Hai, Barkah.
Hai.
Baru, jadi kasir Tobucil?
Iya, baru hari ini. Kemarin ditraining sama Mbak Tarlen sama Mbak Elin.
Memangnya sebelum jadi kasir, Barkah ngapain?
Sejak lulus SMA, saya bantu-bantu Ibu aja jualan di warung nasi. Di daerah Pasir Impun, Ujungberung.
Loh, jadi gak bantu-bantu Ibu lagi dong gara-gara jadi kasir ini?
Kalo bantunya, dari hari Senin sampai Jumat. Kebetulan Sabtu dan Minggu kosong, karena sudah ada pegawai yang bantu-bantu.
Wah, pas dong ya. Gimana emang ceritanya bisa direkrut?
Dulu kan suka ikut klab rajut sama Mbak Upi. Terus belakangan ditelpon Mbak Upi untuk masukin CV. Katanya Tobucil lagi perlu kasir.
Oh, baiklah. Lalu Barkah, apa kira-kira yang Barkah harapkan dari keberhasilan direkrut jadi kasir ini?
Ya, yang pasti, saya mau memperluas link. Karena Tobucil ini linknya cukup luas. Sehingga kalo Barkah disini, bisa belajar banyak dan punya koneksi yang banyak.
Motivasi yang bagus sekali! Lalu Barkah sendiri, cita-citanya apa?
Saya pengen masuk FSRD ITB sebenarnya, karena saya suka gambar. Tapi kemarin pas mau beli formulir, harganya mahal sekali. Jadi nanti saja dulu. Hehehe.
Oh, begitu. Tapi tenang, tidak perlu masuk FSRD kan untuk menyalurkan hobi menggambar? Nah, sekarang Barkah coba gambarkan di kertas ini, gambar yang Barkah paling senang. Yang sederhana aja.
(Sret Sret.. Barkah menggambar di kertas yang Tobuciler sediakan. Jadilah gambar sederhana, semacam boneka salju. Yang katanya, Barkah ingin sekali membuat boneka seperti ini. Tobuciler akhirnya pamit, meninggalkan Barkah yang sedang asyik membuat kantong gehu. Yang dalam kerjanya, ia memenuhi banyak harapan. Harapan dirinya, harapan orangtuanya, harapan Mbak Elin, hingga harapan seluruh umat manusia. Lebay? Tapi demikian kata Sartre)
Bookmark this post: |


No comments:
Post a Comment