29.3.10

KlabKlassik: Menggoda Iman Kevin

Di KlabKlassik, ada seorang pemuda yang sedang rajin-rajinnya berpartisipasi. Partisipasi itu awalnya berupa kedatangan ke latihan Ririungan Gitar Bandung saja, tapi belakangan, ia mulai merambah ke kegiatan KlabKlassik. Jadi begini, KlabKlassik terbagi atas dua acara, yang pertama adalah Ririungan Gitar Bandung yang diselenggarakan jam 13.00-15.00, lalu dilanjutkan diskusi KlabKlassik dari jam 15.00-17.00. Keduanya dilakukan di hari minggu genap setiap bulannya.

Syahdan, pemuda itu bernama Kevin. Seorang yang sungguh tangguh dan rajin datang. Sekolahnya kelas satu SMA, umurnya enam belas. Tobuciler ingat pada suatu pertemuan bulan lalu, Kevin yang bergurukan Royke Ng (masih aktivis klab), mendapat godaan iman yang berarti bagi perjalanan musik klasiknya. Dengan permainannya yang sangat mumpuni bagi seusianya, ia dicekoki berjam-jam oleh forum diskusi yang KlabKlassik yang dimotori oleh Mas Gatot waktu itu, dengan anggapan bahwa musik adalah segala hal yang dekat dengan batin kita. Artinya apa? musik belakangan sudah terinstitusikan dan tereksklusifkan. Sehingga aneh sebetulnya ada istilah "belajar musik", karena apalah musik sebetulnya, selain darah daging kita sendiri, manusia? Jadi, Kevin, apakah betul, kau memang harus les, atau tidak? Kevin lalu juga dicekoki oleh pelbagai macam musik tak lazim yang isinya cuma bebunyian yang bising, atau bunyi kodok yang seolah diharmonisasikan. Di ujung cerita, forum yang merasa tidak enak telah mencekoki Kevin dengan berbagai macam ketidaknyamanan musikal tersebut, berkata, "Kevin, tetaplah les sama Royke, jangan jadi bimbang gara-gara topik ini yah." Ditutup dengan tertawa membahak, forum pun ditutup.

Tapi sepertinya KlabKlassik tidak kunjung mau berhenti sampai disitu. Minggu kemarin Kevin menunjukkan permainan piawainya kembali, tapi lantas Tobuciler bertanya: Kevin, apakah kau memetik senar menggunakan kuku? Kevin menjawab tidak. Dan serta merta, forum mengajukan pertanyaan, kenapa kau tidak memakai kuku? apa alasannya? apakah nyaman demikian? Berturut-turut dari Dicky, Bilawa, Kang Tikno, dan Tobuciler sendiri. Kevin sepertinya tak mampu menjawab dan kebingungan, sehingga jawaban terbaiknya adalah, "Kata guru Royke, untuk memperkuat tekniknya dulu." Demikian, akhirnya Bilawa bercerita soal sejarah kuku, dimana memang terbagi dua mazhab antara yang percaya bahwa memakai kuku adalah bagus, tapi ada juga yang tidak, seperti Fernando Sor yang terkenal hebat. Demikian, lagi-lagi Kevin mendapat terpaan, yakni pertanyaan eksistensial soal apa yang ia lakukan selama ini. Tapi lagi-lagi di akhir cerita, forum menekankan, "Kevin, tetaplah les sama Royke, jangan jadi bimbang gara-gara topik ini yah." Dan tetap tertawa terbahak.

Syarif Maulana


Kevin (tengah berbaju kuning, duduk)



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin