Sunday, October 25, 2009

Selingan

Selingan adalah (           ) di antara kepadatan.

(               )

(               )

(               )

Ringan seperti bunyi “ing” yang terjepit aksara.

Mingu ini ada (R.E Hartanto yang mengabarkan pernikahannya di tengah kesibukan berproyek bersama Klab Hobi, Mas Iqbal yang langsam datang ke Tobucil, buku-buku diskon untuk bacaan di seling waktumu, ruang di antara Klab Klassik dan Klab Nonton, tapping soundtrack di tengah kesibukan mempersiapkan Salamatahari # 2… ) yang menyeling pekat dalam seminggu.

Ting-ting-ting-ting

Selingan adalah kelinting yang ringan berdenting di kuping.

dan reranting

di pohon yang kokoh.

Semoga selingan dari kami  hari ini membuatmu cukup ringan untuk terbang

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

capucinni

Google Twitter FaceBook

Kebenaran dan Kebetulan Membuat Dien Fakhri Iqbal Langsam

mainpic Di tengah hari yang nyaris hitam, Dien Fakhri Iqbal datang ke Tobucil dengan baju hitam, lalu memesan kopi. “Mas Iq, aku men-suggest temen aku ke facebook Mas Iqbal, soalnya katanya dia mau nulis tentang orang schizopren gitu. Udah di-approve, belum ?” tanya Tobuciler pada dosen psikologi Universitas Padjadjaran tersebut. Mas Iqbal mencoba mengingat-ingat. “…selama namanya nggak aneh-aneh seperti misalnya Kaleng Krupuk atau apa, sih, biasanya nggak aku ignore …,” begitu akhirnya ia menyimpulkan.

Berawal dari sana, sambil menikmati kopi susu, Mas Iqbal dan Touciler terlibat dalam obrolan seru… alias serusuh-rusuhnya …


Tobucil : Mas Iqbal, kenapa Mas Iq nge-ignore orang-orang yang namanya aneh-aneh ?

Mas Iqbal : Karena susah diinget. Lama kalau harus dicek itu siapa. Processor aku kecil, memori kecil, jadinya susah dan akan mengurangi fase bersenang-senang.

Tobucil : Berniat nambah memori ?

Mas Iqbal : Ah, udah dikasih segitu, segitu ajalah, ga akan ikut fast reading ato apa. Yang segini aja nggak kekerjakan, abdi mah sakieu wae (saya mah segini aja).

Tobucil : Nah, terus supaya efektif, memori yang “sakieu wae” itu sama Mas Iq dipake buat apa ?

Mas Iqbal : Buat apa, ya ? Ya buat hidup sehari-hari. Ya baca, jalan-jalan, menyapa tukang becak, melihat tukang petis, main bas kalo sedang pengen atau butek, ngobrol dengan Takakura (sebuah wadah pengolahan limbah), kalo iseng bawa bunga kemuning ke dalam rumah supaya wangi, facebook-an, dan sekarang lagi gemar web cam-an.

Tobucil : Jadi yang efektif yang begitu itu ?

Mas Iqbal : Nggak juga, tapi kalo dipake bisa nggak nge-hang-lah …

Tobucil : Terus ke Tobucil termasuk pemanfaatan memori yang efektif, nggak ?

Mas Iqbal : Langsam kalo persneling mobil. Giginya nggak dimasukkin terus meluncur weh …

Tobucil : Tapi Mas Iqbal ke sini ada giginya, dimasukin di mulut, lagi …

Mas Iqbal : Soalnya kalo nggak … nanti terjadi premis-premis … nanti terjadi kerusuhan sosial … tuh kan, hang kan …

Tobucil : Apanya ? Giginya hang (menggantung) di mulut ?

Mas Iqbal : Sebagian hang, sebagian stay (menetap). Kalau hang semua kan ngeri …

Tobucil : Baiklah. Kembali ke Tobucil. Sebenernya Mas Iqbal ke sini dengan tujuan apa ?

Mas Iqbal : Ingin mencari kebenaran dengan cara yang riang.

Tobucil : Kebenaran atau kebetulan ?

Mas Iqbal : Kebetulan. Kalo betul situasional.

Tobucil : Kebetulan apa yang sering ditemukan di Tobucil ?

Mas Iqbal : Bahwasanya … sore itu redup, malam itu gelap, hujan itu basah … kitu weh …

Tobucil : Itu bukannya kebenaran, ya ?

Mas Iqbal : Bukan, kontekstual. Hujan bisa kering, kalo hujannya di Bandung, kamunya di Jakarta. Tapi yang benar-benar benar, nih, kalo hujan, tanaman bisa benar-benar santun. Kalo manusia kan senang sebagian, susah sebagian. Tadi di jalan aku melihat ada kakek-kakek yang meloncat-loncat senang gitu. Dia meloncat-loncat untuk meloncat-loncat itu sendiri, fokus sama loncat-locatnya. Tapi ada anak muda yang masam dan tampak merasa kesal, dia terburu-buru sementara kakek itu lama. Aku tersenyum menikmati, soalnya aku tau betul rasanya di dua-dua posisi itu.

Tobucil : Coba ceritain rasanya berdiri di masing-masing posisi, Mas …

Mas Iqbal : Kalau kamu jadi anak muda yang harus mengatasi waktu, kamu seperti naik kano dan berada di atas kano. Sepenuhnya kamu menjadi orang yang asing di atas air itu. Kamu terlibat, tapi kamu sangat berjarak karena berusaha mengatasi air itu. Nah, tapi kalau kamu ada di dalam waktu, kamu menjadi airnya, kamu mengalir aja sambil liat, “eh ada ini, eh ada itu ..”, seperti si kakek tadi.

Tobucil : Mas Iq lebih suka jadi yang mana ?

Mas Iqbal : Ketiga-tiganya, termasuk sama jadi yang mengamati itu. Aku seneng bergelombang bolak-balik di antara itu. Jadi pemain, sutradara, sekaligus penyaksi juga.

Tobucil : Dari seluruh peristiwa itu, mana yang kebenaran mana yang kebetulan ?

Mas Iqbal : Yang kebenaran, pasti yang penyaksi, bersaksi menjadi penyaksi. Kalo kebetulan … ya bisa ada ujan, tukang bakso yang semangat, atau ada hening di antara dua tarikan nafas …

Tobucil : Terus kakek-kakek dan anak mudanya termasuk kebenaran atau kebetulan ?

Mas Iqbal : Kamu membuat saya pusing. Udahlah, Neng, sama ajalah … boleh ditarik lagi aja ? Kembali ke saya sedang minum kopi susu. Saya jadi hang, nih … kamu membuat saya tidak langsam …

Tobucil : Terakhir, deh, terakhir … sehubungan dengan langsam alias nggak pasang gigi, kakek-kakek di jalan tadi ada giginya, nggak ?

Mas Iqbal : Ada. Terlihat sangat jelas karena dia tersenyum sangat manis.

Selepas wawancara, Mas Iqbal pun mengajak Lia dan Ruri yang kebetulan sedang berkunjung juga ke Tobucil mempraktekkan terapi olah tubuh untuk mengatasi trauma. Ketiganya lalu tertawa lepas, memperlihatkan gigi mereka dengan jelas.


Teman-teman, ini kuis tidak berhadiah. Sebutkan dua atau lebih persamaan Mas Iqbal dengan kakek-kakek yang dilihatnya di jalan …


fotodua
fototiga









Biodata Dien Fakhri Iqbal :

IMG_1621
Google Twitter FaceBook

Diskon Buku Besar di Tobucil

Teman-teman, ada diskon buku besar-besaran, lho, di Tobucil . Bukunya sangat bervariasi, mulai dari kisah cinta hingga buku praktis. Berikut adalah beberapa buku yang bisa menjadi alternatif

 

hariterakhirche Judul buku : Hari-hari Terakhir Che Guevara

Pengarang : Robert Scheer (ed.), pengantar : Fidel Castro

Harga buku : Rp 30.000,00

Harga Tobucil : Rp 18.000,00

Sebuah kisah heroik, romantis, dan tragis dari Che Guevara, sang revolusioner sejati. Dalam buku itu terungkap isi hati dan kegelisahan Che sebagai manusia biasa, yang cemas ketika kawan-kawan seperjuangan gugur satu persatu, yang takut penyakit paru-parunya kambuh, serta perasaan-perasaan manusiawi lainnya.

Buku ini berisi kisah nyata yang sangat menyentuh dan diungkapkan secara jujur.

 

miss jutek Judul buku : Miss Jutek

Pengarang : Yennie Hardiwidjadja

Harga buku : Rp 42.500,00

Harga Tobucil : Rp 25.200,00

Salma ? Cewek bukan, cowok juga bukan. Cuma orang gila yang naksir Salma. Cari masalah dengannya sama aja cari mati. Beneran Salma nggak butuh sapa-sapa ? Beneran Salma nggak bakalan tobat ? Miss Jutek bukan sekedar cerita cinta. Tapi kamu bakalan jatuh cinta.

 

belajartanpasekolah Judul buku : Belajar Tanpa Sekolah

Pengarang : Mary Griffith

Harga buku : Rp 39.000,00

Harga Tobucil : Rp 23.500,00

Tahukah Anda bahwa persentase mereka yang bersekolah di rumah menjadi belajar tanpa sekolah mulai meningkat ? Pergerakan pendidikan tanpa sekolah didasarkan pada prinsip bahwa anak0anak selalu paling baik belajar saat mereka mengejar keingintahuan dan minat alami mereka sendiri.

Orangtua yang tidak menyekolahkan anaknya dengan sukses tahu cara menstimulasi dan mengarahkan impuls belajar anak-anak mereka. Begitu Anda membaca buku ini, Anda juga akan tahu.

 

Ini daftar harga buku diskon di Tobucil :

Judul

Harga buku

Harga Tobucil

1001 Tokoh yang Mengubah Indonesia

Rp 25.000,00

Rp 15.000,00

1001 Tentang Kehamilan

Rp 50.000,00

Rp. 30.000,00

Amandemen UUD 1945

Rp 14.000,00

Rp 8500,00

Ayat-ayat Cinta

Rp 39.500,00

Rp 23.700,00

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Rp 50.000,00

Rp 30.000,00

Bung Karno Maestro Monte Carlo

Rp 23.500,00

Rp 14.000,00

Cara Gampang Menjadi Wartawan

Rp 23.500.00

Rp 14.000,00

Cerdas Beriklan

Rp 37.000,00

Rp 22.000,00

Cintapucinno

Rp 32.000,00

Rp 19.200,00

Detik-detik yang Menentukan

Rp 90.000,00

Rp 45.000,00

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

Rp 25.000,00

Rp 15.000,00

Endensor

Rp 44.000,00

Rp 26.700,00

Isme-isme

Rp 45.000,00

Rp 27.000,00

Keistimewaan Sholat Khusyu

Rp 18.500,00

Rp 11.000,00

Keukuatan Otak

Rp 36.000,00

Rp 21.500,00

Komunikasi Antar-Budaya

Rp 37.500,00

Rp 22.500,00

Kontroversi Kudeta Prabowo

Rp 20.000,00

Rp 12.000,00

Laskar Pelangi

Rp 50.000,00

Rp 30.000,00

Lanturan Tapi Relevan

Rp 50.000,00

Rp. 30.000,00

Menyembuhkan Sinusitis

Rp. 45.000,00

Rp. 27.000,00

Penerbitan dan Pembangunan

Rp 32.000,00

Rp 19.200,00

Pengantar Teori Komunikasi

Rp 27.000,00

Rp 16.200,00

The Death of Adolf Hitler

Rp 32.000,00

Rp 19.200,00

 

Pssst … masih ada buku-buku diskon lainnya, lho … siapa tahu buku yang kau incar termasuk dalam jajaran buku diskon di rak Tobucil … ; )

IMG_1818

Sundea

Google Twitter FaceBook

Resep Roti Unyil ala (Kakaknya) Manager Tobucil

-Tobucil, Senin 19 Oktober 2009-

Pada suat siang, Mbak Elin, manager Tobucil, datang dengan sekotak kecil roti kecil-kecil. “Ini roti unyil daging asap, bikinan kakak saya, sok cobaan, geura (silakan, deh, coba),” tawar Mbak Elin. “Dia mau jualan, ini coba-coba dulu,” tambah Mbak Elin. Mbak Upi dan Tobuciler pun mencobanya. Hmmmm … ternyata lezat, Teman-teman.

rotiunyil

Psst … kamu pun bisa membuat roti unyilmu sendiri. Tak perlu jauh-jauh ke Bogor atau tak perlu kembali ke tahun 80an ketika Film Boneka Si Unyil masih berjaya. Ini resepnya (versi massal, untuk dipasarkan) :

BAHAN

Tepung terigu protein tinggi 1.600 g

Tepung Terigu protein sedang 400 g

Ragi Instan 40 g

Susu bubuk 60 g

Bread improver 5 g

Gula pasir 450 g

Garam Halus 25 g

Kuning Telur 4 butir

Air es 900 ml

Mentega/margarin 550 g

ISI

Daging asap, potong-potong 250 g

Keju Cheddar, potong-potong 250 g

OLESAN

Kuning Telur 3 butir

Susu tawar cair 2 sdm

Margarin/mentega, lelehkan 1 sdm

CARA MEMBUAT

1. Campur tepung terigu, ragi instan, susu bubuk, bread improver, gula pasir, garam, dan kuning telur dalam mangkuk mikser roti. Aduk Rata.

2. Mikser dengan kecepatan 1 selama 2 menit. Tambahkan air es dan mentega/margarin, lalu mikser lagi selama 12 menit atau hingga adonan kalis. Pengadukan juga bisa menggunakan tangan.

3. Bulatkan adonan, lalu diamkan selama 30 menit di tempat yang hangat atau hingga adonan mengembang 2 kali lipat.

4. kempeskan, potong, lalu timbang masing-masing seberat 7-10 g. Bulatkan, lalu diamkan selama 10 menit

5. Giling adonan, lalu letakkan potongan daging asap dan keju. Gulung dan padatkan.

6. Atur adonan di atas loyang beroles margarin, lalu fermentasikan kembali selama 45 menit. Olesi permukaannya dengan bahan olesan.

7. Panggang adonan di dalam oven bertemperatur 170 derajat celcius selama5-7 menit atau hingga roti matang dan berwarna kuning kecoklatan. Angkat, lalu dinginkan.

8. Kemas roti unyil dalam plastik, boks plastik, atau karton. Roti unyil siap dipasarkan.

Untuk 200 buah

mbaupimakanrotiunyil

Sundea

Google Twitter FaceBook

Nunuws Seorang Mengulang-ulang Tahun (bonus : Birthday Quotes)

-Tobucil, Senin 19 Oktober 2009-

Senin itu beranda Tobucil cukup padat. Ada Adi Marsiella yang sibuk mengecek berita, Mbak Tarlen, Wikupedia yang sibuk mereparasi keyboard kecilnya, Mbak Upi, Erri Kontemplacity yang sibuk mempercantik blognya, serta Theo Rumthe dan Tobuciler yang mengobrol cukup serius. Di tengah suasana itu, tahu-tahu si kecil Reni muncul, “Hari ini Kak Nunuw ulangtaun kan … ?” Dan seisi beranda berhenti beraktivitas. Oh, iya, ya …

onyetyangulangtaun Tak lama kemudian, Nunuws seorang, pemuda yang senanitasa tampil dengan kostum berlapis itu, hadir di tengah masyarakat. Rupanya ia baru saja merayakan ulangtahun dengan Prima, sang pacar yang ulangtahunnya hanya berselisih satu hari dengan dia. “Nyet, selamat ulangtaun, ya …” “Eh, Nuws, ulangtaun ?” “Gi, selamat ulangtaun, ya …” Semua langsung seru memberikan selamat.

“Tau, nggak, sebenernya kan kita nggak ada yang inget ulangtaun lo, Nyet, yang inget malah Si Reni,” kata Tobuciler. Spontan Nunuws menoleh pada Reni. Demikian pula seisi beranda. Dan kami semua senyum-senyum jahil menggoda Reni yang langsung salah tingkah, “Apaaaaan … ? Orang ada di facebook, kooook !!!” Selanjutnya, Reni melampiaskan kesalahtingkahannya dengan mengejar-ngejar orang. Kali itu korbannya adalah Adi Marsiella.

rengrengejaradi

Sundea

Bonus !

Teman-teman, ingin mengucap selamat ulang tahun dengan quote keren ? Silakan contek … :

“Men are like wine: some turn to vinegar, but the best improve with age”.

-Pope John XXIII-

“A birthday is just the first day of another 365-day journey around the sun. Enjoy the trip”.

-Author Unknown-

“Because time itself is like a spiral, something special happens on your birthday each year: The same energy that God invested in you at birth is present once again”.

-Menachem Mendel Schneerson-

“They say that age is all in your mind. The trick is keeping it from creeping down into your body”. - Author Unknown-

“Just remember, once you're over the hill you begin to pick up speed”.

-Charles Schulz-

“Our birthdays are feathers in the broad wing of time”.

-Jean Paul Richter-

“May you live to be a hundred years with one extra year to repent”

-Author Unknown-

“Inside every older person is a younger person wondering what happened”.

-Jennifer Yane-

“Let us respect gray hairs, especially our own”.

- J. P. Sears-

dikutip dari mana-mana

Google Twitter FaceBook

Cihuy, Ada Berita Gembira

-Tobucil, Selasa 20 Oktober 2009-

“Tanto jadi ke sini ?” tanya Mbak Elin.

“Jadi, jadi. Sakedeung deui (sebentar lagi),” sahut Mbak Tarlen.

Setelah terpotong libur Lebaran, rencananya proyek R.E Hartanto feat. Klab Hobi akan dilanjutkan kembali. “Hari ini mau ngerjain apa, Mbak ?” tanya Tobuciler pada Mbak Elin. “Kita para seniman klab hobi mau dimarahin kali … hihihihi …,”seloroh Mbak Elin.

Tak lama kemudian, Mas Tanto datang. Mbak Elin dan Mbak Upi yang sedang duduk-duduk di seputar tampuk kekasiran menegakkan punggung seakan siap menyambut instruksi berikutnya. Lalu kalimat pertama, yang terlontar dari mulut Mas Tanto adalah …

“Aku akad Jumat ini …”

“Wah … selamat, ya … !” “Akhirnya, Pah …” “Woooow …” “Cepet juga, To …” kemungilan Tobucil pun segera riuh dan penuh kebahagiaan. “Tapi resepsinya Desember, ya …,” lanjut Mas Tanto.

Selanjutnya, Mas Tanto, seniman Klab Hobi, dan Tobuciler untuk sesaat lupa membicarakan proyek. Kami asyik mengobrolkan rencana pernikahan Mas Tanto. “Sekarang saya lagi nyari-nyari gedung. Di mana, ya ? Udah pada penuh,” curhat Mas Tanto. Mengenai perasaan, Mas Tanto mengaku tenang-tenang saja. Dan mengenai tempat tinggal, ia berujar, “Setelah sekian lama nggak dapet-dapet rumah, akhirnya saya … di mana, ya ?” TAK JEDES !

Setelah obrolan seru yang ke sana kemari, Mas Tanto tampak kelaparan. “Cari makan aja, yuk. Ngobrolin ininya (proyek) besok aja …,” ajaknya. Maka pergilah Mas Tanto dan kawan-kawan mencari makan siang.

Mas Tanto, Mbak Fini, selamat, ya … semoga kalian berdua dapat membina keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Amiiinnn …

Sundea

mastantotersenyumtersipu

Mas Tanto tersenyum tersipu-sipu

Google Twitter FaceBook

Milena Memilih Warna

-Tobucil, Jumat 23 Oktober 2009-

“Can I order this in another pattern (bisakah saya memesan ini dalam pola yang berbeda) ?” tanya seorang gadis bule sambil menunjuk diary batik handmade yang dijual di Tobucil. Mbak Tarlen pun segera tanggap. Ia membawa setumpuk kain batik kepada gadis bule tersebut, dan si gadis memilih-milih dengan penuh minat.

milenamilih

Namanya Milena. Ia adalah gadis Jerman yang sedang belajar Bahasa Indonesia di Universitas Padjadjaran. “It’s really beautiful, not really expensive (ini sangat cantik, tidak terlalu mahal),” kata Milena sambil masih terus memandangi diary batik berharga Rp 35.000,00 tersebut. Menurut Milena, diary tersebut menarik karena dibuat secara handmade. Handmade memang menjadi salah satu ciri khas Tobucil. Ada Klab Rajut yang aktif berkarya dan sempat ikut berpameran bersama Still Loving Youth, ada kartu, notes, bahkan ada stik rajut handmade yang dijual di Tobucil. “Handmade make it special,” kata Milena lagi.

Jika boleh memilih warna, kira-kira warna apa yang ingin Milena pilih untuk diary batik pesanannya ? “Saya suka warna-warna natural seperti hijau, abu-abu, cokelat, hitam … mungkin saya pilih hijau dan merah,” ujar Milena akhirnya.

Teman-teman, ada yang tertarik juga pada diary batik handmade ini ? Kamu pun bisa memesan diary dalam warna dan pola yang sesuai selera … ;)

Sundea

milena

Google Twitter FaceBook

Siapa Selingan Siapa Bukan

-Tobucil, Sabtu 24 Oktober 2009-

Jika kau berada di situ hari itu, maka kau akan tahu, bahwa malam minggu di Tobucil sedang sepi-sepinya. Tobuciler datang, bukan dalam rangka hendak menunjukkan bahwa Tobucil tidak sesepi itu loh. Tapi Tobuciler sedang dalam rangka ingin latihan. Latihan bersama kedua orang yang tentunya, saya yakin, bukan bermaksud juga menunjukkan bahwa Tobucil tidak sesepi yang kalian bayangkan. Tapi kenyataannya, kami boleh sombong, bahwa kami membuat Tobucil tidak terasa sepi lagi. Bukan karena kami berteriak-teriak di beranda, berdebat soal adanya Tuhan atau tidak. Tapi, lihatlah kami ketika itu, membawa gitar, flute, dan, apalah itu, kalau vokalis nyanyi bawa apa ya?

Tobuciler, Galih, dan Puti, akan tampil pukul tujuhnya di Café Rumah 1930. Sebuah Café di Jalan Taman Cibeunying Selatan. Karena belum pernah bertemu sebelumnya, kamipun merasa perlu latihan lebih dulu. Bertemulah kami di waktu itu. Di sore yang dingin dan macet karena katanya Bandung habis pawai. Kala itu sekitar pukul lima. Dan kami bersua di Tobucil. Di beranda.

Kau tahu apa itu flute? Semacam seruling, biarpun memang iya seruling. Tapi terbuat dari semacam logam, bukan dari kayu seperti seruling Sunda. Umurnya, kau tahu, ditemukan pertama sekitar 35.000-45.000 tahun lalu. Entah nabi apa yang sedang hidup jaman itu. Dan sepertinya keren sekali, ketika kau tahu ada benda tiup yang sedemikian punya sejarahnya, ke Tobucil yang juga punya sejarahnya. Dan akhirnya, kami berkumpul di situ. Bersama gitar yang umurnya lebih muda, yakni 2500 tahun yang lalu. Serta vokal yang umurnya, alah, kapan itu Nabi Adam lahir. Kami berlatih memainkan lagu-lagu yang paling lama sih, sekitar lima puluh tahunan yang lalu.

Di tengah hingar bingar harmoni gitar, flute dan vokal yang tengah kami mainkan. Wiku datang membawa TV. Yang dimaksud membawa adalah, menggeser TV dari ruang belakang ke beranda Tobucil. Membuat kami sadar, bahwa di tengah latihan kami, akan ada sebuah selingan. Selingan yakni Klab Nonton yang seyogianya rutin setiap Sabtu jam enam. Selingan yang membuat kami sadar, bahwa kami tidak bisa selamanya berada di sana untuk latihan. Meski kami senang, dan kami bisa dicatat dalam sejarah: bahwa kami pernah membuat Tobucil hingar bingar. Tapi pun TV, ia seolah memberitahu, bahwa kemudian ialah yang mengambil alih peran kami. Seolah tidak ada satupun pihak yang membiarkan Tobucil larut dalam kesepian. Tadinya Tobuciler berpikir kami adalah selingan bagi hari Sabtu Tobucil. Tapi saat berlatih kami sadar bahwa kami menjadi selingan, karena tahu disana ada yang tetap. Tetap yakni Klab Nonton itu. Klab Nonton yang justru buat kami jadi semacam selingan. Kami yang justru menjadi selingan buat Klab Nonton. Hal yang justru membuat kalian bingung: siapa selingan siapa bukan? Pentingkah itu?

Syaraf Maulini

foto selingan-1

Google Twitter FaceBook

Menanti Kelahiran Memulai Merajut

Tulisan judul diatas sepertinya membingungkan, karena seharusnya Menanti Kelahiran “Memulai Merajut”. Atau bisa saja agar saya terkesan sastrawi, saya bikin judul Menanti Kelahiran, Memulai Merajut. Tapi tidak bisa seperti itu, karena dua kata terakhir itu judul buku. Tapi tidak apa-apa kan kalau Tobuciler bikin judul jadi demikian. Agar kau bingung. Agar kau membaca artikel ini untuk tahu apa maksudnya Tobuciler menulis seperti itu.
Adalah Mbak Upi alias Palupi Sri Kinkin (terbalik, harusnya Palupi Sri Kinkin alias Mbak Upi) yang siap membidani kelahiran buku tersebut. Buku yang, katanya, akan menjadi panduan bagi para awam yang ingin memulai merajut ala Breyen. Kalau sudah pada bisa via buku itu, apakah Mbak Upi takut kekurangan murid-murid? Yang nantinya malah mending beli buku itu, daripada belajar privat. Ah, kata Mbak Upi, saya ingin memasyarakatkan merajut sih. Tujuan yang mulia, menurut Tobuciler, biarpun ternyata setelah ditilik-tilik, jika itu memasyarakat, malah akan bikin murid Mbak Upi tambah banyak kan?
Katanya, buku yang akan diterbitkan Pikiran Kecil itu, Insya Allah akan terbit paling telat tahun ini. Meski progresnya baru (atau sudah?) enam puluh persen, tapi Mbak Upi optimis. Lantas, Mbak Upi, apa sih isi dari buku itu nantinya? Mbak Upi: Ya, semacam rajut untuk pemula. Isinya tentu ada step by step memulai merajut, terus ada bikin karya, dan aneka motif. Ilustrasinya, lanjut Mbak Upi, dibuat oleh Erri, yang kemudian diujicobakan pada orang-orang yang sama sekali belum bisa merajut, macam Icha, adiknya Erri, dan Bebeng. Dan hasilnya, Mbak Upi? Bisa! Mereka langsung pada bisa merajut. Seolah-olah Mbak Upi mau bilang, bahwa Erri adalah orang yang pandai menggambar. Yang entah kenapa, Mbak Upi tidak mau mengatakannya secara langsung.
Pertanyaan kedua terakhir: Mbak Upi, apa kesulitannya dalam membuat buku ini? Kesulitannya adalah, memposisikan diri sebagai pemula. Wajar memang, ketika Mbak Upi sudah terkenal sebagai tutor di Klab Merajut, ia harus dan mesti bersikap seolah-olah dia baru belajar, agar bisa berempati terhadap orang-orang yang nantinya membaca buku ini. Pertanyaan terakhir: harganya Mbak Upi? Belum tahu, tapi sekitar 35.000 hingga 50.000 rupiah, dan harus dibayar pakai uang asli.
Tertarik? Tobuciler tidak bisa memberitahukan dimana membeli dan kapan dan bagaimana caranya, karena memang belum jadi. Maka untuk sementara ini: Kalau tertarik, kita sama-sama dukung dan doakan agar Mbak Upi bisa cepat-cepat merampungkan “Memulai Merajut”, tanpa dia harus kelelahan dan mengorbankan jiwa raga terlalu banyak. Karena, Mbak Upi, kasihan murid-muridmu, andai ada yang salah dengan rajutannya, maka akan sulit mereka membetulkannya jika Mbak Upi sedang kelelahan atau bad mood. Maka akan sulit bagi teman-teman Mbak Upi yang ada di Facebook untuk mengontak Mbak Upi jika Mbak Upi tak pernah membukanya dengan alasan kelelahan.
mas bebeng mengetes “Memulai Merajut” dengan Agus Bebeng
Google Twitter FaceBook

Yoga Bersalah !

kaksyaraftiga asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Yoga Bersalah (via wall FB):

Halo Kak Syaraf, saya mau bertanya berikut ini:

1. Verstehen itu apa?

2. Satu tambah satu kenapa jadi dua?

3. Apa lagi ya?

4. Yakin itu apa?

5. Duluan mana antara pertanyaan apa dengan mengapa?

6. Duluan mana yakin sama berpikir?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Yoga, saya tahu anda galau. Dan dengan itu saya mengerti mengapa pertanyaan anda begini-begini semua. Jangan kira saya sedang menertawakan pertanyaan anda, meski sebenarnya kalaupun saya memang benar-benar tertawa, kau toh tidak tahu. Dengan demikian akan saya coba jawab tanpa Wikipedia, meskipun kalau saya pakai toh kau tidak tahu:

1. Kau tahu, jika kau menganggap ada satu kebenaran utama, universal, objektif dan tak terbantahkan. Nah, verstehen persis kebalikannya. Itu bahasa Jerman, jangan kau pikir itu orang sedang berusaha menyingkat band Verstikel Horisen.

2. Ah, siapa bilang. Kata saya sih tiga. Boleh kan? Dampaknya sih, saya jadi dimusuhi oleh jaman aja. Tapi tidak apa-apa kan?

3. Kau bertanya seolah-olah sedang berada di warung prasmanan dan uangmu dua belas ribu. Tapi kau baru mengambil nasi, telor, dan kangkung (sudah pesan teh botol). Maka demikianlah yang akan kau tanyakan pada diri sendiri.

4. Yakin itu adalah kebenaran bagi dirimu sendiri. Tapi tidakkah semua kebenaran, adalah bagi dirimu sendiri?

5. Duluan pertanyaan.

6. Kata St. Anselmus, kau harus yakin dulu, dan nalar akan kemudian satu per satu mendukung keyakinan kita. Kata Thomas Aquinas, kau harus bernalar dulu, hingga mentok, lantas baru pakai keyakinan. Kalau kata saya sih, kau mesti melewati pipis dan menggaruk bagian yang gatal dulu, baru kau bisa berpikir mana yang duluan.

Google Twitter FaceBook

Dinding Rasa Wortel

salamatahari Hari Kamis kemaren Galih dan Dea tapping soundtrack Salamatahari # 2 di Sky FM. Menyenangkan, deh, Temen-temen, Sky lagi dicat oranye. Jadi, meskipun di luar ujan Dea ngerasa tetep dikelilingin cahaya matahari ; pas banget sama teks lagu Galih,

 

Mentari, melukis mentari

menyapamu di angkasa

wajahnya ceria ….

 

Sambil tapping, Dea meratiin mas-mas yang ngecat dinding. Temen-temen, kalo diperatiin roll buat ngecat tembok itu mirip wortel, lho. Bentuknya silinder, sedikit ada serabut-serabutnya, terus oranyenya segerrrr …. banget. Si roll yang ngegulung-gulung itu kayak lagi bikin ruang Sky FM jadi rasa wortel. Dia juga bikin Dea kepingin loncat-loncat dan makan wortel kayak kelinci.

Temen-temen, sebenernya wortel memang mirip matahari. Pernah nggak kamu meratiin potongan wortel yang bunder-bunder di sop ? Intinya kuning, sekitarnya oranye. Dia juga mengandung vitamin A yang bagus untuk kesehatan mata. Dea percaya rasa wortel yang ngelilingin Sky FM itu pun sehat untuk kesehatan mata hari, soalnya mata temen-temen yang terlibat di tapping dan mata Dea sendiri jadi lebih ceria membaca hari.

“Wawww !!!” tau-tau secara mengejutkan Galih ngeluarin suara aneh di akhir tapping. Theo, Galih, dan Dea ketawa lepas.

 

Jangan kau bersedih, kuajakmu menari

Jangan kau bersedih, karena esok aku ‘kan kembali …

 

Hari itu jiwa kami semua lompat-lompat raya seperti kelinci.

Dinding rasa wortel jadi saksi mata keceriaan.

masygngecatsky

Sundea

Soundtrack Salamatahari # 2 diputer di Sky Jeda Siang (Sky 90.50 FM), Senin-Jumat jam 11-14.00

Lebih lengkap tentang Salamatahari # 2 ada di

http://salamatahari.blogspot.com/

Google Twitter FaceBook

Telah Lahir Blog Handmade Corner

Jenguk blog “handmade” corner di: http://tobucilhandmade.blogspot.com/ dan ucapkan selamat datang ^_^
Menu blog handmade corner perdana :

xoxo
vitarlenology
vitarlenology@gmail.com


REGULER KLABS
Telah dibuka kelas penulisan 'Klab Nulis angakatan VI' tobucil n klabs

Tema angkatan VI adalah Fiction Journey Writing
copyright metode ada pada Sophan Ajie
Fiction Journey Writing melatih seseorang menanggapi sesuatu atau seseorang dengan sangat original dan tidak terprediksi. Dengan metoda menulis Fiction Journey Writing, penulis akan di tantang untuk tampil seperti apapun yang mereka idam-idamkan dalam hidup, yaitu kebebasan. Sebuah perjalanan menuju perjalanan kebebasan yang bermakna.
Durasi Metode Pengajaran : 12 Pertemuan selama 2 bulan 2x seminggu
Klab akan diadakan setiap senin – kamis setiap minggunya
Waktu klab 17.00 – 19.00 WIB
Angkatan VI akan dimulai tanggal 2 November 2009
Pendaftaran dibuka dari 12 – 24 31 Oktober 2009 (sangat terbatas hanya untuk 15 orang)
Biaya pendaftaran Rp 225.000
Fasilitas: materi, sertifikat, bingkisan menarik diakhir angkatan, dan hadian spesial untuk karya terbaik
Perserta: pelajar (SMA), mahasiswa, dosen umum

untuk keterangan lebih lengkap, klik di sini

Telah Dibuka Pendaftaran Kelas Menulis Kreatif untuk Anak-anak
Tema : Menciptakan Negeri Imajinasiku Sendiri
Harga : Rp 350.000,00 per paket (8x pertemuan)
Fasilitas yang didapatkan :
Buku kerja, sticker point, bahan-bahan dasar prakarya
Kelas akan dimulai pada hari Selasa 03 November 2009, pukul 15.00-17.00
terbatas untuk enam peserta saja
Untuk mendaftar, silakan datang ke Tobucil, Jln. Aceh no. 56
atau telpon ke Tobucil : 022 4261548
Kelas ini diperuntukkan bagi anak-anak berusia 8 sampai 11 tahun

Akan dipilih satu karya terbaik dari setiap peserta untuk dimuat di www.tobucil.blogspot.com
Kegiatan per pertemuan adalah :
Pertemuan pertama : menentukan nama negari.
Pertemuan ke dua: menciptakan negeri imajinasi.
Pertemuan ke tiga : jika aku menjadi raja negeriku sendiri ...
Pertemuan ke empat :membalas surat dari rakyat
Pertemuan ke lima : negeri dilanda gempa bumi
Pertemuan ke enam : mengungsi
Pertemuan ke tujuh : negeri sudah damai, para raja berpidato
Pertemuan ke delapan : penutup dan perpisahan, raja-raja negara saling berkunjung dan memberi hadiah.

Klab Nonton
ray
Ray
Sabtu, 31 Oktober 2009, Pk. 18.30
Sutradara: Taylor Hackford



















DARI LUAR RUMAH
n181706652027_7656
Waktu & Tempat
Setiap Rabu / 4 November-9 Desember 2009 (6 x pertemuan, 7 pemateri), Pukul: 15.30 – 18.00 WIB. Bertempat di Perpustakaan Balepustaka, Auditorium Lt.3, Jln. Jawa No. 6, Bandung.

info lebih lengkap kunjungi www.dipansenja.blogspot.com

















n186158013335_3703
Launching Novel : EURGAVA, Epos Awal Dunia SUdarot Karya : I Tsu Baskara
Tema Acara : Obrolan Senja tentang Fiksi Fantasi & Dunia Remaja
Pembicara :
1. Erwan Juhara (Guru Bahasa dan Sastra SMA 10 Bandung)
2. I Tsu Baskara (Penulis Novel EURGAVA)
3. Faiz Ahsoul (Editor)
Waktu : Kamis, 5 November 2009, pukul 15.00 WIB sampai selesai
Tempat : TB Diskon ULTIMUS, Jl. Rangkasbitung 2A (daerah Jalan Jakarta), Bandung
Terbuka untuk umum dan GRATIS

Google Twitter FaceBook

Sunday, October 18, 2009

Ungkapan-ungkapan Klise

 

Setiap hari ungkapan-ungkapan klise beterbangan di sekitar kita seperti debu :

“Hari ini gratis besok bayar”-“mangan ora mangan sing penting ngumpul”- “kalau jodoh tak lari ke mana”- “a friend in need is a friend indeed”- “besar pasak daripada tiang”-“becek nggak ada ojek”- “apalah arti sebuah nama”- dan ini dan itu- dan itu dan ini …

Mereka melekat di mana-mana, tapi tak lagi lantang bersuara. “Basi,” begitu kata teman Tobuciler pada suatu hari.

Sesungguhnya mereka sampai pada klise setelah menempuh perjalanan panjang. Ungkapan-ungkapan tersebut bertolak dari sebuah fenomena, menyublim pada kalimat yang catchy dan supel, dipandang representatif, lalu diungkpkan lagi dan lagi dan lagi hingga aus, lelah memancarkan daya.

Minggu ini ungkapan-ungkapan klise itu kembali hadir dalam posting-posting blog Tobucil. Ada “jauh di mata dekat di hati” dalam kekangenan pada Mas Bebeng, ada “rumahku istanaku” dalam cerita kolam baru, ada “don’t worry be happy” dalam “Salamatahari”, dan masih banyak lagi. Semoga mereka kembali berbinar disokong cerita-cerita baru.

Teman-teman,

you’ve gotta friend in me,

tiada kesan tanpa kehadiranmu,

kami sayang padamu,

selamat menikmati.

Semoga keempat ungkapan itu belum terlalu aus untuk dimaknai hari ini ^_^

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

bungkuskacangedited

Special thank’s buat Rara, Suzein, Lia, Niken, Mirna, Putri, dan Mas Iqbal buat musyawarah (tanpa) mufakatnya di YM dan status facebook.

“There is no ship, like friendship” ;)

Google Twitter FaceBook

Ungkapan-ungkapan Klise dalam Hidup Natalia Oetama

 

liajajankalung Selepas madrasah filsafat, sesuai janji kami di sms, Tobuciler dan Natalia Oetama mengobrol tentang ungkapan klise. Lia yang punya nama pena Ivy ini tampak cukup pusing. Namun interview terus dilangsungkan. “Maju terus, pantang mundur !”

Tobucil : Li, kapan lu pertama kali ke Tobucil ?

Lia : Lupa, euy, tapi yang gua inget, perjuangan pas gua pertama kali ke Tobucil sungguh sangat mengenaskan. Gua ngelilingin sekitar sini untuk mendapatkan tempat ini. Sampai ke Jalan Lombok, jalan apa …

Tobucil : Menurut lo, apa ungkapan klise yang pas sama pengalaman lo hari itu ?

Lia : Nggak tau … (berpikir) … “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”, mungkin, karena hari itu gua sangat gembira.

Tobucil : Lu pertama kali tau ada Tobucil dari mana, Li ?

Lia : Gua pertama kali liat di blog. Gua emang lumayan suka berblog walking. Waktu itu gua cuma blog walking, nggak berharap nemu apa-apa, eh… taunya nemu Tobucil.

Tobucil : Setelah lo kenal Tobucil, menurut lo ungkapan klise yang mewakili Tobucil apa ?

Lia : Gua Cuma tau madfalnya, “lu minta gua bahas”. Karena emang open banget. Bukan cuma tempat nongkrong, tapi juga gila, gokil, dan (nyaris) tanpa peraturanlah (obrolannya).

Tobucil : Kalo ungkapan klise untuk kedatengan lo ke Tobucil yang hari ini ?

Lia : Tambah bingung gua jadinya … unpredictable soalnya … paginya ujan, terus terang. Ujan, terang, ujan terang … apa, ya ? Nggak tau. Oh, ini aja “becek nggak ada ojek”.

Tobucil : Hehehe … Ok. Sekarang ungkapan klise favorit lo sendiri apa ?

Lia : “Sedang belajar mengimani, bukan hanya mengamini”. Karena ternyata (meski amin dan iman) hanya beda karena perbedaan letak (hurufnya), itu sulit (dilakukan). Makanya gua tambahin kata “belajar”.

Tobucil : Punya pengalaman menarik apa sama belajar mengimani dan mengamini ?

Lia : Pengalaman ? Apa, ya ? Apa-apanya dong…

Tobucil : Lah … Euis Darliah, dong … ayo, apa ungkapan klise yang menurut lo mewakili Euis Darliah ?

Lia : Nggak tau, gua cuma tau dia penyanyi dangdut.

Tobucil : Itu mah Iis Dahlia, Li, kalo Euis Darliah yang nyanyi “Apanya Dong”.

Lia : Oh, nggak tau gua.

Tobucil : Terus kok tau lagunya ?

Lia : Sering denger kayaknya …

Tobucil : Baiklah. Kalo lo nggak tau Euis Darliah, ungkapan klise yang pas untuk Iis Dahlia menurut lo apa ?

Lia : Lagunya aja gua nggak tau yang mana, disuruh ngasih ungkapan klise.

Ruri (teman yang datang bersama Lia) : Berkumis atau mati !

Tobucil : Wahahaha… menurut lo, Li, ungkapan klise itu cocok nggak buat Iis Dahlia ?

Lia : Dia berkumis, sih, tapi kalo “berkumis atau mati” kayak terlalu ekstrim, deh …

Ruri lagi : Mati satu tumbuh seribu ! Kumisnya …

Tobucil : Kalo yang itu setuju, Li ? Beserta alasannya …

Lia : Setuju. Nggak taulah, gua kira-kira aja.

Tobucil : Kalo ungkapan klise yang paling lo inget dalem idup lo ?

Lia : Maju terus, pantang mundur.

Tobucil : Kenapa ?

Lia : Kan katanya yang paling gua inget, kalo inget lagu “Maju Tak Gentar” gua inget “maju terus pantang mundur”.

Tobucil : Kalo ungkapan klise yang ngegambarin idup lu menurut lu apa, Li ?

Lia : Aduh, gua pusing sama ungkapan klise. Sebutin dulu, dong, ungkapan klise yang ada, karena gua nggak punya pilihan.

Tobucil : Hyaaa … gini aja, deh, yang simpel. Jadi menurut lo ungkapan klise itu apa, sih ?

Lia : Speechless. Nggak tau, gua cukup eneg ditanya ungkapan klise dari tadi. Oh, ini aja, ungkapan klise tentang idup gua, “mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang !”

Tobuciler melempar pandang ke pekarangan Aceh 56, bermaksud bertanya pada rumput. Tapi karena langit sudah gelap, rumput-rumput sudah tak terlihat. Tobuciler tak tahu mana yang bergoyang mana yang tidak.

Tobuciler lalu mengembalikan pandang pada Lia yang dalam kepusingannya langsung jajan Teh Botol lalu sibuk mundar-mandir mencari pembuka botol. Hmmm … bagaimana kalau kita bertanya pada Natalia Oetama yang bergoyang saja ? ;)

Sundea

liadantehbotol

liaruri copy

 

 

 

 

 

 

Biodata Lia

biodatalia

Google Twitter FaceBook

Say It with Cards : Kartu Handmade Oma Ana

Say it with flowers,

say it with chocolate,

…. say it with cards …

Put your words in these beautiful handmade blank cards.

 

loroblonyo

Rp 15.000,00

Loro Blonyo adalah lambang sejoli di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ucapkan “selamat menempuh hidup baru” pada kerabat Anda yang menikah.

 

 

 

thankyoubunga  Rp 15.000,00

Ucapkan “terima kasih”-mu dengan kartu bunga merah cerah ini.

 

 

 

 

happybirthday

Rp 15.000,00

Bunga-bunga putih yang tumbuh tinggi sampai ke langit biru ini mungkin melambangkan usia yang bertambah dan bertumbuh. Ucapkan “selamat ulang tahun, semoga panjang umur” dengan kartu ini.

 

 

sibunder

Rp 35.000,00

Empat kartu unik warna-warni dalam satu kemasan. Dapat kau isi dengan ucapan apa saja, “tiada kesan tanpa kehadiranmu”, “semoga lekas sembuh”, “aku sayang padamu”, “semoga berhasil” …

 

 

thecards

Kartu-kartu cantik ini masih tersedia dalam berbagai pilihan model dan variasi harga.

Silakan berkunjung ke Tobucil dan memilih kartu yang berkenan di hati.

Google Twitter FaceBook

Rumahku Istanaku

-Tobucil, Rabu 14 Oktober 2009-

sikolam Nyaring namun santun, air mengucur dari pancuran kolam Aceh 56. “Tambah enak aja, nih, di sini. Saya makin betah, deh,” kata Mbak Upi pada Mbah, pemilik rumah Aceh 56. Mbah, yang sedang menyapu halaman, berhenti sejenak, “Biar cucu-cucu nggak ke mana-mana, di sini aja kalau main,” ujarnya hangat.

Tampaknya harapan Mbah terkabul. Cucu-cucu, teman cucu-cucu, Kru Tobucil, petugas-petugas kantor pajak, bahkan kawan-kawan yang berkunjung semakin sering duduk-duduk di sekitar kolam. “Ngeliatin ikan bernang-bernang bisa menghilangkan stress,” kata Pak Rowi, salah satu petugas kantor pajak.

“Saya mungkin mau nambahin keramik antik bekas rumah lama di kolam ini, tapi belum nemu. Rumah ini kan rumah tua, jadi mau saya bikin keliatan tua sekalian,” ujar Pak Yono. Tobuciler tersenyum. Keklasikan rumah ini membangun kesan sahaja dan istana sekaligus. Barangkali ketentraman seperti inilah yang dicakup oleh ungkapan “rumahku istanaku”.

Kamu juga boleh, lho, berkunjung ke istana ini. Silakan datang ke Jalan Aceh no. 56 dan jadilah tamu di kerajaan kecil ini … ^_^

Mengisi Kolam Hias

Apakah kamu memiliki kolam hias juga di rumah ? Selain dengan air, dengan apa lagikah kamu dapat mengisi kolammu dan apa manfaatnya ? Simak tips-tips berikut ini :

  • Ikan hias : Ikan yang berenang-renang akan membuat kita merasa dekat kehidupan yang alami. Beberapa jenis ikan yang dapat menjadi alternatif antara lain ikan mas (ikan yang dapat bertahan pada berbagai jenis cuaca), ikan mujair (cepat berkembang biak dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan), atau koi (bernilai ekonomis tinggi).
  • Plankton : musuh Sponge Bob Square Pants dan Mr.Crab ini sangat berguna bagi kolam. Plankton nabati dapat menjadi produsen oksigen di perairan dan menyerap menekan pertumbuhan lumut.
  • Zeloit : batu hias yang biasa digunakan di kolam renang ini dapat menarik partikel kotoran di dalam air. Selain membuat kolam tampak indah, ia juga membuat air kolam tidak cepat keruh.
  • Teratai : selain mempercantik kolammu, tumbuhan ini juga dapat menjadi obat-obatan. Pssst … ini sedikit bocoran resep obat dari teratai :
    • Mengobati muntah-muntah dan diare : 50 g rimpang teratai dan 15 g jahe dicuci lalu di-juice/diparut. Ambil airnya. Minum sehari 3x.
    • Mengobati darah tinggi : 10 g biji teratai dan 15 g tunas biji teratai direbus dengan 350 cc air sampai tersisa 200 cc air. Minum setiap hari.
    • Mengobati panas dalam, juga berguna untuk mengobati jantung dan lever : 100 g rimpang teratai dan 50 g rimpang segar alang-alang, dicuci lalu dipotong-potong secukupnya. Rebus dengan 500 cc air bersih sampai tersisa 250 cc. Setelah dingin disaring, lalu diminum.

Sundea

Google Twitter FaceBook

(K)ipey Sonder Kop* di Kala Gempa

-Tobucil, Jumat 16 Oktober 2009-

“Kip sonder kop* ( ayam tanpa kepala)”

-istilah Belanda untuk “panik”-

“Gempa ! Ada gempa, ya ?!” Ipey yang biasanya cool tahu-tahu berdiri panik di sisi meja kasir. “Gempa ? Masa’, sih ?” tanya Tobuciler. “Iya. Coba, deh … tuh, tuh, liat, kipas angin sama rak benangnya goyang-goyang,” kata Ipey dengan wajah pasi. Penasaran, Erri, Mbak Upi, dan Tobuciler berdiri mencoba mengindera. Namun, meski jelas melihat rak benang dan kipas angin bergoyan-goyang, kami tak merasakan goncangan apapun. “Cuma Ipey yang perasaannya halus, jadi bisa ngerasain … hehehe …,” seloroh Erri.

Ternyata hari itu, menjelang pukul lima sore memang sempat terjadi gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter yang berpusat di Ujung Kulon. Kompas Citizen online, status facebook dan twitter riuh mencericaukan. “Tadi juga saya liat orang ramai-ramai keluar dari B-Mall. Wajahnya kelihata cemas,” warta Pak Yono. “Iya, pas gempa pertama dulu aku juga lagi di Tobucil,” sambung Ipey. Oh … pantas dia lumayan panik.

“Coba, Pey, reka adegan gimana tadi pas lo panik , mau gua foto,” request Tobuciler. “Aduh … gimana, ya …” Ipey mencoba berpose :

 

ipeysatu

ipeydua

 

 

 

 

 

 

 

 

ipeytiga 

“Aduh, nggak bisa akting …,” akhirnya Ipey menyerah. “Gini, Pey, gini !” dengan heboh Erri dan Mbak Upi mencontohkan gaya kip sonder kop dari balik punggung Tobuciler. “Gimana ? Nggak bisa,” tanggap Ipey. “Gini, Pey…,” Erri berguncang-guncang semakin menjadi. Maka, Tobuciler berbalik badan dan secepat kilat … *cekrek* … ini dia hasilnya :

 

errimbaupi

Sundea

Google Twitter FaceBook

Musik Populer dan Peran Industri

 

Tobuciler sudah bikin event invitation di Facebook. Isinya tentang pertemuan itu, pertemuan yang akan membahas soal musik populer. Di situ, sih, yang katanya mau ikut banyak. Ada setidaknya tiga puluh orang mengafirmasi datang. Tapi jika kau melihat fotonya, jelaslah itu bukan tiga puluh. Atau bisa saja Tobuciler berbohong, bahwa ada dua puluh enam orang lainnya yang tidak ikut terfoto. Dikarenakan fokus kameranya kecil, atau fotografernya malas mengatur gaya tiga puluh orang. Memangnya, di Jonas? Tapi Tobuciler tak mau bohong, karena takut dosa. Takut celaka.

resized

Sore itu kami berempat. Setelah latihan rutin Ririungan Gitar Bandung, kami tahu akan sama-sama membahas musik populer. Hanya berempat? Oh, tidak apa-apa. Lanjut saja.

Maka topik pun dibuka, “Apakah musik populer itu? Apakah memang ada ciri musikalnya? Atau suatu istilah yang dikaitkan dengan keterkenalan saja?” Opini kemudian bermacam-macam. Kata Kang Trisna, musik populer itu istilah yang cair. Ia ingat jaman ketika lagu One dari Metallica diputar di MTV. Lagu One itu, durasinya sembilan menit. Dan pada jamannya, sekitar tahun 1990-an, adalah yang paling populer. Sekarang kan, lagu sembilan menit, mana ada. Rudi lain lagi (ia tak masuk foto, jadi kami sebenarnya berlima), ia berpendapat, bahwa musik populer ada ciri-cirinya, yakni lagu-lagu yang mudah dicerna, biasanya soal cinta. Gara-gara Rudi, Mas Yunus jadi ikutan, “Kalau kata saya sih, musik populer itu adalah musik yang diakui masyarakat luas.”

Oh oke, jika begitu, mari kita pergalau diskusinya, “Kalau memang musik populer itu adalah musik yang diakui masyarakat. Dimana peran industri? Apakah ia berfungsi melihat perilaku masyarakat, lantas memproduksi musik yang memfasilitasi masyarakat? Atau malah sebaliknya, ia bertindak sebagai otoritas yang menentukan selera masyarakat itu sendiri? Jadi sebenarnya masyarakat tidak tahu apa-apa, industrilah yang mengotakan.” Oh, Kang Trisna menanggapi, “Menurut saya, yang kedua sih. Industri cuma ingin uang, tidak mungkin ia cukup punya itikad baik untuk memfasilitasi masyarakat.” Lalu Rudi ikut lagi, “Iya, saya juga melihat bahwa keberadaan pop melayu semisal Kangen dan ST12, adalah hal yang memang dibuat-buat oleh industri. Tidak ada usaha yang besar dari band itu sendiri.” Kang Trisna kemudian menanggapi dengan baik sekali, setidaknya kata Tobuciler, “Ada teman saya bilang, kalau mau laku, bikin yang bagus sekali, atau yang jelek sekalian. Seperti Kangen misalnya, jangan-jangan soal mereka ini adalah dari kalangan kurang mampu, adalah eksploitasi industri juga.”

Tobuciler lalu melemparkan kegalauan yang terakhir, “Jika demikian, masih adakah tempat bagi kemampuan musikalitas yang baik dalam dunia industri musik populer belakangan?” Masih ada, ada, itu kata Mas Yunus. Band-band seperti Gigi, Dewa, Padi, adalah contoh mereka-mereka yang memang punya kemampuan musikalitas. Sehingga terasa sekali, karya-karyanya lebih abadi, pengikutnya lebih setia. “Iya, masih kok, buktinya saya suka lagu-lagu Republik Cinta,” itu pasti kata Rudi. “Iya, ada, dan buktinya akan ketahuan nanti. Mereka akan jadi band yang everlasting. Tidak tenggelam dalam geliat musik populer yang dibentuk oleh industri,” demikian kata Kang Trisna.

Diskusi seolah-olah serius, padahal diselingi gelak tawa yang jika dituliskan disini, maka susah untuk dimengerti: masa tulisan isinya ketawa-ketawa? Pada akhirnya, diskusi musik populer berakhir seperti semestinya diskusi: tidak ada hasil apa-apa. Tidak ada kepastian apa-apa, pun kejelasan soal apa itu musik populer. Biarkan hasil diskusi membuat kami berempat (dengan Rudi jadi berlima) kebingungan. Bingung atas apa yang sebenarnya dimaui nalar. Karena setiap ia tahu sesuatu, ia semakin bodoh, semakin tahu bahwa apa yang ia tahu pasti adalah bahwa ia tidak tahu apa-apa. Itu kata Socrates.

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

We’re Rock and We Knit

 

“Nggak ada loe nggak rame”

-tagline sebuah iklan rokok-

 

Teman-teman, tim rajut berbasis entertainment yang tersohor dari Tobucil, THE MEN WHO KNIT, sudah punya video sendiri. “Cuma belum semua di-shoot. Si Sam belum, Syarif belum,” kata Erri, anggota The Men Who Knit sekaligus chief executive Kontemplacity Studio  yang menggarap video The Men Who Knit.

Tim merajut yang senantiasa meramaikan suasana ini memang sedang berusaha mengembangkan sayapnya di mana-mana. “Supaya eksis, kita harus selalu gaya, merajut ketika ada keramaian, dan mulailah dengan berkelompok supaya terlihat ramai dan menarik perhatian. Kita juga harus mengenal media dengan baik. Gosip juga termasuk media, lho,” ujar Erri.

Kejelian dan ketengilan memanfaatkan media ini sempat dilakukan oleh Wikupedia, koordinator klabs Tobucil sekaligus anggota The Men Who Knit. Di tengah serunya pembahasa mengenai perlu-tidaknya kopi darat di mailing list, tahu-tahu Wiku berkomentar agak fals, “Daripada pusing-pusing mikirin kopdar, lebih baik menonton The Men Who Knit.” TAK JEDES !

Video The Men Who Knit ini keren sekali, Teman-teman. Kuatnya karakter keempat personil The Men Who Knit tampil dalam aksi merajut mereka. Didukung dengan musik dan teknik mengedit yang sedemikian rupa, terciptalah sebuah video artistik. Kamu bisa menontonnya di sini.

fotothemanwhoknitpotongan video “The Men Who Knit “

Tagline “nggak ada loe nggak rame” tampaknya sesuai juga untuk gerombolan The Men Who Knit yang senantiasa membawa suasana panggung hiburan di mana saja. Hai kaum Adam, ada yang mau ikut bergabung dengan mereka ?

Just wondering. Apakah The Men Who Knit bersedia menerima panggilan untuk menghibur di ulangtahun anak-anak, sweet seventeen, atau resepsi pernikahan ?

Sundea

Blog The Man Who Knit : http://themanwhoknit.blogspot.com/

Google Twitter FaceBook

Di Kursi Penumpang (Tamat)

 

ilustrasi Bagian 4

klik di sini untuk membaca : bagian 1, bagian 2, bagian 3

Saya kira itu hanya suara di dalam kepala saya.

Mati !

Risa diam sejenak Sangat perlahan, ia mengangkat wajahnya, melihat ke mata saya.. Datar.Lalu tersenyum. Bukan senyum sayang, melainkan senyum kasihan.

Otak saya seperti mati lampu sesaat...

Langit semakin mendung ...

“Ca, ini udah sore. Kamu keliatan capek. Saya turun di sini aja, ya ...? Kamu istirahat dulu di rumah, nanti malam saya telepon. Lagian saya ada janji juga ama temen. Rumahnya di deket sini’

‘Temen siapa?”

“Ada lah, anak kampus, kamu nggak kenal.”

Risa terlihat penasaran sebentar, berpikir; tapi tidak lama dia tersenyum. Sekarang dengan tulus, “Iya deh”

Saya keluar. Hembusan angin dingin di luar terasa menyejukkan setelah kesesakan mobil barusan. Kami saling mengucapkan salam perpisahan dari jendela. Saling tersenyum beberapa saat. Saling mendoakan untuk hati-hati di jalan. Lalu saling melambai.

Lalu Risa memundurkan mobilnya dan bersiap untuk pergi. Anehnya, kami berdua tidak bisa memasang topeng kami lagi. Terlalu berat. Tangan kita saling melambai, tapi wajah kami tidak bisa kami paksakan untuk tersenyum. Maka yang terjadi adalah seperti adegan dalam film dimana kedua kekasih saling berpisah – di stasiun kereta atau bandar udara – di mana itu ternyata adalah terakhir kalinya kedua pasangan tersebut bertemu. Biasanya sang laki-laki terungkap tewas dalam perang atau ternyata kereta yang ditumpanginya mengalami kecelakaan atau semacamnya. Namun dari lagu atau suasana dari adegan perpisahan tersebut, penonton akan menyadari bahwa kedua tokoh ini tidak akan bertemu lagi untuk selama-lamanya...

Itulah yang saya rasakan ketika mobil Risa pergi menjauh. Dan sementara bemper belakang mobilnya terlihat semakin mengecil dan mengcil hingga akhirnya dia berbelok di pertigaan dan ketika hilang ditelan lalu lintas jalan raya, saya merasa lemah dan tidak berdaya, terutama karena dari belakang, saya melihat pundak Risa yang naik turun sesungukan.

Dan memang. Itu adalah saat terakhir saya melihat Risa. Ketika pulang ke rumah, saya berusaha menelponnya, tapi merasa percuma. Bahwa itu tidak ada gunanya. Bahwa lebih baik menelponnya besok pagi saja.

Keesokan harinya, perasaan itu masih juga ada, maka hari itu lagi-lagi saya tidak menghubunginya. Juga keesokan harinya. Dan esoknya lagi. Dan hari-hari setelah itu. Dia juga tidak menghubungi saya. Tidak menelpon atau semacamnya. Maka saya pikir Mungkin dia juga merasakan hal yang sama.

Setelah dipikir-pikir, mungkin ada sesuatu dalam pembicaraan kami di mobil. Di parkiran SMA. Saya di kursi penumpang. Dia di belakang setir.

Mungkin secara tidak sadar kita masing-masing telah mengeluarkan penawaran; saling menegosiasikannya; lalu mengeluarkan, saling mengirimkan pesan rahasia melalui pilihan kata dan gestur.

Mungkin gairah yang mengalir melalui gerakan dan sentuhan kami tidak lagi ada. Aus oleh jiwa kami sendiri.

Saya ingat bahwa sore itu hujan tidak lama setelah kami berpisah. Sekarang saya sering membayangkan, saat itu Risa menyetir mobilnya di tengah-tengah hujan sambil menangis. Tidak dapat melihat jalan di depan. Wiper mobilnya bolak-balik di depan wajahnya. Mengeluarkan irama yang monoton. Menganggu. Tubuhnya kedinginan karena AC.

Kasihan dia.

Tapi paling tidak, dia aman di dalam mobilnya.

Tamat

Walapun Ali SingaTuhan dilahirkan di Jakarta, ia telah menemukan rumahnya di pelukan Kota Bandung tercinta. Disana ia telah telah tumbuh dan mengecap semua yang ditawarkan kota tersebut: dari lingkungan rumahnya di ujung Desa Ciburial, di tengah-tengah Pesantren Babusalam dengan segala kepermaian alam dan manusianya. Disana, di bawah saung yang dibuat Bapaknya dulu, ia membaca buku-buku yang nantinya akan membentuk hidupnya. Dan disana pula ia mulai menulis cerita-cerita yang alam tersebut bisikkan padanya. Dan pada akhirnya Bandung – beserta para penghuninya yang indah, halus dan bertata karma – menjadi Dunia bagi Ali, menjadi setting, tokoh dan tema dari semua yang ia tulis dan (mungkin) akan tulis di masa depan.

kirimkan tulisanmu tentang apaaaa … saja ke rubrik papantulis Tobucil di tobucil@gmail.com

Google Twitter FaceBook

Missing Bebeng … (back to Tobucil)

buat Bebeng yang jauh di mata dekat di hati

MB

Entah kapan kenal secara langsung ma nih mahluk...seingatku kenal di Tobucil pas dulu sekre AJIB masih bareng ma Tobucil.


Kesan pertama kenal mengingatkan aku sama temen-temen SMU ku dulu yang selalu POK TERELENG nyapruk ngangge basa sunda...(bicara ceplas-ceplos dalam bahasa Sunda)

Ini Bebeng kirain ga punya indra ke enam, tetapi pas waktu aku pusing berkepanjangan, dia langsung mengulurkan tangannya untuk memijat refleksi diriku. WAL HASIL, bukan sembuh yang kudapat tapi nyeri saawak - awak BEUHHHH....tapi itu adalah kesan pertama setelah dipijat. Esoknya yahhh agak hampang (ringan) lah orang Sunda bilang mah...

Nah semenjak dari situ kita ( KITA?? LO Aja kali guwe enggak.HUAHAAA) sering papangih (ketemu) dan sering saling melontarkan kata-kata cercaan (da emang gemes kalo ga nyerca dia mah...punten nyak Kang Bebeng). Tapi beliau mah ga pernah pundungan (ngambek)....mantak sok reuseup nyerca dia teh (makanya suka seneng nyerca dia tuh) qqqq

NAH pas AJIB memutuskan untuk pindah sekre, dia langsung dibere LAPAK ku nu gaduh (dikasih lapak sama yang punya) Tobucil supaya dia mah eksis terus di Tobucil ( itu saking sayangnya kita sama beliau DUHHHH jadi sedih...)


Bebeng pun masih sering bertandang ke Tobucil meskipun aku kalo ketemu cuma sebentar. Secara Bebeng suka datangnya sore n saya harus pulang sore. Tapi moment yang sedikit itu sangat berarti... HAHAHAHA LEBAY MODE ON

Tapi....semenjak Lebaran Idul Fitri kemaren 2009, Bebeng tak pernah lagi ke Tobucil ...duh Beng salah apa saya sama kamu HIK (satu kali)....kamana atuh Bebeng teh???? (ke mana Bebeng tuh ?)

Sempet dia ke Tobucil tapi pas akunya ga ada HIK HIK (dua kali)

Kemaren kita bertemu di acara BDO (Books Day Out) goes OUT @ GIM saya pun langsung memeluk dia merangkul dia dan menendang dia HAHAHAHA ngaboong mode on hahahahaha

Ga banyak kata yang terlontar, BEBENG tetap BEBENG bari cengar-cengir bari mawa kamera (cengar-cengir sambil bawa kamera)...INDIT weh deui geura (terus pergi lagi) !!

so no more words can say

Missing Bebeng....

NB kadieu atuh, Beng....

mbaelinangga

Elin Purwanti adalah bunda ARC serta manager Tobucil yang selalu bersemangat dan seru jika bercerita.

 

 

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Jangan lupa sertakan foto diri dan biodata singkatmu.

Google Twitter FaceBook

Sugesti dan Jargon

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Margaretha Nita Andrianti (via FB Chat):

Halo Kak Syaraf, mau nanya ya:

1. Kemarin-kemarin ini temen gua menyuruh gua untuk mempertebal sugesti gua. Masalahnya gua ga percaya sugesti. Kalo misalkan keadaan harusnya baik, ya pasti baik. Kalo buruk, ya berarti lagi apes aja. Padahal menurut gua, sugesti itu bentuk pengingkaran atas apa yang terjadi. Menurut Kak Syaraf, penting ga sih, gua mempertebal sugesti?

2. Menurut Kak Syaraf, jadi “pelawak” itu adalah pekerjaan serius bukan?

3. Gue suka offclinic. Tapi kenapa off? Belum punya izin praktek ya?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai Margaretha, margamu Retha ya? Kenal sama si Mogu gak?

1. Sebenarnya ada yang lebih penting dari mempertebal sugesti. Yakni mempertebal tulisan (kalau dia tidak terbaca). Oke, tapi saya rasa bukan itu jawaban yang kau inginkan. Sesungguhnya, eh, kalau margamu Retha, jadi namamu siapa ya? Oke, saya panggil aja Marga. Jadi gini Marga, janganlah kau pusing-pusing apakah kau ini sedang bersugesti apa tidak. Kau itu hanya terjebak pada istilah lembaga bernama psikologi. Aslinya, dunia itu adalah apa yang kita pikirkan, seperti kata Kant (saya tidak tahu marganya apa).

Saran saya sih, gunakan hati nuranimu lebih banyak. Sesungguhnya ia sudah tahu apa yang baik apa yang tidak. Soal sugesti, ketika kau mengingkarinya, maka kau sudah dengan sendirinya bersugesti. Jadi jangan ingkari, tapi otaki, atau ersegi anjangi.

2. Menurut saya, tak ada pekerjaan yang lebih sulit daripada pelawak. Karena melawak berarti pula “menelanjangi dunia”. Ia mesti juga seorang psikolog, karena menelusuri hakikat terdalam dari keinginan manusia. Dan pelawak yang baik, menurut saya, tidak sadar dirinya sedang melawak, hanya bersikap cerdas dan mampu memahami nalar universal, kemudian membalikannya. Pasti lucu. Dan itu susah.

3. Udah izin ke Ikang Fawzi, tapi tidak diizinkan. Karena dia bukan Mendiknas.

Pertanyaan dari Penanya Misterius (via Message FB):

Apakah jargon itu ? Apa ada hubungannya dengan jargoff atau Jargngan begadang ?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai Penanya Misterius, apa kabar kawan-kawan SMP-mu? Apakah penanya (masih) Pilot atau penanya (masih) Boxy?

Sebenarnya jargon lebih berhubungan dengan jargoan neon. Kenapa? Karena jargon biasanya digunakan partai politik mengusung jargoannya, yang mana pastilah ia pakai neon, setidaknya di rumah atau di kantornya. Di Wcnya pun. Jargon sih, menurut saya, memang semacam moto. Tapi ia tidak pakai kamera. Jadi mungkinkah moto tanpa kamera? Bisa, kalau objeknya adalah kopi. Oke, bedanya, jargon biasanya punya kepentingan untuk mengangkat tema yang dijargonkan tersebut. Dan lainnya, jargon itu sebatas memainkan imajinasi saja, seolah-olah iya, dia begitu, padahal tidak. Misalnya, jargon dari SBY, “Lanjutkan!”, jargon dari Koran BOLA, “Membawa Anda ke Arena”, atau jargon dari Indonesia, “Pancasila!”. Ketika kau sedang menyetrika, terus ada telepon berdering, bukan berarti kau harus menantikan iklan SBY kan untuk menyetrika kembali? Ketika kau tahu Persib sedang kalah, maka kau tidak harus menghindari membaca Koran BOLA kan? Untuk menghindari ia membawamu ke stadion yang sedang rusuh. Atau jika kau seorang komandan upacara yang sedang memimpin anak-anakmu berbaris yang mana beberapa diantara mereka mau pingsan, tidakkah cukup kau baca saja teks yang diberikan pemimpin Paskibra?

 

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com, Kak Syaraf akan menjawabnya.

Oh, iya, Kak Syaraf akan ujian gitar klasik, lho, mari kita doakan bersama …

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin