29.3.10

Antara Nyepi dan Earth Hour

Tulisan ini dimodifikasi sedikit dari sini



Foto diambil dari sini

Malam minggu tanggal 27 kemarin, dunia memperingati earth hour. Yakni kampanye yang bertujuan dalam rangka mengurangi resiko global warming dengan cara mematikan lampu selama satu jam dari jam 20.30 hingga 21.30.

Terlepas dari benar-tidaknya earth hour mengurangi resiko global warming serta buruknya kesadaran masyarakat kita, saya pribadi menemukan banyak hal yang menarik dalam satu jam kegelapan tersebut. Kegelapan dalam dunia kita pasca Edison segera menjadi hal yang langka serta identik dengan keterbelakangan. Dulu pemerintah rajin mencanangkan program LMD (Listrik Masuk Desa) yang mana mencirikan desa sebagai simbol keterbelakangan karena ketiadaan listrik (baca: penerangan listrik). Istilah "mati lampu" juga segera berkembang menjadi istilah dengan konotasi negatif, dekat dengan musibah, dan identik dengan ketidakmungkinan melakukan sesuatu. Alasan "mati lampu" bisa juga menjadi favorit para mahasiswa jika tak mampu mengumpulkan tugas, yang anehnya, para dosen kebanyakan mafhum. Bahkan di kita ada istilah "menerangkan", yang berarti "menjelaskan", ada upaya membuat orang dari tidak tahu menjadi tahu. Artinya jika "menerangkan" berkata dasar "terang" membuat orang menjadi tahu, berarti mungkin tadinya adalah "gelap" alias tidak tahu. Dalam bahasa gaul juga terdapat istilah "tau ah gelap", menyiratkan kondisi bahwa gelap adalah sama dengan ketidaktahuan. Ada pun dalam istilah kriminalitas ada yang namanya "penggelapan uang". Pokoknya "gelap", dalam padanan kata bahasa Indonesia (atau mungkin bahasa-bahasa lainnya di dunia), hampir selalu bertautan dengan kebodohan dan kejahatan.

Kebetulan dua hari sebelumnya adalah Hari Raya Nyepi, yang kondisi kegelapannya jauh lebih parah dari earth hour. Jika earth hour cuma sejam, maka Nyepi dua puluh empat jam. Jika earth hour cuma urusan lampu, maka Nyepi terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api [baca: lampu atau listrik), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Menarik jika kedua "fenomena kegelapan" ini dikaitkan.

Menurut kepercayaan umat Hindu sebagai penyelenggara Nyepi, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan 'matekep guwungan' (ditutup sangkar ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). Demikian halnya dengan Nyepi, yang merupakan bagian dari upacara untuk memperingati Tahun Baru Saka. Contoh paling mudah untuk Nyepi ada di Pulau Bali. Pada hari-H, pulau itu mendadak lengang dan bisa dibilang "mati". Mengapa harus dari kegelapan? seperti biasa, penjelasan agama seringkali kurang memuaskan, yakni: untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia) dan Buwana Agung (alam semesta). Adapun penjelasan yang lebih mengakar, namun masih abstrak, yaitu demi menyucikan hati dan sanubari. Sebenarnya tak hanya Hindu, agama-agama besar lainnya pun menjelaskan pentingnya semacam transisi demi memperoleh kesadaran baru, yang mana transisi tersebut sepertinya harus gelap, sakit, susah, dan kadang darah. Islam misalnya, transisi untuk mencapai Idul Fitri yang konon mengembalikan manusia kepada kesucian, mesti melewati yang namanya puasa sebulan penuh. Adapun upacara kurban (bukan hanya Islam yang punya), juga seringkali dipakai sebagai simbol penyucian. Artinya, transisi menurut agama, mestilah lewat sesuatu yang tidak disukai oleh tubuh.

Jika memang dunia pasca Edison menganggap kegelapan sebagai malapetaka, tidakkah earth hour jadi penting sebagai upaya transisi kesadaran, jika mengambil esensi ritual-ritual keagamaan seperti Nyepi? Barangkali inilah cara untuk "menyucikan" masyarakat metropolis yang bergelimang "dosa" dari rutinitas yang membentuknya menjadi mekanistik. Mekanistik itu membawanya pada "kesadaran harian" yang melulu soal kerja, uang, pemenuhan hasrat dan lain-lain yang cuma bisa dilakukan jika ada penerangan (bercinta boleh gelap gulita, tapi pasti ogah jika tak lebih dahulu melihat pasangannya). Kala upacara Tahun Baru Masehi masih dirayakan dengan gegap gempita, terang benderang, hiruk pikuk, dan ujung-ujungnya tidak membentuk kesadaran baru yang "sadar malapetaka", maka earth hour mengajak kita untuk "merayakan tahun baru" dengan cara lain, yakni lewat berdiri dalam kegelapan dan kesunyian -sebuah simbol yang tak populer belakangan-. Hal tersebut, bagi saya, sukses menyadarkan bahwa terang benderangnya dunia akhir-akhir ini memang terlalu menyilaukan bagi penglihatan kesadaran. Alih-alih ia bisa melihat, yang ada memandang dengan mata terpicing, atau malah menutupnya. Gelap.

Syarif Maulana

 
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin