pengen atau butek, ngobrol dengan Takakura (sebuah wadah pengolahan limbah), kalo iseng bawa bunga kemuning ke dalam rumah supaya wangi, facebook-an, dan sekarang lagi gemar web cam-an.
Tobucil : Jadi yang efektif yang begitu itu ?
Mas Iqbal : Nggak juga, tapi kalo dipake bisa nggak nge-hang-lah …
Tobucil : Terus ke Tobucil termasuk pemanfaatan memori yang efektif, nggak ?
Mas Iqbal : Langsam kalo persneling mobil. Giginya nggak dimasukkin terus meluncur weh …
Tobucil : Tapi Mas Iqbal ke sini ada giginya, dimasukin di mulut, lagi …
Mas Iqbal : Soalnya kalo nggak … nanti terjadi premis-premis … nanti terjadi kerusuhan sosial … tuh kan, hang kan …
Tobucil : Apanya ? Giginya hang (menggantung) di mulut ?
Mas Iqbal : Sebagian hang, sebagian stay (menetap). Kalau hang semua kan ngeri …
Tobucil : Baiklah. Kembali ke Tobucil. Sebenernya Mas Iqbal ke sini dengan tujuan apa ?
Mas Iqbal : Ingin mencari kebenaran dengan cara yang riang.
Tobucil : Kebenaran atau kebetulan ?
Mas Iqbal : Kebetulan. Kalo betul situasional.
Tobucil : Kebetulan apa yang sering ditemukan di Tobucil ?
Mas Iqbal : Bahwasanya … sore itu redup, malam itu gelap, hujan itu basah … kitu weh …
Tobucil : Itu bukannya kebenaran, ya ?
Mas Iqbal : Bukan, kontekstual. Hujan bisa kering, kalo hujannya di Bandung, kamunya di Jakarta. Tapi yang benar-benar benar, nih, kalo hujan, tanaman bisa benar-benar santun. Kalo manusia kan senang sebagian, susah sebagian. Tadi di jalan aku melihat ada kakek-kakek yang meloncat-loncat senang gitu. Dia meloncat-loncat untuk meloncat-loncat itu sendiri, fokus sama loncat-locatnya. Tapi ada anak muda yang masam dan tampak merasa kesal, dia terburu-buru sementara kakek itu lama. Aku tersenyum menikmati, soalnya aku tau betul rasanya di dua-dua posisi itu.
Tobucil : Coba ceritain rasanya berdiri di masing-masing posisi, Mas …
Mas Iqbal : Kalau kamu jadi anak muda yang harus mengatasi waktu, kamu seperti naik kano dan berada di atas kano. Sepenuhnya kamu menjadi orang yang asing di atas air itu. Kamu terlibat, tapi kamu sangat berjarak karena berusaha mengatasi air itu. Nah, tapi kalau kamu ada di dalam waktu, kamu menjadi airnya, kamu mengalir aja sambil liat, “eh ada ini, eh ada itu ..”, seperti si kakek tadi.
Tobucil : Mas Iq lebih suka jadi yang mana ?
Mas Iqbal : Ketiga-tiganya, termasuk sama jadi yang mengamati itu. Aku seneng bergelombang bolak-balik di antara itu. Jadi pemain, sutradara, sekaligus penyaksi juga.
Tobucil : Dari seluruh peristiwa itu, mana yang kebenaran mana yang kebetulan ?
Mas Iqbal : Yang kebenaran, pasti yang penyaksi, bersaksi menjadi penyaksi. Kalo kebetulan … ya bisa ada ujan, tukang bakso yang semangat, atau ada hening di antara dua tarikan nafas …
Tobucil : Terus kakek-kakek dan anak mudanya termasuk kebenaran atau kebetulan ?
Mas Iqbal : Kamu membuat saya pusing. Udahlah, Neng, sama ajalah … boleh ditarik lagi aja ? Kembali ke saya sedang minum kopi susu. Saya jadi hang, nih … kamu membuat saya tidak langsam …
Tobucil : Terakhir, deh, terakhir … sehubungan dengan langsam alias nggak pasang gigi, kakek-kakek di jalan tadi ada giginya, nggak ?
Mas Iqbal : Ada. Terlihat sangat jelas karena dia tersenyum sangat manis.
Selepas wawancara, Mas Iqbal pun mengajak Lia dan Ruri yang kebetulan sedang berkunjung juga ke Tobucil mempraktekkan terapi olah tubuh untuk mengatasi trauma. Ketiganya lalu tertawa lepas, memperlihatkan gigi mereka dengan jelas.
Teman-teman, ini kuis tidak berhadiah. Sebutkan dua atau lebih persamaan Mas Iqbal dengan kakek-kakek yang dilihatnya di jalan …
Biodata Dien Fakhri Iqbal :