8.3.10

Merumuskan Kembali Keterhubungan Maya




Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-temanke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010. 

Setelah mengenal internet, bisakah kita benar-benar bisa hidup tanpanya? Jawaban yang menggampangkan tentu saja bisa, tapi jawaban yang realistis tentu saja tidak bisa. Adbusters baru-baru ini bikin kampanye yang mereka kasih nama Digital Detox Campaign. Intinya mengajak orang-orang untuk (kalau tidak bisa melepaskan) setidaknya mengurangi ketergantungan pada koneksi online atau hubungan di dunia maya.

Dengan bermunculannya social networking seperti facebook, twitter, dll, tiba-tiba saja semua jejaring sosial itu mendefinisikan apa yang disebut dengan hubungan. Bahkan lebih jauh dari itu, jejaring sosial itu menjadi panggung baru bagi setiap individu untuk tampil dan menampilkan dirinya: baik secara apa adanya, maupun di ada-ada. Pada titik ini, aku benar-benar menimbang kembali apa artinya terhubung secara online. Yang disebut teman, di account facebookku sudah mencapai angka kurang lebih 2100 (update: sekarang sudah mencapai angka lebih dari 3500), sebagian besar mungkin aku belum pernah bertemu mereka, bahkan mungkin sama sekali aku ga kenal. Temanku pernah bertanya padaku, kalau ga kenal, kenapa di confirm? tentu saja jawabanku menjadi sangat praktis: tobucil. Semua jejaring sosial di dunia maya, aku pakai untuk mensosialisasikan tobucil sebagai sebuah gagasan yang membutuhkan dukungan kolektif. Facebook, twitter, adalah tempat orang-orang mengenal Tarlen yang tobucil. Jangan berharap menemukan Tarlen yang lebih dari itu di facebook. Jika ingin menemukan tarlen dengan pemikiran-pemikirannya, silahkan datang ke blog ini, tapi kalau ingin mengenal sisiku yang lebih crafty, bukalah blogku yang lain. Tapi tetap saja, jika berharap menemukan Tarlen yang Tarlen, kamu harus menemukannya langsung, ketika berhadapan denganku. Face to face.

Orang yang ingin mengenalku, tentu harus berinteraksi secara langsung denganku. Biar bisa merasakan langsung kegalakanku ketika benar-benar tidak mau diganggu tanpa aku harus bilang 'aku sedang tidak mau diganggu'. Orang lain bisa merasakan Tarlen yang tarlen saat bertatap muka secara langsung denganku. Dan persaan-persaan yang kukirimkan secara langsung kukirimkan secara langsung, jauh lebih akurat daripada sekedar lewat Yahoo Messanger. Atau bersurat-suratanlah denganku, karena tulisan tanganku jauh lebih bisa dirasakan daripada emoticon-emoticon yang kukirim lewat YM.

Itu sebabnya aku kembali memutuskan untuk tidak log in di YM (tidak available maupun invisible, bener-bener log out aja). Kalau ingin ngobrol denganku, telpon saja langsung atau sms. Aku tidak mau lagi mempercayai keterhubungan yang maya dan kemudian membuatku terjebak mempercayai seseorang dari ilusi yang dia ciptakan di YM. Atau kesalah pahamanku menangkap tanda-tanda bahasa di YM yang memang penuh dengan jebakan, sehingga aku menyimpulkan seseorang hanya dari omongannya di YM (pertemuan kemudian hanya menegas-negaskan saja apa yang sudah di katakan di YM). Aku memilih kembali konvensional sekarang.

***

Tidak dengan YM, tidak juga dengan facebook. Aku merasa tidak perlu menampilkan diriku di panggung status-status facebookku, karena aku merasa ada panggung eksistensi yang jauh lebih ril: karya nyata yang kujalani sesuai cita-cita dan keyakinan. Kalau hanya pamer kegalauan, atau mengekpresikan kelebatan pikiran, kurasa status fb seperti pojok kecil di pasar yang ramai, dimana bukan hanya kita yang berteriak menunjukkan diri, tapi banyak orang melakukannya. Dan komentar menjadi candu pengganti uang receh pengganti jerih payah kita berteriak-teriak menampilkan penggalan-penggalan drama diri kita sendiri. Pada titik ini, aku belajar memahami apa arti 'enough is enough'. Aku memilih panggung yang lebih ril untuk kujalani. Aku tak ingin menghabiskan waktuku di panggung-panggung seperti status facebook untuk kepentingan menampilkan diriku sendiri. Account facebook adalah panggung tobucil yang tarlen, bukan tarlen yang tarlen.

Itu sebabnya, sejak beberapa waktu terakhir ini, aku memilih lebih bersetia pada email dan blog (blogspotku ini, karena multiply sudah mulai ikut-ikutan seperti facebook). Dengan blog, aku merasa lebih punya ruang dan keleluasaan untuk mengungkapkan pikiran-pikiranku, tanpa ambil pusing dengan viewing history pembaca tulisanku, webstat saja sudah cukup buatku.

***

Tiba-tiba saja, aku ga sabar menerima surat balasan dari Pam yang dia kirim via pos buatku. Sebuah komunikasi jarak jauh yang intim, hangat, rasanya bisa teraba, sangat personal, tapi sudah sedemikian di lupakan. Beberapa waktu, disebuah pertemuan klab menulis di sebuah kampus Universitas Negeri, aku bertanya pada semua peserta yang hadir, 'pernahkah kalian berkirim surat bertuliskan tangan pada orang lain?' hasil yang mengejutkan dari hampir 20 orang yang hadir, 95% mengaku belum pernah menulis surat sama sekali. Bahkan sebagian menganggap surat adalah sesuatu yang sama dengan SMS. Bagiku yang pernah masuk rubrik sahabat pena di majalah Ananda waktu kecil dulu, dan mulai bersahabat pena sejak SD, kenyataan ini semakin membuatku harus melihat kembali hubunganku dengan dunia maya. Besarnya waktu yang kuhabiskan di depan komputer untuk terhubung dengan dunia maya, apakah benar-benar sesuatu yang manfaat (seorang teman pernah menganggapku oportunis karena lebih memilih mengambil manfaat sebanyak-banyaknya di dunia maya. Aku hanya mengikuti nasehat Sergey Brin dan Larry Page, dua pencipta mesin pencari google: 'Pikirkan masak-masak dan berhati-hatilah dalam memutuskan apa yang kamu upload di dunia maya. Karena kamu tidak pernah bisa menduga apa akibatnya buatmu' ) ? Ketika ada pilihan lain, kesibukan lain yang lebih ril, mengapa harus bersikukuh terus menerus terhubung secara maya? Bagiku kemudian menseleksi kembali hubunganku dengan dunia maya, membuatku menengok kembali pada hubungan yang ril, nyata. Dengan semesta, dengan teman-teman yang bisa kusapa langsung dengan tatap muka atau meneleponnya secara langsung, daripada menge-buzz nya di YM, bahkan kalau menelepon langsung juga lebih murah, mengapa harus sms.

Aku ga tau, waktu hidupku ini masih lama atau hanya sebentar lagi. Rasanya waktu yang sewaktu-waktu bisa habis dan selesai ini, lebih baik aku pakai untuk memaksimalkan hubungan-hubungan di dunia nyata, mengeksekusi banyak gagasan di kepalaku biar jadi sesuatu yang nyata dan tidak jadi sekedar omong kosong. Aku ga mau mati dalam keadaan menyesal menyia-nyiakan kemampuan mewujudkan gagasan jadi kenyataan, hanya karena aku terlalu malas dan lebih memilih menghamburkan waktu dengan keterhubungan yang semu, sibuk berteriak-teriak melemparkan kilasan pemikiran di status facebook tanpa pernah bener-benar-benar merangkaikannya sebagai karya yang nyata. Aku tidak mau menjadi pecundang di usia paruh baya nanti (jika umurku panjang) dan membuat banyak alasan dan pembenaran atas waktu yang disia-siakan.

Aku tidak memilih hidup seperti itu. 


Vitarlenology


Tulisan ini dipublikasikan ulang dari sini
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin