29.3.10

Membedah Eksistensialisme


Akhirnya, Madrasah Falsafah (Madfal) bertemu kembali dengan tema "berkenalan dengan filsafat". Tema yang direncanakan rutin diadakan setiap minggu keempat tersebut, kali ini mengangkat topik spesifik. Sesuai dengan saran pemuda galau bernama Ijal, maka baguslah jika topik ini mengangkat soal eksistensialime, atau katanya lebih detail lagi: Ateisme Sartre.

Seperti jadwal rutinnya, Madrasah Falsafah dimulai pukul lima, hari rabu sore yang mendung dan rintik-rintik itu. Awal mulanya, ada Tobuciler, Mas Heru Hikayat, Lia, Mas Joko, dan seorang Ibu yang aduh, dia sudah bilang namanya siapa, tapi Astagfirullah Tobuciler lupa, tapi tenang Bu, katanya kan Ibu mau datang lagi minggu depan, nanti saya tanya lagi namanya dan akan saya catat baik-baik. Ibu itu, ternyata punya misi yang cukup mulia dalam mengikuti Madfal, yakni mencatat tentang komunikasi literer, untuk kepentingan disertasinya. Dan sepanjang diskusi, si Ibu sering sekali mencatat, baik ihwal isi diskusi, maupun suasana diskusi itu sendiri.

Topik dibuka dengan pertanyaan Tobuciler soal, apa sesungguhnya aliran filsafat eksistensialisme itu? Mas Heru menjawab sederhana: Hari yang sendu. Apakah itu, Mas? Menurutnya, ilmu positif di jaman sebelumnya, tidak bisa menjawab soal hari yang sendu. Karena memang, hari kan tidak sendu. Tapi eksistensialisme mencoba menyelami itu, karena dekat dengan pengalaman harian manusia, dan mengabsahkan hari yang sendu itu sebagai bagian dari objektivitas juga. Lalu pembicaraan mulai menyempit, ke arah eksistensialisme Sartre, yang menganggap eksistensi mendahului esensi. Artinya, menggunakan analogi pembuat pisau, Sartre menjelaskan ketika seseorang membuat pisau, maka ia sudah lebih dulu memikirkan esensi-esensi apa yang kemudian melekat pada pisau sebelum si pisau sendiri bereksistensi. Ia menganggap Tuhan itu seperti demikian sebelum menciptakan manusia, yakni membuat esensinya sebelum eksistensi. Tapi kenyataannya, bagi Sartre, manusia hadir duluan, bereksistensi, lalu ia merumuskan esensi benda-benda, dan kemudian Tuhan itu sendiri. Kesimpulannya: tidak mungkin ada Tuhan jika demikian, karena toh manusia yang hadir duluan, dan dia bebas, tidak dikenakan esensi apa-apa dari sebelumnya.

Setelah mendapatkan pandangan teoritik tersebut, Madfal yang mulai ramai dengan kedatangan Kang Ami, Ijal, Diecky, dan seorang lagi yang astagfirullah lagi-lagi namanya tidak Tobuciler catat, mulai mencari pandangan praktis. Dan dari "seorang yang Tobuciler lupa namanya itu", akhirnya Madfal mendapati cerita menarik. Alkisah, ia dulu berasal dari keluarga berkecukupan, dan ayahnya baik sekali. Bahkan ayahnya sempat bilang, bahwa apapun yang dilakukan orang pada ayah, ayah tidak akan membalas perlakuannya, karena sifat baik ayah sudah melekat. Tapi ternyata, keadaan menunjukkan sebaliknya, karena ternyata ayahnya pada akhirnya terlilit kesulitan keuangan dan sempat diadili. Lantas, seorang yang Tobuciler lupa namanya itu menjadi mempertanyakan, mengapa orang baik seperti ayah mendapatkan hukuman demikian? Forum menyimpulkan bahwa yang demikian adalah sebentuk pertanyaan khas eksistensialisme. Pertanyaan yang langsung menyentuh ke dasar segala pertanyaan, yakni kira-kira: mengapa hidup ini demikian?

Sebelum ditutup, adapun pernyataan Ijal yang begitu menunjukkan bahwa hidup ini sesungguhnya absurd dan menyedihkan, sesuai dengan semangat eksistensialisme itu sendiri. Mas Joko dan Ami tak lupa saling melengkapinya dengan mitos Sisyphus yang terkenal. Akhir cerita, Tobuciler pada saat itu membacakan kata-kata Sartre ketika ditanya bagaimana perasaannya menjadi ateis?

Itu seperti kau naik kereta tanpa karcis. Di perjalanan, kau berusaha keras menghindari kondektur, tapi sesungguhnya kau tahu, tiada satupun orang menantikanmu di stasiun tujuan.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin