Sunday, November 29, 2009

Perjalanan Meruang


Air. Foto wikupedia. Polaroid effect: http://rollip.com

Sulit menjelaskan bagaimana perasaan  teman-teman di tobucil pada akhir minggu ini. Ada ruang yang tiba-tiba terasa lengang di hati, seiring kepergian sahabat baik kami yang begitu tiba-tiba: Paskalis Trikaritasanto, di hari kamis, 26 November 2009. Meski singkat, sahabat kami itu, pernah mengisi ruang hidup kami di tobucil dengan ilmu, pengalaman, dedikasi, semangat, ketulusan dan komitmennya pada klab menulis. Di saat-saat menegangkan, ketika teman-teman peserta klab menulis mempresentasikan karya-karyanya, Paskalis selalu hadir sebagai pemberi harapan dan bukan mematahkannya. Kesabaran dan ketulusannya selalu membawa semangat, bahwa teman-teman kami yang belajar menulis itu, suatu hari nanti bisa menjadi penulis-penulis yang handal seperti yang mereka cita-citakan. Kini Paskalis, ada dalam perjalanan menuju ruang yang lain. Ruang hakiki dimana ia kembali pada Penciptanya.

Terima kasih untuk perjalanan bersama yang meski singkat, tapi tak akan pernah kami lupakan.
Terima kasih telah membekali kami dalam perjalanan mengisi ruang diri dengan segala kebaikan yang engkau tinggalkan.

Selamat menuju ruang keabadianmu.


Tobucil & Klabs

Google Twitter FaceBook

Perjalanan Kembali Pulang (Untuk Sahabat: Paskalis Trikaritasanto)



  Foto: vitarlenology. Polaroid effect: http://rollip.com

Beberapa menit setelah aku datang berhujan-hujan, membawa tumpukan screen sablon dan gembolan bersisi kaos-kaos kosong yang hendak di sablon. Kira-kira Pk. 17.00 WIB. Paskalis masuk ke dalam tobucil dan berbincang denganku.
"Kayanya gua jarang banget liat lu naik motor.."
"Masak sih? aku kan sehari-hari naik motor.."
"Lebih sering liat si Upi yang naik motor daripada elu.."
"Haha.. jangan-jangan kamu ketuker antara aku dan si Upi.."
Lalu kami tertawa bersama. Setelah itu dia kembali duduk di bangku depan tobucil, menunggu murid-murid bimbingan klab menulisnya datang dan aku kembali pada pekerjaanku memotong-motong stiker DJava.

Beberapa menit kemudian:
"Pey, itu siapa sih yang batuk, kok gitu banget.. papahnya Reni ya .. biasanya suka batuk heboh gitu.."
" Iya kayanya mba.."
Kami: aku dan Ipey, cekikikan mendengar suara batuk yang ga wajar itu. Sama sekali tidak menyadari bahwa itu bukan papahnya Reni, tapi teman kami, Paskalis.

Aku masih memotong-motong stiker DJava dan menonton film 'Cheri' saat Wiku bertanya berapa nomor taksi. "7561234.." aku menyahuti dan belum menyadari apa yang terjadi. Tak lama kemudian, Upi masuk dan meminta bantuan, "Ri, bantuin angkat Paskalis, dia kejang-kejang.." Aku buru-buru keluar. Di gang kecil ke arah toilet luar tobucil, terjadi kehebohan. Paskalis sedang berusaha di gotong rame-rame. Kehebohan di tengah hujan yang lumayan lebat mengguyur. Pak Bangbang dari kantor sebelah menyiapkan mobilnya. Dan sekejap saja, Paskalis dan istrinya yang datang tepat di saat Paskalis terkena serangan kejang, berlalu menuju Rumah Sakit PMI yang paling dekat dengan tobucil. Wiku mengikuti dengan motor, menembus hujan.

Kurang dari setengah jam, Wiku mengsms-ku. Saat itu 18:15 Wib.
'len blm sadar uy.. minta doa na, nya biar supaya cpt sadar...' Aku buru-buru menyampaikan pada teman-teman meminta mereka berdoa untuk Paskalis. Tiga menit kemudian, 18:18 Wib, Wiku meneleponku. "Len, sudah meninggal, urang teu nyaho kudu kumaha?" Ternyata PMI tidak dapat menangani dan Paskalis buru-buru dilarikan ke RS Boromeus atas permintaan mba Wati, istrinya.

Aku, Eri, Upi, Nunu, bergegas menyusul Wiku ke Ruang UGD RS Boromeus. Belum banyak orang di situ. Wiku tampak kebingungan. Hanya ada dua laki-laki; teman dan saudara Paskalis dan mba Wati yang menangis tak sadar. Ku temani mba Wati. Aku sendiri tak tau harus bilang apa, aku hanya sanggup memeluknya dan menemaninya saja tanpa kata-kata.

"Ayah jangan tinggalkan bunda, bunda ga siap... ayo pulang, kasihan sophi..ayo pulang, kamu belum jauh, ayo kembali....bunda cinta ayah.. ayah yang tebaik buat bunda.. ayo kembali..mba.. panggil alis, suruh dia kembali, kasihan sophi mba.. aku ga siap ditinggal dia..."

Aku tau bagaimana perasaan mba Wati saat itu. Ku tatap Paskalis sudah terbujur kaku di tempat tidur UGD RS. Boromeus. Ku sentuh tangannya. Dingin. Rasa dingin yang sama seperti yang pernah kurasakan 14 tahun yang lalu, saat kusaksikan bapakku meninggal dalam genggaman tanganku. Paskalis temanku itu, benar-benar sudah pergi menyisakan kekosongan  dalam hati setiap orang yang ada di situ. Kemudian datang beberapa orang teman mba Wati dan Paskalis, meratap sedih kepergian Paskalis. Salah satunya menggantikanku menemani mba Wati. Aku butuh keluar dari ruangan itu, mencoba mencari tapak dimana aku bisa menemukan bobotku kembali. Di dalam kamar UGD itu, aku seperti ada dalam ruang kosong. Hampa tanpa bobot.

'Temanku kena serangan, kejang2 di tobucil, trus meninggal di perjalanan ke boromeus. Padahal sblmnya sempat ngobrol biasa. Aku ky hilang bobot begini...' sebuah sms ku kirimkan pada sahabatku si pembalap gadungan. 19:52, sahabatku itu meneleponku. Mendengar suaraku yang menyisakan isak, dia memutuskan datang menemaniku. Saat itu, sahabatku sedang di lab robotiknya yang tidak jauh dari RS Boromeus. 20:04. dia sudah sampai di UGD. Sahabatku itu ga kenal Paskalis. Tapi dia tau bagaimana rasanya tiba-tiba kehilangan bobot dalam situasi seperti itu. Ketika kami masuk ke ruangan itu, suster sedang membersihkan Paskalis dan bersiap-siap membawanya ke rumah duka, tidak jauh dari rumah sakit. Setelah jenazahnya dibawa ke rumah duka, kami memutuskan menyusulnya teman-teman lain dan kemudian ke rumah duka bersama-sama.

"Len, cerita gitu, biar saya ga bingung harus gimana."
"Aku juga bingung harus cerita apa.."
Sahabatku itu lalu mendekapku erat. Tidak lama, tapi cukup membuat kesedihan yang tertahan sejak tadi, luruh dan menemukan pijakannya. Perlahan-lahan, kekosongan itu terisi dan menemukan bobotnya kembali. "Yuk, kita makan dulu sambil nyusul temen-temenmu yang lain, kamu harus makan dan harus memutuskan apa yang mesti dilakukan selanjutnya".

Kami bergabung dengan Upi, Erie dan Nunu yang sudah terlebih dahulu makan di tukang nasi goreng depan RS. Sepanjang makan, sahabatku itu bercerita tentang bagaimana dia menghadapi kematian ayahnya dulu, juga mahasiswanya yang tiba-tiba terkena serangan epilepsi. Sahabatku ini, tidak sesentimentil aku dalam menghadapi kematian. Sikapnya yang ringan menghadapi situasi seperti itu dan keputusannya untuk hadir dan ada bersamaku pada saat itu, membantuku dengan cara yang sulit terjelaskan untuk menemukan bobot ditengah ruang kosong yang hadir seiring kepergian Paskalis.

Setelah makan kami ke rumah duka. Bertemu keluarganya yang meminta penjelasan tentang saat terakhir kehidupan Paskalis, karena sebagian orang menyangka Paskalis meninggal karena kecelakaan. Sesudahnya kami berpamitan dengan keluarganya. Aku dan sahabatku berpisah di tempat parkir Rumah Sakit. Ia kembali ke lab robotiknya, aku dan teman-teman lain kembali ke tobucil.

Di tobucil, kekosongan itu terasa mengambang. Bangku di depan tobucil yang beberapa jam lalu masih diduduki Paskalis, tasnya, motornya yang terparkir di halaman tobucil. Semua hadir tapi dengan rasa yang kini kosong, karena Paskalis pergi meninggalkannya tiba-tiba. Aku memutuskan pulang. Memasang kabar duka cita di status fb tobucil dan setelah itu badanku tak sanggup lagi untuk terjaga. Aku lelap sementara tubuhku bekerja keras, memulihkan diri dari kelelahan fisik dan mental yang mendera sepanjang hari.

***

Tadi pagi:

Tanto membangunkanku dengan telepon. Kepalaku pusing, ternyata jejak kekosongan itu masih ada meski dekapan sahabatku juga masih terasa. Dan aku  masih ada di sini, kembali ke tobucil. Sementara kamu, Paskalis, sudah kembali pulang, kehadapan Sang Pencipta.


***

Untuk Paskalis Trikaritasanto (13 april 1974 — 26 november 2009). Ketulusanmu, dedikasimu dan komitmenmu pada klab nulis tobucil & klabs, abadi selalu di hatiku, di hati setiap anggota klab menulis. Terima kasih untuk hidup dan kehadiranmu di hati kami. Selamat jalan sahabat. Selamat kembali pulang ke kerajaanNya.

***




[Yus, terima kasih kamu sudah hadir menemaniku]


Tobucil, 27 November 2009
Tulisan ini di publikasi ulang dari blog http://vitarlenology.blogspot.com
Google Twitter FaceBook

Benang-Benang Kusut



foto by vitarlenology. polaroid effect: http://rollip.com 

Membereskan benang sudah menjadi salah satu tugas penjaga Tobucil. Beberapa hari yang lalu saya membereskan benang-benang diskon. Benang itu sudah beberapa bulan didiskon. dan akan di-tidak-diskonkan kembali. Benang-benang tersebut ada di dalam sebuah wadah. Tercampur
aduk dan beberapa bahkan kusut. Awalnya saya ingin membereskan yang kusut dulu tapi setelah dipikir-pikir biarlah itu belakangan...

Gulungan-gulungan 'normal' telah masuk ke plastik. Mereka dikelompokkan masing-masing 30 gulungan. Sambil mengelompokkan mereka, saya melihat benang-benang kusut menunggu saat mereka. Kadang saya tidak sengaja mengambil benang yang saya kira normal tapi ternyata kusut, lalu saya letakkan kembali karena saya anggap mereka cocok untuk 'gong'.

Dan akhirnya, sampai juga ke waktu dimana saya harus membereskan 'the kusuts' itu. Melihatnya saja sudah malas, terpikir untuk mengguntingnya, tapi saya malah penasaran. Pada saat mencoba membereskannya, Mbak Upik bilang, "Ah udah aja, Pey, kalau susah mah gunting aja". Tapi saya tetap dan semakin penasaran. Satu-satu saya bereskan dan mereka pun satu per satu mulai jadi gulungan benang yang utuh lagi. Dan yang paling penting, ngga sesusah yang dibayangkan! :D

Tidak bermaksud sok bijak (kalaupun ada yg menganggap saya bijak, silahkan hahahaha) tapi mungkin bisa dianalogikan dengan: kadang  kalo kita melihat sesuatu yang keliatannya ribet eh pas dijalani ternyata cuma 'gitu doang'. Dan mungkin yang lebih penting lagi, sebagian besar dari kita udah tau dari dulu tentang hal ini, tapi kita sering lupa. ya kan? Hehe. Mari jalani 'gitu doang'-'gitu doang' yang ada dan akan ada! :)


Ipey, Selain bekerja di Tobucil, Senin s/d Jumat, selebihnya ngeband bareng Jack and Sally sebagai basis.
Google Twitter FaceBook

Kepositifan Masalah


 Sore di Aceh 56. Foto: vitarlenology. Polaroid effect: http://rollip.com


Madrasah Falsafah

Di hari yang kebetulan tidak hujan itu, Madrasah Falsafah kembali berkumpul dalam lindungan Rosihan Fahmi. Rabu itu, Madfal membahas soal mencipta masalah. Ada cukup banyak orang yang hadir dan mengapresiasi diskusi ini. Tobuciler juga melihat beberapa wajah baru yang tak sempat berkenalan. Tapi Tobuciler tahu, mereka yang baru itu, cukup antusias, karena datangnya dari pukul empat. Diskusi diawali dari curhat Mas Frino soal status Facebooknya. Ketika ia mengganti status Facebook, ia merasa itu bukan masalah, karena tinggal ganti saja, toh? Tapi tidak serta merta demikian, dari sudut pandang kritis Madfal. Mengganti status, adalah sama dengan melakukan perubahan. Dan perubahan selalu bermula dari masalah, dan setiap perubahan juga akan mengakibatkan masalah. Curhat Mas Frino pun mengundang diskusi yang lebih hangat kemudian.


Masalah, bagi kebanyakan orang, masih dipretensikan negatif. Yang berkaitan dengan masalah, misalnya “orang yang bermasalah”, sudah seperti hal yang mesti dihindari ataupun dilampau. Padahal, kata Ami sang moderator, Thomas Alfa Edison, misalnya, mengawali penciptaan lampu listrik dari permasalahan soal penerangan lampu gas yang mahal dan kurang praktis. Artinya, masalah, ketika direspon dengan baik, adalah awal dari kepositifan. Bahkan jangan-jangan, dunia ini bergerak atas dasar segala respon atas masalah?

Diskusi lalu mengerucut pada: mengapa orang Indonesia masih banyak yang tidak sadar bahwa masalah adalah sumber kepositifan? Madfal lalu menarik penyebabnya pada pola pendidikan. Di Indonesia, pola pendidikan, masih diterapkan bahwa guru adalah maha tahu, dan murid adalah yang maha bodoh. Sehingga, munculah apa yang dinamakan generasi celengan. Generasi yang, bak celengan, hanya berbunyi nyaring jika diisi dan diisi, itupun diisi receh. Apa korelasi semua ini? Dalam permasalahan, selalu mengundang pertanyaan. Atau bahkan, pertanyaan berarti juga mempermasalahkan. Pola pendidikan di Indonesia, seolah belum membudaya tentang bagaimana pentingnya bertanya ini. Bahkan jika murid bertanya, sering dicap sebagai bodoh. Padahal, kata Ami, ada pola pendidikan tertentu di luar sana yang justru berpendapat bahwa kualitas kepintaran bukan terletak dari jawaban, tapi dari pertanyaan.

Dalam diskusi yang hangat dan seru itu, Chris menarik lagi jauh ke belakang, penyebab segalanya: yakni, budaya berbicara dalam keluarga. Banyak budaya tertentu di Indonesia yang melarang anak berpendapat terlalu banyak, dan hal itu kurang lebih membunuh karakter serta mengerdilkan cara pandang seseorang terhadap kekritisan. Madfal lalu ditutup dengan kesimpulan sederhana, tapi tetap punya kekuatan dalam melawan kenaifan berpikir, yakni: segalanya, berawal dari masalah.


Madfal tidak berhenti pada diskusi. Setiap akhir bulan, sekarang ada tradisi mengumpulkan topic untuk sebulan ke depan, dan mempresentasikannya secara singkat. Akhirnya, didapat tema-tema berikut ini: Alienasi dalam Ruang Publik di minggu pertama, Bullying ada Dimana-mana di minggu kedua, Mal, antara Kebutuhan dan Keinginan di minggu ketiga, Hannah Arendt yang Saya Kenal di minggu keempat. Dan habiskah? Tidak, ada minggu kelima, yang diisi topik soal Telanjang. Ikuti terus Madrasah Falsafah, jadikan kehangatan di musim hujan.
Google Twitter FaceBook

Pasca Konser RGB: Catatan Pengalaman Eksistensial

Tobuciler pernah tahu, beberapa atau bahkan banyak konser musik klasik yang skalanya lebih besar dari apa yang KlabKlassik (KK) selenggarakan tanggal 20 November kemarin. Pasti banyak yang lebih besar dan luas, jika ukurannya dana, ukurannya jumlah penonton, ukurannya banyaknya pemain yang tampil, atau ukurannya gedung yang digunakan. Tapi jika ukurannya pemaknaan orang per orang, konser Ririungan Gitar Bandung (RGB) kemarin, bisa jadi terasa besar dan bermakna. Artinya, soal besar tidaknya, bukan melulu barometer-barometer fisikal seperti uang, gedung dan kuantitas pemain, tapi betapa, bagi setiap orang yang tampil disana, punya makna tersendiri yang barangkali sangat pribadi dan bisa jadi tak terpahami bagi orang lain. Ini yang Sartre sebut sebagai: pengalaman eksistensial. Tobuciler tak mungkin menanyai semua yang tampil, karena jumlahnya tiga puluh orang lebih. Maka itu diambil tiga, yakni Sutrisna, Yunus Suhendar, dan Nyimas Ina Winangsih. 

Bagi Sutrisna alias Kang Trisna, pengalamannya di RGB ini adalah menyenangkan sekaligus menegangkan. “Saya sudah tiga kali konser, yang pertama di Indra Music, yang kedua juga. Yang pertama formatnya duo, yang kedua adalah trio. Yang ketiga ya RGB kemarin. Tapi yang penampilannya paling ternikmati oleh saya sendiri, ternyata yang terakhir. Selain itu, saya sangat berbahagia, karena seluruh kegiatan bisa terlaksana, padahal tadinya pesimis,” Demikian pengakuan pria menikah yang hobinya bertani dan mencangkul tersebut. Ia bahkan menambahkan, bahwa dipercayanya ia menjadi ketua RGB, bukanlah sesuatu yang pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan, yang ini kata Tobuciler, istri Kang Trisna sedang hamil menjelang bulan kesembilan. Yang artinya, dalam setiap latihan menjelang konser, Kang Trisna sering panik karena di sisi lain, istrinya bisa melahirkan kapan saja, dan ia mestilah jadi pria siaga. Pernah dalam suatu kesempatan latihan, ia pamit pulang duluan karena istrinya mual-mual. Jadilah ia pulang, menumpang Kelvin naik motor, dan memintanya ngebut. Karena apa? Karena Kang Trisna sayang istrinya, dan sayang anak yang dikandung oleh istrinya. Tidakkah jika demikian, konser RGB ini boleh dibilang bermakna baginya, karena pengorbanannya? 


Sedangkan bagi Yunus Suhendar alias Yunus Muslimanto, beda lagi. Ini adalah kali kedua ia konser, tampil sendiri dalam suasana klasikal. Dulu pernah ia tampil di gereja di Sukajadi, namanya Gereja Kristen Oukumene. Ia main dua lagu, pertama Bouree karya Bach, kedua, ia main En Los Trigales karya Joaquin Rodrigo. Tapi katanya, ia jauh dari puas, bahkan cenderung malu dan kecewa. Tapi yang menarik, bagi Tobuciler, ia tak patah arang. Dan dibayar lunas dengan penampilan mengagumkan di konser RGB kemarin. Membawakan Galih dan Ratna yang diaransemen sendiri, ia tampil tenang dan mengundang decak kagum. Walaupun secara gestural memang terlihat malu-malu, tapi andai kau ada ketika awal ia dibujuk rayu untuk tampil di konser RGB. Yunus sangat malu-malu dan tadinya menolak keras untuk tampil. Tapi bujuk rayu KK barangkali juga tak kalah keras dan tak lupa terus memberikan dorongan dan kepercayaan, sehingga akhirnya Yunus mau, tanpa lupa juga diberi julukan Yunus Muslimanto, sebagai penghargaan kami atas kemampuan aransemennya yang menyamai Jubing Kristianto. Setelah ditanya, apakah  Yunus mau tampil lagi? Ia jawab: ketagihan. Sesuatu yang melegakan buat KK, karena tidakkah keinginan untuk tampil dan mau diapresiasi, adalah bentuk kepercayaan diri seseorang untuk mau berada dalam zona tak nyaman? Itu hebat, dan mestilah dihargai.


Terakhir yang ditanyai adalah Nyimas Ina Winangsih alias Ina. Usianya empat belas, dan sedang duduk di bangku SMP, yakni SMPN 14. Baginya, ini justru debutnya. Ia, katanya, tak pernah betul-betul serius belajar gitar klasik. Pernah sebentar saja di Gelanggang Generasi Muda ia belajar, dan tak terbayangkan bisa tampil dalam sebuah konser. Yang mana dalam usia yang masih sangat muda. Yang bermakna baginya pula, katanya, ia sedang dalam proses membuat novel, judulnya “Tertawa Bersama Awan”. Ini, katanya, soal cewek yang kehilangan ayahnya, dan novel ini menceritakan soal perjalanan pencarian figur ayah. Novel tersebut belum selesai, dan ia masih belum tahu bagaimana akhirnya. Tapi yang pasti, ia mau memasukkan inspirasinya dari RGB. Yakni ketika Callista, si cewek itu, dalam rangka mengenang ayahnya yang gemar musik klasik, ia mau mengikuti komunitas musik klasik dan bermain gitar bersamanya. Tentunya, Insya Allah, akan sama-sama kita nantikan nantinya novelnya seperti apa. [Syarif Maulana]


Google Twitter FaceBook

Beda Tempat, Beda Pendekatan

Selama delapan tahun lebih berdiri, tobucil mengalami pindah tiga kali. Maklumlah, tobucil tidak memiliki tempat sendiri. Kepindahan yang tobucil rasakan bukan hanya memberi kerepotan memindah-mindahkan barang yang tidak sedikit itu, tapi yang cukup penting, pindah tempat berarti siap-siap pindah karakter komunitas. Bukan hanya karakter audience yang berubah, tapi juga karakter program otomatis menyesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat baru dan juga perpindahan permasalahan yang dihadapi.


Pendopo Trimatra Center. Foto: Andy Sutioso. Polaroid effect: http://rollip.com

Tempat pertama tobucil (2001-2003): Trimatra Center Jl. Ir. H. Juanda 139a (Dago) Bandung (Sekarang tempat ini berubah wujud jadi pom bensin petronas di Dago).

Tobucil lahir dan tumbuh di tempat bernama Trimatra Center. Sebuah tempat yang didirikan oleh beberapa arsitek dan dirancang khusus sebagai ruang komunitas. Trimatra Center cukup ideal sebagai ruang berkegiatan. Ada pendopo yang bisa menampung sampai 150 orang, halaman tengah terbuka dimana saat hari cukup cerah, kegiatan bisa bertempat disini dan digabungkan dengan pendopo bisa menampung sampai 200-an lebih pengunjung. Beranda kecil di depan ruang tobucil, bisa untuk kegiatan dalam kelompok kecil dan tentu saja tempat parkir yang cukup luas. Itu sebabnya, saat bertempat di Trimatra Center, tobucil banyak membuat program dengan skala 50 sampai 150 peserta, seperti Festival Film Jerman-Turki, JIFFest Travelling, bedah buku dan pembacaan puisi dari para penulis dan penyair ternama negeri ini seperti: Sutardji Calzom Bachri, Ayu Utami, Dorothea Rosa Herliany, Sudjiwo Tedjo.

Kegiatan-kegiatan seperti ini selain selain mendatangkan banyak pengunjung, juga sesuai dengan kapasitas ruangan pada saat itu. Konsekuensi logis dari program kegiatan seperti ini adalah dibutuhkan anggaran program yang cukup besar. Saya menyebut program seperti ini adalah 'high cost' dan sebenarnya menjadi beban berat bagi komunitas yang baru lahir seperti tobucil dan tidak memiliki sponsor sama sekali. Meskipun, program-program seperti ini memberikan aspek publisitas yang besar. Menjadi program yang punya nilai berita dan menarik perhatian media untuk diliput. Namun perlu diingat juga, publisitas yang berlebihan memiliki konsekuensi harapan orang/pengunjung terhadap program-program kegiatan yang diselenggarakan oleh tobucil menjadi tinggi. Dan jika tidak sesuai dengan kemampuan terutama masalah anggaran, pendekatan seperti ini bisa menjadi beban berat komunitas jika tidak ada sponsor yang membantu dalam pendanaan operasional program.


KGU 8 tampak dari seberang jalan. Foto dikumentasi Tobucil. Polaroid effect: http://rollip.com

Tempat kedua tobucil (2003-2007), Kyai Gede Utama No. 8 (KGU 8).

Perpindahan tobucil dari Trimatra Center ke KGU 8, membawa perubahan besar. Dari sisi ruang jelas-jelas berbeda: dari yang asalnya ruang yang di desain khusus sebagai community center ke ruang yang merupakan 'hunian pribadi' meski kemudian KGU 8 beralih fungsi menjadi ruang komunitas. Di KGU8, tobucil menyewa sebuah ruangan yang dijadikan toko, sementara kegiatan berpusat pada garasi (yang bisa memuat dua mobil). Garasi ini juga sekaligus halaman dari ruang yang disewa tobucil. Kapasitas maksimal garasi sekitar 50 orang, bisa lebih jika pintu garasi dibuka dan ruang diperpanjang sampai tempat parkir yang tidak terlalu besar juga. Ada ruang sebelah tobucil yang bisa digunakan untuk kegiatan pemutaran film, pameran, namun itu pun kapasitasnya tidak terlalu besar 20 sampai 30 orang saja. Ruang kegiatan garasi dan ruang serbaguna di sebelah ruangan tobucil adalah ruangan yang dipergunakan bersama antara tobucil dengan organisasi lain yang ada di KGU 8. Perubahan ruang yang tadinya leluasa menjadi lebih terbatas, membuat tobucil harus melakukan pendekatan program yang bebeda. Skala kegiatan tentunya jauh lebih kecil, tapi bagaimana caranya skala yang kecil tetap memberikan dampak yang cukup luas. Dalam kurun waktu ini, tobucil akhirnya mengembangkan kegiatan skala klab dengan audience setiap pertemuan 5 sampai 15 orang dan lebih menekankan pada aspek keberlangsungan program. Biar skala kecil, tapi konsistensi program bisa terjaga.

Pendekatan ini membuat anggaran program menjadi jauh lebih murah, namun tantangan terberatnya adalah menjaga kontinuitas programnya. Konsistensinya itu yang sulit, benar-benar butuh komitmen dari setiap pihak yang terlibat. Dan bukan hal yang mudah mempertahankan komitmen, ketika komitmen itu bersifat sukarela. Sifat sukarela ini akan berkaitan erat dengan dinamika kelompok yang terlibat dalam program. Orang bisa keluar masuk dalam program karena tidak adanya ikatan yang cukup kuat. Semua ditentukan oleh kesukarelaan pihak-pihak yang terlibat. Hal yang paling sulit juga dari perubahan karakter tempat adalah kompromi dengan pihak-pihak lain yang hidup dalam satu atap. Apalagi jika pihak lainnya memiliki kepentingan yang beririsan. Ketegangan karena persinggungan kepentingan di ruang yang terbatas tak bisa dihindari. Tentu saja ketegangan ini berperan besar dalam mewarnai karakter program. Akhirnya warna yang mendominasi adalah warna kuasa kepemilikan tempat. Siapa yang lebih berkuasa atas ruang, dia yang mengendalikan aturan main dan mewarnai karakter program. Dalam situasi seperti ini, sulit bagi tobucil  untuk benar-benar bisa otonom dalam mengendalikan program-program yang menjabarkan visi dan misinya. Besar kecilnya sebuah otonomi program kegiatan, ternyata sangat ditentukan oleh besar kecilnya ruang yang dikuasai.


Merajut dan mengomik berpadu satu. Foto: Wikupedia. Polaroid effect: http://rollip.com


Tempat ketiga tobucil, Jalan Aceh 56 Bandung (2007- sekarang).

Di tempat ini, tobucil baru benar-benar  memiliki keleluasaan dalam merancang program. Mengapa? karena di sini tobucil memeliki otoritas penuh atas ruang yang disewanya. Sebuah paviliun yang kemudian dipergunakan sepenuhnya oleh tobucil tanpa ada intervensi dari organisasi lain. Sempat AJI Bandung menjadi kawan satu rumah, namun memasuki tahun ketiga mereka pindah ke tempat lain yang lebih besar. Dengan otonomi itulah, tobucil bisa melakukan banyak eksperimen dalam manajemen pengelolan program, pengembangan audience kegiatan dan pedekatan-pendekatan program yang lebih menjabarkan visi dan misi tobucil menjadikan literasi sebagai bagian dari keseharian. Suasana 'rumah' yang hangat dan akrab dengan halaman depan yang luas dan rindang, memudahkan tobucil untuk membawa pendekatan yang lebih akrab dan hangat bagi para peserta kegiatan. Kegiatan tobucil di tempat ini, berpusat di garasi yang sejuk dan hangat. Dengan meja dan bangku-bangku yang terpasang di garasi, kegiatan tobucil berfokus pada skala yang lebih kecil, namun intesitas dan kontinuitasnya terjaga.

Dengan otonomi penuh, tobucil bisa memulai program tahunannya: Crafty Days dan Pesta Filsuf, serta program reguler yang mulai menemukan bentuk pengelolaan yang sesuai dengan kapasitas yang dimiliki tobucil. Di tempat ini dengan beban sewa ruangan yang lumayan besar setiap tahunnya, tantangan program justru ada pada: bagaimana program kegiatan komunitas di arahkan pada kemandirian dalam pengelolaannya. Karena tobucil memutuskan tidak menerima dana dari lembaga donor dan lebih mengembangkan konsep sosial entrepreneurship, maka setiap program kegiatan di tobucil diharapkan dapat memberdayakan dirinya sendiri untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Pendekatan 'low budget, maximum impact' menjadi prinsip pendekatan dalam merancang dan mengelola program-program yang ada di tobucil saat ini. Semangat kemandirian menjadi spirit dari setiap program yang ada di tobucil. Dan hal ini tidak mungkin bisa terlaksana tanpa adanya otonomi atas tempat dan ruang berkegiatan.

***

Setelah mengalami tiga tempat yang berbeda, tobucil menarik pembelajaran dari pengalaman ini dalam kaitannya dengan strategi merancang sebuah program kegiatan: 

Takar dan hitunglah kemampuan dan modal yang kita miliki. Menghitung anggaran bukan hanya modal awal yang dihitung, tapi juga modal untuk keberlanjutan, sangatlah penting untuk di ketahui sejak awal. Modal bukan hanya finansial, namun juga sumber daya manusia dan jejaring yang kita miliki. Memetakan kemampuan diri sendiri akan memudahkan kita dalam membuat perencanaan bagaimana memulai dan mengembangkannya. Hal ini penting juga dalam menentukan seperti apa tempat atau ruangan yang mampu kita sewa dan kelola. Juga menentukan skala program yang mampu kita jalankan dan kembangkan.

Kenali dan pahami seperti apa tempat dan ruang yang kita pergunakan sebagai tempat berkegiatan. Apakah cukup strategis? Bagaimana mengakses  tempat ini dengan alat transportasi umum? Seperti apa kondisi fisik ruangan yang kita pergunakan untuk berkegiatan? bagaimana daya tampung maksimal dan idealnya (kondisi dimana peserta kegiatan merasa nyaman berada dalam ruangan itu saat berkegiatan). Fasilitas fisik apa saja yang tersedia untuk menunjang kegiatan yang akan kita selenggarakan?  Dari mengenali dan memahami kondisi tempat dan ruang yang kita pergunakan sebagai tempat berkegiatan, kita bisa mengetahui kegiatan-kegiatan seperti apa yang cocok dan sesuai dengan kondisi ruangan yang ada. 

Kenali siapa yang hidup bersama kita dan juga bagaimana lingkungan sekeliling kita. Jika kita hidup bersama dalam satu atap bersama kelompok atau komunitas lain,  di awal harus jelas dengan tujuan dan kepentingannya masing-masing. Tetapkan aturan main dan kesepakatan yang sejelas-jelasnya tentang aturan penggunaan ruang bersama. Sepakati sangsi, jika ada kesepakatan yang dilanggar. Hal ini penting untuk menjaga kedisiplinan semua pihak dalam menegakkan aturan main hidup bersama di satu tempat atau ruangan yang sama. Mengenali teman hidup kita di tempat yang sama, akan memudahkan kita membuat strategi dan negosiasi dalam bekerjasama.

Penting untuk membuat evaluasi penggunaan ruang, baik dari pelaksana program maupun dari audience kegiatan itu sendiri. Evaluasi ini menyangkut: seperti apa kebutuhan ruang yang ada? semaksimal apa penggunaan ruang yang ada? apakah pengaturan ruang yang ada cukup efisien? Evaluasi ini menjadi penting untuk melihat kesesuaian antara ruang yang tersedia dengan program yang ada. Seringkali kita berpikir bahwa ruang yang besar bisa memenuhi kondisi ideal dalam pelaksanaan program yang ingin kita jalankan. Padahal kita lupa, bahwa seiring meluasnya tempat berkegiatan, bertambah besar pula beban dan tanggung jawab dalam mengelolanya. Dari pengalaman tobucil, jauh lebih ringan ketika kita memulai sebuah kegiatan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang kita miliki. Besar kecilnya tempat dan ruang, bukan jaminan untuk bisa membuat sebuah program yang tepat sasaran dan mencapai tujuannya. Tempat yang kecil pun bisa melahirkan program-program yang tepat sasaran dan berguna bagi komunitasnya, ketika kita paham kemampuan yang kita miliki dan seperti apa karakter tempat yang menjadi ruang gerak kita. [vitarlenology]

 Jika ada hal-hal yang ingin di bagi dan ditanyakan seputar pengalaman tobucil membangun komunitas, silahkan kirimkan melalui email: tobucil@gmail.com
Google Twitter FaceBook

Open Space


 
Polaroid effect: http://rollip.com  Foto oleh vitarlenology


Di Codefin, kami memesan Coffee Latte dan Hot Capuccino, pilihan standar untuk malam yang biasa saja. Tapi lumayanlah, dua jenis minuman itu cukup untuk membuat kami tancap gas membicarakan berbagai soal. Kami membukanya dengan DVD Blue Ray yang sudah bisa dibajak, pembajakan dalam industri musik yang kian dekat dengan pusat industri itu sendiri, dekadensi selera musik, media yang biadab, hingga soal ganja Aceh yang istimewa.

Tepat di sebelah kami ada pembicaraan lintas bangsa yang melibatkan seorang -yang dari logatnya kami kira- Perancis dan tiga orang berlogat Melayu. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris tapi dengan dialek masing-masing. Satu dialek Perancis yang sengau, lainnya dialek Malaysia atau Singapore yang berliku-liku.

Dua meja di sisi yang lain dari meja kami, berkumpul beberapa laki-laki dan perempuan muda yang metropolis. Pakaian bergenre urban, laptop yang terbuka di tengahnya, Blackberry yang tak pernah lepas dari genggaman, mereka bercakap. Cukup serius kami kira. Dugaan kami, mereka tengah membicarakan sebuah event, project, design, atau mungkin rancangan kontrak kerja. Kami hanya dapat menduga.

Tak lama berselang, ada satu pasangan yang turut bergabung dengan kelompok ini. Mereka turun dari pintu belakang sebuah mobil mewah, tanda bahwa mereka diantar seorang sopir. Perempuannya super cantik. Menggunakan rok teramat pendek yang kalau dia membungkuk untuk menjangkau sesuatu, memungkinkan kami untuk menerawang. Kami sepakat, gaya berpakaian perempuan muda sekarang lebih ekspresif dan secara berkelakar kami katakan mereka semakin aspiratif pada hasrat purba laki-laki. Pasangan ini menarik. Mereka bergabung dalam kelompok besar tapi juga terpisah. Laki-laki tak berhenti menunjukkan ekspresi -yang kami kira- ungkapan cinta atau sayang. Dia mengelus rambut perempuan ini, mencium bahunya, menempelken hidungnya, dan seterusnya.

Di ruang terbuka seperti Codefin, selalu ada banyak potret. Ada perbincangan lintas bangsa, ada energi kreatif yang tengah merencanakan sesuatu, ada cinta yang dirajut, ada yang tidak melakukan apa-apa, dan ada juga manusia seperti kami yang menjadi pengamat. Tapi garis besarnya jelas, tak ada beban untuk menyembunyikan ekspresi bahkan untuk ekspresi yang paling personal sekalipun. Dan kami yang mengamati, tak ada hak untuk menjadi merasa lebih istimewa.

Di sinilah pentingnya sebuah ruang terbuka. Ekspresi yang bersifat privat, kelompok, atau kumpulan dapat diketahui dan jika mau memungkin dikelola untuk menjadi "public sphere". Sebuah area dimana orang bisa berkumpul, mendiskusikan bersama secara bebas, menyusun sebuah rencana, dan melakukan sebuah aksi yang dapat memberi tekanan politik tertentu. Bisa dibayangkan jika meja-meja di Codefin yang memiliki wacana yang berdiri sendiri kemudian dikelola menjadi sebuah rencana aksi yang lebih politis. Pembicaraan kami soal dekadensi industri, kebiadaban media, atau kejumudan politik dapat menemukan bahan bakarnya dan tidak berhenti sebatas gunjingan atau keluhan belaka.

Dan Indonesia, Banda Aceh, Jakarta, Jogja, Surabaya, Makassar, Merauke dengan tradisi ruang terbuka yang sangat kuat seharusnya memilki potensi untuk menjadi bangsa yang lebih saling memahami dan tidak memaksakan kehendak.





Muhamad Bahrul 'Uung' Wijaksana
Peminat alien dan monster ini senin sampai jumat bekerja sebagai media communication consulting di sebuah lembaga internasional di Jakarta dan setiap akhir pekan berkereta ke Cirebon untuk kembali ke pangkuan istri dan putri kesayangannya. 
Google Twitter FaceBook

Tentang Penutupan Blog oleh Depkominfo

Apa pendapat kamu tentang: surat dari Menkominfo No 598/M.Kominfo/ 11/2009 tertanggal 19 Nov 2009, yang kepada Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) untuk menutup sebuah blog di layanan Blogger yang menghina agama tertentu. Beritanya ada di sini: http://teknologi.vivanews.com/news/read/108048-isp_harus_tera...pk

Grace Dwitiya Amianti 
Halo Tobucil, ini pendapat saya, thanks:

Lama-lama kita bisa balik lagi ke jaman Orde Baru, dimana kita harus melakukan swa-sensor sebelum mengemukakan pendapat karena takut diciduk atau diculik. Bapak Tifatul Sembiring itu dikhawatirkan seperti Harmoko jenis baru. Tapi kasus ini memang pure stupidity karena membunuh tikus dengan cara membakar seluruh gudangnya. Pokoknya Blogspot harus balik, gimana pun caranya!



mnrt gw klo emg mhina SARA lbh baik diblok. tp ya jgn ngelakuin kslhan yg ngerugiin bnyk pihak yg ga ada sangkut pautnya. itu kan bodoh dan rasanya blogger jadi ga respek sama keputusan pemerintah



Sebetulnya tanpa surat dari Depkominfo itu, secara pribadi kita sebagai pengguna internet dan mungkin juga sempat mampir ke blog yang dimaksud sudah bisa menilai apakah blog tersebut layak untuk biarkan tetap eksis atau dilaporkan ke pihak blogger.com untuk ditutup dengan alasan SARA.

Sama halnya dengan kasus adanya blog yang konon dimiliki seorang dari negeri jiran dan melakukan penghinaan terhadap NKRI, saat itu pengunjung yang datang kesana tinggal klik flag sebagai notifikasi/pemberitahuan kepada provider blog tersebut untuk menindaklanjuti blog tersebut sesuai dengan T & C yang mereka miliki.

Nah, kembali ke surat dari Depkominfo, tanpa surat itu pun reader semestinya sudah harus peka dengan efek yang disebabkan/akibatkan oleh artikel yang diposting disana.

mnrt gw klo emg mhina SARA lbh baik diblok. tp ya jgn ngelakuin kslhan yg ngerugiin bnyk pihak yg ga ada sangkut pautnya. itu kan bodoh dan rasanya blogger jadi ga respek sama keputusan pemerintah


Apa sudah lihat isinya? sangat tidak terpuji...maka untuk kasus seperti ini memang selayaknya ditutup...untuk para pemakai blog agar tidak memuat sesuatu yang tidak terpuji..belum tentu yang dihina itu jelek...tapi perbuatan menghina itu pasi tidak baik..iya toooo...



"menangkap tikus yg masuk hutan dengan membakar hutan"



Prayoga Akhmad Fajar November 23 at 8:47pm Report
Yang jadi poinnya apa toh? Kalo yang aku tangkap di berita tersebut adalah terkait dengan mekanisme ISP dalam memblokir situs/blog yang mengancam keresahan masyarakat. Mengenai apa yang dilakukan pemerintah dengan mengeluarkan surat menteri, aku pikir tak masalah toh? Saya yakin kalo mr. Moderator jd menkominfo jg seharusnya melakukan hal yang sama terkait dengan sesuatu yang mengakibatkan keresahan di akar bawah. Saya pikir negara barat pun jg akan melakukan hal yg sama, karena hal spt ini terkait dengan stabilitas negara. Piye tho mr. moderator?


Fenita Elina November 23 at 9:04pm Report
Menurut gw gk penting lagi sikap kayak gitu.
Masyarakat harus diajar dewasa. Bukan dengan cara larang sini larang situ. Kalau memang iman seseorang yg gk kuat, yh imannya yg harus diperkuat dengan cara lebih banyak lagi belajar agama nya. (IMHO)

Michael Dennis Mendelson November 23 at 9:16pm
Saya kira Depkominfo menutup blok secara sepihak saja. Mengapa? Karena masih ada blog yang memuat kata2 hina terhadap golongan agama lain. Tetapi beliau hanya menutup blog yang menghina satu agama saja, bukan yang lain. Saya rasa sah2 saja menutup blok yang memuat SARA, tapi jangan cuma yang itu saja. Lihatlah, masih banyak sekali website2 yang sangat radikal yang tidak hanya mengeluarkan wacana yang SARA, tapi bahkan mengandung sebuah ideologi yang membahayakan golongan lain juga. Tapi toh tidak kunjung di blok juga.

Kemudian, saya kira tidak hanya website saja yang harus diblok atau ditiadakan. Di luar sana masih banyak buku2 atau mungkin DVD yang sama buruknya dengan blog yang disebutkan. Yang seperti itu juga justru harus diwaspadai.

Saran saya, memblokir website yang mengandung SARA adalah hal yang sah2 saja. Tetapi mohon diperhatikan juga bahwa masih ada media yang lain yang sama jeleknya dengan blog tersebut. Dan jangan hanya memperhatikan satu golongan saja. Trims



 Reski Okky November 23 at 10:08pm
saya prihatin, sudah bertahun2 negara ini tercipta (tanpa persetujuan saya tentunya) namun untuk masalah sepele sering tidak maksimal dalam penyelesaiannya, menutup sebuah blog adalah hak institusi terkait jika membahayakan kerukunan umat, menyimak masalah terkait, tapi dengan menutup seluruh jaringan blog adalah kesalahan tak perlu yang telah dilakukan, hmmm ya gitu deh :)



 Rahmat Hidayat November 23 at 11:54pm
aneh. jika ditutup apakah depkominfo akan melakukan hal2 yang sama untuk blog2 yang menyudutkan kristen/hindu/budha/agama2 lain? atas alasan apa? karena permintaan umat islam? kapan diminta? umat islam yang mana?
inilah yang terjadi jika suatu departemen dipimpin oleh orang partai islam konservatif. departemen hanya menjadi corong partai belaka... jika ditanya pasti akan berdalih tengah melakukan dakwah mencegah kemungkaran.



 Huyogo Gabriel Yohanes Simbolon November 24 at 12:34am
Saya kira penghinaan yang dimaksud harus diperjelas oleh pembuat surat keputusan tersebut, sehingga tidak ada yang ditutup-tutupi. Jangankan blog, grup-grup di facebook saja misalnya, tidak sedikit terdapat "seruan-seruan" yang isinya bisa jadi penghinaan. Atau kalau mau iseng mencari, banyak juga tuh status yang labelnya bisa kategori penghinaan. Apa jejaring facebook juga mau ditutup aksesnya?
Terbukalah..!



Aki Saranghee Boemi November 24 at 8:04am
saya setuju bahwa tindakan penghinaan, apalagi terhadap sebuah agama merupakan kejahatan moral serius!!!! yang memang harus dihukum semestinya. dalam hal ini tentu saja, penonaktifan salah satu blog yang memuat, konten yang ga semestinya...

tapi, bukan berarti, dengan seenaknya juga bisa memblokir satu provider, yang didalamnya banyak kepentingan orang. entah tidak tepat sasaran, atau ada unsur kelalaian. yang jelas banyak orang yang dirugikan dengan penonaktifan provider blog ini.

Perdana Alamsyah November 24 at 8:38am
Hak setiap orang untuk mengekspresikan pendapatnya adalah hak yang sangat prinsip dalam suatu masyarakat demokratik. Hak untuk mendapatkan dan memilih apa saja informasi yang bermanfaat bagi dirinya, secara prinsip juga merupakan hak yang dimiliki setiap individu dalam suatu masyarakat demokratik. Kalau kita tidak suka atau tidak setuju dengan pendapat tertentu, seperti halnya isi blog yang dipermasalahkan itu, maka kita bisa jawab, bisa nyatakan ketidaksukaan atau ketidaksetujuan kita, atau kita bisa memilih untuk tidak baca blog tersebut. Meski demikian TIDAK BOLEH ada 'superbody' dalam bentuk apapun yang memiliki kekuasaan untuk memberangus hak-hak yang prinsip dalam masyarakat yang demokratik.

Aas Megasari November 24 at 9:46am Report
pastinya penutup blog yang tidak etis, rasis atau blogblog kampuingan lainnya sangat-sangat sangat setuju...tapi tentunya harus tepat sasaran, efesien dan berikan sangsi...




Fietri Yulia November 24 at 12:23pm
Ehm,ISP nya kok sakit jiwa,blokir aja ga becus.




Eko Priyoko Kahono November 24 at 5:39pm
salahnya orang, apa salahnya kambing?
semua mua mau dikontrol...
semua mua mau dijadikan robot....
semua mua mau dikambinghitamkan...
semua mua mau makan kambing....
sebentar lagi idul adha...
coba siapa lagi yang berani menghina umat islam....?

wah....
waduh...
masak jadi umat kok gampang marah...
semakin dihina, semakin berarti lah dia...
semakin tinggi, bukankah pohon akan menerima terjangan angin yang lebih hebat pula...?

wah...
waduh...

Negara yang maunya luar biasa,
malah menjadi negara yang terlalu nggaya... sok...
adi kuasa, padahal tidak mampu berdiri sehat,... sok...
adi gung, padahal memberi makan seluruh rakyatnya saja megap megap,... sok...
adi guna, padahal yang dilakukan cuma bicara dan mengelap liur dipinggir bibir... sok...

bikin biasa biasa saja lah...
semua pasti ada akhirnya...
semakin lama...
semakin bosan saya ....

sudah ya...
terimakasih...

salam...


Muhammad Meisa November 24 at 11:33pm
menurut saya: sejauh blog itu membuat resah dan panas masyarakat pengguna jasa layanan internet yah sebaiknya ditutup sajah, tapi saya juga sadar bahwa itu adalah kebebasan berpendapat tapi harus dengan tanggung jawab yang penuh bukan hanya asal menghina tapi dengan alasan yang dangkal. ditutup lebih bijak daripada dibuka malah jadi polemik. :D


 Chusniah Puspawardani November 25 at 5:50am Report
wah, kasian para blogwan blogwati...

tindakan Menkominfo sendiri sudah baik, yakni menyuruh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia APJII menutup situs yang mengandung SARA tersebut, ini hanya masalah kurangnya penjelaslan APJJI kepada ISP (penyedia layanan internet), sehingga ISP malah menutup Seluruh blog yang memiliki domain .blogspot.com

semoga masalah ini cepat selesai, agar tidak lama-lama orang2 yang tidak seharusnya terugikan malah terugikan. ^_____^



Heru Hikayat November 26 at 12:02pm
Bukankah di ruang publik semuanya terhampar--suatu jukstaposisi dari berbagai-bagai hal--dan dengannya tiap2 orang dituntut kemandirian dalam menentukan pilihan? Bukankah suatu debat terbuka akan lebih menguatkan pribadi-pribadi?


Rival Ardiles November 28 at 1:44pm
Jika ada blog yg menghina agama tertentu memang harus ditutup, karena bisa menimbulkan perpecahan

Google Twitter FaceBook

Off Clinic: Menginterpretasikan Musik Klasik


Pertanyaan dari Ima Violin (via message FB):
Halo Kak Syaraf, mau nanya nih. Musik klasik itu kan kaitannya sama interpretasi. Bagaimana, sih, cara menginterpretasi yang baik dan benar, agar enak didengar? Tapi yang saya lihat, interpretasi juga bisa jadi bumerang, bisa jadi sumber konflik. Misalnya si A, menginterpretasi musik barok dengan cara begini, dan si B begitu, lain lagi. Si A dan Si B ini lalu berkonflik, merasa dirinya paling benar? Bagaiman itu, Kak?

Jawaban dari Kak Syaraf:
Halo Ima yang galau, begini nih. Entah kontekstual atau tidak, tapi sepertinya iya. Saya suka mengambil contoh dari salah satu kajian filsafat, namanya Hermeneutika. Yakni semacam ilmu tentang penafsiran. Ada dua hermeneutika yang terkenal, yakni hermeneutika ala Schleiermacher dan hermeneutika ala Gadamer. Bedanya begini: kalau Schleiermacher (susah ya bacanya? Kira-kira dibaca Sleyermakher), itu percaya, bahwa menafsirkan yang sebenar-benarnya, adalah memahami teks dalam kondisi seasli-aslinya. Misalnya, menginterpretasi Fugue karya Bach. Si pemain harus tahu sejarah, siapa Bach, apa yang dia inginkan dalam karyanya ini, dan apa motifnya dalam menulis karya tersebut? Jadi, dalam arti kata lain, Schleirmacher ingin kemiripan yang mendekati persis dalam menginterpretasi sebuah karya. Nah, Gadamer mengkritik pendekatan ini, katanya: kita tidak mungkin mengetahui sejarah suatu karya secara otentik, dan kalopun iya kita tahu, lantas buat apa? Lantas buat apa kita bermirip-mirip ria, tanpa iya tahu keotentikannya. Maka Gadamer punya solusi, jadikan teks itu sebagai pedoman. Sisanya? Marilah menginterpretasi sesuai apa yang kita hayati di jaman dimana kita hidup sekarang. Misalnya, dulu di jaman Bach tidak ada yang bernama Piano, adapun Harpsichord. Maka itu, kata Gadamer, tak perlu memainkan partitur Harpsichord dengan gaya Harpsichord, padahal instrumennya piano. Tidakkah Bach, jika di jamannya sudah ada piano, akan bermain dengan gaya piano? Jadi mainlah dengan kondisi kita sekarang. Teks sesuaikan dengan konteks.

na yang sebaiknya Ima pilih. Boleh Gadamer atau Schleiermacher, atau kedua-duanya digabung. Yang pasti, keduanya pilihan, maka itu, aneh kan jika kemudian ada konflik yang timbul?
Google Twitter FaceBook

Pintu Terlarang (DVD & VCD)


Penerbit: Jive Collection
Harga DVD: Rp 79.000
Harga VCD: 39.000

Bagaimana jika anda bisa memiliki segalanya tapi dilarang untuk mengetahui satu rahasia kecil. Apakah Anda akan mempertaruhkan semua yang anda miliki untuk membuka rahasia itu? Pertanyaan yang sudah ada sejak manusia pertama diciptakan ini dieksplorasi dengan stylish dalam film yang mendapat pujian dari para penonton dan kritikus internasional ini.

Fachri Albar berperan sebagai seorang pematung sukses yang mendapati istrinya (Marsha Timothy) merahasiakan sesuatu darinya: sebuah pintu berwarna merah di dalam rumah mereka sendiri. Ketika dia memutuskan untuk mencari tahu apa yang ada di balik pintu itu, hidupnya terseret dalam serangkaian misteri yang lebih mengerikan termasuk organisasi rahasia dan bayi-bayi mati.

Sebuah 'film horror suspens yang mencekam' (The Hollywood Reporter), 'sakit sekaligus cerdas' (TIME). Pintu Terlarang adalah sebuah film yang 'penuh ketegangan sekaligus erotis' (TEMPO). Sebuah pengalaman sinematis yang akan anda ingin ulangi lagi dan lagi untuk mengetahui rahasia utuhnya.
Google Twitter FaceBook

Cinema Politica Hadir Kembali

Madrasah Falsafah 
Rabu, 2 Desember 2009
Pk. 17.00 Wib
--------

Klab Nonton Cinema Politica http://www.cinemapolitica.org/node/1170

Minggu, 7 Desember 2009  Pk. 18.00
Tempat: Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung
Gratis! 

Being Osama

An intimate exploration of six men with highly diverse backgrounds, interests and personalities, united by their first names...


fiveosamas_web.jpg

Mahmoud Kaabour & Tim Schwab / Canada / 2004 / 45 min

Shot against the cultural backdrop of Montreal, the film follows the six Osamas from the time of the American invasion of Iraq in March of 2003 to the anti-WTO demonstrations in late July of the same year. Touching on subjects as diverse as Arab names, rock-n-roll, religion, Middle East politics, weddings, funerals and the meaning of identity, Being Osama is a sensitive and thoughtful portrait of six unique individuals and of the new Canada in which they live.

Through a series of interviews and by observing their daily lives, the film explores how sharing a first name with the world's most notorious terrorist can shape perception and prejudice. Touching upon such subjects as Arab names, rock-n-roll, religion, stereotypes, Middle East politics, marriage, mortality and the meaning of identity, BEING OSAMA is a sensitive and thoughtful portrait of these six unique individuals.
"The film depicts the diversity of Arabs and Arab cultures as well as the contradictions with the stereotypes...a serio-comic documentary with an authentic voice." --The Montreal Mirror

Awards & Festivals
2004 Winner, Big Muddy Film Festival at Southern Illinois University, Best Documentary 
2004 Winner, Canadian National Youth Film Festival, Aurora Award

Google Twitter FaceBook

Sunday, November 22, 2009

Perubahan

Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan perubahan. Setiap hari dalam skala besar sampai yang paling kecil, kita senantiasa berubah. Bergerak. Menjadi bagian dari hukum alam dan semesta. Saat mengubah dan menggeser sudut pandang yang seringkali terjadi adalah kejutan, bukan bukti dari ketakutan. Dunia jadi berbeda, meski tetap berputar pada poros yang sama. Setiap hari adalah kegairahan mengalami kebaruan-kebaruan. Jadi apa yang perlu ditakutkan dari perubahan?

Blog tobucil juga berubah. Tidak lagi Sundea yang mengawal blog ini. Begitu pula salamatahari yang tak lagi hadir di minggu-minggu mendatang dan seterusnya. Mengapa? jawabnya karena perubahan membawa pilihan-pilihan dalam hidup. Tanpa perubahan tidak ada kemajuan dan kejutan.  Ke depan, ada beberapa rubrik yang juga berubah. Tobucil mengganti rubrik teman tobucil dengan 'apa kata teman tobucil'. Rubrik yang tobucil harapkan bisa memberikan lebih banyak ruang kepada teman-teman (bukan hanya seorang teman, tapi lebih banyak teman) untuk menyuarakan pendapatnya tentang satu hal yang tobucil sampaikan lewat jejaring sosial tobucil di internet: facebook, twitter. Salamatahari yang semula berisi cerita-cerita pendek Sundea, berganti dengan rubrik 'tobucinology' yang berisi berbagi pengalaman bagaimana membangun sebuah komunitas berdasarkan pandangan dan pengalaman tobucil selama lebih dari delapan tahun berdiri. Secara khusus kegiatan-kegiataan klabs di tobucil akan hadir dalam rubrik tersendiri: kabar klabs. Selebihnya, masih menghadirkan rubrik yang sama dengan racikan yang berbeda.

Dengan perubahan ini, tobucil ingin menjadi lebih dekat dengan teman-teman semua. Berbagi ruang pendapat, pengalaman dan kisah-kisah. Selamat menikmati perubahan dan kebaruan bersama blog tobucil & klabs.

xoxo
Tobucil & Klabs


 Jalan Pulang Pantai Sundak oleh vitarlenolgy
Google Twitter FaceBook

Cintailah Ketakutanmu

Rabu itu di Madrasah Falsafah, cukup banyak orang yang datang. Rosihan Fahmi alias Kang Ami memimpin diskusi seperti biasanya. Diskusi yang topiknya tentang rasa takut. Malam itu, yang datang cukup banyak. Terlihat ada Mas Heru, Mbak Linda, Mbak Theo, Mbak Upi, IBS, dan beberapa lainnya. Tobuciler mengakui, bahwa dirinya tidak terus menerus duduk di forum tersebut. Karena sambil mengerjakan yang lain, yakni sesuatu yang berkaitan dengan acara yang digelar klabklassik di hari jumatnya. Meski demikian, Alhamdulillah, masih tertangkap intisari diskusinya.

Diskusi diawali oleh pemberian kesempatan oleh moderator bagi para peserta, untuk menceritakan pengalaman pribadinya soal rasa takut. Lalu munculah beberapa cerita soal rasa takutnya, yang ternyata beragam: ada yang takut pada orangtua, pada binatang, ataupun pada waktu. Cerita sang moderator sendiri misalnya, ia takut pada waktu, tepatnya waktu sore. Kenapa? Karena dulu, waktu ia kecil, setiap ia luput mengaji, ayahnya selalu memukulnya. Dan ngaji itu, waktunya sore.

Dari beberapa cerita tersebut, munculah kesimpulan sementara, bahwa ada dua pola ketakutan: yakni ketakutan sebagai bagian dari rasa, yang berarti bahwa ketakutan itu alamiah. Yang kedua, adalah ketakutan sebagai konstruksi dari masyarakat. Konstruksi itu misalnya, pernah ada cerita soal murid Kang Ami di SMP. Ia mengaku tidak takut oleh apapun, dan siapapun, termasuk orangtuanya sendiri. Tapi saat sang murid memasuki kelas baru, ia kaget. Karena tiba-tiba ia menemukan suasana kelas yang menegangkan, dan yang terpenting: ada konstruksi bahwa si murid mesti takut pada sang guru. Sejak itu, si murid jadi punya rasa takut, yakni takut pada guru.

Yang menjadi persoalan kemudian, adalah bagaimana memetakan takut pada kedua kategori tersebut. Mbak Upi misalnya, ia takut ketinggian, tapi ahistoris. Alias tidak ada sejarah yang mendasari kenapa ia takut ketinggian. Bukan misalnya, karena ia pernah terpeleset di bibir jurang, atau pernah ikut bungee jumping. Tapi kemudian, dalam forum disimpulkan, bahwa terlepas dari kesulitan pemetaan rasa takut, yang terpenting adalah bahwa: rasa takut bisa jadi potensi yang bagus, bisa jadi tolok ukur bahwa kita masih punya kewaspadaan, dan yang lebih penting: merupakan tolok ukur bahwa kita adalah manusia yang hidup. Maka itu, Mas Heru memberi solusi filosofis, yakni, seperti kata Nietzsche: Amor Fati, cintailah kehidupan. Buatlah ketakutan sebagai hal yang dicintai, karena ia bagian dari hidup itu sendiri. [syarif Maulana]. 



Patung Maria Karya Agus Suwage, foto oleh vitarlenology


Google Twitter FaceBook

Konser Itu Datang Jua

Setelah dari Januari 2009 berlatih bersama, akhirnya Ririungan Gitar Bandung (RGB) bermain di konsernya yang pertama. Konser yang digelar dari RGB, oleh RGB, dan untuk RGB. Konser yang pada akhirnya diselenggarakan tanggal 20 November kemarin itu, berlangsung cukup, apa ya, Tobuciler sulit menjelaskan, karena Tobuciler merupakan salah satu bagian dari acaranya. Tobuciler akan memaparkan dari sudut pandang persiapan panitia saja:

Konser tersebut cukup rumit, karena apa? Karena banyak sekali pengisi acara, yang juga merupakan orang-orang yang biasa menjadi panitia dalam acara-acara klabklassik. Memang, awalnya, Tobuciler mengusulkan, bahwa acara ini mestilah menjadi semacam hadiah, untuk para aktivis klab yang sudah sering susah payah membuat orang lain senang. Orang lain disini, maksudnya, penonton dan pengisi acara. Demikianlah, saking para aktivis klab sudah beberapa kali memanitiai acara, terkadang mereka lupa, apakah mereka juga senang? Maka itu konser RGB ini dibuat, agar salah satunya, kami, para panitia, juga senang. Tapi ujungnya malah, pemain tidak konsentrasi karena mereka mesti juga mengurusi acara, dan sebaliknya.

RGB adalah, kau tahu, kelompok ensembel yang keanggotaannya dibuka untuk umum. Siapa saja boleh ikut, asal membayar biaya anggota sebesar 50.000 per tiga bulan dan bisa baca not balok. RGB ini cukup sering diberitakan di blog Tobucil kemarin-kemarin. Akhirnya diputuskan, bahwa konser RGB, tak cuma RGB yang main, tapi juga beberapa penampil dalam berbagai format. Seperti: Bernadette Yodia dan Yunus Suhendar (gitar solo), KlabKlassik String Trio dan Pirhot Elisa (gitar dan instrument lainnya), serta Royke D-K-K, ISO Divisi Gitar, dan Sebelas Duabelas Guitar Dup (ensembel gitar). Yang kemudian, kesemuanya itu ditutup oleh penampilan RGB dengan empat karya, yakni Canon dari G.Ph. Telemann, Canon in D dari Johann Pachelbel, Lagrima dari Francisco Tarrega, dan The Entertainer karya Dcott Joplin. Yang disebut terakhir, dimainkan secara beramai-ramai, dengan seluruh pengisi acara.

Acara yang diberi judul Ririungan Gitar Bandung: Maen! itu, meski cukup rumit karena campuran panitia-pemain itu tadi, tapi Alhamdulillah, cukup memuaskan, setidaknya bagi kami sendiri. Bagi Tobuciler sendiri, yang dimaknai dari acara ini, bukan soal apakah acara tersebut diselenggarakan dalam lingkup kecil dan minim sponsor. Tapi lebih ke merupakan, bahwa ada makna yang berbeda bagi setiap pemain. Bagi Yunus Suhendar alias Mas Yunus misalnya. Baginya, ini penampilan debutnya solo di atas panggung, dan itu membangkitkan kepercayaan dirinya. Bahkan ia bersemangat untuk tampil terus pada kesempatan-kesempatan lainnya. Lalu bagi ketua RGB, Sutrisna, ini juga diakuinya sebagai pengalaman berharga, karena ia dipercaya sebagai ketua, dan berperan dalam hampir keseluruhan acara. Pengalaman berharga, mengingat ketika pertama kali ia datang ke klabklassik, Tobuciler sempat melihatnya tanpa kata, memojok, dan terasa ada keminderan dalam dirinya. Demikian, dan mungkin juga ada banyak makna yang tersirat dalam setiap penampil yang lain. Yang Tobuciler tidak tahu dan tidak perlu tahu. Tapi bukan berarti Tobuciler tak peduli, kau tahulah kenapa. [Syarif Maulana]. Foto: vitarlenology




Google Twitter FaceBook

Memulai Langkah Pertama

Bagaimana pun juga hal lain yang perlu disadari adalah membuka sebuah toko buku tidak bisa disamakan dengan membuka usaha lain, apalagi jika ada idealisme yang menjadi landasan usaha. Jangan lupa untuk mempertajam visi dan misi yang akan kita bawa lewat toko buku/komunitas/perpustakaan/taman bacaan yang akan kita bangun. Sejak awal, kepedulian aku dan teman-teman adalah masalah budaya membaca yang masih sangat rendah. Dan sesuai dengan kepercayaan yang aku anut, membaca menjadi hal yang sangat penting, karena perintah pertama dari Tuhan kepada manusia adalah membaca (iqra), bukan beriman. Logikanya bagaimana mau beriman jika tidak bisa membaca apa yang diciptakan Sang Maha Pencipta. Dari situ kemudian aku menerjemahkan kembali bahwa apa yang disebut melek baca dan tulis (arti literacy secara harfiah) bukan hanya membaca dan menulis teks atau buku. Tapi juga membaca lingkungan sekitarnya, memahami apa yang terjadi disekeliling kita, membaca alam, membaca hal-hal di luar teks bisa disebut literacy. Untuk memperjelas visi dan misi tersebut, akhirnya dirumuskan bahwa tobucil & klabs membawa misi mendukung gerakan literasi lokal.

Dan sejak awal, sudah diniatkan bahwa tobucil merupakan pintu masuk untuk membangun gerakan literasi tingkat lokal. Karena itulah tobucil adalah komunitas yang berbasis toko buku. Toko bukunya sendiri dibangun karena pertimbangan perlu adanya badan yang bisa memberi dukungan finansial untuk membangun komunitas, sehingga komunitasnya bisa berkegiatan secara mandiri. Jadi faktor bisnis bukan motif utama berdirinya toko buku kecil (tobucil). Karena bagi aku pribadi, jika ingin pure bisnis dan mendapat keuntungan yang banyak, membuka toko buku bukanlah pilihan yang tepat, apalagi jika modal terbatas dan idealisme yang dikedepankan.

Di Bandung, situasi dan kondisinya relatif lebih mudah ya jika di bandingkan dengan kota-kota lain (sejauh yang aku amati). Mungkin karena aku lahir dan besar di Bandung, jadi aku paham betul bagaimana kondisi sosial masyarakatnya. Jadi lebih mudah untuk melakukan pendekatan yang tepat supaya visi dan misi yang kita tuju bisa tercapai. Jadi selain membuat perencanaan, sangat penting untuk membuat analisis situasi dan kondisi sosial masyarakat di tempat kita akan mulai membangun toko buku/komunitas/ taman bacaan/perpustakaan.

Setelah bulat tekat, barulah kita bisa membuat perencanaan. Penting untuk dilakukan adalah menganalisis terlebih dahulu modal/potensi apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita miliki. Saat pertama kali aku akan memulai tobucil & klabs, aku sadar betul bahwa aku tidak punya modal uang yang memadai. Tapi aku sadari betul bahwa aku punya banyak teman-teman yang bisa membantu. Ketertarikan aku kepada seni dan budaya membawa aku kedalam lingkungan tersebut. Kemudian banyak teman-teman di lingkungan seni dan budaya yang bersedia membantu tobucil & klabs. Kemudian aku melihat itu sebagai sebuah potensi. Untuk itu kegiatan –kegiatan yang diselenggarakan pun kegiatan seni dan budaya. Jadi yang aku lakukan adalah membuat strategi berdasarkan apa yang aku miliki dan apa yang tidak aku miliki. Karena aku tidak memiliki uang, berarti aku harus pandai-pandai mengelola uang yang masuk/pendapatan untuk membiayai operasional toko dan promosi kegiatan. Disini terasa jaringan pertemanan yang aku miliki menjadi sangat penting. Teman-teman banyak sekali membantu membuat acara dan aku hanya menyediakan tempat untuk berkegiatan saja. Untuk itu biaya yang aku keluarkan untuk promosi, tidak terlalu besar.

Dari kegiatan-kegiatan yang telah diselenggarakan itulah, akhirnya berkembang dan membentuk komunitasnya sendiri. Selama ini aku sengaja membiarkan komunitas yang terbentuk dibiarkan terbuka dan cair dalam artian tidak ada keanggotaan, siapa pun boleh mengikuti kegiatan tanpa paksaan. Karena tujuannya adalah menyebarkan gagasan tersebut seluas-luasnya. Lama-lama terbangun juga hubungan saling membutuhkan yang membuat komunitasnya bisa dikelola bersama-sama dengan melibatkan partisipasi dari para sukarelawan.

Ya, semuanya memang ngga mudah dan butuh waktu ya… aku selalu menganggap keberhasilan aku sama besarnya dengan kegagalan yang aku alami. Jadi jangan takut untuk memulai. Jangan putus asa jika menemui kesulitan. Yakinlah bahwa apa yang kita lakukan adalah dengan niat yang baik. Dan selalu ada jalan keluar dan pertolongan untuk sesuatu yang didasari niat baik. Jangan segan-segan untuk menghubungi aku dan berbagi cerita suka maupun duka saat kau sudah memulai langkah pertamamu. Perjalanan akan terasa menyenangkan jika kita tahu bahwa kita tidak berjalan sendirian. Mengetahui ada teman-teman lain yang memiliki cita-cita yang sama akan membuat kita tetap bersemangat. [vitarlenology]

untuk Nilam yang bertanya: 'mba gimana memulainya?' 


Google Twitter FaceBook

Bunga buat Kakek

In memoriam: Kusmadi


Anak-anak itu berlarian di kompleks pemakaman, di antara batu-batu nisan. Mereka mencari bebungaan. Mereka mencari tetumbuhan.

Anak-anak itu, keponakan-keponakanku, adalah generasi termuda keluarga kami. Kami mengajak mereka ke sana karena mereka bersemangat ingin mengunjungi pusara kakek mereka. Kenapa? Karena mereka ingin menanam tetumbuhan di pusara kakek mereka.

Aku tidak tahu dari mana persisnya mereka punya ide menanam tetumbuhan adalah cara menghormati orang yang telah mati. Di banyak kebudayaan pohon adalah lambang hidup. Setahuku masyarakat Kanekes (sering disebut Baduy) tidak menandai makam dengan nisan bahkan tidak punya kompleks pemakaman khusus. Mereka menandai pusara dengan menanam pohon jenis tertentu, lalu tanah di sekitarnya tetap bisa digarap untuk lahan pertanian seperti biasa. Kita tahu tetumbuhanlah yang memungkinkan bumi menyangga kehidupan. Sejak proses photosintesis menghasilkan oksigen, kehidupan di bumi berkembang hingga organisma rumit macam manusia ini dimungkinkan untuk ada. Dengan demikian wajar bukan kalau kita menghormati kematian dengan menanam pohon? Yang mati kemudian jadi penyangga yang hidup.

Di tahun 1997, Tanto, sahabatku, menulis sebuah cerpen. Karakter-karakter dalam cerita itu adalah teman-temannya sendiri. Saat mendeskripsikan karakterku, ia menyebutkan bahwa aku akhir-akhir ini sedang sering merenungkan tentang kematian. Walaupun semua karakter dalam cerita itu menggunakan nama samaran, aku meminta Tanto untuk menghapus uraian tersebut. Entah kenapa aku saat itu merasa “merenung” dan “kematian” adalah hal-hal yang “tinggi” hingga kalau aku diceritakan sedang merenungkan kematian aku merasa seperti sedang digambarkan melakukan hal yang luar biasa. Aku rasa aku enggan dikesankan sebagai orang luar biasa.

Watanabe, si pemuda tanggung dalam novel Norwegian Wood, merasakan kehampaan ketika ditinggal mati Kizuki, sahabatnya. Watanabe canggung dalam pergaulan, suka menyendiri dan membaca buku berulang-ulang. Ia bukanlah karakter yang ditakdirkan melakukan hal-hal besar, macam hal-hal yang akan memengaruhi sejarah dan jangankan memengaruhi hidup banyak orang, ia bahkan tak memengaruhi alur hidup segelintir orang yang kebetulan menjadi temannya. Ia tidak membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya dengan alasan tegas. Pun orang sebiasa Watanabe merenungkan kematian. Ia lalu mengambil kesimpulan kematian tidaklah terpisah dari kehidupan. Kematian merupakan bagian dari kehidupan.

Anak-anak itu, saat saling senyum dan baku canda sambil menggali tanah dan menggenggam tetumbuhan lalu menanamkannya di pusara ayahku, dengan cara sederhana telah menunjukan kematian tidaklah nun jauh meninggi di sana. Aku melihat di momen itulah yang hidup dan yang mati tetap bersentuhan.


Heru Hikayat
Kanayakan, 16 November 2009



foto oleh vitarlenology
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin