19.4.10

Bunyi dan Pengkotakan oleh Modernitas



Klabklassik di suatu bulan Maret, pernah membahas ikhwal Bunyi. Sekarang ternyata, Madrasah Falsafah juga membahas tentang hal serupa. Pembahasan yang mendalam sekaligus jenaka, jenaka karena ternyata sang moderator, Rosihan Fahmi alias Kang Ami, membawa buku “Tubuhmu yang Pintar” sebagai panduan diskusi. Buku karangan Neil Morris yang diterjemahkan tersebut, awalnya dibeli Kang Ami untuk menambah pengetahuan sehubungan dengan anaknya yang baru lahir (Selamat, Kang Ami!). Yang lucu adalah, Kang Ami sering membaca keras-keras isi buku tersebut di tengah diskusi, bahkan dengan gaya deklamasi yang berapi-api. Menimbulkan tawa para peserta.
Apakah gerangan hubungannya topik bunyi dengan buku “Tubuhmu yang Pintar” yang ditujukan bagi anak itu? Agak sulit mencari hubungannya sebetulnya. Jadi begini, ini soal kekritisan atas modernitas. Bahwa modernitas telah sukses mengotak-ngotakan banyak aspek kehidupan serta pemikiran. Kesehatan misalnya, dulu barangkali orang hanya mengenal tabib, yakni orang pintar yang bisa menyembuhkan segala. Hal itu tidaklah aneh, karena muara dari segala penyakit, barangkali hanya satu atau dua hal aja, entah itu psikis atau kebersihan. Sekarang, mendadak kesehatan jadi terspesialisasikan, ada dokter THT, bedah, hewan, dan lain-lain. Dari situ sebenarnya, meski terlihat dipermudah, tapi kenyataannya penyakit jadi bertambah banyak oleh karenanya.
Dari situ hubungannya begini: Membicarakan soal “bunyi” di Madfal, adalah seolah membicarakan satu kemurnian aspek kehidupan jaman pra-modern. Yakni ketika bunyi belum di-“spesialisasikan” macam sekarang, menjadi misalnya musik, bising, melodi, nada, atau ritmik. Kesemuanya itu bunyi-bunyian yang telah dipilah. Maka itu kembalilah kita, di Madfal itu, membicarakan bunyi dalam konteks yang paling purba. Bunyi sebelum ia dipilah.
Saya dan Diecky yang pernah mendiskusikan soal bunyi di klabklassik, akhirnya menunjukkan beberapa video dan rekaman, yang diantaranya video John Cage yang berjudul WaterWalk. Disitu, Madfal ditunjukkan semacam tayangan absurd soal bagaimana John Cage memainkan musik dari bunyi teko, bunyi air di bak mandi, bunyi piano yang dipukul, hingga bunyi tanaman yang disiram. Dari situ muncul diskusi soal betapa bunyi ini beragam adanya, dan persepsi kita sendiri yang mengharmonisasikan bunyi itu, apakah mau jadi musik, atau malah kegaduhan. 


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin