Tuesday, December 29, 2009

Selamat Menjelang Kebaruan Hidup di Tahun 2010



Frino sahabat tobucil 

Selamat tinggal 2009, selamat datang 2010. Tanpa terasa 2009 hampir genap terlewati. Begitu banyak peristiwa dan perjumpaan yang terjadi di Tobucil & Klabs. Di tahun 2009, tobucil berusaha untuk menemukan formula, bagiamana kegiatan-kegiatan yang ada di tobucil, bisa dikelola dan dikembangkan. Tentunya dengan semangat kemandirian dan melibatkan dukungan dari teman-teman tobucil semua.

2010 yang tinggal beberapa hari lagi dan akan mengantarkan Tobucil & Klabs pada tahun ke 9 perjalanannya. Tobucil berharap bisa lebih banyak bekerjasama dengan komunitas-komunitas lain baik di Bandung maupun di luar Bandung. Tobucil ingin menambah sebanyak mungkin teman dan keluarga, karena tanpa teman-teman dan keluarga besar yang senantiasa dukung, apa yang Tobucil lakukan, tak akan memberikan manfaat berart.

Selamat Natal dan Tahun Baru 2010.
Selamat menemukan kebaruan-kebaruan hidup di tahun 2010.

xoxo
Google Twitter FaceBook

Perjalanan Klab Sepanjang 2009

Awal tahun selalu membawa awal semangat, strategi baru, ide baru dan pertemuan-pertemuan baru. Begitu juga klab di Tobucil. Sebagai sebuah komunitas yang berada di bawah naungan toko buku dan toko hobi, klab Tobucil pun berkegiatan atas jalur yang ditempuh induknya.

Tahun 2008-2009 adalah tahun kedua perjalanan klab yang digawangi oleh saya sendiri, wiku baskoro. Tahun pertama ditandai dengan kepindahan Tobucil di tempat baru, startegi klab lebih pada pengenalan rumah baru dan mulai berbenah klab, tahun kedua adalah mulai mencari bentuk, konsep serta sistem klab yang mampu bertahan, sustainable serta mampu membiayai diri sendiri, tanpa keluar jalur dari Tobucil itu sendiri.

Klab pada intinya adalah komunitas, sebuah ruang publik yang diisi dengan orang-orang dengan interest tertentu yang tersatukan atas preferensi mereka. Aturan dan tata sosial yang berlaku adalah tata sosial mereka sendiri yang dipandu oleh Tobucil sebagai tuan rumah dan pemegang program.

Pada perjalanannya, klab menemukan sebuah sistem yang diharapkan dapat mengakomodir mereka yang interest-nya sama dengan Tobucil. sebagai komunitas kecil, tentu Tobucil dan klab tidak akan mungkin mengakomodir preferensi semua orang, komunitas yang terbentu adalah komunitas yang berdasar pada preferensi yang disesuaikan dengan program-program Tobucil.

Klab di Tobucil dibagi menjadi dua, berbayar dan gratis. Penentuan konsep ini, tidak semena-mena hadir atau sebagai sebuah proses aukflarung yang ajaib, penentuan sistem ini adalah berdasar data riset perjalanan Tobucil dari 2001 - 2007. Dengan melihat perkembangan dan dinamisasai konsumen serta pengunjung dan komunitas yang telah terbentuk, maka sistem ini telah menjadi dasar dalam pelaksanaan klab Tobucil.

Karena bagi saya pribadi, komunitas bukanlah diukur dari bayar atau tidak, tapi dari kemampuannya menjadi sebuah kegiatan yang berkelanjutan, karena komunitas bukannya tidak punya tanggung jawab, tapi komunitas haruslah memberikan manfaat bagi anggotanya dari kegiatannya yang rutin, dan di banyak sisi sustainabilitas ini berhubungan dengan dana. Karena Tobucil adalah komunitas yang dibangun atas dana pribadi bukan lembaga atau donor tertentu, maka kemampuannya untuk membiayai diri sendiri bergantung pada kegiatannya tersebut. Disinilah peranan klab berbayar untuk memberikan subsidi silang pada klab non berbayar agar masing-masing klab bisa menjalankan tanggungjawabnya untuk tetap bertahan dan mengembangkan diri.

Dari dua sistem ini, kemudian dipecah kembali konsep penyelanggaraan klab, yaitu klab yang berasal dari Tobucil sendiri dan klab yang berpartner dengan komunitas lain. Pada penyelenggaraannya, klab Tobucil atau klab partner dijalankan dengan sebuah sistem simbiosis mutualisme yang kental dan saling mendukung, tanpa klaim sepihak atas kegiatan atau klab yang ada. Baik pihak Tobucil maupun pihak partner diharapkan mampu mengembangkan brand mereka dan audiens mereka sehingga masing-masing pihak akan berkembang sesuai dengan karakternya dengan sebuah irisan yang pada akhirnya membentuk kegiatan klab itu sendiri.

Dari sistem ini kemudian lahirlah klabs Tobucil yang menghiasai hari-hari Tobucil tanpa henti selama satu tahun kebelakang.



Klab Nulis Angkatan ke 6

 Klab nulis Dewasa (setiap senin 17.00-19.00)
Merupakan salah satu klab tersukses yang pernah saya tangani, seteleh perubahan konsep yang cukup membuat hati berdebar, karena saya harus merubah konsep yang telah berjalan lebih dari 3 tahun.
Ada ketakutan tersendiri, selain penilaian orang, perubahan terkadang membawa resiko yang sama sekali tidak kita pikirkan. Tapi perjalanan menemukan saya pada teman-teman yang hebat dan berdedikasi. Klab nulis tahun 2008-2009 adalah sebuah perjalanan tersukses klab nulis, mempunyai 6 angkatan dengan siswa yang lulus kurang lebih 30-an lebih adalah sebuah prestasi tersendiri.

Klab nulis Tobucil sendiri menggunakan sistem kursus, lengkap dengan silabus, sertifikat serta bingkisan menarik. Klab berjalan 3 bulan dengan total minimal pertemuan 14 kali dan biaya sebesar 225.000. Yang menjadi unik adalah konsep sidang, setiap anggota klab nantinya akan diarahkan membuat karya yang nantinya akan disidang oleh mereka yang berpengalaman di dunia tulis menulis, baik itu sebagai pembaca, ediotr, penulis atau pengamat.

Pengajar klab nulis Tobucil adalah Sophan Adji (Ophan), penulis, pengajar serta pegiat sanggar Langit Inspirasi. Dengan pengalaman menulis serta mengajar di berbagai tempat, silabus serta metoda pengajajaran Ophan memberikan karya pengajaran yang autentik dan berbais komunitas, sehingga sistem pengajaran dan pendekatannya pun berdasar pada konsep komunitas, yang santai, terbuka serta egaliter.

Kini klab nulis Tobucil baru aja selesai menyidang angkatannya yang ke VI dan bersiap untuk melakukan wisuda. Dengan sistem yang baru ini, diharapkan output klab nulis menjadi lebih jelas dan terarah, selain nantinya semua karya anggota klab nulis akan di buat sebuah zine yang berisi kumpulan karya-karya mereka.

Klab Nulis anak
Perkembangan klab nulis dewasa ternyata memberikan ide bagi Tobucil untuk juga membuat klab
nulis yang diperuntukkan bagi anak-anak (SD-SMP). Dengan pengajar Sundea, klab nulis anak telah menghasilkan kelas sebanyak 2 angkatan. Dengan pendekatan yang khas anak-anak, yang lebih menekankan pada fun writing, klab nulis anak juga diharapkan memberikan output yang jelas yaitu karya tulis bagi anggotanya.

Dalam perjalanannya serta beberapa evaluasi, untuk sementara klab nulis anak ini harus mengakhiri perjalanannya akhir tahun ini.




Wailan di Pesta Filsuf 2009

Klab Filsafat
Klab filsafat adalah salah satu contoh dari klab non berbayar yang dalam perjalanannya dimasukkan dalam kategori sukses. Dengan pertemuan rutin setiap rabu sore jam 17.00 - 19.00 klab filsafat telah memberikan ruang-ruang diskusi atas filsafat sehari-hari yang mudah-mudahan memberi manfaat bagi yang datang.

Klab filsafat juga adalah salah satu jenis klab yang merupakan klab dengan konsep partnership, bernama resmi Madrasah Falsafah Sophia, klab ini merupakan kerjasama Tobucil dengan Madrasah Falsafah Sophia, sebuah komunitas yang mengkhususkan pada filsafat sehari-hari.

Madrasah faslsafah sophia atau klab filsafat pada perjalanan ulang tahunnya yang kesatu menyelenggarakan sebuah gelaran akbar yang berjalan satu hari penuh, yaitu Pesta Filsuf, sebuah marathon diskusi filsafat sehari-hari yang berjalan dari pagi 09.00 - 20.00 juli 2009, dibagi menjadi 3 sesi diskusi dan satu sesi nonton film, menghadirkan lebih dari 12 pembiacara diantaranya Bambang Sugiharto, Donny Grahal, Damhuri Muhammad, Moh. Syafari Firdaus, Tarlen Handayani, Ahmad Gibson Al Bustomi, Bambang Q-Anees, Amrizal Syalayan, Teuku Ismail Reza  dengan moderator Desiyanti, Heru Hikayat dan Rosihan Fahmi . Diselingi dengan sarapan, makan siang serta makan malam gratis, dan tidak lupa suguhan musik ala klab klasik, kegiatan ini telah menjadi sebuah pesta yang dihadiri para penikmat filsafat namun dengan pendekatan yang hommy, santai serta fun.

Klab filsafat, selain menghadirkan tema-tema rutin juga menghadirkan tema-tema khusus seperti diskusi buku yang menghadirkan penulisnya sendiri.

Perjalanan klab ini bukannya tanpa kendala, dengan sistem komunitas yang tidak terikat dan sangat cair, faktor pengunjung yang datang dan pergi adalah sebuah kondisi yang harus pintar-pintar disiasati. Dengan moderator klab Rosihan Fahmi dari madrasah falsafah, kendala ini disiasati dengan terus berganti-ganti konsep tema serta pendekatang agar variatif dan tidak membosankan, sambil terus menemukan pendekatan yang tepat, klab ini mampu tetap terus menghadirkan ruang untuk filsafat sehari-hari yang tidak perlu jelimet, tidak perlu berkerut kening, hanya perlu pikiran terbuka dan keinginan untuk saling mendengarkan dan berbagi cerita.


 Belajar Membuat Sekma Cerita di Klab Komik Manyala

Klab Komik
Klab ini juga merupakan salah satu klab yang dikelola secara bersamaan atau partnership. Tobucil bekerjasama dengan klab komik Manyala mengadakan klab komik. Selama perjalanannya, klab komik ini sempat vakum namun kini sedang bergerak kembali dengan pertamuan rutin setiap hari jumat jam 16.00 - selesai. Beberapa kegiatan yang pernah dijalankannya adalah Wrokshop komik bersama Tita Larasati, serta berbagai workshop rutin. Beberapa hari yang lalu klab komik juga menjadi tempat penyelenggaraan Ulang Tahun salah satu komunitas komik di Unikom.

Klab Manyala sendiri merupakan wadah komunitas komik yang didalamnya terdapat berbagai komunitas komik lain. Dalam penyelenggaraan klab komik ini, Tobucil lebih berperan sebagai penyedia tempat dan membantu publikasi, sementara seluruh tema diskusi maupun workshop dikelola dan dikembangkan oleh Manyala daan untuk publikasi, Tobucil selalu menyertakan identitas Manyala sebagai partner.



Mentor Klab Merajut Mengajarkan Yubiami (finger knitting) pada anak-anak



Klab Merajut
Pada tahun kedua ini, penekanan semua program Tobucil & klabs yang berfokus pada Hobi semakin di gencarkan. Tidak hanya melalui display toko yang semakin memberi ruang display bagi produk-produk hobi dan craft, tapi juga melalui beragai klab yang ada di Tobucil.

Dari sekian banyak klab dan dari sekian hari yang tersedia untuk kegiatan klab, Tobucil memilih hari Sabtu dan Minggu sebagai hari hobi, dan semua klab yang berhubungan dengan per-hobian dimasukkan dalam dua hari itu, Sabtu dan Minggu.

Salah satu klab yang mengusung semangat hobi adalah klab rajut, setelah perjalanan yang semenjak kepindahannya ke Jl. Aceh 56, klab merajut termasuk salah satu klab yang diandalkan, tidak hanya sebagai mesin ekonomi tapi juga sebagai penekanan, bahwa Tobucil dengan semangat kemandiriannya membuka pintu untuk berekspresi lewat hobi.

Klab rajut sendiri adalah sebuah klab dengan sistem kursus yang secara pokok berbayar. Untuk mengikuti kursus rajut ada 3 sistem yang disediakan, per pertemuan, perbulan serta per 3 bulan, dengan kelebihan dan fasilitas yang masing-masing berbeda. Diselenggarana setiap sabtu dan minggu dari jam 13.00 - 15.00.

Tahun ini klab rajut berkembang menjadi dua tipe kursus, yaitu breyen dan crochet, dengan dua pengajar yang berbeda dan pengalaman atas bidangnya.

Klab rajut sendiri dalam pelaksanaannya telah memberikan peran yang sangat signifikan untuk Tobucil sebagai sebuah toko, dengan bisnis benang dan peralatan rajut dan perlengkapan serta produknya, klab rajut juga membantu branding Tobucil dengan berbagai liputan yang didapatkannya dari media lokal (Jabar), maupun nasional, cetak, radio maupun televisi.

Tidak hanya menggelar kursus, tetapi klab rajut juga mengikuti pameran atas undangannya untuk mengikuti pameran Typografi yang diselenggarakan oleh majalah Still Loving Youth dan bertempat di Gedung Indonesia Menggugat.

Selain itu, tahun ini juga meruakan tahun yang sangat menyenangkan bagi para lelaki yang merajut, yang berkibar dengan nama The Man Who Knit, berawal dari iseng dan membutuhkan sebuah komunitas para lelaki merajut, The Man Who Knit hadir bukan hanya untuk berkomunitas saja, tapi juga untuk mengkapanyekan bahwa lelaki pun bisa merajut dan tidak perlu malu.

Di tahun ini juga, selain liputan dan berbagai kegiatan, seperti di undang menjadi pembicara di festival merajut Indonesia, talk show di IMTV sampai menjadi tutor untuk workshop yang diselanggarakan oleh Rumah Cantik Citra dan Nova, membawa perjalanan The Man Who Knit pada sebuah tahun yang sangat fun.

Tidak hanya itu, beberapa video tentang perjalanan dan tutorial juga telah dihasilkan The Man Who Knit. Bahkan satu video di embed di salah satu blog favorit kami: crativism.com.

Kedepannya The Man Who knit akan terus berkarya, dan memperbaharui statement mereka tentang merajut.

Mulyana, koordinator baru klab Origami sedang mengajarkan cara membuat balon origami pada siswa-siswi Semipalar



Klab Origami
Sempat sangat aktif pada tahun 2007-2008, Klab origami megalami kevakuman yang cukup lama di tahun 2009. Tapi dengan semangat hobi yang tetap sama, kini klab origami mulai berkarya kembali dengan instruktur yang baru Mulyana atau yang lebih dikenal dengan Moel.

Dengan jam konsep workshop atau kursus, klab origami mulai berkarya kembali, semoga di taghun depan, tidak hanya workshop tapi pameran juga akan dilaksanakan.

Klab Klasik
Klab klasik termasuk klab tertua di Tobucil, bekerja sama dengan klab klassik yang bisa ditemui di klabklassik.blogspot.com. Klab ini juga sangat sustainable dan sangat aktif, selain dikusi yang merupakan pengembangan dari perjalanan klab klassik, acara-acara konser juga rutin mereka adakan.

Salah satunya yang baru saja menandai tutup tahun bagi klab klassik adalah RGB atau Ririungan Gitar Bandung.

Selain pertemuan rutin setiap hari minggu sore minggu ke 2 dan 4, klab klasik juga kerap tampil di berbagai acara yag diselnggarakan Tobucil, seperti penutupan klab nulis, pesta filsuf, crafty days, serta acara rutin musik 2 mingguan musik sore.

Dalam perjalanannya, Tobucil selain membantu publikasi untuk klab ini, menyediakan tempat latihan dan partnership acara-acara klab klasik sebagai tempat penjualan tiket. Untuk lebih lengkap bisa klik klabklassik.Tobucil.blogspot.com


Klab Nonton
Setelah vakum beberapa tahun, akhirnya klab nonton kemabli digelar tahun 2009. Setelah hadir teman baru Tobucil sebuah tv lengkap dengan player, maka klab nonton pun kembali digelar dengan pemutaran film-film yang bekerjasama dengan komunitas lain atau film-film koleksi Tobucil.

Meski sering sepi pengunjung, tapi kami tetap menjalankan klab nonton ini, sebagai apresiasi pada film-film keren dan terutama memberdayakan TV dari pada ngangur :D Akhir tahun klab nonton pindah menjadi hari minggu yang sebelumnya hari sabtu, seperi bioskop klab nonton dibuka tepat jam 18.30 malam setiap minggunya. Tahun depan, semoaga saja ditemukan sebuah konsep seru lain yang bisa meramaikan klab nonton ini.



Kegiatan diluar Klab

Selain berbagai kegiatan  rutin, Tobucil juga kerap mengadakan kegiatan non rutin atau rutin tapi dengan jangka waktu yang cukup jauh. Dan berbagai kegiatan ini juga di kordinatori oleh klab Tobucil.

Beberapa kegiatan yang berlangsung dalam tahun 2008-2009 adalah:


Musik Sore di Tobucil


Musik Sore 
Sebuah program musik rutin 2 bulan sekali (menurut jadwal dan kalau tidak musim hujan) yang merupakan kolaborasi klab di Tobucil, khususnya antara Tobucil dan klab klassik. Tahun ini menjadi tahun digelar 3 musik sore dengan para penampil:

Musik sore 1 Feb 2009: Jack & sally, Babyeatcrackers, Ririungan Gitar Bandung, Klab Klassik String Duo, dll

Musik sore 2 April 2009: Angsa dan Serigala, Tesla, Trio Fandago dan D'Java String Qoartet (pre konser) serta klab klasik

Musik sore 3 Juni 2009: D'Java, Deu galih, Tesla, Yeyen-dian (duet vokal) serta klab klasik

Musik sore adalah konser mini tapi kami harapkan akan meerbikan apresiasi yang maksimal, kedekatan antara penampil dan penonton diharapkan memberikan pengalaman intens yang lebih dan yang pasti tidak didapatkan di konser kebanyakan, denngan konsep full akustik, selama berjalan, apresiasi para penonton yang meski sempat beberapa kali konser terguyur hujan, namun tetap apreasisasi tetap maksimal.


 The Mogus di Crafty Days #3

Crafty days #3 Toys Are Us
Merupakan salah satu acara favotir Tobucil juga merupakan acara terbesar sepanjang tahun berjalan tobuil & klabs. Crafty Days adalah acara dimana semua klab ikut ambil bagian, sekecil apapun, sebanyak apapun, acara ini seperti pesta kebun yang terbuka bagi siapa saja untuk ikut ambil bagian.

Untuk tahun ini Craty Days mengambil tema Toys R Us, yang di jewantahkan pada pameran keluarga Mogu karya Mulyana. Crafty Days adalah sebuah bazzar kreatif yang diisi oleh para stand yang menjajakan barang-barang handmade. Sejak awal, selain untuk  bazzar yang berujung pada penjualan, crafty days lebih diharapkan menjadi semacam ajang kumpul-kumpul komunitas hobi dan para pelaku hand made, serta tentu komunitas lain yang masih satu tema.

Tahun ini Tobucil mencoba untuk menyewa stand lebih besar untuk kenyamanan, meski tetap saja diguyur hujan dan masih ada kekurangan disana-sini, Crafty Days #3 bisa terlaksana juga atas dukungan para pengisi stand serta komunitas yang mendukung acara tersebut.

Selain bazzar, seprti biasa crafty days juga menampilkan workshop dan acara musik yang dikelola oleh klab klasik.

Pecha Kucha
Tahun 2009 Tobucil juga mendapatkan kesempatan ikut ambil bagian dalam acara pecha kucha, sebuah ajang presentasi unik yang digelar rutin. Ada dua presentasi yang Tobucil tampilkan, Tobucil dan klabs dan klab merajut. Acara ini digelar bulan Mei 2009 di Gedung Indonesia Menggugat.



Amenk Mufti Priyanka sedang mempresentasikan karyanya 


Vitamin A[rt]
Vitamin A adalah program baru di Tobucil & klabs bersama ResArt yang merupakan presentasi karya-karya seniman, desainer, arsitek, musisi, programer, ilustrator, handmade artist, crafter, yang memiliki karakter dan cita rasa seni, kepada khalayak umum.

Presentasi ini dimaksudkan untuk membangun dialog dan jembatan antara kreator dan audienceny dan membangun kemampuan saling mengapresiasi satu sama lain. Para seniman yang pernah melakukan presentasi adalah: Erik Pauh Rihzi, Muhamad Akbar, Amenk dan Ucup.


Crafty Kids Club Edisi Liburan

Crafty Kids
Selama liburan di tahun 2009, Tobucil and Klabs juga mengadakan acara hobi yang dikhususkan untuk anak-anak, dengan nama crafty kids, workshop 4 hari pada bulan Juli ini diikuti oleh 4 orang anak yang diajari berkarya handmade, selain mengisi liburan program ini juga menghasilkan produk yang dibuat oleh anak tersebut dan bisa dibawa pulang.

Tahun 2009, selain tahun yang seru dan dinamis, Klab tidak luput dari kesedihan, selain beberapa perubahan tentang kru Tobucil yang mengundurkan diri atau berhanti, Klab kehilangan sahabat, teman, dan pengajar yang berdedikasi serta baik hati. Bulan Desember, Mas Paskalis, salah satu pengajar klab nulis Tobucil, pulang kehadiratnya, tepat ketika beliau sedang memberikan asistensi pada klab nulis, setelah sempat kejang, beliau meninggal dunia di perjalanan menuju rumah sakit.

Diakhir tahun ini, saya sebagai kordinator klab, mempersembahkan seluruh kegiatan klab untuk menghormati dan memberikan penghargaan sebesar-besarnya untuk Mas Paskalis, yang telah berkenan ikut ambil bagian dalam perjalanan Klab secara khusus dan Tobucil secara umum.

Tahun sudah berakhir kembali, tapi perjalanan klab masih terus terbentang, saya sadar bahwa klab adalah komunitas kecil dan hanya bisa memberikan peran yang kecil juga, dan tentu kami tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan.

Semoga di tahun depan klab-klab Tobucil bisa memberikan manfaat serta pembaruan-pembaruan yang menyenangkan dan berkesan. Sampai jumpa di hari-hari klab. :D

Wiku Baskoro, Koordinator Klabs Tobucil & Klabs
Google Twitter FaceBook

Monday, December 28, 2009

Pearl Jam Indonesia Family Gathering di Tobucil


Teman-teman dari milis tenclub_indonesia@yahoogroups.com

Hari minggu terakhir di penghujung Desember 2009, Tobucil & Klabs kedatangan keluarga besar tenclub Indonesia_ para penggemar Pearl Jam_ dari Jakarta dan Bandung. Mungkin teman tobucil bertanya-tanya, apa hubungan tobucil dengan para tenclub Indonesia? :D berhubung pendiri tobucil adalah penggemar berat Pearl Jam dan mendapatkan banyak sekali inspirasi dari band asal Seattle, USA ini, makanya tobucil jadi tuan rumah gathering tenclub Indonesia di luar Jakarta. Sebagaian besar yang hadir memang teman-teman yang menghabiskan masa remajanya di tahun 90-an. Meskipun ada pengecualian: Viki salah satu yang hadir, baru duduk di bangku SMP, namun mengaku penggemar berat Pearl Jam. Selidik punya selidik, bapaknya lah yang memperkenalkan Viki pada Pearl Jam sejak balita..


Gathering yang berlangsung di tengah hujan, ternyata tidak membuat suasana menjadi mendung dan dingin. Segudang tawa dan keceriaan mewarnai pertemuan ini. Apalagi saat masing-masing memperkenalkan diri dan berbagi pengalaman mengapa menggemari Pearl Jam bukan Nirvana :D. Perkenalan ini cukup seru karena banyak di antara yang hadir, baru bertemu untuk pertama kalinya. Acara di tutup dengan berakustik ria menyanyikan lagu-lagu Pearl Jam bersama-sama. Rasanya seperti acara reuni keluarga besar yang guyup, hangat, renyah, lezat dan penuh kesan. 

Dini Ernida, Nilam Sari, Denny Andriyana , Achmad Hafiz, Wonk Koesoet, Hendry Y. Erlianto, Febbie Joefl , Deppy Aftersix, Irsya Wahyudi, Roel Rocker, Andy Jaya Setianto, Gopur Vdr, Sutan B'Tone Harahap, Yogi Diwangkoro, Desy Handayani Setianto, Skeptis Pram, Ankbadar FanGossard, Dinar Gossard, Dwi Hendra Kusuma, D-Iyan Kuswandana, Eko Prabowo, Olitz Aliensick, Helman Taofani , Deny Suteja, Ashobru Dhia , Egha Gets: Terima kasih untuk kehadirannya, sampai jumpa di gathering berikutnya.

Google Twitter FaceBook

Let's Play Violin Yang Membahagiakan


Konser Let's Play Violin


Malam itu adalah malam yang berbahagia. Hanya saja, gerah dan panas. Karena di tempat itu, Auditorium CCF, sedang terlaksana sebuah konser yang amat meriah. Saking meriahnya, hingga penonton membludak, dan menyebabkan, itu tadi, gerah dan panas. Konsernya bernama Let’s Play Violin, sebuah konser biola yang diselenggarakan oleh Ammy Alternative Strings, bekerjasama dengan KlabKlassik dan Tobucil. Pada konser tersebut, hadir seorang pemain biola hebat dan cukup dikenal, namanya Ammy C. Kurniawan. Malam itu, Ammy dan murid-muridnya, tampil bersama. Hanya saja, Ammy tidak banyak bermain biola, ia lebih sering bermain gitar mengiringi murid-muridnya. Menjadi pengayom. Seolah menunjukkan bahwa ia tidak hanya seorang pemain biola yang baik, tapi juga guru yang baik.
Meski diselenggarakan oleh KlabKlassik, yang secara reguler sering mengadakan konser musik klasik yang hening dan sunyi, tapi khusus sekarang, suasananya hingar bingar. Karena Ammy khusus mendatangkan band, lengkap dengan drum set dan sound system. Ammy sepertinya tidak ingin menitikberatkan konsernya, seperti konser musik klasik, pada kemurnian bunyi dan harmoni. Untuk Ammy, tidak apa-apa salah, tidak apa-apa tak semua bunyi bersih, yang penting performa menghibur dan suasana meriah. Dan memang, tercapailah cita-cita Ammy.
Awalnya, performa dibuka oleh Ilham yang membawakan lagu Tanah Air, dengan diiringi permainan Ammy dan istrinya, Utet yang bermain cello. Lagu tersebut sendu dan menyayat. Meski dimainkan oleh Ilham yang berumur sebelas, tapi penghayatannya luar biasa. Setelah itu, band yang diperkuat Nissan, Arif, Jimmy dan Kang Heru, masuk menggantikan Utet, sehingga suasana menjadi meriah. Lewat band tersebut, diiringi violinis-violinis muda lainnya seperti Estu, Adita, Anggindita, Gillian, Hana, Izzati, Tiara dan Retno memainkan lagu-lagu semisal Haste to the Wedding, Spain, Dark Eyes, dan Turkey in the Straw. Afifa sempat menyeling dengan suasana sendu dalam karya Vittorio Monti berjudul Czardas. Keseluruhan performa tersebut sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda klasikal, karena biola disulap menjadi tempat berimprovisasi yang liar dan penuh semangat.
Sebelum konser ditutup, Ammy sempat bermain biola dengan membawakan karya-karya populer yakni Cicak-cicak dan Kopi Dangdut. Bermain trio dengan Ari (drum, perkusi) dan Rudi (bass), Ammy tampil luar biasa memukau dan mengundang decak kagum. Ari juga tampil menarik dengan tidak memainkan drum, tapi kursi yang dipukuli Koran. Setelah penampilan memukau tersebut, keseluruhan pengisi acara masuk dan memainkan lagu terakhir beramai-ramai, berjudul World Dance. Selesailah rangkaian konser KlabKlassik tahun ini, ditutup oleh apresiasi meriah, dan ternyata, tidak perlu melulu klasikal. Yang penting pemain senang, penonton gembira. Tidakkah memang seharusnya demikian musik itu diciptakan? [Syarif Maulana]

Google Twitter FaceBook

Kilas Balik Klab Klassik 2009


Resital DJava String Quartet, CCF Bandung


Tahun 2009 kemarin, adalah barangkali yang paling produktif bagi klabklassik (KK), setidaknya demikian menurut Tobuciler, yang notabene adalah bagian di dalamnya. Tahun ini, KK menyelenggarakan lima kali kali konser. Yang pertama adalah resital kuartet gesek D’Java String Quartet, yang kedua adalah Resital Tiga gitar Plus Satu, yang ketiga adalah Resital Piano-Flute Fauzie Wiriadisastra dan Andrew Sudjana. Konser Ririungan Gitar Bandung, dan yang keempat adalah Let’s Play Violin yang baru terselenggara 23 Desember kemarin. Alhamdulillah, semuanya lancar, penonton penuh, dan tiket habis. Berikut akan Tobuciler ceritakan kilasan-kilasan masing-masing konser.
Resital D’Java String Quartet – Resital tersebut diadakan pada tanggal 28 April di Auditorium CCF. D’Java String Quartet merupakan kuartet gesek asal Yogya, yang di dalamnya diperkuat Ahmad (violin), Dani (violin), Dwi (viola), dan Ade (cello). Kuartet yang tadinya berawal dari coba-coba di kampus ISI Yogya sana, mendadak mendapat sambutan hangat saat konsernya di Bandung. D’Java membawakan karya-karya Debussy, Dvorak, Mozart dan Tsintsadze. D’Java String Quartet masih eksis hingga kini, dan berencana tur ke beberapa kota di tahun 2010.
Resital Tiga Gitar Plus Satu – Resital yang diadakan pada tanggal 9 Agustus tersebut, adalah lanjutan dari Resital Tiga Gitar yang diadakan tahun sebelumnya di Gedung Kompas Gramedia. Dinamakan tiga gitar plus satu, karena sesi pertama konser pertama ditampilkan trio Bilawa Ade Respati, Syarif Maulana, dan Widjaja Martokusumo. Sedangkan sesi dua, ditambah seorang lagi pemain gitar, yakni Royke Ng. Tampil membawakan karya-karya Bach, Mozart, Boccherini, Albeniz, Pachelbel dan Fauzie, Resital Tiga Gitar Plus Satu yang diadakan di CCF tersebut mendapat sambutan hangat dari penonton yang memadati seluruh bangku.
Resital Piano-Flute Fauzie Wiriadisastra dan Andrew Sudjana – Konser tersebut sempat tertunda karena Andrew yang mendadak cedera di H-2 penyelenggaraan. Berencana terselenggara 2 Agustus, konser ditunda jadi 20 Agustus. Meski sempat kerepotan karena mesti mengembalikan tiket, tapi ternyata penonton masih antusias dalam menyaksikan konser tundanya. Terbukti dari penuhnya kapasitas CCF. Duet Fauzie dan Andrew membawakan karya-karya Bach, Rutter, Chaminade dan Debussy.
Konser Ririungan Gitar Bandung – Ririungan Gitar Bandung (RGB) adalah ensembel yang dibentuk KK dalam rangka menampung orang-orang yang suka gitar klasik agar berlatih bersama. RGB kemudian dikonserkan pada tanggal 20 November. Bermodalkan sepuluh orang pemain, KK menampilkan karya-karya sederhana dari Telemann, Pachelbel dan Scott Joplin. Meski demikian, konser tetap menghibur, karena antara lain diperkuat oleh Yunus Suhendar, ISO Guitar Ensemble, KlabKlassik String Trio dan lain-lain. Mereka semua adalah penampil pembuka, yang turut memeriahkan acara dengan penampilan yang lebih santai dan tidak terlalu menyiratkan ketegangan klasikal.
Let’s Play Violin – Let’s Play Violin adalah konser pertama yang diselenggarakan KK yang menggunakan format band. Meski demikian, animonya tetap besar, dan ini tak lepas dari reputasi Ammy C. Kurniawan, sang penggagas. Pemain biola ternama tersebut, memilih untuk mempercayakan evennya pada KK, meski KK tidak berpengalaman dalam mengurus konser dalam format band. Meski demikian, acara tetap berlangsung baik dan meriah. Hal tersebut didorong oleh titik berat Ammy yang tidak pada kemurnian bunyi, melainkan pada performa dan improvisasi.
Untuk ukuran KK yang mengkhususkan diri pada komunitas alih-alih Event Organizer (EO), konser-konser diatas dirasa cukup. Terlebih disamping menggelar konser-konser tersebut, KK juga mengadakan diskusi-diskusi di Tobucil. Seperti diskusi musik kontemporer bersama Diecky K. Indrapradja dan Royke Koapaha, lalu Musik Sore tobucil (digelar tiga kali sepanjang tahun 2009), serta undangan-undangan workshop dan seminar di Walagri, Cahaya Bangsa Classical School, serta Universitas Pendidikan Indonesia. Ulang tahun keempat yang jatuh pada 9 Desember kemarin membawa KK pada rasa syukur dan sekaligus juga beban baru. Beban untuk berkarya lebih maksimal dan konsisten di tahun mendatang. Bach memberkati.  [Syarif Maulana]

Google Twitter FaceBook

Pengalaman Bermain di Musik Sore (Pengakuan Basis Jack & Sally)


Jack & Sally di Musik Sore Tobucil & Klabs #1 

 Senin-Jumat saya bekerja di Tobucil, sisanya waktunya saya pakai untuk bermain musik. Atau bisa juga dibalik, saya bermain musik, sisa waktunya saya bagi untuk Tobucil, hehe.

Berhubungan dengan musik dan Tobucil, bulan Februari yang lalu saya bersama band saya bernama Jack&Sally bermain di acara Klab Klassik. Nama acaranya Musik Sore. Acara ini digelar 2 bulan sekali di Tobucil. Selain Jack&Sally, waktu itu ada juga Baby Eats Crackers dan anak-anak Klab Klassik. Musik Sore itu adalah Musik Sore yang pertama.

Saya ingat saat itu hujan deras, dan karena format acaranya akustik jadinya entah apa yang terdengar oleh penonton, hehe. Tapi waktu itu Jack&Sally memang kurang mempersiapkan keakustikannya, jadi bersyukur juga permainan kacaunya tertutup suara hujan :D.

Masing-masing band membawakan 4-5 lagu. Pengunjungnya lumayan banyak walaupun teman semua haha.

Untuk saya pribadi, bermain di acara seperti itu sangat berbeda dengan bermain di panggung dimana ada jarak dengan penonton. Bermain di Musik Sore, nuansanya lebih 'komunitas', sederhana, tanpa jarak, nyaman, lebih santai, lebih kekeluargaan hahaha. Saya rasa semua yang pernah bermain di Musik Sore juga akan merasa seperti itu.

Jadi, Klab Klassik, kapan nih Musik Sore lagi? :D

[Ipey, Jack & Sally Bassis & Tobucil Crew]
Google Twitter FaceBook

Sejarah Klab Klassik: Perjalanan Mencari Cinta (Bagian 3 - Tamat)



Komunitas vs Event Organizer

Beberapa konser, karena dokumentasi dan daya ingat saya yang buruk, tak bisa saya paparkan seluruhnya. Selain itu, even-even di atas, -tanpa mengecilkan arti konser yang lain- adalah yang punya kontribusi penting terhadap keberlangsungan klab hingga hari ini. Berbagai konser yang kami selenggarakan tersebut, memang tak jarang membuat kami lebih merasa sebagai event organizer (EO) ketimbang komunitas. Bujukan-bujukan halus secara internal maupun eksternal selalu menggoda kami untuk beralih profil menjadi penyelenggara acara profesional. Menjadi EO memang menggiurkan, apalagi beberapa kali penyelenggaraan konser telah menjadi semacam modal yang lumayan bagi kami. Jadi EO berarti menceburkan diri pada dunia profesionalisme, dimana kami semua berpotensi mendapatkan uang dari setiap kegiatan yang kami selenggarakan. Sebaliknya, uang juga menjadi taruhannya jika kami menemui kegagalan. Dilema ini sempat menjadi perdebatan hangat di antara kami. Ada yang mengusulkan untuk membuat EO yang independen dari KlabKlassik. Artinya, komunitas tetap jalan, tapi EO juga tersedia untuk membantu finansial.

Masukan itu memang ada benarnya juga. Saat finansial tak pernah berhenti jadi persoalan, tiba-tiba datang solusi yang sangat mungkin dilaksanakan. Tapi sebuah pendapat lain tak luput jadi pertimbangan. Katanya, KlabKlassik ini dibangun berdasarkan kecintaan. Seluruh relawan yang menjadi fundamen dalam penyelenggaraan acara, melakukannya karena ada dorongan yang jauh lebih kuat ketimbang uang. Tak dinyana uang adalah penting, tapi karena itu juga, kohesi perasaan bisa melemah, dan dasar segala tindakan lama-lama hanya demi uang semata. Tiba-tiba saja saya merasa, eh masukan yang itu juga benar.

Saat merenungkan setiap orang yang hadir dalam setiap acara kumpul-kumpul klab yang tak konstan itu, ternyata saya sulit untuk memahami alasan mereka. Ada yang sengaja datang dari Subang, ada dokter yang rela meninggalkan istri dan anaknya, ada guru gitar yang mengesampingkan kegiatan gereja, hingga anak kost yang tidak ada kerjaan, namun lebih memilih datang ngalor ngidul bersama kami, ketimbang main game atau berselancar di dunia maya. Sejak kami rajin menyelenggarakan even, kegiatan komunitas otomatis terbengkalai. Tenaga dan pikiran kami seringkali habis untuk persiapan konser. Tapi toh, saat kami memaksakan untuk tetap mengadakan kumpul komunitas dengan resiko program seadanya, mereka-mereka itu tetap datang dengan alasan yang masih tetap tidak bisa saya pahami. Yang lebih mengherankan, saat tenaga dan pikiran mereka kami ajak untuk dihabiskan dalam konser-konser kami, ternyata dengan sukarela mereka bersedia. Hal ini tentu saja mengharukan sekaligus absurd. Dari awal berdiri hingga detik ini, saya pribadi tak pernah berhenti bertanya: sebenarnya apa yang diberikan klab ini, hingga mereka mau merelakan aktivitas kesehariannya, untuk larut bersama keseharian kami yang tak punya kepastian dan kejelasan?

Tanpa perlu menjawab pertanyaan tersebut, saya kemudian memberikan pertimbangan bagi kawan-kawan, untuk membenamkan keinginan menjadi EO. Alasannya kurang lebih persis: jika uang telah menjadi perantara, maka cinta tak lagi sama. Orang-orang yang datang ke klab, pastinya tak berharap mendulang uang, tapi setidaknya mereka punya tempat untuk mengaplikasikan kecintaan mereka. Cinta, barangkali, jika tak diaplikasikan, bisa membusuk dan jadi penyakit yang berbahaya. KlabKlassik, menurut salah seorang bernama Tresna, adalah tempat melepaskan penat dari rutinitas, membantu merefleksikan diri, dan mendapatkan ilmu dari hal yang tak terduga. Konsekuensi dari pertimbangan yang saya ajukan tentu saja: konser tidak usah terlalu banyak, toh kita bukanlah EO. Berkumpul, berdiskusi, berefleksi, dan berbagi pengalaman, mestinya yang menjadi sentral. Even kemudian dibuat, hanya ketika terdapat keinginan untuk memperkuat eksistensi, yang ujung-ujungnya digunakan untuk mengajak orang bergabung di komunitas juga. Ketika kata-kata Tresna yang menjadi acuan, sontak yang lain setuju: klab mesti eksis sebagai komunitas.

Walhasil, di Tobucil, ruang nongkrong kami yang baru selepas CommonRoom, kami mencoba untuk mengkhususkan diri pada kegiatan kumpul komunitas. Terkadang kami mengadakan diskusi dengan mendatangkan narasumber, menjadikan momen tersebut untuk latihan bersama, hingga menyengajakan diri untuk ngobrol tak bertujuan. Dalam setiap kumpul-kumpul itu, saya menjadi tersadarkan juga, bahwa tak menjadi soal tema apa yang dilontarkan, selama hal itu bisa menjadi jembatan mereka untuk bersosialisasi dan berefleksi. Keinginan kami untuk konsisten di jalur komunitas ini, tentunya tak membuat godaan menjadi EO lantas surut. Hanya saja, ketika bisikan halus itu datang, tak henti-henti saya mengingatkan diri, bahwa jalur yang saya pilih ini, -meski tak populer- tetap datang dari lubuk hati saya yang terdalam.

Epilog
   
Berbagai kegiatan yang kami telah lakukan, ternyata membuat kami tak pernah berhenti melakukan kritik diri. Kritik diri itu berkaitan dengan identitas, visi dan misi, serta tujuan kami. Memang di tengah jalan, perubahan adalah wajar. Misal, kami pernah menginginkan KlabKlassik sebagai komunitas yang mempopulerkan musik klasik dalam gaya dan lebih lentur dan fleksibel. Dalam prosesnya, kami tiba-tiba ingin menjadi komunitas yang terdepan dalam mempertahankan musik klasik dalam akarnya yang terkuat, atau dalam bahasa lain, komunitas yang fundamentalis. Entah di sebelah mana kami kali ini, yang pasti kami menikmati kelenturan bentuk tersebut: diajak serius mangga, diajak santai hayu. Pada akhirnya, mungkin KlabKlassik lebih tepat disebut ruang ketimbang komunitas. Jika komunitas secara harfiah berarti kumpulan orang, maka ruang adalah tempat dimana orang-orang itu berkumpul. Ruang sebagaimana adanya, tak berhak mengintervensi orang-orang untuk melakukan ini-itu. Yang ada barangkali cuma koridor, yang menjaga agar kumpulan individu itu tak meliar melampaui fungsi ruang yang kami sediakan. Yang pasti, di tengah kompleksitas kehidupan manusia dewasa ini, dimana generasi MTV telah berkuasa dan berhak menentukan nilai-nilai musikalitas sesuka hati berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pasar, maka tujuan kehadiran kami sebatas menyuguhkan probabilitas pada masyarakat: musik klasik belum mati. [Syarif Maulana]

Sejarah Klab Klassik: Perjalanan Mencari Cinta (Bagian 1)
Sejarah Klab Klassik: Perjalanan Mencari Cinta (Bagian 2)
Google Twitter FaceBook

Resolusimu Di Tahun 2010

Mari kita membuat daftar kehangatan di sepanjang tahun 2009, apasaja yang sudah menyelimuti dan memberi hangat pada diri kita sepanjang tahun 2009 dan kehangatan apa yang ingin kamu buat di tahun 2010?

xoxo
tobucil & klabs


Desi A. Sari
Bisa lulus S1 stlh 5 thn ninggalin skripsi

Gagal ke Malaysia sebagai kontingen Pertukaran Pemuda setelah training 2,5bulan

Dipercaya bikin logo pariwisata kota Tanjungpinang


2009=diet demi diet ga ada habisnya
nyokap diet anaknya ikutan diet
taun ini gw selalu think before eat
ga mau skit diabet kya bokap
ga mau jantungan kya nyokap ...


Vivi Yusnida
Banyak tangis dan tawa, up and down, betul2 dibuat jungkir balik serasa kena siksaan dementor ala harry potter... hampir tak tertanggungkan tapi yakin tuhan punya rencana indah dibalik itu semua.
Punya banyak teman baru.
Memperbaiki silaturahim dan mudah2an tetap terjaga.
Tambah usia, smoga jadi ibu yang baik untuk anakku satu2nya....amiiiin.....


Theoresia Rumthe
ada kehangatan dalam sedih panjang di tahun ini. ketika banyak mengeluarkan air mata untuk sesuatu yang berharga, air mata itu justru 'menghangatkan' pipi dan sekitar mukaku. Peluk.


Shalha Ubaid Salim
2009 .
lebih paham arti pengorbanan , ketulusan .
dikelilingi orangorang terindah yang menghiasi kehidupan .


Anggi Hafiz Al Hakam
2009... it's a hard life but somebody has to live it




Iman Budi Susu
2009? The trouble year of me, LOL! Many people talked s**t about me because of my controversial statuses on facebook. But, I'm not regret. It's my process to be more mature than ever. LOL! Now, I'm back again for more. And I wish it's more again. :p

2010? I wish I can release my last poem book with the name of Iman Budi Santosa. I have the plan to... See More make it like the compilation poem book which the poems are selected from my 6 previous poem books. I wish! And the deepest wish of mine is no big war again in the world. You know, war is the thing that destroys the beautiful things in life.


Pepito Praptowahyono
2009. tahun pendewasaan diri melalui proses gado2: jatuh-bangun-nangis-ketawa-dikhianati-menyelami-tertindas dan banyak hal, tapi overall tahun yg penting dlm sejarah hidup saya pribadi.

2010. pingin lebih kurus dikit, punya sidejob yang menyalurkan hobi dan passion, lebih bisa berbuat banyak buat orang lain dan lebih bahagia.

eymen


Dydy Dyah
tema saya taun 2009 : Create! *nanti mau bikin notesnya, engke saya tag-lah nya*
tema 2010 sepertinya : Sibuk! *kan mau ada bayi satu lagi*


Kimung Core
taun 2009 adalah taun yang penuh gosip, isu, kabar miring, dan kabar yang liar & buas tentang saya sebagai org yg mereka -para penggosip itu- kesankan liar dan buas juga hehehe.. padahal mau buas gimana lingkaran idup saya 2009 cuma segini-gininyahh : rumah - sekolah - commonroom - gunung manglayang, begitu dekat sama anak2 kecil dan pohon2 hhaa.. ... so tarlen & tobucil, jika ada org2 atau seseorang yg ngomong gag baik ttg saya atau ttg hubungan sosial sy di masyarakat atau sekedar scene mungil bernama bandung kreatif di taun 2009, jangan pernah percaya yaaa cskuuu.. saya smakin jarang curhat atau ngobrol sm siapapun taun 2009 karena kawan2 dekat tempat saya curhat dgn nyaman juga samakin banyak yg ilang.. dan saya jg smakin gag suka bergunjing.. hmmm soo.. sakses terus TOBUCIL & KLABS!!! saya sangat menyayangi kalian semuahh!!! muuaahh muuaahhh!!!! oww yaaa yg 2010nyaa lupaa hheuu... 2010 saya ingin pulang ke jalanan ahh hheuuu...


Margaretha Nita Andrianti
Aku tu ga begitu suka angka 9, ga tahu kenapa. Waktu jaman sekolah dulu, murid lain mah seneng dapet nilai 9, aku mah malah lieur sendiri. He.... Makanya, aku ga begitu suka umur 9 tahun, 19 tahun, terus sama tahun 2009 :P. Kaya yang nanggung, enak juga angka 8. Simbol panjang umur dan kontinuitas. He....
Tapi, kalo mau dimaknai, sebenernya angka 9...  juga angka yang menakjubkan. Karena pada saat itulah manusia dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang nantinya kita panggil Ibu, Mama, Bunda, Mami, atau Mamak (mungkin panggilan khusus lain; temen aku manggil ibunya pake namanya langsung).
Mudah-mudahan, dari segala keruwetan yang hadir di tahun 2009, ada satu atau dua hal yang menakjubkan yang lahir tanpa kita sadari atau memang terlewat oleh mata lahiriah kita :)!
SELAMAT MENGHITUNG KEHANGATAN ;)!
 Tahun 2009 itu tahun yang terlalu panas. Bukan anget, tapi panas. He.... Tapi, dibalik itu semua aku berhasil nemuin titik temu sama beberapa orang dan bertemu teman yang menyenangkan.
Tahun 2010....lebih mau jujur sama diri saya aja, lah! Susah-suasah gampang untuk yang satu itu. He.... Saya juga mau belajar untuk menilai dalam diam, dan banyak bekerja dalam keriaan.



2009 ini ... emosinya bener2 dibikin naek turun, sadness-happines, tears-laugh ... friendship, love ... huaaa ... ada moment2 yang bikin aku meneteskan air mata, satu diantaranya waktu pas ulang tahunku, aku kirim sms ke mama & papa, say thank you to them dan bilang how much i care & love them. sambil ngetik smsnya, sambil bercucuran air mata ... bukan mau berlebihan, tapi aku ngrasa harus bilang seperti itu sama beliau2 dan aku ngga mau terlambat untuk mengatakannnya
Menulis lagi
Melanjutkan sekolah lagi
Punya kehidupan yang lebih baik
Tambah kompak sama temen2
Tambah kompak sama dia juga
Mmm ... jadi wanita yang lengkap dan utuh


Mengumpulkan semua teman2 saya yg pernah saya kenal sejak saya kecil sampai sekarang. Karena tanpa teman hidup kita akan terasa sepi.



Pgn tunangan dgn org yg sgt aku syg.


kehangatan sepanjang tahun ini: kepluk bergaris merah-kuning-hijau..
mengahangatkan kepala saya..:)


memiliki kehidupan yang lebih bermakna lagi :)



Bkin cerpen d puncak kerinci..
Bkin puisi d sebuki island...
Masak capcay d pedalaman kalimantan...
Amiiin


Saya sih mengharapkan bumi tidak semakin menghangat, tapi mendingin... jadi dampak pemanasan global dapat dikurangi dan bumi dapat distabilkan kembali... hehehe...
Ayo kita beraksi untuk menata kembali kehidupan kita untuk generasi yang lebih baik. Cegah climate change and global warming...
:p eace!!!


MELAKUKAN SEMUA KEGIATAN DENGAN PASSION
total 2009 saya dapatin itu banyak kegelisahan
-dari mulai resolusi tahun baru kemarin gak pernah kesampean
-dari mulai mikirin akhir dari masa perkuliahan
-dari mulai bikin tertarik sama barang-barang bertemakan plastic and toy
-dari mulai terasa bahwa jadi pengangguran itu harus kreatif
-dari mulai resahnya teman-teman dengan isu 2012
-dan sampai kemarin saya mimpi di culik U.F.O

tapi 2009 saya akan tutup dengan mengakhiri Novel Perahu Kertas milik Dee yang buat saya semangat lagi ber-resolusi


pengen segera meninggalkan tahun 2009...resolusi! menjadi pemimpin tunggal dr 'aku' yg majemuk..hahaha


Tahun 2008 lulus CPNS, thn 2009 jadi CPNS dgn gaji 80%, thn 2009 akhir lulus prajabatan. Resolusi di tahun 2010 jadi PNS 100% dan bisa beli rumah sendiri,,,,,agar bisa hidup mandiri, bebas, punya teritorial sndiri. Tidak lg nebeng sama ortu atau jadi kontraktor.

kehangatan 2009 sangat hangat bahkan mungkin panas, hehe...sepanjang tahun ini saya sangat banyak belajar mengenai banyak hal terutama belajar dari segala masalah yang menghangatkan fisik dan rohani saya sepanjang tahun 2009...
harapan di 2010 saya ingin mengaplikasikan semua yang saya pelajari dan saya dapat di 2009, semoga lebih bisa hangat dan berwarna, terlebih sempurna untuk massa depan...


resolusi di tahun 2010 bisa menjadi lebih bahagia dan dapat membaginya dengan orang-orang yang telah memberi kehangatan dan kebahagiaan yang tulus selama ini yang membuat hati ini terasa lebih kaya lagi...beresolusi dengan memberi solusi untuk memberikan orang disekitar bahagia...



menjadi manusia yg lbh baik tentunya.. dr segi smangat, motivasi, impian dan harapan.. smua akan saya pupuk makin baik.. agar tujuan yg saya idam2an tercapai.. n_n




ingin membahagiakan ibu trcinta dan jd pribadi yg bebas menentukan pilihan, dan dgn besar hati mampu menjalani konsekuensi dr pilihan trsebut:-)
Google Twitter FaceBook

Buku: Makelar Politik

Harga: Rp 54.000
Penerbit: Insist


Puthut EA lahir di Rembang, 28 Maret 1977. Sejauh ini, ia telah menulis 14 buku: 6 buku kumpulan cerita pendek, 2 buku biografi, 2 buku kumpulan naskah drama, dan masing-masing sebuah buku untuk: novel, novel adaptasi, kumpulan esai dan buku tentang liputan 3 tahun pasca-Tsunami Aceh dan Nias. Ia penggila berat kesebelasan AS Roma, dan kini tinggal di rumah maya: www.puthutea.com.

Penulisnya dikenal sebagai seorang penulis prosa. Namun di buku ini, ia memperlihatkan 'sisi lainnya'. Kalau di dalam prosa, seorang penulis cenderung mengenakan topeng, di kumpulan tulisan ini, si penulis berusaha menunjukkan wajah aslinya. Seperti judul yang diambil penulisnya, Kumpulan Bola Liar, Makelar Politik tulisan-tulisan ini tidak bertele-tele, tidak terlalu banyak menggocek, menerima dan memberi umpan dari segala titik penjuru lalu ditendang.

Buku ini terdiri dari dari 50 tulisan. Ditulis dengan gaya cair, tidak berpetensi untuk menjadi sebuah kumpulan tulisan yang membuat pembaca mengerutkan dahi. Namun, tetap kritis, berani dan cenderung liar. Seperti filosofi bermain sepakbola, semua pemain tahu kalau itu hanya permainan belaka, tetapi permainan tetap dilakukan dengan sungguh-sungguh, bahkan berani mengambil risiko paling tinggi.
Google Twitter FaceBook

Ketemu Teman Dari Etsy Lab dan Klab Baru: Crafty Kids Club

Small Gathering Bersama Etsy Lab di Tobucil

Panggal 3 Januari 2010, Tobucil akan kedatangan tamu istimewa: Julie Schneider dari Etsy Lab, Brooklyn, NYC, USA_ sebuah komunitas handmade terbesar di dunia bebasis online. Untuk itu, tobucil mengundang teman-teman crafter, penyuka kerajinan tangan/handmade, untuk menghadiri small gathering bersama Julie, ngobrol-ngobrol dan saling berbagi atau mau tanya-tanya tentang Etsy, silahkan datang langsung:


Minggu, 3 Januari 2010
Pk. 13.00 - 15.00
Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung

-----


Crafty Kids Club (Mulai 2 Januari 2010)

Klab baru untuk anak-anak PG (play group) dan SD. Klab ini bertujuan menumbuhkan kreativitas, belajar merealisasikan ide dan gagasan menjadi karya serta melatih kemampuan motorik anak.


Setiap Sabtu (mulai 2 Januari 2010)
Pk. 10.30 - 12.00 Wib
Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
Telp. 022 4261548

Biaya sudah termasuk alat dan bahan:
Per pertemuan: Rp. 50.000
Per Bulan: Rp. 150.000
Google Twitter FaceBook

Sunday, December 20, 2009

Segudang Kehangatan Di Akhir Tahun



Mari kita kumpulkan kehangatan apa saja yang sudah maupun sedang di rasakan sepanjang tahun ini. Pasti kita akan terkejut-kejut sendiri. Betapa banyaknya, betapa luasnya kehangatan itu. Dari mulai kehangatan ibu yang tak pernah ada habisnya, teman-teman yang hadir menemani, kejutan-kejutan kecil  di hari-harimu yang jelas kehangatan selalu hadir, menyusup bahkan di tengah cerita getir tragedi kehidupan. Tak perlu bekecil hati, jika langit tampak selalu mendung, kesedihan demi kesedihan seperti tiada habisnya:
"No matter how cold the winter, there's a spring time ahead." 

Jadi mari kita membuat daftar kehangatan di sepanjang tahun 2009, apasaja yang sudah menyelimuti dan memberi hangat pada diri kita sepanjang tahun ini?

xoxo
tobucil & klabs

*) quote by Eddie Vedder 
Google Twitter FaceBook

Dua Tamu Istimewa Beryubiami di Tobucil

 
Kiri Dalena, Palupi dan Novi Kurnia sedang sibuk beryubiami 


Rabu, 16 Desember 2009

Hampir pk. 09.30, saat saya datang ke tobucil, dua orang tamu istimewa saya telah menunggu. Saya yang sedikit terlambat, seharusnya kami bertemu pk. 09.00. Dua tamu saya itu, nampak saling akrab satu sama lain. Ternyata masing-masing tidak menyangka akan bertemu di tobucil pada pagi itu. Yang satu bernama Kiri Dalena, seniman dan juga pembuat film dokumenter dari Filipina dan satunya Novi Kurnia yang sedang menyelesaikan studinya di Flinders University, Australia. Kiri sengaja datang, karena ia ingin sekali belajar merajut, sebelum kembali ke Filipina, sementara Novi sengaja datang dalam rangka penelitiannya tentang perempuan dan film sebagai tesisnya. Novi meminta saya sebagai salah satu narasumber yang perlu dia wawancarai.

Sepanjang siang itu, kami berbincang macam-macam, sambil tangan tak henti beryubiami (merajut dengan menggunakan jari-jari tangan). Kira-kira satu jam kemudian, Novi mulai menyerah dan memutuskan untuk menutup rajutannya. "Ini rekor loh, karena ini karya kerajinan tanganku yang pertama." Dengan bangga Novi mengikatkan hasil rajutan di rambutnya dan mengubahnya menjadi bando.

Menjelang tengah hari, Frino, teman tobucil dari AJI Bandung datang bergabung. Tak lama kamudian menyusul Adi Marsiela (Suara Pembaruan) dan Sandy (Tempo). Jadilah obrolan berubah menjadi ajang wawancara Kiri dengan teman-teman jurnalis. Teman-teman jurnalis ingin mengetahui lebih jauh tentang film dokumenter Kiri yang  bercerita tentang sebuah insiden yang terjadi pada tanggal 23 November 2009, ketika sebuah pembantaian terjadi di wilayah Maguindanao dan kemudian dikenal dengan insiden Pembantaian Maguindanao. Dalam insiden ini, sekitar 57 laki-laki dan perempuan dibunuh secara brutal.

Secara khusus, film ini berkisah mengenai orang-orang yang menjadi korban, termasuk keluarga yang ditinggalkan. Dalam insiden ini, juga tercatat kematian 31 orang wartawan yang ikut menjadi korban pembantaian yang dilakukan secara dingin. Sambil menceritakan itu, jari-jemari Kiri, sibuk merajut sementara teman-teman jurnalis sibuk mencatat apa yang Kiri ceritakan.


Pertemuan ini berakhir menjelang pk. 15.00. Kiri dan teman-teman harus pergi, menghadiri pemutaran 'Under One Sky' yang diselenggarakan di tempat lain, pada pk. 15.00. Namun pindah tempat dan pindah acara, tidak membuat Kiri berhenti beryubiami. Sambil mendiskusikan filmnya, jadi-jemarinya semakin lincah merajut benang merah putih yang semakin panjang itu.


Under One Sky bisa kamu lihat di Youtube 
http://www.youtube.com/watch?v=rN6YM2d2TgM
Google Twitter FaceBook

Minggu Siang Di Kediaman Afifa, Azisa dan Ilham



Hari itu hari Minggu, dan Tobuciler mendapati undangan. Undangan yang sebenarnya dari Tobuciler juga. Undangan yang berisi soal makan-makan. Makan-makan yang merupakan syukuran atas konser Ririungan Gitar Bandung (RGB) yang berlangsung tepat sebulan lalu, yakni tanggal 20 November. Makan-makan yang, tidak cuma itu, tapi juga merupakan syukuran atas ulang tahun keempat KlabKlassik. Yang sebetulnya jatuh pada tanggal 9 Desember, tapi tak apa-apa kan dirayakan terlambat?

Tobuciler dan KlabKlassik berkumpul, di kediaman Afifa, Azisa, dan Ilham. Maksudnya, mereka semua bersaudara, sehingga bukan artinya kami datang ke tiga rumah. Janjinya pukul sepuluh siang, tapi kebanyakan baru datang menjelang jam dua belas, termasuk Tobuciler. Disana ada seluruh anggota RGB kecuali Hin Hin yang tidak bisa hadir karena istrinya tengah mengandung di bulan kesembilan. Kang Trisna pun sama, tapi ia tetap hadir, entah karena dirinya adalah ketua dan pemrakarsa acara ini, atau memang sangat rindu berkumpul. Yang lainnya ada Mas Yunus, Mas Tikno, Ina, Royke, Iyok, Bilawa, Kelvin dan Kevin.

Di jam yang dinanti, yakni jam dua belas. Kami semua berkumpul, di hadapan meja yang penuh makanan. Alhamdulillah ada spaghetti, ayam goreng, asparagus, dan kentang goreng. Membuat Tobuciler sulit berkonsentrasi ketika memberi sambutan, ”Paling berat adalah memberi sambutan menjelang makan-makan, karena pasti diharapkan ingin cepat selesai. Jadi kita langsung berdoa aja ya.” Demikian kami berdoa, dan setelah itu kami makan.

Setelah makan, diadakan semacam rapat, mengenai agenda klab tahun 2010. Diskusi berlangsung renyah penuh tawa, sama sekali tidak serius. Akhirnya diputuskan, bahwa di tahun 2010, ada dua konser gitar dan satu konser biola. Sisanya? Kami mencoba memperbanyak diskusi-diskusi serta usulan baru: kunjungan ke saung angklung Mang Udjo untuk memperlebar apresiasi. Agenda 2010 tersebut menyiratkan bahwa klab siap untuk ”memperpanjang umur” dan tidak merasa cepat puas atas apa yang sudah dialami empat tahun ini. Ketika makan-makan dimulai, kami bersyukur bahwa klab ”sudah” empat tahun. Tapi kala rapat, mendadak semuanya dimaknai bahwa klab ”baru” menginjak empat tahun, sehingga amat penting untuk terus berkarya. Bach Memberkati. [Syarif Maulana]

Google Twitter FaceBook

Testimoni di Ulang Tahun Ke 4 Klab Klassik

Kemarin, ya kemarin, hari Minggu siang yang panas itu, Tobuciler dan KlabKlassik berkumpul merayakan hari jadinya yang keempat. Maka itu dibagikan semacam kertas, untuk diisi testimoni yang ditujukan bagi KlabKlassik. Berikut pengakuannya:

Yunus Suhendar: Mau menginjak usia lima tahun, KlabKlassik harus semakin matang, seperti mangga atau buah-buahan lainnya. Pasti enak rasanya kalau lebih matang, semoga KlabKlassik semakin jaya.

Nyimas Ina Winangsih: Disini ga kumpul terus main aja, tapi belajar juga. Gak cuma musik, tapi belajar yang lain juga. Udah kayak keluarga. Kereeen. (Awas galau) Hehe :D


Tikno Guntoro: Mudah-mudahan bisa jadi wadah dan tempat yang nyaman bagi teman-teman yang haus dan butuh info tentang teori, lagu, dan hal-hal yang berkaitan dengan musik klasik. Masukan tambahan:

· Eksplor musik lokal kalau bisa ditambah agar ada pembanding dan nuansa kedaerahan tidak dilupakan.

· Esensial bermusik ada tiga: wawasan, apresiasi dan diapresiasi. Mudah-mudahan KlabKlassik bisa jadi sarana dan jembatan buat orang-orang awam (selain mencerdaskan anggota KlabKlassik, moga-moga kita juga bisa mencerdaskan masyarakat umum).

· Jaga suasana kekeluargaan agar jadi tempat yang nyaman dan aman untuk berkumpul.

Afifa Ayu: Semoga KlabKlassik semakin maju dan established tapi tetap mempertahankan ciri-ciri KlabKlassik, misalnya galau (haha) dan kekeluargaan J. Semoga tahun 2010 semua kegiatan KlabKlassik berhasil dengan sukses. Yeah! J Loads of love for KlabKlassik J

Royke Ng: KlabKlassik sudah lebih maju. Orang-orangnya gokil-gokil. Yang baru ikutan sebentar lagi jadi ikutan error gokil (siap-siap aja). Maju terus klab. Terus berkarya ke dalam dan ke luar.


Mohammad Ilham Akbar: KlabKlassik bikin aku makin seneng main musik. Pokoknya KlabKlassik harus tetep ada. Mudah-mudahan nanti KlabKlassik lebih dikenal masyarakat, dalam dan bahkan luar negeri.

Sutrisna: KlabKlassik sekarang lebih berwarna, lebih segar, suasana kekeluargaan dan persahabatan terasa semakin kental. Terutama munculnya orang-orang baru membuat Klab semakin lengkap, rasanya semua ada di KlabKlassik.

Bilawa Ade Respati: Makin variatif dan menyenangkan. Apresiasinyan juga meningkat. Banyak wajah baru yang segar, sehingga klab semakin berwawasan (naon deui). Sukses marilah kita selalu.

Azisa Noor: KlabKlassik itu kayak warung yang nyaman dan rame J Kayak keluarga ketemu gede, Maju Terus KlabKlassik!

Kelvin Simeone Kwee: KlabKlassik kumpulan para galau’ers, keluarga baru dan komunitas galau. How lovely to join and wishing all the best.

Pirhot Nababan: Tobat! Lembaga ke progresif revolusioner yang sering berbenturan dengan feodalisme dan konservatisme akut. Agen penyebar galau: galau progresif revolusioner.

Hendy Reinaldo: Mantap, orangnya pada jago-jago, baik-baik, kacau-kacau hahaha. Sering-sering kabarin kalo ada acara ya.

Tobucil & Klabs: Klab Klassik, berhasil membuktikan kekonsistenannya dalam berkomunitas (termasuk galau dengan konsisten.. :D) selamat ulang tahun ..
Google Twitter FaceBook

Ammy C. Kurniawan dan Persiapan Konsernya


Di Bandung yang tercinta ini, ada seorang violinis. Violinis handal yang jam terbangnya sangat tinggi. Banyak orang mengenalnya, tapi juga barangkali banyak yang tidak. Karena ia, Ammy C. Kurniawan, lebih sering menjadi penyokong dan tulang punggung bagi musisi lainnya. Ia sering jadi additional player band-band ternama semisal Nidji, Hijau Daun, Mocca, dan She, tapi tentunya banyak publik yang lebih fokus pada band-band tersebut ketimbang dirinya. Tapi jika tahu band di Bandung yang bernama 4 Peniti, pasti dengan mudah mengenalnya. Pemain biola yang atraktif, yang dengan memejamkan mata berlenggak-lenggok tubuhnya mengikuti sayatan melodi sang biola.
Tapi lagi-lagi, sebentar lagi, ia kembali jadi tulang punggung. Ia tak mau lagi dikenal, ia memilih di belakang dan menyokong yang lain untuk tampil. Sekarang adalah murid-muridnya sendiri. 23 Desember nanti, ia yang mendirikan semacam lembaga pendidikan biola independen bernama Ammy Alternative Strings, akan mengadakan konser berjudul Let’s Play Violin. Acara diselenggarakan di CCF hari rabu ini, pukul 19.30-21.00. Alhamdulillah, KlabKlassik dan Tobucil ikut ambil bagian. Berikut petikan wawancara dengan Ammy C. Kurniawan.

Ceritakan singkat awal mula Kang Ammy belajar biola.

Mulai belajar biola dari kelas 5 SD, tapi ketika SMP malah lebih mendalami gitar, baru ketika memasuki bangku SMA mulai mendalami biola lagi.

Soal Alternative Strings. Memang ada gitu? Apa yang Kang Ammy ketahui tentang Alternative Strings?

Di Amerika dan Eropa belakangan ini, terdapat kurikulum musik baru yang tengah melanda generasi mudanya, yakni Alternative Strings. Walaupun metode pelajaran tetap bersumber pada musik klasik yang merupakan dasar, tetapi Alternative Strings sebagai kurikulum baru membuka wawasan kita bahwa biola tidak hanya terpaku pada musik klasik, tetapi ada juga non klasik seperti blues, jazz, folk, rock dan tradisional atau yang lebih dikenal dengan world music. Bermain biola tidak lagi berdasarkan pada satu jenis musik tetapi memainkan sebuah musik itu sendiri, yang menuntut seorang pemainnya untuk menciptakan teknik baru dengan materi yang sudah ada. Kepekaan berimprovisasilah yang pada akhirnya akan berbicara dalam bermusik atau bermain biola.

Kenapa Kang Ammy memutuskan untuk mendalami Alternative Strings? Padahal mungkin belum seberapa populer dibanding fungsi string yang kebanyakan untuk musik klasik.
 
Karena menurut saya, kalau bermain musik itu harus dengan hati dan jiwa, alternative strings sesuai dengan jiwa saya, dengan alternative string saya bisa mendapatkan kebebasan bermusik dan bereksplorasi dengan permainan biola saya. Selain itu saya lebih sering memainkan musik dengan gaya seperti itu dalam kehidupan sehari-hari saya, kalau saya tampil di acara-acara atau kegiatan musik pun saya lebih banyak menampilkan musik-musik alternative bukan klasik.

Kang Ammy, apa saja yang Kang Ammy lakukan untuk menyosialisasikan Alternative Strings ini? Apakah memang iya perlu disosialisasikan, atau bisa untuk konsumsi pribadi saja?

Salah satunya dengan mendirikan Ammy Alternative String, sebagai wadah komunitas untuk belajar dan berkumpul. Selain itu dengan mengadakan home concert juga, workshop dan memperbanyak perform.

Kang Ammy, sepertinya tidak sedikit yang mengira Alternative Strings ini sebagai ajaran "sesat" hehe karena dianggap melenceng jauh dari kaidah-kaidah musik klasik. Bagaimana Kang Ammy menanggapi ini?

Kalau menurut saya pada dasarnya semua jenis musik di dunia ini baik dan tidak ada yang sesat, tergantung bagaimana musisi itu sendiri membawakannya, selama musik yang dibawakannya tidak merugikan orang lain.

Oke, terakhir, tanggal 23 ini Kang Ammy akan mengadakan konser Let's Play Violin yang merupakan cara Kang Ammy menyosialisasikan Alternative Strings. Jelaskan pada kami, kenapa sedemikian penting untuk menyaksikan konser tersebut?

Karena konser ini bertujuan untuk membuka wawasan bermusik terutama biola, bahwa di alternative string itu bermain biola tidak dipilah-pilah dalam genre musik tetapi lebih mengkaji teknik bahasa musik pelakunya. Dengan nonton konser ini mudah-mudahan orang akan lebih tertarik lagi terhadap biola, karena ternyata dengan biola pun segala jenis musik bisa dimainkan. Yang penting kan membuat orang tertarik dulu, suka dulu sama biolanya, kalau sudah menyukai biola, akan terasa lebih mudah untuk mempelajarinya. Nanti juga dia bisa memilih sendiri jenis musik apa yang lebih dia sukai, tidak dibatasi hanya pada satu jenis musik saja. [Syarif Maulana]
Google Twitter FaceBook

Surat Cinta Untuk Mama

Voor mama Ruth yang (lagi) di Samarinda:

dari kemarin aku ingat mama. ingat pertengkaran terakhir kita. sedih? iya. mama juga, kan? aku tahu mama pasti suka menangis diam-diam. karena kita sama. suka menangis diam-diam.

aku ingat foto aku lagi menangis di dalam kapal perjalanan ke Larat. di foto itu mama lagi gendong anak kecil keriting pake pelampung yang lagi menangis lebar-lebar. ah, mama tahu, aku ingin sekali jadi 'anak kecil itu' yang tidak malu menangis lebar-lebar.

mama itu selalu menjadi 'tukang dokumentasi' yang baik, untuk aku. foto-foto dari aku kecil sampai dewasa. tersusun dengan apik, di album-album itu. bahkan pertama kali aku pakai seragam TK sampai Mahasiswa, selalu tak lepas dari 'dokumentasimu'. mama selalu ada di waktu 'pertamaku'.

kalau masak, mungkin mama tak bisa. aku sendiri sampai heran, bagaimana mungkin? papa jatuh cinta padamu, padahal jaman itu, perut nomor satu. tapi untuk urusan rumah dan kamar rapih, aku tahu mama jagonya. bau seprei baru di kamar yang rapih, sampai menyiapkan kaos kaki yang matching untuk papa.

waktu kecil aku seringkali menangis, kalau mama dan papa akan kembali tugas di luar kota. mama tahu, aku kadang menangis diam-diam, di kamar mandi. aku sedih sekali, kalau harus dititipkan lagi ke oma atau tante. dan aku ingat sekali, waktu itu mama gendong aku sambil usap-usap rambut terus bilang "perginya ngga akan lama kok" padahal selepas itu, kadang aku masih suka menangis diam-diam.

kalau mama pulang tugas, aku pasti akan memilih untuk tidur bersamamu ketimbang tidur di kamarku sendiri. kenapa? aku suka saja menyentuhmu, aku suka mencium baumu, aku suka memeluk perutmu ketika tidur, karena aku suka hangatmu. mama itu hangat. mama pikir, kira-kira sifat supel yang aku punya sekarang, itu menurun dari mana? kalau bukan dari mama.

(terakhir kali mama ke Bandung, aku juga masih melakukannya, betul? dan akan selalu kangen baumu)

aku ingat pertama kali beli beha, itu juga sama mama. dan aku ingat aku menangis (lagi) karena 'harus' pake beha. anak yang aneh sekali aku ini. entahlah. mungkin itu masalah perubahan. dan ketika aku berubah ada mama disana.

sajak pertama kali yang aku bacakan untuk natal pun, ada mama disana. waktu itu umurku berapa ma? mungkin sekitar 4 tahun, dengan baju putih renda-renda, dan ditemani lilin di tangan kiriku. waktu itu juga dibantu sama mama kan? terimakasih sudah diajarkan berani sejak kecil.

sekitar umur 10 atau 12 aku lupa, tapi selalu saja ada kesempatan buatku untuk menyanyi di depan umum. padahal waktu itu aku masih malu-malu. tapi ada mama juga disana, yang selalu kasih kesempatan untuk 'tampil'. coba kalau tidak? pasti sampai sekarang aku terus malu-malu, dan 'harta karunku' terus tersembunyi. semuanya berkat mama.

bahkan mama waktu itu tidak marah, ketika kelas 3 SD, aku bahkan sudah berani memalsukan tanda tanganmu sendiri di raporku, karena ada beberapa nilai yang merah. ah, aku takut sekali waktu itu. tapi mama juga kan, yang tidak pernah absen atau bosan, mengambil rapor ke sekolah. aku tahu di hati mama yang paling dalam, mama sayang sekali denganku. walau kadang di raporku banyak nilai merahnya.

di doa pagimu selalu ada: aku. itu yang bikin aku aman, dan selalu baik-baik walau kita jauh.

aku ingat kalau mama, kadang tak punya waktu untuk ngobrol berdua denganku. sebagai seorang penulis khotbah yang baik. mama selalu tenggelam dengan buku-buku, mesin tik, kacamata yang melorot, dan kerut-kerut di sekitar matamu. aku juga tak mengerti, mengapa aku selalu iri dengan semua kesibukanmu itu. tapi akhirnya aku tahu betapa berdedikasinya dirimu pada pekerjaanmu. dan secara tidak langsung, aku juga belajar untuk berdedikasi pada apapun yang aku lakukan sekarang.

ya! sekarang aku memutuskan untuk tinggal di Bandung. padahal kemarin-kemarin aku tahu, kita berdua sempat ribut soal itu. aku masih ingat obrolan kita di 'teras belakang' dan suaraku meninggi. karena aku merasa, aku sudah menemukan jalanku sendiri. terus terang, bukan karena aku tidak mau menemani kalian berdua. hanya saja, bukankah semangat rantau itu yang ditanamkan sejak kecil. bukankah keberanian untuk menggapai sesuatu yang justru diajarkan.

dan kalau aku tidak mau pulang. bukan karena aku tidak sayang. bukan. aku tahu mama kangen dengan anak bungsu, putingbeliungmu ini, tapi biarkanlah aku berkarya. jerih 'penulis khotbah' dengan gaji kecilmu itu tidak akan aku lupa. itu yang menghidupi aku. itu yang selalu buat aku penuh. nilai-nilai luhurmu sebagai seorang ibu, yang buat aku kuat. memikirkanmu sering membuatku menangis diam-diam, beberapa minggu terakhir ini.

jadi izinkanlah 'si bontotmu' ini di luar dan berkarya.

ma, kita bisa tetap jauh tapi saling sayang, kan?

"jadi jang mara beta, karena sampai kapanpun mama tetap jadi beta pung mama. seng ada yang bisa ganti. dan beta seng mau ganti. beta sayang mama"

Peluk mama.


 

Theoresia Rumthe adalah penyiar Sky 90,50 FM yang menyukai warna-warni dan puisi. Puisi-puisinya bisa diintip di:
http://perempuansore.blogspot.com/
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin