8.3.10

Mewartakan Semangat Merajut


Dalam setahun terakhir ini, hal yang paling menarik perhatian stasiun televisi swasta terhadap tobucil adalah kegiatan merajut. Alasannya karena banyak laki-laki melakukan kegiatan merajut di tobucil. Bagi para pewarta berita, hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuk diberitakan. Mungkin karena merajut selama ini selalu identik dengan kegiatan kaum perempuan. Jadi para lelaki perajut menjadi tampak 'berbeda' dari yang lain.

Begitulah. Minggu ini tobucil mendapat kunjungan dari TPI yang ingin meliput kegiatan rajut merajut ini untuk acara Lintas Pagi. Biasanya Wiku Baskoro, koordinator klabs tobucil sekaligus lelaki perajut, akan menjelaskan panjang lebar mewakili teman-teman laki-laki yang lain tentang dunia rajut merajut ini. Dari pengalaman para laki-laki perajut, tidak mudah meyakinkan sekelilingnya bahwa merajut bagi laki-laki juga adalah kegiatan yang normal dan wajar. Memang pada awalnya mereka akan dipandang 'aneh' dan dianggap 'kurang maskulin' ketika mereka merajut. Tapi kengototan mereka untuk tetap merajut ditengah ketidak biasaan orang memandang mereka, lambat laun juga justru memberi keberanian dan semangat kepada para laki-laki untuk mulai kegiatan merajut. Terima kasih dari tobucil kepada semua pihak dan juga media yang sudah membantu menyebar luaskan semangat ini, bahwa merajut bukan monopoli perempuan dan tidak ada yang salah jika laki-laki belajar merajut..

Jika masih malu-malu untuk datang ke tobucil dan belajar merajut, video cara merajut yubiami berikut ini bisa menjadi awal untuk belajar. Silahkan buka di sini.
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin